My Dream Part 1

Eunhyuk POV
Kupacu terus kakiku. Sesekali kulihat jam tanganku, “10 menit lagi.” Aku terus berlari melewati orang-orang yang berbeda arah denganku. Kulihat papan yang terpasang diatas sebuah bangunan yang cukup besar. ‘Stasiun Mokpo’. “Akhirnya sampai juga.” Pikirku. Aku langsung berlari masuk kedalam stasiun dan membeli tiket tujuan Seoul. Untung saja, aku juara lomba lari tingkat provinsi. Tepat saat aku menginjakkan kaki di subway. Subway pun langsung berjalan menuju Seoul. “Syukurlah, tepat waktu.” Pikirku.
Perjalanan yang aku tempuh cukup lama. Jarak yang aku tempuh dari Mokpo ke Seoul, sekitar 315 km. subway yang kutumpangi berhenti di beberapa stasiun untuk mengangkut penumpang. Saat subway berhenti di stasiun Incheon, disanalah aku melihatnya. Aku ragu saat aku ingin menyapanya. Apa benar dia? Bukankah, dia sedang berada di Amerika? Pikirku. Kalaupun dia pulang, dia pasti akan menghubungiku. Kuurungkan niatku menyapa seseorang yang wajahnya mirip sekali dengan sahabatku Lee Donghae.
Aku tidak mempedulikannya lagi. Waktuku tidak banyak. Aku harus mengikuti tes masuk Universitas Seoul. ‘masih ada waktu 1 jam lagi.’ Batinku. Aku sudah tidak peduli lagi orang yang mirip Donghae itu. Meskipun sebenarnya, hatiku tidak menginginkannya.
“Finally . . .” ucapku bangga saat aku berdiri di depan pintu gerbang Universitas Seoul. Kulangkahkan kakiku perlahan saat memasuki kawasan universitas. Kulihat banyak orang yang dating untuk mengikuti tes juga. Ada rasa pesimis dalam hatiku, tapi kuhapus semua dari pikiranku. Aku melangkah percaya diri saat memasuki ruang tes. Aku mencari ruangan tes. Saat sudah menemukannya, aku duduk di tempat yang sudah ditentukan.
Author POV
Eunhyuk, terlihat sedikit pesimis saat dia melihat soal ujiannya. Kadang wajahnya terlihat bingung saat melihat soal yang menurutnya sedikit sulit. Waktu ujian sudah selesai. Wajahnya terlihat tenang. Dia melenggang keluar ruangan dengan wajah tersenyum.
Eunhyuk POV
Akhirnya selesai juga. Aku tidak boleh lesu hanya karena soal-soal ujian yang susahnya minta ampun itu. Aku harus optimis. Saat di pintu gerbang universitas Seoul, aku melihat dia lagi. Orang yang kulihat di subway. Orang yang aku kira itu adalah Donghae. Aku mengejarnya untuk memastikan, tapi dia berjalan sangat cepat. Aku tidak bisa mengejarnya. Dia langsung menghilang di kerumunan orang.
“Sudahlah . . .” pikirku. Aku langsung mencari kamar kontrakan dekat universitas Seoul. Setelah mendapatkannya, aku langsung kembali ke Mokpo dan menunggu hasil ujian.
Author POV
Selama menunggu hasil ujian. Eunhyuk membantu kedua orang tuanya di toko sebagai pengawas. Orang tua Eunhyuk memang kaya, tapi itu tidak membuat Eunhyuk untuk seenaknya meminta uang atau apapun barang yang diinginkannya. Dia harus mau belajar dan membantu orang tuanya di toko. Eunhyuk mengawasi barang-barang yang masuk dan keluar dari toko orang tuanya.
Eunhyuk selalu ingat akan seseorang yang dia lihat di stasiun subway. Dia yakin kalau itu adalah sahabatnya Donghae. Semenjak itu pula. Setiap dia akan pergi atau pulang ke rumahnya. Dia selalu melewati rumah Donghae yang hanya terhalang 5 rumah dari rumahnya. Tapi nihil. Rumah itu selalu sepi seperti biasa.

Eunhyuk POV
“Hyukjae, cepat bangun lalu mandi. Bukankah hari ini pengumuman hasil ujian masuk Universitas Seoul?” kudengar suara eomma dari balik pintu kamarku.
“Ne. aku sudah bangun.” Ucapku cepat agar eomma tidak terus berteriak-teriak di depan kamarku. Dengan mata masih mengantuk, aku langsung turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi.
Setelah mandi aku langsung menyalakan komputerku. Dan langsung mengconectkannya ke internet. Karena hasil ujian diumumkan secara on line. Aku langsung membuka website resmi Universitas Seoul dan memasukkan namaku dan nomor ujianku. Aku tidak langsung mengenternya karena aku takut, kalau aku tidak lulus.
“Hyukjae . . . bagaimana hasilnya?” teriak eommaku dari bawah.
“Belum aku buka eomma.”
“Kalau begitu cepatlah!”
“Ne.”
Aku langsung menekan tombol enter sambil menutup mataku.
“Bagaimana?” kudengar suara eomma dibelakangku. Aku masih bertahan menutup mataku. “Kau memang anakku.” Ucap eomma bangga sambil memelukku. Aku langsung membuka mata dan menatap layar komputerku. ‘LULUS’. Itu yang aku baca. Aku langsung membalas pelukan eomma. “Ayo beritahu appamu!” ajak eomma.
Aku dan eomma langsung berlari menuju ruang kerja appa. Saat kami masuk, dia sepertinya sedang sibuk. Aku piker, aku tidak mau mengganggunya, tapi eomma ternyata lebih semangat dariku.
“Suamiku, anak kita lulus ujian masuk Universitas Seoul.” Ucap eomma bangga. Sementara aku masih berdiri di depan meja kerja appa.
“Baguslah, itu memang sudah seharusnya.” Ucap appa datar.
Selalu seperti itu. Appa orang yang sangat dingin. Bahkan aku hampir tidak pernah melihatnya tersenyum padaku. Kami memang tidak terlalu dekat. Appa selalu sibuk dengan kerjaannya. Akhirnya, hanya eomma yang kujadikan sandaran. Appa tersenyum padaku bila ada teman-teman kerjanya saja. Itupun tidak sepenuh hati. Aku tahu itu.
“Ya, suamiku. Berikan selamat pada anak kita. Kenapa kau tidak mau menatapnya? Alihkan pandanganmu sebentar dari computer itu.”
Selama kurang dari 3 detik akhirnya appa mau menatapku dan berkata, “Bagus, itu baru anakku.” Kemudian dia langsung kembali ke pekerjaannya.
“Sudahlah. Hyukjae, ayo kita makan. Eomma akan memasakkan makanan kesukaanmu.” Ucap eomma sambil menarikku keluar dari ruang kerja appa. Aku terus menatap appa sampai pintu ruangan tertutup. Berharap melihat appa tersenyum padaku. Tapi . . . itu tidak terjadi.
Sejak kecil aku hanya mendapatkan materi dari appa. Aku hanya mendapatkan rasa kasih saying dari eomma. Dia selalu berada disampingku. Aku selalu melakukan apa saja agar appa mau tersenyum padaku walau hanya satu kali. Dari TK sampai sekarang kuliah, aku selalu bersekolah ditempat appa sekolah. Akupun mengikuti appa mengambil jurusan Manajemen Bisnis di Universitas Seoul. Meskipun sebenarnya bukan itu yang aku inginkan. Kulakukan itu agar appa mengakui keberadaanku.
@@@@@
Hari pertama perkuliahan tinggal satu minggu lagi. Aku meyiapkan segala sesuatunya dengan bantuan eomma.
“Hati-hatilah disana. Jangan lupa telpon eomma setiap malam. Jaga kesehatanmu, jangan lupa makan.”
“Ne. eomma jangan menangis seperti itu. Aku bisa pulang seminggu sekali.”
“Kau benar-benar tidak mau aku antar ke kontrakkan?”
“Ne. aku sudah besar. Lagi pula barang-barang yang aku bawa tidak terlalu banyak.”
“Tapi tetap saja. Bagaimana kalau kau membawa mobilmu?”
“Ani. Aku tidak mau membawa mobil. Eomma tahukan alasannya?”
“Ne, eomma tahu. Bagaimana kalau appa mengantarmu sampai Seoul, tidak ada yang akan tahu tentang itu bukan.”
“Jangan eomma. Appa pasti sedang sibuk. Aku tidak mau mengganggunya.”
“Aku akan mengantarmu.” Tiba-tiba appa sudah ada di mulut pintu. “Cepat, aku tunggu di mobil.”
“Ne.” ucapku singkat. Rasanya senang sekali appa berkata seperti itu. Karena baru kali ini saja, appa berbicara padaku secara langsung.
Aku langsung bergegas keluar dari kamarku dan masuk kedalam mobil. Setelah berpamitan dengan eomma. Kim ahjusshi supir kami langsung menyalakan mobil dan menancap gas. Aku terus melambaikan tanganku pada eomma. Kulihat dia menangis.
“Hentikan itu. Seperti anak kecil saja.” Ucap appa.
“Tapi . . .” aku menghentikan lambaian tanganku pada eomma.
Bahkan selama mengantarku ke Seoul, appa tidak bisa lepas dari pekerjaannya. Kim ahjusshi yang sudah tahu tentang hubungan kami, akhirnya mengajakku mengobrol. Akhirnya kami sampai di kontrakanku.
“Appa, ayo masuk dulu. Istirahat sebentar!” ucapku saat akan turun.
“Tidak usah. Aku langsung pergi saja. Yang penting aku sudah tahu dimana tempat tinggalmu. Aku masih harus ke SM.”
“Bukankah itu . . .”
“Ya, aku menanam saham disana. Aku mengantarmu karena aku punya urusan di Seoul.”
“Kim ahjusshi, kalau ke Seoul mampirlah ke tempatku.”
“Ne. kuliahlah yang rajin.”
“Kim ayo jalan, aku sudah terlambat.”
Mobil appa melaju di depan tubuhku. Aku pun sedikit membungkukkan tubuhku sebagai tanda penghormatan kepada appa. Aku tidak tahu apakah appa melihatnya atau tidak. Aku langsung masuk kedalam kamar. Kamar itu cukup luas dengan hanya aku yang tinggal disana. Memang tidak sebesar kamarku. Tapi inilah yang aku inginkan.
@@@@@
Ini adalah hari pertamaku kuliah. Aku bangun pagi sekali. Meskipun jarak kampus dengan kontrakanku hanya berjarak 100 meter. Aku tidak mau terlambat masuk kelas pertamaku.
Saat aku masuk kelas, masih sangat sepi. Tapi kulihat ada seorang gadis sedang duduk di bangku deretan depan. Dia sedang menulis dan tidak sadar dengan kedatanganku. Aku mendekatinya. Aku tidak mau dia kaget dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Jadi aku sedikit menepuk pundaknya. Dia mendongakkan kepalanya dan tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya. Dia benar-benar manis dan cantik.
“Annyong . . .” ucapku. “Lee Hyukjae imnida. Kau bisa memanggilku Eunhyuk.” Ucapku sambil memberikan tangan kananku.
“Annyong . . . Min Jee imnida.” Dia pun membalas jabatan tanganku.
Sejak saat itu kami menjadi dekat. Sampai-sampai perasaan itu muncul di hatiku.
“Min Jee ah, ayo dating ke kontrakanku. Jangan lupa bawa makanan. Aku lapar sekali.” Ucapku manja saat menelpon Min Jee.
“Ne, kau mau makan apa?”
“Uhmm . . . aku sedang ingin ramen.”
“Bukankah kau selalu makan ramen? Tidak baik untuk kesehatanmu. Aku akan membawakanmu sayuran saja.”
“Ne, baiklah. Terserah kau saja. Aku tunggu.”
“Ne.”
Klik.
Sambil menunggu Min Jee dating, aku melatih gerakan tubuhku. Ya, aku suka sekali dance. Setelah jauh dari rumah, barulah aku benar-benar bisa dance. Karena tidak ada appa yang mengawasiku. Setelah beberapa lama, akhirnya Min Jee dating dengan sebungkus makanan ditangannya.
“Kau lama sekali. Kau mau aku mati kelaparan?” ucapku saat membukakan pintu untuk Min Jee.
“Kau ini, bukannya bersukur aku mau datang malam-malam begini hanya untuk membawakanmu makanan.”
“Ne,,,ne,,, aku tahu. Gomawo. Setelah makan, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Apa?”
“Nanti saja setelah aku makan. Sekarang aku lapar sekali.”
Min Jee terus memandangiku saat aku sedang makan. Aku tahu dipikirannya pasti sedang bertanya-tanya apa yang akan aku bicarakan padanya.
“Baiklah kalau bagitu. Akupun punya sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu.”
“Mwo?” ucapku menghentikan makanku.
“Habiskan dulu makananmu.” Dengan segera aku mengunyah dan menghabiskan makananku.
“Apa yang mau kau bicarakan?” aku dihadapannya dengan antusias.
“Kau duluan. Kau kan pertama mau mengatakan sesuatu padaku.”
“Andwae . . . kau duluan.”
“Ne,,, kita sudah berteman selama 6 bulan. Saat itu pula, tidak ada rahasia antara kita bukan?”
“Ne.” aku mengangguk.
“Kau tahu kan aku baru pindah dari Amerika.”
“Ne.”
“Sebenarnya sudah sejak pertama kali kita berteman aku ingin membicarakannya padamu. Awalnya aku merasa itu tidak penting, tapi aku harus bilang padamu,”
“Mwo?”
“Besok kau tidak ada kuliah kan?”
“Ne.”
“Besok aku tunggu kau di taman kota. Ada yang ingin aku kenalkan padamu.”
“Siapa?”
“Besok kau akan tahu. Lalu apa yang ingin kau bicarakan padaku?”
‘Aku tidak yakin dengan apa yang akan aku bicarakan padanya sekarang. Besok dia ingin bertemu denganku di taman, itu mungkin akan menjadi tempat yang tepat untuk menyatakannya.’ pikirku.
“Tidak jadi. Besok saja setelah bertemu denganmu di taman.”
“Baiklah.”
_KEESOKAN PAGINYA_
Tepat pukul 8 pagi aku sudah dating ke taman.
“Tumben kau tidak dating terlambat.” Ucap seseorang.
Aku menoleh. “Kau sudah datang.”
“Ayo.” Min Jee menarik tanganku ke sisi lain taman kota.
“Kau mau membawaku kemana?” Min Jee tidak menjawab, dia terus menarik tanganku. Dia membawaku ke sebuah bangku.
“Kau tunggu disini. Dan jangan pergi kemana-mana.” Dia meninggalkanku sendiri di bangku taman. Tidak berapa lama dia dating dengan seseorang. Aku tidak bisa melihatnya karena terhalang tubuh Min Jee.
Saat sampai ditempatku, orang itu masih menundukkan kepalanya. Dia menutupi wajahnya dengan topi. Jadi aku tidak bisa melihat dengan jelas.
“Mianhae, membuatmu menunggu.”
“Gwaenchana. Siapa dia?”
“Kenalkan dia pacarku. Dia baru datang dari Amerika.”
Deg,,,rasanya ada yang menusuk jantungku saat Min Jee berkata seperti itu. Aku berusaha tegar walaupun sebenarnya itu sakit sekali. Orang itu kemudian maju selangkah dan mengangkat kepalanya. Aku benar-benar tidak menyangka. Rasanya jantung ini bukan ditusuk satu kali tapi berkali-kali. Karena orang itu, pacar Min Jee adalah sahabatku Donghae.
“Donghae?”, “Eunhyuk?” ucap kami bersamaan.
“Kalian sudah saling kenal?’ ucap Min Jee tidak kalah kaget.
“Eunhyuk-ah.” Donghae langsung memelukku. Sedangkan aku masih diam tidak tahu harus berbuat apa. Setelah semua kejadian aku mengerti, barulah aku membalas pelukan Donghae. Aku mendorong tubuh Donghae.
“Ya, kenapa kau tidak menghubungiku kalau dating Seoul? Kau ini anggap aku apa?”
“Mian,,, aku sudah dating ke rumahmu. Tapi eomma bilang, sekarang kau tinggal di Seoul. Kemudian aku minta bantuan Min Jee untuk mencarimu. Karena kalian satu universitas. Tidak disangka kalian bersahabat.”
“Jadi, ini semua rencanamu?”
“Ne.” ucapnya sambil tertawa.
Entah apa yang sedang kurasakan sekarang. Sedih karena gadis yang kusukai ternyata pacar sahabatku atau senang karena aku bisa bertemu dengan sahabatku lagi setelah sekian lama.
“Ayo kita ke tempatmu. Aku ingin tahu. Tapi sebelum itu kita membeli makanan.”
“Ne.”
Kami bertiga akhirnya berkumpul di kontrakanku. Donghae langsung merasa aneh melihat tempatku. Tentu saja karena dia tahu betul bagaimana keadaanku.
“Hyukjae, kenapa kau memilih tempat seperti ini? Padahalkan kau . . .” belum sempat Donghae melanjutkan kata-katanya. Aku langsung menutup mulutnya dengan tanganku. Dan membawanya keluar kamar. “Apa yang kau lakukan?”
“Mian, aku harus melakukannya.”
“Wae?”
“Kau tahu kan keadaanku. Dan gadis-gadis yang aku pacari waktu SMA. Mereka hanya menginginkan hartaku. Aku tidak mau itu terulang lagi saat aku kuliah. Aku ingin mendapatkan gadis yang benar-benar mencintaiku tanpa melihat statusku.”
“Ne aku mengerti. Jadi Min Jee pun tidak tahu keadaanmu sebenarnya?” aku menggeleng.
“Apa yang sedang kalian lakukan diluar? Makanannya sudah siap. Ayo masuk.” Ucap Min Jee yang menyusul kami keluar kamar.
“Ne.” ucap kami bersamaan.
“Donghae-ah. Aku ingin menceritakan sesuatu.”
“Mwo?”
“6 bulan yang lalu aku melihatmu di stasiun subway Incheon. Apa benar itu kau?”
“Kapan?”
“Saat itu aku akan tes ujian masuk Universitas Seoul. Saat itu kau memakai jaket warna hitam.”
“Mungkin saja. Aku lupa waktu itu aku memakai jaket. Tapi memang, saat tes ujian masuk Universitas Seoul aku memang berada di Incheon saat pagi hari. Karena aku menginap di tempat Min Jee. Dan paginya, aku mengantar Min Jee untuk tes di Universitas Seoul. Kenapa kau tidak menegurku kalau kau yakin itu aku.”
“Justru karena aku tidak yakin makanya aku tidak menegurmu. Kau sendiri kenapa tidak menghubungiku kalau sedang berada di Korea?” ucapku sambil memukul kepala Donghae.
“Aww, ya! Mianhae, saat itu aku hanya 2 hari disini. Setelah tes selesai aku dan Min Jee langsung kembali ke Amerika.”
“Lalu, sekarang kau sedang apa disini?”
“Aku mau mengurus kepindahanku. Aku akan pindah ke Universits Seoul semester depan.”
“Mwo?” aku benar-benar kaget mendengarnya.
“Min Jee selalu menceritakan tentangmu. Kadang aku suka cemburu, tapi setelah tahu kalau lelaki yang selalu diceritakan Min Jee adalah kau. Aku tidak akan khawatir. Justru aku mau berterima kasih padamu karena telah menjaga Min Jee selama dia tidak berada disampingku.”
Aku dan Min Jee mengantar Donghae ke bandara. Dia akan kembali ke America untuk membawa barang-barang miliknya. Aku mebiarkan Donghae dan Min Jee mengobrol berdua. Aku berdiri sedikit lebih jauh dari tempat mereka berdiri. Kudengar pesawat Donghae akan segera berangkat. Donghae mencium lembut bibir Min Jee. Rasanya benar-benar sakit melihat itu semua. Aku dan Min Jee melambaikan tangan kami berdua untuk mengiringi kepergian Donghae. Kulihat Min Jee meneteskan air mata.
“Tenang saja. Dia pasti akan kembali.” Ucapku sambil merangkul pundaknya.
@@@@@
Libur semester sudah tiba, aku dan Min Jee akan menjemput Donghae di bandara. Tiba-tiba handphoneku bordering tanda ada telpon.
“Yoboseyo?” ucapku.
“Hyuk, kau dimana sekarang? Lama sekali, aku sudah menunggumu di stasiun.”
“Min Jee-ah mianhae, aku tadi bangun kesiangan. Sekarang aku baru mau berangkat.”
“Baiklah, cepat kalau begitu.”
“Ne.”
¬_60 menit kemudian di bandara_
“Pesawat Donghae kok belum nyampe sih?” ucap Min Jee cemas.
“Tenanglah, Donghae sebentar lagi akan dating. Baiklah, aku aku bertanya ke bagian informasi supaya kau bisa tenang. Tunggulah disini.” Min Jee mengangguk dengan wajah penuh kecemasan. “Bagaimana?” ucap Min Jee yang melihatku datang dari ruang informasi.
“Tenang saja. Tuh pesawatnya baru dating.” Ucapku sambil menunjuk sebuah pesawat yang baru mendarat. “Kita tunggu disini saja.” Min Jee mengangguk antusias. Wajahnya yang murung kini sudah ceria lagi.
“Donghae . . .” ucap Min Jee sambil berlari saat melihat Donghae keluar dari pintu kedatangan. Donghae langsung menyambut Min Jee dengan sebuah pelukan. Aku menghampiri mereka. Donghae melepaskan pelukan Min Jee kemudian memelukku.
“Kau lama sekali. Min Jee hampir saja menangis.” Ucapku sambil tertawa kecil.
“Mianhae!” ucapnya tertawa sambil mengusap lembut kepala Min Jee. Sementara Min Jee mengerucutkan bibirnya karena malu.
Sementara Donghae mencari rumah kontrakan, dia akan tinggal bersamaku.
“Eunhyuk-ah, setelah aku mendapatkan rumah kontrakan. Aku mau kau tinggal bersamaku. Aku akan mencari rumah dengan 2 kamar.” Ucap Donghae sambil merebahkan diri di lantai.
“Terserah.” Ucapku yang duduk disampingnya. Aku memang tidak pernah bisa menolak permintaan Donghae karena dia adalah sahabatku, begitupun dengannya.
“Ayo kita minum.” Ucap Min Jee yang dating membawa tiga gelas Jus Jeruk ditangannya. “Hari ini panas sekali.”
Pukul 21.00 pm
“Aku pulang dulu. Sudah malam.” Ucap Min Jee seraya membawa tasnya yang tergeletak.
“Aku akan mengantarmu.” Ucap Donghae.
“Tidak usah. Kau baru dating pasti masih capek.”
“Kalau begitu Eunhyuk yang akan mengantarmu.”
“Tidak usah, kalau Eunhyuk mengantarku. Dia pulang bagaimana?”
“Kau pinjamkan saja mobilmu. Besok aku yang akan mengantarkannya ke rumahmu.”
“Baiklah.”
“Ayo Min Jee. Donghae, jangan bakar tempat tinggalku.”
“Ne,,,ne,,,”
Aku mengantarkan Min Jee sampai rumahnya. Selama di perjalanan, kami hanya saling diam karena Min Jee tertidur. Dia terlihat lelah sekali dan begitu cantik saat dia tidur. Wajahnya terlihat begitu natural.
TBC . . .

5 thoughts on “My Dream Part 1”

  1. Onnie aku agak bingung bacanya -.-
    soalnya antara cerita ma perpindahan (?) waktunya mepet22 banget -.-

    ceritanya bagus sih😀 tumben si eunhae muncul lagi setelah sekian lama (?) haha😀
    lanjutkan onnie😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s