My Dream Part 2

MY DREAM . . . [Part II]

Semester baru dimulai. Kini bukan hanya ada aku dan Min Jee. Tapi sudah ada Donghae diantara kami. Meskipun begitu mereka tidak pernah melupakan aku saat mereka sedang berpacaran. Tapi tentu saja aku harus mengerti kalau mereka pun membutuhkan privasi untuk hubungan mereka. Kini aku dan Donghae tinggal bersama di sebuah rumah yang cukup besar untuk kami berdua.

“Yeoboseyo?” ucapku saat menerima telpon dari Donghae.

“Hyukjae, malam ini kau jangan pulang ke rumah ya!”

“Ne . . . baiklah, arraseo.”

“Gomawo.”

Klik.

Selalu saja begitu. Donghae selalu memintaku tidak pulang ke rumah karena ingin bermesraan dengan Min Jee. Aku harus mengerti akan hal itu. Wajar karena mereka memang sepasang kekasih. Dan setiap hal itu terjadi, aku selalu menginap di apartement yang dibelikan eomma untukku. Niatnya sih apartement itu untuk aku tinggal selama kuliah di Seoul, tapi aku menolaknya. Karena prinsipku itu.

“Weekend nanti aku akan pulang ke Mokpo. Aku sudah rindu eomma.” Ucapku pada Donghae dan Min Jee, saat kami sedang makan di kantin kampus.

“Kalau begitu, kami akan mengantarmu.” Ucap Min Jee.

“Ah aniyo, tidak usah. Kau kan ada kuliah tambahan.”

“Jagi, jangan paksa dia.” Ucap Donghae yang mengerti dengan keadaanku.

“Ne, baiklah. Tapi kapan-kapan aku mau tahu rumahmu. Sekalian kerumahmu juga jagi. Kalian bertetangga bukan?”

“Ani, Donghae tinggal di kawasan elit, sedangkan aku di sebuah desa.”

“Tapi tetap saja, aku ingin tahu rumahmu.”

“Lain kali saja. Kalau aku sudah  . . .” ucapku menggantung.

“Sudah apa?”

“Ah, aniyo,,, aku pergi dulu ya.” Aku langsung beranjak dari tempat dudukku, karena takut Min Jee akan bertanya lebih banyak lagi. Aku tidak mau sampai dia tahu identitas asliku.

 

Author POV

“Jagi, sahabatmu itu kenapa?” ucap Min Jee heran melihat kelakuan Eunhyuk yang agak aneh.

“Molla. Dia selalu begitu, kau tidak usah khawatir.”

Min Jee mengangguk mengerti meskipun pikirannya masih bingung dengan kelakuan Eunhyuk.

Eunhyuk POV

“Monkey!” ucap seseorang yang dating dari arah ruang tamu.

“Mwo? Jangan panggil aku seperti itu lagi. Aku sudah besar.”

“Mian, aku tidak bisa menghilangkan kebiasaan itu.”

“Ada apa?”

“Kau jadi pulang hari ini?”

“Ne.”

“Ini, ada surat untukmu. Ada di kotak surat. Tapi tidak ada nama pengirimnya. Hati-hati!”

“Apa maksudmu?”

“Aniyo,,,”

Setelah menerima surat itu, aku langsung masuk ke kamarku dan membaca surat itu.

To : Lee Hyukjae

Maaf bila aku lancang melakukan ini. Tapi aku tidak bisa menahan perasaanku ini padamu. Kalau aku menyukaimu semenjak pertama kali kita bertemu. Mungkin kau lupa padaku, tapi aku tidak akan pernah bisa melupakanmu dari pikiran dan hatiku. Kupersembahkan sebuah puisi untukmu. Aku harap kau menyukainya. Pada saatnya nanti aku akan menunjukkan siapa diriku sebenarnya.

At the First Time

Lembayung matahari terlihat begitu cantik

Hati yang gundah ini terasa tenang melihatnya

Semua masalah yang menghampiri

Hilang entah kemana

 

Akan terasa lebih nyaman

Apabila kau ada disampingku

Memelukku dan

Mendamaikan hatiku

 

Kapan saat itu akan dating?

Akan selalu kutunggu, Dan kutunggu

Hingga akhirnya

Kau takkan pernah jauh dariku.

S ^_^

 

Surat apa ini? Aku tidak mengerti. Saat kulirik jam di dinding kamarku, kulihat Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Aku sudah bersiap-siap untuk pulang ke Mokpo.

“Donghae-ah, aku pulang dulu.” Ucapku saat akan keluar rumah.

“Ne, hati-hati di jalan. Sampaikan salamku pada eomma dan appamu.”

“Ne. baik-baiklah di rumah.”

“Ne.”

@@@@@

Sudah 6 bulan aku selalu menerima surat dan puisi-puisi itu. Pagi ini pun aku menerimanya lagi. Surat kali ini berbeda dari surat-surat sebelumnya. Surat kali ini menggunakan kertas warna merah. Perlahan aku membukanya

To : Lee Hyukjae

Maaf atas semua surat-surat bodohku. Maaf kali ini aku tidak mengirim puisi untukmu. Mungkin kali ini aku sudah siap menunjukkan siapa diriku padamu. Datanglah ke taman kota saat pukul 12 malam. Meskipun kau tidak dating, aku akan menunggumu.

S ^_^

Entah perasaan apa ini. Selama aku menerima surat-surat dan puisi dari dirinya aku selalu merasa senang. Dengan membaca puisi-puisi darinya, aku seakan lupa kalau aku menyukai Min Jee. Rasanya, aku telah jatuh cinta pada gadis yang selalu mengirimi aku surat dan puisi. Aku makin penasaran. Aku tidak tahan ingin berteme dengannya. Jam 12 begitu lama. Aku memutuskan dating lebih awal. Aku sudah sampai di taman kota pada pukul 11 malam. Taman sudah mulai sepi. Tinggal beberapa pasangan yang sedang berpacaran disana. Aku memutar pandanganku ke setiap sudut taman. Mudah-mudahan saja gadis itu sudah dating.

“Tinggal 1 menit lagi menuju jam 12.” Lirihku. Aku terus memandang jam tanganku, setiap detik kuperhatikan gerakan jarum jam tanganku.

“Hyukjae.” Tepat jam 12 malam. Seseorang memanggilku dari belakang. Aku menoleh. Kulihat seorang gadis memakai gaun berwarna putih. Sangat manis.

“Kau,,,kau,,,kau gadis yang selama ini mengirimi aku surat dan puisi?”

“Ne.”

“Tapi bagaimana bisa? Kenapa kau lakukan itu?” aku kaget sekali saat melihat wajah gadis yang selalu mengirimi aku surat dan puisi. Dia adalah Shany teman sekelasku. Dia anak orang kaya. Cabang perusahaan ayahnya dimana-mana.

“Mianhae, telah membuatmu merasa terganggu.” Shany membungkukkan badannya 90 derajat.

“Tapi, kenapa kau menyukaiku? Aku hanyalah anak seorang petani. Kau tidak malu menyukaiku?”

“Ani, justru karena kau adalah anak seorang petani makanya aku suka padamu. Pertemuan kita saat kau membantuku ketika aku akan jatuh. Semenjak itulah aku menyukaimu. Memang selama ini kita hanya berteman. Dan dari semua temanku, hanyalah kau, Donghae, dan Min Jee yang tidak memanfaatkan aku. Meskipun kita tidak terlalu dekat, tapi aku tahu itu.”

“Shany, aku masih tidak mengerti dengan semua ini.”

“Aku tahu. Maaf telah mengganggumu dengan surat-suratku dan puisi-puisi bodoh itu. Aku hanya ingin menyatakan perasaaanku padamu. Terserah padamu mau menerimaku atau tidak. Setidaknya, aku sudah menyatakan perasaanku padamu.”

“Sejujurnya aku merasa terganggu dengan surat-suratmu . . .”

“Tentu saja kau merasa terganggu. Aku memang babo.” Ucap Shany sambil memukul-mukul kepalanya. Aku menghentikan tangan Shany dan menariknya menjadi lebih dekat denganku.

“Jangan lakukan itu. Kau akan menyakiti dirimu sendiri.” Jarak wajah kami saat ini tinggal 10 cm lagi. Kami hanya saling pandang selama 15 menit. “Aku memang terganggu dengan surat-suratmu, tapi lama kelamaan aku jadi menyukainya. Sehari saja kau tidak mengirimi aku surat, rasanya ada yang kurang. Kau mengerti kan maksudku?” Shany mengangguk. “Sekarang aku tanya, kalau kita melanjutkan hubungan kita ini. Apakah kau tidak malu? Dan apakah orang tuamu akan merestui hubungan kita?”

“Mianhae, tapi aku tidak yakin dengan itu.” Aku tersenyum mendengar ucapan polos dari Shany. Sekarang jarak kami tinggal 5 cm lagi. “Hyukjae?”

Aku menutup mataku dan mulai mendekatkan wajahku padanya. Jarak wajah kami semakin dekat. Shany pun menutup matanya. Saat kini, bibir kamilah yang bertemu. Aku menciumnya hangat, dan dia pun membalasnya. Ternyata benar, aku telah jatuh cinta padanya melalui surat-surat dan puisi-puisi miliknya. Aku merasa bahagia sekali. Kini aku telah menemukan cintaku, cinta sejatiku. Yang akan menerimaku apa adanya.

_KEESOKAN HARINYA_

Aku mengajak Shany ke kantin untuk bertemu dengan Donghae dan Min Jee.

“Ayo, jangan malu. Akan memperkenalkanmu pada Donghae dan Min Jee.” Ucapku sambil menggandeng tangan Shany.

“Tapi aku sudah mengenal mereka.”

“Aku ingin mengenalkanmu sebagai kekasihku. Mereka harus tahu itu.”

Saat  sampai di kantin.

“Donghae, Min Jee! Aku ingin mengenalkan seseorang pada kalian.”

“Siapa?” ucap Donghae.

“Shany.”

“Kami sudah mengenalnya. Untuk apa kau mengenalkannya pada kami?” ucap Min Jee.

“Aku bukan mengenalkannya sebagai teman, tapi sebagai pacarku.”

“Benarkah itu?” ucap Donghae dan Min Jee bersamaan. Mereka bangkit dari duduknya kemudian Donghae dan Min Jee memelukku dan Shany secara bergantian.

“Kalau Eunhyuk punya pacar, kita bisa double date. Iya kan jagi?” ucap Min Jee bersemangat pada Donghae.

“Ne.” jawab Donghae antusias.

@@@@@

Kami sudah menjalin hubungan selama satu bulan. Dan semakin hari, aku semakin mencintainya. Perasaanku pada Min Jee sedikit demi sedikit berubah menjadi rasa saying kepada sahabat.

Sore itu saat perkuliahan sudah selesai, kami memutuskan untuk langsung pulang. Tapi ternyata cuaca tidak mendukung karena hujan. Akhirnya aku mengajak Shany ke kantin untuk membeli sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh kami.

“Jagi…!” ucap Shany.

“Wae?”

“Donghae dan Min Jee kemana? Mereka tidak ada kuliah?”

“Molla, mungkin tidak ada jadi mereka langsung pulang. Tidak apa-apa. Tidak ada mereka, artinya kita bisa berdua-duaan. Baguskan?” godaku padanya.

“Jagi…,” dia pun tersipu malu.

“Ayo, hujannya sudah berhenti.” Ucapku sambil menggandeng tangan Shany. Dia pun membalasnya dengan menggandeng tanganku. “Jagi… aku ingin bertemu dengan orang tuamu.” Ucapku tiba-tiba saat kami sedang berjalan. Dia pun menghentikan langkahnya dan melepaskan tangannya dariku. “Wae?” kulihat dia menundukkan kepalanya.

“Kenapa harus sekarang? Kenapa semua ini harus terjadi sekarang. Saat aku telah mendapatkan kebahagiaanku.”

“Ada apa? Katakan padaku!”

Dia tidak menjawabnya. Dia masih bertahan membisu. Lalu dia tiba-tiba menangis dan berlari meninggalkanku. Aku tidak sempat  mengejarnya, karena dia langsung masuk taxi kemudian pergi. Aku tidak mengerti dengan sikapnya. Kuputuskan untuk segera pulang ke rumah. Saat aku masuk ke dalam rumah, kulihat Donghae dan Min Jee sedang berciuman di ruang tamu. Seketika mereka berhenti berciuman.

“Hyukjae-ah, kau sudah pulang? Kenapa tidak ketuk pintu dulu?” ucap Donghae yang sepertinya sedikit kesal karena aku telah mengganggunya.

Aku tidak menjawabnya. Aku terus berjalan menuju kamarku.

“Dia kenapa?” ucap Min Jee sesaat sebelum aku masuk ke dalam kamar.

Aku merebahkan badanku di ranjang. Melepaskan rasa lelah karena kuliah. Pikiranku langsung melayang pada sikap Shany yang tadi tiba-tiba saja berubah. Kuambil hp yang kusimpan dalam tas, dan mencoba menghubunginya. Tapi tidak bisa, nomornya tidak aktif. Aku jadi semakin bingung. Apakah aku salah memintanya menemui orang tuanya? Batinku. Padahal kami sudah berhubungan selama satu bulan. Selama ini pun, aku hanya mengantarkannya sampai depan rumah. Dia tidaka pernah membiarkanku masuk kedalam. Banyak sekali alasannya. Capek, sedang ada tamu dan yang lainnya.

@@@@@

Sudah seminggu dia tidak kuliah dan tidak ada kabar. Apa sebaiknya aku dating kerumahnya? Setelah kuliah selesai aku langsung mengambil tasku dan berlari keluar kelas. Aku dengar suara Donghae memanggilku tapi aku tidak menggubrisnya. Kulangkahkan kakiku ini dengan sangat cepat. Entah kenapa aku merasa ingin cepat sampai. Perasaanku tidak enak. Aku semakin mempercepat langkahku.

Saat sampai dirumahnya, kulihat rumahnya ramai sekali. Banyak mobil yang terparkir disana. Aku penasaran dan memutuskan untuk masuk kedalam. Semua yang dating memakai jas dan gaun. Pastilah ini acara resmi, tapi apa? Semua memandangku mungkin karena aku hanya memakai kaus dan celana jeans. Jelas sekali aku tidak pantas masuk ke ruangan itu yang semuanya memakai pakaian formal. Aku terus memasuki bagian dalam ruangan. Kulihat Shany disana, tapi . . . siapa pria itu? Dia . . . memasukkan cincin ke jari manis Shany. Dan sekarang bagian Shany. Tapi kulihat dia ragu-ragu untuk memasukkan cincin ke jari pria itu. Aku pikir inilah kesempatanku.

“Shany . . .” ucapku. Semua mata memandangku. Begitupun Shany.

“Hyukjae?” ucap Shany, seketika cincin yang dipegangnya jatuh. Matanya pun mulai berair. “Kenapa kau dating kesini?” ucapnya dengan nada tinggi.

“Kau kenapa tidak memberitahuku? Selama seminggu kau tidak kuliah. Aku telpon pun, nomormu selalu saja tidak aktif. Kenapa? Kenapa kau lakukan ini padaku? Kita baru berhubungan selama satu bulan tapi kau sudah menyakitiku seperti ini?” kulihat Shany hanya menangis. Dan kini akupun tidak bisa menahan air mataku ini jatuh.

Shany jatuh terduduk di lantai, pria itu membantunya. Tapi Shany mengempaskan tangan pria itu.

“Hyukjae!” kudengar seseorang bersuara berat memanggilku. Suaranya sangat aku kenal. Aku menoleh ke arah sumber suara.

“Appa eomma…” kulihat appa dan eomma disana.

“Apa yang kau lakukan disini? Kau sudah merusak pesta pertunangan putri tuan Cho.” Ucap appa sambil memukul kepalaku.

“Suamiku jangan lakukan itu.” Bela eomma sambil mengelus kepalaku. “Tuan Cho, maafkan kami. Kami akan membawa anak kami keluar. Silakan lanjutkan!” ucap eomma sambil menarikku keluar ruangan dan masuk kedalam mobil.

Aku dimarahi appa habis-habisa. Tapi eomma pun selalu membelaku. Kami menuju rumahku. Saat kami masuk, Donghae baru keluar dari dapur sambil membawa secangkir teh. Untung saja Donghae sedang tidak bersama Min Jee.

“Oh, ada appa dan eomma. Mendadak sekali?” ucap Donghae menyapa orang tuaku.

“Kau tinggal disini juga?” ucap eomma ramah. Sementara appa masih bertahan dengan sikap dinginnya.

“Ne.”

“Baguslah kalau begitu. Kalian jadi bisa saling menjaga.”

“Eomma appa, aku masuk ke kamar dulu. Masih ada tugas kuliah yang sedang aku kerjakan.” Ucap Donghae yang mengerti kalau kami butuh privacy sebagai keluarga.

“Ne.” ucap eomma.

“Kenapa kau tidak bilang kalau kau pindah?” ucap appa.

“Aku hanya tidak ingin merepotkan appa dan eomma.”

“Lalu apartement yang aku belikan untukmu?” ucap eomma.

“Kadang akupun menginap disana. Eomma tenang saja. Aku tidak akna menyia-nyiakan pemberian eomma dan appa.”

“Baguslah. Kau memang anak eomma.”

“Hyukjae, sebenarnya apa yang terjadi?” ucap appa. Aku menceritakan tentang hubunganku dan Shany yang baru terjalin satu bulan ini. “Kenapa kau tidak bilang pada appa dan eomma kalau kau sudah punya kekasih. Kalau kau bilang pada appa dan eomma sejak awal, mungkin Shany dank au sudah bertunangan sekarang ini.”

“Maksud appa? Appa dan eomma tahu kan kenapa aku menyembunyikan statusku?”

“Ne, aku tahu. Tapi kalian sudah berhubungan selama satu bulan, harusnya kau memperkenalkannya pada kami.”

“Mian, tadinya aku bermaksud, akhir pekan nanti, aku akan mengajaknya ke Mokpo bertemu appa dan eomma. Tapi sepertinya aku sudah terlambat.

“Sudahlah, lupakan gadis itu. Salahmu sendiri ingin menyembunyikan statusmu itu. Appa dan eomma pulang dulu. Kuliah yang benar.”

“Suamiku, aku masih ingin disini. Aku masih ingin bersama anakku.” Ucap eomma sambil memelukku.

“Terserah, aku ingin pulang sekarang.”

Akhirnya, appa pulang sendiri ke Mokpo. Dan eomma tinggal bersamaku. “Eomma, apakah appa tidak akan marah eomma tinggal disini bersamaku? Akhir pecan nanti aku akan mengantar eomma pulang. Kasihan appa di Mokpo sendirian.”

“Kau tidak usah khawatir. Appamu akan baik-baik saja.”

“Eomma tidur di kamarku saja. Aku akan tidur di kamar Donghae.”

“Baiklah.”

@@@@@

Setelah pertunangannya sebulan lalu dengan pria bernama Lee Min Ho itu, kami tak pernah berkomunikasi sekalipun. Bahkan apabila kami bertemu di jalan, kami seperti orang yang tidak saling mengenal. Hidupku benar-benar terpuruk, tapi eomma, Donghae dan Min Jee terus mendukungku. Aku sadar tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan dan kecewaan.

Aku mulai melanjutkan kehidupanku seperti biasa. Kuhapus semua ingatanku tentang Shany. Aku benar-benar melupakan Shany yang pernah menjadi sebagian hidupku. Pada kenyataannya sekarang, Shany hanyalah teman kuliahku dan kami hanya saling menyapa karena urusan kuliah.

“Hyukjae-ah…” panggil seseorang saat aku berjalan di koridor kampus. Aku menoleh ke sumber suara. Kulihat Donghae berlari-lari mengejarku sambil mengangkat sesuatu di tangannya.

“Wae?”

“Hhh… kau cepat sekali.” Ucap Donghae sambil mengatur napasnya.

“Wae?”

“Ini, aku hanya mau memberikanmu ini.” Donghae memberikan sebuah amplop berwarna saphier blue padaku.

“Ini apa?” tanyaku.

“Kau baca saja. Aku, Min Jee dan teman-teman yang lain mendapatkannya juga. Sudah ya, aku mau menemui Min Jee. Sampai nanti malam, kau tidak usak memasak untukku. Aku akan makan diluar.” Donghae segera melesat meninggalkanku.

Aku segera membuka amplop itu. Ternyata sebuah surat undangan acara ulang tahun. Kemudian aku membaca pengirimnya. ‘Shany’.

“Dua minggu lagi dia ulang tahun. Haruskah aku dating ke pestanya?” ucapku setelah membaca surat undangan dari Shany.

@@@@@

TBC . . .

7 thoughts on “My Dream Part 2”

  1. kasiannya si eunhyuk, padahal baru aja dapet pacar, e malah ditinggal tunangan. Sabar sabar sabar…
    Mana diundang ke acara ultahnya lg.
    Anggap tu cobaan hyuk. Sapatau ntar disana nemu cewek yang pas, kan lumayan. Hehe… *apaan si diriku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s