My Dream Part 3

“Hyukjae-ah… ayo bangun, kau tidak akan dating ke pesta ulang tahun Shany? Bukankah kau diundang olehnya?” ucap Donghae dari balik pintu kamarku. Aku berjalan dengan malas menuju pintu kamarku. “Apa yang sedang kau lakukan?”

“Aku sedang tidur.”

“Mwo? Kau tidak akan dating?”

“Ani.” Jawabku singkat.

“Cepat kau mandi! Aku akan menunggumu di ruang tamu. Kalau 30 menit kau belum dating, aku akan kembali lagi dan memandikanmu.

“Ne.” jawabku cepat kemudian munutup pintu kamar.

“Hyukjae, kau jangan tidur lagi. Jangan lupa, aku punya duplikat kunci pintu kamarmu.” Ucap Donghae dengan sedikit berteriak, supaya aku bisa mendengar suaranya.

Setelah selesai mandi, aku berjalan menuju lemari bajuku. Dan memlih baju yang pantas aku pakai ke pesta ulang tahun Shany. Aku memilih kemeja putih dan jas putih yang kugantung serta celana putihnya. Entah kenapa, aku sedang ingin memakai baju yang serba putih malam itu.

Selesai berpakaian, aku keluar kamar dan menemui Donghae di ruang tamu. Kulihat dia sedang menelpon Min Jee. Donghae menutup telponnya saat melihatku dating.

“Kau sudah selesai? Kalau begitu ayo cepat!” Donghae mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja. Aku mengikutinya dari belakang. “Kau sudah membeli hadiah untuk Shany?” ucap Donghae saat kami akan berangkat. Aku menggeleng. “Kau ini bagaimana? Mau menghadiri pesta ulang tahun tapi tidak membeli hadiah.” Donghae memukul kepalaku. “Ya sudah, nanti di jalan kau beli bunga.” Ucap Donghae kemudian menyalakan mobilnya.

Selama perjalanan aku hanya diam saja. Banyak yang aku pikirkan. Sikapku harus bagaimana di depan Shany? Apakah aku harus meminta maaf karena telah mengacaukan pertunangannya waktu itu? Dan banyak lagi. Donghae menghentikan mobilnya di depan sebuah toko bunga. “Cepat beli bunga!” ucap Donghae dengan sedikit membentakku. Wajar saja, mungkin karena dia sudah kesal dengan sikapku sekarang. Aku mengikuti perintahnya. Dan tidak sedikitpun aku patah hati.

“Bunga apa yang harus aku beli?” tanyaku polos pada Donghae.

“Masa kau tidak tahu bunga kesukaan Shany.”

“Baiklah.” Aku berjalan malas menuju toko bunga. Setelah memilih bunga yang aku anggap pantas untuk sebuah hadiah ulang tahun aku kembali ke mobil. “Ayo jalan!”

“Kau pintar juga memilih bunga.” Ucap Donghae sambil tersenyum. Aku tidak membalasnya, karena perasaanku hari benar-benar sedang buruk. Sebelum menuju rumah Shany, kami mampir ke rumah Min Jee untuk menjemputnya.  Min Jee malam itu memakai gaun selutut warna hitam dengan rambut yang digulung.

Sampai di rumah Shany, aku tidak langsung turun.

“Hyukjae, apa yang kau lakukan? Cepat keluar!”

Aku menggeleng keras. “Donghae-ah, aku ragu.”

“Eunhyuk-ah, kau harus menghadapi ini. Cepat keluar! Lagi pula kejadiannya sudah sebulan yang lalu.” Donghae kemudian menarikku keluar mobil. Aku mengikuti Donghae dan Min Jee dari belakang.

Saat memasuki ruang pesta. Kulihat Shany memakai gaun putih. Dan rambutnya dibiarkan menggerai. Shany belum menyadari kedatanganku, dia baru tahu setelah Donghae dan Min Jee mendekatinya untuk memberi selamat.

“Shany-ah, selamat. Semoga panjang umur.” Ucap Min Jee.

“Gomawo kalian sudah dating. Hyukjae?”

“Dia dating.” Ucap Donghae sambil memandangku.

Shany membungkukkan badannya padaku untuk member salam, dan aku pun membalasnya. Tentu dengan senyum yang dipaksakan. Aku mendekatinya sambil memberikan bunga yang aku beli di perjalanan tadi.

“Selamat ulang tahun.”

“Gomawo kau sudah dating, aku kira kau tidak akan dating.”

“Dimana tunanganmu?”

“Dia belum dating. Silakan nikmati pestanya.” Ucapnya ramah.

“Gomawo.” Kemudian aku meninggalkannya. Aku tidak mau berlama-lama dekat dengannya, karena aku takut tidak bisa mengontrol emosiku.

Aku berjalan menuju kolam renang, meninggalkan Shany bersama tamu-tamunya. Kuambil segelas minuman. Aku berdiri di pinggir kolam renang, sambil memandang satu persatu tamu yang dating. Tidak ada yang menemaniku mengobrol. Donghae tentu saja bersama Min Jee. Kulihat Min Ho sudah dating, menemani Shany menerima tamu.

Jam sudah menunjukka pukul 11 malam. Acara inti pun sudah selesai. Aku ingin pulang, tapi aku tidak melihat Donghae ataupun Min Jee di dalam ruangan. Tamu undangan pun sudah mulai pulang, tapi aku belum menemukan Donghae.

“Hyukjae-sshi?” seseorang memanggilku dari belakang. Aku langsung menoleh.

“Min Ho-sshi?” heran, ada apa dengannya? Dia memberikan tangannya. Aku membalas jabatan tangannya. “Ada apa?” ucapku agak kikuk.

“Ah, aku hanya ingin mengobrol denganmu.” Ucapnya sambil tersenyum ramah.

“Ah, aku ingin minta maaf soal . . .” belum aku menyelesaikan kalimatku, dia memotongnya.

“Kwaench’anayo. Aku sudah melupakannya. Shany sudah menceritakan semuanya padaku, dan aku mengerti.”

“Hyukjae . . .!” kudengar suara Donghae memanggilku.

“Donghae-ah, kau darimana saja? Aku mencarimu kemana-mana.”

“Mianhae . . . tadi aku dan Min Jee jalan-jalan sebentar di rumah Shany.”

“Donghae-ah, kenalkan dia Min Ho. Tunangan Shany.”

Kemudian mereka saling menjabat tangan. Kulihat mata Donghae yang tidak suka pada Min Ho. Tidak lama, Min Jee datng bersama Shany.

“Jagi, ayo kita pulang.” Ucap Min Jee manja.

“Ne, Min Ho-sshi, senang berkenalan denganmu.” Ucap Donghae sambil menjabat tangan Min Ho sekali lagi. Begitu pun denganku. Tapi ketika akan melangkah, kakiku tersandung sampai jatuh.

“Hyukjae-ah, hati-hati!” teriak Shany.

“Shany, sekali lagi selamat. Maaf aku hanya bisa memberikan bunga.”

“Komawo Hyukjae-ah. Donghae, hati-hati di jalan” ucap Shany agak keras pada Donghae yang sudah jauh meninggalkanku.

Sampai di rumah aku langsung masuk ke kamar dan melepas lelah di ranjangku. Karena saking lelahnya aku tertidur tanpa mengganti pakaian dulu.

Seseorang mengetuk pintuku dengan keras, “Hyukjae cepat bangun!” suara Donghae. Mataku masih tertutup saat kudengar dia memanggil namaku.

“Wae?” ucap dengan keras untuk menjawab panggilan Donghae.

“Eommamu menelpon.” Aku segera bangkit dari tidurku, kemudian dengan cepat kubuka pintu kamarku. “Eommamu menelpon padaku. Katanya, dia sudah menghubungimu tapi tidak kau angkat-angkat.” Jelas Donghae. Aku segera berbalik dan mengambil hpku. Kulihat ada 10 panggilan tak terjawab dari eomma. “Hyukjae-ah, cepat eommamu sudah menunggu.” Aku dan Donghae berjalan cepat menuju kamar Donghae untuk menerima telpon dari eomma.

“Yoboseyo?”

“Ya, anakku kau kemana saja?”

“Mianhamnida eomma. ada apa?”

“Kau bisa pulang tidak? Ada yang ingin appa dan eomma bicarakan denganmu.”

“Tidak bisa lewat telpon saja?”

“Aniyo, akhir pecan nanti kau harus pulang. Aku akan menunggumu.”

Klik.

Eomma langsung menutup telponnya sebelum aku mulai berbicara lagi.

“Waeyo?” ucap Donghae setelah aku menutup telponnya.

“Eomma memintaku pulang akhir pecan ini. Katanya ada yang mau dibicarakan.”

“Sepertinya penting?”

“Ne.”

Aku segera keluar dari kamar Donghae menuju kamarku. Apa yang mau dibicarakan eomma dan appa? apakah benar-benar penting?

“Hyukjae-ah!” panggil Donghae sebelum aku membuka pintu kamarku.

“Wae?”

“Akhir pekan nanti kau mau pulang kan? Aku akan mengantarmu. Lagi pula aku sudah kangen Mokpo. Sekalian mengajak Min Je eke rumahku. Dan sudah saatnya pula, orang-orang tahu siapa dirimu sebenarnya. Ye?”

“Ne, baiklah kalau itu maumu. Memang sudah saatnya.”

Pagi-pagi sekali Min Jee sudah dating ke rumah kami.

“Jagi, benar sekarang kita akan ke Mokpo?” ucap Min Jee dengan riang.

“Ne, kau senang?”

“Tentu. Apa kita juga akan berkunjung ke rumah Hyukjae jagi?”

“Ye, kau akan tahu Hyukjae sebenarnya.” Ucap Donghae sambil melirikku.

Aku tak memperdulikannya. Aku masih sibuk memasukkap koper-koper kedalam bagasi mobil. Aku duduk di bangku belakang. Sementara Min Jee menemani Donghae di bangku depan. Awalnya Min Jee akan duduk di bangku belakang, tapi aku melarangnya karena aku sedang ingin sendiri. Perjalanan yang kami tempuh sekitar 4 jam.

Kami berhenti di depan rumah Donghae. Saat sampai Min Jee berdecak kagum dengan keaadaan rumah Donghae yang besar serta pemandangan yang langsung ke laut (namanya juga fiksi, tapi beneran kok kalau daerah Mokpo itu deket laut).

“Donghae-ah, aku pulang dulu.” Ucapku saat turun dari mobil kemudian mengambil tasku di bagaasi mobil.

“Ne, nanti sore aku dan Min Jee akan ke rumahmu.”

“Kenapa tidak sekarang saja jagi?”

“Aniyo, aku masih lelah. Lagi pula rumahnya tidak jauh. Tenang saja.”

“Hyukjae-ah, hati-hati.” Ucap Min Jee ketika aku akan keluar gerbang. Aku hanya tersenyum.

Kulihat Han ahjumma, pembantu rumah tangga kami sedang menyiram bungan mawar kesenangan eomma. perlahan aku mendekatinya. Dia tidak tahu akan kedatanganku karena posisinya memunggungiku. Lalu aku langsung memeluknya dari belakang.

“Ah, tuan muda kau pulang?” ucapnya sambil membalikkan badan.

“Kenapa kau selalu tahu kalau ini aku?” ucapku tersenyum manja.

“Ah, kau lupa. Aku yang membantu eommamu untuk merawatmu dari kecil. Tentu saja aku tahu.”

“Ahjumma, eomma ada kan?”

“Ne, dia sedang di ruang baca.”

“Appa?”

“Biasa, dia masih di kantor.”

“Baiklah, aku akan menemui eomma dulu.”

“Mau aku buatkan sesuatu?”

“Ehm . . .” aku berpikir sejenak mendapat tawaran dari Han ahjumma. “Siang hari begini sepertinya jus strawberry cocok untukku?”

“Sejak kapan kau suka jus strawberry?” ucapnya merasa heran. “Bukannya kau lebih suka susu strawberry?”

“Hari ini aku sedang ingin jus strawbery.”

“Mau aku antar kemana?”

“Ke kamarku saja.”

“Baiklah, berikan kopermu. Aku akan membawakannya.”

“Ne, kamsahamnida.”

Setelah mengobrol sebentar dengan Han ahjumma aku segera menyusul eomma di ruang baca. Aku membuka sedikit pintu ruang baca mengintip eomma. kulihat dia sangat serius. Ku tidak berani mengganggunya. Jadi kuputuskan untuk menunggunya selesai membaca.

“Apa yang kau lakukan disitu? Ayo masuk!” ucap eomma saat aku kan berbalik.

Aku segera masuk setelah eomma memanggilku, “Eomma kenapa tahu aku sudah dating?”

“Dasar bocah, aku ini eommamu. Tentu saja aku tahu. Kau di halaman depan pun aku sudah mencium baumu”

Aku mendekati eomma dan mencium kedua pipinya. Kemudian aku duduk di kursi yang berhadapan dengan eomma.

“Eomma sebenarnya apa yang ingin appa dan eomma bicarakan padaku?”

Ekspresi wajah eomma langsung berubah saat aku menanyakan itu. “Kau akan tahu nanti setelah appamu sudah pulang. Sekarang istirahatlah dulu. Kau pasti lelas, dan jangan paksa eomma menjawabnya sekarang.”

Aku tertunduk lemas kemudian berjalan menuju kamarku. Kulihat sudah ada jus strawberry yang aku pesan tadi di meja belajarku. Aku langsung meminumnya. Memang terasa segar. Aku merebahkan diriku di ranjang. Sudah lama aku tidak merasakan empuknya tempat tidurku ini. Pikirku.

shining star! like a little diamond, makes me love nehgen ggoomgyul gateun…” hpku berdering tanda sms masuk. Dari Donghae.

Hyukjae, kau sedang apa? Jam 3 nanti aku akan menjemputmu untuk jalan-jalan di pantai. Kau mau kan?

Kemudian aku membalas smsnya.

Ne, aku akan menunggumu.

Kulirik jam yang terpajang di dinding kamarku. Sudah jam 11 siang. Aku bisa istirahat dulu untuk tidur siang. Dengan cepat aku masuk ke alam bawah sadarku.

@@@@@

“Hyukjae-ah, kenapa kau tidak pernah cerita tentang keadaanmu yang sebenarnya?” ucap Min Jee saat kami berjalan-jalan di pantai.

“Min Jee-ah, aku melakukan itu karena aku tidak mau sakit hati lagi karena harta appaku.”

“Maksudmu?”

“Mereka tidak mencintaiku sepenuhnya, mereka hanya menginginkan harta appaku saja.” Min Jee mengangguk mengerti mendengar penjelasanku.

“Aku mengerti kalau begitu.”

Kami di pantai sampai sang mentari berganti menjadi bulan. “Donghae-ah, aku harus pulang. Kalau tidak . . .”

“Ne, aku tahu. Pulanglah, aku dan Min Jee masih akan disini.”

Aku pulang duluan meninggalkan mereka berdua. Kulihat mobil appa sudah ada di garasi mobil. Saat aku masuk kedalam rumah, ternyata appa sedang ada tamu. Aku memberi salam pada tamu appa untuk memberi hormat.

“Annyonghasimnikka?” ucapku ramah.

“Siapa namamu?” ucap tamu appa.

“Chonun Lee Hyukjae imnida.”

“Nama yang bagus.”

“Hyukjae, duduklah disini.” Ucap appa sambil menunjukkan tempatku duduk. Dan itu tepat disamping appa. Baru kali ini appa memperbolehkan aku duduk disampinya, sampai aku bisa mencium parfum miliknya. “Hyukjae, kenalkan dia nyonya Kang.”

“Kau kuliah dimana?”

Petanyaan yang tidak berbobot. Pikirku. “Ah, aku kuliah di Universitas Seoul mengambil jurusan Managemen Bisnis.”

“Memang tidak salah, pepatah yang mengatakan ‘Like Father Like Son’” ucapnya sambil tertawa diikuti oleh appa.

‘Apanya, aku jelas-jelas tidak mirip appa’. batintku berkata. Tidak lama kemudian, eomma dating bersama Han Ahjumma dengan tiga cangkir the.

“Maaf, menunggu lama.” Ucap eomma ramah pada nyonya Kang.

“Ah, aniyo. Anakmu hebat, dia bisa masuk Universitas Seoul.”

“Kamsahamnida.” Balas eomma. setelah menyajikan the yang dibawanya tadi, kemudian eomma duduk disampingku. Rasanya aku memiliki keluarga yang lengkap. Ada appa dan eomma disampingku. Selama ini, bukannya aku tidak mempunyai keluarga yang lengkap, tapi baru kali ini appa dan eomma duduk berdampingan dengan ada aku diantara mereka.

Sekitar pukul Sembilan malam, nyonya Han baru pamitan pulang.

“Hyukjae, duduklah ada yang ingin appa bicarakan.” Ucap appa setelah mengantar nyonya Han ke depan pintu. Aku duduk dengan wajah sedikit takut. Apakah aku melakukan kesalahan? Appa duduk tepat dihadapanku. Sementara eomma masih berada disampingku. “Hyukjae, kau masih mengingat gadis itu?”

Aku benar-benar kaget dengan pertanyaan yang baru saja diucapkan appa. aku terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan appa. aku takut akan salah bicara dan membuat appa marah.

“Jujurlah, aku tidak akan marah sekalipun kau masih mengingatnya. Karena itu tidak akan berarti sekarang.”

“Maksud appa?”

“Hyukjae-ah, kau sudah aku jodohkan dengan putrid nyonya Han. Aku tidak mau kau menolak perjodohan ini.”

“Appa, tapi aku masih kuliah.” Tolakku.

“Tentu saja kau akan kuliah dulu. Untuk saat ini kau hanya akan tunangan dulu. Besok nyonya Han akan dating lagi bersama putrinya. Kau jangan pergi kemana-mana.”

“Appa kenapa selalu memaksaku. Aku tidak mau dijodohkan. Aku selalu mengikuti perintah appa, kali ini aku tidak akan menuruti appa lagi.” Ucapku kemudian meninggalkan appa dan eomma menuju kamarku. Aku mengunci diri di kamar. Eomma dan Han ahjumma beberapa kali memanggilku, tapi aku tidak mempedulikan mereka.

Saat ini aku duduk di balkon kamarku. Apakah aku harus cerita pada Donghae? Tidak malam ini, sekarang dia pasti sedang bersama Min Jee, aku tidak mau mengganggu mereka. Kuputuskan untuk tidur lebih awal. Dipikiranku saat akan tidur, hanya ada Shany.

Selesai sarapan pagi aku langsung ke rumah Donghae untuk menceritakan masalahku padanya. Saat aku dating, Donghae dan Min Jee sedang minum the di halaman rumah Donghae. Persis seperti pasangan suami istri yang baru menikah.

“Hyukjae-ah, kau sudah dating. Kemarilah!” ucap Donghae saat melihatku berdiri di gerbang rumahnya. “Jagi, buatkan the untuknya.” Dengan sigap Min Jee langsung menuju dapur untuk membuatkan aku the. “Ya, Hyukjae kau kenapa? Mukamu kusut sekali. Ada apa kau pagi-pagi menghubungiku. Pasti penting.”

“Mian kalau aku sudah mengganggumu pagi-pagi, tapi aku benar-benar bingung.”

“Ya, kau kenapa jadi sungkan seperti itu padaku. Ingat tidak, aku pernah menelponmu tengah malam hanya karena aku ingin curhat padamu. Ini tidak ada apa-apanya.” Donghae tertawa.

“Donghae-ah, tolong aku. Appa dan eomma mau menjodohkanku dengan anak teman appa.”

“Mwo?” ucap Donghae tidak kalah kaget denganku saat mendengarnya dari appa.

“Apa yang harus aku lakukan?” lirihku.

“Kau sudah bertemu dengan gadis itu?” aku menggeleng. “Sebaiknya kau bertemu dengannya dulu. Siapa tahu kau akan cocok dengannya. Mian, kalau aku menyarankan seperti ini. Tapi sebaiknya itulah kau kau lakukan dulu. Kau selalu mengingat Shany, mungkin dengan mengenalnya kau akan melupakan Shany.” Ucap Donghae bijak.

Aku berpikir sejenak mencerna ucapan Donghae. Aku mengangguk mengerti. Tidak berapa lama Min Jee dating dengan secangkir the di tangannya.

“Hyukjae-ah, kau kenapa? Wajahmu kusut sekali?” ucap Min Jee.

“Jagi, orang tua Hyukjae akan menjodohkannya.” Jelas Donghae.

“Mwo?”

“Menurutmu bagaimana?” ucap Donghae.

“Menurutku kau kenalan saja dulu dengan gadis itu.” Jelas Min Jee. Jawabannya sama dengan Donghae.

“Nanti sore gadis itu akan dating kerumahku bersama eommanya. Aku harus bersikap bagaimana?”

“Bersikaplah biasa. Jangan membuat masalah. Jangan buat appmu marah.” Donghae menasehatiku. “Kalau kau tidak menyukainya, katakana pada appa dan eommamu. Mereka tentu tidak ingin melihatmu menderita.”

Aku di rumah Donghae sampai jam makan siang tiba. Donghae mengundangku untuk makan siang bersama, tapi aku tidak bisa. Karena siang ini appa akan makan siang di rumah. Aku harus sudah ada di rumah. Begitulah kehidupanku. Aku merasa, appa masih memperlakukanku seperti anak kecil. Semua keputusan jalan hidupku, appa yang memutuskan.

Akhirnya saat itu tiba. Pertemuanku dengan gadis yang akan appa jodohkan denganku. Malam pertemuanku dengan gadis itu, aku memilih pakaian berwarna hitam. Persis seperti orang yang sedang berduka. Ah, aku tidak perduli. Aku memang sedang berduka.

Aku, appa dan eomma berdiri di depan pintu menyambut kedatangan nyonya Kang dan putrinya. Aku masih memasang wajah yang cemberut. ‘Manis’, itulah yang ada dipikiranku ketika melihat putrid nyonya Han. Tapi tetap saja, aku tidak menyukainya. Kami semua masuk, menuju ruang tamu. Gadis itu duduk di samping eommanya.

“Ayo perkenalkan dirimu!” ucap nyonya Kang pada putrinya. Kemudian gadis itu berdiri untuk memperkenalkan dirinya.

“Annyonghaseyo, chonun Choi Min Ah imnida.” Ucapnya seraya membungkuk.

Eomma dan appa terlihat sekali kalau mereka menyukai gadis itu. Sementara aku masih dengan sikap dinginku. Kalaupun tersenyum, itu karena appa yang menyuruhku.

“Hyukjae, ajak Min Ah ke halaman belakang. Mengobrollah kalian disana.” Ucap eomma.

“Ne.” ucap malas. “Ayo Min Ah.” Ajakku. Dia mengikuti dari belakang. Aku mengajaknya ke gazebo belakang rumah. Kami duduk disana. Kami masih saling diam selama 30 menit. Mungkin karena tidak tahan dengan sikap dinginku, akhirnya Min Ah membuka pembicaraan

“Oppa . . .” lirihnya.

“Ne.” jawabku datar tanpa menoleh ke arahnya. Mataku terus memandang langit yang gelap. Tidak ada bulan atau bintang yang biasa aku lihat setiap malam. Mungkin mereka pun merasakan kesedihanku malam ini.

“Oppa, mianhamnida.” Lanjutnya.

“Untuk apa?”

“Aku tahu oppa tidak suka dijohkan denganku.”

“Kau tahu darimana?”

“Sikap dan tatapan oppa. Aku tahu oppa sedih. Mianhamnida.”

“Aniyo, aku tidak seperti itu.” Ucapku masih mempertahankan posisisku.

“Kalau oppa tidak sedih, kenapa oppa tidak mau memandangku?”

“Karena aku sedang tidak ingin. Aku sedang nyaman dengan posisiku sekarang.”

“Baiklah aku mengerti.”

Selama di gazebo, kami hanya saling diam. Dan menatap langit yang gelap dan kosong.

“Oppa kapan kembali ke Seoul?”

“Mungkin besok pagi. Karena aku ada kuliah siang harinya.”

“Kalau begitu, kau mau aku antar? Kebetulan besok pagi aku dan eomma juga kembali ke Seoul.”

“Memangnya rumahmu dimana?”

“Aku tinggal di daerah Dongdaemun.”

“Mwo?” aku ingat kalau itu adalah daerah Shany tinggal. Mungkin kalau aku bisa dekat dengan Min Ah, aku bisa lewat kedepan rumah Shany setiap aku kerumah Min Ah. Karena di kampus pun kadang aku tidak selalu bertemu dengannya. Kecuali di kelas.

“Wae oppa?” ucp Min Ah yang kaget melihat ekspresiku.

“Aniyo.” Aku senyum-senyum sendiri. Sementara Min Ah, masih memandangku heran.

@@@@@

TBC . . .

 

7 thoughts on “My Dream Part 3”

  1. ternyata eunhyuk anak yang berbakti ma ortunya, dia juga orangnya sederhana.

    Tapi kok hyuk masi mngharapkan shany ya? Padahal kan dia tau klo shany udah tunangan.
    Sadarlah hyuk, kau tidak boleh seperti itu. Ara?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s