My Dream Part 4 NC 17

sebenernya ada versi yang NC 21-nya, tapi yang aku publisk disini. aku skip, coz aku gak mau mengotori pikiran dongsaeng-dongsaengku disini. mianhae kalo ada yang gak suka. ditambah lagi, aku gak pede publish yang versi NC 21-nya. menurutku sih jelek, jadi gak aku publish. tapi kalo ada yang mau versi 21 nya, main aja ke blog pribadiku. eitsss, tapi gak segampang itu lho!! hahahahahahaha . . .

 

Sikap appa padaku sedikit mulai berubah, dia tidak sedingin seperti dulu. Mungkin karena aku mau dijodohkan dengan Min Ah.
Selama berhubungan dengan Min Ah, ternyata tidak seperti yang aku duga. Dia bukan gadis lugu atauoun polos. Dia pintar dan modis. Meskipun begitu, dia tidak sombong dengan keadaannya sekarang. Dia pun selalu berusaha untuk mendekati dan mengenalku lebih jauh. Dan anehnya aku membiarkan itu terjadi. Min Ah membuat hari-hariku berwarna. Saat aku sedih dia selalu menghiburku. Tapi yang aku lakukan padanya apa? Aku hanya memanfaatkannya karena rumahnya yng dekat dengan rumah Shany.
“shining star! like a little diamond, makes me love nehgen ggoomgyul gateun…” hpku berdering tanda sms masuk. Dari Min Ah.
Oppa, kau sedang sibuk tidak? Bisa dating ke rumahku? Aku hanya sendiri di rumah, eomma sedang pergi. Aku takut di rumah sendirian.
Aku melirik jam tanganku, pukul 8 malam. Aku segera mengambil kunci mobilku. Sambil membalas sms Min Ah.
Ne, aku akan dating. Sebelum aku datang jangan membuka pintu untuk
Kupikir, aku menasehatinya seperti kepada anak kecil saja.
“Hyukjae, kau mau kemana malam-malam begini?” ucap Donghae saat aku melewatinya di ruang tengah.
“Aku mau ke rumah Min Ah, dia sendirian di rumahnya. Aku akan menemaninya. Mungkin aku akan pulang larut. Jadi kau tidak usah menungguku.”
“Aku tidak yakin kau akan pulang mala mini.” Ucap Donghae sambil tertawa kecil.
“Apa maksudmu?” ucapku heran.
“Aniyo…” ucap Donghae kemudian melanjutkan menonton TV.
Aku langsung menuju mobilku dan menyalakannya. Setelah sampai di depan rumah Min Ah, aku langsung menelponnya.
“Yoboseyo?” ucap diseberang sana.
“Min Ah, aku sudah di depan rumahmu.”
“Baik oppa, aku membukakan pintu.”
Klik.
Tidak berapa lama menunggu, Min Ah membukakan pintu untukku. Malam itu dia sudah memakai piyama berwarna pink. Dengan rambut yang dikucir kuda. Persis seperti anak SMA. Lucu.
“Ayo masuk oppa!” ucap Min Ah. Kemudian aku masuk mengikutinya dari belakang setelah dia mengunci kembali pintu gerbangnya.
Kami duduk di ruang tengh, menonton TV bersama.
“Oppa, aku ambilkan minum dulu untuk oppa.”
“Ye.”
Setelah beberapa menit, Min Ah dating dengan dua gelas jus jeruk dan sepiring cemilan. Tapi ketika dia semakin mendekat, tiba-tiba . . . kulihat kakinya tersandung. Dengan cepat aku lari ke arahnya, dan menahan tubuhnya. Tapi aku pun tidak bisa menahan keseimbangan tubuhku, hingga akhirnya kami jatuh. Min Ah terjatuh keatas tubuhku, semua yang dibawanya terjatuh, pecah berserakan ke lantai. Dan saat ini bibir kami . . . bersentuhan. Ini kali pertamanya aku melihat wajah Min Ah dengan jarak yang sedekat ini.
Mataku dan matanya membulat karena kaget. Min Ah segera berdiri dan membersihkan pecahan gelas dan piring. Sementara aku masih diam tak bergerak. Aku sangat kaget dengan kejadian barusan.
“Oppa maafkan aku!” ucapnya kemudian berlari menuju dapur. Beberapa menit kemudian dia dating lagi dengan 2 gelas jus jeruk dan sepiring cemilan. Suasana menjadi canggung. Kami duduk di sofa ruang tengah sambil menonton TV.
15 menit …
30 menit …
Kami masih belum saling bicara. Akhirnya aku memutuskan untuk memulai pembicaraan.
“Min Ah, mianhae soal tadi.” Ucapku sambil tertunduk.
“Kwaench’ana, sebenarnya aku senang karena . . .” ucapnya menggantung. Aku terdiam menunggu kelanjutannya. “Aku senang, karena oppa yang mengambil ciuman pertamaku.” Kemudian dia berlari menuju kamarnya, kulihat wajahnya merah karena malu. Sementara aku, masih tidak percaya dengan apa yang dikatakannya barusan.
1 jam telah berlalu, tapi Min Ah belum juga keluar kamar. Ada rasa sedikit khawatir aku padanya. Aku berjalan menuju kamar Min Ah yang terletak di lantai dua. Kuketuk pintu kamarnya.
“Min Ah . . . choayo?” ucapku didepan pintu kamar Min Ah. Belum ada jawaban dari pemilik kamar. Beberapa kali kuketuk dan kupanggil namanya. Setelah 5 menit, barulah dia keluar. Kulihat matanya merah, mungkin dia menangis. Tapi ada senyuman diwajahnya. “Min Ah, choayo? Aku khawatir padamu.”
“Ne, choayo.
“Kau menangis?”
“Aniyo, aku hanya kelilipan. Oppa mau lihat kamarku?” ucapnya kemudian membuka lebar-lebar pintu kamarnya, setelah aku masuk dia tutup pintu kamar rapat-rapat. Kamarnya cukup besar, cat dindingnya berwarna saphire blue dan ada balkon yang bisa dipakai untuk santai disana. Kemudian aku duduk di kursi yang ada dipojok kamar, sementara dia duduk diranjangnya.
“Kamarmu rapi.”
“…”
“Min Ah, benarkah yang katakana tadi?”
“Mwo?”
“Itu adalah ciuman pertamamu dengan laki-laki?” kulihat dia tertunduk malu. Kemudian aku mendekatinya dan duduk disampingnya. “Min Ah . . .” kuangkat wajahnya yang tertunduk dengan tanganku. “Min Ah, itu bukan sebuah ciuman. Tapi . . .” tanpa menunggu ekspresi darinya, aku langsung mencium lembut bibir mungil Min Ah. Kurasa dia menikmati ciumanku ini karena dia terus membalasnya, kini kedua tangannya melingkar di leherku dan tanganku melingkar di pinggangnya.
Awalnya aku hanya ingin memberikan sebuah ciuman hangat untuknya, tapi rasa ini . . . aku menjadi semakin bernafsu. Begitupun dengannya. Aku tidak mau terlalu jauh, jadi kulepas ciumanku.
“Wae oppa?” ucapnya yang sadar kalau aku melepaskannya.
“Aniyo, tapi menurutku ini belum saatnya.”
“Wae?” lirihnya. Kulihat matanya mulai berkaca-kaca.
“Min Ah, kenapa kau menginginkannya?”
“Karena, aku tidak mau kehilangan oppa. Aku tahu oppa terpaksa menerima perjodohan ini. Aku juga tahu kalau oppa masih mencintai onni Shany.”
“Apa maksudmu? Kau mengenal Shany?”
Dia mengangguk, “Onni Shany adalah tunangan oppaku.”
“Maksudmu? Kau dan Min Ho?”
“Ne, dia adalah oppaku. Appa dan eomma sudah bercerai. Oppa tinggal bersama appa dan aku tinggal bersama eomma.”
“Tapi, darimana kau tahu kalau aku dan Shany . . .”
“Kau ingat saat petunangan mereka? Aku ada disana. Saat itu aku melihatmu. Dan mulai saat itu pula aku mulai menyukaimu. Kemudian aku meminta eomma untuk mengenalkanku denganmu. Mianhae oppa . . .” Min Ah menundukkan kepalanya.
Aku benar-benar kaget dengan pernyataannya barusan. Kalau saja dia laki-laki, mungkin aku sudah memukulinya. Aku menahan amarahku dengan mengepalkan tangan kuat-kuat. Dia meraih tanganku dan membuka kepalan tanganku. Kemudian didekatkannya telapak tanganku ke pipinya. Dan diusap-usapkannya.
“Oppa, mianhae!” lirihnya. Tanganku dia gerakkan menuju lehernya, kemudian turun kedadanya. Sementara tangan kirinya bergerak seiraman dengan tangan kanannya. Kini tanganku sudah berada di dadanya, begitupun dengan tangannya. “Oppa bantu aku membukanya.” Ucapnya. Kulihat, dia mulai membuka satu persatu kancing bajuku. Barulah aku mengerti apa yang dia inginkan. Entahlah, tapi sepertinya akal sehatku sudah tidak berjalan. Kuturuti semua perintahnya. Setelah semua kancing terbuka aku membuka bajunya, begitupun dengannya. kini aku hanya bertelanjang dada, dan dia hanya memakai bra. Dia memelukku dan salah satu tangannya menyentuh dan meremas lembut Mr. P-ku, dan itu membuatku sangat terangsang.
(Skip) hahahahahaha . . .
Author POV
Keesokan paginya, Min Ah yang belum sepenuhnya sadar merasakan sesuatu di Mrs. V-nya. Yang ternyata adalah Mr. P Eunhyuk yang masih berada didalam milik Min Ah. Min Ah, kemudian terbangun yang membuat Mr. P Eunhyuk terlepas dari dalam Mrs. V. Min Ah berjalan menuju pakaiannya yang berserakan di lantai karena kejadian tadi malam. Min Ah tidak langsung memakainya, dia malah mengambil handuk yang tergantung di lemarinya. Dia tersenyum melihat Eunhyuk yang masih tertidur lelap. Min Ah berjalan menuju kamar mandi, tanpa mengunci pintunya. Min Ah membuka handuknya, tapi tiba-tiba ada sesuatu yang melingkr di perutnya, dan lehernya pun terasa geli. Eunhyuk dating dari belakang langsung mendekap erat tubuh Min Ah yang kini polos tanpa handuk yang menutupinya.
“Oppa . . .” lirih Min Ah tapi menikmati sentuhan Eunhyuk.
“Wae? Bagaimana aku tadi malam?”
“Oppa . . . ah . . .” lirih Min Ah, dengan sedikit mendesah karena dia merasakan sesuatu menyentuh Mrs. V-nya. Yang ternyata tangan kanan Eunhyuk. Itu membuat Min Ah kembali terangsang. Min Ah membalikkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Eunhyuk. Dia langsung mencium liar Eunhyuk. Kini tangan Min Ah pun tidak sabar menjalar menuju Mr. P Eunhyuk.
“Aaahhh . . .” desah Eunhyuk. “Jagi-ah, you are good!” ucap Eunhyuk ditengah-tengah desahannya.
Mereka melakukannya lagi di kamar mandi. Eunhyuk merebahkan tubuh Min Ah di lantai, sampai Min Ah bisa merasakan dinginnya lantai kamar mandi.
Eunhyuk POV
Aku menerawang kembali kejadian yang telah aku lakukan dengan Min Ah. Apa yang harus aku lakukan? Apakan aku akan menyesal nantinya?
Kurasakan ada sesuatu yang melingkar di pinggangku. Min Ah memelukku dari belakang.
“Oppa, gomawo?” ucapnya sambil bersandar di punggungku. Aku membalikkan tubuhku kemudian mendekapnya erat.
“Mianhae, karena aku telah mengambil milikmu yang paling berharga.”
“Aniyo, kau tidak mengambilnya. Justru itu yang aku inginkan bersamamu.”
Kami berpelukan cukup lama di balkon kamar Min Ah.
@@@@@
“Aku pulang . . .” ucapku saat memasuki rumah. Kulihat Donghae dan Min Jee sedang menonton TV.
“Kau sudah pulang? Bagaimana tadi malam?” goda Donghae.
“Apa maksudmu?” balasku sambil memasang wajah tidak innocent.
“Aniyo . . .” ucap Donghae lagi sambil cekikikan. Diikuti oleh Min Jee.
Aku berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Kemudian berjalan menuju ruang tengah bergabung dengan Donghae dan Min Jee. Aku meminum habis air minumku.
“Hyukjae, kau kenapa? Kau baru lari marathon? Minummu banyak sekali.”
“Aniyo, aku hanya merasa haus saja. Tidak boleh?”
“Aniyo, hanya tidak biasa saja.”
“Apa yang sedang kalian tonton?” ucapku yang baru menatap TV dihadapanku.
“Hanya acara music.” Jawab Min Jee. “Hyukjae, kau yakin menerima perjodohan itu?”
“Ne, aku tidak bisa menentang keinginan appa.”
“Baguslah, dengan begitu kau bisa melupakannya?” ucap Donghae.
Aku tertunduk. Tiba-tiba aku ingat kepadanya lagi.
“Hyukjae-ah, maafkan aku!” ucap Donghae sambil mendekatiku kemudian memelukku.
“Aniyo, lagipula aku sudah melupakannya. Dia hanya masa laluku. Dan sekarang aku harus menyiapkan masa depanku dengan Min Ah.”
“Itu baru Hyukjae yang aku kenal.” Ucap Donghae bangga padaku.
“Donghae-ah, ada yang ingin aku ceritakan?”
“Tentang apa?” ucap Donghae penasaran.
“Apa aku harus keluar dulu?” ucap Min Jee.
“Tidak usah, kau pun perlu tahu tentang ini.” Mereka menatapku penasara. “Ternyata Min Jee adalah adik Min Ho.”
“Mwo?” ucap mereka bersamaan.
“Lalu?”
“Awalnya aku ingin marah. Tapi melihat Min Ah yang sepertinya tulus padaku, aku tidak melakukannya.”
“Kau putuskan saja dia!” ucap Donghae emosi.
“Tidak, aku tidak akan memutuskannya. Yang aku benci kan kakaknya. Bukan dia. Tidak ada hubungannya dengan dia.”
“Jagi-ah, Hyukjae-ah! Kalian sudah menyelesaikan tugas dari Kim songsaenim belum?” ucap Min Jee berusaha mencairkan suasana.
Aku dan Donghae membulatkan mata kami dan menatap Min Jee kaget. “Apa maksudmu Jagi?”
“Tugas dari Kim songsaenim, kalian lupa? Bukankah besok dikumpulkannya?”
Benar, aku baru ingat kalau ada tugas kuliah. Aku dan Donghae berlari ke kamar kami masingmasing kemudian mengambil tugas kami. Dan kembali ke ruang tengah.
“Aku tidak mau membantu kalian.” Ucap Min Jee sambil memalingkan wajahnya. Aku dan Donghae berlutut dihadapannya untuk meminta bantuan darinya. Setelah kami paksa akhirnya Min Jee mau membantu kami. Hari itu kami lembur mengerjakan tugas dari Kim songsaenim. Sampa-sampai Min Jee pun menginap di rumah kami.

TBC

14 thoughts on “My Dream Part 4 NC 17”

  1. Hyaa !
    Aku nyesel uda baca (?) /PLAK

    tapi , shany nyesel ngga ya kalo tau hyuk diambil (?) adek tunangannya ??😀 wkwkwk

    lanjuut onnieee =D

  2. omo omo…. omaigat..
    hyuk hyuk hyuk #digampar ma V
    aih V,, seru ni.. lanjutttttttttttttttttt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s