Love Still Goes On (Part 1)

AUTHOR : Yuyu

CAST :

  • Choi Minho (SHINee)
  • Jung Jihye (Ocs)
  • Lee Jinki (SHINee)
  • Han Yoomin (Ocs)
  • Lee Taemin (SHINee)
  • Kim Jonghyun (SHINee)
  • Kim Keybum (SHINee)
  • Jung Yunho (DBSK)
  • Kim Jaejoong (DBSK)
  • Ho Junyeon (Ulzzang)

GENRE : Romance

TYPE/LENGTH : Sekuel

RATING : PG-16

A/N ::. Annyeong =D

Aku kembali dengan ff baru^^

nah, ada baiknya kalo sebelum baca ff ini, kalian baca Hello Bihyul dulu (bagi yang belum baca)

karena main cast di ff ini adalah Minho-Jihye (support cast dari Hello Bihyul)

selamat membaca

Love Still Goes On (Part 1)

Jihye duduk di depan laptopnya diatas tempat tidur sambil sesekali menggigit potongan-potongan sandwich yang diletakkannya disamping laptop sebagai pengganti sarapan yang ia lewatkan beberapa jam yang lalu. Matanya dengan lincah mencari-cari apa yang ia inginkan dari layar laptopnya hingga ia tak menyadari pintu kamarnya terbuka. Seorang namja berpakaian casual melenggang masuk dengan santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana denim longgar miliknya. Langkahnya terhenti tepat di samping tempat tidur Jihye. Ia memperhatikan Jihye dengan seksama, yeoja itu masih belum menyadari kehadiran namja itu. Namja itu tersenyum pelan. Tempat tidur Jihye bergoyang karena namja itu kini telah duduk di samping Jihye, Jihye menoleh dan balas menatapnya.

“waeyo oppa?” Jihye kembali memfokuskan dirinya pada layar laptop, tidak mempedulikan kehadiran kakak lelakinya.

“kau tidak ke café hari ini?”

“aku terlambat bangun, dan rasanya malas sekali untuk ke café hari ini.” Jawab Jihye santai. Selama beberapa detik, tidak ada jawaban dari namja itu. Jihye kembali memalingkan wajahnya dengan penasaran.

“ada apa? Kau tidak terlihat seperti biasanya oppa. Ada masalah?” Tanya Jihye yang disambut dengan anggukan cepat dari lawan bicaranya. Jihye menyilangkan kedua kakinya, memutar tubuhnya sendiri untuk menghadap namja itu.

“ceritakan padaku, akan kucoba untuk membantumu oppa.”

“jinjja?” namja itu ikut memutar tubuhnya hingga saling berhadapan dengan Jihye yang tersenyum mengiyakan, “bawa namjachingumu ke rumah untuk bertemu dengan appa dan eomma.” Pinta namja itu yang berhasil membuat senyum diwajah Jihye menghilang seutuhnya.

“kau tau aku tidak suka topik pembicaraan ini, oppa.” Jihye menggeleng pelan, jelas sekali terlihat kesal.

“oh, ayolah, kau tidak mengerti Jihye. Ini demi kebaikanmu sendiri.” Namja itu memelas, sedikit berharap yeodongsaengnya akan luluh dalam tatapannya.

“sekali tidak tetap tidak oppa.” Jihye bersikeras.

“jangan salahkan aku, Jihye. Kau yang memaksaku untuk melakukan ini padamu!” namja itu bangkit dari tempat tidur dan beranjak ke meja rias Jihye, membuka laci satu persatu dan mengambil sesuatu.

“mobilmu ku sita—“ namja itu mengangkat kunci mobil yang kini berada ditangannya, “ dan akan kukembalikan lagi setelah kau membawa namjachingumu ke rumah.”
”oppa, kumohon, jangan sita mobilku, kau tau kalau aku tidak mungkin naik kendaraan umum. Dan tentang namjachingu, kau sudah tau keputusanku final! Aku tidak akan berpacaran, selamanya!” teriak Jihye.

“berhentilah bersikap kekanak-kanakan, Jihye! Kau tidak mungkin hidup sendirian selamanya! Dan satu lagi, tidak semua namja itu brengsek!”

“tidak, kau salah. Semua namja itu brengsek! Dan kau juga, Jung Yunho!!” Teriak Jihye dengan kesal. Ia turun dari tempat tidurnya, membiarkan laptop nya tetap dalam keadaan menyala. Jihye menyambar tas dan hpnya yang tergelatak diatas meja rias lalu keluar dari kamar tanpa mempedulikan panggilan Yunho.

Para pelayan melihat Jihye berjalan dengan langkah-langkah lebar dan menyapanya, tapi Jihye sama sekali tidak menggubris mereka dan terus berjalan hingga ke pintu utama. Dan tentu saja ia tidak perlu ke garasi karena ia tidak mungkin mengendarai mobil kesayangannya yang diberikan sebagai hadiah ulangtahun ketika ia berumur 20 tahun.

Jihye menyusuri jalanan dengan cepat. Ia bahkan tidak mempedulikan orang-orang yang ia temui di jalan, atau beberapa orang yang saling bersenggolan bahu dengannya. Jihye terlalu sibuk hanyut dalam pikirannya sendiri dan menyeka airmata yang entah kapan mulai turun membasahi wajahnya.

Ia terlalu marah untuk menyadari bahwa ia berada di tempat umum—tempat yang paling ingin ia hindari sebisa mungkin. Satu-satunya orang yang dia anggap paling mengerti dirinya, justru menjelma menjadi seseorang yang terus memaksa dia untuk melakukan hal paling mustahil yang ia tau.

Hp Jihye berdering, awalnya ia tidak ingin mengangkat panggilan masuk itu karena dipikirnya itu dari Yunho. Tapi sesuatu dalam dirinya memaksa ia untuk melihat caller idnya, Jihye mengambil hp yang semula ia simpan dalam tas. Dan benar saja, caller id Yoomin muncul di hpnya, dengan cepat Jihye mengangkat telpon tersebut.

“yeoboseyo, Yoomin-ah!” sapa Jihye.

“hm, ini aku, Onew. Apa aku bisa meminta bantuanmu, Jihye-ssi?” suara yang memang ia kenali sebagai suara Onew terdengar mengalun dari seberang telpon.

***

Jihye berjalan keluar dari kamar Bihyul dengan perlahan, tidak ingin menimbulkan sedikit bebunyian pun. Bihyul baru saja tertidur setelah puas bermain bersama Jihye.

Setelah menerima telpon dari Onew, disinilah Jihye berakhir, mengurusi Bihyul sementara Yoomin terbaring lemah di kamarnya karena demam yang cukup tinggi.

Diam-diam Jihye bersyukur. Setidaknya ia bisa menyibukkan dirinya tanpa harus memikirkan pertengkaran kecil antara ia dan Yunho.

Jihye baru saja akan duduk di sofa ketika ia menangkap sosok Yoomin dari ekor matanya.

“Yoomin-ah, akhirnya kau sadar juga.” Sahut Jihye saat melihat Yoomin keluar dari kamar Onew. Yoomin tidak menjawab, matanya dan wajahnya terlihat sangat lelah dan mengisyaratkan pertanyaan yang bisa ditangkap oleh Jihye seolah bertanya bagaimana ia bisa ada di sini.

“tadi Onew-ssi menelponku dan mengatakan kau sakit. Dia memintaku untuk menjaga kau dan Bihyul sampai malam, karena jadwalnya padat. Kau mau makan? Akan kupanaskan bubur untukmu.” Jihye memegangi tangan Yoomin dan membantunya duduk di meja makan.

Lagi-lagi Yoomin tidak bereaksi dengan kata-kata melainkan ekspresi wajahnya. Persahabatan mereka selama bertahun-tahun ternyata sangat membantu, Jihye dengan mudah bisa mengartikan setiap ekspresi Yoomin, sekecil apapun.

“bukan aku yang memasak, tapi Onew-ssi.” Lanjut Jihye.

“mana Bihyul?” akhirnya Jihye bersuara.

“di sudah tertidur dari tadi siang. Demamnya sudah turun, hanya tinggal masalah pemulihannya saja. Geogjonghajima, sesekali khawatirkanlah dirimu sendiri. Aku heran, kenapa sih kau harus sampai mempertaruhkan nyawa demi Bihyul? Kau tidak harus sampai melakukan itu, Han Yoomin, kau tau kenapa.” Omel Jihye panjang lebar yang disahuti dengan desahan nafas dari Yoomin. Jihye benar-benar mengkhawatirkan sahabatnya satu ini. Entah sudah berapa kali dan berapa banyak yang ia korbankan demi Bihyul.

“hei, apa terjadi sesuatu antara kau dan Onew-ssi?” Jihye mendekati Yoomin, semangkuk bubur yang mengepulkan asapnya ke udara diletakkan dihadapan Yoomin yang memandangnya dengan malas.

“apa maksudmu?” sesuap bubur panas melesat masuk ke dalam mulut Yoomin, perlahan-lahan menuruni kerongkongannya dan sampai ke lambung untuk dicerna.

“kupikir hubunganmu dengannya tidak begitu baik. Tapi, aku berubah pikiran setelah datang ke sini. Dia terlihat mengkhawatirkanmu, dan raut kecemasannya terlihat sangat jelas. Apalagi dia sampai repot-repot memasakkan bubur untukmu. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian? Apakah kalian sudah …” bahu Jihye menyenggol-nyenggol bahu Yoomin, tanpa disadari, pikiran Yoomin melayang-layang membayangkan apa saja yang sudah terjadi antara dia dan Onew.

Apa saja yang sudah terjadi? Tidak ada apapun yang terjadi, Yoomin yakin itu. Kecuali saat ia mengamati wajah Onew yang tertidur, menyadarkan dirinya, betapa sesungguhnya pria itu tidak semenyebalkan apa yang dipikirkannya. Atau ketika ia terbangun di pagi hari dan langsung disambut dengan wajah polos nan lugu itu. Dan tentu saja, pertengkaran—kalaupun itu bisa disebut pertengkaran, karena sesungguhnya hanya Yoomin lah yang merasa kesal sendiri—kecil semalam.

“hei, aku sedang berbicara padamu! Kau pikir aku angin lalu?” kali ini Jihye menyenggol bahu Yoomin lebih keras, berusaha mengembalikan kesadaran Yoomin ke alam nyata.

“eh?” Yoomin berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Jihye beberapa menit lalu, memilih untuk bersikap bodoh dan menyantap sisa bubur dimangkuknya.

Neol saranghal subakke eobseotdeon

Geu nareul ijen arajwoyo

Irul su eomneun sarangdo saranginikka

Dering hp Yoomin membuatnya sibuk meraba-raba saku celananya sambil celingak-celinguk melihat kesekitar ruangan untuk mencari ponselnya.
”sepertinya suaranya dari kamarmu, biar kuambilkan. Tunggulah saja disini.” Jihye menahan bahu Yoomin yang siap berdiri dari tempat duduknya. Jihye menghilang dibalik pintu kamar dan menyembul keluar dengan sebuah ponsel samsung touch screen ditangannya. Sebuah senyuman terukir diwajah Jihye, senyuman yang tidak dimengerti oleh Yoomin.

“Beloved nampyeon.” Kata Jihye, yang masih saja tidak bisa dimengerti Yoomin. Ia mengambil ponselnya, melihat layar ponsel dan tertera ‘Beloved nampyeon’ sebagai caller ID. Kening Yoomin berkerut, sejak kapan ia menyimpan ID seperti itu di hp nya?

Jihye mencoba menyibukkan dirinya sementara Yoomin berbicara di telpon.

“ada apa?” Jihye menatap Yoomin dengan bingung setelah Yoomin menutup telponnya. Belum sempat Yoomin menjawab, suara pintu apartemen yang terbuka membuat dua gadis itu menoleh untuk melihat si pendatang. Tidak hanya Onew, tapi juga Minho yang tersenyum kecil.

“sepertinya beloved namyeon mu sudah pulang. Kurasa aku harus pulang sekarang.” Goda Jihye yang mulai berjalan mengambil tasnya yang tergeletak begitu saja disofa.

Onew melihat Yoomin sekilas, rona wajahnya sudah terlihat lebih baik, dengan tenang Onew melenggang masuk ke kamarnya. Minho mendekati Yoomin dalam diam.

“noona, apa kau melihat jaketku yang tertinggal?” Yoomin menatapnya dengan kosong. Yoomin mengintip Jihye dari balik bahu Minho, dan Jihye hanya menunjuk jaket hijau tua yang disandarkan di sandaran sofa. Minho melihatnya, kemudian berjalan untuk meraih jaketnya.

“Jihye-ah, kau pulang naik bus lagi?” Yoomin mengeluarkan seluruh tenaga yang dimilikinya untuk menghampiri Jihye dan Minho. Jihye bergumam pelan dan mengangguk, lagi-lagi raut wajahnya berubah kecut hanya dengan membayangkan ia harus menaiki kendaraan umum seperti itu, sesuatu yang selalu membuatnya tidak nyaman.

“Minho-ah, bisakah kau antarkan Jihye pulang? Pakailah mobilku.” Onew sudah berganti pakaian, kaos hitam polos dan celana longgar. Kunci mobil yang digenggamnya dilempar dan ditangkap dengan sempurna oleh Minho.

“tidak perlu, aku bisa pulang sendiri kok.” Kilah Jihye.

“Jihye-ah, jebal. Biarkan Minho mengantarmu. Setidaknya itu akan membuatku lebih tenang daripada kau naik bus sendirian.” Pinta Yoomin setengah memohon. Ia tahu benar bagaimana tidak sukanya Jihye jika harus menggunakan fasilitas umum, Jihye merasa tidak nyaman jika harus berada dikerumunan orang asing.

“ayolah, aku antar noona pulang. Aku tidak akan macam-macam.” Sorot mata Minho menyiratkan ketulusan meski Jihye meraguinya, ia tidak hanya meragui Minho, tapi hampir semua pria—yang bersikap baik maupun tidak padanya. Jihye menyerah, benar kata Yoomin. Setidaknya ia merasa sedikit lebih aman jika pulang bersama dengan Minho—sahabat suami Yoomin—daripada harus berdesak-desak di bus dengan orang-orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

“bawa saja mobilnya ke dorm, besok pagi aku akan ke sana.” Pinta Onew sambil mengantar Minho ke depan pintu apartemen.

***

Jihye duduk di samping kursi kemudi—di samping Minho. Jihye menggigiti bibir bawahnya untuk menekan rasa cemas yang melanda dirinya. Perjalanan dari apartemen Yoomin hingga ke rumahnya butuh kira-kira 20 menit, dan selama itu pula ia harus berada di mobil yang sama dengan seorang namja.

Minho sesekali melirik ke samping, memperhatikan yeoja disampingnya. Parasnya yang cantik bercampur dengan ketegangan yang kentara sekali terlihat diwajahnya. Minho tidak mengerti, ada apa dengan yeoja ini?

Kenapa ia selalu terlihat takut dan tegang ketika bersama SHINee? Apakah ia seorang fans? Tidak, Minho jelas-jelas membuang jauh pikiran seperti itu. Ada sesuatu, sesuatu yang masih belum mampu ia tangkap tapi ia yakini merupakan penyebab dari semua tingkah aneh yeoja itu.

“ke mana lagi?” tanya Minho begitu mereka sudah sampai di tempat yang ditunjuk Jihye sebelumnya.

“sampai di sini saja, kamsahamnida, Minho-ssi.” Jihye melepaskan seatbelt nya dan turun dari mobil sebelum mendengar jawaban dari Minho. Minho duduk bergeming di posisinya, memperhatikan Jihye berjalan di tengah kegelapan malam sambil melirik ke kiri dan kanan. Yeoja itu bergidik pelan setiap kali berpapasan dengan beberapa namja. Seriously, Minho yakin ada sesuatu yang tidak wajar pada yeoja itu. Jihye berbalik disebuah tikungan menyebabkan Minho tak lagi bisa memperhatikannya. Minho mendesah pelan lalu mulai menyalakan mesin mobil dan mengemudi ke dorm.

***

Pagi-pagi sekali, Jihye sibuk mengemasi barang-barangnya. Ia memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas berukuran cukup besar. Jihye sedang menimbang-nimbang apakah ia akan membawa buku bacaan dan beberapa alat kosmetik atau tidak ketika Yunho menerobos masuk dan melihat kamar Jihye dalam keadaan berantakan. Yunho membelalak melihat tas berisi pakaian milik Jihye.

“yaaaaa! Kau mau ke mana? Kau mau kabur?” Yunho mendekati Jihye dan menarik tangannya dengan cemas.

“aniyo, Yoomin mengajakku untuk berlibur di villa milik Key. Dan semalam aku lupa berkemas.” Jelas Jihye singkat masih sibuk menimbang-nimbang antara membawa novel atau komik miliknya.

“jinjja?” Yunho terlihat tidak percaya. Ia menatap Jihye dengan intens, tapi Jihye sama sekali tidak terganggu dan membalas tatapan Yunho.

“araseo, hati-hati di jalan. Kunci mobilmu ada di dalam laci.” Yunho memunggungi Jihye dan keluar dari kamarnya.

“kau mengembalikan mobilku!? Gomawo oppa, saranghae!” teriak Jihye kegirangan dari dalam kamarnya.

Jihye terus mengecek jam tangannya, tau ia sudah terlambat untuk menjemput Haeji. Untungnya, ia berhasil menjemput Haeji dan sampai di villa yang dimaksud tepat waktu, hampir berbarengan dengan Yoomin dan Onew serta SHINee.

Jihye dan Haeji mendapatkan kamar di lantai satu, bersebelahan dengan kamar Minho-Taemin sementara kamar Jonghyun-Key berada di dekat tangga lantai dua.

Jihye mengeluarkan barang-barang bawaannya begitu mereka menempati kamar mereka.
”kau akan ikut ke pantai?” tanya Jihye yang masih sibuk meletakkan buku bacaan diatas meja kecil di samping tempat tidur yang akan ia tempati selama dua malam.

“aku tidak ingin ke pantai eon, kalian bisa pergi tanpa aku.” Jawab Haeji. Jihye menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Haeji. Yeoja itu mungkin terlihat biasa saja, tapi Jihye tau bahwa temannya itu masih memikirkan seorang namja yang meninggalkannya berkeliling dunia demi fotografi tolol yang menjadi pilihan hidupnya. Jihye tau bagaimana rasanya—kehilangan seseorang yang sangat berarti bagi kita. Tapi sekarang, ia seperti mati rasa. Ia tidak bisa mengerti, mengapa seorang yeoja bisa melakukan apapun demi namja—pemikiran itu terdengar sangat tolol. Ia bisa hidup seorang diri, hidup dengan jauh lebih baik dibandingkan ia bersama dengan namja yang hanya akan menyakitinya.

“nan gweanchana. Geogjonghajima, bersenang-senanglah.” Haeji tersenyum hangat, meyakinkan Jihye untuk tetap bersenang-senang tanpa dirinya. Jihye sendiri tidak suka memaksa seseorang berjalan sesuai kehendaknya ataupun mencampuri urusan orang lain.

Jihye keluar dari kamar, berpapasan dengan Minho yang juga keluar dari kamar. Jihye melangkah mundur, mencoba menjaga jarak sejauh mungkin dari namja tinggi itu.

“uh, hai noona. Kau mau ke pantai juga?” tanya Minho mencoba berbasa-basi.

“ne…” Jihye menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Minho dari jarak sedekat ini. Jihye meremas ganggang pintu yang masih dipegangnya dengan tangan kanan sementara tangannya yang bebas membulat membentuk kepalan. Hal itu tak luput dari perhatian Minho, membuat ia semakin bertanya-tanya. Pandangan Minho tidak bisa terlepas dari yeoja yang berada dihadapannya sedetikpun.

“Jihye-ya, ikut ke pantai?” Yoomin muncul dari balik punggung Minho, memberi kesempatan bagi Jihye untuk melarikan diri dari.

“ah, ne.” Jihye berlari kecil dan menghampiri Yoomin, Minho menggaruk kepalanya pelan, menyadari kecanggungan yang tadi menyelimuti mereka. Minho berjalan santai keluar villa dengan kedua tangannya berada di dalam saku celananya. Taemin dan Jonghyun yang pertama kali sampai dan sekarang mereka sudah basah kuyup karena bermain air. Melihat deburan ombak untuk pertama kalinya membuat Bihyul bersemangat dan berlari menghampiri kedua namja itu. Yoomin ikut berlari di belakang Bihyul—takut kalau Bihyul terjatuh, sementara Onew berjalan pelan di belakang Yoomin, memperhatikan kedua orang itu sambil tersenyum kecil.

Minho menghela nafas pelan, tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Ia merasa banyak hal yang mengganggu pikirannya—meski ia sendiri tidak tau apa itu.

Jihye duduk di tepi pantai dengan menekuk kedua lututnya dan memandang kosong ke pantai—terhanyut dalam pikirannya sendiri. Minho melangkah ke arah Jihye, ingin menghampiri yeoja itu tapi langkahnya terhenti ketika ia mengingat bagaimana yeoja itu terlihat tidak nyaman setiap kali mereka berdekatan. Minho mengurungkan niatnya, membelokkan langkahnya dan bergabung dengan yang lain yang masih asyik bermain air.

Minho mengangkat tubuh Bihyul, mendudukkannya diatas pundaknya dan berkeliling dengan cepat membuat Bihyul tertawa lebar—diikuti Minho. Minho memalingkan wajahnya, tanpa sengaja kembali memandang Jihye. Yeoja itu masih seperti tadi—duduk menekuk lutut—tapi kali ini dia tersenyum melihat Bihyul. Jihye tidak menyadari bahwa Minho memperhatikannya, tawa Minho memudar digantikan oleh senyuman manis dan ia sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya dari apa yang ia lihat saat itu.

***

“sudah kubilang kalau dagingnya kurang matang kan? Hyung tidak mau mendengarku sih.” Omel Key pada Jonghyun setelah mereka selesai berpesta bbq. Jihye duduk di sofa dengan sebuah novel menggantung di tangannya di samping Bihyul yang sudah terlelap.

“hei, inikan malam terakhir, bagaimana kalau kita memainkan sesuatu? Supaya lebih menarik.” Usul Taemin dengan riang. Jihye mendelik dari balik novel dan menatap Taemin dengan penasaran.

“permainan apa? Jangan bilang kalau kau ingin bermain pergantian umur lagi, aku tidak mau!” tolak Onew.

“aniya, kita mainkan truth or dare saja, eotthe?”

“ide bagus, akan kucarikan botolnya, semuanya harus main ya!” ancam Key sambil berlari ke dapur dan membawa sebotol kosong ketempat mereka.

Mereka berdelapan duduk membuat lingkaran. Karena Taemin yang mengusulkan permainan ini, maka ia yang memulai memutar botol lebih dulu. Botol tersebut berputar sangat cepat dan berhenti perlahan-lahan mengarah ke Onew.

“truth or dare?”

Onew berpikir sejenak, lalu menjawab, “dare.”

“ah, hyung, kenapa kau tidak memilih truth saja sih? Banyak sekali yang ingin kutanyakan padamu.” Rutuk Taemin ,”baiklah, kalau begitu, gendong Bihyul ke kamarnya.”

Onew awalnya sempat menolak, tapi sebagai leader yang baik, ia menjalankan tantangan dari sang maknae—dan tentu saja dengan bantuan Yoomin.

Onew kembali ke tempat duduknya semula, menghela nafas lega lalu melanjutkan permainan.

“truth or dare?” tanya Onew pada Jonghyun.

“ehm, truth saja deh.”

“siapa yang paling kausukai diantara kami bertujuh?” tanya Onew sambil menunjuk sekelilingnya.

“tentu saja Key!” teriak Jonghyun sedetik setelah Onew melontarkan pertanyaannya. Sontak kami semua tertawa dan Key hanya terbengong.

“ah, hyung! Kau membuatku malu.” Omel Key sambil berpura-pura marah.

Permainan dilanjutkan, dan kali ini mengenai Jihye.

“noona yakin memilih dare? Hehehe, kalau begitu, tantangannya adalah… mencium Minho.” Sorak Jonghyun.

“mwoooo!?” teriak Minho dan Jihye hampir berbarengan.

Rasanya jantung Jihye hampir copot—tapi bukan dalam artian positif. Ia tau banyak yeoja yang pasti akan bermimpi untuk bisa mencium Choi Minho, rapper SHINee. Tapi setidaknya Jihye bukan remaja yang akan mabuk kepayang melihat paras sempurna milik Minho. Yang membuat jantungnya berhenti berdetak adalah fakta bahwa ia harus bersentuhan dengan namja. Jihye menelan ludahnya dengan susah payah dan tidak tau harus bereaksi seperti apa.

“hyung, kurasa tantanganmu itu agak keterlaluan.” Sambung Taemin yang duduk disebelah Minho.

“waeyo? Namanya juga tantanganya, atau kalian lebih berharap aku menyuruhnya menyanyi dan menari di sini?” cibir Jonghyun. Minho dan Jihye jelas terlihat salah tingkah. Salahnya sendiri kenapa ia nekat memilih tantangan.

“begini saja deh, Jihye noona, putarlah botol itu sekali lagi, kepada siapapun botol itu mengarah, berarti dialah orang yang harus noona cium, araseo?” lanjut Jonghyun, mencoba sedikit mentolerir tantangannya. Jihye berpikir sesaat, kalau ia memutar botol itu, ada kemungkinan akan terhenti di Yoomin atau Haeji. Meksi sedikit menjijikkan jika harus mencium yeoja, tapi hey! Kedua sahabatnya itu yeoja, berarit ia tidak perlu bersentuhan lagi dengan namja kan? Meksi kemungkinannya sangat kecil, tapi layak dicoba pikir Jihye. Jihye mengangguk pelan dan mulai memutar botolnya, tepat berhenti di …

“naega???” teriak Onew tidak percaya. Jelas semua mata terbelalak menatap Onew. Jihye justru terlihat lebih salah tingkah. Bagaimana tidak, masa dia harus mencium suami sahabatnya? Itu benar-benar gila.

“sudahlah, bukankah tadi kata hyung denganku?” Minho memecah kesunyian dan langsung merengkuh wajah Jihye, menempelkan bibirnya dibibir Jihye. Tubuh Jihye menegang. Memang bukan sesuatu yang menggebu-gebu, hanya saling menempelkan bibir, tapi seharusnya hal ini membuat Jihye ketakutan, harusnya hal ini membangkitkan kenangan buruk dalam benak Jihye, tapi anehnya Jihye justru merasa tenang. Ketakutannya untuk berada dalam radius jarak yang sangat dekat dengan namja menguap begitu saja. Aneh, ia yakin benar ia masih merasa takut, tapi mengapa setiap kali berada di dekat Minho rasa takutnya selalu menguap sedikit demi sedikit?

“selesaikan tantangannya?” sahut Minho setelah ia melepaskan diri dari Jihye yang masih kebingungan. Jonghyun tersenyum puas dan kembali melanjutkan permainan. Selama sisa permainan, Jihye lebih berhati-hati. Ia tidak ingin memilih dare lagi, lebih baik menceritakan hal memalukan daripada harus melakukan tantangan konyol, siapa yang bisa tau apa yang ada dipikiran Jonghyun selanjutnya?

Permainan selesai karena mereka harus istirahat yang cukup jika ingin kembali ke Seoul dengan selamat keesokan harinya. Jihye tidur di sofa ruang tamu sementara SHINee dan Yoomin tidur di lantai.

Jihye tidak bisa terlelap, selelah apapun ia karena sesuatu terus membayanginya. Kehangatan bibir Minho masih tercetak jelas dibibirnya. Jihye menggigiti bibirnya dan memaksa kedua matanya tertutup.

Tidak seharusnya kau memikirkan hal itu Jihye, ingatlah, semua lelaki itu brengsek dan kau sudah berkomitmen bahwa kau tidak akan bersama lelaki manapun, batin Jihye.

TO BE CONTINUE . . .

10 thoughts on “Love Still Goes On (Part 1)”

  1. hemm……ni lanjutan kisah cinta Jihye ma Minho d ff Hello Bihyul yg ngegantung kmaren y..??keren euy….!!!emang tidak perlu d ragukan lagi….daebak author….!!!! d^o^b

  2. ini lanjutan dri ff Hello Bihyul??
    Akhirnya..😀
    LANJUT LAGI YA AUTHOR!! FF NYA DAEBAK!!
    DI TUNGGU NEXT PART NYA.. !!😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s