He’s Gone Part 2

FF ini bukan seutuhnya hasil dari imajinasiku sendiri. Awalnya ff ini di buat oleh orang yang udah aku anggap dongsaengku sendiri, tapi aku gak tahu sekarang dia dimana. Aku gak bisa bilang siapa orang yang aku omongin ini, karena kalau aku kasih tahu. Aku takutnya bakal ada PRO dan KONTRA. Sebenernya aku juga gak yakin dengan masalah yang aku denger tentang dia itu bener atau nggak. Aku Cuma mau jaga-jaga aja. Jadi maaf kalau dalam penulisan atau gaya bahasanya gak beraturan dari awal, karena emang penulisnya yang berbeda. Niatnya sih mau di benerin, tapi aku gak lakuin itu. Karena aku gak mau ngehapus ciri khas penulisan dongsaengku itu. Supaya kalian gak bingung, aku kasih tanda deh. Mana yang bikinan aku dan yang bikinan dia. Buat kalian yang tahu tentang siapa orang yang aku bicarain ini, tolong banget jangan bahas dia di komentar kalian. Ok! Nah mulai part sekarang bikinan aku.

Happy Reading!!

Author : Vay ^_^

“Kyu . . .!!” pekikku dan Siwon bersamaan melihat kedatangan Kyu yang tiba-tiba. Kami segera berlari menghampiri Kyu yang berdiri lemah di mulut pintu.

“BERHENTI!” teriak Kyu menghentikan langkah kami berdua.

“Hyung, kau sudah janji padaku tidak akan memberitahu Siwon hyung mengenai penyakitku ini. Kenapa kau mengkhianatiku?” teriak Kyu sambil berurai air mata.

“Siwon adalah hyungmu, dia berhak tahu tentang penyakitmu. Kau tega membuatnya selalu khawatir tentang keadaanmu yang semakin lemah tanpa tahu kenapa alasannya?” aku berteriak keras padanya karena tidak tahan dengan sikap egois Kyu.

“Kyu, hyung mohon ijinkan aku berada disampingmu!” Siwon memohon dengan berurai air mata.

“Hyung . . .!” pekik Kyu sambil memegang kepalanya. Dia kesakitan. Seketika itu pula dia langsung pingsan. Aku dan Siwon segera berlari mendekati tubuhnya yang sudah terkapar. Kami mengangkatnya masuk kedalam kamar.

“Kibum-ah, bagaimana ini?” Siwon khawatir.

“Tenanglah, dia hanya pingsan karena shok.” Ucapku setelah memeriksa keadaan Kyu. “Aku akan menginap disini untuk menemanimu dan aku akan terus mengontrol keadaan Kyu malam ini.”

“Gomawo!”

Siwon POV

Kusipitkan mataku saat sinar matahari dengan bebas masuk melalui jendela kamar Kyu. Kulirik Kyu yang masih tidur dengan pulasnya disampingku. Aku mencari sosok Kibum di sofa yang berada di sudut kamar, ternyata dia sudah bangun. Aku bangun dari tidurku kemudian berjalan keluar menuju dapur. Ternyata Kibum ada disana. “Selamat pagi! Kau sudah bangun rupanya?” sapaku pada Kibum yang sedang membuat teh.

“Ne, ini untukmu!” Kibum menyerahkan minuman yang dibuatnya tadi untukku.

“Gomawo!”

“Aku sudah menghubungi beberapa dokter spesialis Kanker. Dan mereka siap membantu kita untuk menyembuhkan Kyu. Sebenarnya aku tahu seseorang yang sangat ahli dalam bidang ini. Dia kakak tingkatku waktu kuliah dulu, namun aku tidak tahu keberadaannya sekarang. Tahun lalu adiknya meninggal karena kanker, dia sendiri yang memimpin operasi. Tapi tuhan berkata lain, adiknya meninggal. Dia merasa sangat bersalah karena dia merasa telah membunuh adiknya sendiri. Setelah kejadian itu dia pergi dan menghilang. Tidak ada yang tahu dimana keberadaannya sekarang. Aku berharap dia segera kembali agar bias menyembuhkan Kyu.” Jelas Kibum panjang lebar sambil berjalan menuju ruang tengah. Aku merasa ada suatu keajaiban yang akan datang. Kini kami sudah duduk di sofa ruang tengah.

“Jeongmal?” tanyaku antusias. Kibum mengangguk yakin. Ada kelegaan dalam hatiku karena dongsaeng kesayanganku mempunyai harapan untuk sembuh.

Kyuhyun POV

Tanpa sengaja aku mendengarkan pembicaraan Kibum dan Siwon hyung. Aku senang mendengarnya, tapi aku bukanlah anak kecil yang mudah dibodohi. Aku tahu penyakitku ini sudah tidak bisa di sembuhkan lagi sekalipun dokter itu sangat hebat. Siwon hyung, mianhae aku selalu menyusahkanmu. Tanpa sepengerahuan Kibum dan Siwon hyung, aku menyelinap keluar rumah meskipun rasanya tubuh ini terasa sangat sakit. Aku tidak boleh menyerah, aku harus kuat. Setelah berhasil keluar dari rumah, aku segera berlari menjauhi rumah. Aku tidak mau Kibum dan Siwon hyung mengetahui kepergianku. Aku terus berjalan di tengah keramaian kota Seoul. Sepanjang jalan semua orang melihatku aneh. Tentu saja, aku hanya memakai pakaian tidur dan hanya memakai sandal rumah. Aku melihat sebuah bangku kosong di taman yang berada di seberang jalan. Dengan langkah yang agak cepat aku berjalan menuju taman itu, tapi sesuatu menghentikan langkahku. Sebuah suara yang sungguh memekikkan telingaku. Kualihkan pandanganku ke sumber suara. Aku terbelalak kaget, tapi kakiku ini rasanya sangat sulit aku gerakkan. Aku ingin berlari tapi tidak bisa.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa . . .!!”

Siwon POV

Setelah berbincang cukup lama dengan Kibum, aku dan Kibum kembali ke kamar Kyu untuk melihat keadaannya. Tapi saat kami masuk kedalam kamarnya, tempat tidurnya sudah kosong.

“Kyu . . . Kyu . . .” aku masuk lebih dalam ke kamarnya. Aku berlari masuk kedalam kamar mandi yang berada di kamarnya tapi kosong. Kibum membantu mencari Kyu ke setiap sudut rumah. Tapi tidak ada, aku semakin panik. KYUHYUN HILANG, atau lebih tepatnya mungkin dia KABUR.

“Siwon, ayo kita cari Kyu di luar.” Ajak Kibum. Dengan menggunakan mobil Kibum kami menyusuri setiap jalanan kota Seoul. Aku sangat khawatir, ditambah lagi dengan keadaan Kyu yang sedang sakit. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada Kyu. “Tenanglah!” ucap Kibum memegang bahuku agar lebih tenang. Tapi aku tidak bisa tenang, bahkan wajahku ini sudah basah dengan air mata dan keringat tubuhku.

“Kenapa berhenti?” tanyaku  saat sadar dari lamunan dan baru menyadari bahwa mobil Kibum tidak jalan.

“Kau tidak lihat kalau jalanan macet?” kualihkan pandanganku ke depan.

Kibum mengeluarkan kepalanya lewat jendela untuk melihat keadaan. “Sepertinya kecelakaan lalu lintas.” Ucapnya. Saat dia mengucapkan itu, pikiranku langsung tertuju pada Kyuhyun. Aku langsung keluar dari mobil dan berlari seperti kesetanan menuju lokasi kecelakaan. Aku menerobos masuk kedalam keramaian untuk melihat korban kecelakaan itu. Saat melihat korban, lututku langsung merasa lemas. Rasanya aku tidak bisa menopang tubuhku untuk berdiri dengak tegak lagi. Aku jatuh, tapi tiba-tiba sesuatu menopang tubuhku. Dan aku tahu apa itu, Kibum. Dia menahan tubuhku agar tidak jatuh ke tanah. Kibum memapah tubuhku keluar dari keramaian lalu masuk kedalam mobilnya. “Tenanglah, aku yakin Kyuhyun baik-baik saja saat ini. Aku tahu dia anak yang sangat kuat. Sebaiknya kita pulang dulu, kau terlihat sangat kacau.” Ucapnya. Aku tidak menanggapinya, aku benar-benar tidak mempunyai tenaga lagi untuk menanggapinya. Kibum memutar stir mobilnya, kembali menuju rumahku.

Kyuhyun POV

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa . . .!!” aku berteriak sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku saat sebuah mobil mendekat kearahku dengan kecepatan cukup tinggi. Aku merasakan tubuhku terbang sampai tiba-tiba akupun merasa tubuhku sangat sakit karena menghantam sesuatu. Seketika itu pula pandanganku menjadi gelap. Aku tidak ingat apa-apa lagi.

Kubuka mataku, kulihat seorang laki-laki sedang berdiri membelankangiku. Dia sedang sibuk melakukan sesuatu. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi padaku. Aku mengingat kejadian terakhir yang aku alami, tapi kenapa aku bisa berada disini? Dan siapa laki-laki itu? Apakah aku berada di rumah sakit? Tapi tempat ini sama sekali tidak menunjukkan sebuah rumah sakit.

“Kau sudah sadar rupanya.” Ucapnya  tersenyum saat melihatku yang sedang memandang heran dan penasaran padanya.

“Aku . . . ada dimana? Dan siapa kau?” lirihku.

“Minumlah!” dia memberikan segelas air putih padaku. Aku ragu untuk menerimanya. “Ambillah, kau membutuhkannya. Aku tidak akan meracunimu. Percayalah!” jawabnya seperti mengetahui isi pikiranku. Kuterima dengan ragu segelas air itu, tapi aku benar-benar haus. Dengan segera kuminum air itu sampai habis. “Saat sedang berjalan-jalan di taman, aku melihatmu di tengah jalan. Kau hanya diam saja waktu itu, jadi kuputuskan untuk menarik tubuhmu. Tapi mian sebelumya, kepalamu sedikit terluka, tapi sudah aku obati tadi. Tidak ada yang serius dengan lukamu.” Jawabnya enteng. Dia duduk dihadapanku. Pantas saja aku merasa sedikit pusing.

“Gomawo!” ucapku.

“Siapa namamu?”

“Kyuhyun.” Jawabku datar.

“Dan, berapa umurmu?”

“Umurku baru tujuh belas tahun. Kau?” tanyaku ragu karena tidak mau membuatnya tersinggung dengan pertanyaanku atau lebih tepatnya permintaanku yang ingin mengenalnya.

“Namaku Park Jungsu. Kau bisa memanggilku Jungsu hyung.” Ucapnya tersenyum. Entahlah aku tidak tidak tahu, tapi aku merasa sangat tenang dan nyaman saat melihatnya tersenyum. “Kau tinggal dimana?” aku sudah mengira kalau dia akan menanyakan itu. Kutundukkan kepalaku pertanda tidak ingin menjawab pertanyaannya. “Baiklah, kau boleh tinggal disini selama kau mau.” Sambungnya seolah mengerti dengan sikapku. Aku langsung tersenyum bahagia mendengarnya, “Tapi . . .” ternyata dia belum selesai bicara. Aku langsung merubah raut wajahku. “Ada satu syarat yang harus kau lakukan bila kau ingin tinggal disini.”

“Apapun akan kulakukan.” Jawabku cepat.

“Kyuhyun-ah, mianhae bila aku lancang. Saat kau pingsan tadi, aku memeriksa keadaanmu. Dan . . .” kata-katanya menggantung. Aku takut . . . takut dia mengetahui penyakitku. “Apa kau mengidap kanker?” tanyanya ragu. Yang kutakutkan benar-benar terjadi. Kutundukkan kepalaku dan mengangguk pasrah. Kurasakan dia langsung memelukku, “Ijinkan aku menolongmu. Aku seorang dokter spesialis kanker. Kumohon!” kurasakan bahunya sedikit bergetar dan terdengar suara yang sedang terisak. Dia menangis, kenapa? “Kyu, jebal!” pintanya lagi. Kuanggukkan kepalaku pasrah. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulakukan barusan, bukankah aku kabur dari rumah karena aku tidak ingin diobati? Tapi kenapa saat mendengar permintaan orang yang baru saja kukenal, dengan mudahnya aku menyetujuinya. Aku benar-benar tidak mengerti.

Sudah seminggu aku tinggal bersama Jungsu hyung. Dia merawatku dengan sangat baik. Jungsu hyung tidak pernah melewatkan waktu luangnya sedikitpun tanpa memperhatikanku. Aku sangat merindukan Siwon dan Kibum hyung. Bagaimana keadaan mereka sekarang?

“Kyuhyun-ah, apa yang sedang kau lakukan disana?” Tanya Jungsu hyung saat melihatku sedang berdiri di balkon apartemennya. Kulihat dia membawa dua buah cangkir teh di masing-masing tangannya.

“Hyung, kau mengagetkanku. Aku hanya sedang menikmati udara pagi.” Jawabku tersenyum.

“Kemarilah, aku ingin memeriksa keadaanmu.” Ucapnya sambil menepuk-nepuk sofa disampingnya. Aku berjalan mendekatinya lalu duduk disampingnya. “Keadaanmu semakin baik.” Ucapnya senang setelah memeriksaku.

“Jeongmal? Ini karena hyung merawatku dengan sangat baik.” Jawabku senang.

“Kyu-ah, kau tidak merindukan keluargamu?” tanyanya tiba-tiba. Kurubah ekspresi wajahku saat dia menanyakan hal itu. “Mianhae, tapi aku yakin saat ini keluargamu pasti sangat mengkhawatirkanmu. Kau tidak kasihan pada mereka?” ucapnya lembut. Kubungkam mulutku karena tidak mau menjawabnya. “Baiklah aku mengerti.” Jungsu hyung menundukkan sedikit kepalanya karena kecewa. “Aku akan pergi ke rumah sakit. Kau hati-hati di rumah, kalau kau merasa ada yang tidak beres segera telpon aku!”

“Ne, hyung tenang saja.” Sebelum Jungsu hyung pergi, dia mencium keningku. Lagi-lagi aku merasakan kehangatan di sekujur tubuhku. Untuk menghilangkan rasa bosanku, aku akhirnya menonton TV. Tapi sepertinya tidak ada acara TV yang dapat membuatku tertarik. Kumatikan TV dan mengambil PSP milikku di kamar. Aku terlalu asik bermain PSP hingga tak merasa kalau sekarang sudah jam makan siang. Aku berjalan ke dapur untuk mencari makanan, tapi tidak ada. Aku harus keluar untuk membeli makanan, cacing-cacing di perutku ini sudah berteriak meminta diberi makan. Kuambil jaket dan topi lalu segera keluar mencari makanan. Rasanya sudah lama sekali aku tidak berinteraksi dengan orang-orang, karena selama seminggu ini aku terus berdiam di dalam rumah. Kupilih salah satu kedai makanan yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempatku berdiri sekarang. Saat sedang membeli makanan, seseorang menepuk pundakku pelan sambil memanggil namaku.

“Kyuhyun!” kubalikkan tubuhku menghadap orang itu. Aku terbelalak kaget melihat orang yang memanggilku barusan. “Kyu, kenapa kau ada disini? Tempat ini cukup jauh dari rumahmu. Apa yang sedang kau lakukan? Dan aku ingin bertanya padamu, Siwon kemana? Sudah seminggu ini dia tidak masuk sekolah. Ada yang bilang kalau dia sakit, benarkah itu?” tanyanya beruntun. Lidahku terasa kelu dan tidak bisa berbicara.

“Mianhae hyung, aku harus pergi!” aku langsung pergi dari tempat itu. Untung saja makanan yang aku pesan sudah berada di tanganku, jadi dengan mudah aku bisa lari dan menjauhi orang itu.

“Kyuhyun . . . Kyuhyun-ah . . .” sayup-sayup aku masih mendengar suaranya memanggilku. Untung saja orang itu tidak mengerjarku, kalau sampai itu terjadi Siwon hyung bisa tahu aku tinggal disini. Aku segera masuk kedalam gedung dan menuju apartemen Jungsu hyung.

Kusimpan makanan yang kubeli tadi di dapur lalu berjalan menuju ruang tengah. Kuhempaskan tubuhku ke sofa untuk melepas rasa lelah. “Kenapa Eunhyuk hyung bisa ada disana? Apa mungkin dia tinggal di sekitar daerah ini?” gumamku. Eunhyuk hyung adalah kakak kelasku di sekolah sekaligus teman sekelas Siwon hyung, aku mengenalnya karena Siwon hyung pernah membawanya ke rumah untuk mengerjakan tugas bersama. Tiba-tiba pintu apartemen terbuka, aku terlonjak kaget.

“Waeyo Kyu? Gwaenchana?” ternyata Jungsu hyung yang pulang. Dia segera berlari mendekatiku dari arah pintu masuk dan memeriksa keadaanku.

“Gwaenchana, aku hanya kaget karena hyung masuk tiba-tiba.”

“Syukurlah, kau sudah makan siang?”

“Aku baru saja membeli makan. Tapi sayang, aku hanya membeli satu porsi saja. Biar aku belikan lagi untukmu hyung.” Tawarku sambil beranjak pergi, tapi Jungsu hyung menahanku.

“Ani, gwaenchana. Aku sudah makan siang tadi di rumah sakit bersama teman kuliahku. Kau makanlah, aku mau mandi dulu.” Ucapnya kemudian masuk ke dalam kamar. Dan aku berjalan menuju dapur mengambil makanan yang aku beli tadi.

Kibum POV

Sudah seminggu Kyuhyun menghilang, dan keadaan Siwon semakin buruk. Semenjak Kyuhyun pergi, Siwon sangat kacau. Dia sudah seperti orang gila, setiap hari dia pergi pagi-pagi sekali dan pulang sangat malam untuk mencari Kyuhyun. Dia pun jadi lebih sering minum-minum dan tidak pergi ke sekolah. Sehingga membuatku harus meminta ijin kepada sekolah tentang keadaan Siwon dan Kyuhyun, dan untungnya pihak sekolah mau mengerti. Sebenarnya kami sudah meminta bantuan polisi untuk mencari Kyuhyun, tapi sampai saat ini belum ada kemajuan dari pencarian Kyuhyun. Semenjak Kyuhyun pergi, aku tinggal di rumahnya untuk menemani Siwon. Aku tidak bisa meninggalkan Siwon sendirian di saat seperti ini.

“Siwon-ah, aku harus pergi ke rumah sakit hari ini. Kau diam di rumah saja, jangan pergi kemana-mana. Arraseo?” tanyaku padanya yang kini sedang melamun di ruang tengah. Dia diam saja, hanya memandang lurus kedepan. Matanya kosong bahkan aku merasa sudah tidak ada kehidupan di dalamnya. Kukunci rumah dari luar agar Siwon tidak bisa pergi kemana-mana.

Betapa terkejutnya aku saat aku keluar dari ruang kerjaku, aku melihat seseorang yang sangat aku kenal sedang mengobrol dengan dokter Hankyung. Yang tidak lain adalah sahabat baiknya serta seniorku dulu ketika kuliah. Park Jungsu sunbaenim. Aku segera berlari mendekati mereka.

“Jungsu sunbaenim!” panggilku. Mereka mengalihkan pandangannya padaku yang sedikit terengah-engah.

“Kibum? Kau kah itu?” ucap Jungsu sunbaenim tidak percaya melihatku. Dia langsung memelukku singkat.

“Sunbae, kau kemana saja?” tanyaku sambil melepas pelukan kami.

“Aku hanya cuti saja, untuk menenangkan pikiranku.”

“Kau akan kembali ke dunia kedokteran bukan?” tanyaku antusias. Dia mengangguk.

“Ne, aku tidak mau terpuruk lagi. Aku akan bangkit kembali. Ngomong-ngomong, kau hebat sekali sudah diangkat menjadi dokter.”

“Ini juga karena bantuan Jungsu dan Hankyung sunbae yang selalu membantuku bila ada masalah dalam kuliah.”

“Sudah waktunya jam makan siang, bagaimana kalau kita makan siang di kantin rumah sakit saja sambil melanjutkan obrolan kita?” ucap Hankyung sunbaenim, kami mengangguk setuju.

Siang itu aku merasa sangat bahagia karena bisa bertemu dengan orang yang sangat-sangat aku rindukan. Aku sudah menganggapnya sebagai hyungku sendiri, syukurlah kini dia sudah menjadi lebih baik.

“Sunbae, selama ini kau tinggal dimana?” tanyaku memulai pembicaraan.

“Ya! Bisa tidak kau panggil aku hyung saja, aneh rasanya di panggil sunbae olehmu.” Ucapnya tertawa renyah. Aku dan Hankyung sunabe pun mengikuti tawa renyahnya.

“Aku juga begitu, aku tidak mau di panggil sunbae olehmu.” Sambung Hankyung sunbae.

“Baiklah, mulai saat ini aku akan memanggil kalian hyung. Bagaimana?”

“Jadi, selama ini kau tinggal dimana?” Tanya Hankyung hyung. Meskipun dia sahabatnya, Jungsu hyung tidak memberithaukan keberadaannya selama ini kepada siapapun. Dia benar-benar ingin menenangkan dirinya.

“Aku tinggal di pulau Jeju, menikmati kehidupan desa. Dan menjadi dokter umum disana. Ternyata disana, tenaga kesehatan benar-benar sangat kurang dan memprihatinkan. Kapan-kapan kita harus membuka praktek disana.”

“Begitukah?” tanyaku.

“Ne.”

“Kibum, bagaimana tentang keadaan temanmu itu?” Tanya Hankyung hyung.

“Masih sama seperti kemarin, dongsaengnya masih juga belum ditemukan.” Ucapku lemah.

“Nugu?” Tanya Jungsu hyung.

“Temanku, dongsaengnya kabur dari rumah. Padahal dongsaenya itu sedang sakit kanker, tadinya aku mau mengenalkannya padamu. Tapi sayang, dia belum ditemukan sampai sekarang.” Jawabku lemah.

“Dongsaeng temanmu itu menderita kanker stadium berapa?”

“Stadium empat.”

“Sekarang, aku sedang merawat seseorang yang sedang menderita kanker di rumahku. Dia masih sangat muda, kasihan dia masih semuda itu harus menderita penyakit menyakitkan seperti itu. Aku bertemu dengannya di jalan, saat itu dia hampir saja tertabrak mobil. Tapi untung saja berhasil kuselamatkan.”

“Jeongmal? Kasihan sekali anak itu.” Ucapku dan Hankyung bersamaan.

“Ne, tapi sekarang keadaannya sudah semakin membaik. Aku yakin dapat menyembuhkannya, pada saatnya nanti dia di operasi aku ingin kalian membantuku. Bagaimana, kalian mau?”

“Ne, tentu saja kami akan membantumu.” Jawab Hankyung hyung antusias.

“Kalian bisa membantuku untuk mencarikan sumsum tulang belakang untuknya?”

“Kenapa tidak langsung ke keluarganya saja?” tanyaku bingung.

“Itu dia masalahnya, setiap aku menanyakan keluarganya dia selalu tidak mau menjawab. Mungkin dia mempunyai masalah dengan keluarganya, sehingga membuatnya kabur dari rumah.”

“Baiklah, kalau begitu besok kau bawa sample darah miliknya. Jadi dengan mudah kami bisa menemukan pendonor sumsum tulang belakang untuknya.”

“Ne.”

Selesai makan siang, Jungsu hyung langsung pulang karena harus memeriksa keadaan orang yang dirawatnya. Sementara aku dan hankyung hyung kembali ke pekerjaan kami.

TBC . . .

9 thoughts on “He’s Gone Part 2”

  1. waaa,,, jadi jungsu jadi dokter… hya.. smoga kyu bisa sembuh.. makin bagus ni..V, jgn sad end ya….

  2. siwon benar2 sayang ma kyu..
    kok di pikir2 kyu egois jga deh..
    mmang sih tujuannya ga mu ngerepotin hyung-nya..
    tapi dg dia kabur bukannya malah nambah beban buat hyung-nya?
    aish..tapi kok ge sakit qta mank cnderung ga mu nyusahin orang yg qta sayang..
    daebak banget ff-nya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s