The Way U Are

Author : Yuyu a.k.a Younji

Title : The Way U Are (Sequel of For you it’s separation, to me it’s waiting)

Genre : Romance

Type : Songfic

Cast : Lee Taemin, YOU

Support Cast : Lee Jinki, Choi Minho

Rating : PG 16 (for intense kiss and bad language)

The Way U Are

Taemin duduk menyendiri di dalam sebuah bar yang gegap gempita. Entah sudah gelas ke berapa yang ia minum, yang jelas ia masih belum ingin beranjak dan menghentikan kegiatannya sekarang. Ia tau betapa menyedihkannya ia saat ini. Seorang diri berpergian keluar negeri, berharap bahwa ia bisa melupakan yeoja yang telah meninggalkannya demi namja lain. Tapi yang dilakukannya sekarang tidak berbeda jauh ketika ia masih berada di Seoul—sama sekali tidak bernyawa. Hingga akhirnya ia tau ke mana pun ia melarikan diri, yeoja itu tidak akan pernah lari dari hati dan pikirannya. Setelah puas melarikan diri keliling dunia, Taemin memutuskan untuk kembali ke Korea dan melakukan sedikit perjalanan ke Busan.

Taemin mengeluarkan tawa sinis yang ia tujukan pada dirinya sendiri.

Menunggu…

Berapa lama ia sanggup untuk menunggu yeoja itu? Selamanya? Apakah dengan ia menunggu selamanya, yeoja itu akan melihat kesungguhan hatinya dan tersentuh lalu kembali berpaling padanya. Mungkinkah itu? Tentu tidak masalah jika memang itu yang terjadi. Namun, bagaimana jika seandainya meskipun ia telah menggunakan seluruh sisa waktunya, yeoja itu tak juga berpaling padanya? Sanggupkah ia menerima luka itu seorang diri?

I didn’t believe in love at first sight till the day we met
I didn’t realize how easy it was to change the way I feel
I used to foolishly bear with loneliness

Di sudut ruangan yang lain, kau tengah sibuk berjalan mondar-mandir dan melayani para tamu—mengantarkan minuman mereka. Kau sama sekali tidak menyadari kehadiran seorang namja berambut cokelat gelap yang datang hampir setiap hari ke bar tempatmu bekerja. Kau terlalu sibuk melayani para tamu dan tidak memperhatikan sekelilingmu, tidak juga mengingat siapa saja yang kau lihat setiap harinya karena itu memang tak perlu. Kau terbiasa hidup seorang diri, dan kau tidak bisa membiarkan orang lain hidup bersamamu, jadi apa gunanya kau mengingat orang-orang yang kau lihat?

“_______-ah, kemarilah sebentar..” Panggil Jinki, pemilik bar tempatmu bekerja—satu-satunya orang yang layak kau anggap ‘teman’.

Sudah pukul 2 pagi dan pengunjung sudah berangsur-angsur meninggalkan bar. Kau meletakkan nampan kayu yang kau pegang diatas meja bar dan berlari kecil ke arah Jinki.

“waeyo?” kau sedikit memiringkan kepalamu dan menatap Jinki dengan bingung.

“bisakah kau antar tamu kita untuk beristirahat di kamar lantai atas?” Jinki mengarahkan jari telunjuknya ke arah namja yang menelungkupkan kepalanya diatas meja hingga wajahnya tertutup oleh rambut cokelat gelap miliknya sendiri.

“tapi semua kamar diatas sudah penuh.” Balasmu cepat.

“kalau begitu, biarkan dia tidur di kamarmu sebentar.”

Kau mengernyit begitu mendengar jawaban Jinki—yang sekarang sudah beranjak pergi agar kau tidak bisa memprotesnya. Kau mendesah pelan, Jinki meminjamkan kamar kosong di lantai atas bar nya padamu agar kau tidak perlu luntang-lantung di jalanan. Jadi kau memang tidak bisa protes kalau dia memintamu membawa Taemin beristirahat di sana, karena secara teknis, kau hanya menumpang dan kamar itu masih tetap milik Jinki.

Dengan susah payah kau melingkarkan lengan Taemin di pundak rapuh milikmu, dan memapahnya menaiki tangga satu persatu. Butuh kerja keras untuk membawa Taemin yang sudah mabuk berat itu hingga mencapai satu lantai diatas. Kau merogoh saku celanamu—masih merangkul Taemin dengan erat—dan sedikit menghempaskan tubuh Taemin diatas single bed milikmu.

Taemin mendarat di tempat tidurnya dan bertumpu pada tubuh bagian depannya. Kau menggeram pelan, lalu mendekatinya dan memutar tubuh Taemin agar berbaring di punggungnya dan membuat ia lebih nyaman.

Kau terkesiap begitu Taemin telah berbaring mulus diatas punggungnya dan menarikmu jatuh diatas tubuh keras miliknya. Tangan besar Taemin memeluk pinggangmu dengan erat, tidak membiarkanmu lepas dari jangkauannya.


Let the impossible things pass by
Let memories slowly fade

Taemin menggumam pelan, sesuatu yang tidak bisa kau tangkap karena perhatianmu sepenuhnya tertuju pada wajahnya. Dari jarak sedekat ini, kau bisa melihat bulu matanya yang panjang dan lentik, tulang hidungnya yang tajam, bibir penuhnya yang terus bergerak-gerak pelan seiring dengan gumamannya, kulit putihnya yang halus—bahkan terlihat lebih baik dibandingkan kulitmu sendiri—, dan desah nafasnya yang hangat menyapu bibirmu. Kau merasakan sesuatu—yang seharusnya tidak akan pernah bisa kau rasakan. Kau sudah terlalu hancur untuk bisa merasakan perasaan semacam itu—jantungmu berdetak dengan sangat cepat. Wajahmu memanas dan rasanya seluruh tubuhmu menjadi lumpuh dalam dekapannya. Dan anehnya kau justru merasa hidup karena reaksi yang diberikan oleh tubuhmu sendiri—sesuatu yang bahkan tidak pernah kau bayangkan akan pernah terjadi dalam hidupmu.

Kau lahir di keluarga miskin yang penuh dengan kekerasan untuk dapat berjuang hidup—apapun dapat mereka tempuh. Melihat bagaimana orangtuamu bersama-sama atas nama cinta, tapi justru saling menyakiti satu sama lain membuatmu takut untuk merasakan cinta itu sendiri. Kau tak ingin disakiti lagi—oleh siapapun. Luka yang membekas di dirimu tak akan pernah memudar dan kau tak perlu bekas luka lainnya untuk memenuhi dirimu, itu terlalu menyakitkan.

Taemin membuka matanya perlahan-lahan dan kau bisa melihat bola matanya yang cokelat pekat—hampir sama dengan warna rambutnya—bergerak-gerak pelan dan mencari-cari sesuatu yang tidak kau ketahui melalui bola matamu. Sebuah senyum terbentuk dibibirnya, membuatku semakin membeku di posisimu. Kelopak mata Taemin kembali menutup turun, dan ia kembali ke alam mimpinya tanpa melepaskan dekapannya sama sekali.

I can only hold back the tears
And stand and wait in the illusions
The love hiding in your heart will definitely want to show itself

Sejak kejadian malam itu, tanpa kau sadari kau terus menerus mencari sosok Taemin ditengah kerumunan. Terkadang kau salah mengantar minuman atau malah tidak sengaja menumpahkan minuman pada pelanggan karena terlalu sibuk memikirkan Taemin.

“ada apa denganmu? Tidak biasanya kau seperti ini, _______-ah.” Jinki menegurmu di dalam ruangannya. Kau hanya bisa menundukkan kepala, terlalu malu untuk menghadapi Jinki. Jinki mendesah pelan, lalu mengelus puncak kepalamu dengan pelan.

“jangan berbuat kesalahan lagi, ara?” Jinki meninggalkanmu untuk menyendiri selama beberapa saat.

Kau keluar dari ruangan Jinki, menoleh ke meja tempat Taemin tidak sadarkan diri karena terlalu mabuk lebih dari seminggu yang lalu. Kau selalu berharap bisa melihatnya lagi jika menoleh ke meja itu. Tapi Taemin sama sekali tidak terlihat.

Kau tertawa kecil—menertawakan dirimu sendiri. Dunia ini tidak pernah seperti yang kau bayangkan. Takdir tidak pernah berpihak padamu dan lebih senang melihatmu menderita, jadi bagaimana mungkin takdir akan menuntunmu pada Taemin lagi?

Sesuatu yang lembab menetes di pipimu. Kau tersentak kaget setelah menyadari kau menangis hanya karena memikirkan ketidakmungkinan antara kau dan Taemin. Dengan cepat kau usap airmatamu menggunakan punggung tanganmu yang kini bergetar dan terasa dingin. Kau pernah bersumpah tidak akan pernah meneteskan setetes pun airmata, karena kau merasa telah cukup banyak menangis di masa lalu.

Tapi sekarang? Kau melanggar sumpahmu, kau menangis. Bahkan ketika dulu kau mengiris pergelangan tanganmu sendiri dan kehilangan banyak darah, kau tetap tegar dan tidak menangis. Jadi, bagaimana mungkin seorang namja bisa membuat duniamu jungkir balik seperti ini? Kau melanggar sumpahmu hanya demi seorang namja—yang bahkan nama dan suaranya saja tidak kau ketahui.

“kau terlalu lemah, _______-ah. Itulah sebabnya semua orang memandang rendah dirimu.” Bisikmu dengan sangat pelan dan kembali ke pekerjaanmu. Kali ini kau lebih fokus dan membuang jauh-jauh setiap bayangan Taemin muncul dibenakmu. Kau menyibukkan diri lebih dari yang seharusnya—karena dengan begitulah kau tidak perlu memikirkan Taemin. Jinki menggelengkan kepalanya dan berdecak pelan. Tadi kau sama sekali tidak fokus, tapi sekarang kau justru bekerja berlebihan. Ia tidak tau lagi bagaimana caranya untuk membuatmu bersikap ‘normal. Jinki tau segalanya tentangmu, tau tentang kehidupan masa lalumu dan berjanji akan menjaga dan merawatmu seperti yeodongsaengnya sendiri, jadi ia ingin sekali membantumu kali ini. Tapi kau bersikeras untuk menutup mulutmu dan tidak memberitaukan apapun padanya, terlalu malu dengan apa yang kau rasakan—sekali lagi kau merasa sangat tidak pantas untuk memiliki perasaan itu.

Kau mengelap meja yang baru saja ditinggalkan oleh pelanggan dan mendesah pelan lalu membalikkan tubuhmu dengan nampan berisi gelas minuman dengan di tangan kananmu. Tubuhmu sedikit bergoyang saat nampan ditanganmu menyenggol seorang namja di depanmu. Sebelum gelasnya sempat jatuh dan mengenai namja itu, dengan sigap kau menangkapnya meski beberapa tetes minuman itu sudah mengenai kemeja namja itu. Kau meletakkan nampan di meja terdekat yang bisa kau raih dan mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku seragammu dan membersihkan noda minumannya. Kau mengumpat dalam hati. Kesalahan yang dia buat hari ini sudah cukup banyak, jika pelanggan yang satu ini juga mengajukan komplainnya pada Jinki, ia pasti akan habis karena diomeli.

“jweongsohamnida, jweongsohamnida..” ucapmu berulang kali masih sibuk membersihkan nodanya. Namja itu memegangi tanganmu dengan lembut dan membuatmu tersentak. Bukan perasaan benci, muak atau lainnya, kau justru merasakan kehangatan yang diberikan namja itu. Kau mendongak dengan gerakan yang sangat pelan. Lagi, sekali lagi kau melihat bola mata berwarna cokelat pekat itu dihadapanmu.

“Nan gwaechana, gogjonghajima..” Ucap Taemin lembut dan tersenyum kecil. Kau semakin terpaku. Kali ini kau tidak hanya melihat kedua bola mata itu lagi, kau bahkan merasakan kehangatannya dan mendengar suaranya. Taemin balas menatapmu. Rasa penasaran dan bingung terbesit dibenaknya. Disaat hatinya terluka dan tidak bisa merasakan apapun lagi, kenapa ia justru merasa tenang setelah melihatmu?

“Taeminie~~ Bogoshipoyo~~” Minho berdiri beberapa meter dibelakangmu dan dengan cepat menghampiri Taemin. Ia sudah lama tidak bertemu dengan Taemin, setiap hari merasa khawatir apakah temannya ini akan baik-baik saja atau tidak, apakah temannya masih bertahan hidup atau tidak. Melihat Taemin dalam keadaan baik-baik saja membuat Minho menghembuskan nafas lega, ditambah lagi fakta bahwa ia melihat rona wajah Taemin mulai berubah, kembali berwarna—ataukah itu hanya ilusinya saja? Minho terlalu bersemangat untuk mendengarkan seluruh cerita Taemin, seluruh keluh kesahnya hingga tak menyadari kehadiranmu. Minho mendorongmu ke samping dengan agak kuat, kau bergeser ke samping tapi tidak bisa menjaga keseimbanganmu dan berdiri tak stabil di posisimu. Taemin menoleh dengan cepat dan melihatmu hampir saja terjatuh dan dengan sigap mengulurkan lengannya untuk menyanggah pinggangmu. Kau berhasil menstabilkan dirimu sendiri dengan bantuan Taemin, sementara Minho memeluk udara kosong di depannya karena saat ia ingin memeluk Taemin, tiba-tiba saja namja itu menghilang.

“Yaaah! Apa kau tidak lihat ada seorang Lady di sini, huh?” omel Taemin pada Minho yang justru menatapnya tidak percaya. Ia benar-benar tidak bisa melihatmu tadi, rasanya kau benar-benar transparan dan tentu saja ia merasa bersalah karena telah mendorongmu—meski pada akhirnya kau baik-baik saja karena Taemin. Tapi yang lebih membuatnya tidak percaya adalah fakta bahwa sekarang Taemin tidak lagi ‘mati rasa’. Ia sudah bisa merasakan sekelilingnya dan memberikan respon. Jangan tanyakan pada Minho bagaimana Taemin sebelumnya, ia bahkan tidak akan peduli jika ada orang yang akan bunuh diri dihadapannya. Minho tersenyum lebar, menyadari bahwa sekarang Taemin sudah sedikit pulih dari sakit hatinya. Taemin menaikkan sebelah alisnya dan menatap Minho seperti namja itu memiliki gangguan jiwa.

“Minho hyung?” Jinki membuyarkan kesunyian yang tadinya meliputi ketiga orang itu.

“oh! Jinki-ah!” Sapa Minho bersemangat, satu lagi temannya yang sudah lama tak ia jumpai. Minho memperkenalkan Taemin pada Jinki yang disambut baik oleh keduanya. Mata Jinki terarah pada tangan Taemin yang masih melingkar di pinggangmu, tetap menjaga kau berdiri disampingnya. Kalian berdua bahkan tidak akan menyadarinya jika bukan karena Jinki terus menatap ke arah tangan Taemin tanpa berkedip—karena dengan alasan yang entah apa itu, kalian merasa nyaman. Ketiga orang lainnya mengikuti pandagannya Jinki. Senyum diwajah Minho semakin melebar—dari telinga hingga ke telinga—sementara kalian berdua dengan canggung menjauh dari satu sama lain.

“________-ah, bawakan beberapa minuman ke ruanganku, otte?” Lagi-lagi Jinki membuyarkan keheningan yang meliputi kalian untuk ke dua kalinya. Kau mengangguk pelan dan dengan cepat meninggalkan ketiga orang namja itu. Kau menghampiri bartender dan memesan tiga minuman untuk Jinki dan tamunya. Sambil menunggu, kau menempelkan telapak tanganmu di permukaan pipimu yang memanas. Diam-diam, kau menyukai segala macam reaksi yang diberikan oleh tubuhmu sendiri setiap kali berada di dekat Taemin.

Beberapa menit kemudian, kau masuk ke ruangan Jinki untuk mengantarkan minuman yang sudah diselesaikan oleh bartender. Tawa ketika namja itu lenyap begitu kau masuk dan membuat suasana menjadi hening. Jinki kembali melanjutkan obrolannya, Minho menanggapi dengan bersemangat dan sesekali meminta respon Taemin yang hanya dijawab dengan ‘oh’ singkat karena ia terus memperhatikanmu yang sedang meletakkan minuman dihadapan mereka. Bola matanya Taemin terus mengikuti setiap pergerakanmu, sekecil apapun itu.

Saat kau hendak meninggalkan ruangan, Jinki memanggil namamu dan menghentikan langkahmu.

“_______-ah, bisakah kau bantu aku untuk mengecek laporan keuangan kita?” Tanya Jinki sambil menunjuk ke arah meja kerjanya yang berada di seberang ruangan. Kau terlihat ragu, kau memang sudah cukup sering membantu Jinki untuk membuat laporan keuangan. Tapi dengan adanya Taemin—berada diruangan yang sama—di dekatmu, kau tidak yakin apakah kau bisa melakukannya dengan baik atau tidak meski pada akhirnya kau mengangguk dan menyanggupi permintaan Jinki. Kau duduk di meja kerjanya, menghadap komputer dan mulai mengerjakan laporan yang diminta Jinki.

Sesekali kau melirik ke arah Taemin yang duduk menghadap ke arahmu dari seberang ruangan. Kau suka melihatnya tersenyum. Setiap kali kau mendengar suaranya, kau akan memfokuskan perhatianmu untuk mendengar suaranya, berharap kau akan mengingat suara itu untuk selamanya.

Kau mendongak dengan cepat saat mendengar Taemin tertawa, kau memang pernah melihatnya tersenyum tapi baru pertama kali mendengarnya tertawa dan lagi-lagi perasaan hangat mengaliri tubuhmu. Kau terlena dalam kesenanganmu sendiri, lupa untuk berhenti menatapnya. Suara tawa Taemin melemah, meninggalkan garis melengkuk di bibirnya dan Taemin juga mendongak untuk menatapmu. Kau menunduk, berpura-pura sibuk mengerjakan laporan yang ada di hadapanmu, padahal kau sendiri tidak bisa mengerti lagi arti angka-angka yang ada dihadapanmu karena panik Taemin memergokimu menatapnya. Kau terlalu takut untuk menatapnya lagi, takut kalau Taemin akan kembali memergokimu. Tapi setelah menit-menit berlalu dan kau hampir menyelesaikan laporanmu, ada dorongan kuat yang memaksamu untuk kembali menatap wajah Taemin. Setelah kau keluar dari ruangan ini, mungkin saja kau tidak akan pernah bisa melihatnya lagi. Mungkin saja takdir kembali mempermainkanmu, jadi selama kau masih bisa melihatnya, kau ingin terus menatapnya dan memahatnya tidak hanya di benakmu, tapi disetiap sel tubuhmu.

Kau kembali mendongak dengan segala keberanianmu, dan yang membuatmu terkejut adalah kau yang memergoki Taemin tengah menatapmu—bukan justru sebaliknya. Setelah beberapa detik saling pandang, Taemin yang pertama kali memalingkan wajahnya ke samping dan kembali mengobrol dengan Jinki. Semburat merah menyebar ditelinga Taemin dan tak luput dari perhatianmu.

Tatapanmu melembut, bolehkah sekali ini saja kau kembali masuk ke dalam dunia ilusimu? Bolehkah untuk kali pertama dan kali terakhirnya dalam hidupmu kau membayangkan bahwa namja itu juga memiliki perasaan yang sama denganmu? Kau memejamkan matamu, membayangkan kau dan Taemin saling berdampingan dan berpegangan tangan. Taemin tertawa padamu dan kau membalasnya dengan sebuah senyuman termanis. Semua pasang mata menatapmu dengan iri, melihatmu memiliki Taemin disisimu. Kau tersenyum kecil dan membuka matamu sendiri.

Sudah cukup, bagimu itu semua sudah cukup. Hanya dengan menghayalkan Taemin dan kau bersama saja kau sudah merasa puas.

I want to know about your hobbies, your thoughts,
The earrings on your ears, and even your weight.
Your scent, your every move,

“Hai…” Sapa Taemin saat kau baru saja keluar dari minimarket di dekat bar. Kau sedikit terlonjak, tidak menyangka bahwa Taemin akan pernah muncul lagi di hadapanmu dan terlebih lagi, menyapamu. Terakhir kali kau ingat, Taemin bahkan tidak mengucapkan salam padamu saat ia meninggalkan bar bersama Minho karena memang kau sudah kembali bersembunyi di kamarmu.

“Oh, hai..” sapamu dengan canggung. Kalian sama-sama berdiri mematung, tidak tau apa yang harus dikatakan ataupun dilakukan. Taemin menggaruk tenguknya dengan pelan karena merasa canggung dengan situasi saat ini. Seharusnya ia tidak menyapamu, seharusnya ia bahkan tidak perlu berdiri di depan bar dan melihatmu berjalan ke minimarket lalu menungguimu kembali keluar dan tanpa sadar menyapamu.

“kau mau ke kembali ke bar? Kebetulan aku juga ingin ke sana.” Ujar Taemin agak ragu.

“Hmmm.” Gumammu pelan dan mulai berjalan. Taemin menghembuskan nafas lega, setidaknya kau tidak mengusirnya dengan tegas. Taemin melirik tiga dua kantong belanjaan ditanganmu dan langsung mengambilnya darimu. Kau menoleh dan menatap Taemin dengan bingung. Taemin terus menatap lurus ke depan, berpura-pura tidak melihat tatapanmu.
”aku bisa membawanya sendiri…” Katamu sambil berusaha mengambil kembali kantong belanjaan dari tangan Taemin yang dengan cepat diselamatkan oleh Taemin.

“Tapi bukan sifatku jika harus membiarkan seorang yeoja membawa barang berat.” Taemin tersenyum kecil—yang sepertinya sudah kembali menjadi kebiasaannya akhir-akhir ini. Ia bahkan sudah jarang sekali menghela nafas, ia sendiri aneh dengan perubahannya yang sangat cepat. Kau tidak berbicara apapun lagi dan terus menatap jalanan kosong di depanmu. Taemin memiringkan kepalanya, merasa penasaran dengan apa yang kau pikirkan. Setiap hal dalam dirimu, membuat Taemin tidak bisa berhenti memikirkannya. Kau terlihat sangat tenang dalam duniamu sendiri, juga ia bisa melihat kau kesepian. Sama seperti dirinya sendiri. Mungkinkah kau juga telah melewati masa-masa sulit seperti dirinya? Taemin tidak bisa berhenti menduga-duga.

Tiba-tiba saja air huja menetes dengan deras membasahi hampir seluruh tubuh kalian. Taemin memindahkan kantong belanjaan menjadi satu ditangan kirinya dan tangannya yang lain menarik tanganmu dengan erat, menarikmu berlari sekencang-kencangnya menembus hujan yang turun tanpa pemberitahuan. Nafasmu dan Taemin sama-sama tersengal begitu kalian sampai di depan bar dan terlindungi dari air hujan. Kau meletakkan barang belanjaan di tempat semestinya dan pergi ke kamar Jinki untuk mencari baju ganti yang akan dipinjamkan pada Taemin. Kau mengambil kaos lengan panjang milik Jinki—setelah memberitaunya terlebih dahulu—dan membawanya kembali ke kamarmu di mana Taemin telah menunggu. Kau membuka pintu kamarmu dan melihat Taemin baru saja melepaskan kaosnya, mempertontonkan dada bidang dan tubuh atletisnya. Kau memalingkan wajahmu dengan cepat lalu menyodorkan baju milik Jinki pada Taemin. Taemin tertawa kecil melihat reaksimu, ia tidak menyangka kau juga bisa memberikan reaksi seperti itu. Ia semakin ingin tau, reaksi apalagi yang akan kau perlihatkan padanya.

“aku akan ada di bar kalau kau mencariku. Kau juga harus segera mengganti pakaianmu, sebelum kau jatuh sakit.” Taemin menyentuh puncak kepalamu dengan pelan setelah memakai pakaian yang kau pinjamkan. Tanpa berkata apapun lagi, Taemin meninggalkanmu sendirian di kamarmu agar kau bisa berganti pakaian. Taemin bersandar dibalik pintu. Ia menempelkan telapak tangannya di dadanya untuk merasakan detak jantungnya sendiri. Sejak kapan jantungnya bisa bereaksi seperti ini lagi? Rasanya sangat tidak masuk akal karena baru beberapa hari yang lalu ia masih memikirkan yeoja yang telah membuang hatinya. Tapi sekarang ia justru bisa merasakan kembali hati miliknya. Rasanya sungguh tidak masuk akal, tapi juga terasa sangat alami dan wajar. Bisakah ia merasakan hal yang bertolak belakang seperti itu disaat yang bersamaan? Yang jelas ia menikmatinya, ia suka dengan perasaan yang kau berikan untuknya, lebih dari itu, ia sangat mengharapkan apalagi yang bisa kau lakukan untuk membuat dirinya menjadi lebih tidak waras lagi.


I want to know everything about you
That’s how it is
It’s about the way you are

Kau mengganti pakaianmu yang basah dengan seragam kerjamu tanpa henti-hentinya bersenandung pelan dan menguncir rambutmu. Setelah bersiap untuk bekerja, kau mendengar suara ponselmu yang berdering nyaring diatas tempat tidur. Tanpa ada perasaan aneh apapun, kau menyambutnya dan langsung tertegun begitu tau siapa yang menelponmu. Kau mengangkatnya dengan ragu dan langsung terbelalak begitu mendengar suara dari seberang telpon. Suara yang kau benci, orang yang kau benci dan masa lalu yang kau benci sudah menjadi alasan mengapa kau tidak ingin lagi membenci hal-hal lain. Kau menggigiti bibir bawahmu dengan kuat hingga hampir berdarah, tapi rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakit yang diberikan oleh orang dari seberang telpon. Kau bisa saja mengabaikannya sejak awal, kau bisa saja tidak lagi mempedulikan hidup dan mati orang itu. Mereka sudah cukup memberikan bekas luka untukmu—tidak  hanya fisik tapi juga mental. Tapi kau memang terlalu bodoh untuk tidak menghiraukan mereka. Kau menyambar tasmu dan berlari turun dengan cepat setelah sambungan telpon terputus. Kau bahkan tak lagi meminta izin pada Jinki selaku bosmu, dan tidak juga bisa menyadari kehadiran Taemin yang memberikan sedikit cahaya pada lampu kehidupanmu yang nyaris mati. Taemin berlari dengan cepat, mengikuti dari belakang. Kau melewati barisan mobil dijalanan tanpa menunggu lampu untuk pejalan kaki berpijar, kau terlalu takut untuk berhenti berlari dan terlambat. Kau tidak ingin ada penyeselan lain dalam hidupmu. Kau bahkan tidak ingin kehilangan orang yang kau benci. Setelah jalan raya yang padat, kau berlari dengan lincah melewati satu lorong demi lorong lain seolah sudah hafal benar dengan lingkungan di sini. Kau berhenti dengan nafas terengah-engah. Kakimu terlalu lemas karena berlari cukup jauh tanpa berhenti dan beristirahat, tapi apa yang ada dihadapanmu membuatmu lebih lemas lagi. Seorang wanita paruh baya tengah duduk bertumpu pada lututnya, kedua tangannya merapat di depan dada dan tak henti-hentinya memohon pada beberapa namja yang ada dihadapannya. Kau meringis melihat pemandangan miris itu. Ke mana sosok wanita yang dengan tega menjualmu beberapa tahun yang lalu? Ke mana sosok seorang Ibu yang dengan cueknya membiarkanmu menerima pukulan demi pukulan yang dilontarkan oleh Ayahmu setiap kali ia kalah berjudi dan mabuk. Di mana sosok seorang Ibu yang bengis yang menyuruhmu untuk memberikan setiap sen uang yang kau miliki pada laki-laki yang juga mengalir darah yang sama denganmu yang kau panggil kakak? Ke mana sosok yang kau benci itu? Kau hanya bisa melihat seorang wanita rapuh yang berusaha untuk melindungi dirinya sendiri dan kedua makhluk yang kau benci. Seorang namja bertubuh kekar mengangkat tangannya, bersiap melayangkan tinju ke arah Ibumu. Tanpa berpikir panjang, kau menghambur menengahi Ibumu dan pria kekar itu. Dengan mantap kau merentangkan kedua lenganmu, melindungi Ibumu. Pria kekar itu melayangkan tangannya ke pipimu, membuatmu memalingkan wajahmu karena kekuatannya. Kau bisa merasakan nyeri di sudut bibirmu, darah segar sedikit menetes dari bibirmu dan pipimu terasa memanas bahkan setelah beberapa menit rasa sakit itu tak juga hilang. Namja kekar—yang kau yakini adalah rentenir—itu kembali mengangkat tangannya, bermaksud untuk kembali memukulmu. Kau tau tidak ada yang bisa kau lakukan. Kau memejamkan matamu pasrah dengan pukulan lain yang akan kau terima tapi tak kunjung juga kau rasakan. Dengan penasaran kau mendongak, melihat Taemin berdiri dihadapanmu, memegang pergelangan tangan rentenir itu agar tak memukulmu. Taemin menghempaskan tangan rentenir itu dengan kasar, merogoh sesuatu dari saku bagian belakang celananya. Taemin mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar cek pada rentenir itu. Mereka mengecek nominal yang Taemin berikan lalu mengangguk dan meninggalkan tempat itu tanpa membuat keributan lainnya. Taemin membalikkan tubuhnya dan menatapmu, melihat bercak merah di pipimu membuat hatinya perih.

“puas dengan apa yang telah kau lakukan?” Tanyamu sinis pada Ibumu yang masih tak bergerak dari posisinya.

“KAU TELAH MENJUALKU DEMI BAJINGAN ITU DAN SEKARANG AKU MASIH HARUS MENGORBANKAN DIRIKU UNTUK KELUARGA YANG BAHKAN MENGANGGAPKU SEBAGAI SAMPAH??” teriakmu histeris. Suara isakan meluncur dari mulutmu, kau menangis dengan keras, tidak peduli lagi meski orang-orang disekitar rumahmu akan mendengarnya, atau bahkan Taemin akan merasa jijik pada dirimu. Kau sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi atau kau akan semakin hancur.
”APAKAH KALIAN TIDAK PUAS HANYA DENGAN MENGHANCURKANKU? APAKAH KALIAN JUGA HARUS MEMUSNAHKANKU AGAR KALIAN BERHENTI BERSIKAP SEPERTI ORANG BRENGSEK? Aku sudah tidak ada hubungannya dengan keluarga ini sejak kalian memutuskan untuk menjualku. Aku bukan lagi seorang Park, jadi kenapa kalian masih mencariku saat kalian hampir mati? Apa kalian pikir aku akan peduli?? Kalian bahkan tidak mempedulikanku meski aku telah mati berkali-kali.” Suara teriakanmu tergantikan dengan isakan yang semakin melemah. Kau menempelkan punggung tanganmu untuk menahan suara isakan yang semakin lama semakin keras. Ibumu memalingkan wajahnya. Tidak ingin—dan tidak bisa—menatapmu. Apa yang kau katakan padanya semua benar, maka ia tidak bisa memungkirinya. Tapi, dia adalah Ibumu—orang yang melahirkanmu. Sama seperti kau yang tidak bisa membuangnya dari kehidupanmu begitu saja meski dia telah menghancurkanmu berkeping-keping, ia juga tak bisa melihatmu terluka lebih dalam lagi meski ia telah melukaimu hingga tak ada yang tersisa lagi untuk dilukai.

Taemin menatapmu dengan ekspresi yang tidak bisa kau mengerti. Kau terlalu takut untuk menatapnya, takut untuk melihat sorot kebencian dari bola matanya yang kau sukai.

Tapi Taemin tidak merasakan hal seperti itu. Ia merasa hal yang kau lakukan dan katakan sangatlah normal. Kau terluka, jadi wajar jika kau juga ingin melukai orang lain yang telah melukaimu. Jauh dari rasa benci ataupun jijik dan meremehkan, Taemin justru menggagumi bagaimana kau masih bisa menyayangi orang yang telah melukaimu meski dimulut kau mengatakan kau tidak mempedulikannya. Jika kau tidak mempedulikan Ibumu, tak akan mungkin kau berlari sangat kencang seperti tadi.

Orang lain yang tidak sungguh-sungguh mengenalmu—meski Taemin pun belum sungguh-sungguh mengenalmu—akan merasa iba padamu, lalu perasaan iba itu berubah menjadi simpati dan rasa takut untuk berada di sekitarmu, takut masa lalumu yang gelap akan menjadi bumerang dalam masa depanmu kelak dan mereka tidak ingin berada di masa depan yang sama denganmu. Taemin justru sama sekali bertentangan dengan orang-orang yang akan berpikiran seperti itu. Inilah kehidupanmu, inilah dirimu yang sebenarnya. Kau tanpa masa lalu yang gelap tidak akan menjadi ________, tapi kau dengan masa lalu mu lah yang menjadikan kau seperti sekarang. Taemin hanya menyukainya, menyukai segala hal yang berhubungan denganmu—baik ataupun buruk, because it’s the way you are.


When people are lonely,
They talk about how loneliness will let the days you miss pass by.

Kau duduk menekuk lutut di pinggiran sungai Hankang. Airmatamu sudah lama mengering, tapi luka itu kembali muncul di permukaan dan tak kunjung tenggelam membuatmu merasa sangat sulit untuk bernafas. Tak ada satupun kata yang mampu kau ucapkan setelah meninggalkan rumah (mantan) orangtuamu. Kau bahkan tak menggubris Taemin yang terus berjalan menjaga jarak beberapa langkah di belakangmu. Kau tak lagi memperhatikan wajahmu yang kacau dan rambutmu yang berantakan. Dan sekarang, setelah kau ke sungai Hankang untuk menenangkan dirimu, sosok Taemin tak lagi terlihat. Kau membenamkan wajahmu diatas lutut, berharap airmatamu tak lagi tumpah. Kau bisa mengerti jika sekarang Taemin merasa takut untuk berada di dekatmu, cepat atau lambat, Taemin memang akan menghilang dari hidupmu. Kau tau dengan jelas, takdir tak akan pernah berpihak padamu, kecuali kesialan. Sesuatu yang basah dan dingin menyentuh pipimu, kau mengangkat wajahmu hanya untuk melihat sosok Taemin yang menjulang tinggi menghalangi cahaya matahari. Taemin duduk disampingmu, meletakkan beberapa barang diatas rumput di sampingmu. Taemin mengeluarkan sekantung batu es dan mengusapkannya ke pipimu yang masih memerah. Rasa sakit itu masih membekas disana, kau sedikit memundurkan wajahmu saat kantung batu es itu membuat rasa perihnya kembali terasa, tapi dengan cepat Taemin memegangi dagumu dengan lembut. Mata Taemin terus terfokus pada memar di pipimu, merasa tak tega jika kulit putih milikmu harus memiliki memar itu. Setelah beberapa menit mengusapkan kantung es dan rasa nyerimu sudah mulai berkurang, Taemin mengambil barang lain yang ia letakkan diatas rumput.

Taemin mengambil kapas dan membersihkan bekas darah yang telah mengering disudut bibirmu, mengusapnya dengan pelan agar kau tidak merasakan sakit lalu menempelkan plester padamu.

“Sayang sekali kalau lecet..” Gumam Taemin sambil mengelus ujung bibirmu dan sedikit menyentuh bibir bawahmu.

“Mau?” Taemin menyodorkan sekaleng kopi dingin yang kau terima dengan ragu. Tak mengerti apa yang sebenarnya sedang Taemin lakukan. Bukankah seharusnya ia menjauh darimu? Kehidupanmu yang rumit hanya akan membawa kesialan lainnya bagi orang lain. Kau menatap minuman kalengmu tanpa berniat meminumnya, hanya memutar-mutar kaleng itu di tanganmu. Taemin mengambil minuman kalengmu, lalu kembali menyodorkan kopi dingin miliknya yang telah ia buka untukmu.

“apa kau sedang mengasihaniku?” akhirnya kau bertanya pada Taemin karena tidak suka dengan keheningan yang terasa bisa membunuhmu kapan saja.
”Apa kau merasa kesepian? Aku mengerti apa yang kau rasakan. Meski masalah yang kita alami berbeda, aku juga pernah mengalami hari-hari berat sepertimu.” Taemin tertawa kecil dan meneguk minumannya. “Aku pernah merasa ‘mati’ selama beberapa waktu. Aku merasa hanya ada aku seorang diri, meski sesungguhnya banyak orang-orang yang terus lalu lalang dalam hidupku. Tapi aku sudah bangkit sekarang, karena aku tau akan selalu ada orang yang kembali menerangi kehidupanmu. Aku, memiliki Choi Minho, sahabat yang selalu ada saat aku terpuruk. Dialah satu-satunya cahaya yang menuntunku keluar dari kegelapan. Dan sekarang, kurasa ada satu orang lain yang juga menjadi cahaya untukku.” Taemin menghentikan kata-katanya dan menoleh ke arahmu, pandangannya melembut dan ia tersenyum tulus padamu.
”Kau pun, pasti akan menemukan dua orang seperti itu. Jinki, adalah keluarga yang selalu menuntunmu, dan suatu saat nanti—entah kapan—kau akan menemukan cahayamu sendiri dan keluar dari kegelapan.” Lanjut Taemin.

Aku sudah menemukannya, orang itu adalah kau, Lee Taemin, batinmu tanpa ada keberanian untuk mengatakannya pada namja yang ada dihadapanmu.

“Terima kasih karena telah membayar rentenir itu. Aku akan mengembalikannya padamu.” Kau mencoba mengalihkan pembicaraan karena tak ingin terus-terusan memikirkan hal itu.

“tidak perlu, aku tulus untuk membantumu.” Yah, baginya uang yang ia keluarkan tidaklah seberapa.

“aku pasti akan mengembalikannya, aku hanya butuh waktu.”

Waktu …

Taemin tidak lagi membantah kata-katamu, bukan karena ia menginginkan uangnya kembali. Yang diinginkannya adalah waktumu. Ia akan dengan senang hati selalu muncul disekitarmu, hingga waktu yang kau sebut habis.

Even now, I won’t worry
About if it’s still possible to erase you from my memories.

Bar sudah tutup dan kau menyembunyikan diri di kamarmu. Kau mengeluarkan seluruh uang tabungan yang kau miliki dan menghitungnya. Jelas masih banyak kekurangan untuk membayarkan hutangnya pada Taemin. Bahkan dengan gajinya selama satu tahun ditambah dengan tip yang diberikan pelanggan pun belum tentu ia bisa mengembalikan semuanya pada Taemin.

Suara ketukan pintu membuatmu terkesiap. Kau menyimpan kembali uangmu dan membuka pintu, melihat Jinki tengah memapah Taemin yang sepertinya terlihat mabuk. Kau mengernyit, sudah selama beberapa minggu kau tak lagi melihat Taemin mabuk hingga seperti saat ini, ia bahkan nyaris tak pernah memesan alkohol dan hanya sekedar mengobrol bersama Jinki ataupun Minho yang sesekali ia ajak untuk datang.

“________-ah, bisa kau biarkan dia istirahat di sini? Tidak ada kamar lagi, semuanya sudah penuh.

“Oh, gwaenchana oppa.” Jinki memindahkan lengan Taemin ke pundakmu dan membiarkan kau mengurus sisanya sementara ia kembali turun ke bar. Kau membiarkan Taemin bersandar di lemarimu, sementara kau duduk dengan diam di sampingnya. Taemin merebahkan kepalanya di pundakmu dan membuka matanya perlahan, kau masih duduk diam di sampingnya. Deru nafas Taemin terus menggelitik lehermu, tapi kau tak peduli. Taemin tertawa, bukan tawa yang biasa kau dengar dan sukai, tapi tawa sinis yang membuatmu—entah mengapat—merasa tersayat.

“kupikir keajaiban telah terjadi. Setelah sekian lama aku menunggu, akhirnya tadi pagi aku melihat namanya di layar ponselku. Aku bisa mendengar suaranya lagi setelah sekian lama. Sungguh, kupikir keajaiban telah terjadi. Tapi …” Taemin menggantungkan kalimatnya dan lagi-lagi tertawa sinis.

“Tapi dia justru bilang ia akan menikah besok. Menikah dengan namja yang sangat ia cintai dan berharap aku datang dan merestuinya di Seoul. Apa yang harus kulakukan? Melihat yeoja yang kutunggu-tunggu justru menikah dan menjadi milik namja lain tepat di depan mataku sendiri?”

kau sedikit memalingkan wajahmu, akhirnya kau mengerti kenapa selama ini Taemin terlihat rapuh. Karena cintanya pada seseorang yang tak terbalaskan. Yah, cinta selalu bisa membuatmu menjadi rapuh dan hancur berkeping-keping. Airmata Taemin menetes diatas bajumu, menembus masuk menyentuh pundakmu dan kau bisa merasakan betapa dinginnya airmata Taemin.

Kau mengerti sekarang. Warna cokelat pekat yang sangat kau sukai dan selalu berhasil membuatmu seakan-akan terhipnotis setiap kali kalian saling bertatapan selalu terlihat lembut tapi juga terluka. Bibirnya yang melengkuk membentuk senyum yang selalu membuatmu tak tahan tapi untuk ikut tersenyum terlihat menawan tapi juga terasa sedih. Itulah alasannya—yeoja itu. Yeoja yang akan menjadi istri orang lain sebentar lagi.

“kau harus istirahat sekarang..” ucapmu lirih dan bangkit dari dudukmu. Taemin menarik tanganmu dan dengan lembut ia mendorongmu hingga terbaring sementara ia berada diatasmu. Pahanya mengapit tubuhmu dengan erat agar kau tidak melarikan diri dan ia menahan kedua tanganmu diatas kepala. Taemin terus menatapmu, tidak berkedip sedetikpun—entah apa yang ada dipikirannya saat ini.

“kenapa kau pergi? Jangan tinggalkan aku, tetaplah berada di sisiku.” Ujar Taemin dengan suara serak. Kau tau kata-kata itu bukan untukmu, tapi tetap saja kau merasa tersentuh mendengarnya terucap dari bibir Taemin.

Taemin mendekatkan wajahnya padamu dan langsung melumat bibirmu dengan lembut. Kau terbelalak, tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Taemin dan tidak tau harus berbuat apa selain diam terpaku.

Taemin melumat bibirmu dengan agak kasar kali ini, memaksamu untuk memberikan balasan. Lidahnya menyentuh permukaan bibirmu, mengusapnya dengan lembut, membuatmu tak berdaya dan sedikit membuka mulutmu. Taemin menggigit bibirmu dengan pelan, membuat kau membuka mulutmu semakin lebar dan memudahkan Taemin untuk menyelipkan lidahnya ke dalam rongga mulutmu. Cairan hangat dari mulut Taemin ikut masuk ke dalam mulutmu bersamaan dengan lidahnya, kau masih tidak tau apa yang harus kau lakukan kecuali menikmati setiap kehangatan yang diberikan Taemin ke dalam mulutmu. Taemin menjelajahi setiap rongga mulutmu dan menggoda lidahmu untuk merespon.

“hhmmm..” tanpa kau sadari kau mendesah di dalam mulut Taemin, membuat Taemin semakin menggoda lidahmu untuk bermain. Kau menyerah, kau mengerakkan lidahmu dan beradu dengan lidah Taemin. Tangan Taemin dipergelangan tanganmu perlahan-lahan melemah dan membiarkan tanganmu terbebas. Kau menjulurkan lenganmu, memeluk leher Taemin dan memainkan rambut cokelatnya. Taemin mengusap pipimu menggunakan ibu jarinya sementara tangannya yang lain mengusap lenganmu yang masih bermain di rambut Taemin. Lidah kalian berebut untuk menguasai satu sama lain, baik kau maupun Taemin sama-sama tidak ingin mengakhiri kenikmatan itu, tapi kalian butuh oksigen karena sekarang kalian mulai kehabisan nafas. Kalian menghentikan perang lidah kalian dan Taemin sedikit mengangkat kepalanya menjauh darimu dengan mulut yang masih terbuka. Air liur kalian masih saling menyatu, menjadi satu-satu penghubung kalian saat ini. Kau menutup mulutmu perlahan dan mulai menghirup oksigen lebih banyak lagi. Taemin menjulurkan lidahnya dan mengusap permukaan bibirmu yang basah dan berbisik ‘saranghae’ di telingamu sebelum ia kehilangan kesadarannya dan tertidur di sampingmu.

Kau menghela nafas berat. Kata-kata itu bukan untukmu. Kau tau untuk siapa sebenarnya kata-kata itu ditujukan, dan kau tau siapa yang ia bayangkan ketika ia menciummu. Tetap saja kau tidak bisa membencinya.

Mulai detik ini, kau tidak akan menerima dengan tulus perasaan yang kau rasakan padanya. Kau bersedia menjadi siapa saja yang ia inginkan asalkan ia bahagia. Kau tidak akan bersikeras menghapus dia dari hidupmu, justru akan membiarkan dia terus ada hingga suatu saat nanti ketika kau membongkar lemari kenanganmu, dia akan muncul dan abadi di sana.


I can only hold back the tears
And stand and wait in the illusions

Kau terbangun setelah mendengar suara berisik dari luar kamar. Para tamu yang mabuk berat dan menginap di bar sekarang sudah terbangun dan kembali ke kehidupan mereka. Kau menoleh ke samping dan melihat tempat kosong. Kau tidak merasa heran sama sekali. Kau justru akan merasa heran jika kau terbangun dan Taemin masih tidur di sampingmu. Hari ini, yeoja yang ia cintai akan menikah. Apakah Taemin kembali ke Seoul dan merestui yeoja itu? Atau justru ia akan memperjuangkan cintanya pada yeoja itu dan mengacaukan pernikahan yeoja itu? Kau tak tau apa yang akan dilakukan Taemin. Tapi yang pasti, apapun yang Taemin lakukan, ia telah kembali ke rumahnya, dan ia akan melupakanmu. Liburan telah usai, sudah saatnya bagi Taemin untuk bangun dari mimpinya dan menghadapi masa depan

“________-ah, bisakah kau.. OMO! Kenapa kau menangis?” Seru Jinki yang langsung menghambur masuk ke kamarmu dan memelukmu, membiarkan kau menangis dalam dekapannya dan merasa aman.

“Aku.. akan selalu ada.. disaat dia membutuhkanku…” Ucapmu tersendat-sendat karena isakanmu. Jinki mengelus kepalamu, kau memang tidak mengatakannya secara langsung, tapi apa gunanya Jinki menganggapmu sebagai yeodongsaengnya sendiri jika ia tidak bisa tau bahwa kau telah jatuh cinta pada Lee Taemin?


This love in your heart,
Does it still wish to express itself

Seperti hari-hari biasanya, kau melayani tamu di bar milik Jinki yang sangat ramai. Seperti tidak ada yang berubah, seperti 4 bulan yang lalu kau tidak pernah bertemu dengan Taemin, seperti 2 bulan yang lalu kalian tak pernah berciuman dan keesokannya ia kembali ke Seoul. Hidupmu kembali seperti dulu, datar dan hampa. Hanya satu yang berubah, senyum diwajahmu yang terliha tulus dan hangat. Kau belajar untuk mencintai dirimu sendiri karena kau tau tidak akan ada orang yang bisa melakukannya lebih baik lagi dari pada dirimu sendiri.

Kau mengelap meja yang baru saja ditinggalkan pelanggan. Seseorang menepuk pundakmu dari belakang.

“ne, jamkanman-yo.” Ucapmu tanpa berpaling dan masih sibuk membersihkan meja. Orang itu menepukmu lagi dan kali ini kau berpaling dengan kesal karena orang itu tidak mengerti apa yang dimaksud dengan bersabar dan menunggu.

“hai…” ucap orang itu begitu kau berbalik. Lidahmu kelu, rasanya seperti mimpi melihat Taemin kembali berdiri di depanmu. Berbagai pertanyaan muncul dibenakmu. Kenapa ia baru kembali sekarang? Apakah ia ingin memberikan kabar baik—yang pasti akan menjadi kabar buruk untuku? Kepergiannya selama dua bulan dari hidupmu sudah berhasil menghancurkan kepercayaan diri yang kau bangun dalam waktu singkat atas bantuannya. Kau terlalu takut akan terluka lagi. Kau memalingkan wajahmu, tidak ingin menatap bola matanya yang masih mampu menghipnotismu. Kau berjalan melewatinya tanpa sepatah katapun. Taemin menahan pergelangan tanganmu dan memelukmu dari belakang. Kau terkesiap, membuat Taemin tertawa kecil. Taemin mendunduk, membiarkan bibirnya menyentuh permukaan lehermu.

“Bogoshipo, neomu neomu bogoshipo.” Bisik Taemin pelan hingga kau nyaris tak percaya telah mendengar kata-kata itu darinya.

“aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan..” ucapmu sedatar mungkin. Taemin menangkap getaran di suaramu. Ia tau kau menyembunyikan perasaanmu lagi agar dia tak bisa menjangkaunya dan kembali mencabik-cabik hatimu. Tapi kau salah. Taemin mencarinya karena ia ingin melindunginya, bukan justru mencabiknya.

“kita harus bicara, _______-ah.” Taemin menarik tanganmu sementara kau terus bersikeras tidak ingin mengikutinya.

“sirheoyo!” pekikmu dengan lantang.

Don’t say you don’t like it,
That the feeling it gives you is plain
You can no longer avoid it

Taemin membopongmu karena kau masih bersikeras tak ingin bicara dengannya. Semua pasang mata menatap kalian dengan berbagai macam makna—ada yang takjub, ada yang heran dan merasa aneh.

“Jinki-ah, aku pinjam ruanganmu.” Ucap Taemin begitu melewati Jinki—yang membalas dengan anggukan—di balik meja bartender.

Taemin masuk ke dalam ruangan Jinki—dan tidak lupa untuk mengunci pintu agar tidak ada orang yang bisa mengganggunya. Kau masih dengan keras kepalanya meronta dalam gendongan Taemin, tapi itu sama sekali tak berarti apa-apa bagi namja yang memiliki kekuatan lebih darimu. Taemin menghempaskanmu diatas sofa dengan agak kasar. Kau mencoba untuk berdiri tepat setelah kau mendarat dengan mulus diatas sofa, tapi Taemin tidak membuang-buang waktunya dan menghentakkan tangannya dipinggiran sofa disamping kepalamu—memerangkapmu dengan tubuhnya.

“apa kau marah padaku?” Tanya Taemin dengan tatapan yang melembut. Kau memalingkan wajahmu dengan gugup. Taemin kembali membuatmu berdebar dengan cepat.

“look at me…” pintanya dan memegangi dagumu, memutar wajahmu kembali menghadap Taemin.

“I miss you… so much. Do you miss me as well?” Taemin berbisik di bibirmu—yang nyaris bersentuhan.  Kau kesulitan menelan air liur mu. Jarak sedekat ini dengan Taemin mengingatkanmu pada malam itu, ketika kalian berciuman dengan panas.

“Ani..” kata-kata yang keluar dari mulutmu nyaris terdengar seperti bisikan.

“gotjimal…” Taemin kembali berbisik dengan suara seraknya. Taemin menempelkan bibirnya padamu, kembali melumat bibirmu dengan lembut. Ia merindukanmu, sangat merindukanmu dan ingin merasakan bibirmu padanya lagi.

“he..hentikan..” kau berusaha mengucapkan kata-kata itu disela-sela ciumannya. Kau merasa cukup bodoh untuk menyuruh Taemin berhenti padahal kau menikmatinya juga.

Kau bisa merasakan Taemin menyeringai pelan di bibirmu. Taemin melepaskan ciumannya dan berbisik manja ditelingamu.

“kau tidak seperti ini malam itu, kau menikmatinya dan bahkan mendesah untukku.”

Kau membelalakkan matamu, tidak menyangka Taemin cukup sadar untuk mengingat kejadian malam itu.

“Ba.. bagaimana bisa..” kau tak mampu menyelesaikan kata-katanya karena Taemin kembali menyapukan bibirnya diatas bibirmu selama beberapa detik dan kembali mengakhirinya.

“aku cukup sadar waktu itu, untuk mengingat apa yang telah kulakukan. Dan apa yang telah kukatakan. Bukankah aku sudah memintamu untuk tetap disisiku?”

Taemin tidak pernah gagal untuk membuatmu terperangah. Jadi, kata-katanya malam itu adalah untukmu, ________? Bukan yeoja yang selama ini ia tunggu?

“ne, kata-kata itu hanya untukmu, _________-ah.” Seolah bisa membaca pikiranmu, Taemin mengatakan jawaban yang kau ingingkan.

Kau melingkarkan tanganmu di leher Taemin, ia balas memelukmu dengan erat.

“kupikir kau tidak akan kembali lagi. Kupikir akhirnya kau dan yeoja itu bersama lagi…” Kau terisak dipundak kokohnya yang memberikan rasa aman untukmu.

“Mian, jeongmal mianhae…” Taemin mengelus kepalamu dengan lembut, “ada beberapa hal yang harus kuurus untuk masa depanku—juga masa depan kita, jadi aku agak kesulitan untuk kembali ke Busan dan menemuimu.”

Selama beberapa pulut menit, kau dan Taemin tidak bergerak sama sekali, masih saling memeluk satu sama lain. Tidak ada ungkapan cinta, tidak ada janji-janji. Hanya ada kalian berdua. Kalian tidak membutuhkan kata-kata untuk menyampaikan isi hati kalian, semuanya sudah tersampaikan begitu saja.

Taemin melepaskan pelukannya dan menatapmu.

“aku memiliki satu permintaan.” Ucap Taemin membuatmu penasaran. Kau mengernyit, tidak tau apa yang Taemin inginkan.

“Ucapkan namaku, aku ingin mendengar kau menyebut namaku, ________-ah.” Pinta Taemin dengan manja. Kau tertawa kecil.

“Taemin-ah…” ucapmu dengan lembut. Taemin tersenyum lebar, senang akhirnya ia bisa mendengar kau menyebutkan namanya.

Taemin kembali menempelkan bibirnya padamu, kembali melumatnya dengan agak ganas dan memainkan lidahnya. Tanpa sedikit keraguanpun, kau membalasnya.

Mulai saat ini, setiap detik yang ia lalui bersamamu akan ia hargai sebaik mungkin. Tidak ada rasa takut dalam dirinya bahwa suatu saat nanti kau akan meninggalkannya, bahwa kau akan menyakiti. Karena ia yakin dan percaya padamu, it’s about the way you are…

THE END

10 thoughts on “The Way U Are”

  1. KEREN! KEREN! KEREN! UWAW! KEREN! *heboh*.
    Pokoknya keren banget FFnya~! Menyentuh!! *apus air mata*(?)
    Bikin sequelnya dong, authoor~~ *puppy eyes* *PLAK *ngelunjak*
    Pokoknya keren banget~! Aku cenat cenut bacanya!(?).
    Author HWAITING~!!! >_<

  2. AIGO………OMO..OMO..OMO..!!!
    Aku baca sampe nahan nafas, tegang, plus penasaran…(^_^)
    jariku aja masih kaku mo ngetik komen bt FF ini….
    DAEBAK…!!!

  3. wah, judulnya suka bgt nih, kyk judul lagu kesukaanku..
    sekuelnya “For you it’s separation, to me it’s waiting” pula..
    yaahh, thornim DAEBAK! ^^d
    blom baca sih, jd ntar y komen ttg ffnya..
    pasti bagus nih, g diragukan!
    hwaiting thornim🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s