Love Still Goes On (Part 2)

AUTHOR : Yuyu

CAST :

  • Choi Minho (SHINee)
  • Jung Jihye (Ocs)
  • Lee Jinki (SHINee)
  • Han Yoomin (Ocs)
  • Lee Taemin (SHINee)
  • Kim Jonghyun (SHINee)
  • Kim Keybum (SHINee)
  • Jung Yunho (DBSK)
  • Kim Jaejoong (DBSK)
  • Ho Junyeon (Ulzzang)

GENRE : Romance

TYPE/LENGTH : Sekuel

RATING : PG-16

Love Still Goes On (Part 2)

Jung Yunho atau yang lebih dikenal dengan nama panggung U-Know meremas pinggiran koran yang ia baca. Ia membaca sebuah artikel dengan seksama, tidak ingin meninggalkan detil sekecil apapun dan membuat kesalahan. Rahangnya mengatup keras dan ia tidak mempedulikan para membernya yang asyik melempar-lempar handuk sehabis latihan.

“Yunho hyung, gwaenchana?” maknae DBSK menyadari gelagat aneh dari appa mereka yang biasanya akan mengomeli mereka.

Yoochun, Junsu dan Jaejoong menghentikan kegiatan mereka. Dengan satu kali gerakan yang sama mereka menatap Yunho dalam diam. Yunho membanting koran ke atas meja begitu ia selesai membacanya. Lagi-lagi member DBSK terlonjak kaget. Yunho berdiri dari sofa dan berjalan keluar ruangan dengan langkah lebar dan kedua tangan terkepal. Member DBSK berlari untuk mengejar Yunho, berusaha mencegah leader mereka—dari apapun yang ingin ia lakukan. Membuat seorang Jung Yunho marah memang selalu mengerikan meski kalian telah mengenalnya selama 8 tahun.

Masih tidak mengerti apa yang terjadi pada Yunho, mereka berempat berjalan mendampingi Yunho dengan siaga—untuk mencegah Yunho memukul siapapun. Yunho berhenti di depan sebuah ruang latihan yang bertuliskan SHINee di pintunya. Jaejoong dan Changmin saling pandang tapi masih belum mengerti apa yang terjadi.

“apa? Apa? Ada apa?” suara berisik dari dalam ruang latihan menyeruak keluar begitu Yunho membuka pintu bahkan tanpa mengetuknya lebih dulu.

“omo! Aku lupa kalau aku juga memotret saat Jihye noona dan Minho melakukan tantangan dari Jonghyun hyung.” Suara Key yang membelakangi DBSK terdengar samar-samar.
Jauh dari keempat member SHINee, Minho mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Yunho semakin mendekati mereka. Member SHINee yang menyadari kehadiran sunbae mereka segera mengucapkan salam. Minho mendekat dan ikut membungkuk pada DBSK.

“annyeonghaseyo, sunbaenim.” Sapa Minho. Yunho menatapnya lekat-lekat.

“bisa bicara diluar?” tanya Yunho tanpa basa-basi. Minho hanya mengangguk dan Yunho langsung melenggang keluar yang diikuti DBSK yang sempat menggelengkan kepala dan memberikan tatapan simpati. Minho menoleh ke belakang dan Onew hanya mengangkat pundaknya tanda tidak mengerti apa yang terjadi.

Dengan sedikit berlari Minho keluar dari ruang latihan dan menghadap Yunho.

“waeyo, Yunho sunbae?”
”apa kau kenal Jung Jihye?” Yunho masih saja menatap Minho dengan sengit.

“Jung Jihye? Aku mengenalnya.” Jawab Minho tidak lagi bertanya karena sejak tadi Yunho sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.

“ceritakan padaku, bagaimana kau bisa mengenalnya? Berapa lama? Dan mengenai foto yang ada di koran, apakah itu benar?”
Minho hanya bisa menggaruk bagian kepalanya yang tidak gatal karena Yunho bertanya sangat banyak dan sebenarnya ia merasa tidak nyaman untuk menjawab. Ia tidak mengerti apa pentingnya semua itu bagi Yunho? Dan kenapa pula ia harus memberitaukannya? Tapi bagaimanapun DBSK adalah senior mereka, mungkin Yunho takut gosip ini akan meluas dan memperburuk citra SME.

“aku mengenalnya ketika ia datang ke apartemen Onew hyung, dia teman dari Yoomin noona—istri Onew hyung. Mungkin kami saling mengenal sekitar dua minggu yang lalu. Dan mengenai foto itu, memang benar kami berciuman, tapi—“ belum sempat Minho menyelesaikannya Yunho sudah memeluknya dan mendaratkan beberapa tepukan ringan di punggungnya membuat Minho semakin bingung, ada apa dengan sunbae nya?

Yunho melepaskan pelukannya dan berkata, “mulai sekarang panggil aku hyung.” Pintanya sebelum ia berlalu pergi meninggalkan Minho yang tambah bingung.

“ne?” tanya Minho, tapi Yunho sudah tidak lagi berada dihadapannya.

***

Jihye keluar dari dapur dengan sebuah buku di tangannya. Ia baru saja mengecek persediaan bahan untuk satu minggu ke depan saat ia melihat Yunho duduk di meja nomor 10 di café nya—lengkap dengan penyamaran.

“tumben oppa ke sini.” Jihye menarik kursi di hadapan Yunho dan menjatuhkan diri di sana.

“kenapa kau tidak cerita pada oppa kalau kau pacaran, huh?”

“ne? Oppa sedang bercanda denganku? Mana mungkin aku pacaran?” Jihye balik bertanya dengan wajah mencemooh.

Yunho memutar otaknya dua kali. Jika ia tidak pacaran, mana mungkin mereka berciuman? Tapi memang benar Jihye tidak mungkin semudah itu pacaran karena ia benci untuk berdekatan dengan namja. Ada sesuatu yang aneh, dan Yunho harus tau itu. Jika Jihye dan Minho memang tidak pacaran, siapa yang peduli? Toh setelah foto itu meluas semua orang mulai berasumsi Minho SHINee tidak lagi single. Sebuah ide muncul di benak Yunho yang sekarang tersenyum kecil membayangkan betapa cemerlangnya ide itu.

“Jihye-ya, bisa kau pinjam mobilmu hari ini?” Yunho mengarahkan ibu jarinya ke luar café tepat di mana mobil Jihye terparkir.

“aku akan menjemputmu malam ini.” Tambah Yunho saat melihat kerutan di kening Jihye.

“oke, tapi jangan lupa untuk menjemputku oppa. Aku tidak mau pulang naik bus.” Protes Jihye saat menyerahkan kunci mobilnya.

“pasti. Jangan pulang sebelum aku datang, ara?”

Jihye mengangguk pelan pada Yunho.

***

Hari ini member SHINee sudah dibuat sibuk oleh Onew karena mengejar Yoomin ke bandara Incheon, dan untungnya mereka berhasil menemukan Yoomin.

Sebagai perayaan untuk kebahagiaan mereka, Key dan Yoomin memasak makan malam. Onew dan Taemin menyiapkan meja sementara Jonghyun yang tadi bertugas membeli bahan makanan sekarang sedang duduk santai.

Minho keluar dari kamar Bihyul dan menutup pintu dengan perlahan agar tidak membangunkan Bihyul. Anak itu sudah menangis sejak pagi dan ia terlihat sangat lelah. Setelah pintu tertutup rapat Minho membalikkan tubuhnya dan terlonjak kaget begitu melihat Yoomin entah sejak kapan muncul di hadapannya.

“omo! Noona kau mengejutkanku.” Minho mengelus dadanya.

“Minho-ya, bisa aku minta tolong padamu? Bisa kau temani Jihye pulang?”
”Jihye noona?” Minho memalingkan wajahnya ke segala arah, tapi tidak ada tanda-tanda yeoja itu di sana. Yoomin menangkap maksud pandangan Minho dan langsung menjelaskan.

“dia memang tidak di sini. Tadi oppanya menelponku dan bilang kalau Jihye akan pulang naik kereta bawah tanah. Memang ini belum terlalu malam, tapi tetap saja aku khawatir. Bisakah kau menolongku? Jebal?” Yoomin mengatupka kedua tangannya dengan tatapan memelas.

“araseo, aku akan mengantarnya pulang.” Ucap Minho. Di satu sisi, ia tidak tega melihat Yoomin memelas dihadapannya, di satu sisi ia juga tidak tega membiarkan Jihye, seorang yeoja pulang sendirian malam-malam begini.

“yaaa, sedang apa kalian berduaan saja , huh?” Onew merangkul pundak Yoomin dengan sikap protektif. Minho hanya terkekeh pelan melihat kelakuan Onew yang jelas sekali terlihat cemburu.

“kurasa aku harus segera pergi sebelum Onew hyung lebih cemburu lagi.” Goda Minho sambil melewati sepasang suami istri itu dan memakai sepatunya.

***

Jihye memandang sekeliling. Kereta bawah tanah yang ditumpanginya penuh sesak. Orang di mana-mana, Jihye bahkan tidak mendapatkan tempat duduk dan harus berdiri berdesakan dengan penumpang lain.

Dalam hatinya ia tak henti-henti merutuki Jung Yunho yang berjanji akan menjemputnya setelah meminjam mobilnya—satu-satunya kendaraan yang ia miliki. Tapi bahkan sampai jam 8 malam ia masih juga belum menjemput Jihye. Yang lebih mengesalkan adalah bahwa Yunho justru menyuruhnya untuk naik kendaraan umum, padahal Yunho tau bagaimana Jihye. Kakak macam apa dia?

Mata Jihye terus menyapu sekeliling dengan was-was seolah ia takut kalau saja akan ada binatang buas yang menerkamnya saat itu juga.

Perasaan itu lagi, perasaan tidak nyaman itu lagi. Kilatan-kilatan kejadian malam itu kembali bermain dibenak Jihye, membuat tubuhnya sedikit bergetar. Setiap kali ada pria yang menyenggolnya tanpa sengaja ketika kereta beruncang pelan, Jihye akan bergeser ke sisi lain dengan cepat.

Airmatanya tergantung di sudut mata, hampir saja terjatuh jika seseorang tidak mengejutkannya dengan memutar tubuhnya. Punggung Jihye terhempas pada dinding kereta yang dingin. Seorang namja dengan hoodie yang menutupi wajahnya berdiri di hadapan Jihye. Awalnya Jihye ingin berteriak, tapi suara yang ia kenal meluncur dari mlutu namja itu.

“noona gwaenchana?” namja itu—Minho—meletakkan kedua tangannya di sisi Jihye dengan sikap protektif dan itu berhasil membuat Jihye sedikit merasa aman.

“Choi Minho? Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Jihye heran.

“Yoomin noona memintaku untuk mengantarmu.” Jawab Minho singkat, agak kesal karena sepertinya Jihye tidak terlalu megnhargai niat baiknya.

“kau tidak perlu melakukannya, aku baik-baik saja.” Jihye mencoba untuk berbohong. Ia tidak ingin merepotkan orang lain, apalagi seseorang yang tidak terlalu dekat dengannya.

“yang benar saja. Noona pikir aku anak umur 4 tahun yang akan percaya kata-kata noona? Aku tau ada sesuatu yang tidak biasa pada noona, aku tau noona tidak terlalu nyaman berdekat dengan namja.” Minho menatap mata Jihye dalam-dalam, membuat Jihye untuk sesaat melupakan ketakutannya dan melupakan sekitarnya. Jihye dan Minho tidak berbicara selama beberapa detik setelahnya karena tatapan mereka masih saling terkunci satu sama lain.

Sebuah guncangan pelan kembali dirasakan para penumpang kereta bawah tanah, tubuh mereka bergoyang bersamaan dengan guncangan itu. Para penumpang saling berhimpitan, terdorong satu sama lain. Minho mengencangkan tumpuan tangannya di sisi kepala Jihye agar orang-orang disekitarnya tidak menyenggol yeoja itu. Beberapa orang di belakang Minho menabrak punggung namja itu, membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan dan terdorong ke depan—ke arah Jihye.

Jarak mereka semakin dekat, Minho tidak lagi bisa menjaga jarak dengan mundur ke belakang karena penumpang yang baru sudah naik dan kereta menjadi semakin lebih sesak.

Jihye menundukkan wajahnya, terlalu malu untuk mendongak dan menatap Minho. Minho berdeham kecil, mencoba mengusir kecanggungan yang sekarnag menyelimuti mereka. Perjalanan yang tersisa membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit. Selama sisa waktu itu Jihye masih saja tidak bisa merasakan kehadiran orang lain disekitarnya. Yang ada dipikirannya hanya Minho, Minho dan Minho.

Minho berada dihadapannya—sangat dekat hingga rasanya ia sedang dipeluk Minho.

Ia bisa merasakan suhu tubuh Minho.

Deru nafas Minho terus bermain ditelinganya.

Wajahnya memenas setiap kali tubuh Minho terdorong semakin dekat dengannya.

Jantungnya berdetak sangat cepat untuk Minho.

Yang ada dipikirannya hanya Minho, Minho dan Minho.

Setelah kereta terhenti di tempat tujuannya, Jihye berjalan keluar dengan cepat untuk kembali menyegarkan isi kepalanya. Jihye menghembuskan nafas pelan—merasa lega sekarang otaknya mulai bekerja normal kembali.

“kanan atau kiri?” suara Minho kembali mengejutkan Jihye. Ia tidak menyangka jika namja itu sekarang sudah ada dibelakangnya.

“huh?” Jihye menatapnya dengan bingung. “ah, tidak perlu, kau cukup mengantarku sampai di sini saja. Jeongmal kamsahamnida.” Lanjut Jihye begitu sadar yang dimaksud Minho adalah jalan menuju rumahnya.

“kanan atau kiri?” ulang Minho tanpa mempedulikan kata-kata Jihye.

“sudah kubilang ti—“
”kanan atau kiri?” Minho memotong kata-kata Jihye, kali ini dengan penekanan disetiap kalimatnya.

“uh, kiri.”

***

Yunho berjalan mondar-mandir di kamar tidurnya tidak henti-henti meremas kedua tangannya yang berkeringat. Yunho mengintip dari balik kaca jendela menuju halaman rumahnya. Jihye masih saja belum muncul. Ia mulai meragukan idenya tadi. Apa mungkin ia sudah membuat suatu kesalahan dengan mempercayakan Jihye pada Minho? Tapi ia tidak punya cara lain. Apapun yang terjadi rencananya harus berhasil, jika tidak kebahagiaan Jihye lah yang dipertaruhkan.

Ia sengaja meminjam mobil Jihye tadi siang dan mengatakan bahwa ia tidak bisa menjemputnya malam hari dan meminta Yoomin menyuruh Minho untuk mengantar Jihye pulang. Dan kalau Minho ternyata tidak bersedia, ia yakin rencananya akan hancur.

Sekali lagi Yunho melirik keluar melalui kaca jendela. Ia tersenyum puas saat melihat sosok Jihye bersama Minho berjalan berdampingan. Detik itu juga, beberapa wartawan langsung mengerumuni mereka, menyodorkan mic, kamera, dan tape recorder. Kilatan-kilatan blits kamera terus diarahkan pada Minho dan Jihye.

Yunho tersenyum lebih lebar ketika melihat Minho melingkarkan tangannya dipundak Jihye, membenamkan wajah yeoja itu pada tubuhnya untuk menghalangi para wartawan yang haus berita untuk mendapatkan foto dengan wajah Jihye yang jelas sambil terus berusaha menerobos perisai wartawan dan masuk ke dalam rumah.

“teruslah seperti itu dan berikan pose yang bagus untuk para wartawan.” Ujar Yunho sebelum akhirnya ia keluar dari kamar dan menuruni tangga dengan cepat.

“Jihye-ah! Gwaenchana?” Yunho berlari dan memeluk Jihye, berpura-pura tidak tau apa yang terjadi.

“Yunho sunbae?” tanya Minho lebih kepada dirinya sendiri.

“oppa! Apa yang terjadi? Kenapa ada banyak wartawan diluar?” tanya Jihye bingung. Ia memang tidak mengerti, ia bahkan tidak tau fotonya ketika melakukan tantangan dari Jonghyun tersebar luas.

“Kenapa kau bisa bersama Minho? Bukankah kau bilang kalian tidak pacaran?” Yunho mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan Jihye dan memulai rencananya yang lain. “Minho, kau harus bertanggung jawab atas semua ini.”

“ne?” tanya Minho bingung. Ia sendiri tidak menduga akan ada wartawan dan kenapa pula ia harus bertanggung jawab atas hal yang sama sekali tidak ia mengerti juga.

***

Minho dan Jihye duduk bersimpuh dihadapan kedua orangtua Jihye. Nyonya Jung menatap tak percaya sementara Tuan Jung hanya menatap dengan datar. Yunho duduk disamping Tuan Jung, diam-diam melirik appanya.

“jadi, apa benar kalian pacaran?” tanya Tuan Jung akhirnya. Minho terlihat ragu-ragu dan menatap Yunho yang memelototinya.

Minho mengingat pembicaraan mereka beberapa menit yang lalu sebelum orangtua Jung pulang. Yunho meminta Minho berpura-pura menjadi pacar Jihye karena orangtua mereka pasti sudah melihat skandal itu. Dan yang lebih menjadi alasan utama Yunho adalah karena orangtuanya ingin menjodohkan Jihye. Satu-satunya cara agar terlepas dari perjodohan itu hanyalah dengan membawa pacar Jihye menemui orangtua Jung.

Jihye menundukkan kepalanya dalam-dalam. Masih merasa kecewa karena orangtuanya menyiapkan acara perjodohan untuk dirinya.

Minho melirik ke arah Jihye sekali sebelum akhirnya ia membuat keputusan.

“ne, kami memang pacaran.” Ujar Minho yang berhasil membuat Jihye membelalakkan matanya. Yunho tersenyum penuh kemenangan. Bagaimanapun ia tidak akan rela melihat yeodonsaeng semata wayangnya ini harus dijodohkan dengan orang yang tidak ia kenal. Lebih baik jika Jihye dan Minho bersama, karena ia tau jelas bagaimana sifat Minho. Namja itu tidak akan mungkin berani menyakiti Jihye, terlebih lagi Jihye itu adalah yeodongsaeng Yunho.

Wajah datar dengan ekspresi yang tak terbaca dari Tuan Jung memudar. Tuan Jung tersenyum kecil. Ia baru bertemu dengan Minho kurang lebih 10 menit, tapi ia sudah menyukainya, merasa namja itu akan bisa melindungi putri kesayangannya.

“ikutlah makan malam bersama kami.” Ucap Tuan Jung sebelum meninggalkan ruang tamu bersama Nyonya Jung.

“yaaaa! Apa yang baru saja kau katakan?” tanya Jihye tak percaya.
”apa??”

Jihye menarik tangan Minho dan menyeretnya hingga ke lantai dua memasuki kamar yang sudah ia huni selama 22 tahun. Jihye mengunci pintu rapat-rapat, memastikan tidak akan ada seorang pun yang menguping pembicaraan mereka.

“apa kau sudah gila? Sejak kapan kita berpacaran?” Jihye memelototi Minho yang ia rasa seenaknya saja membuat keputusan.

“aku hanya ingin membantumu, noona. Bukankah Yunho hyung sudah bilang kalau kau tidak punya pacar orangtuamu akan menjodohkanmu? Memangnya kau mau itu terjadi?” balas Minho sedikit merasa kesal. Ia berbaik hati ikut dalam sandiwara ini meski ia tidak tau apa yang akan terjadi nantinya, ia hanya bermaksud untuk menolong. Tapi yeoja dihadapannya sama sekali tidak berterimakasih, justru memarahinya.

“apapun yang terjadi, itu adalah urusanku, tidak seharusnya kau ikut campur, Tuan Choi Minho yang sok pintar!” Cerca Jihye lalu melongos kembali ke lantai bawah.

Minho menghembuskan nafasnya dengan kasar lewat mulut dan menatap lekat-lekat pintu yang kini terbuka lebar setelah Jihye melangkah keluar.

***

“hyung! Benarkah itu? Kau dan Jihye noona berpacaran? Kenapa kau tidak memberitauku? Kenapa kau tidak memberitau kami? Dan sejak kapan kalian berpacaran?” Taemin tidak henti-hentinya menanyakan pertanyaan itu selama berada di dalam van menuju SME. Taemin bertumpu pada lututnya diatas kursi jok dan menghadap ke belakang tempat Minho merebahkan tubuhnya.

Jonghyun duduk di kursi samping pengemudi tak henti-hentinya tersenyum menatap layar hp sementara Key terus memperhatikan Taemin yang melontarkan berbagai pertanyaan pada Minho tanpa mendapatkan jawaban satupun.

“urgh! Berhentilah bertanya Taeminnie, aku mengantuk, biarkan aku tidur sebentar!” omel Minho tidak mempedulikan Taemin yang menggembungkan pipinya karena tidak digubris oleh hyung kesayangannya. Minho meraih sweater hitam miliknya dan menutupi wajahnya agar ia bisa tertidur tanpa perlu terganggu dengan cahaya matahari.

“Taeminnie, jangan ganggu dia. Biarkan Minho tidur sebentar. Setelah itu kau boleh bertanya apapun lagi padanya.” Bujuk Key pada Taemin yang masih terlihat tidak puas. Key mengeluarkan sebotol banana milk dari tas nya dan langsung disambar oleh Taemin.

“araseo hyung!”

***

“aigoo! Uri Jihye-ya, wajah manismu tidak cocok kalau cemberut seperti itu.” Goda Jaejoong yang meletakkan dua jari telunjuknya masing-masing di ujung bibir Jihye dan menariknya membentuk senyuman.

“HAHAHAHA!” tawa Jaejoong pecah setelah melihat wajah Jihye yang justru terlihat aneh setelahnya. Jaejoong menutupi mulutnya sendiri sambil terus menunjuk wajah Jihye. Tapi karena Jihye tidak ikut tertaawa bersama Jaejoong menghentikan tawanya dan berdeham canggung.

“aku sedang kesal, oppa.” Jihye menjatuhkan dirinya di satu-satunya sofa yang ada diruangan milik DBSK. Jaejoong meletakkan baju ganti untuk Yunho yang dibawakan oleh Jihye lalu ikut duduk disebelah Jihye dan memperhatikannya dengan seksama.

“waeyo?” raut wajah Jaejoong berubah menjadi serius.

“ini semua karena 2Ho itu! Urgh, menyebalkan!!” Jihye mengepalkan kedua tangannya dan memukul-mukul permukaan sofa.

“2Ho? Siapa maksudmu?” tanya Jaejoong bingung.

“Jung Yunho dan Choi Minho!”

Jaejoong kembali tertawa setelah mendengar nama dua namja itu disebut. Akhirnya ia mengerit apa yang membuat Jihye benar-benar kesal sekarang. Tentu saja Jaejoong tau apa yang terjadi—tentang sandiwara itu, karean Yunho sudah menelpon dan menceritakan semuanya. Meksi ia juga merasa cara Yunho salah, tapi ia tidak bisa tidak setuju. Ia juga tidak akan rela jika melihat Jihye dijodohkan dengan orang yang tidak jelas asal-usulnya. Bisa jadi perjodohan itu hanya untuk kepentingan bisnis Tuan Jung. Bukannya Jaejoong memandang rendah Tuan Jung, tapi memang begitulah dunia bisnis. Apapun bisa diberikan.

Jaejoong meletakkan tangannya diatas kepala Jihye dan mengusapnya dengan lembut. Ia bersyukur, meski kejadian 4 tahun lalu telah mengubah cara pandang Jihye tentang namja, tapi Jihye masih tidak berubah padanya, pada member DBSK lain yang memang sudah Jihye anggap seperti Yunho kedua hingga Yunho kelima.

“percayalah, apapun yang telah Yunho lakukan, ia pasti telah memikirkannya dengan baik. Dia tidak akan mungkin membuat keputusan yang akan menyengsarakanmu, kau tau kan bagaimana Yunho itu?” Jaejoong tertawa kecil mengingat kembali ketika mereka baru saja debut. Sebisa mungkin Yunho akan menjauhkan Jihye dari member DBSK, terutama Yoochun karena tidak ingin Jihye menyukai salah satu dari mereka.

Jihye ikut tertawa, mengingat hal yang sama dengan Jaejoong.

“kau memang lebih manis kalau seperti ini.” Jaejoong mencubit pipi kanan Jihye dengan pelan.

“aaaw~! Oppa. Itu sakit.” Jihye berpura-pura kesakitan.

“aigoooo! Berhentilah berpura-pura. Kau mau pulang sekarang? Mau kuantar sampai ke pintu depan?” tawar Jaejoong.
”gwaenchana, aku bisa sendiri kok. Annyeong oppa.” Jihye melambaikan tangannya sebelum akhirnya meninggalkan ruangan DBSK.

Jaejoong berdiri di depan pintu dan terus memperhatikan Jihye hingga akhirnya bayangan tubuh mungil yeoja itu menghilang di ujung koridor.

“Choi Minho, semoga dia yang terbaik untukmu.” Ucap Jaejoong lirih.

Setelah bertemu dengan Jaejoong suasana hati Jihye berubah 180 derajat. Jaejoong memang benar-benar orang yang menyenangkan, berada di dekatnya akan membuat siapa saja merasa tidak ada beban. Jihye tidak henti-hentinya tersenyum sambil terus berjalan dilantai satu. Jihye menghentikan langkahnya dengan segera begitu ia menangkap sosok yang ia kenal dari sudut matanya. Jihye mundur selangkah agar bisa melihat sosok itu lebih seksama dari balik dinding kaca. Benar saja, ia mengenal sosok bertubuh tinggi dengan mata besar dan senyum memesona itu. Siapa lagi kalau bukan Choi Minho.

“huh, kenapa ia mau berpura-pura menjadi pacarku kalau ternyata dia sudah punya pacar?” ujar Jihye pada dirinya sendiri dengan jengkel.

Choi Minho duduk di salah satu meja cafetaria di dalam gedung SME berdua bersama seorang yeoja berkulit putih. Ia terlalu asyik tertawa bersama yeoja itu tanpa menyadari pandangan mematikan yang diberikan oleh Jihye dari luar ruangan cafetaria.

Yeoja itu mengangkat sumpit ditangannya dan menyodorkan sepotong daging berbumbu ke hadapan Minho. Minho membuka mulutnya dari memakan daging yang disodorkan padanya dengan senang hati.

Mood Jihye yang tadinya sudah membaik kembali down. Jihye melangkah keluar dari gedung SME dengang langkah berat. Ia menghentakkan setiap langkahnya untuk melampiaskan rasa kesalnya.

“aku tidak sedang cemburu, aku hanya kesal karena … karena …” Jihye kehabisan kata-kata. Ia sungguh tidak tau mengapa ia begitu kesal melihat Minho dekat dengan yeoja lain, tapi ia juga menolak untuk mengakui bahwa ia cemburu. Ia tidak memiliki perasaan apapun untuk Minho, juga tidak untuk namja lainnya.

“aku hanya kesal karena dia membuatku kesal, ugh!” omel Jihye lagi.

To Be Continue . . .


7 thoughts on “Love Still Goes On (Part 2)”

  1. Sorry baru komen oen . . . .
    ne bru dapat sequelnya Hello Bilyul

    Kayaknya ceweknya si Victoria F(X) . . .tul nggak thor

    KYAAAAAAAAAAAAA . . . . >////////////< DBSK
    OMMO DBSK BER LIMA Kangen*meluk-meluk oppa Jae Joong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s