He’s Gone Part 3

maaf banget ya post ff nya lama.

happy reading!!

 

Kyuhyun POV

Kini aku sedang memakan makanan yang aku beli tadi, Jungsu hyung masih berada di kamarnya. Pikiranku teringat pada kata-kata yang diucapkan Eunhyuk hyung tadi, dia bilang sudah seminggu ini Siwon hyung tidak masuk sekolah dan dia bilang kalau Siwon hyung sakit. Pikiranku benar-benar tidak tenang, aku ingin sekali melihat keadaannya. Tapi aku takut, aku tidak boleh kembali dulu ke rumah. Aku hanya akan menyusahkan Siwon hyung. Aku sangat khwatir dengan keadaannya.

“Kyuhyun . . .!” aku terlonjak kaget untuk yang kedua kalinya. Jungsu hyung memanggilku secara tiba-tiba. “Kyu, apa yang sedang kau pikirkan?” tanyanya yang kini sudah berdiri di hadapanku.

“Aniyo, aku hanya kaget saja. Aku sedang serius makan, dan tiba-tiba kau memanggilku.”

“Kyu, kau tahu tentang penyakitmu itu . . .” ucap Jungsu hyung mulai serius.

“Waeyo?”

“Penyakitmu itu tidak akan sembuh jika hanya dengan melakukan chemotheraphy saja. Kau juga harus melakukan operasi, bagaimana?”

“Tapi hyung . . .”

“Kau tenang saja, aku sendiri yang akan memimpin operasimu. Teman-teman kuliahku siap membantu, kini mereka sedang mencari pendonor yang bersedia memberikan sumsum tulang belakangnya untukmu.”

Aku benar-benar merasa bersalah padanya, dia bukanlah siapa-siapa diriku. Tapi dia mau repot-repot demi kesembuhanku. Sedangkan Siwon hyung, aku malah meninggalkannya. Aku semakin bingung.

“Kau makanlah yang banyak, setelah ini aku akan mengambil darahmu.”

“Untuk apa?”

“Untuk mencocokkan sumsum tulang belakangmu dengan pendonor nanti.”

“Ne.” jawabku lemah.

Selesai makan, Jungsu hyung langsung mengambil darahku dan memasukkannya kedalam sebuah tabung kecil dan memberi sebuah kode di luarnya.

“Kyuhyun-ah . . . Kyuhyun-ah . . .” kudengar sebuah suara memanggil-manggil namaku. Aku sangat mengenal suara itu, tapi aku tidak bisa melihat sosoknya dimana-mana. Kuputar bola mataku ke segala arah, tapi yang kulihat hanya sebuah ruang putih yang tanpa batas. Aku tidak bisa melihat dimana ujung ruangan itu. “Kyuhyun-ah . . .” kuikuti sumber suara berada. Tapi percuma, semakin aku mendekat suara itu malah semakin menjauhiku. “Kyuhyun-ah . . .” kali ini suaranya lebih keras, dan aku bisa mengenali suara itu. Itu suara Siwon hyung.

“Hyung . . . hyung . . . kau dimana?” aku terus berteriak memanggilnya. Aku mulai menangis karena takut. “Hyung . . .!!”

“Kyuhyun-ah . . . Kyu-ah . . .!!” kini ada suara lain yang memanggilku. Suara itu semakin keras, rasanya suara itu tepat berada di dekat telingaku. Dan kini, tubuhku berguncang. Ada apa ini?

“Hyung . . .!” kupanggil lagi Siwon hyung untuk menolongku, tapi semuanya sia-sia. Dia tidak ada, bahkan suaranya yang kudengar tadi sudah hilang entah kemana.

“Kyu-ah ireona!” suara itu, kini aku mengenalinya. Itu suara Jungsu hyung.

Jungsu POV

Kudengar suara-suara berisik dari kamar Kyu. Aku segera berlari menuju kamarnya karena sangat khawatir. Kudekati tubuhnya, dia terlihat tidak tenang. Dia pun terus berteriak mengatakan ‘Hyung . . .!’ siapa yang dia panggil hyung? Aku atau hyung kandungnya?

“Kyuhyun-ah . . . Kyu-ah . . .!!” aku mencoba untuk membangunkannya. Tapi dia terlihat semakin ketakutan, akupun semakin khawatir padanya. Tubuhnya sudah basah karena keringat dan dia menangis. Apa yang dia mimpikan?

“Hyung . . .!” dia berteriak lagi, kali ini sangat keras.

“Kyu-ah ireona!” panggilku agak keras di dekat telinganya. Tiba-tiba dia membuka matanya, wajahnya sangat pucat. “Kyu-ah, gwaenchana?” tanyaku khawatir sambil memegang wajahnya menghadapkannya denganku.

“Hyung . . .” lirihnya.

“Kyu-ah, waeyo?”

“Hyung . . .!!” dia langsung memelukku dan menangis.

“Tenanglah.” Kuusap-usap punggungnya pelan agar dia tenang. “Aku ada disini.” Dia semakin mempererat pelukannya padaku, tangisannya pun semakin keras. Cukup lama Kyuhyun memelukku dan menangis di pundakku sampai akhirnya dia tertidur. Kubaringkan tubuhnya dan menyelimutinya, tapi saat aku akan meninggalkannya tiba-tiba sesuatu menahan langkahku. Kurasakan tangan Kyu memegang tanganku.

“Hyung, jangan tinggalkan aku!” ucapnya sambil tertidur. Aku tidak tahu dia sadar atau tidak saat mengucapkannya, tapi yang jelas aku akan menemaninya tidur malam ini.

Kubuka mataku, sinar matahari sudah dengan bebasnya masuk kedalam kamar melalui jendela. Aku langsung teringat Kyuhyun, dia sudah tidak ada di sampingku. Kemana dia? Aku segera keluar kamar untuk mencarinya.

“Kyu . . .!!” kupanggil namanya.

“Wae . . .!!” teriaknya dari arah dapur. Kulihat dia sedang sibuk melakukan sesuatu, kudekati dirinya. “BERHENTI!” ucapnya keras dan membuatku kaget.

“Waeyo?” tanyaku heran.

“Kau duduk saja dengan manis hyung, jangan berani-berani memasuki wilayah dapur. Kalau tidak menurut, kau yang aku cincang. Arraseo?” Ucapnya sambil berbalik ke arahku. Dia memegang pisau daging di tangannya sambil tersenyum evil. Aku bengong melihatnya yang tiba-tiba berubah. Tadi malam dia sangat ketakutan, tapi sepertinya pagi ini dia sudah kembali menjadi Kyuhyun lagi. Aku senang melihatnya.

“Ne, arraseoyo. Kelakuanmu aneh sekali Kyu.” Ucapku tertawa kecil sambil berjalan masuk kekamar untuk mandi.

“Hyung, kubilang kan duduk. Kenapa kau masuk kamar?” teriaknya.

“Kau mau selera makanmu hilang karena aku belum mandi?’ jawabku tanpa berbalik ke arahnya dan langsung masuk kedalam kamarku.

Kyuhyun POV

“Jungsu hyung masih tidur.” ucapku saat bangun tidur, dan melihat Jungsu hyung sedang tidur nyenyak di sampingku. Aku harus melakukan sesuatu agar Jungsu hyung tidak menanyakan tentang kejadian semalam. Selesai mandi aku langsung berjalan menuju dapur. Aku mengecek bahan-bahan makanan yang berada di lemari es. “Lengkap, baguslah!” gumamku senang saat melihat isi lemari es yang penuh dengan bahan makanan. Setelah berpikir cukup lama akhirnya aku tahu apa yang akan aku masak. Aku mengambil beberapa bahan makanan yang aku butuhkan. Kudengar panggilan Jungsu hyung.

“Kyu . . .!!” panggilnya.

“Wae . . .!!” jawabku keras. Kudengar langkah kakinya yang semakin mendekat. “BERHENTI!” ucapku lantang dank eras tanpa membalikkan tubuhku ke arahnya. Aku yakin itu membuatnya kaget. Aku terkikik kecil.

“Waeyo?” tanyanya heran.

“Kau duduk saja dengan manis hyung, jangan berani-berani memasuki wilayah dapur. Kalau tidak menurut, kau yang aku cincang. Arraseo?” Ucapku sambil berbalik ke arahnya. Aku memegang pisau daging di tanganku sambil tersenyum evil padanya. Kulihat dia bengong melihatku.

“Ne, arraseoyo. Kelakuanmu aneh sekali Kyu.” Ucapnya tertawa kecil sambil berjalan masuk kekamarnya. Kenapa dia malah masuk ke kamarnya?

“Hyung, kubilang kan duduk. Kenapa kau masuk kamar?” teriakku menghentikan langkahnya yang baru saja akan masuk kamar.

“Kau mau selera makanmu hilang karena aku belum mandi?’ jawabnya tanpa berbalik ke arahku dan langsung masuk kedalam kamanya. Aku terkikik kecil ‘lagi’. Kusiapkan meja makan untuk sarapan kami berdua pagi ini dan menatanya. Setelah menunggu selama tiga puluh menit akhirnya dia keluar dan sudah memakai baju yang rapi. Aku segera lari mendekatinya. “Kyu, kau membuatku kaget.” Ucapnya sedikit marah. Aku hanya tertawa. Aku langsung berjalan ke belakang tubuhnya dan menutupi kedua matanya dengan tanganku.

“Ya! Apa yang kau lakukan?’ ucapnya sedikit memberontak.

“Tenanglah hyung, aku sudah menyiapkan ini sejak tadi pagi.” Ucapku sambil mendorongnya untuk berjalan. Kududukkan dia di kursi. “Aku akan melepas tanganku, tapi hyung tidak boleh membuka mata sebelum aku menyuruhnya. Kau tidak boleh mengintip, arraseo?” pesanku sebelum melepas kedua tanganku dari matanya. Dia hanya mengangguk. Aku segera berputar dan duduk di hadapannya. “Hyung, sekarang kau boleh membuka matamu!” ucapku. Jungsu hyung membuka matanya perlahan. Mungkin karena silau. Kulihat ekspresinya yang kaget melihat makanan di depannya yang sudah aku siapkan. “Hyung, kau menyukainya?” tanyaku antusias. Dia menggeleng, aku kecewa dan menundukkan kepalaku.

“Bagaimana aku bisa suka, merasakan masakanmu saja belum.” Ucapnya. Langsung kuangkat kepalaku dan tersenyum melihatnya. Dia mulai mencoba satu persatu masakan yang aku buat. Kulihat ekspresinya yang senang saat memakan masakanku, aku yakin dia menyukainya. “Bagaimana?” tanyaku lagi.

“Enak.” Jawabnya sambil mengangguk-ngangguk. “Tapi akan lebih enak jika kau menambahkan sedikit garam lagi.” Kumiringkan kepalaku menatapnya heran.

“Maksudmu?”

“Rasakan saja.” Ucapnya senyum mencurigakan.

Kuambil salah satu masakan dan memasukkannya kedalam mulutku.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Mianhae!” kutundukkan kepalaku karena malu.

“Hahahaha . . .” kudengar dia tertawa. “Gwaenchana, yang penting masih bisa dimakan. Ini benar-benar enak, aku belum pernah merasakan makanan seenak ini.” Ucapnya, tapi aku tahu itu hanya untuk menghiburku saja. Tapi aku senang, karena Jungsu hyung menghabiskan semua makanan yang aku buat.

“Hyung, hari ini kau pergi lagi ke rumah sakit?”

“Ne, waeyo?”

“Sejak awal aku mengenalmu, kau tidak pernah pergi ke rumah sakit. Tapi kenapa akhir-akhir ini kau selalu pergi ke rumah sakit?”

“Karena aku baru bekerja lagi di rumah sakit.” Aku menatapnya heran. “Aku mengambil cuti selama setahun, dan tahun ini aku harus kembali bekerja dan menolong orang-orang.” Aku mengangguk mengerti. “Baiklah, aku harus segera pergi ke rumah sakit dan memeriksa darahmu di laboratorium. Kau baik-baiklah di rumah, kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Aku senang, keadaanmu masih stabil itu artinya kau ada kemajuan dalam pengobatanmu.” Jelasnya tersenyum sambil beranjak pergi dan tidak lupa mencium keningku.

“Sendiri lagi.” Kuhela napasku panjang karena bosan. Kubereskan bekas sarapanku dan Jungsu hyung dan mencuci piringnya. Setelah selesai kuambil PSP kesayanganku dan memainkannya di sofa ruang tengah. “Kalau di rumah, aku tidak akan kesepian seperti ini. Karena ada Siwon hyung.” Gumamku. “Siwon hyung . . .” aku langsung teringat padanya. “Aku sangat merindukannya, apa sebaiknya aku pulang dan melihat keadaannya? Tentu saja tanpa dia ketahui kalau aku datang.” Akhirnya kuputuskan untuk pulang dan melihat keadaannya. Kuambil topi dan jaketku.

Aku berdiri di sebuah pohon besar yang tumbuh di seberang jalan rumahku. Tepat saat aku sampai, kulihat mobil Kibum hyung yang memasuki halaman parkir rumahku. Tubuhnya terlihat lebih kurus dan wajahnya tidak secerah dulu, terlihat sangat lelah. Ada apa dengannya? Kulihat dia membalikkan badannya ke arahku tapi dengan cepat kusembunyikan tubuhku di balik batang pohon. Setelah menunggu beberapa menit, kubalikkan lagi tubuhku. Ternyata Kibum hyung sudah masuk kedalam rumah. Aku ingin sekali melihat keadaan Siwon hyung, tapi bagaimana caranya? Ah aku ingat, bukankah di pinggir rumah ada tangga yang langsung menuju kamarku? Aku mengendap-ngendap saat melewati halaman depan rumah agar tidak ketahuan oleh Kibum dan Siwon hyung. Dengan segera kunaiki tangga itu, dalam beberapa detik saja aku sudah sampai balkon kamarku.

“Akhirnya sampai juga.” Ucapku senang. Kucoba buka pintu kamarku yang menghubungkan balkon dan kamarku, ternyata tidak di kunci. Syukurlah. Kumasuki kamarku perlahan, ternyata tidak ada berubah sama sekali. Semua barang masih pada tempatnya ketika aku tinggalkan dulu. Kudekati sebuah foto yang terletak di meja belajarku, sebuah foto keluarga. Appa, eomma, Siwon hyung dan aku. Foto yang di ambil lima tahun lalu, saat itu aku masih kelas satu SMP dan Siwon hyung kelas dua SMP. Appa dan eomma belum terlalu sibuk seperti sekarang, aku merindukan saat-saat itu. Tanpa sadar kumenitikkan air mata. Kudengar langkah kaki menuju kamarku, karena panik mencari tempat sembunyi aku menjatuhkan frame foto yang barusan kupegang. Tidak ada waktu untuk menyembunyikannya, pilihanku jatuh menuju kamar mandi. Aku bersembunyi disana, kuatur napasku yang terengah-engah.

Clekk . . .

Kudengar suara pintu terbuka.

“Siwon-ah, kau tunggu disini. Aku mau lihat keadaan kamar Kyuhyun, barusan kudengar suara kaca pecah.” Ucap Kibum hyung. “Kenapa frame foto ini bisa pecah dan kenapa pintu itu bisa terbuka?” kudengar ucapan Kibum hyung. Aku masih bersembunyi, lalu tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka kurapatkan tubuhku ke tembok di balik pintu kamar mandi.

“Hufh . . . untung saja!” gumamku mengelus-elus dada sesaat setelah Kibum hyung menutup pintu kamar mandi. Setelah merasa keadaan sudah aman, aku keluar dari kamar mandi. “Sepertinya keadaan sudah tidak aman lagi, lebih baik aku keluar.” Aku berjalan menuju pintu, tapi . . . “Kenapa pintu ini terkunci?” tanyaku heran. “Jangan-jangan tadi Kibum hyung menguncinya.” Kucari kuncinya ke setiap laci meja belajarku, tapi hasilnya tetap nihil. Kalau begini, itu artinya aku harus keluar lewat pintu depan. Kulangkahkan kakiku keluar kamar, kutengok kanan kiri melihat keadaan sekitar. “Aman!” Ucapku melihat koridor rumahku yang kosong. Kulihat pintu kamar Siwon hyung sedikit terbuka, entah apa yang aku pikirkan tapi kakiku ini tiba-tiba melangkah menuju kamar Siwon hyung dan anehnya aku tidak bisa melawannya sama sekali. Kurapatkan tubuhku ke tembok di balik kamar Siwon hyung. Kudengar pembicaraan Kibum hyung.

“Siwon-ah, kau harus makan. Kalau kau tidak makan, kau tidak bisa mencari Kyuhyun. Ayolah, buka mulutmu!” aku terhenyak mendengar pembicaraan Kibum hyung, aku meneteskan air mataku. Kutengok keadaan di dalam kamar Siwon hyung, dia sedang terbaring di tempat tidurnya. Wajahnya sangat pucat dan tubuhnya pun sangat kurus. Kibum hyung mencoba untuk menyuapinya, tapi Siwon hyung tetap menutup rapat mulutnya. Pandangannya benar-benar kosong, kulihat Kibum hyung menitikkan air matanya. “Siwon-ah, ayo makan! Jangan siksa aku lagi seperti ini, sudah cukup dengan hilangnya Kyuhyun. Jangan kau tambah lagi dengan sakitmu ini, bantu aku! Aku tidak bisa menanggungnya sendiri.” Ucap Kibum hyung di sela tangisnya. Aku benar-benar tidak tahan, akupun menitikka air mataku. Kututup mulutku agar Kibum hyung tidak mendengar suara isak tangisku. Aku segera berlari keluar rumah sebelum Kibum hyung mengetahui keberadaanku. Aku jatuh terduduk lemah di depan rumah dan menangis keras disana. Setelah merasa lebih tenang, kutinggalkan rumahku.

“Kyu!” panggil seseorang saat aku berada di halaman gedung apartemen Jungsu hyung. Aku takut kalau yang memanggilku itu adalah Eunhyuk hyung, jadi kuputuskan untuk lari dan menghiraukannya. “Kyu . . . kau mau kemana?”

Kuatur napasku di sofa ruang tengah, “Siapa yang memanggilku tadi?” ucapku pada diri sendiri. Tiba-tiba pintu apartemen terbuka. “Hyaaaaaa . . .!!” teriakku keras sambil berlari menuju kamar.

“Kyu!” ucap seseorang yang sangat aku kenal suaranya.

Kubalikkan tubuhku, “Hyung, kau sudah pulang? Hehehehehe . . .” aku tertawa dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal karena malu, sementara Jungsu hyung masih bengong melihatku di pintu masuk.

“Kenapa kau lari saat aku panggil tadi?” Tanya Jungsu hyung setelah dia sadar dari lamunannya.

“Ne?” tanyaku balik karena merasa tidak jelas mendengar pertanyaan Jungsu hyung.

“Kau, kenapa saat kupanggil tadi kau lari?” ucap Jungsu hyung sambil berjalan menuju sofa ruang tengah.

“Hmm . . . tadi aku sudah tidak tahan ingin buang air kecil, jadi aku langsung berlari ketika hyung memanggilku.” Jawabku bohong, aku tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya.

“Lalu, kenapa saat aku masuk tadi, kau berteriak dan berlari menuju kamarmu?

“Choge . . . choge . . . karena aku hanya ingin membuat hyung terkejut saja.” Aku langsung memasang wajahku menjadi tersenyum lebar, kuharap dia percaya. “Oh ya, kenapa hyung sudah pulang?” segera kualihkan pembicaraan.

“Kau sudah makan siang?” aku menggeleng. “Tadi aku memanggilmu karena mau mengajakmu makan siang bersama. Aku tahu kau belum terbiasa sendiri di rumah jadi aku pulang untuk menemanimu.” Aku berlari dan memeluk Jungsu hyung secara tiba-tiba. “Ya! Apa yang kau lakukan? Aku tidak bisa bernapas.” Teriaknya.

“Gomawao hyung!” kupeluk tubuhnya semaki erat.

“Ya! Kau membuatku tidak bisa bernapas, sekarang kau bersiap-siap!”

“Memangnya kita mau kemana?” kulepaskan pelukanku dan menatapnya heran.

“Kau tidak lapar?”

“Baiklah, tunggu aku lima menit!” aku segera berlari menuju kamarku untuk bersiap-siap.

TBC

Iklan

4 thoughts on “He’s Gone Part 3”

  1. yaa kyu…
    npa g nongol di depan wonppa???
    npa hrus lari??
    ksian wonppa kan??!!
    huuffttt….lanjut thorrr!!!!

  2. huft,,, kyu kenapa tetep ga mo nemuin wonnie… dia khan sakit karena mikirin km??
    kibum juga kasihan amat ya…
    pokoknya,, kyu meti sembuh….
    next part ditunggu

  3. aduh kyu..
    cepat lha datang..
    wonnie hyung dah kangen banget ma kamu..
    kasian juga kibum hyung-nya..
    cepat pulang kyu!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s