Love Still Goes On (Part )

AUTHOR : Yuyu

CAST :

  • Choi Minho (SHINee)
  • Jung Jihye (Ocs)
  • Lee Jinki (SHINee)
  • Han Yoomin (Ocs)
  • Lee Taemin (SHINee)
  • Kim Jonghyun (SHINee)
  • Kim Keybum (SHINee)
  • Jung Yunho (DBSK)
  • Kim Jaejoong (DBSK)
  • Ho Junyeon (Ulzzang)

GENRE : Romance

TYPE/LENGTH : Sekuel

RATING : PG-16

Love Still Goes On (Part 3)

Tuan Jung menonton diruang tengah ditemani Yunho yang baru saja menyelesaikan seabrek jadwalnya hari ini. Yunho terus menyeruput minuman dingin miliknya, terlalu hanyut dalam acara yang ia tonton hingga tidak menyadari raut cemas yang tertera di wajah Tuan Jung. Nyonya Jung berjalan lalu lalang, sibuk mengemasi barang-barang yang perlu ia bawa untuk ke Melbourne esok hari dikarenakan meeting penting bersama klien Tuan Jung yang mengharuskan mereka menginap di negeri kangguru selama seminggu. Meski sangat sibuk akan pekerjaan kantornya, tapi Tuan Jung sebisa mungkin tidak akan meninggalkan Jihye seorang diri di rumah. Jika biasanya Tuan dan Nyonya Jung berangkat di pagi hari dan kembali di malam hari untuk mengurusi bisnis mereka, kali ini mereka harus meninggalkan Jihye selama seminggu. Ditambah lagi fakta Yunho tidak akan bisa menemani Jihye karena mulai besok selama beberapa minggu ke depan ia dan member DBSK lainnya harus ke Jepang untuk mempromosikan album terbaru mereka—Why (Keep Your Head Down).

Diam-diam Tuan Jung merasa sangat tidak tenang. Meski rumah mereka di penuhi dengan pelayan, apa gunanya? Tetap saja Jihye seorang diri. Jika dulu Jihye masih bisa mengundang Yoomin untuk menemaninya, mana mungkin sekarang Jihye menggundang sahabatnya yang sudah memiliki keluarga sendiri?
”Yunho-ya, bagaimana menurutmu tentang namja bernama Choi Minho itu?” tanya Tuan Jung tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar tv.

“ne? ah, dia. Dia namja yang sopan, rasa tanggungjawabnya tinggi dan selalu memperlakukan yeoja dengan baik. Apa yang appa pikirkan?” Yunho menatap Tuan Jung dengan seksama. Sebersit rasa takut merambat di tubuh Yunho yang langsung dengan cepat menambahkan kata-katanya, “Appa tidak boleh menarik kata-kata appa, bukankah appa sudah menyetujui hubungan Minho dan Jihye?”

“apakah appa terlihat akan memisahkan mereka dan menjodohkan Jihye dengan namja lain?” Tuan Jung balik bertanya. Yunho mengerutkan keningnya semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Tuan Jung.

“apa pendapatmu jika kita meminta Minho untuk menginap di sini?” Tuan Jung menoleh ke arah tangga lantai dua, kalau-kalau saja Jihye turun dan mendengarkan percakapan mereka.

“ne? untuk apa?”
”memangnya kau mau Jihye tinggal sendirian saja selama seminggu ini?” pertanyaan Tuan Jung membuat Yunho berpikir dua kali. Benar, mana tega ia membiarkan Jihye tinggal sendirian.

“araseo, aku yang akan mengatakannya pada Minho.”

***

“hyung, untuk apa semua baju-baju ini? Apakah kita akan berangkat keluar negeri?” Taemin memperhatikan tas Minho yang penuh dengan baju-baju nya. Seingatnya, mereka tidak ada jadwal yang mengharuskan mereka menginap diluar dan membawa baju ganti.

“kau tidak tau? Mulai malam ini kan dia akan tinggal bersama Jihye noona.” Jawab Key dengan nada menggoda. Minho hanya memutar bola matanya dengan malas.

“waeyo? Apakah mereka akan menikah seperti Onew hyung dan Yoomin noona juga?” Taemin terbelalak ngeri membayangkan jika salah satu hyung nya akan berkeluarga lagi.

“pabo, tentu saja tidak. Aku hanya diminta Yunho hyung untuk menemani Jihye noona selama seminggu.” Ujar Minho dengan ketus.

Minho merasa ini sudah melewati batas. Tidak masalah jika mereka berpura-pura pacaran, tapi jika sampai harus tinggal dibawah atap yang sama—meski hanya untuk seminggu—tetap saja ia merasa tidak nyaman dan ia yakin Jihye juga akan merasa tidak nyaman. Bagaimana bisa Jihye menerima ide ini begitu saja? Itulah yang terus dipikirkan Minho sejak tadi. Mengingat bagaimana Jihye mengomelinya saat ia mengaku berpacaran dengan Jihye, tidak mungkin Jihye akan tinggal diam saja jika harus hidup bersama selama seminggu. Dan terlebih lagi, bagaimana jika paparazi atau fans mengetahuinya? Ia yakin gosip yang menyebar akan semakin  menjadi-jadi.

Tapi pada akhirnya, siapa yang bisa ia salahkan? Ia lah satu-satunya orang yang bertanggungjawab atas semua ini. Bagaimana tidak? Minholah yang dengan sok baik hatinya menawarkan bantuan—membuat sandiwara konyol ini. Jadi, jika memang harus ada seseorang yang maju untuk mempertanggungjawabkan semua ini, dialah orangnya.

Minho turun dari van nya dengan langkah berat setelah sampai di rumah mewah milik keluarga Jung. Setelah van melaju pergi, Minho menghela nafas pelan lalu menekan bel berkali-kali.

1 menit.

5 menit.

10 menit, masih saja tidak ada jawaban. Setelah berpikir sesaat, Minho mengeluarkan kunci dari saku celananya. Ia tau ia tidak pantas masuk ke rumah orang lain sebelum dipersilakan, tapi ia terlalu lelah dengan semua kegiatannya hari ini dan tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia butuh mandi, tempat tidur yang empuk dan bertualang di alam mimpinya sesegera mungkin.

Beruntung dirinya karena Yunho meminjamkan kunci rumah miliknya selama seminggu ini. Setelah memasukkan kunci dan memutarnya, pintu utama terbuka. Minho berjalan dengan santai melewati ruang tamu menuju ruang tengah tempat ia berhadapan dengan orangtua Jihye beberapa hari yang lalu. Minho memandang ke segala arah, mencoba mencari kamar tamu di mana ia bisa tidur tapi rumah ini terlalu besar dan seperti yang telah ia katakan tadi, ia sangat lelah. Satu-satunya kamar yang ia ingat hanyalah kamar Jihye di lantai dua. Tanpa ragu sedikitpun Minho masuk ke kamar Jihye. Minho meletakkan tasnya di sembarang tempat, dengan cepat membuka resleting tas dan mengeluarkan peralatan mandinya.

***

Jihye mengendarai mobilnya dengan santai. Ia baru saja mengantar kedua orangtuanya ke bandara dan sedang dalam perjalanan pulang. Jihye memarkir manis mobilnya dan mengeluarkan kunci dari dalam tas nya. Begitu memegang ganggang pintu, Jihye sedikit tersentak karena pintu utama dalam keadaan tak terkunci. Jihye mengernyit, mungkinkah salah satu pelayanannya masih belum pulang?

Ya, para pelayan di rumahnya selalu pulang sore malam hari setelah menyiapkan makan malam sehinngga hanya akan tersisa Jihye seorang diri saat keluarganya berada diluar negeri.

Tanpa pikiran macam-macam, Jihye melangkah masuk ke kamarnya. Jihye terlalu asyik tenggelam dalam pikirannya sendiri, tentang apa yang seharusnya ia lakukan besok dan tidak menyadari ada sebuah tas asing bertengger dilantai kamarnya. Masih dengan pikiran yang melayang-layang, Jihye beranjak ke kamar mandi.

Baru saja Jihye akan memutar ganggang pintu, pintu kamar mandi sudah terbuka terlebih dahulu. Minho berdiri diambang pintu, sehelai handuk tergantung di leher jenjangnya dengan rambut yang masih basah. Tetesan-tetesan air dari rambutnya yang belum kering menjadi satu-satunya sumber bebunyian di kamar itu.

“uhm, annyeong noona.” Sapa Minho agak canggung.

“Aaaaaaaaaaaargh!! Apa yang kau lakukan di rumah—kamar—ku?” teriak Jihye setelah ia sadar apa yang berlangsung.

“apa? Yunho hyung tidak memberitau noona? Aboeji memintaku untuk menemani noona selama seminggu.” Minho menggosok-gosokkan handuk pada rambut basahnya dan berjalan melewati Jihye untuk mengambil beberapa barang dalam tasnya.

Daripada kenyataan Minho akan tinggal bersamanya selama seminggu, Jihye lebih terkejut mendengar Minho memanggil Tuan Jung dengan sebutan aboeji.

“a-aboeji?” ulang Jihye seolah tidak mempercayai pendengarannya barusan.

“ne, neo aboeji.”

Apakah namja itu sudah gila, atau appa yang sudah gila, cemooh Jihye. Jihye menghentakkan langkahnya dan menutup pintu kamar mandi dengan suara berdebam keras. Minho terlonjak pelan menatap pintu yang kini sudah tertutup. Ia menggeleng pelan, terkadang Jihye bisa bertingkah kekanak-kanakan meski usianya lebih tua. Minho terkekeh pelan, tapi tidak membiarkan Jihye mendengarnya, siapa yang tau apa yang akan dilakukan yeoja itu? Mungkin saja Jihye melempar Minho keluar dari rumahnya tengah malam hanya karena merasa kesal.

Setengah jam kemudian Jihye keluar dari kamar mandi lengkap dengan piyama tidurnya. Ia bersiap-siap untuk mengomeli Minho lagi, tapi tidak ada suara yang ia dengar. Jihye mendelik ke sofa di samping pintu, Minho berbaring di sana dan bergerak-gerak tidak nyaman. Setidaknya Minho tidak berebut tempat tidur dengan Jihye, karena jika namja itu berani melakukannya Jihye tidak akan segan-segan mengusir Minho detik ini juga.  Jihye melompat ke atas tempat tidur dan berbaring nyaman dibawah selimut hangat. Jihye menatap langit-langit dan  membuat catatan kecil di benaknya untuk meminta kunci kamar tamu pada pelayannya besok pagi. Sekali lagi Jihye melirik ke arah Minho. Minho melipat kedua tangannya dan bergidik kedinginan. Hari ini cuaca memang agak dingin karena baru-baru ini badai salju melanda Seoul.

Sekeras apapun Jihye berusaha tidak mempedulikan Minho, hati kecilnya selalu saja menyuruhnya untuk bersikap baik.

“baiklah, aku hanya kasihan padanya, tidak lebih.” Gumam Jihye pada dirinya. Jihye beranjak turun dari tempat tidur lalu mengambil selimut dari dalam lemari besar miliknya.

Jihye meletakkan selimut tebal diatas tubuh Minho dengan hati-hati agar namja yang lebih muda darinya itu tidak terbangun. Jihye berjongkok dihadapan Minho, memperhatikan setiap lekuk-lekuk wajah Minho. Rambut hitamnya masih sedikit basah dan tetesan air masih turun dari rambutnya. Mata besar milik Minho kini terpejam rapat, membuat Jihye bisa memperhatikan bulu mata Minho yang lentik. Jihye mengangkat tangannya, meletakkannya di batang hidung Minho, perlahan-lahan turun mengikuti lekuk hidung namja itu hingga mendarat di bibir lembutnya. Tangan Jihye tak lagi bergerak, mata Jihye terpaku pada kedua bibir yang terkatup rapat itu. Flashback kejadian saat di villa kembali menghantui Jihye, membuatnya terkesiap pelan. Jihye membayangkan jika seandainya bibir sempurna dihadapannya kembali melumat miliknya. Hanya dengan membayangkan hal itu berhasil membuat wajah Jihye memanas. Buru-buru Jihye menarik tangannya dan mengembalikan ke posisi semula—disamping tubuhnya. Jihye berlari dengan cepat ke tempat tidur dan mulai menyelimuti seluruh tubuhnya hingga kepala.

“astaga! Tidak seharusnya kau membayangkan hal itu, Jung Jihye! Semua laki-laki itu brengsek!” Jihye mendesis dari balik selimut sepelan mungkin agar Minho tak mendengarnya.

“apa yang terjadi pada diriku? Aku tidak suka ada laki-laki menyentuhku, tapi aku sendiri membayangkan Minho menyentuhku. Aaargh!” erang Jihye.

***

Jihye membuka matanya perlahan dan menguap lebar. Rasa kantuknya belum hilang sepenuhnya, tapi ia tetap memaksakan dirinya untuk bangun. Jihye mengingat sosok asing yang semalam tidur di kamarnya, Jihye memalingkan wajahnya ke sofa, tapi tidak ada siapapun. Hanya ada sehelai selimut yang sudah terlipat rapi diatasnya, sedikit rasa kecewa menjalar pada Jihye. Entah kenapa ia ingin melihat namja itu saat ia membuka matanya pagi hari ini.

Jihye beranjak turun dan menghela nafas berat. Ia menghampiri sofa kosong itu, meraih selimut dan matanya menangkap secarik kertas yang diletakkan diatas selimut tersebut. Jihye meletakkan selimut itu diatas tempat tidurnya dan membaca kertas itu.

Noona, aku harus berangkat pagi-pagi.

Aku mungkin akan pulang larut malam, tidak perlu menungguku, Yunho hyung meminjamkan kunci rumah padaku.

– Minho

“Bibi Lee!” panggil Jihye kepada salah seorang wanita tua yang sudah melayani keluarga mereka sejak Jihye bahkan belum lahir.

“ne, ada apa nona?”

“tolong bersihkan kamar tamu, ada orang yang akan menggunakannya.”

Setelah Bibi Lee melakukan apa yang dipinta Jihye, Jihye kembali ke kamarnya dan bersiap-siap untuk pergi ke café.

***

Jihye berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya dengan gelisah. Sudah beberapa hari sejak ia melihat Minho di rumahnya pada hari keberangkatan orangtuanya hingga sekarang ia tak lagi melihat namja tinggi itu. Minho selalu pulang larut dan pergi pagi-pagi sekali sebelum Jihye sempat bangun. Harusnya Jihye senang, ia tidak perlu melihat namja itu. Tapi kenyataan berkata lain. Jihye justru merasa uring-uringan karenanya. Jihye selalu terbangun di pagi hari dan mencari alasan untuk menghampiri kamar tamu, tapi selalu kecewa karena mendapati kamar kosong yang sudah tertata rapi.

Hp Jihye berdering diatas meja kerjanya. Nama Yoomin tertera di layar hp milik Jihye tersebut.

“yeoboseyo, Yoomin-ah.” Sapa Jihye

“Jihye-ya, datanglah makan malam di apartemenku, eh?”

“makan malam? Ada hari besar apa kau mengundangku makan malam?” goda Jihye.

‘Noona, di mana penjepit rambut Bihyul?’ samar-samar terdengar suara Minho dari seberang telpon. Yoomin menjawab pertanyaan Minho dan kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Jihye.
”ah, mian, jadi bagaimana? Kau akan datang kan?” tanya Yoomin lagi.

“ah, ne. dan kau harus menceritakan apa yang sedang kau rayakan, araseo?” ancam Jihye dengan nada bercanda. Yoomin tekekeh pelan dan mengiyakan lalu memutuskan saluran telpon.

Tanpa banyak berpikir, Jihye meraih kunci mobil dan melaju keluar setelah memberikan beberapa pesan untuk karyawannya.

Jihye melajukan mobilnya dengan cepat, ingin segera sampai di apartemen Yoomin. Jihye memencet bel dengan tidak sabar, seolah-olah ia akan meledak saat itu juga. Minho muncul di depan pintu sambil menggendong Bihyul yang asyik menarik-narik rambutnya.

“Jihye noona, kau juga datang?” tanya Minho sambil tersenyum dan menggeser tubuhnya agar Jihye bisa masuk ke dalam. Jihye melongos masuk tanpa menjawab pertanyaan Minho. Sedetik yang lalu ia memang ingin sekali melihat namja ini, sedetik yang lalu ia bahkan memang membayangkan senyuman manis milik namja yang lebih muda darinya. Tapi sedetik setelahnya Jihye justru merasa kesal. Ia pikir Minho sangat sibuk hingga mereka tidak bisa bertemu sebelum atau sesudah bekerja di rumah. Tapi bagaimana bisa sekarang namja itu justru bersantai-santai di sini?

“Yoomin-ah, kenapa kau masak banyak sekali?” Jihye menghampiri Yoomin di dapur. Suasananya jauh lebih tenang di bandingkan ruangan depan, dan Jihye memang butuh ketenangan untuk saat ini.

“aku, hamil, Jihye-ya.” Ungkap Yoomin malu-malu. Jihye masih terdiam karena belum sepenuhnya mengerti apa yang baru saja Yoomin katakan.
”Jinja?? Wah, chukkae uri Yoomin-ah!” teriak Jihye histeris. Ia senang akhirnya Yoomin bisa mendapatkan kebahagiaannya sendiri. Sebuah keluarga bahagia yang sempurna, sama seperti impian Jihye dulu. Jihye dan Yoomin saling berpelukan dan meloncat-loncat dengan semangat untuk merayakan kabar baik ini.

“omo, omo! Hati-hati, bayimu bisa saja terguncang.” Jihye membelalak setelah sadar apa yang baru mereka lakukan.

“Bisa kau bantu aku mengambil peralatan makan?” Pinta Yoomin sambil menunjuk ke lemari. Tanpa menunggu lebih lama Jihye mengeluarkan peralatan makan yang mereka butuhkan.
”noona, kau baik-baik saja?” suara Minho berhasil membuat Jihye terkesiap, hampir ia menjatuhkan gelas yang ia pegang kalau saja ia tidak lebih sigap dan memegangnya lebih erat.

“huh?” Jihye berusaha tidak menanggapi perkataan Minho, berharap namja itu akan meninggalkannya sendirian di dapur.

“hmm, kau terlihat seperti sedang marah. Apa karena aku?” tanya Minho lagi. Minho bersender di samping lemari dan terus memperhatikan gerak-gerik Jihye. Jihye menatap Minho dengan tajam dan tertawa sinis.

“untuk apa aku marah padamu?”
Minho kembali terdiam. Bukan karena kata-kata Jihye barusan. Ia mengingat malam-malam sebelumnya, setelah ia pulang dari kegiatannya hari tiu, ia selalu menyempatkan diri untuk ke kamar Jihye dan melihat keadaan Jihye. Hampir setiap malam Minho bisa melihat Jihye mendapatkan mimpi buruk. Apa, sebenarnya apa yang membuat yeoja dihadapannya terlihat rapuh disaat bersamaan ketika ia justru terlihat kuat?

Jihye berdiri diujung jari kakinya, ia ingin mengambil piring yang diletakkan di lemari atas. Sayangnya tubuh mungilnya tidak memungkinkan ia untuk menggapai piring itu meskipun ia sudah berjinjit. Minho tersenyum kecil, melihat Jihye yang sedang berusaha sekuat tenaga benar-benar menyenangkan. Tapi ia tidak tega melihat Jihye berkutat dengan piring yang tak sanggup ia ambil lebih lama lagi. Minho berjalan mendekat dan berdiri tepat di belakang Jihye. Minho sedikit mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan meraih piring yang ingin diambil Jihye.

“biar ku letakkan diatas meja makan.” Sahut Minho dan langsung berlalu ke ruang makan meninggalkan Jihye yang masih melongo di dapur. Jihye menempelkan telapak tangannya di dada dan merasakan denyut jantungnya yang bekerja sangat cepat. Jantungnya memang selalu menggebu-gebu setiap kali ia berada di dekat namja, tapi kali ini berbeda. Jantungnya yang berdebar kencang saat Minho berada di belakangnya, saat tubuh Minho dan punggung Jihye bersentuhan jelas memberikan efek yang berbeda dengan namja lain.

***

Jihye duduk memeluk lututnya di ruang nonton. Layar tv terus bergerak-gerak menampilkan acara, tapi Jihye tidak terlalu memperhatikannya. Pikirannya terlalu penuh oleh Minho hingga ia tak lagi bisa fokus pada apa yang ada disekitarnya. Sejak makan malam di rumah Yoomin semalam, ia tak pernah bisa memalingkan wajahnya setiap kali melihat Minho dan terkadang Minho akan balas menatapnya, membuat Jihye jadi salah tingkah.

“noona? Kau belum tidur?” suara Minho membuat Jihye terkesiap. Baru satu detik yang lalu ia menyebutkan nama Minho dan sekarang namja itu benar-benar muncul, bagaimana Jihye tidak tekesiap?

“oh, kau sudah pulang?”

“ne, malam ini tidak ada jadwal lagi.” Minho melepaskan blazer yang dikenakannya dan meletakkannya di sandara sofa. Minho menghempaskan tubuhnya yang lelah di samping Jihye—yang lagi-lagi terkesiap.

“noona sedang menonton apa?” Minho ikut menatap layar tv, tidak menyadari Jihye yang sekarang mulai terlihat panik—rasa panik yang berbeda dengan yang biasa ia rasakan.

Selama setengah jam mereka duduk berdampingan dan menonton bersama. Minho menatap layar tv dengan malas karena ia memang sudah mengantuk, tapi entah kenapa ia ingin sekali bersama dengan Jihye selama mungkin. Sementara Jihye masih tidak bisa menonton dengan fokus. Terkadang Minho akan menggerakk-gerakkan tangannya untuk memperbaiki posisi duduknya, dan tanpa sengaja lengan mereka bersenggolan. Hanya dengan sentuhan seringan itu saja sudah bisa membuat Jihye merona.

“a-aku mau tidur. Selamat malam.” Ucap Jihye terburu-buru. Baru saja Jihye berdiri dari sofa dan berjalan beberapa langkah, terdengar suara gemuruh dan diikuti kilatan cahaya yang menembus jendela yang sudah tertutup rapat.

“KYAAAAAA!” teriak Jihye refleks dan langsung meloncat ke dalam pangkuan Minho. Minho terbelalak, sama sekali tidak menyangka reaksi Jihye pada petir akan seperti itu. Jihye menutupi kedua telinganya dan membenamkan wajahnya di dada Minho. Setelah suara gemuruh menghilang, Jihye mengangkat wajahnya dan menatap wajah Minho yang sangat dekat dengannya. Barulah ia sadar apa yang dilakukannya.

Jihye mencoba untuk mengakhiri posisi yang agak canggung itu, tapi tubuhnya tak bisa bergerak. Ia terkunci dalam tatapan Minho yang menatapnya dengan lembut.

Minho menatap mata besar Jihye, menelusuri setiap sel kulit Jihye dengan tatapannya. Sudah lama Minho ingin memandangi wajah Jihye dengan seksama, tapi ia selalu merasa itu adalah hal yang salah. Barulah sekarang ia memiliki kesempatan untuk melakukan itu dan menyadari bahwa keinginannya itu sebenarnya tidak salah. Ia terlalu terpesona pada yeoja yang dihadapannya, membuat akal sehatnya menghilang.

Minho mendekatkan wajahnya ke wajah Jihye sambil sesekali pandangannya turun dari mata Jihye ke bibir mungil yeoja itu. Minho memejamkan matanya perlahan-lahan dan semakin mendekati wajah Jihye.

“KYAAAAA!” teriak Jihye lagi saat cahaya kilat kembali menyeruak masuk ke dalam ruang nonton. Jihye melingkarkan kedua lengannya di leher putih Minho dan membenamkan wajahnya dibalik pundak kokoh Minho. Minho membuka matanya dan terkekeh pelan.

“noona, kau seperti anak kecil.” Ejek Minho. Dengan cepat Jihye melepaskan rangkulannya dan menatap Minho dengan galak. Minho kembali terkekeh karena merasa Jihye justru terlihat lebih manis. Jihye mendorong tubuh Minho pelan dan mencoba untuk berdiri, tapi Minho menarik tangan Jihye dan segera menggendongnya masuk ke kamar. Jihye tidak berani menatap Minho, ia tau karena wajahnya pasti sudah sangat merah sekarang.

Minho meletakkan Jihye diatas tempat tidurnya dengan sangat perlahan. Minho tersenyum manis dan mengelus puncak kepala Jihye.

“selamat malam, noona.” Minho berbalik dan bersiap untuk meninggalkan kamar Jihye. Minho merasa dirinya agak aneh akhir-akhir ini, apalagi tadi ia hampir saja ingin mencium Jihye. Mungkin karena ia kelelahan dan sangat mengantuk saat ini—itulah alasan yang ingin ia percaya.

Jihye menarik ujung kemeja Minho dan memaksa namja itu untuk berbalik dan menatap dalam-dalam sosok Jihye yang sekarang sedang tertunduk.

“tidak bisakah… kau menemaniku… sebentar?” pinta Jihye terbata-bata. Jihye duduk di tempat tidurnya dengan perasaan malu, bisa-bisanya ia menanyakan hal itu pada Minho. Ia benci mendengar suara guntur dan kilatan cahaya petir. Biasanya ia akan menghambur ke kamar Yunho dan tidur bersamanya atau ke kamar orangtuanya saat tidak ada Yunho. Tapi saat ini hanya ada Minho seorang yang bisa menemaninya. Dan jelas ia tidak ingin sendirian saja, itu membuatnya takut.

Minho sedikit memiringkan kepalanya, “memangnya apa yang ingin noona lakukan?”

“Hmm, mungkin kita bisa… hmm, mengobrol?” tanya Jihye tak yakin. Ia juga tidak tau apa yang harus mereka lakukan karena Jihye hanya tidak ingin sendirian.

Minho bergeming selama beberapa detik, lalu menyusupkan tubuhnya di atas tempat tidur Jihye. Minho memiringkan tubuhnya, membiarkan tengan kirinya menopang kepalanya dan menatap Jihye.

“jadi, sebaiknya kita mengobrol apa?” tanya Minho. Jihye sedikit memundurkan tubuhnya. Ia tidak ingin terlalu dekat dengan Minho, apalagi mereka berada diatas tempat tidur yang sama saat ini. Jihye tidak mengira kalau Minho akan menghambur naik ke tempat tidurnya. Setidaknya, ia pikir Minho bisa mengambil kursi dan duduk di samping kan?

Minho meluruskan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar Jihye lalu memejamkan matanya dengan perlahan.

“noona, kau benar-benar aneh. Terkadang kau bersikap ketus dan dingin, tapi ternyata sifatmu masih kekanak-kanakkan… Tapi, itu justru membuatmu terlihat lebih menarik. Joaheyo…” ucap Minho dengan sangat pelan.

“ne?” Jihye mengerjap beberapa kali setelah mendengarkan kata-kata Minho, benarkah apa yang baru saja dikatakan Minho? Benarkah Minho menganggapnya menarik? Jauh di dalam hatinya, Jihye merasa sangat senang. Aneh, bagaimana bisa ia merasa senang hanya karena kata-kata seperti itu?

“Omo!!” Jihye segera berbaring begitu kembali mendengar suara guntur. Jihye merapatkan tubuhnya ke Minho dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.

To Be Continue . . .

21/02/2011 – 07/03/2011

9 thoughts on “Love Still Goes On (Part )”

  1. Ya Tuhan ! Ngga sabar nunggu akhir cerita ni ff =DD
    keren banget sihh . Gak ketebak (?) =D lanjutt onniiee .. Hwaiting ! (^_^)o

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s