The Memories

Author: Chodictator

Cast: Lee DongHae

Genre: Family

Lenght: OneShot

Disclaimer: Lee DongHae punya appaeommanya, punyaSMent, punya yang Di Atas 🙂 The story 100% mine.

Menurut kalian, siapakah orang yang berharga dalam hidup kalian? Orang yang ingin kalian jadikan panutan? Mungkin kalian akan menjawab tokoh-tokoh terkenal, guru, teman, orangtua, bahkan kekasih kalian sendiri. Aku akan bercerita sedikit tentang orang yang berharga dan orang yang sangat mencintaiku dan kucintai dalam hidupku, ayahku. Aku mempunyai kisah sendiri tentang ayahku.

_________________________________________________________

“Appa!! Appaa..!” seorang anak kecil yang berusia sekitar 3 tahun berlari dari taman belakang rumahnya menghampiri appanya yang baru saja pulang kerja. “Appa! Ayo kita main..” ucap anak itu sambil memeluk appanya. “DongHae-ya~ Appa baru saja pulang kerja. Ia pasti lelah, biarkan appa beristirahat dulu..” bujuk ibunya kepada anak semata wayangnya yang sedang digendong oleh suaminya. Wajah anak itu berubah menjadi awan hitam. “DongHae-ya~ Arraseo, gwenchana. ayo kita bermain, tapi appa taruh tas dan mantel dulu ya.” jawab appanya dengan tenang. Wajah anak kecil bernama Lee DongHae itupun kembali seperti sedia kala.

Ayahku seperti robot. Ayahku tidak memedulikan betapa lelah dirinya. Asalkan ia tidak melihat wajahku ditekuk, kurasa segala letih di pundaknya akan menguap begitu saja. Aku ini egois, tanpa memedulikan ayah ku yang lelah, aku tetap memaksakannya untuk memenuhi keinginanku.

_________________________________________________________

“Appa, hari ini hari Minggu! Ayo kita ke taman.” rengek DongHae yang sudah berusia 5 tahun. “Taman? Baiklah, tapi appa selesaikan pekerjaan appa dulu, Arraseo?” tanya appa. “Shiro! Aku mau ke taman sekarang!” DongHae masih merengek. Kemudian appa meninggalkan pekerjaannya dan menemani DongHae bermain ke taman. Mereka bermain bersama sampai jam enam sore. Sesampainya di rumah, mereka makan malam bersama eomma, setelah itu appa masih harus menemani Donghae bermain dan membacakannya dongeng sebelum tidur. Semua karena Donghae memaksa appa.

Aku sungguh egois pada saat itu. Tanpa memedulikan keadaan appa yang sedang sibuk dengan pekerjaan kantornya. Kudengar, keesokan harinya appa dimarahi oleh atasannya karena pekerjaannya yang belum selesai, tapi sepulang kerja appa masih bisa tersenyum tulus kepadaku. Padahal aku tahu, hati appa pasti sakit karena dimarahi oleh atasannya dan atasan appa kehilangan kepercayaan padanya.

_________________________________________________________

“DongHae-ya~ Tebak apa hadiah appa padamu tahun ini?” tanya appa yang membuat DongHae kecil penasaran. “Apa itu?” tanyanya. “Kemarilah, appa tunjukan padamu..” ajak appa dan membawa DongHae ke taman rumah. “Sepeda!” jawab DongHae berbinar. “Benar, kau bisa bersepeda bukan?” tanya appa. “Ne, ayo appa kita ke taman!” ajak DongHae dengan bersemangat.

Setelah itu mereka pergi bersama ke taman untuk bermain sepeda.

“Appa! Lihat aku bisa naik sepeda roda dua!” ucap DongHae dengan bangga dan menoleh ke arah appanya. Sehingga tanpa sadar di depan DongHae ada sebatang pohon besar,”Awas!..” appa berteriak namun  DongHae pun terjatuh dari sepeda karena menabrak pohon di depannya. “DongHae!” appa berteriak panik. Air mata mulai menggenangi pelupuk mata DongHae. “Uljima.., DongHae-ya~ Kau ini laki laki. Jadi, lain kali kalau berjalan atau naik sepeda lihatlah ke depan. Menangis hanya membuat lututmu ini semakin perih.” nasihat appa sambil menggedong DongHae pulang.

Appa yang saat itu membantuku agar berdiri lagi tanpa meneteskan air mata. Hati appa yang hangat seperti tungku perapian yang selalu menghangatkan kami dalam kesusahan, namun memiliki hati yang kuat seperti baja, dimana dia tidak pernah menangis di hadapan semua orang. Semua ajaran appa selalu kugenggam erat.

_________________________________________________________

“Begini, tanganmu diletakkan disini, pada kata ‘Neo’ ubah posisi tanganmu kemari..” appa yang sedang mengajarkan DongHae gitar dengan sabar pun tersenyum melihat ketekunan anaknya. “Benar, seperti itu!” puji appa saat mendengar permainan DongHae. “Appa, kalau diajari olehmu, kurasa belajar gitar pun mudah..” puji DongHae sambil mencium pipi appa. “Hahaha, belajarlah lebih tekun, appa jamin kau akan semakin pandai..” nasihat appa.

Saat itu appa melebihi guru musikku, ia bagaikan ayah terpandai yang pernah ada di muka bumi ini. Appa selalu mengajariku dengan sabar, apalagi aku sering sekali melakukan kesalahan. Ia mengajariku cara yang benar dan berkata bahwa kesalahan membawa kita menuju kesuksesan. Itulah kata kata yang kupengang dalam hidupku.

_________________________________________________________

“Pokoknya aku mau masuk ke dalam band sekolah dan appa tidak ada hak untuk melarangku!” teriak DongHae yang pada saat itu berusia 15 tahun pada appa nya. “Tapi, DongHae-Ya~ wak…” BLAM! Belum sempat appa nya menyelesaikan pembicaraan, DongHae sudah membanting pintu kamarnya. Appa nya kecewa melihat sikap anak yang sangat disayaginya. Appa pun berjalan kedepan pintu kamar DongHae dan berkata, “Bukannya appa melarang hak-mu. tapi appa hanya menasehati kalau sebaiknya kau tidak bergaul dengan anak anak seperti itu..” “Memangnya mereka kenapa?!” DongHae mebalasnya dengan teriakan. “Kau tahu, kalau pergaulan mereka kadang terlalu bebas…” “KADANG!!” DongHae semakin menjadi jadi menjawabi ayahnya. “Dong…..” Bruk.

Saat itu aku merasa aku adalah anak yang paling durhaka. Dalam diam aku menangis di kamar. Saat itu appa pingsan kerena terlalu lelah, apalagi appa mempunyai penyakit jantung. Karena bertengkar denganku, penyakit appa kambuh dan ia harus masuk rumah sakit selama seminggu. Saat appa tersadar, ia tersenyum kepadaku seakan aku tidak pernah bersalah padanya dan akupun menangis meminta maaf.

_________________________________________________________

Hari ini adalah hari kelulusanu dari perguruan tinggi. Setelah sekian lama menempuh jenjang pendidikan, aku berhasil lulus dan memuaskan kedua orangtuaku. Hari ini appa berjanji akan datang, eomma tidak dapat hadir karena harus menjaga nenek yang sedang sakit. Aku pun dengan cemas menanti kehadiran appa.

Para orangtua sudah banyak berdatangan untuk melihat hari kebanggaan bagi mereka dan anaknya. Namun, appa belum juga terlihat batang hidungnya. Hingga saat acara itu dimulai, appa tak kunjung datang. Saat namaku dipanggil untuk naik ke atas panggung. Aku masih terus mencari sosok ayahku. Namun hasilnya tetap tidak ada, satu hal yang kusimpulkan: Appa tidak datang.

Saat aku turun dari panggung, seseorang menepuk bahuku dan berkata dengan panik,”DongHae! Appa mu.. dia, dia… mengalami kecelakaan!!” Tanpa kusadari aku menjatuhkan sertifikat kelulusanku dan berlari begitu saja ke rumah sakit yang sudah keketahui alamatnya terlebih dahulu.

_________________________________________________________

Selang dan tabung oksigen itu dipasangkan, monitor yang menampilkan detak jantung seorang pasien berbunyi semakin lemah. Aku menghampiri tubuh appa ku yang kaku, berusaha agar air mataku tidak menetes. Kugenggam pelan tangan appa yang besar itu dan berbisik padanya,”Appa, bagunlah… Anakmu ada disini… Kumohon buka matamu, setidaknya berkatalah bahwa aku tidak boleh menangis… Appa..” tak bisa kubendung air mataku yang lama kelamaan membuat sungai kecil di pipiku. Suara detak jantung nya semakin melemah dan tengan appa semakin dingin. Tiba tiba suara datar yang panjang itu berbunyi, para dokter dan perawat itu berlari masuk. Seketika itu juga air mataku tumpah. Dengan sangat berat aku melepaskan tangan appaku. Appa yang selama ini selalu melindungiku, mengajariku dengan cintanya yang tulus.

Aku menangis di sebelah meja pasien, kulihat kacamata appa yang retak dan jam tangan tuanya pecah. Pintu kamar tiba tiba terbuka dan eomma berlari menghambur memelukiku, ia menangis sekencang kencangnya, aku tahu kalau hatinya sangatlah sakit. Sekelebat bayangan bayangan masa kecil ku bermunculan. Saat appa mengantarkanku yang baru duduk di tingkat satu SD, saat appa tersenyum tulus padaku. Saat kami memancing bersama, bermain bersama, saat appa yang tersenyum bangga melihat anaknya bernyanyi dalam pentas musik sekolah. Aku segera berusaha meredam tangisku, perasaanku kacau. Appa yang selama ini melindungi, menasehati, yang selalu melalui hari hari bersama ku telah pergi. Untuk selamanya. Tak akan pernah kembali.

Saat itu aku merasa lemah, dan sangat ringkih. Aku kehilangan panutanku. Namun aku terus mengingat nasihat appa. Aku mencoba agar tidak terlarut dalam kesedihanku. Aku percaya bahwa appa pasti membimbingku dari atas sana.

_________________________________________________________

The loneliness of nights alone

the search for strength to carry on

my every hope has seemed to die

my eyes had no more tears to cry

then like the sun shining up above

you surrounded me with your endless love

Coz all the things I couldn’t see are now so clear to me

You are my everything

Nothing your love won’t bring

My life is yours alone

The only love I’ve ever known

Your spirit pulls me through

When nothing else will do

Every night I pray

On bended knee

That you will always be

My everything

Now all my hopes and all my dreams

are suddenly reality

you’ve opened up my heart to feel

a kind of love that’s truly real

a guiding light that’ll never fade

there’s not a thing in life that I would ever trade

for the love you give it won’t let go

I hope you’ll always know

You’re the breath of life in me

the only one that sets me free

and you have made my soul complete

for all time

(Lee Donghae- My Everything)

I Have a wish,

I’d wish for my father to come to my concert, even if it’s just once.

_________________________________________________________

The End~~

thanks for some people who give me inspiration 😀  (no plagiat or copy cat)

nb: dalam rangka dipublish di blog tetangga (?)

Thanks buat readers yang udah baca ataupun komen.

m(_ _)m

14 thoughts on “The Memories”

  1. Woah =.=
    keren bangetlaah .. =D
    aku sukasukasuka ..
    Cuma kurang berasa (?) gitu karena pendek =.=

    hehe
    buat lagi ya ching =D

    1. hehe, iya ini juga buat ngingetin supaya ga kurang aja sama ortu. soalnya aku sering liat temen” di timeline twitter ngata”in ortu mreka sendiri. Mereka mungkin udah lupa siapa yang ngebimbing & ngebiayain hidup mreka dari kecil 🙂 #curhat. Semoga kita bisa ngehargain waktu yg diberi bersama mereka. Soalnya kita juga ga tau kapan bakal terpisah~
      gomawo udh baca chingu!^^

  2. annyeoooong
    aih bener-bener bikin terharu dan sukses bikin aku nangis T.T
    dapet banget feel nya, wkt bayanginnya jg gampang, ini bener-bener donghae banget hehe
    daebak hihi
    sepuluh jempol (?) buat author hehe 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s