Triangel Love Part 1

Author                  : Vay ^_^

Cast                       : Shinee, Key, Onew, Jonghyun, Minho, Taemin, B2ST, Dongwoon, Dojoon, Hyun Seung, Junhyung, Yeoseob, Gikwang

Genre                   : Romane, Friends, Family

Length                  : Continue

Author POV

“Keeeeeeyyyyyy . . .!!” suara lengkingan itu terdengar lagi. Key yang sudah terbiasa mendengarnya setiap pagi, menghampiri sumber suara dengan santai.

“Waeyo?” Tanya Key sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Sudah berapa kali aku bilang. Jangan simpan sepatu di ruang tamu. Simpan langsung ke rak sepatu, dan jaket ini. Kenapa kau simpan di sofa ruang tamu?”

“Neeeeee . . .!!” jawab Key sambil melengos masuk kembali ke dalam kamar.

“Keeeeeyyyy . . .!!”

Key POV

Suara teriakan itu sudah biasa aku dengar setiap pagi. Dia adalah istriku. Kalian pasti bertanya-tanya, kenapa Key Shinee bisa mempunyai seorang istri. Padahal perusahan sangat melarang artisnya menikah sampai batas umur yang sudah ditentukan. Namanya Park Seung Won, umur kami sama hanya berbeda bulan. Kami menikah ketika umur kami berumur 20 tahun. Kami memang terlalu muda untuk menikah, apalagi mengingat pekerjaanku sebagai artis. Tapi karena permintaan kedua orang tua kami, akhirnya dengan terpaksa aku dan Seung Won menikah. Yang mengetahui pernikahan kami hanya member Shinee, manager Shinee, pihak perusahaan SME dan pihak keluarga kami berdua. Kami tinggal di sebuah rumah pemberian orang tuaku. Pernikahan kami sudah berjalan selama dua tahun. Kami belum mempunyai anak karena kami berpikir, kami masih terlalu muda dan belum siap untuk itu. “KAMI MASIH TERLALU MUDA.” Itulah jawaban yang kami berikan kepada orang-orang yang bertanya tentang anak.

“Key, ayo bangun! Barusan Onew oppa menelpon, dia bilang jam 10 nanti kalian ada jadwal perform. Ayo cepat bangun!” kudenga suara Seung Won di telingaku. Kubuka mataku perlahan dengan malas.

“Wae? Aku masih mengantuk.” Jawabku malas kemudian menenggelamkan kepalaku kebawah bantal. “Memangnya sekarang jam berapa?”

“Baru jam 8.”

“Bangunkan aku jam 9 saja!” pintaku.

“Andwae, kau harus bangun sekarang! Kau tidak sadar, kau bisa menghabisakan waktu selama satu jam hanya untuk mandi. Cepat bangun!” ucapku kesal. Seung Won menarik selimut yang menutupi tubuhku dengan paksa.

“Ne, baiklah. Arraseo, aku bangun sekarang.” Aku bangkit dari tidurku kemudian terduduk di pinggir tempat tidur untuk mengumpulkan nyawa. Setelah semua nyawaku terkumpul, kulangkahkan kakiku dengan gontai menuju kama mandi. Setelah selesai bersiap-siap, aku berjalan menuju dapur. Di meja makan sudah tersedia menu sarapan sederhana yang sudah disiapkan Seung Won.

“Onew oppa barusan menelpon lagi, dia bilang kau harus sudah ada di KBS sebelum pukul 10.” Jelasnya sambil membawa segelas air minum untukku.

“Baiklah . . .” jawabku sambil memasukkan telur dadar ke dalam mulut. “Aku pergi dulu, kau hati-hati dirumah!”

“Key!” panggil Seung Won setengah berlari menghampiriku.

“Wae?”

“Jam berapa kau akan pulang?”

“Mollayo, kau kan tahu jadwalku bisa saja berubah tiba-tiba. Waeyo?”

“Baiklah aku mengerti, tidak apa-apa. Aku hanya bertanya.”

Seung Won POV

Kupandang punggungnya yang menghilang di balik pintu. Tiba-tiba saja aku merasa pusing dan perutku terasa mual. Aku langsung berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutku.

“Apa yang harus kulakukan. Apakah aku harus mengeceknya? Tapi kalau apa yang aku takutkan benar terjadi bagaimana? Dia pasti akan marah besar.”

Kulajukan mobilku di keramaian kota Seoul. Kuarahkan menuju Rumah Sakit Seoul Centre. Aku langsung naik menuju lantai 2 rumah sakit tersebut dan menuju klinik kandungan. Setelah mendaftar dan menunggu namaku dipanggil oleh suster, aku langsung masuk kedalam ruangan dokter.

“Selamat nyonya Seung Won, anda positif hamil. Dan usia kandungan anda sudah 4 minggu.” Ucap dokter itu ramah. Diwajahnya memancarkan kebahagiaan, seakan dialah yang mengalami hal ini. Tapi tidak bagiku, ini bagaikan bencana bagiku. Bukan karena aku hamil, tapi karena Key akan sangat marah kalau mengetahui aku hamil. Dia tidak akan menerima kehamilanku ini. Saat keluar dari ruangan dokter, aku bertemu dengan Hye Jin eonni. Dia adalah kekasih dari Onew oppa.

“Seung Won, kau sedang apa disini? Apakah kau . . .” wajahnya terlihat berbinar. “Ya! Jangan-jangan kau hamil?” tebaknya dan langsung mengenai sasaran.

“Aniyo eonni, aku hanya mengecek lambungku saja. Akhir-akhir ini aku sering mual dan pusing, tapi dokter bilang aku hanya kelelahan.” Tukasku.

“Kau pasti bohong.” Hye Jin eonni langsung menarik tanganku masuk kembali ke ruang dokter. “Eonni!!” teriaknya. Oh tidak, jangan katakan kalau dokter Kim adalah kakak dari Hye Jin eonni. “Eonni, apakah Seung Won hamil?” tanyanya to the point.

“Wae? Kau mengenalnya Hye Jin-ah??” Tanya dokter Kim heran. Hye Jin eonni hanya mengangguk dan menatap dokter Kim meminta jawaban. “Ye, dia hamil. Dan usia kandungannya sudah 4 minggu.” Jelas dokter Kim. Aku pasrah, umurku mungkin hanya sampai disini.

“Waaaaaa . . . aku akan mempunyai keponakan. Seung Won-ah, chukkae!” Hye Jin eonni langsung memelukku erat.

“Hye Jin, berhenti teriak-teriak seperti itu. Ini Rumah Sakit bukan rumah.” Marah dokter Kim.

“Mianhae eonni. Aku hanya terlalu senang saja. Oh ya, aku kesini hanya mau mengantarkan ini.” Hye Jin eonni memberikan sebuah rantang makanan pada dokter Kim, lalu menarikku keluar ruangan.

Hye Jin eonni mengajakku mengobrol di café yang berada di seberang rumah sakit. Aku memesan Lemon Tea hangat dan Hye Jin eonni memesan Cappucino dingin.

“Seung Won, kenapa kau mengelak tentang kehamilanmu?” Tanya Hye Jin eonni langsung. Dia menatap tajam mataku.

“Eonni, sebenarnya aku . . .” aku ragu menceritakan masalahku padanya. Tapi walau bagaimanapu, aku tidak akan bisa menanggung masalah ini sendiri.

“Setelah dari sini, aku akan menemui mereka di SBS. Kau mau ikut? Sekalian memberitahu Key dan yang lainnya tentang kehamilanmu.”

“Jangan!” teriakku sehingga para pengunjung café memandang kami. Aku membungkukkan badanku meminta maaf.

“Seung Won-ah, ada apa? Kenapa kau tidak mau memberitahukan berita bahagia pada mereka?”

“Eonni, ada satu hal yang harus kau tahu.” Kujelaskan permasalahanku pada Hye Jin eonni.

“Itu kan disaat awal-awal kalian menikah. Mungkin saja saat ini Key sudah siap mempunyai anak, kau tidak boleh pesimis seperti itu. Lagipula mana ada laki-laki yang tidak senang istrinya hamil.”

“Eonni tidak mengerti. Key belum mau mempunyai anak sampai umur kami 25 tahun.”

“Omong kosong. Sekarang kau ikut aku, kita temui dia. Kau harus tetap memberitahukannya.” Hye Jin eonni menarikku masuk kedalam mobilnya.

Akhirnya kami sampai di halaman parker gedung SBS. Dengan ragu dan takut, kulangkahkan kakiku masuk kedalam gedung itu bersama Hye Jin eonni. Hye Jin eonni mengetuk sebuah pintu yang didepannya terdapat tulisan SHINee.

“Masuk!” sebuah suara dari dalam ruangan itu mempersilakan kami untuk masuk. Tanpa ragu, Hye Jin eonni membuka pintu itu.

“Chagi, ternyata kau yang datang. Ada apa?” sambut Onew oppa langsung memeluk Hye Jin eonni. Sedangkan Key hanya melirikku dari cermin yang berada di hadapannya, karena dia sedang di make up. “Seung Won, kau juga juga datang rupanya.” Sapa Onew oppa saat menyadari kehadiranku. Aku sedikit membungkukkan badanku memberi hormat padanya. “Ayo duduk!” ajaknya. “Hei key, kau tidak menyapa istrimu?” tegur Onew oppa pada Key yang tidak menyapaku sejak aku datang.

“Aku baru akan menyapanya sekarang. Kau tidak lihat aku kan tadi sedang di make up.” Timpalnya kemudian berjalan ke arahku. Dia langsung mengecup bibirku kilat dan duduk di sampingku lalu merangkul tubuhku. “Apa yang membuatmu datang kesini? Aku yakin ada suatu hal, karena kau tidak mungkin datang kalau kau tidak punya suatu hal untukku kan?” Key benar, aku mana mau datang menghampirinya ke tempat dia sedang bekerja kecuali itu acara yang sangat penting atau ada yang harus aku berikan untuknya. Seperti makan siang. Dan kali ini aku tidak membawa makan siang, aku harus beralasan apa?

“Hye Jin eonni yang mengajakku kesini.” Jawabku cepat sedikit gugup tapi tetap berusaha terlihat tenang. Tapi untung saja Key tidak curiga.

“Memangnya kalian bertemu dimana?”

“Tadi aku bertemu dengannya di dokter kandungan.” Sontak semua menoleh menatap Hye jin eonni lalu berpaling padaku. Mereka menatapku dengan tatapan-apakah kau hamil? Apalagi Key, dia menatap tatapan membunuh padaku.

“Kau hamil?” Tanya Key dengan nada suara sedikit tinggi. Aku tahu dia akan bereaksi seperti ini.

“A . . . ani!” timpalku cepat. Kurasakan kini Hye Jin yang menatapku dengan tatapan membunuh. “Aku ke dokter kandungan karena akhir-akhir ini aku merasa mual dan pusing. Tapi ternyata, aku hanya kelelahan saja. Kau tidak perlu khawatir Key!” jelasku lancar. Terlihat kelegaan di wajahnya.

“Shinee 5 menit lagi!” teriak seorang staff acara.

“Jagi, kau mau menonton dimana?” Tanya Key lembut sambil mengusap pelan puncak kepalaku.

“Ani, aku akan menonton kalian dari sini saja.”

“Baiklah, kami tinggal dulu.”

“Ne.” sebelum pergi, Key mencium puncak kepalaku.

Tidak berapa lama setelah mereka keluar, tiba-tiba perutku terasa mual dan kepalaku pusing. Aku langsung berlari keluar ruangan menuju toilet dan mengeluarkan isi perutku disana.

“Seung Won-ah, gwaenchana?” Tanya Hye Jin eonni yang mengikuti ke toilet.

“Gwaenchana eonni.”

“Sebaiknya kau ceritakan tentang kehamilanmu ini pada Key. Kalau kau begini terus, kau bisa menyiksa dirimu juga bayimu.” Terdengar nada khawatir dari ucapannya.

“Ani, tidak sekarang eonni. Ada saatnya aku akan menceritakan kehamilanku ini pada Key.”

“Sampai kapan? Sampai perutmu ini baru terlihat besar?” Tanya Hye Jin eonni dengan nada tinggi.

“Eonni jebal!” rengekku memohon padanya.

“Mianhae!” nada suaranya mulai rendah. “Lebih baik sekarang kita kembali ke ruang tunggu saja.”

“Ne.” jawabku lemah.

Setelah menunggu selama 10 menit, mereka kembali ke ruang tunggu.

“Wah, chukka!!” teriak Hye Jin eonni saat mereka masuk lalu langsung memeluk Onew oppa.

“Jagi, kau pucat. Apakah kau sakit?” tegur Key.

“Jeongmal?” tanyaku pura-pura tidak percaya.

“Key, sebaiknya sekarang kau antar dia pulang. Lagi pula kita sudah tidak ada jadwal lagi setelah ini. Untuk penutupan acara bisa kami berempat saja yang hadir.”

“Ne hyung, gomawo!”

“Key, mobil Seung won masih ada di rumah sakit. Biar nanti aku dan Onew yang antar ke rumah kalian.” Ucap Hye Jin eonni. Aku tersenyum dengan perhatiannya padaku.

“Gomawo nuna!”

Setelah membereskan barang-barang miliknya, Key membawaku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku langsung istirahat di kamar untuk tidur. Sebelum itu Key menyelimuti dan mencium keningku terlebih dahulu.

“Jaljayo!” ucapnya seraya tersenyum.

Kubuka mataku dan baru kusadari hari sudah malam. Aku tahu dari keadaan langit yang gelap melalui kaca jendela. Kulangkahkan kakiku keluar kamar, keadaan ruang tengah sangat gelap. Tapi kulihat ada sebuah cahaya di dapur. kulangkahkan kakiku kesana, dan kulihat Key sedang duduk disana dengan sebuah lilin yang menyala dihadapannya. Kudekati dia dan duduk di kursi yang ada di hadapannya. Kini hanya meja makan yang memisahkan kami berdua.

“Key, apa yang sedang kau lakukan?” tiba-tiba dia mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk lalu menatap tajam mataku. “Key, kau membuatku takut. Jangan menatapku seperti itu!” pintaku dengan nada manja. Key mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya, sementara aku masih bingung tidak mengerti dengan tingkahnya yang menurutku sangat aneh. Dia meletakkan sebuah amplop besar berwarna cokelat dihadapannya. Saat melihat amplop itu, keringat dingin mulai kurasakan membasahi tubuhku. Aku sangat mengenali amplop besar berwarna cokelat itu. Amplop hasil tes kehamilanku. “Key . . .” lirihku.

“Sejak kapan?” terdengar nada kecewa dari suaranya, dan samar-samar dapat kulihat raut kekecewaan dan sedih dari wajahnya.

“Aku sudah merasakannya semenjak seminggu yang lalu, tapi aku baru memeriksanya hari ini.” Jawabku takut.

Tidak ada lagi tanggapan darinya, karena dia langsung masuk kedalam kamar lalu membanting pintunya dengan keras. Aku tersentak kaget melihatnya, rasanya ada yang menekan dadaku dengan keras. Tidak tertahan lagi, aku akhirnya menangis. Kututup wajahku dengan kedua tanganku, sedikit meredam suara tangisku.

Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Dan aku masih terduduk lemah di kursi dapur. kulangkahkan kakiku masuk kedalam kamar, kulihat Key tertidur pulas di tempat tidur. Kutatap wajahnya yang terlihat resah dan lelah.

“Mianhae!” ucapku tanpa mengeluarkan suara sambil mengusap lembut wajahnya. Kulangkahkan kakiku menuju sofa yang berada yang berada di depan pintu kaca yang berhubungan langsung dengan balkon kamar. Kunikmati langit yang masih gelap sampai akhirnya aku tertidur.

Semenjak Key mengetahui kehamilanku, sikapnya langsung berubah 1800 padaku. Dia bersikap seolah-olah aku tidak ada. Awalnya aku mengerti dengan sikap diamnya padaku, tapi ini sudah seminggu dan aku sudah tidak tahan. Aku lebih suka dia memakiku habis-habisan daripada dia bersikap seperti ini. Sikapnya membuatku tertekan. Setiap hari setiap Key pergi, aku selalu menangis. Bahkan hampir setiap hari dia tidak pulang, kalaupun pulang dia hanya untuk berganti baju. Dan hari ini adalah batas kesabaranku menghadapi sikapnya. Kuputuskan untuk pergi dari rumah, mungkin dengan begitu Key akan lebih tenang tanpa terganggu dengan kehadiranku dan calon anak kami. Kutinggalkan catatan kecil untuk Key sebelum aku pergi.

Dear Key

Mianhae, bila aku tidak bisa menjaga kepercayaanmu agar aku tidak hamil dulu. Tapi percayalah, sebenarnya aku pun belum siap dengan kenyataan ini. Akupun sama denganmu, aku masih muda. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Dia percaya kalau sudah saatnya kita mempunyai anak.

Aku pergi karena aku sudah tidak tahan dengan sikap diammu padaku. Lebih baik kau memaki diriku, dari pada di perlakukan seperti ini. Tenang saja, setelah ini aku dan calon bayi dalam perutku ini tidak akan mengganggu hidupmu lagi. Jaga dirimu baik-baik. Kau juga tidak perlu takut, saat anak ini lahir aku akan tetap mengenalkanmu sebagai ayah kandungnya. Karena aku yakin, suatu hari nanti kau akan menerima kehadiran anak ini.

Saranghae

Kuhentikan sebuah taksi dan memintanya mengantarku ke stasiun. Setelah membeli tiket kereta, aku langsung naik ke dalam kereta yang akan membawaku ke sebuah tempat. Tempat yang akan menjadi awal kehidupan baruku dan anakku nantinya.

Kuinjakkan kakiku di tanah kelahiran halmeoni, Busan. Terakhir aku ke sini ketika halmeoni meninggal. Tidak ada yang tinggal di rumah halmeoni sejak saat itu. Dan kini, aku yang akan menempatinya. Kebetulan aku yang memegang kunci rumahnya, karena saat aku menikah dengan Key. Aku berencana mengajaknya kemari untuk berlibur, tapi karena jadwal kegiatannya yang sangat padat kesempatan itu belum juga datang. Aku yakin Key tidak akan tahu keberadaanku disini, karena saat halmeoni meninggal aku dan Key belum saling mengenal.

Aku menatap kagum bangunan yang kini ada di depan mataku. Meskipun tidak yang tinggal di rumah halmeoni, rumah itu masih berdiri kokoh. Kulangkahkan kakiku masuk kedalamnya. Warna putih mendominasi rumah halmeoni, karena halmeoni sangat menyukai warna putih. Banyak kesamaan antara aku dan halmeoni. Mulai dari warna kesukaan, warna kesukaan, bahkan alat music yang kami sukai pun sama yaitu piano. Setiap aku berlibur di rumah halmeoni, kami selalu bermain piano bersama. Bahkan eomma memberikan nama halmeoni padaku juga, Park Seung Won. Aku sangat menyayangi halmeoni.

Saat kubuka pintu rumah halmeoni, debu-debu rumah itu langsung menyambutku. “Uhuk . . . uhuk . . .!!” tanpa menyimpan barang-barangku terlebih dahulu, aku langsung membersihkan setiap sudut rumah itu. Setelah bersih-bersih, kuangkat koperku menuju kamar harabeoji dan halmeoni. Tidak terasa sudah waktunya makan malam, dan aku lupa membeli bahan makanan. Akhirnya aku harus mencari makan malam di luar. Setelah menemukan sebuah kedai makanan aku memesan nasi goring kimchi untuk menu makan malamku. Saat sedang menunggu pesananku, tiba-tiba seseorang memanggilku.

“Seung Won!” kualihkan pandanganku pada sumber suara.

“Dongwoon?” aku menatap heran namja yang kini ada dihadapanku. “Apa yang sedang kau lakukan disini?”

“B2ST sedang ada acara disini.” Jawabnya yang kini sudah duduk di sampingku. “Kau sendiri?”

“Aku sedang berlibur di rumah halmeoni.”

“Eodi?”

“Di ujung jalan sana.” Aku menunjuk jalan di sebelah kananku.

“Jeongmal? Kami juga menginap disana.”

“Baguslah. Bagaimana keadaan Dojoon oppa?”

“Ya! Kau masih menjadi fansnya ternyata.” Terdengar nada kecewa ari ucapannya. Aku hanya terkekeh.

“Ne, tentu saja. Aku bukan tipe orang yang mudah pindah ke lain hati.”

“Aish, padahal aku ini temanmu sejak kecil.”

“Karena aku tidak bisa menyukai orang gila sepertimu. Hahahaha . . .”

“Oh ya, setelah kelulusan SMA kau kemana? Kau seakan di telan bumi. Aku mencarimu ke rumahmu, tapi tetanggamu bilang kau dan keluargamu pindah. Padahal saat itu aku ingin mengundangmu ke acara debut pertamaku sebagai member B2ST.”

“Mianhae, aku tidak memberitahumu. Aku tidak bermaksud. Saat itu terlalu mendadak dan aku tidak sempat untuk memberitahumu. Jeongmal mianhae!”

“Arraseo, yang penting sekarang aku sudah menemukanmu dan tidak akan kubiarkan kau lepas dariku lagi.”

“Hahahahaha . . .!!” aku tertawa mendengar pengakuannya. Pada saat itu makanan yang kupesan sudah jadi. “Dongwoon-ah, hari sudah malam. Aku harus pulang sekarang.”

“Ne, kalau begitu kita pulang bersama. Agar aku bisa tahu dimana rumah halmeonimu.”

“Kaja!”

Sepanjang perjalanan pulang, kami banyak bercerita tentang kenangan masa kecil kami. Aku dan Dongwoon sudah saling mengenal sejak kami bersekolah di TK. Aku dan Dongwoon selalu saja bersekolah di tempat yang sama secara kebetulan sehingga membuat kami menjadi dekat.

“Dongwoon-ah sudah sampai. Gomawo!”

“Cheonmaneyo. Dan kau lihat rumah itu?” Dongwoon menunjuk sebuah rumah berpagar hijau. “Itu adalah tempat kami menginap. Besok pagi datanglah kesana!”

“Ne, akan aku usahakan.”

“Cepat masuk! Cuacanya sudah semakin dingin.”

“Ne, annyeong!”

“Annyeong!”

Kuhirup udara pagi, rasanya sangat segar saat masuk kedalam paru-paru. Udara pagi yang tidak akan pernah kudapatkan di Seoul. Kutengok rumah yang di tunjuk Dongwoon tadi malam.

“Sepertinya mereka masih tidur.” Gumamku lalu melirik jam tam tangan yang melingkar di tangan kiriku. “Pantas saja, sekarang masih pukul 6 pagi.” Pagi ini aku memutuskan untuk belanja membeli bahan makanan.

Saat pulang dari pasar, kulihat Dongwoon sedang duduk di kursi yang berada di halaman rumah. “Dongwoon, sedang apa kau?” tanyaku heran.

“Aku ke pasar membeli bahan makanan.”

“Aigo . . . kau belanja banyak sekali.” Ucapnya terkagum. “Memangnya kau mau tinggal disini sampai kapan?” aku hanya terkekeh.

“Sudahlah, ayo kita masak. Akan kubuatkan sarapan untuk kalian.”

“Kalian?”

“Kau tidak mau berbagi dengan hyung-hyungmu?”

“Oh . . . arra!”

Pagi itu aku memasak dibantu oleh Dongwoon. Meskipun sebenarnya dia tidak terlalu membantu, hanya ikut mengotori dapur saja. Selesai memasak, Dongwoon langsung memanggil hyung-hyungnya. Dalam waktu kurang dari 5 menit, mereka semua sudah berkumpul.

“Ya! Itu ayam milikku hyung!” teriak Dongwoon saat ayam gorengnya direbut Yeoseob oppa. Aku jadi ingat dengan Onew oppa. Hahaha . . .

Suasana sarapan pagi itu sangat ramai, membuatku rindu saat makan bersama member SHINee.

“Seung Won-ah, kau bilang ini adalah rumah halmeonimu. Tapi semenjak kami datang tadi pagi, aku tidak melihatnya.” Ucap Dojoon oppa.

“Mianhae, tapi beliau sedang pergi dari kemarin. Jadi hanya aku sendiri sekarang yang ada di rumah ini.” Ucapku bohong. Aku tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada mereka.

“Nanti siang kami akan kembali ke Seoul, kau mau ikut bersama kami?”

“Ani, aku baru sampai disini kemarin oppa. Tidak mungkin aku kembali Seoul sekarang. Aku masih libur.”

“Saat kau pulang ke Seoul nanti kau harus main ke dorm kami.”

“Ne.”

“Yaksok?” Tanya mereka serempak.

“Ne.” jawabku tersenyum.

TBC . . .

7 thoughts on “Triangel Love Part 1”

  1. waaa,keren…
    Penasaraaan ama sikap key ntar,,
    lanjutannya cepet2 ya chinggu. :p

    O ya,aku readers baruu ^^

  2. ah seneng bgt, ada shinee ada b2st juga.. *_*
    bagus ff nya..part slanjutnya Cpet di publish ya author, penasaran.. Hehehe😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s