Triangel Love Part 3


Author                  : Vay ^_^

Cast                       : Shinee, Key, Onew, Jonghyun, Minho, Taemin, B2ST, Dongwoon, Dojoon, Hyun Seung, Junhyung, Yeoseob, Gikwang

Genre                   : Romane, Friends, Family

Length                  : Continue

Part 1 Part 2

Key POV

Aku menyesali perbuatanku pada Seung Won. Selama ini aku sudah berusah mencari keberadan Seung Won, tapi hasilnya selalu nihil. Member SHINee yang lain sudah tidak bersikap ketus lagi padaku, bahkan mereka membantuku mencari Seung Won. Tapi tetap saja hasilnya selalu nol besar, Seung Won seperti ditelan bumi. Mungkin kini kandungannya sudah besar atau mungkin dia sudah melahirkan. Tuhan tolong pertemukan aku dengan Seung Won, aku sagat menyesal. Seung Won-ah, kemana lagi aku harus mencarimu.

Hari ini SHINee tidak ada jadwal. Semua member bermalas-malasan di dorm kecuali aku yang berdiam sendiri di rumah.

Ddddrrrttt . . .

Kulihat layar handphoneku, sebuah pesan masuk.

 

From : Dongwoon

Ya! Kau ada waktu tidak hari ini? Aku mau mengundangmu dan member SHINee yang lain datang ke dorm. Aku sedang bahagia saat ini, lagipula kau masih berhutang cerita padaku. Akupun punya satu beruta yang ingin sekali kubagi denganmu.

To : Dongwoon

Ne, aku ada waktu. Ada apa denganmu? Baiklah aku dan member lain akan datang. Kau selalu saja membuatku penasaran.

 

Setelah membalas pesan dari Dongwoon, aku langsung menghubungi dorm dan mereka setuju untuk ikut.

Kutekan bel dorm B2ST, tidak berapa lama seseorang membukakan pintu untuk kami. Ternyata Hyun Seung hyung.

“Masuklah!” ucapnya ramah.

Saat kami masuk, semua member B2ST sudah berkumpul di ruang tengah. Dihadapan mereka sudah tersaji makanan dan minuman ringan.

“Kalian sudah datang.” Sambut Dongwoon dengan wajah berseri saat melihat kami.

“Dongwoon, sebenarnya ada apa?” tanyaku penasaran yang kini sudah duduk di hadapannya. “Yang aku tahu, hari ini bukan hari ulang tahunmu.” Tanyaku.

“Memang bukan, siapa yang bilang kalau hari ini aku ulang tahun?” jawabnya enteng.

“Aish . . . sudahlah! Sebenarnya apa yang mau kau katakana?” ucapku tidak sabar.

“Ne, semenjak pulang dari Busan kemarin. Sikapmu sangat berbeda. Kau jadi suka senyum-senyum sendiri. Apakah ada hubungannya dengan . . .” belum selesai Dojoon hyung menyelesaikan kalimatnya, Dongwoon sudah memotongnya dengan cepat.

“Ne.”

“Mwoya?” tanyaku tambah penasaran.

“Kau ingat yeoja yang aku ceritakan Key?” aku mengangguk. “Aku akan menikah dengannya.”

“Mwo?” sontak aku dan semua yang berada di ruangan itu menatap Dongwoon tidak percaya. Bahkan Yeoseob hyung sampai tersedak minumannya.

“Kau jangan bercanda Dongwoon-ah. Kau ini masih 23 tahun.” Timpal Junhyung hyung, menganggap apa yang dikatakan Dongwoon barusan adalah hanya sebuah lelucon.

“Aku tidak bercanda hyung. Aku serius, kau tidak melihat keseriusanku.”

“Kau bilang dia sudah menikah, bahkan kini dia sedang hamil bukan? Kau mau mencari masalah dengan suaminya?” Tanya Dojoon hyung khawatir.

“Ne, aku tahu itu.” Jawab Dongwoon enteng. “Setelah dia melahirkan, dia akan menceraikan suaminya dan menikah denganku.”

“Keluargamu?” sambung Hyun Seung hyung. Aku dan member SHINee yang lain, yang memang tidak mengerti arah pembicaraan mereka hanya bisa diam dan mendengarkan.

“Keluargaku tidak keberatan. Bahkan mereka sangat bersimpati saat aku menceritakan kisah hidupnya.”

“Memangnya kenapa dengan kehidupannya?” sambung Minho.

“Dia menikah muda karena paksaan keluarganya dan keluarga suminya. Setelah dua tahun pernikahan mereka, dia dinyatakan hamil. Tapi suaminya tidak bisa terima karena merasa masih terlalu muda untuk mempunyai anak. Suaminya mengacuhkannya. Karena tidak tahan dengan sikap suaminya itu dia kabur dari rumah dan tinggal di rumah halmeoninya. Padahal saat itu kandungannya masih sangat rawan. Untung saja dia seorang yeoja yang kuat dan tegar sehingga bisa melewati masa-masa sulitnya waktu itu.” Jelas Dongwoon.

Kisah hidup yeoja itu hamper sama dengan kisahku. Semoga Seung won bisa sekuat dan setegar yeoja itu. Batinku. Saat kuangkat kepalaku, kudapati semua pasang mata member SHINee menatapku tajam, sepertinya merekapun sadar kalau kisah yeoja yang diceritakan Dongwoon sama dengan kisah hidupku.

“Kapan kau akan memperkenalkannya pada kami?” Tanya Onew hyung.

“Aku belum tahu. Saat ini usia kandungannya baru memasuki bulan ke 9. Mungkin setelah dia melahirkan, aku kan memperkenalkannya pada kalian secara resmi.”

“Aku tidak menyangka, magnae kita ini akan segera mendahului hyung-hyungnya menikah.” Celetuk Dojoon hyung membuat orang-orang yang berada di ruangan itu tertawa. Kecuali aku yang masih memikirkan kisah yeoja yang di ceritakan Dongwoon. Aku langsung teringat pada Seung Won, bagaimana keadaannya sekarang? Kulangkahkan kakiku menuju balkon, menjauh dari keramaian yang ada di ruang tengah. Kupandangi suasana malam kota Seoul yang masih ramai dengan kendaraan.

“Kau masih berhutang padaku.” Ucap sebuah suara tiba-tiba menyadarkanku dari lamunan. Kuliahkan pandanganku pada sumber suara. Dongwoon.

“Aku merasa tidak berhutang padamu?” aku balik bertanya padanya kemudian kembali menatap lurus kedepan.

“Pabo.” Ujanya sedikit kesal. “Kau lupa, beberapa bulan lalu kau berhutang satu cerita padaku. Dan sepertinya, masalah itu belum selesai sampai sekarang.”

“Heh . . .” aku terkekeh. “Bagaimana bisa kau masih ingat tentang hal itu? Bahkan aku sudah lupa.”

“Kau lupa, aku ini member B2ST yang paling pintar matematika (apa hubungannya?).”

“Dasar kau ini.” Kuteguk minuman kalengku sampai habis.

“Ceritakanlah!” paksanya.

“Setelah kau dengar ceritaku, kau tidak boleh memukulku. Ara?” pintaku.

“Waeyo?”

“Karena aku tidak mengundangmu ke acara pernikahanku. Bahkan aku baru memberitahumu sekarang.” Ucapku enteng.

“Mwoya?” Dongwoon terbelalak kaget. “Apa yang kau katakana barusan?”

“Aku sudah menikah 3 tahun yang lalu.”

“Jeongmal? Kenapa kau tidak memberitahuku hah? Kau anggap aku ini apa?” marahnya.

“Mianhae, saat itu terlalu mendadak. Lagi pula tidak ada yang tahu tentang pernikahanku selain member SHINee, SME, dan keluarga kami berdua.”

“Kenapa kalian menikah di usia muda? Apakah dia sudah . . .”

“Ani.” Jawabku cepat. “Aku tidak mungkin melakukannya sebelum kami menikah.” Rutukku dengan pikiran Dongwoon.

“Lalu?”

“Kami menikah karena paksaan keluarga kami.”

“Kalau begitu, cepat kenalkan padaku.” Pintanya.

“Ani, tidak bisa saat ini.”

“Waeyo?”

“8 bulan yang lalu aku mengetahui kalau dia hamil . . .” belum sempat kuselesaikan kalimatku, Dongwoon sudah memotongnya dengan suara teriakannya.

“Aigo . . . aku akan mendapatkan keponakan.”

“Ya! Bisa tidak dengar dulu aku bercerita?” pintaku. “Aish . . .”

“Waeyo?” tanyanya dengan tampang polos. Ingin sekali aku memukul kepalanya.

“Kisah yeoja yang kau ceritakan barusan, sangat mirip dengan kisah hidupku saat ini.”

“Maksudmu?” aku hanya diam, membiarkan dia berpikir. “Kau mengacuhkan istrimu huh?” aku mengangguk lemah. “Ya! Key, kalau saja kau buka sahabatku. Aku ingin  sekali menghajarmu saat ini. Dimana hatimu Key?” Dongwoon memakiku habis-habisan.

“Aku tahu, aku salah. Dan sekarang aku menyesal.” Ucapku di iringi tangisku yang sedari tadi sudah kutahan. Kurasakan Dongwoon merangkul pundakku.

“Kau benar-benar menyesal Key?” kuanggukan kepalaku. “Aku akan membantumu menemukan istrimu.”

“Jeongmal?”

“Ne.”

Langkah pertama yang aku lakukan adalah ke rumah orang tuaku dan rumah orang tua Seung Won untuk mendapatkan alamat-alamat yang kemungkinan di datangi Seung Won. Sudah seperti yang aku duga sebelumnya. Aku dimarahi oleh kedua orang tuaku, bahkan di ancam oleh abeoji Seung Won bila aku tidak bisa menemukan putri satu-satunya, mereka akan memisahkan aku dengan Seung Won. Aku tidak berpisah dengan Seung Won, setidaknya sampai aku menemukannya. Kalau pun akhirnya kami harus berpisah, biar Seung Won yang memutuskan pernikahan kami. Bukan orang tuanya.

Setelah mendapatkan alamat-alamat yang kemungkinan dikunjungi Seung Won, aku langsung menghubungi Dongwoon. 10 alamat yang aku dan Dongwoon kunjungi tidak membuahkan hasil apapun. Semuanya nihil, Seung Won tidak ada dimanapun. Kuparkirkan mobilku di pinggir jalan yang menghadap langsung ke pantai.

“Dongwoon-ah, aku lelah!” tangisku pecah.

“Bersabarlah, aku yakin kau bisa menemukan istrimu. Biar kali ini aku yang menyetir, kau sudah sangat lelah. Aku tidak mau mati muda, apalagi aku belum menikah dengan yeoja yang aku cintai.” Setelah kami berganti tempat duduk, Dongwoon langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan standar. “Sekarang kita kemana?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya padaku.

“Busan.” Jawabku lemah.

“Alamat spesifiknya Key, kau kira Busan itu kecil.” Ucapnya kesal.

“Jalankan saja mobilnya. Perjalanan ke Busan masih 4 jam lagi dari sini.” Jawabku malas langsung menutup mata mencoba untuk tidur. Aku sangat lelah.

 

Oh . . . can’t you see

I’m still loving you

Suara dering handphone Dongwoon yang cukup nyaring membuatku terbangun dari tidurku.

“Yeoboseyo!” ucap Dongwoon. “Mwo?” dia mengerem mobilnya mendadak.

“Ya!” kesalku sambil mengusap kepala yang terantuk kursi kaca jendela akibat kelakuan Dongwoon.

“Aku akan segera kesana. Bertahanlah!” teriak Dongwoon lalu tiba-tiba langsung menancap gas dalam-dalam dan menjalankan mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi.

“Ya! Kau tidak pelan bisa sedikit hah? Kau sendiri yang bilang tidak mau mati muda.”

“Tidak bisa Key, calon istriku akan melahirkan. Aku harus ada di sisinya.” Ucapnya dengan nada cemas.

Tiba-tiba aku teringat pada Seung Won. Kapan dia akan melahirkan? Aku juga ingin berada di sampingnya jika saat itu tiba. Kulihat wajah Dongwoon yang penuh dengan kekhawatiran. Padahal anak yang akan lahir itu bukan anak kandungnya, tapi dia begitu cemas.

Kurang dari satu jam, kami sampai di rumah sakit Busan. Dongwoon mengehentikan mobilnya di depan pintu masuk.

“Biar aku yang memarkirkannya, kau masuklah!” tawarku.

“Ne, gomawo Key-ah.” Ucapnya langsung masuk ke dalam rumah sakit.

Setelah memarkirkan mobil di parkiran basemen rumah sakit, aku langsung masuk kedalam rumah sakit menyusul Dongwoon.

“Bagaimana keadaannya?” tanyaku saat menemukan Dongwoon sedang menunggu di depan ruang operasi.

“Posisi bayinya tidak normal secara mendadak sehingga dokter memutuskan jalan operasi untuk menyelamatkan keduanya.” Jelas Dongwoon. Aku mengangguk mengerti. Aku kembali teringat pada Seung Won, semoga kehamilannya baik-baik saja. Selama menunggu operasi selesai, banyak pengunjung rumah sakit atau suster yang berbisik-bisik saat melihat kami berdua. Tentu saja, mereka mengenali kami. Seorang Key ‘SHINee’ dan Dongwoon ‘B2ST’, kenapa tiba-tiba bisa berada di rumah sakit Busan. Tapi untung saja mereka tidak sampai mengganggu kami, sepertinya mereka mengerti kalau keadaan kami sedang tidak baik.

Sudah hamper 2 jam, tapi operasi belum juga selesai. Sesulit itukah melakukan operasi pada seorang wanita hamil? Kulihat Dongwoon sangat gelisah. Tiba-tiba seorang suster keluar dari ruang operasi, Dongwoon langsung menghampirinya. Aku menyusul dari belakang.

“Bagaimana keadaannya?” kulihat suster itu sedikit terkejut melihat Dongwoon, tapi sadar apa tugasnya. Dia langsung melupakan apa yang sedang ada dipikirannya saat ini.

“Istri anda kehilangan banyak darah. Sedangkan persediaan darah AB di rumah sakit sedang kosong.” Jelasnya.

“AB?” Tanya Dongwoon kaget.

“Suster, golongan darahnya AB positif atau negatif?” tanyaku.

“Positif.” Jawab suster itu cepat.

“Ambil darahku.” Ucapku cepat. Kutatap Dongwoon yang menatap heran padaku.

“Key, aku tahu kau tidak suka dengan jarum suntik. Apa yang kau lakukan?” Tanya Dongwoon dengan nada cukup tinggi.

“Biarkan aku berbuat baik kali ini. Setidaknya, mungkin saja ini akan sedikit membayar dosaku pada istriku.” Dongwoon tidak bisa membalas ucapanku. Dan aku langsung mengikuti suster itu ke sebuah ruangan.

Kututup mataku dan berusaha tidak merasakan jarum suntik yang perlahan-lahan masuk kedalam tubuhku. Cukup banyak darahku yang diambil, satu kantung darah penuh. Setelah kondisi stabil, aku kembali ke ruang operasi menemui Dongwoon.

“Dongwoon-ah!” panggilku.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya khawatir.

“Gwaenchana, ternyata tidak terlalu sakit.” Aku tersenyum. Tidak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruang operasi. Dongwoon langsung berlari mengahmpirinya.

“Bagaimana keadaannya?”

“Gwaenchana, dia baik-baik saja. Sementara ini dia akan di rawat di ruang ICU karena baru saja menjalani operasi. Mungkin baru besok dipindahkan ke ruang perawatan.” Jelas dokter itu. “Bayimu sudah di pindahkan ke ruang bayi, kau bisa melihatnya disana.”

“Ne, arraseo. Kamsahamnida!” ucap Dongwoon seraya membungkuk. Dia terlihat sangat lega. “Key-ah, gomawo! Karena darahmu dia dan bayinya bisa selamat.” Ucapnya senang.

“Ne, cheonmaneyo.”

“Kita ke ruang bayi sekarang. Aku sudah tidak sabar melihat calon anakku.” Ucapnya semangat sambil menarik tanganku.

Seorang suster memberikan seorang bayi kecil pada Dongwoon. Dia terlihat sangat lucu. Tapi kenapa saat Dongwoon menggendongnya, aku tidak suka. Mungkin hanya perasaanku saja. Aku terlalu iri pada Dongwoon. Saat melihat kedekatan Dongwoon dengan calon anaknya itu, aku merasa cemburu. Tanpa kusadari, tanganku menyentuh jari-jari kecil kecil bayi itu. Aku merasakan aliran darahku tiba-tiba terasa hangat saat menyentuhnya. Jantungku pun berdetak dengan cepat. Ada apa ini, aku juga merasa mataku tiba-tiba panas ingin menangis.

“Dongwoon-ah, bolehkah aku menggendongnya?” tiba-tiba saja, permintaan itu terlontar tanpa kusadari. Bahkan akupun kaget, kenapa aku bisa berbicara seperti itu. Selama beberapa detik, Dongwoon menatapku heran. Tapi akhirnya dia memberikan calon anaknya itu padaku. Kutatap bayi yang kini berada di pangkuanku. Entahlah, tapi aku merasa sangat bahagia dan aku merasa aku adalah seorang ayah. Matanya mirip sekali dengan Seung Won.

“Key, sepertinya dia menyukaimu.” Aku tersenyum mendengar ucapan Dongwoon. “Lihat hidung dan mulutnya mirip denganmu.” Sambungnya. Kemudian kuperhatikan mulut dan hidungnya, ternyata memang benar mirip denganku.

“Mungkin ibunya adalah fansku.” Candaku menimpali pernyataan Dongwoon.

“Maaf, tapi sudah waktunya bayi tidur.” Ucap seorang suster yang mendekati kami. Aku langsungsung memberikan bayi itu pada sang suster. Namun, baru saja akan kuberikan tiba-tiba bayi itu menangis cukup keras. Aku memundurkan tanganku, tidak jadi memberikannya pada sang suster. Aku berusaha menenangkannya. setelah dia tenang, aku mencoba memberikannya pada suster, namun bayi itu lagi-lagi menangis. Begitu seterusnya.

“Sudahlah, sebaiknya kau gendong dia sampai tertidur.” Saran Dongwoon, akupun mengikutinya.

“Baiklah kalau begitu. Setelah bayinya tertidur, tolong segera bawa ke ruang bayi.” Ucap suster itu bijak.

“Ne, kamsahamnida!” ucapku. “Ada apa denganmu anak manis?” aku berusaha mengajaknya mengobrol dan dia tertawa. “Apakah kau tidak suka berada di ruang bayi itu?”

“Anak ini sepertinya menyukaimu.” Ucap Dongwoon. Dari nada bicaranya aku sudah tahu, kalau dia cemburu padaku. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

“Aku tahu kau cemburu.” Godaku.

“Aniyo . . .” elaknya dengan nada tinggi.

“Sssssttttt . . .  kecilkan suaramu! Kau tidak lihat, dia sudah mulai tertidur.” Kesalku.

“Ne, arraseo. Key appa!” ejeknya. Setelah bayi itu benar-benar tidur, aku baru membawanya ke ruang bayi.

“Dongwoon-ah, aku harus pergi sekarang untuk mencoba mendatangi alamat yang terakhir.” Pamitku.

“Ne, hati-hati. Mian, aku tidak bisa mengantarmu.”

“Arraseo.”

“Setelah bertemu dengannya, cepatlah meminta maaf.”

“Ne.”

Setelah berpamitan pada Dongwoon, aku segera pergi menuju alamat terakhir yang diberikan orang tua Seung Won. Saat aku menemukannya, rumah itu sangat sepi. Seperti tidak berpenghuni, tapi aku tetap berusaha menekan bel rumah itu. Sudah hampir 10 menit aku terus menekan bel, tapi sepertinya tidak ada orang di rumah ini.

“Sajangnim, kau mencari siapa?” tiba-tiba seorang ahjumma menegurku.

“Mianhamnida ahjumma. Aku mencari pemilik rumah ini, apakah ahjumma tahu?” tanyaku sopan.

“Pemilik rumah ini sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Tapi selama beberapa bulan ini, cucunyalah yang tinggal di rumah ini.” Jelasnya.

“Ahjumma bisa memberitahuku kemana cucunya? Aku ada sedikit urusan dengannya.”

“Tadi siang dia kontraksi, dan sekarang dia berada di rumah sakit Busan.”

“Seung Won?”

“Ne, itu nama yeoja yang beberapa bulan ini tinggal disini.”

“Ahjumma, apakah Seung Won yang ahjumma maksud adalah orang ini?” aku memperlihatkan foto Seung Won pada ahjumma itu.

“Ne, dia Seung Won.”

“Kamsahamnida ahjumma!” pamitku langsung pergi menuju rumah sakit Busan. Aku langsung mendatangi meja resepsionis.

“Suster, apakah ada nama pasien bernama Kim Seung Won? Dia pasien melahirkan.” tanyaku tidak sabar.

“Sebentar saya cek dulu sajangnim.” Setelah beberapa menit, suste itu kembali. “Maaf, tidak ada pasien yang bernama Kim Seung Won.” Aku lemas mendengar jawabannya. “Tapi . . . ada pasien melahirkan bernama Park Seung Won. Beliau baru saja menjalani operasi.” Jelasnya.

“Dimana ruangannya suster?”

“Beliau sekarang berada di ruang ICU no. 24 di lantai 4.”

“Ne, kamsahamnida!” aku langsung berlari menuju ruang ICU.

Kini aku sudah berdiri di depan sebuah pintu bertuliskan ICU no. 24. Setelah memakai pakaian khusus, dengan ragu aku masuk kedalamnya. Kulihat seorang yeoja sedang tertidur dengan tenang. Kudekati tubuhnya, tanpa kusuruh aku sudah menitikka air mataku saat aku bisa lihat dengan jelas wajah yeoja itu. Aku berlutut di samping tempat tidurnya lalu menggenggam tangannya sambil menangis.

TBC . . .

8 thoughts on “Triangel Love Part 3”

  1. seruuu..
    Ga sabar nunggu lanjutan nyaa.,
    kayakny seungwon sama key deh. Hmmm,, kalo gt dongwoon aja yg sama aku. Wkwk😀

  2. hiiiih… Gmna jadinya tuh kalo si dongwoon tau key itu suaminya seung won..
    Hedeh.. Penasaran….

    Bgus ffnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s