Triangel Love Part 4


Author                  : Vay ^_^

Cast                       : Shinee, Key, Onew, Jonghyun, Minho, Taemin, B2ST, Dongwoon, Dojoon, Hyun Seung, Junhyung, Yeoseob, Gikwang

Genre                   : Romane, Friends, Family

Length                  : Continue

 

Seung Won POV

Kubuka mataku, kurasakan sesuatu menyentuh tanganku dan kudengar suara tangis seseorang. Kutolehkan pandanganku ke sumber suara.

‘Nugu?’ pikirku. ‘Dongwoon? Ani, dia bukan Dongwoon. Rambut Dongwoon bukan berwarna cokelat seperti ini. Dia seperti . . .’

“Key!” panggilku lirih. Namja itu perlahan mengangkat kepalanya, kini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Matanya sangat merah karena menangis.

“Seung Won-ah, kau sudah sadar?” Key mengusap pipiku lembut. Aku tersenyum bahagia karena bisa merasakan sentuhan lembut tangannya lagi. “Mianhae, jeongmal mianhae!” ucapnya di sela-sela isak tangisnya.

“Aku menggeleng lemah, “Kau tidak salah, aku mengerti perasaanmu.”

“Aku meyesal, dan aku akan menerimanya. Menerima anak kita.” Aku tersenyum bahagia mendengarnya.

Cklek . . .

Kudengar suara pintu terbuka. Key langsung melepaskan genggaman tangannya dan mengusap air matanya dengan cepat.

“Seung Won-ah, kau sudah sadar?” ucap Dongwoon langsung berlari kecil menghampiriku.

“Ne.” aku tersenyum.

“Key?” ucap Dongwoon tiba-tiba. Aku kaget, darimana Dongwoon mengenal Key. Meskipun mereka bekerja di dunia yang sama, kukira akan sedekat yang aku lihat sekarang. “Kenapa kau bisa ada disini? Kau sudah menemukan istrimu?” aku semakin tidak mengerti.

“Saat aku datang tadi kau tidak ada, jadi aku langsung masuk kemari.” Jawab Key tenang. “Dan aku sudah menemukan istriku. Bahkan kini dia sudah melahirkan. Gomawo, karena kau sudah membatuku.” Jawab Key senang.

“Chukkae! Aigo . . . aku mendapatkan seorang anak dan keponakan sekaligus.” Ucap Dongwoon riang. “Key, kau sudah mengenal Seung Won barusan bukan? Dia yeoja yang aku ceritakan padamu. Dia adalah calon istriku. Dan Seung Won, dia adalah Key. Kau pasti melihatnya di TV, seorang member SHINee sekaligus sahabat terbaikku.” Jelas Dongwoon, aku kaget mendengarnya.

“Ne, aku tahu Dongwoon-ah. Kau lupa, aku datang kemari sebelum kau datang. Bahkan aku sudah mengobrol dengannya.”

“Kau pasti menjelek-jelekan aku di depannya?” ucap Dongwoon memasang tampang kesal.

“Aniyo.” Key menggeleng cepat. Bisa kulihat raut kekecewaan di wajahnya.

“Dia kemari untuk mencari istrinya yang meninggalkan rumah 8 bulan yang lalu. Tapi syukurlah, dia sudah menemukannya.”

“Dongwoon-ah, aku harus pergi sekarang.” Ucap Key tiba-tiba. Aku menatapnya tajam memohon agar dia tidak pergi. Tapi key hanya menggeleng lemah kemudian melangkah pergi. Aku ingin sekali menahannya pergi, tapi lidahku tiba-tiba menjadi kelu. Saat itu pula pandanganku menjadi kabur karena air mata yang menghalanginya.

“Seung Won-ah, gwaenchanayo?” Tanya Dongwoon khawatir.

“Ne, nan gwaenchana.” Jawabku cepat. “Aku hanya merasa sangat bahagia.”

“Aku sudah melihat anakmu, dia seorang namja. Matanya sangat mirip denganmu, tapi yang aku heran. Kenapa hidung dan mulutnya mirip dengan Key. Apakah kau salah satu fans Key?” Tanya Dongwoon heran.

“Jeongmal? Hahahaha . . . mungkin saja.” Jawabku berusaha menutupi kesedihanku.

 

Key POV

Aku sangat bahagia karena setelah pencarianku selama ini, akhirnya aku menemukan Seung Won. Tapi disaat yang bersamaan pula, aku merasa kecewa dan merasa kehilangan untuk kedua kalinya. Ternyata, yeoja yang diceritakan Dongwoon sebagi calon istrinya adalah Seung Won. Istriku. Aku tidak bisa menyalahkan mereka, karena satu-satunya orang yang bersalah dalam hal ini adalah aku. Kalau saja sejak awal aku menerima kehamilan Seung Won, kejadiannya tidak akan seperti ini.

Kulangkahkan kakiku menuju ruang bayi. Kupandang seorang bayi yang tadi siang kugendong saat bersama dengan Dongwoon. Ternyata, dia adalah anakku. Anak kandungku. Kutatap wajah mungilnya yang sedang tertidur dari balik kaca yang menutupi ruang bayi. Wajahnya benar-benar mirip denganku dan Seung Won. Aku akan memberinya nama Kim Sang Bum. Kulihat dia terbangun dan menangis. Seorang suster mendekatinya dan berusaha menenangkannya. tapi sudah hampir 5 menit berlalu, dia belum juga berhenti. Aku menjadi panik melihatnya. Kuputuskan untuk masuk kedalam.

“Mianhamnida sajangnim, orang luar tidak diperbolehkan untuk masuk.” Ucap suster penjaga.

“Tapi anakku menangis. Sudah hampir 5 menit kulihat dia menangis, aku tidak tega melihatnya. Jebal, ijinkan aku!” pintaku dengan tampang memelas.

“Baiklah, tapi sebelumnya anda harus memakai pakaian khusus terlebih dahulu.” Jelasnya.

“Ne.” jawabku.

Setelah memakai pakaian khusus, aku masuk ke ruang bayi. Kulihat suster yang masih berusaha menenagkan anakku.

“Annyeong . . . mianhamnida. Aku ayah bayi ini, ijinkan aku untuk menenangkannya.” pintaku sesopan mungkin. Tanpa banyak bertanya, suster itu langsung memberikan anakku ke pangkuanku. Tidak sampai 5 menit aku menenangkannya,dia sudah tidak menangis lagi. Perlahan dia menutup mata dan tertidur. Melihat wajahnya yang polos dan lucu, aku benar-benar merasa menjadi seorang ayah. Setelah dia benar-benar sudah tertidur dengan lelapnya, kusimpan di box bayi. Sebelum aku pergi, kucium keningnya dengan sayang.

Kuhempaskan tubuhku ke sofa ruang tengah dorm Shinee. Aku harus menyetir selama 4 jam dari busan.

“Kau sudah pulang?” ucap sebuah suara tiba-tiba, membuatku terkejut.

“Hyung-ah, kau membuatku kaget. Apakah aku membangunkanmu? Mianhae!” ucapku menyesal. Ternyata Onew hyung.

“Ani, aku memang belum tidur. Lalu kudengar suara pintu terbuka.” Jawabnya santai lalu duduk di sampingku.

Aku mengerling lalu melihat jam tanganku, “Ini sudah pukul 3 pagi. Dan kau belum tidur?” tanyaku lagi curiga.

“Sebaiknya kita sekarang istirahat. Kita ada jadwal pukul 11 nanti.” Ucapnya lalu menarikku masuk kedalam kamar. Kini aku sudah berada di atas tempat tidurku dan siap menjelajah alam mimpi, setelah sebelumnya berganti baju terlebih dahulu.

“Hyung . . . hyung bangunlah!” kudengar sebuah suara di telingaku. “Hyung, ayo bangun!” suara Taemin. Perlahan kubuka mataku.

“Waeyo Taemin-ah?” jawabku malas karena masih mengantuk.

“Hyung, buatkan aku sarapan. Aku harus segera pergi ke sekolah.” Pintanya manja.

“Lee ahjumma?”

“Dia belum datang.”

“Ne, arraseo.” Jawabku lalu bangki dari tempat tidurku. Langsung berjalan menuju dapur.

“Hyung, jam berapa kau pulang?” Tanya Taemin yang kini sudah duduk manis di meja makan. Menunggu omelet yang kubuatkan untuknya matang.

“Jam 3.” Jawabku enteng.

“Mianhae, aku membangunkanmu.” Taemin menyesal.

“Gwaenchana. Kau habiskanlah sarapanmu, aku mau mandi.” Ucapku tersenyum lalu meninggalkannya masuk kedalam kamar mandi.

Saat aku keluar dari kamar mandi, Onew hyung dan Jonghyun hyung sudah bangun. Mereka kini sedang berada di meja makan, menyantap omelet yang kubuatkan tadi untuk mereka saat memasakkan untuk Taemin. Taemin sudah tidak ada, itu artinya dia sudah berangkat ke sekolah.

“Jam berapa kau datang?” Tanya Jonghyun hyung sedikit sinis. Memang semenjak kejadian kaburnya Seung Won dari rumah, sikapnya padaku sedikit sinis. Mungkin karena kesal.

“Jam 3.” Jawabku singkat lalu bergabung dengan mereka di meja makan.

“Sebenarnya kau kemana? Kau tahu, Doojoon hyung menelponku, menanyakan Dongwoon. Apakah kau bersamanya kemarin?”

“Ne, kemarin aku bersama Dongwoon seharian. Kami mencari Seung Won.”

“Dan hasilnya?” Tanya Jonghyun hyung curiga.

“Aku menemukannnya.” Jawabku lemas.

“Akhirnya . . .” ucap Onew dan Jonghyun hyung bersamaan. Wajah mereka berseri karena senang.

“Ne, bahkan dia sudah melahirkan.”

“Ya! Kenapa kau lemas seperti itu hah? Harusnya kau merasa senang bukan?” Tanya Jonghyun hyung sambil menyikut tanganku. Aku meringis.

“Kalian ingat tidak, yeoja yang diceritakan DOngwoon?” mereka mengangguk. “Yeoja yang dimaksud Dongwoon adalah Seung Won.” Ucapku lemah lalu menenggelamkan wajahku dengan kedua tanganku. Kutahan air mataku yang ingin keluar.

“Mwoya?” Tanya mereka bersamaan. Bisa kulihat ekspresi terkejut dari wajah mereka.

“Jadi, itu artinya Seung Won akan meminta cerai padamu?” Tanya Minho yang tiba-tiba datang. Aku saja sampai kaget.

“Ya!” ucapku kesal. “Aku belum tahu, apakah Seung Won benar-benar akan meminta cerai padaku atau tidak. Aku belum tahu, tapi kalau menurut cerita Dongwoon. Sepertinya iya.” Kutarik napasku sejenak, “Aku mohon, kalian jangan beritahu Dongwoon tentang hubunganku dengan Seung Won.” Mohonku pada mereka. Mereka menghela napas panjang sambil mengangguk tanda setuju.

Setelah menjemput Taemin di sekolahnya, kami langsung menuju SBS TV. Saat dalam perjalanan menuju ruang make up, kami berpapasan dengan member B2ST yang sepertinya mereka pun baru datang.

“Key!” panggilnya. Aku hanya tersenyum lalu menjabat tangannya, kami mengobrol sebentar. Sementara, member SHINee dan B2ST lainnya meninggalkan kami. “Kemarin kau kemana? Aku mencarimu.”

“Mianhae, kemarin aku pergi tanpa pamit. Bagaimana keadaan Seung Won?”

“Gwaenchana, minggu depan dia sudah boleh pulang. Kemarin dia juga menanyakanmu. Lalu bagaimana dengan keadaan istrimu?”

“Ne, istriku baik-baik saja. Apakah hari ini kau berencan pergi ke Busan lagi?”

“Sepertinya tidak, karena selesai acara ini aku masih ada kegiatan. Mungkin besok. Waeyo?”

“Aniyo, aku hanya bertanya. Kalau begitu, sampai jumpa! Aku harus bersiap.”

“Ne.”

Setelah selesai perform, aku langsung menghampiri manager hyung.

“Hyung, setelah ini aku tidak punyai jadwal kegiatan lagi bukan?”

“Ne, waeyo?”

“Ani, aku hanya mau pergi ke suatu tempat.”

“Eodi?”

“Busan.”

“Baiklah.” Jawabnya singkat. Syukurlah, kegiatan SHINee minggu ini tidak terlalu padat. Jadi aku bisa pergi ke Busan untuk melihat keadaan Seugn Won.

Aku mengajak member SHINee ke Busan untuk bertemu dengan Seung Won. Hye Jin nuna pun ikut dengan kami. Sesampainya di rumah sakit Busan, kami tidak langsung menuju kamar rawat Seung Won. Aku mengajak mereka ke ruang bayi untuk melihat anakku.

“Aigo . . . anakmu lucu sekali.” teriak Taemin saat aku menunjuk box bayi Kim Bum.

“Ssssstttt . . .” ucap kami bersamaan sambil menatap tajam Taemin.

“Taemin, kau tidak ingat kita sekarang sedang berada dimana?” marah Onew hyung sambil memelototinya. Tapi masih dengan nada suara rendah. Taemin hanya mengangguk dengan tampang memelas agar tidak dimarahi lagi.

“Mianhae hyung!” Taemin menyesal.

“Sudah-sudah!” pintaku. “Kalian mau bertemu dengan anakku?” mereka mengangguk senang. “Baiklah kalian tunggu disini!” aku masuk kedalam ruang bayi untuk mengambil anakku.

Setelah mendapatkan ijin dari suster, aku membawa Kim Bum menuju kamar rawat Seung Won. Saat masuk kedalam kamar rawat Seung Won, dia sedang diperiksa oleh dokter.

“Bagaimana keadaannya?” tanyaku.

“Keadaannya semakin membaik. Aigo . . . nyonya Seung Won hari ini dijenguk oleh banyak orang.” Ucapnya saat melihat kedatangan kami. “Kalau begitu saya permisi.” Pamitnya kemudian keluar ruangan.

“Seung Won-ah . . .!” teriak Hye Jin nuna langsung memeluk Seung Won. “Bagaimana kabarmu? Kenapa kau pergi dari rumah hah?” ucapnya sambil menangis.

“Eonni, bogosipoyo!” jawab Seung Won sambil menitikkan air mata.

“Kau sudah makan?” tanyaku lembut sambil mengusap pelan kepalanya. Dia mengangguk. “Kalau begitu, sekarang waktunya anak kita makan.” Kulihat wajahnya bersemu merah. “Dan kalian . . .” aku menatap tajam pada kedua hyung dan dongsaengku.

“Tenang saja Key, aku yang akan mengurus mereka.” Hye Jin nuna menarik mereka semua keluar kamar. Kuambil Kim Bum dari box bayinya, lalu kuserahkan pada Seung Won.

“Aku sudah memberinya nama.”

“Jeongmal?” tanyanya antusias.

“Ne, namanya Kim Sang Bum. Ottohkae?”

“Ne, joha.” Jawabnya tersenyum.

Kulihat kebahagiaan di wajah Seung Won, aku merindukan wajahnya saat sedang tersenyum. Tidak terasa hari sudah malam, dan waktunya kami pulang ke Seoul.

“Seung Won-ah, saat kau keluar rumah sakit nanti kau harus langsung ke Seoul. Anak ini tidak ada yang mengurus. Lihat saja badannya yang kurus, sekarang semakin kurus.” Ucap Onew hyung sambil menepuk pundakku.

“Ne, oppa.”

“Hyung, bolehkah mala mini aku menginap disini?” pintaku pada Onew hyung.

“Tapi besok, kita ada jadwal pagi.”

“Jebal!” mohonku dengan tampang memelas.

“Baiklah. Aku akan bilang pada manager hyung, kau ada urusan keluarga.”

“Gomawo hyung!”

“Kami pulang!” pamit mereka semua.

Kini hanya ada aku dan Seung Won. Kim Bum sudah dikembalikan ke ruang bayi sejak sore tadi. Kudekati Seung Won di tempat tidurnya lalu duduk di sampingnya. Kugenggam tangannya.

“Bogosipoyo!” ucapku lalu mendekap Seung Won kedalam pelukanku.

“Nado.”

“Mianhae!”

“Gwaenchana. Key-ah, sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan Dongwoon. Aku masih tidak mengerti.” Ucapnya lalu melepaskan pelukanku.

“Seung Won-ah, benarkah kau berniat meminta cerai padaku?” kulihat ekspresi terkejut dari wajahnya. Dia menunduk.

“Mianhae.” Kuangkat kepalanya menatapku. “Aku tidak bermaksud seperti itu. Awalnya aku memang berniat untuk bercerai darimu, karena kupikir kau tidak akan menerima kehadiran anak kita. Tapi setelah bertemu denganmu dank au mau menerima kehadiran anak kita. Aku piker aku akan membatalkannya.” Jelasnya sambil menitikkan air mata. Kusapu air mata yang mengalir di pipinya dengan jari-jariku. Lalu kukecup keningnya lembut, dan mendekapnya kembali dalam pelukanku.

“Gwaenchana, kau tenang saja. Pikirkan saja kesehatanmu agar bisa cepat keluar dari sini. Masalah Dongwoon, cepat atau lambat kita harus memberitahunya. Tapi tidak sekarang.”

“Kau tidak tahu persoalannya Key.”

“Aku tahu. Aku tahu semuanya. Dongwoon sudah bercerita padaku tentang janji untuk menceraikanku dan menikah dengannya.”

“Bagaimana bisa?”

“Kau lupa? Kami ini sahabat Seung Won-ah.” tidak ada lagi pembicaraan antara kami. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing sampai akhirnya tanpa sadar kami tertidur.

Aku terbangun karena mendengar suara ketukan pintu. Dengan langkah gontai karena masih mengantuk, kubuka pintu kamar rawat Seung Won. Ternyata seorang suster yang akan memeriksa keadaan Seung Won. Sementara itu aku mencuci mukaku di dalam kamar mandi.

“Good morning!” sapanya saat aku keluar dari kamar mandi. Aku tersenyum lalu mencium keningnya.

“Good morning!”

“Jam berapa kau akan kembali ke Seoul?”

“Jam 7.” Jawabku singkat. Dia mengerucutkan bibirnya.

“Waeyo?” tanyaku pura-pura tidak mengerti.

“Cepat sekali. Kau tidak bisa lebih lama lagi?”

“Ani, mianhae. Kalau aku tidak datang, manager hyung bisa membunuhku.”

“Arraseo.” Jawabnya malas. Aku hanya tersenyum.

Saat aku akan pergi, seorang suster mengantarkan Kim Bum. Ternyata sudah waktunya Kim Bum sarapan. Sebelum pergi, kucium kening mereka berdua.

 

Seung Won POV

Tidak berapa lama setelah Key pergi, Dongwoon dan member B2ST yang lainnya datang menjengukku.

“Annyeong . . .!” sapa mereka bersamaan.

“Ne, annyeong . . .!” jawabku.

“Aigo . . . jadi ini anakmu?” teriak Yeoseob oppa saat melihat Kim Bum dalam pangkuanku.

“Ne oppa.”

“Kau sudah memberinya nama?” Tanya Hyun Seung oppa.

“Ne, namanya Kim Sang Bum. Ottohkae?” tanyaku meminta pendapat mereka.

“Joha.” Ucap Junhyung oppa. Sempat kulihat raut kekecewaan di wajah Dongwoon, tapi tidak terlalu kupedulikan.

“Kau tahu, semenjak kau kau melahirkan. Dongwoon selalu mencari nama yang bagus untuk anakmu di internet.” Jelas Doojoon oppa.

Mereka semua selama seharian menemaniku sampai malam. Tapi karena besok hari B2ST ada jadwal kegiatan, mereka harus pulang ke Seoul. Kecuali Dongwoon yang masih ingin menemaniku.

“Ige.” Dia memberikan semangkuk sup jamur padaku.

“Gomawo!”

“Seung Won-ah, jadi ayahnya seorang Kim?” tanyanya langsung. Dia menatapku tajam. Kutundukkan kepalaku karena tidak bisa membalas tatapannya. “Jawab aku. Jebal!” pintanya dengan nada sedikit memaksa tapi masih dengan suara pelan. Kuanggukkan kepalaku pelan. “Kapan kau akan menganjukkan permintaan perceraianmu?”

Deg

Aku tidak menyangka Dongwoon akan bicara langsung seperti ini. Aku kira dia akan menunggu sampai aku keluar dari rumah sakit. Apa yang harus aku jawab? Aku belum membicarakan masalah ini dengan Key.

“Aku . . .  aku sudah rujuk kembali dengan suamiku.” Ucapku pelan tapi masih bisa terdengar oleh Dongwoon.

“Jadi dia sudah bisa menerima anaknya huh? Selama 8 bulan dia mencampakkanmu, dan sekarang saat anaknya sudah lahir dia tiba-tiba saja muncul dan menerima anaknya.” Ucap Dongwoon sinis. “Pengecut.”

“Ya! Dongwoon-ah, aku tidak terima kau mengatai suamiku seperti itu.” Teriakku. Kini mataku sudah tidak kering lagi. “Dia tidak mencampakkanku, tapi aku yang pergi dari rumah.”

“Memang, tapi bukankah kau bilang. Saat dia tahu kau hamil, dia mendiamkanmu dan tidak mau bicara padamu sampai akhirnya kau kabur dari rumah. Iya bukan? Itu namanya apa? Bahkan dia tidak berusaha mencarimu.”

“Ani, selama ini dia berusaha mencariku.”

“Aku tidak bisa menerima semua ini Seung Won-ah. Kau sudah berjanji padaku akan menceraikan suamimu dan menikah denganku.”

“Aku tahu, tapi itu sebelum K . . .” hampir saja aku menyebutkan nama Key. “Sebelum menyesal dan meminta maaf padaku.”

“Kau tahu, aku sudah mencintaimu dan menyayangimu sejak kita masih di tingkat 1. Awalnya aku kira aku menyayangimu sebagai sahabat, tapi seiring persahabatan kita. Aku baru tahu, kalau aku mencintaimu.” Jelasnya.

“Mianhae!”

“Apakah yang memberi nama anakmu adalah suamimu?” aku mengangguk pelan. “Aku ingin bertemu dengan suamimu.”

“Mwo?” kuangkat kepalaku menatapnya. “Untuk apa kau bertemu dengannya?”

Clekk . . .

Pintu kamar rawatku terbuka. Aku dan Dongwoon mengalihkan pandangan kami ke pintu. Kami menatap heran pada sosok yang tiba-tiba saja datang.

“Key?” ucapku dan Dongwoon bersamaan.

Kami masih menatap heran ke arahnya, sementara dia dengan santainya berjalan masuk dan berdiri di samping kanan tempat tidurku.

“Key, apa yang kau lakukan malam-malam begini datang ke sini?”

“Untuk menjaga anak dan istriku.”

“Istrimu di rawat di sini juga?” Tanya Dongwoon antusias.

“Ne.” jawab Key singkat. Dia masih menampakkan wajah santainya, tapi itulah yang sebenarnya kutakutkan. Perasaanku mulai tidak enak.

“Dia di rawat di kamar berapa?”

“Disini.”

“Maksudmu?” Dongwoon masih tidak mengerti.

“Aku . . . aku adalah suami Seung Won.” Jawab Key datar.

Bisa kulihat Dongwoon yang terkejut dengan apa yang diucapkan Key. Dia diam dan menatap tajam Key. Seolah sedang mencerna kata-kata yang Key ucapkan di otaknya.

“Jadi . . . kau suaminya?” Dongwoon menunduk. Namun tiba-tiba dia mengangkat kepalanya lalu berjalan dengan cepat ke tempat Key berdiri. Dia langsung menarik kerah baju Key, dan . . .

Bukk . . .

Dongwoon langsung melayangkan tinju ke pipi kiri Key. Key langsung jatuh dan bibirnya berdarah karena sobek akibat pukulan Dongwoon.

“Dongwoon-ah!” aku berteriak dan berusaha untuk turun dari tempat tidur, tapi tidak bisa karena perutku yang masih sakit akibat operasi.

Key terkapar di lantai, tapi Dongwoon terus memukulnya hingga kini wajah Key sudah berlumuran darah yang keluar dari mulut dan hidungnya. Aku menangis dan berteriak melihat Key yang terus dipukuli Dongwoon. Tapi Dongwoon tidak mau berhenti, padahal Key sudah sangat tidak berdaya. Beberapa satpam juga suster dan dokter datang. Mereka memisahkan Dongwoon dari Key kemudian membawanya keluar. Dokter dan suster langsung membawa Key keluar dari kamarku untuk diperiksa. Sementara aku masih menangis, seorang suster berusaha menenangkanku. Setelah merasa tenang, dengan menggunakan kursi roda aku langsung melihat keadaan Key. Ternyata ruang rawatnya tidak terlalu jauh dari kamar rawatku. Saat aku masuk, masih ada dokter yang memeriksa keadaannya.

“Bagaimana keadaannya dok?” tanyaku khawatir.

“Tidak ada yang parah. Setelah beristirahat, dia akan baik-baik saja.” Jelas dokter itu lalu keluar dari kamar rawat Key.

“Kamsahamnida!” ucapku sebelum dia benar-benar keluar.

Kudekati tempat tidur Key. Kulihat wajah putih pucatnya kini penuh dengan lebam karena pukulan Dongwoon. Kugenggam tangannya erat.

TBC

Iklan

8 thoughts on “Triangel Love Part 4”

  1. makin lama makin seru nih ff.. Bikin dag dig dug..

    Hehehehehe 😀
    i like it…

    Next part di tunggu lho..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s