Way For Love Part 2

mian ya chingu postnya lama bgt. ru sempet OL di PC. sibuk bgt ma urusan kuliah.

oleh Ticko Freysha

PART 2

~ Rae Na POV ~

“Bukan urusanmu!” jawab namja ini. Ketus. Lagi – lagi dia melontarkan ucapan itu.

Hah. Aku bisa gila karena sifatnya yang susah ditebak. Sampai seminggu yang lalu dia adalah namja yang baik. Meski sikapnya dingin dan menjaga jarak. Tapi semenjak aku memergokinya berciuman dengan Oh Min Ji, sikapnya jadi amat sangat berubah. Dia menjadi sinis. Dan menyebalkan.

“Heechul-ssi.” Panggilku.

“Waeyo?”

“Apa kau begitu mencintainya? Tapi apa kau setega itu kepada sahabat mu yang sangat baik itu. Aku rasa masih banyak yeoja lain yang lebih baik daripada Oh Min Ji. Dia sudah bertunangan, tapi dia jalan denganmu. Sahabat dari tunangannya itu.”

“Diam! Kau bawel sekali.”

“Aku bicara seperti ini karena aku tidak tega dengan Leeteuk Oppa. Dia sangat baik. Kau tidak seharusnya….” Aku tidak dapat meneruskan ucapanku karena bibirku sudah dibungkam oleh namja ini. Aku terlalu terkejut hingga hanya bisa diam terpaku.

“Apa kau menyukai Jung Soo, Rae na-ssi?” tanyanya setelah mengakhiri ciumannya itu.

“Mwo? Suka? Ne… ah andwe.. ah… ne aku suka sama dia. Dia seorang laki – laki yang baik. Ramah.”

“Tak sebaik yang kau kira.”

“Mwo?”

“Ani. Sudah lupakan saja. Aku ingin segera sampai dirumah. Dingin sekali.” Katanya cepat sambil meninggalkanku.

Sialan namja itu. Sudah mencuri ciuman pertamaku malah pergi meninggalkanku sendiri. Aku langsung berlari mengejarnya.

~ End of Rae Na POV ~

~Someone POV ~

Rae Na terbangun karena mimpi buruk. Saat dia melihat jam weker disampingnya, pukul 06.00. masih sangat pagi. Tapi Rae Na tidak bisa tidur lagi. Akhirnya dia turun dari ranjangnya. Mandi kemudian memakai celana training dan kaos. Jaket biru kesayangannya. Dia ingin lari pagi di sekitar taman.

Udara pagi terasa dingin. Tumpukan salju masih terlihat. Dengan penuh semangat Rae Na berlari menyusuri jalanan menuju taman. Tidak disangka – sangka di taman suasananya sangat ramai.

Rae na duduk di bangku taman. Diperhatikannya orang – orang yang ada di taman ini. Banyak sekali pasangan – pasangan di sana yang sedang bermesraan. Rae Na merasa iri. Seharusnya dia bisa bermesraan dengan Yunho.

Dulu sewaktu mereka berpacaran, mereka jarang bertemu. Karena profesi Yunho sebagai penyanyi yang sedang naik daun. Sulit sekali untuk bertemu. Dan sekarang lelaki itu menghilang.

“Chogi,,,, Annyeong, Mianhamda Aghessi. Boleh aku bertanya?” seseorang menepuk bahu Rae Na. Rae Na menoleh. Seorang namja. Rambutnya kelam. Matanya sipit sekali.

“Annyeong. Ne waeyo?”

“Kau tahu alamat ini?” tanya namja itu sambil memperlihatkan secarik kertas.

“Ah iya. Kau terus saja. Kira – kira dua blok dari sini kau belok kanan. Kau akan sampai.”

“Gamsahamnida.” Ujar namja itu sambil membungkukkan badannya. Lalu dia pergi bersama 4 namja lainnya.

Setelah agak lama dia berada di taman, dia segera kembali ke apartemen Heechul. Saat membuka pintu suasana masih sepi. Mungkin Heechul masih tidur. Biasanya namja itu bangun siang jika sedang liburan.

Rae na sedang menyiapkan sarapan saat dia mendengar bel pintu, lalu ada kegaduhan di ruang tamu. Dia segera keluar.

“Ya! Heechul-ssi, apa yang kau lakukan pa-….” Rae Na ternganga melihat Heechul sedang dipegang 4 orang namja. “Ya, apa yang kalian lakukan?” teriak Rae Na. keempat namja itu nampak terkejut. Salah satu dari keempat namja itu mengenali Rae Na.

“Aghessi, apa yang kau lakukan di sini?” Tanya namja itu.

“ah,. Aku tinggal di sini. Hei, apa yang kau lakukan padanya?”

“Kau tinggal di sini?” Tanya seorang lelaki berbadan besar. Dan berwajah sangar.

“Ne.” jawab Rae Na Tegas. Dia melihat Heechul yang tubuhnya dipegangi 4 orang itu. Mulutnya dibekap salah seorang yang berwajah dingin. Hingga tidak bisa bersuara.

“Hyung, kau…. Aboeji bisa marah besar.” Kata seorang namja berbadan kecil. Dia imut sekali. Kepala Heechul bergerak – gerak liar, hingga orang yang membekap mulutnya melepas bekapanya itu.

“Ya! Kalian ingin aku mati hah?” bentak Hechul.

“Mian hyung..” desis orang yang berwajah imut.

“Hyung. Sekarang jelaskan.” Kata orang yang berwajah sangar itu.

“Tidak ada yang perlu dijelaskan.”

“Hyung!” kompak sekali keempat namja itu berteriak kepada Heechul yang masih dipegangi namja berwajah sangar dan namja berwajah dingin itu.

“Sebenarnya kalian siapa? Ada apa?” Tanya Rae Na yang kebingungan.

~ end of Someone POV ~

~ Heechul POV ~

Aish.. bagaimana mereka bisa sampai di sini? Meyebalkan sekali. Aku menatap Rae Na yang masih berdiri kebingungan. Segera saja aku melepaskan diriku dari pegangan namja – namja ini yang tengah lengah.

“Ara.. sekarang jelaskan padaku. Apa maksud kalian datang kesini?” tanyaku lagi. Rae na seperti akan protes, tapi aku tidak peduli. Aku tidak menatap matanya. Entah kenapa sejak ciuman malam itu, hatiku jadi tak tenang saat melihat Rae Na.

“Kau tahu maksud kami hyung.” Kata seseorang. Aku menoleh ke arah wajah dingin itu.

“Kibummie.. aku sudah berkali – kali bilang. Aku tidak akan pernah pulang selama aboeji masih keras kepala.”

“Kau juga keras kepala hyung.” Tukas Jongwoon. Dia biasanya dipanggil Yesung. Aku melotot ke arahnya.

“Hyung, aboeji tengah sakit. Dan dia berharap hyung mau pulang ke rumah.” Wookie, adik kesayanganku ini berbicara pelan.

“Aku tidak mau pulang.”

“Hyung, jangan keras kepala.” Kata YoungWoon. Dan aku selalu memanggilnya Kangin.

“Hey, berhentilah berdebat. Hari masih pagi. Sebaiknya kalian sarapan dulu. Aku sudah menyiapkannya.” Rae Na menghentikan ucapan yang akan keluar dari mulutku. Entah sejak kapan dia mengatur meja makan sehingga sekarang sudah penuh dengan makanan.

“Ah, aku lapar sekali.” Kata kangin. Aku menggelengkan kepalaku  melihat tingkahnya. Makanan selalu bisa mengalihkan perhatiannya. Meski sedang marah sekalipun.

“Wow, sepertinya enak nich.” Kata Kangin sambil mencomot paha ayam.

“Silahkan. Kita sarapan sama – sama.” Kata Rae Na ramah. Melihat senyumya itu, hatiku jadi hangat. Aish sadarlah Kim Heechul. Apa yang kamu pikirkan hah?

“Heechul-ssi, apa yang kau lakukan. Ayo kita sarapan.” Ajak Rae Na.

“Ne.” Jawabku singkat.

Aku melihat keempat saudaraku ini saling bertatapan. Aish, apa yang sedang mereka pikirkan saat ini?

“Mashitta, noona.” Desis Kangin. Setelah merasakan makanan Rae Na.

“Em… mian, panggil saja Rae Na, umurku baru 19 tahun.”

“Jinja?” tanya keempatnya kompak. 19? Aku baru tahu dia baru 19 tahun.

“Kita seumuran donk. Iya khan Bummie?” kata Ryeowook.

“Hm..” Kibum menggumam.

“Jinja?” mata gadis ini membulat.

“Kalau begitu panggil kami oppa.” Kata Yesung.

“Oppa? Yang benar saja. dia khan calon kakak ipar kita.” Kata Kangin.

“Ah iya.”

“Hei.. hei… ada apa dengan kalian. Kenapa kalian berkata begitu. Aku bukan calon kakak ipar kalian.” Kata Rae Na. Keempat namdongsaengku menatap Rae Na tak percaya. Dan entah setan apa yang merasukiku saat aku melangkah ke arahnya dan memeluknya dari belakang.

“Jagi, tidak usah malu – malu. Mianhae aku tidak cerita kepada kalian. Sebab inilah kenapa aku tidak mau pulang.” Kataku tidak mempedulikan tubuhnya yang menegang kaku.

“Ya Hyung. Seharusnya kau berbicara jujur kepada Aboeji. Dia pasti tidak akan marah.” Kata Kangin. Aku hanya tersenyum saja.

“Tapi aboeji sedang sakit parah. Sebaiknya kau pulanglah dulu Hyung.” Kata Yesung.

“Aniyo. Aku tidak bisa meninggalkan yeojachinguku sendirian khan?”

“Kenapa tidak diajak saja?” kata Ryeowook. “Aboeji pasti senang.” Tambahnya. Aku mengerang. Kenapa jadi seperti ini.

“Ti…”

“Hyung, tidakkah hyung ingin melihat aboeji? Mungkin saja untuk yang terakhir kalinya.” Kata – kata Kibum membuatku terdiam.

Yah, bagaimanapun juga laki – laki itu adalah orang tuaku satu – satunya. Aku sudah tidak punya eomma lagi sejak eomma meninggal ketika aku berusia 7 tahun.

“Arasseo. Tapi aku harus bicara dengan Rae Na.”

Keempatnya mengangguk. Aku menarik tangan Rae Na. Aku tahu dia siap meledak. Dan aku tidak mau 4 namja usil itu tahu. Aku membawanya ke kamarku. Ini pertama kalinya aku mengajak seorang wanita ke kamarku. Memikirkannya membuat tubuhku merinding.

~ End of Heechul POV ~

~ Someone POV ~

Rae Na menatap mata namja dihadapannya. Butuh penjelasan. Jika mungkin dalam situasi normal, Rae Na pasti akan mengagumi wajah namja dihadapannya. Dia sangat tampan. Ani..cantik. ah entahlah bagaimana mendeskripsikan ketampanan namja ini. Dia memiliki kulit wajah yang halus, mulus, putih bersih. Hidungnya mancung. Matanya indah. Coklat bening. Bulu matanya lentik seperti perempuan. Alisnya tebal dan rapi. Dan bibirnya. Merah dan seksi.

“Jadi?”

“Mwo?”

“Ya! Heechul-ssi. Berhentilah bersikap bodoh. Siapa mereka? Mau apa mereka? Dan apa maksudmu, mengatakan aku yeojachingumu hah?”

Heechul menatap wajah gadis di depannya. Melihatnya kesal, membuat Heechul tertarik. Gadis ini terlihat cantik sekali kalau sedang kesal.

“Mereka….namdongsaengku.”

“Hah? Mereka? Semua?” Rae na melotot tak percaya.

Heecul mengangguk. “Mereka ingin aku pulang ke rumah. Kau tahu itu khan?” Rae Na mengangguk.

“Kenapa kau tidak pulang saja?” tanya Rae Na enteng.

“Kau ingat perkataan Jung Soo dicaffe dulu?” lagi – lagi Rae Na mengangguk. “Aku kabur dari rumah.”

“Karena perjodohan?”

“Ne. Aku tidak mau. Tapi aboeji sepertinya tidak menyerah.”

“Tapi aboeji mu sedang sakit.”

“Pasti dia  bercanda.”

“Jangan berkata begitu. Aku tahu, kau juga cemas.”

“Aku tidak bisa pulang.”

“Kenapa kau jadi pengecut seperti ini Heechul-ssi?”

“Aku tidak mau pulang. Karena pasti aku akan dijodohkan. Aboeji orang yang keras kepala.”

“Kau juga sama saja.”

“Aish kau ini, bawel sekali.”

“Heechul-ssi. Pulanglah.”

Heechul nampak berpikir. “Ara, aku akan pulang. Tapi dengan satu syarat.”

“Apa?”

“Aku mau kau ikut.”

“Ya! YA! Ya! Apa maksudmu?”

“Bantu aku Rae Na-ssi. Aku tidak mau dijodohkan. Jika aku membawa yeojachinguku, aku pasti akan terbebas dari keharusan perjodohan ini.”

Kali ini Rae Na yang berpikir keras.

“Baiklah. Tapi aku juga ada satu syarat.”

“Mwo?”

“Kau… putuskan… Oh Min Ji… secepatnya…” kata Rae Na dengan memberi penekanan di setiap ucapannya.

“Tak masalah.” Jawab Heechul ringan. Rae na hanya bisa melongo. Tidak mengerti jalan pikiran Heechul. Lelaki ini memang aneh.

“Heechul-ssi…”

“Ah, karena kita pacaran, sebaiknya mulai sekarang aku akan memanggilmu Rae Na saja. dan kau juga bisa memanggilku Oppa. Oke. Kita keluar. Aku tidak mau mereka menjadi curiga.” Katanya bersemangat. Sambil menuju pintu kamarnya.

~ End of Someone POV ~

~ Rae Na POV ~

“Oppa..” desisku. Entah kenapa, mendengar dia menyuruhku memanggilnya Oppa, membuatku merasa senang. Aku melihat sekeliling ruangan. kamar yang rapi dan simple. Di dominasi warna biru, warna kesukaanku.

“Rae Na-ya. Ppaliwa.” Panggilnya

Aku segera mengikuti langkahnya.

“Ne, aku dan Rae Na-ya sudah memutuskan akan pulang. Tapi tidak saat ini. Kami masih agak sibuk. Mungkin seminggu lagi aku akan pulang.”

“Ah, baguslah kalau begitu. Aboeji pasti senang sekali.” kata namja yang imut itu.

“Ah ya, kau belum memperkenalkan kami secara benar Hyung.” Kata namja sangar tersebut.

“Choneun, Shin Rae Na imnida.” Kataku.

“Kim Jongwoon imnida. Kau bisa panggil aku Yesung.”

“Kim Youngwoon imnida. Boleh Kangin boleh Racoon. Terserah kau mau memanggilku apa.”

“Kim Ryeowook imnida. Bangapsumnida”

“Kim Kibum imnida.” Si muka dingin itu tersenyum. Aigooo manis sekali senyumnya.

“Sudah khan? Jadi untuk apa kalian masih di sini?” kata Heechul.

“Kau kejam Hyung.” Kata Kangin.

“Kami akan tinggal di sini. dan pulang bersamamu Hyung.” Kata Yesung.

“Mwo?” jeritku dan Heechul bersamaan.

“Apa kau bilang?”

“Aboeji tidak mengijinkan kami pulang jika tanpa kau hyung. Jadi biarkan kami tinggal di sini. apa kau tak kasihan kepada kami?”

“Ara. Tapi kalian tidur di sini. tidak ada kamar lagi.”

“Khan ada 2 kamar. Kami tidur di kamar yang satu. Hyung dan Rae Na-ya tidur bersama saja.”

“Andwe.”

“Kalian sudah berpacaran khan? Meski aku tahu kau sopan hyung, tapi tidak ada masalah khan. Kalian berpacaran.” Kata kangin seenaknya.

“Ne.” Kata ketiga namja lainnya. Aku menatap Heechul, tapi dia hanya menghela nafas pasrah.

Ottokhe? Aku tidak akan mau tidur sekamar dengan heechul. Ini khan hanya pura – pura.

“Ara.” Jawab Heechul singkat. Membuat mataku membulat.

@@@@@

“Kau kenapa Rae Na-ssi?” tanya Leeteuk Oppa padaku.

“aniyo…” ucapku. Suasana caffe nampak sepi malam ini. Mungkin karena hujan salju yang turun terus menerus jadi banyak yang suka di dalam rumah.

Klinning …. klinning…..

Suara bel pintu saat pintu caffe terbuka membuat kami menoleh. Oh Min Ji. Dia memandang kami berdua dengan penuh amarah. Dia menuju ke arahku lalu menamparku. Aku merasa sakit dan bingung.

“Ya, apa yang kau lakukan?” tanyaku. Kaget sekali mendapat tamparan dari wanita ini.

“Kau, yeoja sialan. Kau pantas mendapatkannya.” Katanya.

“Apa maksudmu? Aku tidak tahu.”

“Kau pura – pura hah? Kau yang mengadu kepada Teukie Oppa khan? Hingga dia memutuskan pertunangan kami?”

Hah? Aku menoleh ke arah Leeteuk Oppa. Rahangnya mengeras.

“Min Ji-ah. Ini tidak ada hubungannya dengan Rae Na. Harusnya kau sadar itu.” Geramnya. Aku belum pernah melihat Leeteuk Oppa marah. Dia selalu tersenyum hangat.

“Tidak. Ini gara – gara dia. kalau saja dia tidak cerita..” min ji menangis.

“Min Ji-ah. Rae na tidak pernah bercerita apa – apa padaku. Ada yang bilang, tapi bukan Rae Na. Kau harusnya sadar posisimu. Bukannya berbuat sesuka hatimu seperti ini. Dan jangan sekali – sekali kau menganggu Rae Na. Jika itu kamu lakukan, kau harus berhadapan denganku.” Ucap Leeteuk dingin.

Aku terpekik melihat Min Ji memukul pipi Leeteuk Oppa hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah. Min ji langsung berlari keluar sambil menangis.

“oppa, pipimu berdarah.” Kataku agak panik. Lalu mengambil air es. Dan mengompres sudut bibirnya.

“Gwenchana… aku memang pantas mendapatkannya.”

“Apa maksud Oppa. Tentu saja kau tidak pantas mendapatkannya. Kau terlalu baik untuk yeoja seperti dia.”

“Kau tahu sesuatu?” aku mengangguk.

“Mian oppa, aku tidak cerita. Aku pernah sekali memergokinya jalan dengan seorang lelaki.” Ucapku. Tapi aku tidak mengatakan siapa orangnya.

“Nugu..”

“A.. aku tidak tahu..” kataku sambil menyembunyikan wajahku yang memerah. Tapi aku jadi terkejut mendengar dia tertawa. “Oppa,waeyo?”

“Sepertinya aku tahu siapa. Heechul khan?”

“Oppa…. bagaimana oppa bisa tahu?” tanyaku. Benar – benar heran.

“Rae Na, kau menyukaiku?” aku menatapnya kaget.

“Oppa…” Leeteuk Oppa menatapku lekat.

“Ah, ne. Aku suka dengan Oppa. Tapi hanya sebagai kakak. Oppa sangat hangat. Aku sangat merindukan sosok Oppa. Yang sudah lama sekali tidak kurasakan lagi.”

“Syukurlah. Jika kau hanya menganggapku sebagai Oppa. Karena aku hanya menganggapku sebagai dongsaeng. Aku juga merasa nyaman sekali jika bersama kamu. Rae Na-ya, aku ini laki – laki jahat dan pengecut. Tidak seperti yang kamu lihat selama ini.”

“Maksud Oppa?”tanyaku tak mengerti.

“Aku, dan Heechul bersahabat baik. Sejak masih di Junior High School hingga kami lulus kuliah. Dia salah satu sahabat terbaikku. Ada banyak persamaan dalam diri kami. Salah satunya dalam hal perjodohan.” Aku terdiam mendengar Leeteuk Oppa bercerita. Wajahnya muram. Suaranya menyiratkan kepahitan.

“Aku kagum pada Heechul. Dia kabur saat kelas 2 Senior High School. Dia bisa bertahan. Tidak bergantung kepada orang lain. Berbeda denganku. Aku tidak sanggup kabur dari rumah. Aboeji ku sangat keras. Aku pernah sekali waktu mencoba kabur. Tapi dalam waktu kurang dari 5 jam aku sudah di temukan oleh orang – orang suruhan aboeji. Dan semenjak itu, pengawasanku semakin diperketat. Berbagai cara telah aku lakukan, agar aku bisa lepas dari perjodohan – perjodohan gila itu.”

“Sampai kemudian aku bertemu dengannya. Saat aku akan mengikuti ujian akhir. Aku bertemu dengannya. Wanita cantik, lembut dan anggun. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Sejak itu aku mulai bisa kembali tersenyum. Semangatku kembali lagi. Heechul selalu mendukungku. Dia yang membantuku secara diam – diam. Tapi akhirnya hari itu tiba juga. Saat itu aku sudah menjadi mahasiswa di Universitas Inha. Aku sedang kencan dengannya. Aku berniat melamarnya.”

“Aku tidak tahu, aboeji akan mengetahui secepat itu. Dan aku tidak bisa menghalangi aboeji. Aku tidak bisa menjaganya. Aku tidak bisa melindungi orang yang sangat aku cintai. Hatiku, jiwaku hilang bersama dengan hilangnya dia dari hidupku. Sudah selama 5 tahun aku mencarinya. Tapi tidak juga bertemu. Dan aboeji mulai bertindak.”

“Kau tahu Min Ji adalah tunanganku ke 13.”

“Apa?” aku kaget sekali.

“Ne. Sebelum – sebelumnya aku pernah bertunangan. Dan selalu sama. Aku meminta tolong kepada Heechul untuk menggoda mereka, hingga mereka berpaling, dan aku punya alasan untuk berpisah.”

“Oppa, kenapa kau……..”

“Aku bercerita seperti ini. Meski aku tahu kau akan marah dan membenciku. Tidak apa – apa. Aku hanya ingin kau tidak salah paham kepada Heechul. Dia sahabat terbaik yang aku punya.”

“Oppa. Kenapa kau setega itu?”

“Karena aku tahu, aku tidak akan bisa dan tidak akan pernah bisa memberikan hatiku untuk mereka. Hatiku sudah dibawa pergi olehnya. Apalgi setelah aku tahu, mereka tidak bisa setia kepadaku. Baru di dekati Heechul saja mereka sudah memalingkan hatinya. Bagaimana aku bisa menerima mereka?”

“oppa, kau pasti sangat menderita. Sabarlah. Suatu saat nanti kau pasti bisa bahagia.” Ucapku pelan.

“Kenapa kau tidak marah padaku Rae Na?”

“Untuk apa? Aku tahu perasaan Oppa. Hah, ternyata kita memang cocok menjadi kakak adik. Aku juga bermasalah dalam hal perjodohan. Aku tahu aku sudah dijodohkan dengan anak teman appa. Tapi aku nekat tetap pacaran. 2 tahun berpacaran, kami memutuskan menikah. Appa memang tidak pernah setuju, tapi dia juga tidak bisa menolak. Dan sialnya, pacarku tidak datang. Appa mau memaafkan aku asalkan aku mau menikah dengan orang yang dijodohkan ke aku itu. Tapi aku menolak. Appa mengusirku.”

“Rae Na, kau memang keras kepala. Ehm, apa sekarang kau mulai menyukai Heechul?”

“Aniyo Oppa. Aku masih mencintai pacarku itu.”

“Jinja? Aku kira kau menyukainya. Karena waktu aku bertanya tadi kau menutupinya.”

“Hehehehehe………” aku hanya terkekeh kecil.

“Ngomong – ngomong kau dan Heechul kenalan dimana? Bagaimana ceritanya?” tanyanya yang membuatku tertegun. Apa aku harus cerita.

~ End Of Rae Na POV ~

~ Rae Na POV ~

Leeteuk Oppa masih menatapku dengan pandangan penuh harap. Aku harus bagaimana? Aku tidak tahu bagaimana bercerita.

“Teuki-ya, ada yang mencarimu.” Suara Jinwoo Eonnie menyelamatkanku. Jinwoo adalah kakak kandung Leeteuk Oppa. Dia sudah menikah. Dan caffe ini sebenarnya adalah miliknya, tapi pengelolaannya diserahkan kepada Leeteuk Oppa.

“Ne, Noona.” Desis Leeteuk, lalu meninggalkanku.

Hah. Ternyata Leeteuk Oppa sangat menderita. Aku harap dia cepat menemukan kebahagiaannya. Pasti beruntung sekali wanita yang mendapatkan Leeteuk Oppa. Dan Heechul. Ternyata dia tidak seburuk yang aku pikirkan. Sekarang aku mengerti apa yang diucapkannya malam itu. Aku harus minta maaf kepadanya.

@@@@@

“Aku pulang.” Salamku.

“Noona, kau sudah pulang.” Kata Ryeowook.

“Wookie-ah, jangan memanggilku noona, aku masih muda.”

“Tapi kau pacar hyungku.”

“Khan masih pacar.”

“Tapi tetap saja lebih tua kau noona. Kau lahir di musim semi dan aku di musim panas pada tahun yang sama.”

“Ah sudahlah. Apa keluarga Kim itu keras kepala semua.” Gerutuku. Lalu berjalan masuk.

Langkahku terhenti. Aku melihat 3 namja berdiri dengan muka tegang. Mereka menatap seseorang yang duduk di sofa yang membelakangiku.

“Yeojachingu hyung sudah datang.” Kata Kangin dingin. Orang itu memutar kepalanya. Mata indahnya melotot kaget ke arahku. aku jadi gelisah. Kuamati sekeliling ruangan. sepertinya Heechul belum pulang.

Bagus. Tidak ada orang yang akan membantuku seperti Leeteuk Oppa tadi.

“Kau.” Tudingnya. Amarahnya semakin menjadi – jadi.

“Noona, yeoja ini datang – datang mencari hyung. Dia mengaku – aku sebagai pacar hyung. Apa itu benar?” tanya Ryeowook.

Aku menatap ke arah Min Ji. Aku kesal dengan perlakuannya yang egois dan sok cantik itu. Tidak mau mengakui kesalahannya. Dan juga masih kesal karena tamparannya itu. Aku harus membalasnya.

“Wookie-ah. Apa kau percaya? Jika memang dia pacar Heechul Oppa, lalu aku ini apa? Untuk apa aku tinggal di sini iya khan?” kunikmati wajah terkejutnya itu.

“Kau tinggal di sini?”

“Ne. Sudah lebih dari 2 bulan aku tinggal bersama Heechul Oppa.”

“Bohong.”

“Aku tidak bohong aghessi. Jika kau tak percaya kau bisa tanya kepada mereka.”

“Rae Na-ya tinggal di sini. dan aku yakin sekali, dialah yeojachingu hyungku.”

“Kalian hanya berkomplot. Tidak mungkin Chullie-ku akan mengkhianatiku. Dia tidak pernah memiliki pacar. Kau tau itu?”

“Oh ya? Berapa lama kau mengenal Heechul Oppa. Apa kau yakin dia benar – benar tidak punya pacar? Heechul Oppa memang orangnya seperti itu. Dia cepat akrab dengan banyak yeoja. Kau jangan salah menafsirkan sikapnya kepadamu.” Kataku ketus. Entah kenapa, aku jadi jahat seperti ini. Tapi aku kesal sekali kepadanya.

Yeoja itu sepertinya tidak mau menerima perkataanku. Dan dia menghampiriku. Tangannya terangkat. Aku memejamkan mataku untuk merasakan tamparannya untuk kedua kalinya. Beberapa menit telah berlalu, tapi rasa sakit itu tidak kurasakan. Pelan kubuka mataku. Aku melihat tangan Min Ji digenggam oleh Heechul. Sejak kapan dia ada di sini.

“Jangan sekali – sekali kau menyentuh yeojachinguku.” Desisnya. Aku melihat matanya penuh emosi.

“Jagiya… kau bohong khan?” min ji setengah merengek.

“Aniyo. Aku tidak bohong. Aku dan Rae Na memang berpacaran. Dan dia sudah 2 bulan tinggal bersamaku.”

“Lalu, hubungan kita?”

“Kau yang bilang khan? Ingin have fun denganku? Aku juga suka bermain – main. Rae na tahu sifatku itu, makanya dia tidak marah sewaktu dia memergoki kita ciuman.”

“Kau! Brengsek.” Maki Min Ji. Wajahnya memerah. Menahan amarah dan tangis. Aku kasihan juga kepadanya. Tapi, aku ingat perkataan Leeteuk Oppa. Min Ji suka sekali mempermainkan laki – laki. Dia selalu menganggap semua orang bisa diatur sesuka hatinya.

“Hyung, kau……” Ryeowook menatap tak percaya ke arah hyungnya itu.

“Diam Wookie-ah. Aku capek. Aku ingin tidur.” Katanya. Lalu dia bergegas masuk kamar. Aku mengikutinya. Kulihat dia duduk di sofa.

“Ada apa Oppa?” tanyaku. Dia menoleh. Lalu menggeleng. Aku mengangkat bahuku. Tak peduli.

~ end Rae Na POV ~

~ Heechul POV ~

Kulirik yeoja yang sudah tidur itu. Malam sudah semakin larut. Wajahnya saat tidur polos sekali. Lalu aku teringat kejadian tadi saat aku masih di studio radio, tempatku bekerja.

Flasback

“Chullie-ah ada yang mencarimu.” Kata Go Mi Na. Partner kerjaku.

“Ne. Suruh tunggu sebentar.” Lalu aku keluar ruangan. aku menjadi kaku saat melihat sosok namja yang tengah duduk itu. Aku mendekatinya.

“Hyung.” Sapa namja itu.

“Yunho..” hanya itu yang bisa aku ucapkan.

“Mianhae hyung, selama 2 bulan ini aku menghilang. Aku pergi ke Cheongsan.”

“Kau pergi saat kau akan menikah.”

“Aku tahu Hyung, aku salah kepada Rae Na. Tapi entah kenapa, aku merasa belum siap menikah. Apalagi keluarganya yang tidak menyetujuiku.”

“Harusnya kau membicarakan ini dengan Rae Na-ya. Dia pasti mengerti.”

“Aku tidak tega menyakitinya.”

“Apa kau pikir kau tidak menyakitinya sekarang?”

“Aku tahu hyung. Mianhae Hyung.”

“Jangan meminta maaf padaku.”

“Hyung, aku minta tolong. Besok aku akan terbang ke Amerika. Hyung tahu khan, aku memiliki penyakit lemah jantung? Aku akan melaksanakan operasi transplantasi jantung. Aku ingin Rae Na mengantarku. Jika dia datang, itu berarti dia memaafkan aku. Dan aku akan memintanya menungguku. Hyung, serahkan surat ini kepadanya.”

Aku menerima surat itu.

“Gomawo hyung. Aku harus pergi.”

Flasback end.

Aku memegang surat itu. Ada kebimbangan dalam hatiku. Menyerahkannya atau tidak. Jika aku serahkan, dia akan kembali kepada Yunho. Mereka mungkin bersama, tapi orang tua Rae Na akan semakin membenci mereka. Jika tidak menyerahkannya, aku tahu dia  akan menangis. Tapi Pelan – pelan dia akan melupakan Yunho dan mungkin bisa membuat dirinya dan kedua orang tuanya berbaikan.

Tapi, aku ingin melihat senyum gadis ini. Kedua pilihan itu, sama – sama akan memberikan rasa sakit juga dihati Rae Na. lalu aku harus memilih yang mana?

~ end of Heechul POV ~

~ Someone POV ~

Rae na terbangun dari tidurnya. Dia tidak menemukan Heechul. Tapi dia mendengar suara gemericik air di kamar mandi. Saat mendengar pintu terbuka Rae na malah berpura – pura tidur lagi. Tapi dibalik matanya yang terpejam itu, dia mencoba mengintip. Seketika itu juga dia merutuk dirinya sendiri. Dadanya berdebar gelisah melihat apa yang dilihatnya.

Heechul keluar dari kamar mandi hanya memakai celana saja. tanpa memakai atasan. Rae na sedikit lega saat Heechul memunggunginya. Rae na mengagumi punggung indah Heechul, yang sedang memakai baju itu.

Rae na kembali memejamkan matanya saat Heechul berbalik.

“Rae Na-ya, Ireona. Sudah siang. Kau tidak ke kampus?” Rae Na merasakan tangannya diguncang – guncang. Dia pura – pula menggeliat dan bangun.

“Oppa, sudah jam berapa?” tanya Rae Na,

“Jam 08.00.”

“Omo.. aku bisa terlambat.” Rae Na berlari menuju kamar mandi.

mandi secepatnya. Kemudian keluar kamar.

“Noona, makanlah dulu.” Kata Ryeowook.

“Tapi aku sudah terlambat.”

“Tenang saja. Hyung akan mengantarmu.” Katanya.

“Ne. Makanlah Jagiya.” Gumam Heechul.

“Ne.” Rae Na makan masakan Ryeowook. “Wookie-ah. Masakanmu enak sekali.”

“Gomawo, noona.” Kata Ryeowook.

“Sudah? Ayo kita berangkat.” Kata Heechul. Rae Na termangu melihat mobil audi warna silver sudah ada di depannya.

“Oppa, kau pinjam mobil ini darimana?” tanya Rae Na.

“Mwo? Apa kau bilang? Pinjam? Aish… aku beli sendiri. Dengan uang hasil keringatku sendiri.”

“Mianhae Oppa.” Kata Rae Na agak manja.

“Ehm, Rae Na kau pulang kuliah jam berapa?”

“Aku hanya ada 2 mata kuliah saja. waeyo oppa?”

“Aku jemput kamu ya.”

“Aigo.. Oppa, ada apa denganmu?” tanya Rae Na.

“YA! Apa maksudmu?”

“Tumben kau menjemputku?”

“Kau khan yeojachinguku. Jadi aku harus mengantar jemputmu Jagiya..”

“Aishhh” Rae Na memukul lengan Heechul pelan. Heechul tertawa kecil. Hal itu membuat Rae Na terpesona. “Oppa, kau tampan sekali jika tertawa.” Kata – kata Rae Na membuat tawa Heechul berhenti seketika. Dan dia memasang wajah datarnya lagi. “Oppa, tertawa lagi donk.”

“Shiro…” kata Heechul.

“Jebal oppa. Tertawalah.”

“Shiro…”

“Oppaaaa” rengek Rae Na. tingkah Rae Na itu tak urung membuat Heechul tersenyum. Memperlihatkan dekik di kedua pipinya.

“Aigo oppa, teruslah tersenyum seperti itu.”

“Jika kau mau melihatku terus tersenyum, lakukanlah hal yang bisa membuatku tersenyum.”

“Ne? Mwoya?”

“Berbahagialah selalu Rae Na. jangan menangis.” Rae Na terhenyak. Mendengar perkataan Heechul.

“Araseo Oppa. Ayo kita buat janji. Kau tidak boleh menyakitiku. Aku juga tidak akan menyakitimu. Kita harus selalu memberikan kebahagiaan, jangan ada kesedihan. Yaksok?”

“Ne. Yaksok.” Rae Na tersenyum manis. Membuat Heechul semakin gelisah. Dia sudah memantapkan hatinya, tidak akan menyerahkan surat itu, dia merasa tidak rela. Mian Yunho, aku hanya tidak mau dia sakit hati, kata Heechul dalam hati.

@@@@@

Pulang kuliah, Heechul mengajak Rae Na ke Taman Bermain. Mereka bermain sepuasnya saperti anak kecil. Heechul dan Rae Na banyak tertawa.

“Oppa, hari ini aku nggak masuk kerja. Pasti kena marah Leeteuk Oppa.”

“Jung Soo pasti mengerti. Kau dongsaeng kesayangannya khan?”

“Oppa, aku ingin ke sekolah ku dulu.”

“Untuk apa?”

“Hari ini aku ingin ke sana. Aku sudah janji dengan seseorang.”

“Namja?”

“Jangan cemburu.” Heechul mendengus kesal. Tapi Rae Na sudah menggamit lengannya. Hingga dia menuruti keinginan gadis ini.

Mereka sampai dibangunan sekolah. Sudah agak gelap, tapi masih ada siswa – siswi yang berseliweran di sana.

“Ini jam berapa? Kok mereka masih di sekolah?” tanya Heechul.

“Jam tutup sekolah jam 19.00 Oppa. Sampai dengan jam itu masih ada kegiatan di klub. Kau tau, di sini wajib mengikuti klub minimal 2.”

“Lalu kau ikut klub apa?”

“Aku….” kata Rae Na gugup.

“Apa?”

“Aku ikut klub drama, dance dan basket.” Ucap Rae Na.

“Jinja?”

“Aish.. sudahlah Oppa. Ppali wa.”

“Ne, ne. Kita mau kemana sich?”

Rae Na tidak menjawab. Dia terus saja melangkah menuju ruang kesehatan. Dibukanya pintu itu.

“Eonnie… eonnie… eodiyo?”

“Menemui siapa sich?”

“Sssst…”

“Eonnie…”

“Nuguseyo?” suara seseorang dibalik tirai membuat Rae Na berjalan ke sana.

“Eonnie… bogoshipo….” jerit Rae Na.

“Rae Na, Nado Bogoshipoyo..”

“Eonnie. Saengil Chukae yah…”

“Gomawo. Kau masih ingat?”

“Tentu. Eonnie khan Eonnieku.” Heechul mendekat ke arah dua orang itu. Suara itu terasa sangat familiar bagi telinga Heechul.

“Kau bersama siapa Rae Na-ah?”

“Chingu.”

Rae Na melepas pelukannya. Sekarang Heechul dan yeoja itu saling bertatapan.

“Heechul-ah?”

“Sangmi Noona?”

“Kalian sudah kenal?” Rae Na bertanya. Kaget.

~ end of Someone POV ~

TBC . . .

5 thoughts on “Way For Love Part 2”

  1. asik bilang ja heechul ngak mau ngasih surat y karna udah mulai cinta sama RaeNa. . .
    Wah pasti eeteuk seneng tu kalo tau sangmi d temuin, knp leeteuk ngak sama aku ja. . . .
    Lanjut ah

  2. Wah heechul oppa nggk ksih raena srat dri yunho oppa, kyknya chul oppa udah suka tuh ma raena,,
    ada yg bkal bhgia nech krn sangmi udah d’tmuin #lirik2 teuk oppa#

  3. Ternyataaa~ Yunho bukannya kecelakaan, tp blm siap menikah. Seenaknya stlh hlg, dy pgen Raena menunggunya.. Untung Heechul melindungi Raena, wlw nanti Raena pst marah ama Heechul *sigh*

  4. waaaaaah raena n chulppa pacaran. Biarpun cuma bohongan, tapi mereka pasti ngjalaninya dg sungguh2, karna mereka kan emang pd saling suka. Meskipun msi dipendam sndr2.*ckckck bahasaku…
    Eh? Sangmi ntu sapa? Apa yeoja yang disukai ma teukppa ntu?
    Hhhmmm lanjoooot…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s