Way For Love part 4

oleh Ticko Freysha pada 13 Maret 2011 jam 12:09

PART 4

~ Rae Na POV ~

Aku segera menundukkan kepalaku. Namja itu berdiri disampingnya sambil minum sekaleng kopi. Aku semakin menunduk saat mendengar langkah kaki beberapa orang. Mereka berhenti dan bercakap – cakap dengan orang yang telah menolongku. Tak lama kemudian, orang itu mengetuk pintu mobil. Aku segera keluar.

“Sudah pergi.”

“Gamsahamnida.”

“Ne. aghessi, boleh kutahu siapa namamu?”

“Oh Choneoun, Shin Rae Na imnida.”

“Rae Na? Rae Na, nae yeodongsaeng?” aku menatap lelaki gendut ini. Aku melihat raut wajahnya yang seperti Appa. “Ini aku, Shin Donghee.”

“Oppa.. Shindong Oppa.” Kataku. Sambil memeluknya. Dia balas memelukku. Dia adalah kakak tiriku. Anak Appa dengan istri pertamanya. Saat melahirkan Shindong Oppa, istri appa meninggal. Setahun kemudian Appa menikah dengan Eommaku. Sampai Appa umur 13 tahun, dia tinggal bersama kami. Tapi kemudian Haraboji-nya meminta Shindong Oppa untuk tinggal bersamanya di Busan. Sejak itulah kami jarang bertemu.

“Oppa, kau berubah banyak. Aku tidak mengenalimu. Mianhae.” Kataku lagi. Aku sangat menyayanginya seperti kakak kandungku. Meski dia adalah kakak tiri.

Shindong Oppa terkekeh.

“Aku tahu Rae Na. aku sekarang semakin gendut. Kau juga banyak berubah makin cantik saja kau. Dan dimana pipi gembulmu itu?”

“Hahahaha,,, oppa sadar juga. Oh ya oppa sedang ngapain di sini?”

“Aku sebenarnya baru datang dari Busan siang tadi. Aku akan kerumah Appa. Tapi sedang menunggu seseorang. Kau sendiri apa yang kau lakukan di sini? Ini jauh dari rumahmu Rae Na-ya.”

“Aku….” Apa aku harus cerita.

“Rae Na-ya…” desak Shindong Oppa.

Tak ada pilihan lain. Aku menceritakan semuanya.

“Ya! Rae Na Baboya…” kata Shindong Oppa kepadaku setelah ceritaku selesai.

“Kenapa Oppa berkata seperti itu?” desisku tak terima.

“Kau harusnya mengerti appa dan eomma memberikan yang terbaik untukmu Saeng.”

“Tapi aku tidak mau dijodohkan.”

“Ne, aku tahu, tapi tidak harus berniat menikah muda khan? Apalagi bila namjachingumu adalah seorang artis. Tentu saja dia akan kabur. Mungkin karena masa depannya lebih penting.”

“Hyaaa Oppa! Oppa sendiri tidak pernah merasakan cinta.”

“Tentu saja aku pernah.”

“Jinja?”

“Ten..”

“Jagi.. apa yang kau lakukan?” Tanya seseorang. Aku menoleh kearah samping. Seorang gadis yang cantik. Aku melihat wajah keduanya memerah.

“Oppa, jangan bilang dia pacarmu?” tanyaku. Wajah Oppaku langsung memerah.

“Nde. Dia memang yeojachinguku.”

“Annyeong haseyo.. choneoun Shin Rae Na imnida. Nan yeodongsaeng Shindong Oppa.”

“Annyeong, Jang Nari imnida. Kau yeodongsaeng yang sering diceritakan Dong Oppa? Ah akhirnya aku bisa bertemu denganmu.”

“Ne..”

“Baiklah Rae Na, aku akan mengantarmu ke tempat tinggalmu sekarang.”

“Oppa..”

“Ayo, aku tidak mau kamu dikejar – kejar mereka.”

“Ara.”

Aku menurut saja pada Oppa tiriku ini.

“Oppa, mau mampir dulu?”

“Ani. Aku akan menemui Appa dan Eomma dulu. Oh ya Rae Na, si Fishy. Bagaimana kabarnya?” Tanya Oppa. Aku terdiam. “Waeyo?”

“Fishy Oppa… setahun setelah Oppa ikut haraboji Oppa, dia dibawa orang yang ngaku sebagai keluarga kandungnya. Sejak itu aku tidak tahu dimana dia. Katanya dia tinggal di Daegu. Tapi sewaktu dicari Appa, tidak ada. Alamat yang diberikan orang itu palsu.”

“Mwo? Kenapa jadi begini? Ya sudah saeng. Kau istirahatlah. Aku harus menemui Appa secepatnya.”

“Gomawo Oppa.”

“Cheonmaneyo.”

Aku berjalan menuju kamar apartemen Heechul.

“Aku pulang….” Salamku.

“Kau darimana saja Rae Na-ya? Ini sudah jam berapa?” suara dingin itu menyentakkanku. Heechul sedang berdiri bersedekap. Raut wajahnya memerah menahan marah.

“Mian Oppa. Tadi aku khan bertemu dengan Junsu Songsaenim.” Ingatku.

“Apa harus semalam ini?”

“Oppa, aku lelah.” Kataku.

“Sudahlah hyung. Dia khan sudah pulang.” Kata Kibum yang tengah duduk di meja makan. Heechul menggumam kesal.

“Noona, kau mau makan?” tanya Wookie.

“Aniyo. Aku sudah kenyang.”

“Mau minum?”

“Boleh. Susu coklat hangat. Gomawo Wookie-ah.”

“Cheonmaneyo.”

Aku masuk ke dalam kamar, lalu mandi dan ganti baju. Setelah itu aku menuju meja makan. Hanya ada Wookie dan Kibum. Aku tidak melihat Heechul.

“Heechul Oppa kemana?”

“Dia tadi keluar. Ada yang menelphonenya.”

“Oh.”

“Dia sangat mencemaskanmu Noona.” Kata Wookie.

“Nugu?”

“Hyung.”

Aku hanya tersenyum. Jujur, mengenalnya semakin dekat membuatku merasa semakin tertarik kepadanya. Aku bahkan mulai bisa melupakan yunho secara perlahan – lahan.

~ end Rae Na POV ~

~ Heechul POV ~

Aku menatap kesal ke arah Rae Na. aku mengkhawatirkannya setengah mati, tapi dia dengan tenangnya bilang lelah.

“Hyung, aku tau kau khawatir. Tapi Rae Na khan sudah dewasa. Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri.” Kata Kibum. Aku tidak menjawab. Kubiarkan Kibum bicara.

Tiba – tiba ponselku berbunyi. Aku mengerutkan alisku saat melihat id caller-nya. Sohee. Untuk apa dia melephoneku?

“Yobuseyo…”

“…..”

“Ne, aku mengerti. Tunggu aku.” Aku memutuskan hubungan telephone. Lalu meraih mantel tebalku dan kunci mobil.

“Hyung, kau mau kemana?” tanya Wookie yang sudah membuatkan susu coklat hangat kesukaan Rae Na.

“Aku ada urusan.”

“Tapi ini sudah malam Hyung.” Kata Wookie lagi.

“Aku hanya sebentar.” Aku berlari menuju basement tempat parkiran mobil penghuni apartemen. Aku segera mengendarai mobilku ngebut menuju ke sebuah tempat yang aku hafal. Sungai Han.

Tidak sampai 15 menit aku sudah sampai. Suasana larut yang lengang membuatku ngebut tanpa khawatir akan kecelakaan. Aku menemui Sohee yang sedang menungguku.

“Wow, kau pasti ngebut Oppa. Kau bahkan sampai di sini kurang dari 15 menit.” Katanya sambil tersenyum manis kepadaku. Tapi aku muak.

“Ada apa?” tanyaku dingin.

“Tunggu Oppa, kita duduk dulu. Apa kau tidak merindukan aku?” tanyanya sambil duduk di bangku yang ada di pinggiran sungai Han.

“Cepat katakan. Ini sudah larut.”

“Kau tetap sama saja. tidak suka berbasa basi.” Sohee menarik nafas dalam. “Oppa, kembalilah kepadaku. Kita mulai lagi hubungan kita dari awal.” Katanya. Aku terdiam. Mungkin, jika dia mengucapkannya 2 bulan lalu, aku pasti akan langsung mengiyakan. Tapi sekarang. Aku malah memikirkan Rae Na.

“Oppa.” Sohee menyentakkanku dari lamunan.

“Mianhae Sohee-ya. Aku tidak bisa.”

“Karena yeoja itu?”

Aku tidak menjawab. Karena itu benar. Karena Rae Na membuat aku selalu ingin menikmati waktuku bersamanya. Karena Rae Na aku tidak lagi mengingat Sohee.

“Oppa. Putuskanlah hubunganmu dengannya. Dia itu tidak cocok denganmu. Apa bagusnya dia? cantik tidak? Dan dia nampak kampungan sekali.”

“Tutup mulutmu Sohee-ya. Rae Na memang tidak secantik dirimu. Tidak semodis dirimu. Tapi dia adalah pribadi yang hangat. Dia selalu membuatku tersenyum dan tertawa.”

“Oppa, tapi kau sangat mencintaiku.”

“Itu dulu. Sebelum kau mencampakkanku. Sudahlah. Aku harus pulang.”

“Oppa. Jika kau tidak putus dengannya dan kembali kepadaku. Aku bersumpah akan melakukan sesuatu yang lebih jahat dari tadi.” Katanya membuatku berhenti melangkah.

“Apa maksudmu Sohee-ya?”

“Lupakan.”

“Sohee-ya.” Bentakku. Dia nampak mengkerut ketakutan melihatku marah. Selama bersamanya aku memang jarang marah. Tidak pernah malah.

“tidak, aku hanya bicara dengannya tadi. Tapi dia ketakutan. Dan dia lari.” Katanya terbata.

“Tidak mungkin jika kau hanya ingin berbicara saja.”

“Ya! Oppa, kenapa kau tidak percaya padaku.” Sohee mulai emosi. Aku mengabaikannya. Aku tahu dia sedang menyembunyikan sesuatu. “Baiklah. aku akan jujur. Aku memintanya untuk memutuskan dan meninggalkanmu. Tapi dia menolak. Aku kesal sekali kepadanya.” Aku mendengus. Kenapa Sohee jadi seperti ini. Terlepas dari sifat egois dan ambisiusnya dia adalah gadis yang baik dan jujur. Itu yang membuat aku suka kepadanya.

“Sohee-ya. Kita sudah putus. Dan jangan pernah kau berbuat yang aneh – aneh. Kau mengerti?” tanpa menunggu jawabnya aku segera melajukan mobilku kembali ke apartemen. Ternyata semuanya sudah tidur.

Aku memasuki kamarku yang sekarang ditempati Rae Na juga. Kulihat wajah polosnya saat tidur.

Rae Na, aku berharap, aku bisa melindungimu dan membuatmu bahagia. Kataku dalam hati.

~ end of Heechul POV ~

~ Someone POV ~

Rae Na tengah duduk bersama dengan Heechul. Leeteuk tengah berada di ruangannya. Hanya ada beberapa pembeli saja. jadi Rae Na bisa menemani Heechul yang tengah menyantap Cheese burger kesukaannya.

“Jadi, apa rencanamu?” tanya Heechul.

“Molla.”

“Mwo?”

“Aku tidak tahu harus bagaimana Oppa. Oh ya, Oppa, aku minta maaf kemarin sudah membuatmu khawatir.”

“Gwenchana. Yang penting kau sudah sampai di rumah dengan selamat. Tapi lain kali jika kau pulang terlambat kau hubungilah aku.”

“Nde.” Ucap gadis itu tersenyum. Heechul kembali melanjutkan makan malamnya.

Bounce to you Bounce to you

nae gaseumeun neol

Hyanghae jabhil sudo eobseul mankeum ddwigo itneungeol

Break it down to you down to you nae gaseumi neo

Neol gatji mothandamyeon meomchul georanda

(nal barabwara)

 

Hape Rae Na berbunyi.

“Yeoboseyo”

“……”

“Ne. Aku di caffe.”

“….”

“Ne.”

“Nugu?” tanya Heechul. Setelah Rae Na memasukkan hapenya ke dalam saku.

“In Hae, sahabatku. Dia bilang ingin ke sini.”

“Oh.”

Tak lama kemudian…

Klinning… klinning…. klinning…..

“Eoseo oseyo” sapa Rae Na.

“Rae Na-ah.”

“In Hae. Waeyo?” tanya Rae Na kepada gadis yang baru masuk itu.

“Ada yang ingin bertemu denganmu.”

“Nugu?”

“Oppa.” Kata In Hae kepada seseorang dibelakangnya. Rae Na menelengkan kepalanya ingin melihat siapa. Ada dua orang namja. Yang satu Rae Na kenal. Heechul menghentikan acara makannya. Dia menatap ke arah orang – orang yang baru datang.

“Hyuk Oppa. Bogoshipoyo….” kata Rae Na. dia langsung memeluk Sunbaenya itu. Membuat Heechul kesal seketika.

“Nado Jagi.” Kata Hyukjae. Mereka berdua terkikik. Dan juga membalas pelukan Rae Na. sebenarnya bukan hanya Heechul yang kesal. In hae juga kesal. Tapi dia diam saja.

“In Hae. Jadi Hyuk Oppa yang ingin bertemu denganku?” tanya Rae Na. setelah dia melepas pelukannya.

“Aniyo.”

“Lalu?”

In Hae menunjuk namja yang berdiri diam. Dia menatap Rae Na dengan pandangan tak percaya. Rae Na memperhatikan namja itu.

“Fishy….” jerit Rae Na. Dia langsung menghambur ke arah namja itu.

“Rae-ah…” hanya itu yang terucap dari bibir namja manis tersebut. Heechul, Hyukjae dan In Hae hanya melongo melihat adegan itu. Semakin melongo melihat dua orang yang sedang berpelukan itu saling meneteskan air mata.

Pikiran – pikiran jelek menghinggapi otak Heechul.

“Bogoshipoyo.. Rae-ah.” Kata Rae Na.

“Nado Fishy…” kata Rae Na.

Heechul mencoba tidak peduli. Dia melanjutkan makannya. Meski sesekali dia mencuri pandang ke arah Rae Na dan namja yang dipanggil Fishy itu. Rae Na sepertinya sudah tidak peduli dengan sekitarnya. Hingga suara deheman seseorang membuatnya tersadar.

“Hae-ya… jadi Rae Na-ya ini yeoja spesialmu?” Tanya Hyukjae.

“Ye.” Jawab Donghae mantap. Membuat Heechul tersedak.

“Oppa, Gwenchanayo?” Tanya Rae Na sambil menyodorkan minuman ke Heechul. Ditepuknya pelan punggung Heechul.

“Ne, gwenchana.” Jawabnya.

“Maksudnya? Kalian pacaran? Lalu Yunho Oppa?” In Hae bertanya ingin tahu, namun, baik Donghae mapun Rae Na hanya tersenyum manis. Membuat tiga orang itu penasaran. Rae Na duduk di samping Heechul. Disampingnya Donghae yang seperti tidak mau pisah dari Rae Na. di sebelah Donghae, duduk In Hae dan Eunhyuk. Heechul tetap menikmati makan malamnya.

“Ayolah. Apa hubungan kalian, hingga Hae Oppa ngotot banget pingin ketemu kamu.” Kata In Hae.

“Dia ini, kakakku.” Kata Rae Na.

“Mwo? Jinja?” seru ketiga orang itu. Mereka tak percaya.

“Ne.”

“Tapi nama marga kalian…”

“Fishy ini saudara angkatku.” Jelas Rae Na singkat. Semuanya ber”O” ria.

“Rae-ya.. ngomong – ngomong, siapa namja di sampingmu ini?” Tanya Donghae.

“Ne. aku juga tidak tahu. Kau belum pernah mengenalkannya kepadaku.” Kata In Hae. Rae Na tersadar.

“Oppa, ku kenalkan kau pada temanku. Gadis ini namanya Cho In Hae. Di sebelahnya itu sunbae di kampusku. Lee Hyukjae. Sedangkan ini Oppaku, Lee Donghae. Dia Kim Heechul…”

“Namjachingunya.” Lanjut Heechul tenang.

“Mwo?”

Lagi – lagi ada paduan suara di sana.

“Rae Na-ah..benarkah itu?”

“Aku….” Rae Na bingung menjawab apa.

“Chukkae… kenapa tidak pernah cerita? Kau anggap aku ini apa?” In Hae pura – pura memarahi Rae Na. Rae Na tersenyum canggung. “Heechul-ssi. Aku harap kau benar – benar bisa menjaga dia. Dia benar – benar merepotkan.” Sekarang In Hae berkata kepada Heechul yang tetap tenang memperhatikan Rae Na.

“Tentu saja. Sudah kewajibanku.” Ucapnya membuat pipi Rae Na memerah.

Donghae memperhatikan namja itu. Sungguh dia terkejut. Apalagi dia tahu kenyataan bahwa Rae Na sudah dijodohkan sejak kecil. Tapi dilihatnya namja ini baik.

“Rae-ya. Bagaimana kabar Appa dan Eomma? Shindong hyung?” muka Rae Na menjadi keruh. Dia jadi teringat kepada keluarganya. Sudah 2 bulan lebih dia tidak bertemu kedua orang tuanya.

“Oppa, kau tinggal dimana sekarang?” Rae Na mengalihkan pembicaraan.

“Aku sementara tinggal dengan Eunhyuk.”

“Oh…Oppa, aku masuk dulu ya. Ganti baju dulu. Jam kerjaku udah selesai.” Rae Na masuk ke dalam.

Tak lama kemudian dia keluar. Setelah berpamitan kepada Leeteuk dia menghampiri ke-4 orang yang menunggunya di luar caffe.

“Ayo pulang.” Kata Rae Na.

“Ayo kami antar.” Kata Donghae.

“Aku pulang sama Heechul Oppa aja.”

“Tapi…” Donghae bersikeras.

“Oppa, ayo pulang. Kau antar aku dulu.” In Hae langsung menggamit lengan Donghae yang terlihat enggan. “Rae Na-ya.. Heechul-ssi, kami pulang dulu. Annyeong…”

Rae Na membalas lambaian sahabatnya. Lalu mereka mulai berjalan menuju halte bis.

“Kau tampak bahagia sekali?”

“Naega? Tentu saja Oppa. Kau tahu, kemarin waktu aku pulang terlambat juga aku bertemu saudaraku.”

“Saudara? Lagi?”

“Aku belum cerita ya? Aku punya saudara tiri 1 dan saudara angkat. Hae Oppa itu saudara angkatku. Sedangkan Saudara tiriku bernama Shindong Kami sangat akrab lho. Sampai kemudian waktu aku umur 11, haraboji Shindong Oppa membawanya. Kemudian orang tua kandung Hae Oppa pun memisahkan kami, ketika aku usia 12 tahun.” Cerita Rae Na. “Lalu Oppa…”

“Nae Waeyo?”

“Bagaimana dengan keadaan keluargamu?”

“Untuk apa kau menanyakan itu?” heechul bertanya balik.

“Aku hanya ingin tahu.”

“Aish sudahlah. Aku tidak mau menceritakannya. Itu bisnya.” Heechul menarik tangan Rae Na menuju bis yang mereka tunggu.

~ someone POV ~

~ Rae Na POV ~

Kenapa jantungku berdebar – debar kayak gini hanya karena genggaman tangannya saja? aish apa yang kupikirkan sich?

Bis tidak terlalu penuh, akhirnya kami memilih duduk di bangku belakang. Mungkin karena capek lama – lama aku jadi mengantuk.

“Oppa, aku ngantuk. Aku tidur dulu ya.” Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung merebahkan kepalaku di bahunya. Dan langsung tertidur.

~ end of Rae Na POV ~

~ Heechul POV ~

Aku menatap wajah gadis yang tengah tertidur dibahuku. Sepertinya dia sangat lelah, hingga tidurnya pulas. Tak peduli dimana dia berada. Gadis yang polos dan apa adanya. Dan entah sejak kapan, diriku dipenuhi bayangan gadis ini.

Tanpa sadar, aku mengelus lembut jemarinya yang berada dalam genggaman tanganku yang lain.  Rasanya aku ingin selalu seperti ini bersamanya.

Entah setan apa yang merasukiku hingga aku nekat mengecup bibirnya yang indah itu. Singkat, karena aku tidak mau dia terbangun.

~ end of Heechul POV ~

~ Someone POV ~

Rae Na masih sibuk berpikir, apa yang mesti dilakukan untuk membantu Sangmi Eonnie dan Leeteuk Oppa. Apalagi, dia juga melihat Heechul stres karena memikirkan nasib sahabat baiknya itu.

Klinning… klinning…. klinning…

“Eoseo oseyo” sapa Rae Na.

“Annyeong Rae Na-ya.” Kata seseorang. Rae Na menoleh.

“Junsu Oppa?”

“Bisa bicara sebentar?”

“Ne.”

Rae Na mengikuti langkah namja itu menuju meja dekat jendela, setelah meletakkan pesanan namja tersebut.

“Waeyo Oppa?”

Namja itu tidak menjawab. Hanya mengangsurkan sebuah undangan warna emas dan sedikit sentuhan pink shoft.

“ige mwoya?” tanya Rae Na.

“Undangan. Rae Na-ya, apa kau sudah memikirkan caranya? Besok siang acara pernikahan ini digelar.” Rae Na menggeleng.

“Mollayo Oppa. Aku tidak tahu bagaimana caranya.”

Namja itu tersenyum. “Jangan menyerah ya.”

Rae Na menatap namja di depannya. “Oppa, kenapa kau tidak marah kepadaku?”

“Khan aku sudah bilang. Aku mencintai Sangmi. Aku ingin dia bahagia.”

“Kau amat sangat baik.” Gumam Rae Na. Junsu – namja itu tertawa lepas. Membuat dia nampak sangat menarik.

“Aku harus pulang. Untuk acara besok. Aku harap, kau berhasil mendapatkan caranya.”

“Ara..”

Namja itu meninggalkan Rae Na yang masih duduk di mejanya. Dia menatap undangan itu.

“Rae Na-ya. Apa itu? Namja itu tadi siapa?” tanya seseorang. Rae Na berbalik. Leeteuk.

“Oh, dia guru SMA aku Oppa. Besok akan menikah dengan eonnie kesayanganku.” Kata Rae Na.

“Kau punya Eonnie?”

“Aniyo. Sebenarnya dia uisa di sekolahku. Dan aku akrab dengannya. Seandainya dia tidak akan menikah pasti aku akan mengenalkannya dengan Oppa.” Aku mulai melancarkan aksiku. Yah, semoga saja dia terpancing. Ide ini baru terlintas dalam benak Rae Na.

Leeteuk hanya tertawa. Ugh, respon yang sudah sewajarnya.

~ end of someone POV ~

~ Rae Na POV ~

Aku harus bisa memancing keingintahuan Leeteuk. Aku berbalik, pura – pura bingung.

“Apa yang harus kupakai untuk besok yah?”

“Kenapa Rae Na-ya?”

“Aku bingung harus pakai apa?”

“Pakai gaun sajalah.” Katanya santai.

“Ya! Oppa, Eonniku ini orang yang istimewa. Ah, aku harus menghubungi Hee Oppa saja biar besok bisa nemenin aku cari gaun dan anter ke acara nikahnya Sangmi Eonnie.” Kataku. Aku melirik kea rah Leeteuk. Aku tahu dia menegang mendengar nama yang kusebut dengan cukup keras itu. Tapi aku pura – pura tak tahu.

“Rae Na-ya… tadi kamu bilang apa?” Tanya Leeteuk. Suaranya agak bergetar.

“Mwo?”

“Tadi kau bilang apa Rae Na-ya?”

“Oppa, waeyo?” aku pura – pura bingung dengan sikapnya. Dia Nampak tidak sabar dan memegang kedua bahuku.

“Kau bilang siapa nama Eonnimu?”

“Sangmi Eonnie? Waeyo Oppa?”

“Sang… mi?”

“Ne. Seo Sangmi.”

“Ani… andwe…”

“Waeyo Oppa?”

“Itu tidak mungkin. Aku pasti salah dengar.”

“Oppa, jebal. Kenapa kau jadi histeris?” tanyaku.

“Rae Na-ya. Apa, apa Eonnimu ini?” tanyanya. Dia mengeluarkan dompetnya dengan tangan bergetar. Dia memperlihatkan sebuah foto.

“Ne. Oppa.” Aku melihat air mata Leeteuk Oppa menetes. “Wae Oppa? Kenapa Oppa menangis? Apakah Sangmi Eonnie itu….” Ucapku menggantung.

“Ne… dia orang yang aku cari Rae Na-ya. Kenapa kau tidak bilang padaku?”

“Aku tidak tahu Oppa. Oppa tidak pernah menyebutkan namanya. Mana aku tahu?” kataku. Tapi aku kasihan juga. “Apa Oppa mau bertemu? Aku rasa sebaiknya Oppa bertemu untuk menyelesaikan perasaan Oppa.”

“Tapi dia tidak mengundangku… bagaimana bisa? Meski aku ingin, dia tidak ingin aku hadir.”

“Sudahlah Oppa tenang saja. yang penting Oppa segera mempersiapkan hati Oppa.”

“Rae Na-ya….” Leeteuk Oppa memanggilku lemah.

Aku tahu dia pasti sangat terpukul. Tapi aku berharap, besok dia akan kembali tersenyum. Ya Tuhan semoga mereka bisa kembali bersama. Doaku dalam hati.

“Oppa, maafkan aku. Tapi Oppa, seandainya besok adalah pertemuan Oppa yang terakhir sebaiknya Oppa mengatakan segala perasaan Oppa, agar Oppa bisa tenang dan selanjutnya Oppa bisa menjalani hidup dengan baik. Oppa mau janji khan padaku? Jangan membuat Sangmi Eonnie sedih dan menyesali keputusannya.”

“Aku… aku tidak tahu.”

“Oppa, jebal… “

“Mollayo Rae Na-ya. Tapi akan aku coba.”

“Keure…”

Aku membuatkan teh hangat untuk membuat dia tenang. Oppa, mianhae. Kali ini aku pasti keterlaluan membuatmu terluka. Tapi, jika tidak begini kau pasti akan lebih terluka lagi. Apalagi bila ternyata kehadiranmu pun tak membuat Sangmi Eonnie merubah keputusannya.

~ end Rae Na POV ~

~ Someone POV ~

Rae Na keluar dari caffe. Dia sempat melirik ke dalam. Dilihatnya Leeteuk masih berdiam diri seperti itu. Dia menghembuskan nafas membuat gumpalan asap disekitar mulutnya.

“Rae-ya…” Rae Na menoleh. Kakaknya ada di samping sebuah mobil. Dia melambaikan tangannya saat Rae Na menoleh.

“Fishy, ngapain kamu di sini?” tanya Rae Na.

“Ya! Aku ini lebih tua darimu. Harusnya kau panggil aku Oppa.”

“Ara.. ara… Oppa, ada apa kau ke sini?” tanya Rae Na. mengalah. Dia capek berdebat.

“menjemputmu. Ayo aku antar pulang.”

“Oppa, aku bisa pulang sendiri.”

“Aniyo. Kau tidak dijemput namjachingumu khan? Aku juga ingin tahu kau tinggal dimana. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan.”

“Ne. Arasseo.”

Rae Na mengikuti langkah kakaknya menuju mobil warna biru itu.

“Rae-ya. Kenapa kau tidak bilang kau kabur dari rumah?”

“Oppa, aku tidak kabur. Tapi aku diusir Appa.”

“Kalau kau menuruti perkataan Appa, kau tidak akan diusir.”

“Ya! Kenapa semuanya menyalahkan aku? Aku tidak mengenal orang itu, dan aku tidak mencintainya.”

“Kau bahkan hampir menikah muda.”

“Aku mencintai namja ini.”

“Tapi dia meninggalkanmu… dan kau masih berhubungan dengan dia?”

“Aniyo. Lelaki yang aku cintai bukan namja kemarin.”

“Ya ampun Rae-ya. Aku dengar pernikahanmu gagal belum ada 3 bulan dan kau sudah berpacaran dengan orang lain. Apa itu yang namanya cinta?”

“Oppa, sebenarnya bukan begitu………”

“Lalu?” rae na menceritakan semuanya kepada kakaknya yang sangat protectif itu. “Ya! Kau ini.”

“Kenapa Oppa masih memarahiku?”

“Kau salah sich. Bagaimana aku tidak memarahimu. Dasar kau ini. Tapi apa kau yakin kau mencintai siapa itu..,Jung Yunho?”

“Ne…”

“Tapi kenapa aku merasa kau juga mencintai namjachingumu ini, siapa sich namanya? Heechul?”

“Dia sudah membantuku Oppa.”

“Jinja.”

“Geurom.”

“Tapi mataku melihatnya tidak seperti itu. Ah sudahlah, aku tidak ingin membahas ini. Yang ingin aku bilang ke kamu, pertimbangkan keinginan Appa. Bagaimanapun juga, Appa berniat baik.”

“Ne.” Rae Na menjawab singkat. “Oppa, kita sudah sampai. Ayo masuk dulu.”

“Ara. Aku juga ingin tahu. Tempat tinggalmu.”

Rae Na memasuki apartemen tempat dia tinggal hamper 3 bulan ini diikuti Donghae.

“Annyeong,, aku pulang.”

“Noona kau sudah pulang?” Ryeowook menyambut Rae Na.

“Ne. oh ya Wookie, kenalkan ini Oppaku. Lee Donghae. Oppa, ini Ryeowook, namdongsaeng Heechul Oppa.”

“Annyeong haseyo.. naneun Kim Ryeowook imnida.”

“Lee Donghae imnida.”

“Silahkan masuk.” Ajak Wookie ramah.

“Wookie, kemana yang lain?”

“Heechul Hyung belum pulang siaran. Kangin hyung dan yesung hyung baru keluar. Entah kemana. Kalau Kibum, tidur.”

“Kau tadi sedang apa?”

“Sedang nonton TV Noona, dia kakak kandungmu?”

“Aniyo. Dia kakak angkatku. Tolong buatkan minum dan ajak ngobrol ya? Aku mau mandi dulu.”

“Ne Noona.”

Tak lama kemudian, Rae Na keluar kamar dan mendapati 7 namja sedang berkumpul dan minum minum lagi. Donghae sepertinya bisa berbaur dengan mereka. Rae Na menatap miris kea rah Leeteuk yang sepertinya stress itu. Dia sudah sangat mabuk.

“Oppa, kenapa kau biarkan Leeteuk Oppa mabuk seperti ini?” Tanya Rae Na pada Heechul Oppa. Dia menatap Rae Na, lalu tersenyum manis membuat jantung Rae Na bergemuruh.

“Dia butuh sesuatu untuk membuatnya melupakan kesedihannya Rae Na-ya. Kau sudah memberitahunya?”

“Ne.”

“Kau ambilkan selimut untuk mereka. Sepertinya mereka akan tertidur di sini lagi. Aku juga ingin bicara denganmu.” Rae Na buru – buru melaksanakan perintah Heechul. Kemudian mereka masuk ke dalam kamar yang sudah hamper seminggu mereka tempati berdua.

“Lalu rencanamu besok bagaimana?” Tanya Heechul.

“Aku akan mempertemukan mereka. Pasti itu. Semoga Sangmi Eonnie mau merubah keputusannya.”

“Kalau dia nggak mau merubah keputusannya gimana?”

“Oppa sendiri khan yang bilang, kalau Sangmi Eonnie melarang Oppa memberitahu Leeteuk Oppa, karena jika Leeteuk Oppa datang dan menemuinya, eonnie takut dia akan berubah pikiran. Oppa, kau harus positive thingking. Kau yang paling ingin mereka bahagia khan?”

“Ne, gomawo. Kau memang istimewa Rae Na-ya.”

“Apa Oppa bilang?” Rae Na menatap Heechul yang memalingkan wajahnya. Rae Na pun akhirnya duduk di pinggir ranjang.

~ end of someone POV ~

~ Heechul POV ~

Kenapa aku ingin sekali memeluk gadis ini? Dia memang istimewa. Aku berharap besok bisa berjalan seperti harapan kami.

“Rae Na-ya. Setelah menghadiri acara besok, kita harus segera ke Kangwondo. Tadi Kangin memberitahu Aboeji semakin parah.”

“Tapi, Oppa, jika aku ikut apa bukannya akan membuat penyakit aboejimu akan parah? Bukankah dia ingin kau menikah dengan anak temannya?”

“Aku tidak akan mau menikah. Paling tidak aku ingin membuktikan kepada Aboeji aku bisa mencari gadis yang pantas untukku.” Aku tidak bisa melihat raut wajahnya. Karena dia membelakangiku.

Mungkin, aku memang sudah jatuh hati kepadannya. Apa yang aku ucapkan lahir dari dalam hatiku. Tapi, dia masih mencintai Yunho.

Tidak apa – apa dia masih mencintai Yunho, asalkan aku masih bisa melihatnya tersenyum. Tapi, bagaiamana jika dia tahu apa yang telah aku lakukan? Aku telah membohonginya. Apakah dia akan membenciku? Tuhan, semoga dia tidak membenciku.

~ end of Heechul POV ~

~ Rae Na POV ~

Ya Tuhan, jantungku berdebar – debar mendengar perkataannya itu. Meski tidak ditujukan kepadaku, kenapa aku sangat berharap? Dan bisa kupastikan mukaku memerah. Apa aku menyukainya? Andwe! Itu tidak mungkin. Pasti karena aku galau. Yunho Oppa tidak juga memberiku kabar. Aku merindukannya, dan Heechul Oppa ada bersamaku. Pasti karena itu.

“Rae Na-ya, aku ngantuk. Aku tidur dulu ya.”

“Ne, Jaljayo Oppa.” Ucapku. Sampai beberapa saat aku tidak berani bergerak. Setelah memastikan dia terlelap, barulah aku membaringkan tubuhku disampingnya. Aigoooo…… dia cakep sekali kalau sedang tidur.

Tanpa sadar, aku menyingkirkan anak rambut yang menutupi matanya. Seperti itu sampai aku tertidur sendiri.

Aku terbangun dari tidurku yang terasa nyaman.  Aku buka mataku. Kulihat ke sampingku. Tidak ada. Dia pasti sedang mandi. Karena aku mendengar gemericik air. Aku tidak mau pikiranku jadi yadong karena melihat tubuh indahnya. Jadi aku memutuskan untuk keluar.

Di ruang tengah, aku mendapati beberapa tubuh masih tergeletak. Tapi Wookie dan Leeteuk Oppa tidak ada. Dimana mereka.

“Kau sudah bangun Rae Na-ya?” aku menoleh. Leeteuk Oppa.

“Ne Oppa. Oppa darimana?”

“Aku membantu Wookie memasak.”

“Lebih tepatnya mengganggu aku Noona.” Kata Wookie dari belakang Leeteuk Oppa. Yang langsung mendaratkan jitakan di kepala Wookie.

Aku tersenyum.

“Kau belum mandi Noona? Masih ada belek tuch di matamu.” Kata Wookie.

“Aissshhhh kau ini.” Desisku, lalu buru – buru kabur masuk kembali ke kamar. Aduh, kesalahan fatal. Heechul Oppa sudah selesai mandi, dan sekarang dia sedang memakai baju. Lagi – lagi melihatnya topless.

Sebelum dia menyadari kehadiranku, aku langsung kabur ke kamar mandi. Dan mengguyur seluruh tubuhku untuk menghilangkan rasa panas dalam tubuhku.

Rae Na, kau ini sudah 19 tahun, ah musim semi tahun ini kau bahkan sudah berusia 20 tahun, kau bahkan hamper menikah, kenapa hanya melihat tubuh bagian atas seorang namja membuatmu salah tingkah? Kau benar – benar polos Rae Na. omelku dalam hati.

20 menit di dalam kamar mandi, akupun keluar. Aish, sial sekali kenapa namja ini masih ada di kamar? Untuk menghilangkan kegugupanku, aku langsung menuju meja rias.

“Kau akan kuliah?”

“Aniyo. Aku libur Oppa. waeyo?”

“Lalu kau akan kemana?”

“Ke rumah In Hae mungkin. Aku kangen sekali dengan Kyu.”

“Kyu?” dia mengkerutkan keningnya.

“Adik In Hae.” Kataku.

“O, aku antar.”

“Ya Oppa, aku bisa sendiri. Lagian ada Hae Oppa. aku bisa minta anterin dia.”

“Aku ikut.”

Aku menatapnya. Kenapa hari ini dia manja sekali.

“Baiklah.” Kataku akhirnya.

~ end of Rae Na POV ~

~ Someone POV ~

Akhirnya 3 orang itu sampai di rumah In Hae yang cukup besar. Ternyata Kyu sedang bersama Eun Sie. Setelah berpacaran dengan Kyu, Eun Sie menjadi akrab dengan Rae Na dan In Hae.

“Kyu,mana In Hae?”

“Noona, ada didapur.” Jawab Kyu. Dia tidak mengalihkan pandangannya dari PSP-nya. Rae Na segera menuju dapur. Rae Na melihat In Hae yang melamun, tidak memasak.

“Ya In Hae-ah. Apa yang kau lamunkan?” Tanya Rae Na. membuat In Hae terlonjak.

“Rae Na-ah.” Katanya tak bersemangat.

“Waeyo?”

“Mwo?”

“Kau kenapa In Hae-ah?”

“Aku ditolak Hyuk Oppa.” katanya sedih.

“Mwo? Jinja? Aish… biar kuberi dia pelajaran.” Kataku kesal.

“Tidak perlu Rae Na-ah. Aku sudah tidak apa – apa. Aku sendiri sudah tahu jawabannya. Dia sangat baik padaku. Itu yang membuat aku sedih. Aku jahat, karena pernah berpikir, aku akan bisa mendapatkan hatinya setelah dia putus dari Chae Rin Eonnie. Tapi itu tidak mungkin.”

“In Hae-ah………”

“Aku hanya butuh waktu untuk bisa menghilangkan perasaan yang sudah 2 tahun aku miliki ini.”

“Bersabarlah In Hae-ah. Hwaiting. Kau pasti bisa mendapatkan lelaki yang baik dan pantas untukmu.”

“Ne, kau benar. Tapi saat ini, aku ingin menata kembali perasaanku. Sehingga aku bisa tersenyum tulus saat menyapanya lagi.”

“Kau pasti bisa. Ya sudah,ayo kita pergi mencari baju untuk pernikahan Sangmi Eonnie siang nanti.”

“Ne. kajja…” in hae tersenyum kecil. Dia sangat berterima kasih kepada Rae Na yang sudah membuatnya tenang.

Siang itu di sebuah hall. Nampak ramai sekali. Rae Na menunggu gelisah, bersama dengan In Hae dan Eun Sie. Kebetulan mereka dulu satu SMA juga.

“Kau ini kenapa Rae Na-ya? Aku yang akan menikah kenapa kau yang jadi gelisah? Jangan bilang kau gelisah karena kau ingat pernikahanmu……”

“Aniyo Eonnie. Aku sudah tidak ingat.” Potong Rae Na.

“Lalu kenapa kau gelisah seperti itu? Duduklah. Aku bisa pusing melihatnya.”

Rae Na menurutinya

Sorry sorry sorry sorry

Naega naega naega naega…..

Rae Na segera membuka hapenya begitu berbunyi.

“Yeobuseyo…”

“………”

“Ne. araseo…”

“Eonnie, ada yang ingin bertemu dengan Eonnie.” Kata Rae Na.

“Nugu?” rae Na tidak menjawab.

Pintu terbuka. Sangmi memicingkan matanya karena dia tidak melihat sosok yang datang. Hanya siluetnya saja.

“Eonnie, kami keluar dulu.” Kata Rae Na. memberi tanda kepada kedua sahabatnya. Sebelum menutup pintu, dia bisa melihat raut wajah yeoja cantik itu. Dia Nampak shock.

“Rae Na-ya, bagaimana?” Tanya Heechul.

“Mereka sudah bertemu Oppa, sekarang kita hanya bisa menanti.” Kata Rae Na.

“Baiklah ayo kita segera ke hall. Jangan di sini.” Ajak Heechul. Semuanya menyetujui.

Rae Na dan Heechul tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. 10 menit lagi acara akan dimulai. Pendeta sudah berada di belakang altar. Dan Junsu mulai memasuki hall. Tak lama kemudian, Leeteuk masuk dan duduk di samping Rae Na. wajahnya kusut dan kosong. Rae Na langsung lemas.

Apalagi lagu wedding berkumandang. Si pengantin wanita masuk. Dia diiringi oleh ayahnya. Wajahnya datar. Dia menuju altar tanpa menoleh lagi. Rae Na melirik wajah Leeteuk yang putus asa. Begitu Sangmi berdiri di samping Junsu di depan altar, Leeteuk langsung pergi keluar. Dia tidak sanggup melihat orang yang dicintainya akan mengucapkan janji sehidup semati dengan orang lain.

Pendeta itu membacakan ayat – ayat dalam alkitab, sebelum mengambil sumpah.

“Apa kalian sudah siap?” Tanya pendeta itu.

“Tunggu sebentar pendeta.” Pinta Junsu. Semua menatap kea rah Junsu, heran.

“Sangmi-ah, apa kau sudah mantap ingin menikah denganku? Jika Iya, bersediakah kau menghilangkan orang lain tidak hanya dalam hidupmu, tapi juga dalam hati dan jiwamu juga dalam pikiranmu. Bersediakah kau menatapku dengan penuh cinta?” Tanya Junsu lembut. Sangmi menatap kea rah lelaki ini. “Jika, kau masih ragu, karena dihatimu masih ada orang lain, maka pergilah sekarang juga. Karena jika tidak, maka kau tidak boleh menyesalinya. Aku ingin kau hidup denganku karena cinta bukan karena balas budi. Jadi, bagaimana kata hatimu Sangmi?”

Sangmi tidak mampu menjawab. Dia melihat kea rah Rae Na dan Heechul. Di pikirannya sekarang berkelebat namja yang sudah mencuri seluruh hatinya. Namja yang lebih muda 3 tahun darinya. Yang sangat dia cintai.

“Oppa, mianhae… jeongmal mianhae. Aku…… aku ingin bersama dia.”

“Kalau begitu, pergilah. Jangan pernah menyesal. Kau harus bahagia.”

“Gomawo Oppa. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu.” Sangmi memeluk Junsu lalu kemudian berlari mengejar Leeteuk yang telah pergi dari hall ini.

“Oppa, Oppa, akhirnya Sangmi Eonnie dan Leeteuk Oppa…” Rae Na tidak bisa menyembunyikan tangis bahagianya.

“Noona, Jung Soo…” hanya itu yang dikatakan Heechul. Dia langsung berlari keluar dan melihat kedua sahabatnya itu berpelukan dengan bahagia.

Rae Na mendekati Junsu.

“Oppa, gamsahamnida.”

“Kau harus bertanggung jawab Rae Na-ya.”

“Mwo?”

“Segera carikan aku istri.”

Rae Na tersenyum melihat senyum tulus Junsu. Dia pasti akan membalas kebaikan namja disampingnya. Junsu tertawa sambil mengacak rambutnya. Melihat senyum Rae Na itu.

“Apa seperti ini rasanya dirimu dulu Rae Na-ya?”

Rae Na memiringkan kepalanya. Junsu sedih. Itu terlihat dalam matanya. Tapi dia juga melihat raut muka Junsu merona bahagia.

“Aku tahu Oppa, pasti rasanya sakit ditinggalkan orang di saat pernikahan kita. Tapi Oppa tidak ditinggalkan. Oppa yang memberikan pilihan ini karena Oppa ingin melihat Eonnie bahagia. Sedangkan aku tidak tahu  Yunho Oppa ada dimana.”

“Kalau begitu jangan menunggu yang tidak pasti. Aku rasa namja yang selalu bersamamu itu baik.”

“Kenapa kita jadi saling menasehati?” rae Na tertawa bersama Junsu.

Gomawo Oppa, kau memang namja yang baik. Semoga kau mendapatkan yeoja yang baik juga untuk mendampingimu, doa Rae Na tulus.

TBC . . .

5 thoughts on “Way For Love part 4”

  1. hah… Akhirny muncul juga part 4..

    Huaa… Ceritanya makin seru aja nih.. Aduh daebak bgt deh nih ff nya…!!
    aku tunggu yah part selanjutnya^_^

  2. akhirnya, teukppa bisa bersama ma orang yang dicintainya, yang udah lama ditunggu2.

    Haaa reina ma chulppa pasti lega ngliatnya.

    Jadi ga sabar pengen baca part brikutnya. Lanjooot… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s