Accident Part 3

Rumah yang dibelikan appa tidak terlalu jauh dari rumah lamaku. Aku dan Eunhyuk mengitari rumah baru kami berdua. Dan yang lainnya menunggu di ruang tamu. Rumah ini benar-benar seperti rumah impianku. Rumahnya minimalis, warna catnya putih. Warna favoritku. Rumah ini memiliki dua lantai dan memiliki 2 kamar tidur. Ada halaman belakang dengan sebuah kolam ikan berukuran kecil. Di halaman depan rumah pun ada taman kecil yang bisa aku tanam dengan bunga kesukaanku. Setelah berkeliling, aku dan Eunhyuk bergabung di ruang tamu.
“Bagaimana, kalian menyukai rumah ini?” Tanya eomma. Aku mengangguk semangat.
“Baguslah kalau begitu, mulai besok kalian sudah bisa menempati rumah ini.” Ucap appa Eunhyuk.
“Mwo?” ucapku dan Eunhyuk bersamaan. Lagi, kami diberikan kejutan oleh orang tua kami.
“Tapi, kami belum membeli segala keperluan untuk mengisi rumah ini.” Ucap Eunhyuk.
“Kalian tenang saja, kami sudah membelinya. Dan kami juga sudah meminta desain interior untuk mendesain rumah kalian.” Jawab eomma Eunhyuk. Kami hanya bisa mengangguk pasrah.
Eunhyuk POV
Siang ini kami akan menempati rumah baru kami. Tempat kami akan tinggal. Seung Won sedang menyiapkan baju-bajunya dan bajuku kedalam koper saat aku masuk kedalam kamar.
“Kau sudah siap?”
“Ne.” jawabnya singkat kemudian mengambil tas tangannya dan aku membawa koper-koper baju kami.
^_^
“Aaahhhh . . .” aku menghela napas panjang karena lelah membawa koper-koper kami yang lumayan berat.
“Aku mau berkeliling.” Ucapnya. Rasanya akupun ingin melihat-lihat interior rumah kami, jadi aku mengikutinya.
Kini kami sedang melihat-lihat kamar utama, tentu saja karena orang tua kami menganggap kami akan tidur di kamar yang sama. Interiornya bagus sekali, matahari bisa masuk dengan bebas kedalam kamar. Kami beralih ke kamar yang disamping kami. Dari penampilannya saja, kami sudah tahu kalau kamar ini untuk anak kami nantinya.
“Aku yang akan tidur disini, kau yang tidur di kamar utama.” ucapnya ketus. Tapi aku masih melihat raut kekaguman dari wajahnya karena interior kamar anak kami. Warna kamar ini didominasi dengan warna cokelat. Mungkin karena akan lebih netral untuk anak kami nanti.
“Terserahmu saja.” aku meninggalkannya dan turun kebawah untuk mengambil koper kami.
Selama bulan-bulan pertama kami tinggal di rumah baru, eomma Seung Won selalu datang untuk menengok kami ataupun hanya mengantarkan makanan.
“Seung Won-ah, kau kapan akan bilang pada keluarga kalau kau sedang hamil?” tanyaku saat kami sedang sarapan.
“Molla.” Jawabnya enteng kemudian meminum susu khusus untuk wanita hamil.
“Kandunganmu sudah berumur lima bulan, dan kau lihat. Perutmu semakin membesar.”
“Tenang saja, kita akan memberikan kejutan untuk mereka.”
“Kapan?”
“Setelah anak ini lahir.”
“Maksudmu?” aku tidak percaya dengan apa yang diucapkannya.
“Kita akan pindah ke suatu tempat untuk sementara waktu. Aku tidak mau keluarga kita bertanya-tanya soal umur kandunganku.”
“Sama saja.”
“Kita kan bisa bilang kalau anak ini lahir premature?”
“Kita pindah kemana?”
“Hongkong.”
“Mwo? Aku tidak setuju, lebih baik kita jujur kalau kau sudah hamil dari awal menikah.”
“Tapi . . .”
“Sudahlah, nanti kita bicarakan lagi. Aku harus bekerja sekarang.” Aku segera berlari keluar rumah. Sebelum meninggalkan jauh rumah, kulihat ada beberapa surat yang baru masuk. Kulihat satu persatu siapa yang mengirim surat. Tiba-tiba saja aku berhenti di sebuah surat. Kubelalakan mataku melihat surat itu. Segera kumasukkan kedalam tas agar Seung Won tidak menemukannya dan langsung pergi.
Kini aku sudah berada di kantor. Aku bekerja di kantor cabang appa yang berada di Seoul. Tentu saja sebagai pemimpin tertinggi disana. Aku teringat dengan surat yang tadi pagi aku bawa dari rumah. Kuambil tas kerjaku dan mengambil surat itu. Pelan-pelan kubuka surat itu. Ternyata isinya persis seperti apa yang aku duga. Surat panggilan untuk Wamil.
===============================================================================
Sepulang dari kantor, aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku harus menyelesaikan surat-surat penting keberangkatanku untuk wamil.
“Hyuk!” panggil seseorang. Aku langsung memalingkan wajahku untuk melihat orang yang memanggilku. Aku tersenyum lebar melihat orang yang memanggilku.
“Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanyaku.
“Kau sudah mendapat panggilannya?” tanyanya.
“Ne, kau?” tanyaku padanya.
“Ani, aku hanya menemani sepupuku. Aku belum mendapatkan panggilan, mungkin tahun depan atau saat kau keluar nanti aku baru masuk.” Ucapnya tertawa.
“Donghae-ah, aku harus pulang sekarang. Kutunggu kau tahun depan.” Ucapku pamit padanya.
“Ne.”
Tidak kusangka aku akan bertemu dengan Donghae. Aku sangat merindukannya, sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Dia sahabatku waktu kuliah, setelah lulus karena kesibukan kami akhirnya komunikasi antara kami terputus.
“Aku pulang . . .” ucapku saat masuk kedalam rumah. “Kemana Seung Won? Kenapa sepi sekali?” aku berkeliling mencari sosok Seung Won. “Seung Won . . .!!” aku terus memanggil namanya. Tapi tidak jawaban. Aku sudah mencarinya ke setiap sudut rumah, tapi hasilnya nihil. Kuampil ponselku kemudian segera kuhubungi dia. Terdengar nada sambung, tapi pada saat yang bersamaan pula aku mendengar nada dering ponselnya.
Dallajin guhseun uhbsuh honjainguhl
Ddo dareun sarangi ohl guhrago na miduhbwajjiman ijen
Sumswineun guht majuh himideulgo
Iruhke kuhjyuhman gajanha nuhreul
hyanghan nae geuriwoomi jogeumsshik
Jiwuhjiji anhneun chae nama issuh
Aku mencari sumber suaranya, ternyata berasal dari ruang tengah. Aku melihat ponsel Seung Won tergeletak begitu saja di sofa ruang tengah. “Kemana dia?” gumamku khawatir.
“Aku pulaaang . . .” terdengar suaranya dari arah pintu masuk. Aku langsung berlari menghampirinya.
“Ya! Kau dari mana saja?” tanyaku dengan nada tinggi.
“Aku hanya belanja keperluan sehari-hari.” Jawab Seung Won tidak kalah keras.
“Kalau kau mau pergi kemana-mana, kau harus bilang padaku. Lalu kenapa kau tidak membwa handphonemu?”
“Tertinggal.” Jawabnya enteng sambil berjalan masuk kedalam rumah melewatiku.
“Ya! Kau sedang hamil, kau tidak boleh melakukan hal-hal yang berat.” Ucapku mengikutinya dari belakang.
“Apa perdulimu?”
“Tentu saja aku perduli, karena kau sedang mengandung anakku.” Dia menghentikan langkahnya kemudian berbalik padaku dan menatapku tajam.
“Asal kau tahu! Aku sebenarnya tidak menginginkan anak ini. Setelah anak ini lahir, kau yang akan merawatnya. Karena kita akan langsung bercerai.” Teriaknya. Aku benar-benar tidak percaya dia akan mengatakan hal itu. Aku bisa terima kalau dia tidak menginginkan pernikahan ini, tapi aku tidak bisa terima dia mengatakan hal seperti itu pada anakku. Anak kami.
“Kau keterlaluan.” Teriakku dan langsung masuk kedalam kamar dan menutup pintunya dengan keras.
Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku harus memberitahunya. Setelah cukup tenang, aku keluar kamar dan langsung berjalan menuju dapur. Kulihat Seung Won masih sibuk memasak untuk makan malam kami. Kuambil segelas air putih berharap dapat mendinginkan kepala dan hatiku yang sedang panas. Kami makan dalam hening, tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Kulihat dia sangat menikmati keheningan di antara kami, tapi aku tidak bisa. Pikiranku benar-benar kacau. Segera kuselesaikan makanku dan langsung menuju ruang TV sekedar merilekskan otakku. Kudengar suara-suara berisik dari dapur yang di timbulkan piring dan sendok yang beradu. Dari itu aku tahu kalau dia sedang mencuci peralatan bekas makan kami tadi. Setelah mencuci piring, kulihat dia melewatiku dan hendak naik ke lantai atas masuk kedalam kamarnya.
“Tunggu!” ucapku. Entah kenapa aku tiba-tiba saja memanggilnya. Dia menghentikan langkahnya tanpa membalikkan tubuhnya menghadap padaku. “Ada yang ingin aku bicarakan.” Seketika itu juga dia membalikkan tubuhnya lalu menatapku tajam. “Kau tidak bisa duduk dulu, jangan berdiri disana saja.” Dia mengikuti perintahku lalu duduk di sampingku. “Aku . . . aku . . .”
“Cepat katakan, kenapa kau tiba-tiba menjadi gagu?” ucapnya ketus. Dia masih tidak mau menatapku. Tatapannya tertuju lurus kedepan melihat TV.
“Aku . . . aku sudah mendapatkannya.” Tiba-tiba dia menatapku penasaran. Dia menginginkan informasi yang lebih. “Aku sudah mendapatkan surat panggilannya.” Dia menarik napasnya dalam.
“Begitu? Baguslah.” Ucapnya kemudian langsung masuk kedalam kamarnya meninggalkanku sendiri penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di otakku.
‘Kenapa sikapnya biasa saja? Ah iya, aku ini sebagai suaminya hanya sebagai status. Dia tidak perduli dengan yang lainnya. Kenapa aku mengharapkan lebih? Itu tidak mungkin.’ Batinku.

Seung Won POV
Selesai mencuci piring aku berniat langsung masuk kedalam kamar untuk istirahat. Aku sedang tidak mau menatap wajah si Monkey itu. Sudah cukup sore ini dia membuatku jengkel. Dengan langkah cepat aku berjalan menuju tangga ke lantai menuju kamarku.
“Tunggu!” panggil Eunhyuk. Kuhentikan langkahku menunggu ucapan selanjutnya. “Ada yang ingin aku bicarakan.” Aku langsung membalikkan tubuhku, tidak seperti biasanya dia ingin membicarakan sesuatu denganku. “Kau tidak bisa duduk dulu, jangan berdiri disana saja.” Pintanya. Dengan terpaksa aku duduk di sebelahnya karena di ruang TV hanya sebuah sofa untuk duduk. Aku tindak mungkin duduk di lantai. Bayiku akan kedinginan. “Aku . . . aku . . .” kenapa dia tiba-tiba menjadi gagu seperti itu. Lama sekali, sebenarnya dia mau membicarakan apa? Aku masih tidak mau menatap wajahnya meskipun kini kami duduk bersebelahan.
“Cepat katakan, kenapa kau tiba-tiba menjadi gagu?” ucapku ketus karena aku tidak tahan melihatnya gagu seperti itu.
“Aku . . . aku sudah mendapatkannya.” Seketika itu pula kutatap wajahnya dan menatap matanya tajam. Entah kenapa saat aku mendengarnya ada rasa takut dalam hatiku. Aku tidak tahu kenapa. Kutarik napaku dalam untuk menenangkan hatiku. Aku tidak mau mendengar apa yang akan aku dengar darinya. “Aku sudah mendapatkan surat panggilannya.”
“Begitu? Baguslah.” Ucapku sedikit ketus. Aku langsung masuk kedalam kamar dan meninggalkannya sendiri. Aku yakin saat ini dia pasti sedang bingung karena menanggapi panggilannya itu dengan datar tanpa ekspresi apapun. Lagi pula aku harus bagaimana? Menangis di pelukannya karena akan dia tinggalkan selama dua tahun? Tidak mungkin aku melakukannya.
Segera kupejamkan mataku saat sudah terlentang di tempat tidur. Tapi tidak bisa, mata ini sama sekali tidak mau tertutup. Tiba-tiba aku ingat pada kata-kata Eunhyuk. ‘Aku . . . aku sudah mendapatkannya.’ Kenapa hatiku menjadi gelisah seperti ini. Aku harusnya bahagia karena dia akan pergi selama dua tahun. Tidak akan ada lagi yang akan menggangguku.
Tadi malam aku benar-benar tidak bisa tidur. Sampai akhirnya aku benar-benar tidak tidur. Jam sudah menunjukkan jam enam pagi, kini aku harus menyiapkan sarapan. Dia belum keluar dari kamarnya, itu berarti dia masih tidur. Saat aku sedang di dapur, kudengar suara pintu terbuka. Sudah pasti itu adalah Eunhyuk yang keluar dari kamarnya. Aku masih sibuk dengan masakanku, dan tidak kupedulikan dia yang terlihat sekali dia sudah sangat lapar. Aku tahu karena setiap pagi dia selalu membuat roti dan susu, apa namanya kalau tidak lapar. Dan yang semakin aku tidak suka adalah, dia tidak pernah menyikat giginya saat bangun tidur. Jorok sekali.
“Ya! Bisa tidak kau sikat gigimu terlebih dahulu. Kau jorok sekali.” Ketusku.
“Tidak bisa.” Jawabnya enteng. Aku semakin mendengus kesal.
“Ige.” Kuserahkan sepiring omelet ke hadapannya.
“Kau ketus sekali.”
“Terserah, aku mau ketus atau tidak. Itu bukan urusanmu, aku juga tidak mengurusi urusanmu.” Jawabku ketus kemudian masuk kedalam kamar.
Dasar namja tidak bertanggung jawab. Padahal baru beberapa bulan menikah, tiba-tiba bilang akan pergi wamil. Dia tidak pikir, kalau istrinya saat ini sedang hamil?
“Seung Won-ah, aku pergi.” Teriaknya saat akan pergi ke kantor. Kupandangi mobilnya yang melaju semakin menjauh dari balik jendela kamarku.
Setelah dia pergi ke kantor, tidak ada yang bisa kulakukan di rumah selain bersih-bersih dan menonton TV. Semua sudah kulakukan, aku bingung harus melakukan apa lagi. Sebaiknya aku main ke rumah eomma, semoga dia ada di rumah dan bisa mengajaknya mengobrol.
Saat sampai di rumah, keadaan rumah sangat sepi. Itu artinya tidak ada orang di rumah. Aku naik ke lantai atas rumahku dan masuk kedalam kamar yang dulunya adalah kamarku. Sekarang pun masih kamarku, hanya saja sudah sedikit berbeda keadaan semenjak aku tidak tinggal disini lagi. Kuamati setiap sudut kamarku, tiap detil barang-barang yang masih terpajang kusentuh satu persatu. Meskipun aku belum lama menikah, tapi rasanya aku sangat merindukan masa-masa lajangku dulu. Kebebasan seorang yeoja yang tidak terikat oleh status apapun. Aku merindukannya. Aku berjalan menuju tempat tidur kecil yang berada di tengah ruangan, warna spreinya pun belum berubah. Putih adalah warna favoritku selain merah. Aku berbaring di atasnya sambil menatap langit-langit kamar yang cat dengar gambar awan. Sampai akhirnya aku tidak tersadar karena tertidur.
Eunhyuk POV
“Aku pulang . . .” ucapku saat masuk kedalam rumah. “Aneh, kenapa gelap sekali?” kulihat sekilas jam tanganku. “Masih pukul 8 malam.” Gumamku. Kulangkahkan kakiku menuju lantai dua untuk mencari Seung Won. “Seung Won . . .!!” panggilku.”Ya! aku lapar, cepat buatkan aku makanan!” omelku. Kemudian langsung masuk kedalam kamarnya. Sebelumnya kunyalakan dulu lampu kamar, ternyata dia tidak ada di kamar. “Kemana dia?” aku mulai resah. Karena tidak biasanya jam segini dia tidak ada di rumah, kalaupun dia pergi dan akan pulang terlambat. Dia pasti akan memberitahuku. Aku masih memaksa pikiranku untuk tenang, walaupun sebenarnya hati ini tidak. Aku mencarinya ke setiap sudut rumah, dan hasilnya nihil. Kuhempaskan tubuhku ke sofa ruang tengah untuk melepas lelah, kulonggarkan ikatan dasi di leherku membiarkan udara masuk ke dalam tubuhku. Rasanya sesak sekali. Kulirik lagi jam tanganku, sudah pukul 9 malam. “Babo, kenapa aku tidak menelponnya?” rutukku. Aku langsung menghubungi nomor Seung Won. Terdengar nada sambung diseberang sana, tapi tidak ada yang mengangkatnya. Aku mulai gelisah, aku takut sesuatu terjadi pada Seung Won dan calon anakku. Aku terus mencoba menghubungi Seung Won, entah sudah berapa kali aku mencoba menelponnya mungkin lebih dari 20 kali. Aku pasrah, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. “Apa mungkin dia pulang ke rumahnya, tapi kalau aku kesana dan dia tidak ada. Eomma pasti akan cemas. Ahhh . . .” akhirnya kuputuskan untuk langsung datang ke rumahnya saja.
Kurang dari 15 menit aku sudah sampai di rumah eomma Seung Won. Kupijit bel rumahnya, tidak berapa seorang wanita setengah baya membukakan pintu rumahnya untukku. Saat melihatnya kau langsung membungkuk member salam, “Annyeong!”
“Eunhyuk-ah, kau ternyata. Ayo masuk, kebetulan kami sedang makan malam.” Ajak eomma masuk, kami langsung menuju ruang makan. Sudah ada appa disana. Dia menatap kedatanganku dengan senyuman. “Kami baru pulang dari Incheon, mengunjungi kerabat disana. Jadi makan malamnya tidak terlalu dipersiapkan dengan baik.” Ucap eomma yang sambil menuangkan nasi kedalam mangkuk untukku.
“Ne, eomma. Aku juga minta maaf, karena malam-malam begini mengganggu kalian.” Aku merasa tidak enak hati.
“Aniyo, eomma dan appa senang kau main kesini. Lain kali main kesini lagi.”
“Ne, eomma.”
“Kau kelihatan lelah sekali, kau baru pulang kerja?” Tanya appa.
“Ne appa.” Jawabku singkat. Aku merasa keringat dingin mulai mengguyur tubuhku, aku tidak sanggup menanyakan keberadaan Seung won pada mereka.
“Kenapa kau tidak langsung pulang saja ke rumah?” Tanya eomma terdengar khawatir.
“Aku sudah pulang eomma, maksud kedatanganku kesini sebenarnya adalah . . .”
“Mwo?” Tanya mereka bersamaan.
“Aku mencari Seung Won, apakah dia ada disini?” tanyaku ragu.
“Mwo?” Tanya mereka bersamaan.
“Mianhamnida appa, eomma! Aku tidak bisa menjaga Seung Won dengan baik.”
“Bagaimana bisa?” nada eomma mulai meninggi.
“Tadi saat pulang dari kantor, dia sudah tidak ada di rumah. Aku sudah mencarinya dan menghubunginya, tapi tidak di angkat. Maka dari itu, apakah kalian tahu dimana tempat yang biasa di datangi Seung Won?”
“Apakah kalian sedang bertengkar?” Tanya appa.
“Ani, kami hanya berdebat kecil tadi malam. Tapi tadi pagi kami sudah baik-baik saja.”
“Pergilah ke taman yang ada di pusat kota. Yang appa tahu dia selalu kesana bila sedang sedih.”
“Ne, kalau begitu aku akan kesana.” Jawabku dan langsung mengendarai mobilku menuju taman kota.
“Kami akan mencoba menghubungi teman-temannya.” Terdengar suara teriakan eomma sebelum aku meninggalkan rumah mereka.
TBC . . .

18 thoughts on “Accident Part 3”

  1. buahahaha~
    ketiduran,,ckckckckck…
    bnr” dah… kachiank unyuk nyari sna-i
    seung won sbnr.a udh mly suka-kan ma unyuk :D-i
    seung won sbnr.a udh mly suka-kan ma unyuk😀

  2. lah seung woon y bukan y td ketiduran d kamar y, pa dia dah bangun n pergi tp kalo ternyata masi tidur d kamar kan konyol bgt ha ha ha ha ha
    yah paje wamil segala lg hyuk y bakal pisah dong. . . G .

  3. Woaaaaah, aku udah baca dari part 1 sekaligus jd ak langsung komen di sini ja hehehehehe yah, hyuk nya pergi (-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩) andwaeeeee next chap asap ya, thor hehehehehe btw nice ff!🙂

  4. bukannya seung won tadi dikamar? berarti….
    hahha… eunhyuk-ah selamat mencari seung won~ hahahhaa xD

  5. Sedih banget pas dnger kabar klo hyuk mo prgi wamil. Msi brpisah dah. Hmm gak tega ngbayanginnya… -,-

  6. Seung Won muna juga -,- padahal gamau ditinggal wamil tp pura2 tegar ckckck
    Eunhyuk udh cemas nyari sana sini, Seung Won malah tidur nyenyak -_- wkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s