Accident Part 4

Seung Won POV
Aku terbangun dari tidurku dan berusaha mengumpulkan kembali nyawa-nyawaku. Setelah terkumpul, kuedarkan pandanganku ke setiap sudut ruangan yang gelap ini namun masih dapat kulihat karena cahaya bulan yang masuk melalui jendela.
“Sudah malam, apakah si Monkey itu belum pulang?” gumamku. Namun saat itu juga aku tersadar. Aku langsung berlari menuju saklar lampu dan menyalakannya. “Omo, ini kan kamarku. Ani, maksudku ini kamarku yang lama. Itu artinya aku sedang berada di rumah eomma.” Pikiranku langsung menerawang kegiatan-kegiatanku hari ini. “Ah, benar. Tadi siang bukankah aku ke sini.” Bodohku, langsung berjalan keluar kamar. “Aku harus langsung pulang, kalau tidak si Monkey itu akan marah-marah karena tidak ada makanan di meja makan.” Saat aku akan turun dari tangga, kulihat appa dan eomma yang terlihat sangat sibuk mondar mandir tidak jelas sambil memegang sebuah handphone di tangan mereka. Aku mengerut karena bingung. Karena ingin tahu dengan apa yang sedang terjadi, aku turun dan langsung menemui mereka.
“Eomma, appa! Apa yang sedang kalian lakukan? Kaliah terlihat sangat gelisah.”
“Oh, Seung Won-ah, kau rupanya.” Jawab eomma gelisah lalu langsung melanjutkan kegiatannya menelpon seseorang. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Aku beralih menuju appa yang sedang menelpon seseorang dengan raut wajah gelisah.
“Appa, ada apa sebenarnya. Kenapa kaliah gelisah sekali?”
“Oh Seung Won, bisakah kau bantu appa dan eomma?”
“Ne?”
“Tolong hubungi orang-orang yang kemungkinan bisa kau datangi saat kau sedang sedih.” Jawab appa lalu langsung melanjutkan lagi kegiatannya.
“Ne?” aku semakin bingung mendengar jawaban appa.
“Seung Won!” tiba-tiba appa dan eomma berteriak memanggil namaku tepat di telingaku, refleks aku menutup kedua telingaku.
“Eomma, appa!” aku memanggil keduanya dan menatap mereka satu persatu dengan tampang memelas akibat teriakan yang mereka buat di telingaku.
PLETAK
Eomma menjitak kepalaku dengan sebuah buku yang ada di tangannya.
“Ya! Eomma, kenapa kau memukulku?”
“Itu pantas untukmu, dari mana saja kau?” teriak eomma.
“Maksud eomma apa?” aku tidak mengerti.
“Kau tahu, Eunhyuk mencarimu kemana-mana. Darimana saja kau?”
“Aku? Sejak tadi siang aku tidur di kamarku.” Jawabku sambil menunjuk kamarku yang berada di lantai dua.
“Tadi Eunhyuk kesini, dia bilang kau tidak ada di rumah. Kau juga tidak mengangkat telponmu.” Jelas appa. Aku langsung mengambil handphoneku.
“Omo, 30 kali panggilan dari Eunhyuk.” Kagetku. “Kalau begitu, aku harus pulang sekarang eomma.” Pamitku. Tapi appa menahan langkahku.
“Kau jangan pergi kemana-mana, Eunhyuk akan kesini dan menjemputmu.” Eomma langsung memapahku menuju ruang tengah, sementara appa menghubungi Eunhyuk.
Setelah menunggu selama 30 menit, Eunhyuk datang dengan keadaan yang sangat kacau. Bajunya basah karena keringat, rambutnya pun tidak beraturan. Dia lebih seperti seorang namja yang sedang mabuk. Saat masuk kedalam rumah, dia langsung berlari dan memelukku. Bisa kudengar napas lelahnya di telingaku, tapi aku juga bisa merasakan kelegaan di setiap hembusan napasnya.
“Hyuk?” panggilku heran.
“Jagi, kau kemana saja? Jangan buat aku khawatir lagi.” Ucapnya lalu melepas pelukannya. Aku menatapnya heran. Ada apa dengannya? Dia tersenyum lalu langsung beralih menuju perutku. Dia mengelusnya pelan.
“Eomma, appa!” panggil Hyuk sambil menatap kedua orang tuaku. Mereka menatap Hyuk seolah mengatakan ‘Apakah Seung Won sedang hamil?’ Eunhyuk tersenyum mengangguk sambil memamerkan senyumnya.
“Omona . . .” teriak eomma. “Aku akan menjadi seorang nenek.” Teriak eomma bahagia. Begitupun dengan appa. Mereka bergantian memberi selamat kepada kami.
Bodoh, Eunhyuk apa yang kau lakukan? Bukankan kita sudah sepakat akan memberitahu mereka soal kehamilanku nanti? Mati kau Lee Hyuk Jae. Aku mendengus kesal dalam hati. Sementara aku bisa melihat senyum kemenangan darinya.
“Eomma, appa. Kami pulang dulu, kami akan sering main kesini.” Pamitku.
“Ne, hati-hati di jalan.”
Selama perjalan menuju rumah, kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tidak ada yang mau mengawali pembicaraan. Aku masih betah memandang keadaan kota Seoul di malam hari melalui jendela, sementara dia masih fokus memandang kedepan. Tentu saja, dia kan sedang menyetir. Kecuali dia sudah bosan hidup.
“Mianhae!” ucapnya tiba-tiba masih tetap fokus memandang kedepan. Kualihkan pandanganku padanya.
“Ne?” tanyaku bingung.
“Mianhae, karena tanpa persetujuanmu dahulu aku memberitahukan tentang kehamilanmu pada orang tuamu.” Dia menghela napasnya, “Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu saat aku pergi nanti. Selama aku wamil, kau akan tinggal di rumah orang tuamu. Harus ada yang menjagamu dan calon anak kita.” Aku tidak menyangka dia akan mengatakan hal itu. Ternyata dia sangat mengkhawatirkan kami. Aku dan calon anak kami. Aku tersenyum kecil sambil mengelus lembut perutku.
Saat kami sampai di rumah, aku langsung berjalan menuju dapur. Sementara dia seperti biasa, ke ruang tengah menonton TV sambil menunggu makanan siap.
“Ya! Lee Hyuk Jae, mandi dulu. Kau tahu, kau itu bau sekali. Ppalin!” teriakku dari dapur. Kulihat dia masuk ke kamarnya. Aku tersenyum, karena dia menuruti perintahku.
Makanan sudah siap kurang dari 30 menit, aku menunggu kedatangan Eunhyuk tapi dia tidak keluar kamar juga. “Dia lama sekali, apa yang sedang di lakukannya?” kesalku menunggu di ruang makan. Karena kesal menunggu, akhirnya aku memutuskan untuk meyusulnya. Kuketuk pintu kamarnya dengan keras. “Ya! Monkey, kau mau makan tidak? Aku sudah lapar, kau sudah selesai mandi belum.” Teriakku, tapi tidak ada jawaban dari pemilik kamar. Akhirnya aku masuk kedalam kamarnya. Saat aku masuk ternyata dia sedang tidur dengan nyenyaknya. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihat kelakuannya. Dia sama sekali belum mandi, masih menggunakan pakaian kerjanya. Kutatap wajahnya yang sedang tertidur, dia terlihat sangat lelah. Apakah karena tadi dia mencariku sampai kelelahan seperti ini. Tapi setidaknya dia berganti baju dulu, tidur dengan menggunakan pakaian basah bisa menyebabkan sakit bukan? Setelah mengganti baju Eunhyuk, kuputuskan untuk makan sendiri lalu pergi tidur.
Aku terbangun dari tidurku karena suara berisik yang aku tidak tahu dari mana asalnya. Kulangkahkan kakiku menuju sumber suara, ternyata dari arah dapur. Kulihat ada Eunhyuk disana. “Ya! Hyuk, apa yang sedang kau lakukan hah?”
“kau tidak lihat aku sedang memasak?” jawabnya tanpa berbalik menghadap padaku.
“Memangnya kau bisa?” ucapku ragu.
“Kau duduk manis saja, atau sebaiknya kau mandi saja!” perintahnya.
“Baiklah.” Jawabku singkat lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai mandi, aku langsung menuju dapur melihat keadaan Eunhyuk semoga dia tidak membakar rumah ini. Saat aku sampai di ruang makan, sudah tersedia beberapa macam makanan di meja makan. Dan Eunhyuk, dimana dia? Aku mencarinya di dapur tapi tidak ada.
“Kau sudah selesai mandi rupanya.” Ucapnya yang tiba-tiba datang.
“Ya! Kau mengagetkanku.” Teriakku.
“Sudahlah, ayo makan.” Kami duduk berhadapan di meja makan. Aku ragu memakan masakannya kedalam mulutku. “Aku tidak meracuninya, tenang saja.” Ucapnya tiba-tiba seolah tahu isi pikiranku. Dengan ragu kumasukan sepotong daging kedalam mulutku. “Bagaimana, enak tidak?” tanyanya. Ini bukan enak namanya, tapi ini sangat lezat. Ucapku dalam hati. Tapi aku tidak mau mengakui kelezatan masakannya ini di hadapannya, dia bisa-bisa terbang karena saking bangganya.
“Untuk ukuran seorang namja yang memasaknya, tidak terlalu buruk.” Jawabku cuek masih sambil memakan masakannya.
“Hari ini kita akan ke Pulau Jeju, aku sudah membeli tiketnya. Jadi kau tinggal bersiap-siap saja. Aku memesan penerbangan jam 1, jadi kita bisa berbelanja dulu membeli oleh-oleh untuk orang tuaku dan Park ahjussi.” Aku tersedak mendengar ucapannya. Setelah tenang baru ku semprot dia dengan berbagai macam pertanyaan.
“Ya! Kenapa mendadak sekali, aku belum bersiap-siap. Lagi pula untuk apa kita kesana mendadak seperti ini?”
“Karena hari ini aku libur. Dan tidak mungkin kan, seorang namja tidak berpamitan pada kedua orang tuanya sebelum berangkat wamil?” aku diam terpaku. Aku baru menyadari Eunhyuk akan pergi wamil. “Mendatangi orang tuamu bisa kita lakukan setelah aku pulang kantor hari Senin nanti.”
“Memangnya kau akan pergi kapan?” tanyaku ragu.
“Minggu depan.” Jawabnya.
“Aku sudah kenyang.” Aku beranjak dari dudukku dan berniat meninggalkan meja makan.
“Kau mau kemana?”
“Bukankah kau bilang, aku harus bersiap-siap.” Jawabku langsung naik ke lantai dua dan masuk kedalam kamar.
Entahlah, rasanya mata ini panas dan dada ini rasanya sangat sesak. Tanpa kusadari aku menitikkan air mataku dan membentuk sungai kecil di pipiku. Kenapa aku bisa menangis seperti ini, apa yang terjadi padaku? Tidak mungkin karena makhluk itu kan?
Tok tok tok . . .
“Seung Won-ah, kau sedang apa? Kita harus belanja sekarang.” Teriak Eunhyuk dari luar kamarku.
“Ne.” jawabku. Aku langsung mengambil tas tanganku.
Kini kami sudah sampai di Pulau Jeju, kami langsung memilih taksi yang akan mengantarkan kami menuju rumah orang tua Eunhyuk. Dalam waktu 30 menit kami sampai di rumah Eunhyuk. Saat kami sampai eomma sedang menyiram bunga di halaman rumah. Eunhyuk berjalan terlebih dahulu kemudian aku mengikutinya dari belakang. Dia memberikan senyuman gummy khasnya saat memasuki pekarang rumah. Eomma yang sedang menyiram langsung berhambur memeluk anak laki-laki satu-satunya itu. Aku hanya tersenyum melihat adegan antara anak dan eommanya.
“Aigo . . . Eunhyuk-ah, kenapa kau tidak bilang akan datang?” terlihat eomma sedikit menitikkan air matanya.
“Aku hanya ingin member kejutan untuk eomma. Tidak boleh kah?” jawabnya tertawa ringan.
“Annyeong . . .” aku merasa tidak enak karena mengganggu pertemuan mereka.
“Aigo . . . Seung Won-ah!” teriak eomma kemudian langsung memelukku. Aku sedikit meringis karena eomma sedikit lebih keras saat memelukku. Mungkin karena terlalu senang.
“Ya! Eomma, hati-hati. Kau ingin membunuh anakku.” Teriak Eunhyuk.
“Omo.” Eomma membulatkan matanya menatapku kemudian beralih menatap perutku. “Kau . . .?!” eomma menunjuk perutku, kemudian beralih menatapku dan Eunhyuk. Kami mengangguk bersama seraya tersenyum lebar. “Yeobo . . .!!” teriak eomma sambil berlari masuk kedalam rumah. Aku dan Eunhyuk hanya tertawa kecil melihat kelakuan eomma.
“Kaja! Kita masuk kedalam rumah!” ajak Eunhyuk.
Kini Park ahjussi dan Park ahjumma sudah berada di rumah Eunhyuk. Eomma yang memanggilnya tadi. Kami berkumpul bersama di ruang tengah. Mengobrol dan bersenda gurau bersama. Aku duduk bersama Eunhyuk, eomma dan appa, lalu Park ahjussi bersama Park ahjumma.
“Ya! Kalian kemari sengaja ingin member kejutan pada kami?’ Tanya appa. Aku menatap Eunhyuk, memohon agar dia saja yang menjawab pertanyaan appa.
“Anio appa, aku kesini untuk memberikan suatu berita yang lain.”
“Apa itu?” Tanya Park ahjussi.
“Appa, sebentar lagi anak laki-lakimu ini akan menjadi pria Korea sejati seutuhnya.” Jawab Eunhyuk mantap menatap mata appa.
“Maksudmu?” Tanya eomma lagi sepertinya ingin menyakinkan pertanyaan yang ada di benaknya.
“Ne. Aku sudah mendapatkan panggilan wamil appa, eomma.” Kulihat eomma menitikkan air matanya saat Eunhyuk selesai mengucapkan itu.
Eunhyuk sedang melakukan ritual untuk mendapatkan restu dari appa dan eomma. Appa memberikan nasihat-nasihat untuk Eunhyuk selama wamil nanti. Kami tidak berlama-lama di Pulau Jeju, hanya tiga hari sehingga kami tidak sempat untuk berjalan-jalan dahulu. Pulang dari pulau Jeju, kami langsung menuju kediaman rumah orang tuaku. Sama halnya seperti orang tua Eunhyuk, appa memberikan nasihat-nasihat untuk Eunhyuk.
Hari ini aku mengantarkan kepergian Eunhyuk ke stasiun. Hanya aku sendiri karena appa dan eomma tidak bisa ikut mengantar.
“Jaga dirimu baik-baik. Selama aku tidak ada, sebaiknya kau tinggal bersama orang tuamu.” Pesannya. Kemudian dia berjongkok dan mengelus lembut perutku. “Appa akan pergi wamil, agar di akui sebagai laki-laki Korea sejati. Kelak saat besar nanti, kau juga harus mendapatkan seorang namja seperti appa. Arraseo? Saat appa lulus nanti, appa yakin kau sudah keluar dari perut eomma dan melihat indahnya dunia ini.” Ucap Eunhyuk kemudian mencium dan memeluk perutku. Perasaan apa ini, aku tidak mengerti mengerti. Aku merasa sangat sedih sekaligus senang saat Eunhyuk melakukan itu. “Aku pergi!” pamitnya. Aku dia tidak menjawab hanya menatap dalam matanya. Tanpa aba-aba, dia langsung mencium keningku sukup lama. Saat dia melakukan itu, aku merasa aliran darah di tubuhku menjadi sangat cepat dan jantungku pun berdekup cukup kencang. Perasaan apa ini, apakah aku sudah . . . “Aku pergi!” pamitnya kemudian masuk kedalam kereta. Aku hanya melambaikan tanganku sebagai tanda perpisahan. Aku bingung harus melakukan apa.
Aku kembali ke rumah kecil kami. Sebelum aku masuk, seorang tukang pos datang dan membawakan sebuah paket kecil yang di tunjukkan untukku. Kubuka paket itu di ruang tengah rumah kami. Kami? Sejak kapan aku menganggap rumah ini sebagai rumah kami. Aku lagi-lagi mengatakannya. Aku tercengang saat melihat isi kotak yang kini ada di tanganku. Sepasang, ah bukan. Tapi tiga buah kalung yang masing-masing kalung itu terdapat bola Kristal kecil sebagai bandulnya. Warna bandul itu berbeda-beda. Merah, putih dan biru. Ternyata ada sebuah pesan di dalam kotak kecil itu, kubuka dengan perlahan.
Aku bingung harus mengatakan apa, aku tidak bisa berbasa-basi. Kuhadiahkan 3 kalung dengan warna bandul yang berbeda-beda. Memang tidak ada acara special dalam bulan ini, anggap saja itu hanyalah sebuah hadiah biasa. Bandul yang berwarna merah itu untukku, yangputih untukmu. Kau menyukai warna putih bukan? Dan yang terakhir, yang berwarna biru itu untuk anak kita. Aku bingung harus membeli warna apa untuk anak kita awalnya tapi akhirnya aku memutuskan warna biru, seorang namja atau yeoja menyukai warna itu bukan? Kuharap warna cat kamar anak kita nanti warna biru juga. Hahaha . . . aku yakin kau tidak akan menyetujuinya bukan? Baiklah, terserah kau saja. Dan satu hal lagi, selama aku tidak ada kau harus tinggal bersama orang tuamu. Awas saja kalau kau tidak melakukan perintahku ini. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu dan anak kita.
Nae Nampyeon
Lee Hyukjae
“Ige mwoya? Aneh sekali monkey itu. Pabo, Eunhyuk PABO!” aku berteriak tidak karuan setelah membaca surat dari Eunhyuk. Dia benar-benar keterlaluan. Tanpa sadar aku menitikkan air mata, kenapa bisa?
Keesokan harinya setelah kepergian Eunhyuk, aku pindah ke rumah orang tuaku. Aku tidak mau mencari ribut dengan tidak menuruti perintah Eunhyuk. Aku juga tidak tahu kenapa aku mau-mau saja menuruti perintahnya. Lagi pula aku juga tidak mau terus-terusan di telpon oleh eomma untuk menanyakan keadaanku.
Sudah sebulan Eunhyuk pergi, setiap dia sedang istirahat saat latihan. Dia selalu menelpon sekedar menanyakan keadaanku dan bayiku.
Sore ini karena merasa bosan selalu diam di rumah aku memutuskan untuk berjalan-jalan sore di taman. Aku menuju sebuah café yang berada di taman sekedar untuk minum teh. Ketika sedang bersantai seseorang menyapaku.
“Seung Won-ssi?” Tanya orang itu. Aku sedikit kaget saat melihat orang yang menyapaku itu.
“Donghae?” tanyaku memastikan.
“Ne, kau sendirian saja?”
“Ne. Kau sendiri?” tanyaku berbasa-basi.
“Kau pasti tahu jawabannya.”
“Ne.” aku tertunduk lemah. Ya, aku sangat tahu jawabannya kenapa sampai saat ini dia masih sendiri.
Donghae, teman sekaligus sahabatku sejak aku menginjakkan kakiku di SMA. Bahkan teman-teman mengira kalau kami pacaran. Memang kelakuan kami lebih seperti orang pacaran bukan sebagai sahabat. Sampai pada saat hari kelulusan kami, dia menyatakan perasaannya padaku.
Flash Back
“Seung Won-ah, akhirnya kita lulus.” Ucap Donghae senang.
“Ne, setelah ini kau akan meneruskan kuliah dimana? Apakah akan tetap ke Universitas Tokyo?”
“Tergantung.”
“Maksudmu?”
“Seung Won-ah!” tiba-tiba Donghae menggenggam tanganku. “Saranghae!” lirihnya. Aku benar-benar tidak menyangka dengan apa yang baru saja Donghae ucapkan. Aku bingung harus menjawab apa, aku memang pernah menyukainya saat awal-awal pertemanan kami. Tapi, perasaanku ini masih untuknya. Untuk orang yang telah mengambil hatiku untuk pertama kali.
“Mianhae!” kulepas genggaman tangannya. “Aku hanya menganggapmu sebagai sahabat.”
“Ne, arraseo. Kalau begitu aku akan melanjutkan kuliahku di Jepang. Aku akan selalu menunggumu mau menerimaku. Tidak ada alasan lagi untukku tinggal di Seoul.”
“Kau pasti akan mendapatkan yeoja yang lebih baik dariku.”
“Meskipun ada, aku akan tetap menunggumu.”
Flash Back End
Kini Donghae sudah duduk di hadapanku. Secangkir moccacino sudah tersaji di hadapannya. Ya, itu adalah minuman favoritnya. Kami masih saling diam, larut dalam pikiran kami masing-masing. Tidak ada yang mau mengawali pembicaraan.
“Kau terlihat sedikit lebih gemuk.” Ucapnya tiba-tiba.
“Ne?”
“Kau, seperti sedang hamil?” pertanyaannya sungguh tepat sasaran.
“Donghae-ssi . . . sebenarnya aku sudah menikah. Dan saat ini aku sedang hamil.” Saat aku mengucapkan itu bisa kulihat raut kekecewaan dan sedih dari wajahnya.
“Jeongmal? Wah chukkae! Kenapa kau tidak mengundangku?” ucapnya langsung merubah raut wajahnya tapi masih bisa kulihat kesedihan disana.
“Mianhamnida, karena pernikahnku pun terlalu mendadak.”
“Beruntung sekali suamimu, mendapatkan seorang istri yang cantik sepertimu.”
‘Aku yang sebenarnya rugi karena menikah dengan seorang monkey.’ Rutukku dalam hati. Hari itu kami banyak mengobrol tentang masa-masa sekolah kami dulu. Dan kehidupannya di Jepang.
“Donghae-ssi, sepertinya aku harus pulang sekarang.” pamitku.
“Ne. Kau mau aku antar?” tawarnya.
“Ani, gwaenchana.” Tolakku halus.
“Baiklah, kau hati-hati di jalan.”
“Ne, annyeong!”
Semenjak hari itu, setiap aku atau dia sedang ada waktu. Kami selalu menyempatkan untuk bertemu sekedar mengobrol. Kami juga sudah tidak terlalu canggung saat pertama kali kami bertemu beberapa pecan lalu. Seperti hari ini.
“Eomma, hari ini akan check up ke rumah sakit. Bisakah temani aku?” pintaku saat kami sedang sarapan.
“Mianhae Seung Won-ah, hari ini eomma harus pergi ke tempat ahjummamu di Incheon.”
“Gwaenchana, aku akan meminta temanku untuk mengantarku.”
“Nugu?”
“Donghae, eomma ingat dia?”
“Donghae, teman sekolahmu dulu?” Tanya eomma antusias.
“Ne.” jawabku singkat.
“Ajaklah dia kemari, eomma ingin bertemu dengannya.”
“Ne, eomma. Lain kali aku akan mengajaknya kemari.”
Setelah selesai sarapan, eomma langsung pergi ke Incheon di antar oleh appa. Sementara aku langsung menghubungi Donghae untuk mengantarku check up ke dokter.
“Donghae-ah, bisakah kau antar aku ke rumah sakit hari ini?”
“Ah, ne arraseo. Gomawo!”
Klik.
Hubungan telpon terputus. Donghae setuju mengantarku ke rumah sakit. Rasanya aneh sekali di antar ke rumah sakit bukan oleh suami sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, Eunhyuk tidak ada. Aku tidak mau terjadi sesuatu padaku dan anakku saat di jalan nanti.
Begitulah, hari-hariku tanpa ada Eunhyuk. Rasanya memang sedikit aneh karena tidak ada orang yang bisa kuajak bertengkar. Donghae sangat berbeda jauh dengan Eunhyuk, dia lebih diam dan pengertian padaku. Dia sangat memperhatikanku, bahkan kadang aku merasa Donghae adalah suamiku. Seperti saat ini, Donghae mengajakku jalan-jalan di taman. Lalu ada beberapa ibu-ibu yang lewat di depan kami.
“Aigo . . . anak muda. Kau perhatian sekali pada istrimu. Kau beruntung agashi, mendapatkan suami seperti dia.” Ucap salah satu ibu-ibu itu.
“Ah ne, kamsahamnida!” ucap Donghae tidak mengelak omongan ibu-ibu itu.
“Ya! Kenapa kau tidak bilang kalau aku bukan istrimu?” marahku setelah ibu-ibu itu pergi.
“Ani, mianhae! Kau mau ibu-ibu itu membicarakan kita sebagai pasangan yang . . .” Donghae menggantungkan kata-katanya.
“Ne, arraseo!” pasrahku.
“Kau lapar tidak?” aku mengangguk antusias. “Kau memang tidak berubah kalau soal makanan.” Aku nyengir kuda mendengar komentarnya.
Kami pergi ke sebuah café yang sudah menjadi langganan kami sejak sekolah dulu. Selain karena makanannya enak-enak, harganya pun murah.
“Ahjumma, kami pesan yang biasa!” teriak Donghae saat masuk ke dalam café.
“Kalian, bagaimana kabar kalian?” Tanya ahjumma saat mengantarkan air minum pada kami.
“Ne, kami baik-baik saja.” Jawab Donghae.
“Bagaimana kandunganmu?”
“Sehat ahjumma.”
“Donghae, kau harus jaga istrimu dengan baik. Aku memang sudah tahu, kalau kalian akhirnya akan menikah.” Aku tidak menyangka ahjumma akan mengatakan itu. Aku memandang Donghae yang masih asyik mendengarkan komentar ahjumma. Dia hanya diam dan tersenyum, tidak berniat untuk mengoreksi ucapan ahjumma. Aku jadi kesal sendiri.
“Ya! Lagi-lagi kau tidak melawan.” Marahku setelah ahjumma pergi dari hadapan kami.
“Kan aku sudah bilang padamu tadi. Kau mau orang-orang menganggapmu bukan wanita baik-baik.” Aku menunduk pasrah. Baiklah, mungkin memang ada benarnya juga apa yang dikatakan Donghae. Selama tidak ada Eunhyuk, aku dan Donghae harus berpura-pura bila keluar jalan-jalan seperti sekarang.
@@@
Shining star
Like a little diamond
Terdengar suara dering handphone saat aku sedang di dalam kamar mandi. Dengan cepat ku berlari masuk ke dalam kamar untuk melihat siapa yang menelpon.
“Yeoboseyo!”
“Mwo? Kenapa kau mendadak sekali?”
“Ne, arraseo! Aku tunggu.”
“Eomma? Dia ada, waeyo? Bahkan appa juga ada, kau lupa sekarang hari apa?”
“1 jam lagi? Ne, arraseo.”
Klik.
Donghae, dia selalu saja mendadak. Dia bilang mau ke sini, mau apa dia ke sini. Sudahlah, lagi pula bagus juga dia ke sini, aku jadi tidak perlu mengundangnya.
Ting Tong
“Seung Won-ah, tolong buka pintunya!” teriak eomma dari dapur.
“Ne.” jawabku. Aku melangkah malas dari ruang keluarga menuju pintu depan. Entahlah, aku merasa hari ini aku malas melakukan sesuatu. “Nugu?” tanyaku saat kubuka pintu. Tapi yang kulihat bukan wajah orang, tapi sebuah boneka beruang besar.
“Annyeong!” ucap sebuah suara di balik boneka beruang itu. Aku tahu suara siapa ini.
“Jangan bercanda, aku sedang tidak mood.” Ucapku langsung masuk ke dalam rumah meninggalkannya di luar. Dia sepertinya sadar aku masuk ke dalam rumah, karena dia langsung mengejarku.
“Ini untukmu.” Ucapnya sambil menyerahkan boneka beruang yang dia bawa.
“Gomawo!”
“Kau masih menyukai boneka beruang bukan?” aku mengangguk. “Ada apa denganmu? Kau tidak bersemangat sekali.” Tanyanya khawatir.
“Ani, gwaenchana. Aku hanya sedang malas saja. Appa ada di halaman belakang, dan eomma ada di dapur.” ucapku langsung merebahkan diriku di sofa ruang tengah. Sementara dia melenggang masuk ke dapur.
Ada apa denganku hari ini. Rasanya semua badanku lemas sekali, aku tidak bersemangat melakukan apapun. Bahkan aku malas makan. Apa ini pengaruh dari kehamilanku? Padahal, aku sudah minum vitamin secara teratur. Kenapa masih seperti ini?
“Gwaenchana?” tiba-tiba Donghae sudah duduk di sampingku.
“Ya! Kau membuatku kaget.” Marahku.
“Mianhae, ada apa denganmu hari ini? Kau lemas sekali.”
“Molla, aku juga merasa aneh. Padahal aku sudah minum vitamin secara teratur.”
“Bagaimana kalau kita check ke dokter? Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu dan juga anakmu.”
“Entahlah, bahkan untuk berjalan saja aku malas.”
“Mau aku gendong?”
Plak! Aku langsung memukul kepalanya, “Kau mau cari kesempatan rupanya.”
“Ya! Aku ini sahabatmu, bagaimana aku bisa membiarkanmu seperti ini. Bagaimana, kau mau tidak? Sebelum aku berubah pikiran.”
Aku berpikir sejenak mempertimbangkan tawaran Donghae, kemudian mengangguk menyetujui. Setelah pamit pada appa dan eomma, kami langsung pergi ke rumah sakit.
“Bagaimana dok, apa ada yang salah dengan kandunganku?”
“Ani, kandunganmu baik-baik saja. Bahkan sangat sehat, kau meminum vitamin pemberianku dengan teratur bukan?” aku mengangguk. “Kau seperti ini karena kau terlalu banyak pikiran. Aku kira begitu. Wanita hamil sepertimu memang sering mengalami hal ini. Apakah ada satu kebiasan yang akhir-akhir ini tidak kau lakukan?” aku mengingat semua kebiasaanku, rasanya tidak ada rutinitas yang sangat mempengaruhi hidupku. “Untuk sementara ini, kau istirahat saja. Jangan terlalu banyak melakukan kegiatan. Ingat, kandunganmu sudah memasuki bulan kelima. 4 bulan lagi kau akan melahirkan.” Kutatap perutku yang sudah semakin membesar, aku baru sadar tentang hal itu. Aku mengelusnya sayang.
Kubaringkan tubuhku di tempat tidur bersiap untuk tidur. Tapi pikiranku masih melayang dengan apa yang di katakana dokter tadi. Rutinitas yang mempengaruhi hidupku? Aku mengingat rutinitas yang selalu kulakukan. Mulai dari pagi sampai malam, tapi tidak ada satupun rutinitasku yang sangat mempengaruhi hidupuku. Kecuali makan dan mandi. Sudahlah, aku pikirkan nati saja. Aku lelah.

TBC

9 thoughts on “Accident Part 4”

  1. Yah, kok tbc sich, rutinitas marah2 ama eunhyuk pasti , kekeke~ aduh, donghae baex bgt, jangan2 ada maunya tuch, kasian bgt eunhyuk kalo anaknya besok ngira d0nghae ayahnya, huh Lanjutkan, GPL

  2. yaaah TBC, padahal lagi asyik-asyik baca, hehehe
    rutinitas yang kurang? rutinitas yang kurang itu, berantem sama enhyuk bukan onnie? hehehe -__-v

  3. udah lama gak ketemu, ngoborol, berantem sama eunhyuk kali itu eonn,
    aishh,, kayaknya donghae ini jadi orang ketiga -,-
    lanjut eonni😀

  4. lemas krn ngak d kasi asupan kebutuhan sama hyuk. . . .
    Ada Hae muncul pas hyuk wamil mana hae kemana2 nemenin ntar anak y yg ngurus n pas lahiran ma Hae, bisa jd masalah nih. . .
    Hyuk jg blm kebongkar siapa tu cwe. . . .

  5. Donghae akhirnya punya peran di part 4 ini haha
    tapi Donghae kayaknya nyari2 kesempatan bgt ya pas berduaan sama Seung Won -,-
    kayaknya rutinitas yg terlewatkan itu bertengkar sama Eunhyuk deh kkk #ngasal😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s