Accident Part 5

Eunhyuk POV
Sudah 5 bulan aku berada di camp. Menjalani kewajibanku sebagai namja Korea Selatan. Aku baru ingat kalau sudah satu minggu ini aku tidak menghubunginya karena selama seminggu ini latihan sedikit lebih lama sehingga membuatku lelah. Membuatku tidak bisa menghubungi Seung won sebelum aku tidur. Kulirik jam dinding yang ada di hadapanku. Sudah jam 10 malam, aku ingin menelpon Seung Won. Tapi biasanya dia sudah tidur. Aku akan coba menelpon eomma saja, semoga tidak akan menganggunya.
“Yeoboseyo?” Tanya sebuah suara di seberang sana.
“Yeoboseyo, eomma ini aku Eunhyuk.”
“Oh, bagaimana kabarmu nak?”
“Aku baik-baik saja. Mianhamnida, apakah aku mengganggu tidurmu?”
“Ani, aku dan appamu belum tidur. Waeyo?”
“Bagaimana keadaan Seung Won eomma? Aku tidak berani menelponnya karena jam segini dia pasti sudah tidur.”
“Ne, kau benar. Dia sudah tidur sejak tadi. Tidurnya menjadi lebih awal semenjak 1 bulan yang lalu. Dia baik-baik saja, tapi hari ini dia sepertinya sedikit lemas. Dia bilang seluruh badannya lemas, dokter bilang itu karena dia terlalu lelah.”
“Begitu. Mianhamnida, aku tidak bisa menjaga anakmu.”
“Kenapa kau berbicara seperti itu? Kau tahu, aku bangga mempunyai anak sepertimu. Menjalani kewajibannya sebagai laki-laki Korea Selatan. Di luar sana banyak laki-laki yang selalu menunda kewajibannya. Kau jalani saja kewajibanmu dengan tenang. Eomma akan menjaga Seung Won untukmu.”
“Kamsahamnida, eomma aku tutup telponnya. Sudah malam, jaga kesehatanmu! Salam untuk appa, dan tolong jangan beritahu Seung Won kalau aku menelpon.”
“Waeyo?”
“Ani, tidak perlu bilang saja.
“Arraseo.”
Klik.
Seung Won POV
Pagi ini kondisi ku tidak berubah. Aku sudah berusaha tidur lebih awal, tapi ternyata hasilnya tidak berubah. Badanku masih lemas seperti kemarin, padahal aku sudah minum vitamin yang di berikan dokter dengan teratur. Ada apa sebenarnya denganku. Akhir-akhir ini juga aku merasa tidak nafsu makan.
“Seung Won-ah, bagaimana kabarmu hari ini?” Tanya eomma saat aku masuk ke dalam dapur.
“Masih sama eomma. Seluruh badanku masih lemas.” Jawabku setelah meneguk air minum yang kuambil di lemari es.
“Kalau begitu kau istirahat saja di kamar. Eomma akan membuatkanmu bubur. Bagaimana?” aku mengangguk lemah lalu kembali ke kamarku.
Kurebahkan tubuhku di tempat tidur. Memikirkan apa yang sebenarnya terjadi padaku.
Tok tok tok . . .
Ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Ternyata eomma yang mengantarkan bubur untukku sarapan.
“Eomma!” ucapku bangkit dari tidurku.
“Kau sarapan dulu, lalu segera minum obat.” Ucap eomma yang kini sudah duduk di sampingku.
“Ne.” jawabku lemah sambil mengambil mangkuk bubur dari tangan eomma.
“Tadi malam Eunhyuk menelpon.”
“Jeongmal?” tanyaku antusias lalu menatap eomma penuuh harap.
“Ne, harusnya eomma tidak boleh membertitahumu. Tapi, tidak ada salahnya bukan?” aku mengangguk. “Dia menanyakan keadaanmu dan calon anak kalian. Dia menelpon saat kau sudah tidur.” Seketika aku tersenyum mendengar kalau Eunhyuk menelpon dan menanyakan keadaanku dan anaknya. Lalu dengan semangat aku memakan bubur buatan eomma. “Ternyata benar.” Ucap eomma tiba-tiba, berhasil menghentikan kegiatan makanku.
“Waeyo?”
“Kau lemas bukan karena kau sakit.”
“Lalu?”
“Kau sakit karena selama seminggu ini kauntidak mendapat telpon dari suamimu.” Seketika itu pula aku terbatuk. Eomma memberikanku segelas air putih.
“Kenapa eomma berbicara seperti itu?” tanyaku manja.
“Kau tidak sadar? Ketika eomma bilang kalau Eunhyuk menelpon, kau langsung dengan semangatnya memakan bubur yang eomma buat untukmu.” Aku menunduk malu. “Sudahlah, kau habiskan makanmu! Eomma harus pergi sekarang. Kau baik-baik saja bukan, eomma tinggal sendiri di rumah?”
“Ne, aku bisa menelpon Donghae untuk menemaniku.”
“Baiklah, hati-hati!”
Setelah eomma keluar dari kamarku. Kupikirkan kata-kata yang eomma ucapkan tadi padaku. Apakah benar aku seperti ini karena Eunhyuk tidak menghubungi selama seminggu? Dan apakah itu artinya aku sudah mulai menyukai Eunhyuk? Tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh menyukai Eunhyuk. Meskipun sebenarnya itu wajar-wajar saja, karena sekarang dia adalah suamiku.
Ting tong . . .
Aku segera keluar dari kamarku saat mendengar bunyi bel berbunyi.
“Tunggu sebentar!” teriakku dari dalam rumah. “Annyeong . . .!” sapaku saat membuka pintu.
“Annyeonghaseyo!” jawabnya. Aku tersenyum menyambutnya.
“Maaf, apakah ini rumah kediaman nyonya Lee Seung Won?”
“Ne.”
“Ada kiriman paket. Tolong tanda tangan disini sebagai tanda terima.” Ucapnya sambil memberikan sebuah kertas padaku. Dengan segera kutandatangani dan mengambil paket yang ditujukan untukku. Aku berjalan menuju ruang tengah sambil memandangi paket yang kini ada di tanganku. Kududukkan diriku di sofa. Kulihat pengirimnya. Eunhyuk? Segera kubuka paket itu. Ternyata sebuah pakaian. Bagaimana dia bisa memberikanku pakaian, bukankah dia sedang wamil? Kulihat pakaian itu, ternyata untuk wanita hamil. Motif pakaian itu bunga-bunga sesuai seleraku. Aku langsung mencobanya di kamar. Dan pas, bagaimana dia tahu ukuran bajuku?
Ting tong . . .
Kudengar lagi suara bel berbunyi. Tanpa mengganti bajuku terlebih dahulu, aku langsung menuju pintu untuk membukakan pintu.
“Seung Won?” Tanya Donghae heran saat melihatku.
“Waeyo?” aku bertanya balik padanya. Karena menatapku heran.
“Kau mau kemana?”
“Memangnya kenapa?”
“Kau, pakaianmu!” tunjuknya.
“Oh . . . ini baju dari suamiku.” Jawabku sambil masuk ke dalam rumah. Dia mengikuti dari belakang.
“Bagaimana bisa? bukankah suamimu sedang wamil?”
“Aku juga tidak mengerti.” Aku menggeleng lalu berjalan menuju dapur untuk menyiapkan minuman untuknya.
“Bagaimana bisa dia mengirimmu barang dari camp pelatihan?” Tanya Donghae ketika aku kembali menemuinya di ruang tengah. Dia sedang melihat-lihat kotak paket baju hamilku.
“Ige.” Kuberikan segelas jus jeruk padanya. Dia menerimanya tanpa melihat ke arahku. Dia serius sekali membaca sesuatu, tapi aku tidak mau tahu apa yang sedang dia baca. Aku membiarkannya di ruang tengah sendiri, sementara aku masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju. Saat aku kembali ke ruang tengah, dia sedang menonton TV. Akupun duduk di sampingnya sambil meminum teh hangat yang sudah kubuat sebelum bergabung dengannya di ruang TV.
“Empat bulan lagi kau melahirkan. Kau sudah menyiapkan semuanya?” tanyanya tiba-tiba tanpa menoleh ke arahku. Pandangannya masih tetap lurus ke depan.
“Menyiapkan apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.
“Tentu saja semua keperluan bayimu. Mulai dari kamar, tempat tidur, pakaian dan lainnya.”
“Ani, menyiapkan itu semua mulai dari sekarang rasanya terlalu cepat.” Elakku. Sebenarnya bukannya tidak mau. Tapi entah kenapa, aku ingin Eunhyuk yang mengantarku untuk menyiapkan itu semua. Eunhyuk? Ada apa denganku, kenapa tiba-tiba aku ingin monkey itu yang mengantarku, bukankah aku membencinya semenjak itu. Kugelengkan kepalaku kuat-kuat untuk menghilangkan Eunhyuk dari pikiranku.
“Seung Won-ah, gwaenchanayo?” Donghae menepuk pundakku pelan.
“Ah, ne. Gwaenchana!”
“Jadi bagaimana? Kita beli semua keperluan bayimu?”
Kugelengkan kepalaku pelan, “Ani, belum saatnya Donghae-ah!” kulihat raut kekecewaan di wajahnya. Tapi mau bagaimana lagi, aku benar-benar ingin Eunhyuk yang mengantarku meskipun aku tahu itu mustahil.
“Baiklah kalau begitu. Seung Won-ah, ada yang harus aku bicarakan padamu.” Ucapnya, kini bisa kulihat keseriusan di wajahnya. Aku pun ikut serius. Dia mengajakku ke taman belakang rumah. Kami duduk di bangku yang berada di pinggir kolam ikan. Dia menatap lurus kedepan, ada kesedihan di wajahnya. Aku diam menunggunya berbicara. Kini dia menolehkan wajahnya ke arahku dan menatapku, membuatku risih.
“Ya! Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau mau menggodaku? Ingat, aku sudah mempunyai suami.” Dia hanya tersenyum menanggapiku, lalu kembali menatap ikan-ikan yang sedang berenang di dalam kolam.
“Aku yakin kau tahu bahwa aku masih sangat mencintaimu dan masih mengharapkanmu. Meskipun aku tahu kau sudah menikah bahkan sekarang kau sedang hamil, aku masih tetap mengharapkanmu. Apakah di hatimu, aku hanya sebagai sahabat? Tidak ada tempat lebih lagi untukku?” dia menatapku tajam. Aku merasa kasihan melihat tatapannya padaku. Peduh dengan kesedihan dan harapan hampa. “Jangan menatpku dengan pandangan kasihan seperti itu!” aku mengerjap dan kembali sadar dari lamunanku. Aku masih diam, tidak berusaha membalas ucapannya. “Minggu depan aku akan pergi ke Cina.”
“Liburan?” celetukku.
“Ani, aku akan tinggal disana.” Ucapnya datar tapi berhasil membuat tenggorokanku tercekat. Apakah aku akan kehilangan sahabatku ini untuk yang kedua kalinya? Ku akui, aku memang menyayanginya dan berharap dia tidak pergi lagi dari kehidupanku. Aku sangat menyayanginya sebagai sahabat.
“Kenapa mendadak sekali?” aku berusaha tenang walau sebenarnya aku ingin berteriak. Aku tidak mau di tinggalkan sahabatku untuk yang kedua kalinya.
“Appa memintaku untuk mengurus cabang perusahan yang baru di buka di sana.”
“Sampai kapan?”
“Aku belum tahu. Tidak mudah mengembangkan perusahan baru seperti itu.”
“Donghae-ah, aku tahu kau kecewa karena aku selalu menganggapmu sebagai sahabat. Tapi itulah kenyataannya, aku tidak bisa membuka hatiku untukmu. Asal kau tahu, aku sudah pernah mencobanya saat kita SMA dulu. Tapi tetap tidak bisa.”
“Apakah karena laki-laki itu?” aku menatapnya, mencari tahu siapa laki-laki yang dia maksud. “Anak laki-laki yang sangat kau benci. Anak laki-laki yang hampir . . .”
“Berhenti membicarakannya!” aku langsung memotong kata-katanya. “Asal kau tahu saja. Anak laki-laki yang kau bicarakan itu adalah suamiku.” Ada ekspresi keterkejutan di wajahnya. Dia tahu benar kenapa aku membenci Lee Hyukjae. Hanya Donghae yang mengetahuinya. Kenapa? Kalian lupa Donghae itu siapa? Dia sahabatku, tidak ada rahasia diantara kami. Kecuali pernikahanku, karena memang aku tidak mempunyai alamatnya di Jepang.
“Bagaimana bisa?”
“Sepertinya aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun darimu.” Jawabku pasrah. Akhirnya kuceritakan semua penyebab pernikahanku terjadi. Mulai dari liburanku yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Karena hal itu, aku harus menikah dengan laki-laki bernama Lee Hyukjae. Kecuali surat perjanjian itu, aku tidak mungkin menceritakannya. Dia bisa saja berharap kalau mengetahui perjanjian itu, aku tidak mau itu terjadi. “Kumohon, jangan beritahu eomma dan appa. Mereka tidak tahu kalau aku sudah hamil sebelum menikah. Mereka bisa-bisa mati mendadak.” Mohonku setelah selesai bercerita.
“Baiklah, aku tidak akan menceritakannya.” Jawabnya pasrah. “Dan sekarang, apakah kau kau masih membencinya setelah dia menjadi suamimu?” aku benar-benar kaget dengan pertanyaannya. Bagaimana bisa dia bertanya hal itu?
“Aku . . . aku akan belajar.” Jawabku singkat. Aku tahu, bukan itu jawaban yang dia harapkan. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak boleh tahu semuanya. Aku sudah cukup malu dia tahu kalau aku hamil di luar nikah.
Pagi ini aku berniat mengantarkan Donghae ke bandara. Aku berjanji padanya untuk mengantarkannya. Kupikir tidak ada salahnya, untuk terakhir kalinya sebelum dia pergi ke Cina. Aku tidak tahu kapan, aku akan bertemu dengannya lagi.
“Jaga dirimu baik-baik di sana!” pesanku sebelum dia pergi.
“Ne, kau juga jaga dirimu baik-baik. Jaga keponakanku ini.” Ucapnya sambil mengusap perutku. “Maaf aku tidak bisa menemanimu melahirkan. Kirimkan foto anakmu saat dia lahir.”
“Ne.”
Sudah 3 bulan semenjak Donghae pergi. Kami masih saling berhubungan melalui email, meskipun tidak sering. Dia selalu menanyakan keadaan kandunganku. Dan selama 3 bulan ini pula, setiap aku check up ke dokter. Orang-orang di rumah sakit selalu menanyakannya. Orang-orang yang menganggap Donghae adalah suamiku. Aku tidak pernah menjawab pertanyaan mereka, hanya sebuah senyuman yang tersungging di bibirku. Karena sejujurnya, aku tidak tahu harus menjawab apa.
Ting tong . . .
“Seung Won-ah, tolong buka pintunya!” teriak eomma dari dapur. Aneh, rasanya aku pernah mengalami hal ini. Dejavu. Segera kubuka pintu depan. Aku diam terpaku saat melihat seorang laki-laki berdiri tegap di hadapanku. Dia tersenyum ke arahku. Aku masih diam tidak bisa bergerak.
“Seung Won-ah, gwaenchana?” dia mengibaskan tangannya di hadapanku. Seketika itu pula aku tersadar dari lamunanku.
“Ba . . . bagaimana bisa kau ada di sini?”
“Siapa yang datang?” kudengar suara eomma mendekat. “Aigo . . . kau pulang nak?” Tanya eomma langsung memeluk laki-laki yang kini ada di hadapanku. Sementara aku masih diam tidak melakukan apapun. Aku benar-benar bingung harus melakukan apa. Aku ingin sekali memeluknya. Di satu sisi aku merindukannya setelah 7 bulan ini tidak bertemu dengannya dan hanya mendengar suaranya melalui telepon. Tapi di sisi lain, rasa gengsiku masih terlalu tinggi untuk melakukannya.
“Seung Won-ah, apa yang kau lakukan? Suamimu pulang, kenapa kau diam saja seperti itu?” teriak eomma membuyarkan lamunanku.
“Ne, eomma.” Aku segera menutup pintu dan menyusul eomma yang sudah masuk ke dalam bersama Eunhyuk.
Kini kami berkumpul di meja makan. Aku duduk di samping Eunhyuk. Ada apa denganku, semenjak kedatangannya aku tidak bisa berbicara sama sekali. Rasanya lidahku ini kelu untuk mengucapkan sesuatu. Bahkan aku tidak bisa memperhatikan apa yang sedang di bicarakannya bersama appa, padahal posisinya berada tepat di sampingku. Pabo, sebenarnya apa yang terjadi padaku?
“Ne, appa. Aku mendapatkan libur selama 100 hari.” Jawabnya. Aku tidak tahu apa yang appa tanyakan padanya, aku tidak memperhatikannya. Tunggu, 100 hari? Libur? Itu artinya dia bisa menemaniku melahirkan? Karena usia kandunganku kini sudah 8 bulan, dan dokter bilang bila segalanya lancar. Bulan depan aku akan melahirkan. Akhirnya makhluk hidup yang selama ini berada di perutku akan keluar juga. Tanpa kusadari aku tersenyum membayangkan Eunhyuk yang akan menemaniku di ruang persalinan. Tersenyum? Hei, ada apa denganku? Apakah aku sudah mulai menyukainya? ANDWAE!
Kini kami –aku dan Eunhyuk- sudah berada di kamarku. Setelah makan malam selesai, dia bilang ingin istirahat karena lelah. Sambil menunggunya selesai mandi, kusiapkan baju tidur untuknya. Tunggu, apa yang aku lakukan? Semenjak kapan aku menyiapkan naju tidur untuknya. Aku menatap baju tidur yang kini ada di tanganku. Aku segera meletakkannya di tempat tidur. Sebelum dia keluar dari kmar mandi, aku segera naik ke tempat tidur dan berpura-pura membaca buku. Kulihat dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya, sehingga aku bisa melihat dengan jelas tubuhnya yang bidang. Seingatku dia tidak memiliki tubuh yang sesempurna itu sebelum masuk Wajib Militer. Dan ku akui, kini dia jauh lebih tampan dari sebelumnya. Segera kualihkan pandanganku pada buku yang ada di hadapanku saat dia menoleh ke arahku. Kenapa keadaannya menjadi canggung seperti ini. Dia berjalan ke arahku dan mengambil bantal yang ada di sampingku. Dia kemudian berbalik, mau kemana dia?
“Mau kemana kau?” tanyaku akhirnya karena tidak bisa menahan rasa penasaranku.
“Tidur, aku lelah.” Jawabnya singkat lalu melangkah lagi. Ternyata dia menuju sofa yang berada di sudut kamarku. Dia berbaring disana. “Ini sudah hampir pukul 10 malam. Bukankah harusnya kau sudah tidur?” ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya padaku.
“Aku belum mengantuk, aku akan selesaikan dulu membaca buku ini.”
“Kalau begitu jangan terlalu malam!” kemudian dia menutup matanya dan mulai tertidur. Kulihat dia masih mencari posisi yang enak untuk tidur. Kenapa dia harus susah-susah tidur di sofa, bukankah ini ada tempat tidur?
“Ya! Kenapa kau tidur di sofa?” tanyaku.
“Aku masih ingin hidup.” Jawabnya tanpa membuka mata.
“Tidurlah disini, kau pasti lelah. Aku tidak mau besok pagi badanmu sakit semua karena aku membiarkanmu tidur di sofa.”
“Kau yakin?”
“Ne.”
“Kau tidak takut aku melakukan hal-hal yang tidak kau inginkan?”
“Memangnya kau mau melakukan apa? Sudahlah, cepat tidur disini.” Akhirnya dia melangkahkan kakinya ke tempat tidur dan naik ke atas tempat tidur. Aku menatapnya yang sudah mulai tertidur. Ternyata dia lucu juga saat sedang tidur.
“Cepat tidur dan jangan menatapku seperti itu. Seolah-olah kau mau memakanku.” Aku kaget mendengar ucapannya. Bagaimana dia tahu apa yang aku lakukan padahal dia menutup matanya. Aku segera berbaring dan mencoba untuk tertidur, tapi tetap tidak bisa. “Seung Won-ah!” panggil sebuah suara. Aku menoleh pada laki-laki yang kini ada di sampingku. Ternyata dia juga belum tidur. “Kau tidak bisa tidur?” tanyanya, aku hanya mengangguk. “Mianhae!”
“Untuk apa?” tanyaku heran.
“Selama 7 bulan ini aku tidak menjagamu. Dan untuk satu tahun kedepan pun aku tidak bisa menjagamu dan anak kita. Aku masih harus menjalankan kewajibanku.”
“Gwaenchana, aku bisa mengerti.” Jawabku.
“Bolehkah aku . . .” matanya mengarah ke perutku. Aku mengerti maksudnya. Aku mengangguk dan tersenyum mengijinkannya. Perlahan tangannya naik ke perutku. Dia mengelusnya perlahan. Dia bangkit dari tidurnya dan duduk di sampingku. Dia masih mengelus perutku.
“Tempelkan telingamu!” perintahku. Dia menatapku heran tapi tetap melakukannya. Seketika itu pula aku melihat senyum gummy khasnya.
“Aku bisa mendengarnya.” Ucapnya antusias.
“Sepertinya dia tahu kalau kau adalah appanya.” Entah sampai jam berapa malam itu kami mengobrol tentang anak kami. Aku tidak tahu kemana perginya rasa canggung yang kami rasakan sebelumnya. Aku tidak perduli, yang penting saat ini Eunhyuk ada di sampingku.
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Kulihat Eunhyuk masih tertidur di sampingku. Bisa kulihat rasa lelah di wajahnya. Aku keluar kamar langsung berjalan menuju dapur. Kulihat eomma sudah ada di sana, tentu saja untuk menyiapkan sarapan.
“Eomma!” sapaku.
“Kau sudah bangun? Tidak biasanya.”
“Molla.” Aku menggeleng. “Eomma, ada teh?” tanyaku menghampirinya yang sibuk memotong sayur.
“Kau lihat saja di lemari makanan.” Aku melangkah menuju lemari makan. Aku mencari teh dan gulanya. Setelah kudapatkan segera kubuat teh hangat untuk Eunhyuk. Bagaimanapun aku adalah seorang istri yang harus melayani keperluan suami bukan? Lagi pula, tertulis dengan jelas kalau kami harus melakukan segala hal kewajiban kami sebagai suami istri. Kecuali hal ‘itu’.
Setelah selesai, kubawa teh yang kubuat barusan ke kamar. Ternyata dia masih tidur. Kusimpan teh yang kubuat di meja kecil samping tempat tidur. Lalu membuka tirai kamar agar cahaya matahari bisa masuk ke dalam kamar.
“Seung Won-ah, kenapa kau buka tirainya? Aku masih mengantuk.” Rutuknya tanpa membuka mata. Dia tutup wajahnya dengan bantal.
“Aku tahu kau masih lelah, tapi ini sudah pukul 8. Kau tidak malu pada eomma dan appa?” ucapku ketus.
“Arraseo . . .!” ucapnya lalu bangun dari tidurnya. Dia duduk di pinggir tempat tidur. “Kau sudah mandi?” aku menggeleng. “Kalau begitu cepatlah mandi, hari ini kita akan pergi.”
“Eodi?”
“Kau akan tahu.” Ucapnya sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Sambil menunggunya mandi, kubereskan tempat tidur. Dalam waktu 30 menit, dia sudah selesai mandi. Aku berusaha tidak menatapnya yang hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya. “Ini teh untukku?” tanyanya. Aku segera mendongak dan mengangguk cepat. Aku tidak mau dia tahu kalau wajahku kini merah karena melihatnya bertelanjang dada. Kenapa dia jadi berani seperti itu di depanku. Sebelum masuk wamil, bahkan dia tidak berani hanya memakai boxer di depanku. Kini hanya menggunakan handuk saja.
“Aku akan mandi sekarang.” ucapku langsung masuk ke dalam kamar mandi. Aku yakin pasti dia menganggapku aneh melihat tingkahku ini. Saat aku keluar dari kamar mandi, dia sudah tidak ada di kamar. Dengan segera aku bersiap karena tidak mau membuatnya menunggu lama. Kupakai baju hamil yang di berikan Eunhyuk beberapa bulan lalu. Benar, aku ingin sekali menanyakan hal ini padanya. Bagaimana bisa dia mengirim baju dari camp. Setelah selesai aku keluar kamar dan bergabung di meja makan.
“Kalian mau pergi kemana?” Tanya eomma saat sedang menyiapkan makanan di meja makan.
“Kami mau membeli perlengkapan bayi.” Jawab Eunhyuk. Aku langsung menatapnya tidak percaya. Padahal aku belum bicara apapun padanya tentang hal itu, tapi dia sudah merencanakannya. Bagaimana bisa dia tahu, aku belum membeli perlengkapan bayi.
“Baguslah.” Jawab appa dan eomma. “Perlu kami temani?” sambung eomma.
“Ani, tidak perlu eomma.” Tolak Eunhyuk halus. “Tapi, bolehkah aku meminjam mobil appa?” Tanya Eunhyuk pada Appa dan dibalas dengan anggukan oleh appa.
Selama perjalanan menuju took perlengkapan bayi, tidak ada yang keluar dari mulut kami masing-masing. Kami saling diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tapi aku tidak bisa begini, terlalu banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya.
“Ehmm . . . Eunhyuk-ah, ada yang ingin aku tanyakan padamu.” Tanyaku sambil menatapnya yang masih memandang lurus ke depan.
“Mwo?” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya padaku. Dia serius sekali menyetir mobil.
“3 bulan yang lalu, aku mendapatkan paket darimu. Bagaimana bisa?” tanyaku ragu. Kulihat dia tersenyum.
“Aku sudah menyiapkannya sebelum aku pergi ke camp.” Jawabnya enteng tapi berhasil membuat dadaku ini sesak.
“Dan sekarang, kenapa kau bisa tahu aku belum membeli perlengkapan bayi?”
“Sebelum ke rumah orang tuamu, aku mampir ke rumah kita. Dan tidak ada perlengkapan bayi di kamar anak kita. Jadi aku berpersepsi kalau kau belum menyiapkannya. Kenapa kau tidak beli perlengkapan untuk anak kita? Kau kan bisa membelinya bersama appa dan eomma.”
“Karena . . . karena . . . karena aku ingin kau yang melakukannya. Kau ingin kau yang mengantarku untuk membeli perlengkapan untuk anak kita.” Jawabku. Entahlah kenapa kata-kata itu bisa keluar dari mulutku. Seung Won babo! Bukankah kau membencinya, kenapa kau juga mengharapkannya?
“Gomawo!” ucapnya singkat. Aku baru akan membalas ucapannya, tapi kami sudah sampai. Eunhyuk turun duluan dari mobil, kemudian aku menyusulnya. “Kaja!” ajaknya kemudian menarik tanganku masuk ke dalam toko.
TBC . . .

13 thoughts on “Accident Part 5”

  1. lg asik TBC, akkkh. . . . .
    Kapan hyuk y selesai wamil, kasian seung woon y d tinggal2 mulu. . .
    Sebener y gmn perasaan hyuk k seungwoon, aku rada2 ngak jelas. . . .

  2. yaah TBC😦
    onnie, cerita kenapa seung-won benci sama enhyuk, belom diceritain ya? padahal udah penasaran, hiks,hiks😥
    lanjut ya onnie🙂

  3. waaaiiiiyy….
    emg seung-won udh mulai suka😀
    tpi kachiank juga sih bntr ditinggalin lagi buat masuk wamil…

    mian onni ru coment di part ini…

  4. hyaa, sweet bgt,,,pengertian sekalee jadi suami,,,
    mau dong punya suami kyk dia,,#dibakarjewels
    g bisa bayangin oppadeul kalo masuk wamil, kecuali kangin oppa…#kan udah ketauan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s