Accident Part 6

Eunhyuk POV

Aku mendapatkan libur dari pelatihan selama 100 hari. Itu artinya aku akan bertemu dengannya lagi. Aku sudah tidak sabar, bagaimana keadaannya sekarang? Kutekan bel rumah ornag tuanya dengan tidak sabar. Kudengar suara langkah kaki dari dalam, tidak sampai 10 detik pintu pun terbuka. Kulihat seorang wanita yang sangat aku rindukan membukakan pintu untukku. Dia diam terpaku saat melihat kedatanganku. Dia pasti tidak menyangka kalau aku akan pulang. Kulihat perutnya yang besar, aku tersenyum bahagia. Syukurlah, sepertinya anakku baik-baik saja.

Hari ini aku berencana untuk mengajaknya membeli perlengkapan bayi untuk anak kami. Sebelum ke rumah mertuaku, aku menyempatkan diriku untuk menengok rumah kami. Memastikan dia belum membeli apa-apa untuk anak kami. ‘Anak kami.’ Rasanya aku bahagia sekali saat mengucapkannya.

Kuhentikan mobil appa yang aku pinjam di parkiran mobil sebuah toko yang menjual semua perlengkapan bayi.

“Kaja!” aku menarik tangannya masuk ke dalam toko.

Saat kami masuk ke dalam toko, kami sudah disuguhi dengan beraneka macam tempat tidur bayi dengan berbagai bentuk dan warna. Kulihat raut wajah Seung Won yang bahagia. Aku merindukan senyum dan tawanya. Terakhir kali aku melihat dia tersenyum dan tertawa lepas untukku saat kami berumur 15 tahun. Dan itu karena kesalahanku. Aku sangat menyesal karena melakukan hal itu. Dan sampai sekarang dia masih tidak mau memaafkan aku. Apa yang harus kulakukan agar dia memaafkan aku?

“Eunhyuk-ah, bagaimana menurutmu yang ini?” panggilnya membuyarkan lamunanku. Aku segera berlari kecil ke tempatnya.

“Mwo?” tanyaku tidak mengerti.

“Tempat tidur yang ini. Bagaimana menurutmu?”

“Ne, itu bagus. Tapi kenapa kau memilih warna Pink? Memangnya anak kita seorang yeoja?” tanyaku kurang setuju dengan pilihan warnanya.

“Kau benar juga, bagaimana kalau anak kita seorang namja?” dia berpikir dengan menggembungkan pipinya. Aku paling suka dia melakukannya kalau dia sedang bingung.

“Memangnya kau tidak mengecek, apakah anak kita itu namja atai yeoja.” Dia menggeleng.

“Aku tidak mau tahu hal itu. Aku ingin itu menjadi sebuah kejutan. Jadi menurutmu, warna apa yang cocok untuk anak kita?” tanyanya meminta pendapatku. Kuedarkan mataku ke setiap warna yang tersedia.

“Bagaimana kalau Cokelat, menurutku itu cocok untuk namja atau yeoja.” Jawabku.

“Benar, pilihanmu bagus juga.”

“Baiklah kalau begitu, kita pilih yang ini.” Aku menunjuk tempat tidur bayi berwarna cokelat. “Kau lihat-lihatlah lagi. Aku akan urus tempat tidur ini dulu pada penjaga toko.” Dia mengangguk dan memasuki toko lebih dalam.

Cukup lama kami berada di toko itu, karena banyak hal yang harus kami beli untuk keperluan anak kami. Kami baru selesai saat jam makan siang tiba. Semua barang yang kami beli di kirim langsung ke alamat rumah kami. Sehingga aku tidak harus susah-susah membawanya dengan menggunakan mobil appa. Akan sangat merepotkan karena terlalu banyak barang yang kami beli.

“Apakah kau lapar?” tanyaku saat kami keluar dari toko. Dia mengangguk semangat. “Kalau begitu, sekarang kita cari tempat makan.”

“Tidak perlu jauh-jauh. Lihat!” dia menunjuk sebuah restoran yang berada sejajar dengan toko perlengkapan bayi.

“Not bad.” Jawabku kemudian menggandengnya menuju restoran itu.

Selesai makan siang, kami tidak langsung pulang menuju rumah orang tua Seung Won. Kami pulang ke rumah kami karena harus menunggu barang-barang yang kami beli datang.

“Apakah kau tidak pernah ke sini?” tanyaku yang melihat banyak debu di meja ruang tengah.

“Kadang-kadang, hanyak untuk mengecek saja. Waeyo?” jawabnya enteng yang kini sedang duduk dengan santainya di sampingku.

“Lihat!” kutunjukkan debu yang menempel di jariku padanya. “Debunya tebal sekali, kau tidak pernah membersihkannya?” ucapku kesal.

“Eomma selalu melarangku pergi-pergi keluar. Jadi aku hanya berdiam diri di rumah. Dia terlalu khawatir membiarkanku keluar rumah sendirian.”

“Baiklah, kali ini kau kumaafkan.” Jawabku pasrah. Jujur saja, aku tidak suka kotor. Makanya saat melihat debu di rumahku, aku merasa kesal. Sambil menunggu barang-barang yang kami beli datang, aku berinisiatif untuk membersihkan rumah. Sedangkan Seung Won aku suruh dia untuk memasak.

Ting tong . . .

“Biar aku yang membuka pintunya!” teriakku dari ruang tengah. “Mungkin itu barang-barang yang kita beli.”

Saat membuka pintu, ternyata memang benar kurir dari toko bayi yang datang. Dia mengirim semua barang-barang yang kami beli. Aku langsung menyuruh mereka untuk mengangkatnya menuju kamar.

Aku dan Seung Won menata kamar untuk anak kami. Ternyata sifat cerewetnya tidak berubah sama sekali. Kukira selama aku berada di camp, sifat cerewetnya akan sedikit berkurang. Ternyata tidak sama sekali bahkan dia bertambah cerewet. Dia terus menyuruhku memindahkan box bayi ke setiap sudut kamar. Dia bilang, “terlalu pojok!”, “tidak terkena cahaya matahari”. dan alasan-alasan lainnya. Kurasa tulang-tulangku sudah remuk semua.

“Seung Won-ah, kau mau aku simpan dimana box bayi ini? Kau tidak tahu kalau box bayi ini sangat berat.” Protesku. Dia hanya melotot ke arahku. Baiklah, kali ini aku memang harus mengalah lagi. Akhirnya selesai juga, aku dan Seung Won menatap hasil penataan kami. Setelah selesai kami makan masakan yang tadi Seung Won buat.

“Malam ini kita menginap disini ya!” pintanya tiba-tiba saat kami sedang makan.

“Waeyo?” tanyaku heran.

Dia menggeleng, “Aku kangen menginap disini. Semenjak kau pergi, aku tidak pernah menginap disini.”

“Baiklah.”

Akhirnya malam itu kami menginap di rumah kami. Sebelumnya kami menghubungi eomma dan appa bahwa kami tidak akan pulang ke rumah mereka.

Sudah satu bulan aku kembali ke rumah. Kami masih tinggal bersama orang tua Seung Won, mereka tidak mengijinkan kami tinggal di rumah kami karena mereka khawatir pada kehamilan Seung Won yang sudah besar. Apalagi usia kandungannya kini sudah memasuki bulan kesembilan. Aku juga tidak mengerti, tapi aku merasa menjadi lebih perhatian padanya. Atau lebih tepatnya pada kehamilannya, karena aku memang perduli pada anakku yang berada di dalam perutnya.

Aku terbangun saat tengah malam. Kulirik jam kecil yang berada di atas meja kecil di samping tempat tidur.

“Masih pukul 12 malam.” Gumamku. Aku yang baru saja akan kembali ke alam mimpi merasa haus dan melangkahkan kakiku menuju dapur. Saat kembali ke kamar, kulihat Seung Won tidak tenang dalam tidurnya. Wajahnya berkeriat seperti menahan sakit. Dia menggigit bibir bawahnya. Akhirnya kuputuskan untuk membangunkannya. “Seung Won-ah, ireona!” aku mengguncang tubuhnya pelan. Tidak ada reaksi apapun darinya, dia masih berkeringat dan menggigit bibir bawahnya. “Seung Won-ah, kali ini aku membangunkannya lebih keras.” Dia masih tidak merespon, keringat yang keluar dari tubuhnya kini lebih banyak lagi. Aku yang panic dan tidak mengerti apa-apa akhirnya berlari menuju kamar eomma dan appa. Meminta bantuan mereka. Eomma yang saat kuberitahu keadaan Seung Won langsung berlari menuju kamar kami.

“Aigo . . .” teriak eomma. “Hyuk-a, cepat siapkan mobil! Seung Won akan melahirkan.”

“Mwo?” aku kaget mendengar ucapan eomma. Dan masih diam mematung untuk mencerna setiap perintahnya, sampai appa yang menyadarkanku.

“Hyuk!” panggil appa.

“Ne.” aku langsung menyiapkan mobil milik appa di depan rumah. Kulihat eomma dan appa sudah membawa Seung Won keluar. Aku segera menghampiri mereka dan menggantikan eomma memapah Seung Won kedalam mobil. Bisa kulihat wajahnya yang sangat pucat menahan sakit. Tuhan, selamatkan anak dan istriku. Mohonku dalam hati. Setelah berhasil memasukkan Seung Won ke dalam mobil, aku langsung melajukan mobil ke rumah sakit. Beruntung ini sudah malam hari, sehingga jalanan sepi dan aku bisa memacu kecepatan mobil di atas rata-rata. Selama perjalanan menuju rumah sakit, Seung Won terus menangis dan merintih kesakitan. Eomma yang duduk disampingnya terus menenangkannya. kurang dari 15 menit kami sudah sampai di rumah sakit. Seung Won langsung dilarikan ke ruang bersalin.

“Apakah anda suaminya?” Tanya dokter saat akan masuk ke ruang bersalin. Aku mengangguk. “Sebaiknya anda ikut kedalam.” Pinta dokter itu. Aku langsung setuju dan mengikutinya masuk, sementara appa dan eomma menunggu di luar. Mereka menghubungi orang tuaku di Pulau Jeju.

Saat aku masuk, Seung Won sudah berganti pakaian menggunakan pakaian rumah sakit. Aku segera mendekatinya dan menggenggam tangannya. Dia membalasnya lebih kuat.

“Gwaenchana, aku ada di sini.” Ucapku tepat di telinganya berharap dia bisa lebih tenang. Dokter dan beberapa suster datang mendatangi kami, mereka sudah siap dengan peralatan dan perlengkapan mereka. Seung Won semakin menggenggam tanganku kuat saat dia di perintahkan untuk mendorong bayinya keluar. Dia mulai marah-marah dan mencakar tanganku. Sakit dan perih kurasakan di tanganku saat dia melakukannya, tapi melihatnya kesakitan lebih membuatku sakit. Dia terus memohon agar anak kami mau cepat keluar, begitupun denganku. Aku berdoa agar semua ini cepat berakhir.

“Aaaaaaaa . . .” itu teriak terakhir Seung Won yang aku dengar. Bersamaan dengan itu akupun mendengar suara tangis bayi. Suster langsung membawa anak kami untuk segera dibersihkan. Kulihat Seung Won sangat kelelahan, aku mencium keningnya.

“Gomawo!” bisa kulihat ekspresi keterkejutan di wajahnya tapi dia langsung tersenyum. Aku langsung memeluknya dan bersyukur bahwa anak dan istriku selamat. Suster kembali menghampiri kami sambil membawa seorang bayi kecil di pangkuannya.

“Selamat tuan nyonya. Anak anda seorang namja.” Ucap suster itu sambil menyerahkan bayi di tangannya pada kami. Seung Won langsung menggendongnya dan memberinya ASI. Aku menatap keduanya dengan bahagia sampai-sampai aku tidak merasakan air mata sudah mengalir di pipiku.

“Ya! Kau menangis?’ Seung Won membuyarkan lamunanku. Aku langsung mengusap air mataku dengan cepat.

“Ani, aku hanya bahagia saja.”

Setelah dipindahkan ke ruang rawat, eomma dan appa baru bisa menengok Seung Won dan cucu pertama mereka.

“Aigo . . . cucuku lucu sekali.” Ucap eomma bahagia. Begitupun dengan appa. Aku yang berdiri di samping Seung Won ikut bahagia melihat kebahagiaan eomma dan appa. Kualihkan pandanganku pada Seung Won yang terduduk lemah di atas tempat tidurnya. Dia tertawa lepas seperti tidak ada beban sama sekali. Syukurlah, aku berharap setelah ini hubungan kami akan semakin baik. Tiba-tiba Seung Won menatapku, membuatku gelagapan.

“Ya! Kenapa kau menatapku seperti itu?”

“Ani, gomawo!” aku menatapnya bingung. “Saat aku melahirkan tadi, kau sudah mendampingiku.” Lanjutnya. Aku tersenyum lalu mencium puncak kepalanya. Kurasakan Seung Won terhenyak kaget saat aku melakukannya, tapi syukurlah dia tidak melawan.

Hari ini Seung Won sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Kami langsung pulang ke rumah kami.

Aku duduk di ruang tengah bersama abeonim, appa dan Park ahjussi. Sementara eomma, eommonim, dan Park ahjumma mengantar Seung Won ke kamarnya untuk istirahat.

“Hyuk-ah, kau sudah menentukan siapa nama anakmu?” Tanya appa tiba-tiba membuatku sedikit kaget. Aku lupa belum menyiapkannya.

“Ehm . . . aku belum menemukan nama yang cocok untuk anak kami. Apakah appa punya saran?” beliau menggeleng.

“Aku juga belum menemukan nama yang cocok.” Sambung abeonim.

Hari sudah malam. Appa, eomma, abeonim, eommonim, Park ahjussi dan Park ahjumma sudah pulang. Kini hanya aku, Seung Won dan anak kami di rumah ini. Rasanya canggung sekali, ini pertama kalinya ada seorang anak di antara kami. Kami tidak bisa saling berteriak seperti dulu. Kami harus melihat anak kami sebelum melakukannya. Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam kamarnya. Kulihat Seung Won baru saja keluar dari kamar mandi.

“Ada apa?” tanyanya.

“Ani, kau baru selesai mandi?” dia mengangguk.

“Kau sudah menemukan nama yang cocok untuk anak kita?” dia menggeleng sambil berjalan menuju meja rias.

“Begitu? Baiklah, aku kembali ke kamar dulu. Kau istirahatlah!” pamitku kemudian meninggalkannya menuju kamarku. Setelah kembali ke rumah, kamar kami kembali terpisah.

Sudah sebulan semenjak Seung Won melahirkan. Kami akhirnya memberikan nama Lee Jihyuk untuk anak kami. Kini Jihyuk sudah lebih besar dari pada saat baru lahir. Dia memiliki wajah yang sangat mirip denganku. Hanya matanya saja yang mirip dengan Seung Won.

Saat ini kami sedang berada di ruang tengah menikmati kebersamaan kami sebagai keluarga kecil.

“Seung Won-ah, mulai minggu depan. Bisakah kau dan Jihyuk kembali ke rumah orang tuamu.” Ucapku dengan wajah serius. Dia yang sedang bermain bersama Jihyuk langsung menghentikan kegiatannya lalu menatapku serius.

“Wae?” tanyanya heran. Apakah dia lupa kalau aku sedang libur dari pelatihanku.

“Kau lupa kalau aku sedang berlibur? Aku harus kembali melakukan kewajibanku.” Dia menunduk. “Gwaenchana?” tanyaku heran sambil memegang pundaknya. Seketika itu pula dia mengangkat kepalanya dan tersenyum padaku.

“Selama seminggu ini, bisakah kita melakukan kegiatan yang biasa dilakukan oleh keluarga-keluarga lainnya?” tanyanya antusias. Aku masih tidak mengerti maksudnya.

~~~~~

Kubuka mataku karena mendengar suara berisik dari luar kamar. Aku bangun dari tidurku lalu duduk di samping tempat tidur berusaha mengumpulkan nyawa-nyawaku kembali. Kulangkahkan kakiku keluar kamar lalu masuk ke dalam kamar Jihyuk. Ternyata dia masih tidur dengan nyenyaknya. Kemudian aku menuju dapur, karena suara berisik-berisik itu berasal dari dapur. kulihat Seung Won sedang sibuk memasak. Kulihat jam dinding yang terpajang di dinding ruang tengah. Masih pukul 5 pagi.

“Seung Won-ah, apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku sambil duduk di kursi meja makan.

“Hari ini kita akan piknik.” Jawabnya singkat.

“Mwo?”

~~~

“Ya! Ayo lihat kemari!” teriakku pada Seung Won agar dia mau melihat ke kamera.

“Jihyuk-ah, ayo tersenyum!” ucap Seung Won riang sambil menghadapkan Jihyuk ke kamera.

“Sekarang giliranku.” Aku bertukar posisi dengan Seung Won. Kugendong Jihyuk lalu mencium pipinya. Seung Won dengan sigap langsung mengambil foto kami. “Agashi!” panggilku pada seorang yeoja yang lewat di depan kami. “Bisakah kau ambil foto kami bertiga?” ternyata yeoja itu mau. Jihyuk berada di pangkuanku. Aku dan Seung Won mencium pipi Jihyuk kanan dan kiri masing-masing. “Gamsahamnida!” ucapku pada yeoja yang menolong kami tadi.

~~~

Akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana aku harus kembali ke camp. Dan menjalani kewajibanku sebagai seorang namja. Sebelum pergi aku mengantarkan Seung Won dan Jihyuk ke rumah abeonim dan eomonim, sekalian pamit pada mereka.

“Sampai jumpa tahun depan.” Ucapku. Lalu kucium kening Seung Won dan Jihyuk cukup lama kemudian memeluknya. Aku akan sangat merindukan mereka berdua. “Aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik. Jangan biarkan Jihyuk melupakanku.”

“Hyuk!” panggil Seung Won menghentikan langkahku yang akan pergi. Aku memutar tubuhku kembali menghada ke arahnya. “Gomawo, karena selama 3 bulan ini kau sudah menjadi suami dan ayah yang baik. Aku harap setelah kau kembali nanti, hubungan kita akan semakin lebih baik.” Ucapnya. Aku tersenyum mendengarnya. Apakah itu artinya dia sudah membuka hatinya kembali untukku. Semoga.

1 tahun kemudian

Seung Won POV

Kini aku dan Jihyuk sedang berada di stasiun untuk menjemput kedatangan Eunhyuk. Hari ini dia pulang dari pelatihannya. Aku sudah sabar bertemu dengannya. Setelah menunggu selama 30 menit, akhirnya kereta yang membawa Eunhyuk datang. Kubetulkan posisi Jihyuk di pangkuanku bersiap untuk menyambutnya. Selain aku, banyak juga orang yang menjemput keluarga mereka yang pulang dari pelatihan sama seperti Eunhyuk. Tapi karena terlalu banyak orang dan aku tidak ingin Jihyuk terluka karena berdesak-desakkan dengan orang-orang, akhirnya kuputuskan untuk menunggu kedatangan Eunhyuk di tempat aku menunggunya sekarang. Bangku stasiun tempat biasanya orang-orang pakai untuk menunggu kereta datang. Kulihat para namja yang memakai pakaian layaknya prajurit mulai turun dari kereta. Mereka semua tampak gagah dengan seragam yang mereka pakai. Satu persatu dari mereka mulai melepas rindu saat bertemu dengan kerabat mereka. Aku belum menemukan sosok Eunhyuk di antara mereka. Dimana si monkey itu, aku sudah pegal. Jihyuk yang merasa kepanasan mulai menangis gelisah. Kalau dalam waktu 5 menit dia belum terlihat juga aku benar-benar akan pergi. Tiba-tiba mataku menatap sosok yang sangat aku rindukan. Sedikit berlebihan mungkin, tapi ini kenyataan. Eunhyuk terlihat paling bersinar diantara kerumunan itu. Dengan mudah aku bisa menemukannya. Kulihat dia mengedarkan pandangannya mencari sesuatu. Mungkin dia mencariku. Kuangkat tanganku dan melambai ke arahnya agar dia bisa melihatku. Dia melihatku, karena dia langsung berlari menghampiriku.

“Seung Won-ah!” teriaknya kemudian memelukku erat. Membuatku tidak bisa bernapas.

“Ya! Aku tidak bisa bernapas.” Dia langsung melepas pelukannya.

“Mianhae!” sesalnya. “Bagaimana keadaan Jihyuk?” tanyanya langsung mencium pipi Jihyuk.

“Ya! Kau hanya menanyakan keadaan Jihyuk saja?” kesalku. Eunhyuk langsung mengambil Jihyuk dari pangkuanku.

“Tidak kutanyakan saja kau sudah memperlihatkan kalau kau baik-baik saja.” Ucap Eunhyuk sambil mengajak bermain Jihyuk. Tapi aku senang, ternyata dia tidak berubah sama sekali. “Ayo kita pulang.” Ajaknya sambil memberikan Jihyuk kembali ke pangkuanku dan mengambil barang-barang miliknya.

“Kukira kau akan membiarkanku membawa barang-barangmu. Ternyata tidak, baguslah.” Gumamku.

“Wae?”

“Aniyo.” Aku menggeleng cepat. Kukira dia tidak mendengarnya.

“`

“Eunhyuk-ah, tolong lihat Jihyuk dia menangis.” Teriakku dari dapur. Tidak butuh waktu lama untuk menenangkan Jihyuk.

Sudah sebulan semenjak Eunhyuk pulang dari pelatihannya. Kini hubungan kami menjadi lebih baik. Tidak ada lagi pertengkaran-pertengkaran antara kami. Kecuali tentang Jihyuk. Tapi aku menikmatinya. Aku rasa Eunhyuk sudah menjadi lebih dewasa sekarang, dia lebih sering mengalah padaku. Apakah ini karena pelatihan yang dia dapatkan di camp? Semoga saja ini akan berlangsung seterusnya. Kalau keadaan kami seperti ini terus, mungkinkah kami akan benar-benar menjadi sebuah keluarga kecil yang bahagia. Semoga.

“Seung Won-ah, sepertinya dia lapar.” Ucap Eunhyuk yang tiba-tiba datang sambil menggendong Jihyuk. Aku menatap keduanya bahagia, mereka benar-benar mirip. Aku mengambil Jihyuk dari tangan Eunhyuk.

“Eunhyuk-ah, bisakah kita memulai kehidupan kita layaknya sebagai keluarga?” apa yang kukatakan barusan? Babo, harusnya aku tidak mengatakan itu. Mau dikemanakan mukaku ini heh? Eunhyuk menatapku serius, entah apa yang ada di pikirannya sekarang. “Lupakan saja apa yang kukatakan barusan.” Ucapku lalu hendak meninggalkannya untuk memberi makan Jihyuk. Tapi tangan kekarnya menahan langkahku. Kini kami saling berhadapan, pandangan kami pun bertemu.

“Itulah yang ingin aku katakan padamu 11 tahun yang lalu. Tapi kau salah mengartikan perlakuanku padamu.” Aku masih menatapnya tidak mengerti tentang apa yang dia bicarakan. Apa hubungannya kata-kataku barusan dengan kejadian 11 tahun lalu?

Flash Back

11 tahun yang lalu    

Eunhyuk POV

“Seung Won-ah!” panggilku pada seorang yeoja yang seumuran denganku. Dia sedang duduk ayunan favoritnya di taman ini. Aku berlari menghampirinya.

“Kenapa kau lama sekali?” kesalnya padaku memasang tampang marah. Tapi aku tahu, itu hanya sebuah kesal sesaat. Aku yakin setelah dia mendengar kata-kataku nanti, dia akan tersenyum bahagia. Aku sudah berteman dengannya semenjak kami masih berada di TK. Dan entah sejak kapan perasaan itu mulai muncul. Aku yakin, dia pun memiliki perasaan yang sama denganku.

“Seung Won-ah, ada yang ingin aku katakan padamu.” Aku menatapnya serius. Dia sepertinya mengerti sikapku saat ini, karena diapun menatapku dengan serius. “Sebelum kau pulang besok, ada yang ingin kau ketahui tentangku.” Dia tidak membalas perkataanku. Dia menungguku melanjutkannya. “Seung Won-ah . . .” aku terus menatapnya tajam. Dan entah apa yang merasuki pikiranku. Aku semakin mendekatkan wajahku dengan wajahnya. Kurasakan tubuhnya menegang karena saat ini aku sedang memegang kedua bahunya. Kupejamkan mataku dan aku yakin saat ini jarak wajah kami hanya tinggal satu centi. Tapi tiba-tiba saja kurasakan pipiku panas. Kubuka mataku lalu melangkah mundur saat melihat Seung Won yang menangis. Kenapa? Ada apa dengannya? Babo, apa yang kau lakukan Eunhyuk. Tentu saja kau sudah melukai perasaannya. Dia adalah tipe yeoja asia yang sangat menjaga adat istiadat. Dia tidak akan melakukan apa yang baru saja akan aku lakukan padanya. Tentu saja dia akan sangat marah padaku. “Seung Won-ah, mianhae! Aku tidak bermaksud untuk . . .”

“JANGAN PERNAH MENEMUIKU! AKU MEMBENCIMU LEE HYUKJAE!” teriaknya padaku lalu meninggalkanku. Dan semenjak saat itu, dia tidak pernah datang lagi ke rumah Park ahjussi untuk berlibur.

Flash Back End

Seung Won POV

“Sebenarnya saat itu aku ingin menyatakan perasaanku padamu. Dan apa yang aku lakukan padamu, sungguh itu bukan berasal dari hatiku. Aku tahu kau tidak akan pernah mau melakukannya kecuali dengan suamimu. Mianhae!” Eunhyuk menundukkan kepalanya menyesal. Aku tersenyum getir setelah mendengar semua pengakuannya. Ternyata perasaanku saat itu memang tidak bertepuk sebelah tangan, namun karena perbuatannya saat itu benar-benar membuatku terpaksa harus membencinya.

“Bisakah kau memelukku sekarang?” ucapku lemah tapi masih bisa dia dengar. Dia mengangkat kepalanya dan menatapku tidak percaya. Aku tersenyum untuk menyakinkannya. Dia langsung memelukku kedalam pelukannya. Semoga setelah ini kami akan benar-benar menjadi sebuah keluarga kecil yang bahagia.

Semenjak itu, aku dan Eunhyuk mulai berada di satu kamar yang sama. Meskipun awalnya memang sangat canggung, karena ini pertama kalinya kami tidur satu ranjang di rumah kami sendiri. Meskipun sebelumnya kamipun tidur satu ranjang, itu karena di rumah orang tuaku. Kali ini berbeda, kami tidur satu ranjang karena kini kami saling mencintai.

Eunhyuk POV

Akhirnya aku benar-benar memiliki Seung Won seutuhnya setelah menunggu selama 11 tahun. Untung saja dia mau mengerti tentang apa yang aku lakukan padanya 11 tahun yang lalu. Karena memang itu tidak berasal dari hatiku.

Ting tong . . .

“Biar aku yang buka pintunya.” Teriakku dari ruang tengah. Sambil menggendong Jihyuk, aku membuka pintu rumah kami. “Kau?”

TBC

12 thoughts on “Accident Part 6”

  1. akhirnya setelah menunggu, persoalan yang 11 tahun lalu diceritain juga🙂 ….
    yah onnie, kenapa lagi seru-seru, di TBC in…😦
    apakah yang dateng itu, cewe yang ditelepon sama si kunyuk itu?
    oh ya onnie, foto buat ff itu, anak siapa? hehee -__-v

  2. akhir y hyuk selesai wamil kan jd enak cerita y ngak d tinggal2 n kangen ma hyuk. . .
    Siapa tuh yg dateng? Pa jgn2 cwe yg tlpn2 an ma hyuk waktu tu? Perasaan baru akur n harmonis udah da pengganggu kyk y. . .
    Siapa tuh yg dateng? Pa jgn2 cwe yg tlpn2 an ma hyuk waktu tu? Perasaan baru akur n harmonis udah da pengganggu kyk y. . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s