Accident Part 7

“Kau?” aku menatap tidak percaya pada sosok yang berada di depanku kini.

“Hallo Lee Hyukjae. How are you?” ucapnya sambil memberikan senyuman sinisnya padaku.

“Bagaimana kau bisa tahu aku tinggal disini?” aku tergugup.

“Jadi ini anakmu?” ucapnya lalu berusaha mendekati Jihyuk. Tapi dengan cepat aku menjauhkan Jihyuk darinya.

“Siapa yang datang?” tiba-tiba Seung Won sudah berada di belakangku. “Annyeonghaseyo!” sapa Seung Won ramah.

“Annyeong! Aku tetangga baru kalian, salam kenal. Choneun Kim Min Jee imnida. Semoga kita bisa menjadi tetangga yang baik.” Aku kaget dengan apa baru saja Min Jee katakan. Tetangga? Apa maksudnya?

“Annyeong! Ne, semoga kita bisa menjadi tetangga yang baik.” Jawab Seung Won.

“Oh ya, hampir saja aku lupa. Ini aku bawakan cake untuk kalian, semoga kalian suka.” Min Jee memberikan sepiring cake pada Seung Won. Aku masih tidak bisa membaca kemana arah tujuannya. Aku harus bicara dengannya nanti malam.

Malam hari

“Seung Won-ah, aku pergi keluar dulu mencari udara segar.”pamitku pada Seung Won yang sedang menidurkan Jihyuk.

“Ne. Perlu aku tunggu?” tanyanya.

“Ani. Kau langsung tidur saja, mungkin aku akan pulang malam. Kau mau menitp sesuatu?” dia menggeleng. Setelah berpamitan dengannya aku langsung keluar rumah.

Kini aku berada di depan sebuah rumah bergaya minimalis. Tidak berbeda jauh dengan rumah yang aku tempati bersama Seung Won. Warna rumah ini didominasi dengan warna hijau, sangat mencerminkan dirinya. Kutekan bel rumahnya, tidak lama kemudian pemilik rumah membukakan pintunya untukku.

“Hyuk-ah!” sapanya kemudian memelukku. Tapi dengan segera kulepaskan pelukannya.

“Jangan berbasa-basi.” Ucapku ketus. Dia tidak membalas, langsung menarik tanganku masuk kedalam rumahnya. Dia mendudukkanku di sofa ruang tamu.

“Kau mau minum apa?” tawarnya.

“Tidak perlu, aku tidak akan lama.” Aku masih bersikap ketus padanya.

“Baiklah.” Kemudian dia duduk di sampingku dan menyandarkan tubuhnya padaku. Aku diam karena aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan.

“Sebenarnya apa yang mau?”

“I want you.” Bisiknya tepat di telingaku membuatku sedikit geli. aku menghindarinya dengan berpindah duduk di sofa yang ada di depanku.

“Kau tahu itu tidak mungkin. Aku sudah menikah dan sekarang aku sudah punya anak. Lagipula, sejka awal aku sudah bilang padamu, aku tidak pernah mencintaimu. Tapi kau selalu memaksa.”

“Itu karena aku sangat mencintaimu.” Teriaknya tiba-tiba sambil berdiri. Membuatku tersentak kaget. Kulihat dia sudah bersiap akan menangis.

“Tapi aku tidak mencintaimu. Dari awal aku hanya menganggapmu sebagai sahabat. Kau tahu benar kenapa aku tidak pernah bisa mencintaimu.”

“Ya, karena wanita murahan itu kan.”

“Jangan sebut dia wanita murahan.” Teriakku. Habis sudah kesabaranku.

“Lalu apa namanya untuk wanita yang dengan relanya memberikan kehormatannya pada seorang laki-laki?” tanganku mulai mengepal karena marah. Ingin sekali aku menamparnya, tapi aku harus bisa menahan emosiku. Kalau aku sampai menamparnya, masalahnya akan semakin besar.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan?”

“Aku sudah mengatakannya padamu bukan?”

“Aku yakin masih ada yang lain. Aku sangat mengenal dirimu. Kau bukan tipe yeoja yang menginginkan hanya pada satu keinginan.”

“Heh . . .” Min Jee mengeluarkan smirknya. “Ternyata kau memang sudah mengenalku dengan baik.” Aku diam menunggunya melanjutkan bicara. “Ya, selain menginginkan dirimu. Aku juga ingin kau meninggalkan Seung Won dan membuang semua tentang dirinya dari pikiranmu. Aku ingin hanya ada aku dalam kehidupanmu.”

“Bermimpi saja kau.” Tantangku.

“Kau sangat mengenalku bukan? Aku adalah orang yang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan sesuatu termasuk kejahatan.” Aku membelalakkan mataku. Apa yang akan dia lakukan? Aku tahu benar kalau dia akan melakukan apa saja termasuk tindakan kriminal untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Tidak perlu kuberitahu, kau pasti sudah tahu bukan.”

“Aku tidak akan berbasa-basi lagi. Apa yang kau inginkan dariku?”

“Tinggalkan Seung Won lalu hiduplah bersamaku.”

“Kau tahu aku tidak bisa melakukannya. Kau tahu aku sangat mencintai Seung Won sejak dulu.”

“Tapi wanita itu tidak mencintaimu. Bahkan dia membencimu.” Teriak Min Jee. “Akan kuberi kau waktu untuk meninggalkan Seung Won. Kalau kau tidak melakukannya, kau tahu apa yang akan kulakukan pada istri  dan anakmu.”

“`

“Tadi malam kau pulang jam berapa?” Tanya Seung Won saat aku masuk dapur untuk mengambil minum.

“Hanya keliling saja. Wae?”

“Ani, hanya saja saat aku bangun tadi kulihat kau tidur seperti dalam gelisah. Apa ada yang terjadi tadi malam?”

“Ani.” Jawabku cepat agar tidak terlihat gugup. “Aku akan melihat Jihyuk.” Aku langsung menuju kamar Jihyuk. Pikiranku masih tidak tenang, apa yang harus kulakukan untuk menghentikan Min Jee.

Beberapa kali Min Jee bertamu ke rumah kami dan selalu menatapku dengan tatapan mengancam. Setiap kali aku berangkat ke kantor, aku selalu khawatir tentang keadaan Seung Won dan Jihyuk sehingga mengharuskan diriku memaksa Seung Won untuk bermain di rumah orang tuanya selama aku pergi ke kantor. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada istri dan anakku.

“Seung Won-ah, kau sudah siap?” tanyaku dari ruang tamu.

“Ne.” teriaknya dari dapur. kulangkahkan kakiku menuju mobil. Tidak berapa lama Seung Won datang menyusul.

“Seung Won-ah, hari ini kau akan ke rumah orang tuamu lagi?” tiba-tiba Min Jee yang lewat depan rumah kami menyapa Seung Won yang baru saja akan masuk ke dalam mobil. Sementara aku menatapnya dengan sinis.

“Ne. Eunhyuk ingin aku ke sana selama dia bekerja. Dia tidak mau aku dan Jihyuk diam di rumah sendiri tanpa ada yang menjaga kami.” Dia tersenyum pada Seung Won. Sungguh menjijikan menurutku.

“Hati-hati kalau begitu.”

“Ne.” setelah menjawab Min Jee, Seung Won masuk mobil. Setelah memberikan Jihyuk ke pangkuan Seung Won, aku langsung menancap gas dan melajukan mobilku. “Ya! Aku bahkan belum memasang sabuk pengaman.” Marah Seung Won tapi aku tidak peduli. Yang penting aku segera pergi dari tempat itu. “Ada apa denganmu sebenarnya? Kau tidak biasanya seperti ini.” Tanyanya heran. Tapi aku masih diam tidak menjawab. Sebenarnya aku tidak mau, tapi aku malas. Tak kunjung mendapat jawaban dariku, akhirnya dia diam. Sepertinya dia mengerti kalau moodku saat ini sedang tidak bagus. setelah mengantarkan Seung Won dan Jihyuk, aku langsung berangkat ke kantor.

“Sajangnim, hari ini ada rapat pukul 9 dengan perusahaan Chang Do dari Cina.” Ucap Sohee sekretarisku saat aku lewat di depannya.

“Ne, beritahu aku jika rapatnya sudah akan dimulai.” Jawabku langsung masuk ke dalam ruanganku.

Kini sudah ada dokumen-dokumen yang harus aku pelajari untuk rapat nanti. Tapi aku tidak bisa berkonsentrasi. Pikiranku terus pada Seung Won dan Jihyuk. Perasaanku benar-benar tidak enak tentang mereka.

Tok tok tok

“Masuk!” ucapku saat kudengar pintu ruanganku di ketuk.

“Mianhamnida sajangnim! Rapat akan segera dimulai 5 menit lagi.” Ucap Sohee dari mulut pintu ruanganku.

“Ne, kau siapkan dokumen-dokumen yang harus diperlukan untuk rapat.” Perintahku. Dia mengangguk lalu kembali ke mejanya.

“Semoga proyek sekarang akan sesukses proyek sebelumnya.” Gumamku pada diriku sendiri. Kulangkahkan kakiku menuju ruang rapat bersama Sohee dan beberapa staf kantor. Aku berusaha membuang jauh-jauh sementara pikiranku tentang Seung Won dan Jihyuk. Sohee membukakan pintu untukku. Aku tertegun saat melihat orang yang kini ada di hadapanku.

“Good morning mr. Lee Hyukjae!” sapanya dengan senyum smirknya. Lidahku kelu tidak bisa berkata apapun. Kenapa dia bisa berada di sini?

“Sajangnim, beliau adalah nona Kim Min Jee. Beliau adalah direktur dari perusahaan Chang Do.” Jelas Sohee memperkenalkan sosok yang kini ada di hadapanku.

Kini Min Jee sedang mempresentasikan proyek yang akan kami lakukan. Satu hal yang membuatku tidak nyaman. Matanya tidak pernah lepas menatapku. Dan bodohnya, aku tidak bisa menghindar dari tatapannya.

“Sekian presentasi saya.” Ucapnya mengakhiri presentasi. Aku tersadar dari lamunan singkatku. Lagi-lagi dia menatapku tajam dengan senyum smirknya.

Kesepakatan telah dibuat, akhirnya perusahan kami setuju untuk melakukan kerja sama. Semoga aku bisa bertahan untuk beberapa bulan ke depan. Bekerja sama dengannya akan membuatku sedikit tertekan.

“Sampai bertemu lagi mr. Lee Hyukjae.” Lagi dia mengeluarkan smirknya. Lalu pergi meninggalkan ruangan bersama staf kantornya yang lain. Kuhempaskan tubuhku ke kursi lalu menghembuskan napasku panjang sambil menutup mata bermaksud sedikit meregangkan otot-ototku.

“Sajangnim, sudah waktunya makan siang. Apakah anda mau saya pesankan?” tawar Sohee.

“Ani, aku akan makan siang di rumah.” Ucapku lalu beranjak keluar ruangan.

Kuketuk pintu rumah abeoji, sampai akhirnya aku melihat Seung Won yang membukakan pintu untukku. Dia tersenyum lebar saat melihat kedatanganku yang sepertinya cukup mengagetkannya.

“Hyuk-ah, ada apa?” tanyanya heran.

“Wae? Kau tidak suka aku datang di saat jam makan siang seperti ini?”

“Ani, tentu saja aku senang sekali kau datang. Tapi kenapa kau tidak memberitahuku dulu. Untung saja aku belum pergi.”

“Memangnya kau mau kemana?”

“Tentu saja aku mau ke kantormu untuk mengantarkan makanan.” Aku tersenyum lebar mendengarnya lalu memeluknya. Kurasakan dia terkejut, tapi aku tidak mempedulikannya. Aku terus memeluknya erat.”

“Hyuk-ah . . .!”

“Hmm . . .?!”

“Aku tidak bisa bernapas.” Aku tersadar dan segera melepas pelukanku.

“Mianhae!” kugaruk kepalaku yang tidak gatal karena malu. Aku yakin saat ini wajahku sudah sangat merah. Bahkan melebihi merahnya kepiting rebus.

“Kaja!” dia menarik tanganku masuk ke dalam rumah menuju dapur. Kulihat disana ada eommonim yang sedang menggendong Jihyuk. Aku langsung menghampiri Jihyuk lalu menggendongnya.

“Jihyuk-ah!” aku mengajaknya bermain. Dia tertawa saat melihatku, aku bahagia melihatnya.

“Hyuk-ah, ayo makan dulu. Biarkan eomma yang menjaga Jihyuk.” Ucap eommonim sambil mengambil Jihyuk dari pangkuanku.

“Ne, kamsahamnida eommonim.” Aku duduk di kursi meja makan ditemani Seung Won yang duduk di hadapanku.

“Bagaimana harimu?” Tanya Seung Won, namun saat itu juga aku tersedak makananku sendiri. “Ya! Kalau makan hati-hati!” ucap Seung Won sambil memberikan segelas air minum padaku. Aku segera meminumnya.

“Bagaimana kalau akhir minggu ini kita jalan-jalan. Semenjak aku pulang dari pelatihan, kita belum pernah sempat jalan-jalan bukan?” ucapku mengalihkan pembicaraan.

“Jeongmal?” Tanya Seung Won antusias. Aku mengangguk semangat. Tiba-tiba Seung Won beranjak dari duduknya lalu berputar ke tempatku duduk kemudian memelukku. Reaksinya sungguh di luar dugaan.

~~~

Tok tok tok . . .

“Masuk!”

“Sajangnim, nona Min Jee ada di luar ingin menemui anda.” Ucap Sohee yang masih berdiri di mulut pintu ruanganku.

“Biarkan dia masuk.” Jawabku. Tidak berapa lama kemudian, sosok Min Jee sudah menggantikan posisi Sohee yang tadi berdiri di mulut pintu ruanganku. Dia tersenyum sinis saat pandangan kami bertemu.

“Ada apa kau kemari?” tanyaku ketus. Tanpa kupersilakan, dia sudah duduk di kursi yang berada di depan meja kerjaku.

“Kau lupa kalau perusahan kita melakukan kerja sama? Itu artinya kita akan sering bertemu, baik di kantormu atau di kantorku.”

“Kau repot sekali mau datang kemari. Kau bisa menyuruh asistenmu untuk bertemu denganku atau asistenku.”

“Mana mungkin aku melepaskan kesempatan ini. Aku akan turun tangan langsung menyelesaikan proyek ini.”

“Huh . . .” aku memandang remeh padanya.

“Sudah kuputuskan, batas waktumu untuk meninggalkannya adalah saat proyek ini selesai.” Ucapnya tegas.

“Apa maksudmu, aku tidak pernah menyetujui hal itu. Dan aku tidak akan pernah meninggalkan Seung Won.”

“Terserah padamu, semua keputusan ada di tanganmu. Kalau kau tidak mau menerimanya. Kau tahu apa yang bisa aku lakukan pada keluarga kecil kalian.” Aku menatapnya geram yang kini sudah keluar dari ruang kerjaku.

Aku mengacak rambutku frustasi. Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Terlalu berat untukku meninggalkannya setelah bersusah payah aku kembali mendapatkan hatinya untukku. Dan sekarang aku harus menyakitinya lagi? God, bantu aku mencari jalan keluar.

~~~

“Aku pulang . . .!!” ucapku saat masuk kedalam rumah.

“Wae? Wajahmu kusam seperti itu. Apakah pekerjaanmu di kantor sangat banyak?” Tanya Seung Won khawatir melihatku sambil membawakan tas kantor dan membukakan jasku. Kuhempaskan tubuhku di sofa ruang tengah. Kuhela napasku panjang. Seung Won duduk di sampingku sambil membukakan kancing kemejaku. Aku menutup mataku untuk melepas lelah. Seung Won tidak bertanya lagi, sepertinya dia mengerti kalau saat ini aku sedang tidak ingin diganggu dengan pertanyaan-pertanyaannya.

~~~

Sudah enam bulan perusahaanku dan dan perusahan Min Jee bekerja sama. Syukurlah, selama bekerja dia bersikap professional sehingga tidak terlalu membebaniku dengan ancamannya. Walaupun kadang-kadang dia selalu mengingatkanku tentang ancamannya. Proyek kami sudah berjalan 80 %, itu artinya kerjasama kami akan segera selesai. Sejujurnya, aku lebih suka proyek ini berjalan lebih lama. Karena dengan berakhirnya proyek ini, aku harus mencampakkan Seung Won.

Siang ini aku dan Min Jee berjanji untuk makan siang bersama. Sekalian membicarakan proyek kami. Aku menunggunya di coffe shop yang berada di lantai dasar kantorku. Sambil menunggunya aku memesan cappuccino.

“Ternyata seleramu tidak berubah.” Aku melirik kea rah suara.

“Kau datang.” Ucapku datar. Kini dia sudah duduk di hadapanku.

“Proyek kita sudah hampir selesai. Kau masih ingat kan dengan ancamanku?”

“Ne.”

“Tapi sampai saat ini kau belum menunjukkan perkembangan.”

“Memangnya apa yang aku lakukan?”

“Campakkan dia.” Ucapnya tajam. Aku balik menatapnya geram. “Apakah aku perlu melakukan sesuatu agar kau lebih mudah mencampakkannya?” ucapnya sinis.

“Andwae! Aku tidak akan membiarkanmu melakukan sesuatu pada Seung Won ataupun Jihyuk.”

“Aku tidak akan melakukan apa-apa pada mereka selama kau melakukan apa yang aku mau.”

“Baiklah, aku akan mencampakkan Seung Won.” Putusku akhirnya. Aku tidak mau Seung Won dan Jihyuk mengalami hal buruk hanya karena keegoisanku.

Proyekku dan Min Jee sudah hampir selesai. Dan sampai saat ini masih belum mendapatkan ide bagaimana caranya aku mencampakkan Seung Won. Sementara Min Jee terus mendesakku untuk mencampakkan Seung Won.

Kuperhatikan Seung Won yang sedang tidur di sampingku. Wajahnya lucu ketika sedang tidur. Aku mengelus lembut wajahnya dengan jari-jariku. Kuhentikan kegiatanku ketika dia menggeliat merasakan sentuhanku.

“Seung Won-ah, saranghae! Jeongmal! Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak mau Min Jee melakukan sesuatu yang buruk padamu dan anak kita. Lebih baik aku yang berkorban. Kau hiduplah bahagia bersama Jihyuk. Suatu hari nanti, setelah urusanku dan Min Jee selesai kita akan berkumpul lagi.”

Proyek kerja sama perusahaanku dan perusahaan Min Jee telah selesai, bersamaan dengan itu pula waktu untukku telah habis. Dan Min Jee menagihnya.

“Bagaimana? Malam ini kita akan pergi ke Amerika. Aku tidak bisa memberimu waktu lagi. Tepat pukul 7 malam nanti, aku akan menunggumu di bandara Incheon. Kalau kau tidak datang, kau tahu tahu akibatnya bukan?”

“Mwo? Kenapa mendadak sekali, bahkan aku belum menyiapkan barang-barangku. Kumohon, apakah kita tidak bisa berangkat besok atau lusa saja. Beri aku waktu sedikit lagi.” Mohonku.

“Baiklah, kita akan berangkat besok pagi pukul 8 pagi.”

TBC . . .

7 thoughts on “Accident Part 7”

  1. min jee jahat banget sih onnie😦 , ngeselin pengen dihajar -___-… onn, masa seung woon dicampakin sih? kan kasian😦
    lanjut ya onn, hehehe🙂

  2. Hyaaaa~~!!!! Ga rela ga rela ga rela!!
    Demi apa deh itu MinJe [atau MinCe(?)] jahat bangeeet!
    Hey kau nappeun yeoja, ente ga pny perasaan bgt sih😦
    Bang Hyukkie… Jangan tinggalin Seung Won eonnie dong ..
    Jangan campakin dia baang T_T
    *nangis nyembah2 di kakinya bang Hyuk. #lebe

    Lanjut thor !! Makin seru ni critanya ..😀
    Tp jgn kebanyakan konflik ya thor…
    Ntar yg ada muter2 kayak “amira” … :p
    *reader cerewet Dx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s