Accident Part 8

“Kau sedang apa?” Tanya Seung Won yang baru masuk ke dalam kamar. Aku hanya meliriknya dari sudut mataku. “Kau mau pergi kemana?” kini dia sudah duduk di tepi tempat tidur membantuku memasukkan pakaianku ke dalam koper.

“Besok aku harus pergi ke Amerika untuk urusan bisnis.” Jawabku singkat.

“Kenapa mendadak sekali?”

“Sudah terjadwal semenjak satu bulan lalu. Kukira tidak jadi, tapi ternyata relasi bisnisku tetap memintaku untuk datang ke sana.” Aku menyingkirkan koperku dari atas tempat tidur. Lalu duduk di hadapannya.

“Sampai kapan?” aku menatapnya sedih lalu memegang kedua pipinya dengan tanganku.

“Mianhae!” ucapku lirih. Aku mengecup lembut bibirnya lama. Sentuhan ini akan aku rindukan. Kemudian aku memeluknya erat.

Seung Won POV

“Mianhae!” ucapnya lirih lalu tiba-tiba mencium bibirku. Ada apa dengannya, tidak biasanya dia bersikap seperti ini. Kemudian dia memelukku erat. Aneh, dia memelukku seakan akan berpisah denganku.

“Hyuk-ah, ada apa denganmu?”

“Aku mau melakukannya malam ini. Jebal!” aku menatapnya heran. Bukan karena aku tidak mengerti apa yang dia inginkan. Tapi ini benar-benar tidak seperti biasanya. Kalaupun dia ingin melakukannya, dia tidak pernah meminta ijinku terlebih dahulu.

Tanpa menunggu jawabanku, Hyuk langsung melakukannya. Memang aku selalu menikmati sentuhannya, tapi untuk malam ini aku merasa dia sedang dalam keadaan sedih saat kami melakukannya. Wajahnya penuh beban dan kepedihan. Aku ingin bertanya tapi aku tidak mau mengganggu kegiatan kami. Aku terlalu menikmatinya.

Aku terbangun saat matahari pagi menembus masuk ke dalam kamarku. Aku menggeliat dan merasakan hanya ada aku di tempat tidur. Eunhyuk ternyata sudah bangun. Lalu kulihat koper yang malam tadi dia siapkan ternyata sudah tidak ada. Itu artinya dia sudah berangkat. Satu hal yang aku sadari, dia tidak berpamitan padaku. Awas saja kalau dia pulang nanti! Aku mendengus kesal. Aku beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar Jihyuk melalui pintu yang menghubungkan kamarku dan kamar Jihyuk.

“Jihyuk-ah, aigo . . . anak eomma sudah bangun rupanya.” Kuberikan senyuman pagiku pada Jihyuk lalu menggendongnya ke pangkuanku. Lalu membawanya menuju dapur bermaksud membuatkannya susu. Kusimpan Jihyuk di kursi kecil miliknya selama aku membuatkannya susu. Saat aku berjalan menuju lemari es, aku merasa ada sesuatu di sana. Ternyata sebuah amplop berwarna pink.

 

 

To : My Lovely Seung Won

Mianhae! Aku pergi tanpa berpamitan padamu. Terlalu sulit untuk langsung mengatakannya padamu. Aku pergi untuk waktu yang aku tidak tahu sampai kapan. Aku pergi karena suatu hal yang tidak bisa kukatakan padamu. Hiduplah dengan baik. Aku sangat mencintaimu. Tunggulah aku  sampai urusanku selesai. Aku pasti akan kembali.

Saranghae!

Apa ini? Apa maksudnya? Aku tidak mengerti. Pergi, dia pergi kemana sebenarnya? Tanpa kusadari aku sudah menumpahkan air mataku. Aku langsung berlari menuju telpon. Kupijit nomor yang sudah kuhapal di luar kepala. Nomor kantor Eunhyuk.

“Yeoboseyo!” ucap sebuah suara di seberang sana. Suara yang kuyakini adalah suara Sohee, sekretaris pribadi Eunhyuk.

“Sohee-ah, apakah Hyuk bilang padamu kalau dia akan pergi?”

“Mianhamnida, ini dengan siapa?”

“Ini aku Seung Won.”

“Nyonya, memang benar tuan Lee Hyuk Jae pergi. Beliau tidak bilang akan pergi kemana. Dia hanya menyuruhku untuk menyerahkan semua urusan kantor kepada anda. Aku sudah berencana akan mengunjungi anda pada jam makan siang nanti untuk membicarakan ini.” Telpon yang kugenggam lepas dari tanganku. Aku terduduk lemas karena baru saja mendapatkan berita yang sangat mengejutkan. Eunhyuk tiba-tiba pergi. Dia mencampakkanku. Baru saja kami berdamai, kenapa kami harus berpisah lagi. Aku menangis sekeras-kerasnya. Masih bisa kudengar suara Sohee yang berteriak memanggil namaku, mungkin dia khawatir karena mendengar suara tangisku yang cukup keras.

###

Kini disinilah aku. Berada di ruangan yang penuh dengan buku dan dokumen di setiap sudut ruangannya. Dan juga duduk di kursi besar berwarna hitam yang didepannya terdapat meja besar dengan sebuah papan nama yang berada di atasnya. Lee Hyuk Jae.

Ya, kini aku menduduki kursi seorang Lee Hyuk Jae. Seorang pengusaha mudan sekaligus suamiku yang telah dengan begitu saja mencampakkanku dan anakku. Ingin sekali aku membencinya, tapi entah kenapa. Hati ini sulit untuk membencinya. Jauh di dalam lubuk hatiku, menyuruh untuk percaya akan apa yang dikatakannya.

Tok tok tok . . .

“Masuk!”

“Nyonya, hari ini kita ada rapat dengan perusahaan Cina. Untuk membicarakan masalah proyek pembangunan hotel bintang 5 di Taiwan.” Ucap Sohee yang kini sudah berdiri dihadapanku sambil menyerahkan beberapa dongkumen yang harus aku tanda tangani.

“Jam berapa?” tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen-dokumen yang diberikan Sohee.

“Jam makan siang nanti.”

“Baiklah kalau begitu. Kau atur dokumen-dokumen yang kita perlukan dan siapkan juga makan siang.”

“Baik.” Ucap Sohee kemudian meninggalkan ruanganku.

Aku berjalan dengan sedikit tergesa karena rapat akan dimulai 5 menit lagi. Tapi aku masih berada di lantai 10. Sementara tempat kami rapat ada di lantai 2. Ini adalah proyek pertamaku semenjak mendai Presiden Direktur di perusahaan ini. Aku tidak mau di proyek pertama ini aku memberi kesan buruk pada clienku nanti.

Kuatur napasku saat sampai di tempat meeting. Kulangkahkan kakiku dengan tenang saat masuk ke dalam ruangan. Sohee terus berdiri di sampingku karena aku yang memintanya. Ini adalah pengalaman pertamaku dalam hal seperti ini. Setidaknya Sohee sudah beberapa kali ikut Eunhyuk dalam rapat penting seperti ini.

“Sorry, I’m late!” ucapku saat masuk ke dalam ruangan. Aku tertegun saat melihat orang yang kini berdiri di hadapanku. Begitupun dengannya. Untuk beberapa saat kami masih saling memandang karena terlalu terkejut sampai akhirnya Sohee menyadarkanku.

“Nyonya!” bisiknya.

“Sorry!” aku langsung menjabat tangan orang itu. Dia pun membalasnya. Dia tersenyum ke arahku sebelum akhirnya aku duduk.

Rapat berjalan dengan lancar walaupun aku harus berjuang dengan keras untuk tetap berkonsentrasi dengan jalannya rapat.

“Semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar.” Ucap orang itu sambil menjabat tanganku. Aku tersenyum menanggapinya dan menerima jabatannya.

“Tentu saja tuan Lee Donghae.”

Semua staff sudah keluar kecuali aku, Donghae dan Sohee.

“Seung Won-ah, bogosipo!” tiba-tiba dia langsung memelukku.

“Ya!” aku langsung memukul kepalanya. Sementara aku bisa melihat Sohee tertawa kecil.

“Kenapa kau malah memukul kepalaku?” ucapnya tidak terima dengan tindakanku.

“Kau pantas mendapatkannya. Kenapa kau tidak bilang kalau kau ke Korea. Sepanjang rapat aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi karena ada kau di depanku. Untung aku bisa mengatasinya.”

“Karena aku ingin membuat kejutan. Malam ini kau punya waktu? Ayo kita makan malam bersama! Aku ingin mengobrol denganmu.”

“Baiklah. Kau datanglah ke rumahku, kita makan malam di sana saja.”

“Wae?” tanyanya heran.

“Kau lupa kalau aku ini seorang ibu?”

Donghae memukul keningnya sendiri, “Mianhae! Baiklah kita makan malam di rumahmu saja.” Jawabnya semangat.

###

Semenjak Eunhyuk pergi, aku menyewa seorang pengasuh untuk menjaga Jihyuk di rumah. Keluargaku dan keluarga Eunhyuk sudah mengetahui permasalahan kami. Mereka sangat murka, tapi aku berusaha meyakinkan mereka. Entahlah, apakah yang aku lakukan ini benar atau tidak. Sesuatu menyuruhku untuk mempercayainya.

Ting tong . . .

Bel rumahku berbunyi, mungkin itu Donghae.

“Nyonya, ada tamu untuk anda.” Ucap Raemi yang menemuiku di kamar Jihyuk. Dia adalah pengasuh Jihyuk.

“Gomawo!” jawabku lalu keluar kamar menuju ruang tamu. Dan memang benar Donghae yang datang. “Donghae-ah, wasseo!” ucapku saat bertemu dengannya.

“Aigo . . . jadi ini adalah Jihyuk? Dia tampan sekali dan besar. Terakhir kali aku melihat fotonya saat kau mengirimkannya setelah kau melahirkan.”

“Itu sudah 1 tahun yang lalu.” Timpalku.

“Jihyuk-ah, ayo kemari!” Donghae mengulurkan tangannya untuk menggendong Jihyuk.

“Kau sudah lapar bukan? Ayo kita langsung ke meja makan saja.” Ajakku.

“Seung Won-ah, mana suamimu?” Tanya Donghae tiba-tiba. Ini adalah pertanyaan yang aku benci semenjak Eunhyuk pergi meninggalkanku.

“Bisakah kau tidak membicarakannya untuk saat ini. Aku tidak mau selera makanku hilang karena membicarakannya.” Jawabku dingin. Donghae hanya mengangguk mengerti.

Kami duduk berhadapan, sementara Jihyuk duduk di sampingku dengan kursi kecil miliknya. Raemi menyiapkan hidangan-hidangan yang tadi sore kami siapkan di meja makan. Sambil menunggu makanan tersaji, Donghae masih asik mengajak Jihyuk bermain. Aku tersenyu melihatnya, mengingatkanku pada Eunhyuk.

Setelah makan malam selesai, Raemi membawa Jihyuk ke kamarnya. Sementara aku dan Donghae menuju halaman belakang rumahku. Kami duduk di bangku panjang yang menghadap menuju kolam ikan kecil yang di buat Eunhyuk saat kami pindah ke sini. Dia sangat menyukai ikan.

Untuk beberapa saat kami masih saling diam tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Sampai akhirnya Donghae yang memulai.

“Jadi, apakah ada yang mau kau ceritakan padaku?”

“Sampai kapan kau berada di Korea?” tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Kalau kau tidak mau cerita tidak apa-apa. Aku mengerti, tapi jangan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.”

“Kau benar! Aku tidak pernah berhasil mengalihkan pembicaraan darimu.” Ucapku tersenyum kecut.

“Jadi?” tanyanya menggantung.

“Namanya Lee Hyuk Jae.”

“Mwo?” tiba-tiba Donghae berteriak tepat di telingaku. Aku langsung menutup telingaku dan berteriak balik kepadanya.

“Mwo?”

“Ani, lanjutkan saja dulu ceritamu.”

“Ada apa sebenarnya? Apa kau mengenal Eunhyuk?”

“Sudahlah, cepat ceritakan dulu!” paksanya. Akhirnya aku mengalah dan melanjutkan ceritaku.

“Semenjak dia pulang wamil, sikapnya berubah. Menjadi lebih dewasa, dan sangat perhatian padaku dan Jihyuk. Hubungan kami pun menjadi lebih baik. Kami sudah mulai menerima pernikahan ini.” Aku menarik napas sebelum melanjutkannya. “Sampai akhirnya, minggu kemarin dia tiba-tiba pergi. Dia hanya meninggalkan sebuah catatan kecil untukku agar aku percaya dan menunggunya.”

“Kalau begitu lakukan apa yang dia minta.” Ucap Donghae tiba-tiba. Aku langsung menatapnya meminta penjelasan. “Lee Hyuk Jae. Eunhyuk si Monkey. Itu adalah julukan untuknya semenjak dia kecil. Dia bilang, sahabat kecilnyalah yang memberinya julukan itu. Meskipun awalnya dia tidak menerima, tapi karena rasa saying dan cintanya pada sahabat kecilnya itu. Dia rela mendapatkan julukan itu.” Aku tersenyum kecil mendengar cerita Donghae. “Dia adalah sahabatku. Kami kuliah di tempat yang sama. Saat itu aku tidak mempunyai teman karena aku tidak bisa bahasa Jepang. Untung saja Eunhyuk mau berteman denganku. Dia sangat pintar bahasa Jepang. Semenjak saat itu kami menjadi sahabat. Tidak ada yang dia tutupi dariku termasuk teman masa kecilnya yang sangat dia sayangi. Meskipun aku mengenalnya hanya 4 tahun, tapi aku sudah merasa sangat mengenalnya. Dia adalah orang yang sangat setia. Baik kepada gadis yang dia cintai maupun kepada sahabatnya. Jadi aku yakin, kini sebenarnya dia sedang dalam masalah. Sehingga harus meninggalkanmu. Maka tetap percaya padanya dan tunggulah dia sampai kembali.”

“Aku yang memberinya julukan Monkey, karena dia pintar sekali memanjat pohon.” Aku terkekeh kecil begitupun dengan Donghae. “Apakah dia cerita soal aku yang marah padanya?” tanyaku ragu.

“Ya. Dia menceritakan semua tentangmu. Kecuali . . .” Donghae menggantungkan kalimatnya. “Kecuali nama dan fotomu. Aku beberapa kali memintanya untuk memberitahukan namamu dan memperlihatkan fotomu tapi tidak pernah berhasil. Dan sekarang aku tidak menyangka bisa mengobrol langsung denganmu.” Donghae tertawa dengan ceritanya sendiri. Sedangkan aku berusaha dengan sekuat tenaga menahan air mata yang akan jatuh ini.

###

Proyek yang aku kerjakan bersama Donghae membuat pertemuan kami lebih intensif. Dan selama itu pula, Donghae sering meluangkan waktunya untuk berkunjung ke rumahku. Sekedar untuk minum the atau bermain bersama Jihyuk. Seperti malam ini. Setelah menyelesaikan rapat, Donghae mengantarku pulang lalu bermain dengan Jihyuk.

“Seung Won-ah, akhir minggu ini bagaimana kalau kita ke kebun binatang?” ajak Donghae. Aku berpikir sejenak lalu mengangguk setuju.

Ting Tong . . .

“Raemi-ah, tolong buka pintunya!” teriakku dari arah dapur. Karena aku sedang memasak untuk bekal ke kebun binantang nanti. “Siapa yang datang?” sambungku masih dengan suara nyaring agar Raemi bisa mendengarku.

“Bisakah kau tidak berteriak-teriak seperti itu?” ucap sebuah suara. Aku langsung berbalik melihat pemilik suara. Yang ternyata adalah Donghae.

“Kau rupanya.” Aku kembali melanjutkan kegiatanku.

“Apakah belum siap?” tanyanya yang kini sudah berdiri di sampingku.

“Sedikit lagi.” Jawabku singkat.

“Baiklah. Aku mau bermain dulu dengan Jihyuk.” Ucapnya lalu meninggalkanku menuju ruang tengah. Setelah 15 menit akhirnya aku menyelesaikan bekal kami. Aku langsung melangkahkan kakiku menuju ruang tengah menghampiri Donghae dan Jihyuk.

“Kaja!” teriakku semangat.

“Jihyuk-ah, ayo kita berangkat!” ucap Donghae sambil mengangkat Jihyuk ke dalam pangkuannya. Aku mengikutinya dari belakang sambil membawa bekal makanan.

Banyak sekali keluarga yang datang ke kebun binatang hari ini. Tentu saja karena sekarang adalah hari Minggu. Banyak keluarga yang berlibur disini.

“Sekarang kita kemana dulu?” Tanya Donghae.

“Bagaimana kalau kita ke sana?” aku menunjuk ke area hewan unggas.

“Baiklah! Sepertinya di sana tidak terlalu penuh. Kita bisa berfoto-foto disana.” Sambung Donghae.

Akhirnya kami menuju area hewan unggas. Beberapa kali kami bergantian untuk berfoto. Setelah dari area hewan unggas kami menuju area hewan reptile, kemudian mammalia lalu berakhir di area hewan air. Melelahkan sekali tapi sangat menyenangkan.

“Bagaimana kalau sekarang kita mencari tempat untuk makan siang. Sepertinya Jihyuk sudah mulai lelah.” Usul Donghae.

“Ne, baru saja aku akan mengatakannya padamu.” Jawabku.

Akhirnya kami menemukan tempat yang cocok. Tempatnya tidak terlalu penuh oleh pengunjung karena berada di area belakang kebun binatang. Di bawah pohon besar yang aku yakin umurnya bahkan lebih tua dariku. Donghae menggelar tikar sementara aku menggendong Jihyuk.

“Kaja!” ucap Donghae setelah menggelar tikar. Kemudian aku duduk dengan Jihyuk masih berada di pangkuanku. Donghae mengeluarkan semua makanan yang ada di ranjang kemudian menyiapkannya. “Jihyuk-ah, apakah kau senang bermain dengan ahjussi?” Tanya Donghae pada Jihyuk. Dia hanya tertawa sambil menatap Donghae menjawabnya.

Hari sudah semakin sore, kami memutuskan untuk pulang. Saat akan masuk ke dalam mobil Jihyuk meronta dala pangkuanku sambil menunjuk sesuatu. Aku melihat arah yang di tunjuk Jihyuk. Ternyata sebuah kedai ice cream.

“Jihyuk-ah, kau mau ice cream?” tanyaku. Dia mengangguk senang. “Baiklah, kita akan beli.” Aku berjalan menuju kedai ice cream itu sampai langkahku terhenti saat mendengar panggilan Donghae yang ternyata sudah kembali dari urusannya di toilet.

“Seung Wong-ah, kau mau kemana?” dia berlari ke tempatku berdiri.

“Jihyuk ingin makan ice cream.” Jawabku.

“Oh, kalau begitu kita ke sana bersama.” Ajak Donghae.

“Ahjussi, tolong ice cream strawberinya 2. Kau mau rasa apa Donghae-a?” tanyaku.

“Samakan saja.” Jawabnya singkat.

“Ice cream Strawberinya 3 ahjussi.” Ucapku pada ahjussi penjual ice cream.

“Ige.” Ucap ahjussi sambil menyerahkan ice pada kami. “Aigo . . . anak kalian lucu sekali!” ucap ahjussi itu. Aku dan Donghae langsung tersentak kaget dengan apa yang baru saja di ucapkannya.

Kini kami sudah berada di mobil. Suasana masih terasa canggung semenjak pernyataan ahjussi tadi. Tiba-tiba saja suasana canggung di antara kami semakin bertambah saat Jihyuk mengatakan sesuatu sambil memukul-mukul pundak Donghae yang sedang menyetir.

“Appa!” kembali aku dan Donghae tersentak kaget. Bagaimana bisa Jihyuk memanggil Donghae sebagai appanya padahal selama ini aku selalu mengenalkan Eunhyuk sebagai appanya.

“Jihyuk-ah, aku bukan appamu.” Ucap Donghae.

“Appa!” ucap Donghae lagi.

“Berapa umur Jihyuk sekarang. Kenapa dia sudah bisa berbicara?” Tanya Donghae.

“Omo . . . bulan depan Jihyuk berulang tahun yang kedua. Hampir saja aku lupa.” Aku menepuk keningku menyadari kebodohanku sendiri.

“Pantas saja.” Ucap Donghae yang tetap fokus dengan jalanan kota Korea yang masih ramai dengan kendaraan.

“Wae?” tanyaku heran.

“Dia akan mulai belajar bicara.” Jawabnya singkat. Aku hanya mengangguk mengerti. Jujur, aku belum terlalu mengerti bagaimana seharusnya mengurus anak. Tapi Donghae yang belum menikah mempunyai pengetahuan lebih tentang anak kecil.

TBC . . .

 

 

 

 

9 thoughts on “Accident Part 8”

  1. Pertamax! :DD
    Waaaa itu Hyukkie nya kemana? Dx
    Pasti sama nappeun yeoja itu deh *lupa namanya…
    Semoga Hyukkie cepet pulang deh biar dedek Jihyuk ga manggil abang DongHae-ku appa T_T *maksud tersembunyi :p
    Lanjut thor…! xD

  2. ternyata hae kenal ma hyuk. . .
    Hyuk sempet2 y dia mau ninggalin minta ‘itu’ dulu. . .
    Cwe yg bawa hyuk rese nih, setiap hyuk pergi pasti hae ngegantiin. . . .
    Hyuk balik dong. . . .

  3. Hyukkie kok pergi sih? Kasihan kan seung woon. Ih dasar min jee, nyebelin, minta dihajar…
    Tapi untung ada donghae yang bisa gantiin si kunyuk…🙂
    onnie next part ya?😀

  4. huuuffft…..
    daasar kunyuk seenaknya sendiri…!!! *di timpuk ARS… :D*
    ama dong hae aja seungwonya…🙂
    author… lanjutannya ngebut ya… :))
    ff nya DAEBAK…!!

      1. kalo aku lebih dukung kalo seung won ama dong hae aja…
        soalxa kunyuk tu gak bertanggung jawab dengan benar…
        dia lebih milih ninggalin keluarganya dari pada ngelindungin keluarganya…
        kekkkekeee~~~😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s