Accident Part 9

Jam sudah menunjukkan pukul 11.59 PM. Yang artinya sebentar lagi Jihyuk berumur 2 tahun. Ternyata tak terasa waktu sudah berjalan begitu cepat. Beriringan dengan itu pula, sudah hampir 1 tahun pula Eunhyuk meninggalkanku. Entah apa yang membuatku masih menunggunya. Padahal keluarga Eunhyuk sudah mengijinkanku apabila aku ingin menikah lagi. Aku memang lelah menunggunya yang sama sekali tidak member kabar. Aku sudah mencoba beberapa kali menghubunginya, tapi hasilnya tetap nihil. Tidak pernah tersambung sama sekali.

Eunhyuk POV

Sudah hampir 1 tahun aku meninggalkan Seung Won dan Jihyuk. Bagaimana keadaan mereka? Aku sangat merindukan mereka. Hari ini adalah ulang tahun Jihyuk yang kedua. Aku ingin sekali mengirim hadiah untuknya tapi itu tidak mungkin aku lakukan karena kalau itu sampai terjadi. Seung Won akan tahu dimana aku berada sekarang.

Kupandang keadaan kota New York dari balkon kamar apatemenku. Penuh dan sesak dengan gedung-gedung dan kendaraan. Aku merindukan Korea.

“Hyuk-ah . . .!!” sebuah suara mengalihkan pandanganku menuju pintu kamarku. “Kau sudah bangun?” Min Jee berjalan menghampiriku lalu memelukku dan menyandarkan kepalanya di dadaku. Aku diam tidak membalasnya. Sampai saat ini aku masih belum bisa lepas dari genggamannya. Memang kami tinggal bersama dalam satu apartemen. Tapi kami tidak sekamar, itu adalah syarat yang aku ajukkan untuknya. Aku tidak mau terjadi sesuatu antara kami. Sudah cukup dengan tinggal bersamanya saja sudah membuatku cukup tersiksa. Untung saja dia setuju. “Kita akan bertemu dengan keluargaku. Hari ini mereka datang dari Cina khusus untuk mengunjungi kita. Maka dari itu, kau antar aku untuk berbelanja. Bagaimana?”

“Meskipun aku menjawab tidak, kau pasti akan tetap memaksaku.” Jawabku ketus sambil melepaskan pelukannya lalu berjalan menuju kamar mandi. Kudengar dia mengdengus kesal.

Min Jee sedang sibuk menyiapkan makanan di dapur untuk menyambut kedatangan keluarganya. Sementara aku hanya menonton TV.

“Hyuk, kau tidak mau membantuku menyiapkan ini semua?” teriaknya dari dapur.

“Tidak.” Jawabku tidak kalah lantang. Tidak ada lagi tanggapan darinya. Baguslah.

Ting Tong . . .

“Hyuk, bisakah kau bukakan pintunya?” pinta Min Jee yang sedang berganti baju dari kamar. Dengan malas aku berjalan menuju pintu dan membukanya.

“Annyeong!” sebuah suara riang sedikit mengejutkanku.

“Annyeong!” aku membungkuk memberikan hormat lalu mempersilakan mereka masuk. Orang tua Min Jee beserta adik perempuannya. Aku tertegun saat melihat orang terakhir yang akan masuk ke dalam rumah. Sebuah senyuman mengembang diantara kami berdua. Aku langsung memeluknya.

“Ya! Kau membuatku tidak bisa bernapas!” ucapnya sambil menepuk-nepuk punggungku untuk melepaskan pelukanku.

“Bagaimana kau bisa datang kemari?” tanyaku masih dengan senyuman yang menghiasi wajahku.

“Kau lupa kalau aku adalah sepupu Min Jee?”

“Aigo . . . ayo masuk!” aku menariknya masuk ke dalam sebelumnya menutup pintu terlebih dahulu. Kami bergabung dengan keluarga Min Jee yang lain.

“Hyuk-ah, bagaimana bisa kau berhubungan dengan Min Jee tanpa memberitahuku.”

“Donghae-ah, ada sesuatu yang mau aku bicarakan denganmu nanti malam.” Bisikku tepat di telinga Donghae. Dia mengangguk mengerti.

Malam harinya Donghae masuk ke dalam kamarku. Tentu saja karena tidak ada kamar kosong lagi yang bisa dia tempati kecuali sekamar denganku.

“Apa yang ingin kau ceritakan padaku?” Tanya Donghae to the point.

“Kau tidak pernah berubah. Selalu langsung pada sasaran.” Jawabku terkekeh kecil.

“Jadi, apa masalahmu?”

“Kau tahu aku mempunyai seseorang yang sangat aku cintai.”

“Ya, dia adalah sahabat kecilmu.”

“Aku sudah menikah dengannya.”

“Mwo? Lalu kenapa kau dan Min Jee menjalin hubungan?”

“Ssssttt . . . tidak bisakah kau lebih tenang sedikit? Aku belum selesai bercerita.” Aku menutup mulutnya.

“Mianhae! Lanjutkan ceritamu!” ucapnya menyesal.

“Aku sangat mempercayaimu, maka dari itu aku bercerita padamu tentang hal ini.” Donghae diam menunggu kelanjutan ucapanku. “Aku terpaksa berhubungan dengan Min Jee. Kasarnya, dia telah menculikku.”

“Apa maksudmu dia menculikmu?”

“Tahun lalu dia memaksaku untuk ikut dengannya dan mencampakkan istri dan anakku. Kalau aku tidak menuruti permintaannya, dia akan melakukan sesuatu yang buruk pada keluargaku.”

“Hyuk-ah, apakah benar yang kau katakana itu?” aku mengangguk yakin. “Lalu sekarang apa rencanamu?”

Aku menggeleng, “Yang jelas aku harus lepas dari genggamannya. Donghae-ah, apakah kau bisa membantuku?”

“Satu hal yang selama ini kau tutupi dariku. Beritahu nama yeoja itu dan perlihatkan fotonya padaku.”

“Aisshhh . . . kau masih saja menagih hal yang sama. Baiklah!” aku berjalan menuju laci meja yang berada di sudut ruangan dan mengambil sesuatu dari sana. Aku memperlihatkan fotoku dan Seung Won beserta Jihyuk. Foto yang aku ambil ketika kami berlibur bersama. “Namanya Seung Won dan anakku Jihyuk.” Jelasku lalu duduk kembali di hadapannya.

“Manis. Pantas saja kau sangat mencintainya. Apa yang harus aku lakukan untukmu?”

“Aku dengar sekarang kau sedang melakukan suatu proyek di Korea bukan?” dia mengangguk. “Besok kita belanja barang-barang untuk Seung Won dan Jihyuk. Kebetulan hari ini Jihyuk ulang tahun yang kedua. Saat kau pulang ke Korea nanti, bisakah kau mengantarkannya ke rumahku?”

“Tentu saja.” Aku tersenyum senang mendengarnya.

Saat pulang berbelanja, Min Jee menyambutku dan Donghae.

“Aigo . . . kalian belanja banyak sekali?”

“Ini untuk kekasih Donghae.” Bohongku.

“Lalu mainan ini?”

“Untuk calon anaknya. Jangan banyak bertanya! Donghae-ah, kaja!” aku langsung mengajak Donghae masuk ke dalam kamar sebelum Min Jee bertanya-tanya lagi.

Aku dan Min Jee kini sedang mengantar keluarga Min Je eke bandara  yang akan kembali pulang ke Korea. Aku menatap kepergian mereka dengan rasa iri. Kapan aku bisa pulang ke Korea. Aku memberikan pelukan perpisahanku pada Donghae.

“Tolong sampaikan kalau aku sangat merindukan mereka. Katakan saja kalau itu adalah hadiah dari temanmu.” Pesanku sebelum Donghae pergi.

“Ne. Kau tenang saja! Aku akan menyampaikan semua barang titipanmu padanya.” Bisik Donghae ke telingaku. Agar Min Jee tidak bisa mendengarnya. Aku mengangguk senang.

Seung Won POV

Hari ini aku sedang menyiapkan pesta ulang tahun untuk Jihyuk. Melelahkan tapi juga menyenangkan. Karena aku melakukan ini semua untuk anakku. Andaikan saja Eunhyuk ada di sini. Dia pasti juga akan senang. Apakah dia ingat kalau kemarin adalah ulang tahun Jihyuk. Semoga saja.

Ting Tong . . .

Aku segera berjalan menuju pintu depan saat mendengar bel rumahku berbunyi.

“Tada . . .!” teriak orang itu ketika aku membuka pintu. Ternyata Donghae. Membuatku kaget saja.

“Ya! Kau mengejutkanku.” Ucapku kesal.

“Mianhae!” rajuknya.

“Bukankah kau ke Amerika?” tanyaku heran karena Donghae sudah ada di hadapanku sekarang.

“Ne, tapi aku sudah sangat merindukan kalian. Apalagi kemarin adalah ulang tahun Jihyuk. Aku menyesal tidak bisa melewatkan ulang tahunnya karena aku harus mengunjungi sepupuku di Amerika.” Jelasnya.

“Sampai kapan kau mau berdiri di situ?” ucapku menyadarkan kami kalau masih berada di pintu masuk. Donghae menggaruk kepalanya yang kurasa tidak gatal.

Aku melangkah masuk duluan ke dalam rumah. Dan Donghae mengikutiku dari belakang dengan barang bawaannya yang begitu banyak. Apa yang dia bawa? Akhirnya kami berakhir di ruang tengah tempat aku menyiapkan pesta kecil untuk Jihyuk.

“Aigo . . . kau menyiapkan pesta ulang tahun?” Donghae menatap kagum hasil dekoranku untuk acara ulang tahun Jihyuk.

“Ne, bagaimana?”

“Joha!” aku tersenyum senang mendengar hasil karyaku yang di puji Donghae.

“Apa yang kau bawa itu?” aku menunjuk barang-barang yang di bawa Donghae tadi.

“Ini semua untukmu dan Jihyuk. Hadiah dariku.”

“Mwo? Sebanyak ini?”

“Ne.”

“Ya! Kau membuang semua uangmu untuk membeli ini semua?” aku berteriak kepadanya yang tidak bisa hidup berhemat.

“Kenapa kau marah-marah?” protesnya.

“Aku tidak suka kau membuang uangmu hanya untuk membeli ini semua.” Marahku.

“Aku tidak membuang uangku. Itu semua menggunakan uang . . .” Donghae menghentikan kalimatnya. Aku menunggu kelanjutannya.

“Nugu?” selidikku.

“Pokonya aku tidak membuang uangku. Sudah terima saja!” paksanya. Baiklah, kali ini aku mengalah padanya. Meskipun aku masih tidak percaya pada ucapannya.

“Baiklah, tapi kalau kau membuang uangmu lagi untuk membelikan barang-barang seperti ini untukku. Awas saja!” ancamku.

Acara ulang tahun Jihyuk akhirnya dimulai juga. Tidak banyak yang datang, hanya orang tuaku, orang tua Eunhyuk, Park ahjumma dan ahjussi, dan beberapa kerabat lainnya.

“Seung Won-ah, sebenarnya kau ada hubungan apa dengan Donghae?” Tanya Sohee ketika menemaniku menyiapkan makanan di dapur. Aku menyuruhnya agar tidak memanggil formal padaku bila di luar jam kantor karena umur kami sama. Aku menjadikannya sebagai sahabatku. Dia tahu akan persoalanku dan Eunhyuk, dan dia sangat bersimpati padaku dan Jihyuk. Itu yang aku suka darinya.

“Ani, aku dan Donghae tidak mempunyai hubungan lebih. Hanya sahabat. Kau tahu kan kalau dia adalah sahabatku di SMA. Aku sudah mencritakannya padamu.”

“Ne, tapi aku melihat ada maksud lain dari kedekatannya denganmu. Aku tidak tahu itu apa, tapi kuharap itu hanya perasaanku saja.”

Aku menatapnya lalu tersenyum, “Kau tenang saja! Aku sudah mengenalnya lama dan aku yakin, Donghae bukan seperti yang kau pikirkan.”

“Semoga saja.” Sohee membalas senyumku.

###

Kerja sama antara perusahaanku dan Donghae sudah selesai sejak 6 bulan yang lalu. Tidak ada lagi alasan untukku agar bisa bertemu dengannya. Tunggu! Apa yang aku pikirkan barusan? Aku ingin bertemu lagi dengan Donghae? Mungkin benar, karena dia adalah sahabatku. Aku pasti akan merindukannya. Setelah kerja sama antara kami selesai, dia harus kembali ke Cina untuk mengurus perusahaan miliknya disana. Begitupun denganku.

“Jaga dirimu baik-baik! Aku akan selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi kalian.” Pamit Donghae sebelum naik pesawat.

“Ne, hubungi aku jika kau sudah sampai Cina.” Pesanku.

“Appa . . .  appa . . . appa . . .!!” Jihyuk meronta-ronta dari pangkuanku dan terus memanggil Donghae yang dia anggap sebagai appanya. Awalnya aku merasa tidak enak pada Donghae, tapi ternyata dia tidak keberatan. Donghae lalu mengambil Jihyuk dari pangkuanku dan menggendongnya.

“Jihyuk-ah, appa hanya pergi sebentar. Appa akan sering pulang.” Jelas Donghae. Dan Jihyuk sepertinya mengerti dengan apa yang dikatakannya. Karena kini umur Jihyuk sudah hampir 3 tahun. Waktu memang berjalan dengan cepat. “Poppo!” pinta Donghae sambil menunjuk pipinya. Chu ~ Jihyuk mencium pipi kanan dan kirinya. “Aigo . . . anak appa pintar sekali. Sekarang kembali pada eomma!” Donghae menyerahkan Jihyuk padaku.

Donghae benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Selama 2 tahun ini dia selalu bulak balik Cina – Korea hanya untuk menghabisakan waktu akhir pekan denganku dan Jihyuk. Kini Jihyuk sudah berumur 5 tahun. Jihyuk semakin menganggap Donghae sebagai appanya, aku merasa khawatir dengan hal itu. Meskipun aku membenci apa yang dilakukan Eunhyuk, tapi aku tidak mau dia dilupakan oleh Jihyuk sebagai appa kandungnya. Aku sudah berusaha membuat Jihyuk percaya bahwa Eunhyuklah appa kandungnya, tapi tetap saja dia memanggil Donghae sebagai appanya. Dan tahun ini sudah waktunya dia masuk taman kanak-kanak.

“Jihyuk-ah, ayo pakai baju seragammu!” teriakku yang masih mengejar-ngejar Jihyuk. Anak ini aktif seklai seperti appanya. Aku mengelabui Jihyuk dengan memutar arah hingga kini kami berlawanan. Jihyuk berhenti berlari ketika dia menabrak kakiku. Tingginya bahkan tidak lebih dari pinggangku. Aku terkekeh kecil melihatnya yang menatapku dengan pandangan memelas. Dengan segera aku memakaikannya pakaian. “Kau tidak akan bisa kemana-mana Jihyuk-ah!”

“Eomma, kenapa aku harus sekolah?” tanyanya polos.

“Agar kau pintar. Lalu kau bisa membantu eomma dalam menjalankan perusahaan.” Jawabku bijak.

“Perusahaan itu apa?”

“Itu adalah tempat eomma bekerja. Setelah besar nanti kau juga akan bekerja di sana.” Jihyuk masih menatapku heran, tapi au tidak mempedulikannya. Setelah selesai memakaikannya sepatu, aku segera mengajaknya pergi sebelum dia bertanya-tanya lagi. Dia terlalu pintar untuk anak seumurannya.

Kini kami sedang dalam perjalanan menuju sekolah Jihyuk.

“Eomma, apakah akhir pekan nanti appa akan datang?”

“Molla.” Jawabku singkat.

“Kenapa appa tidak mengantarku ke sekolah?”

“Karena sekarang appa berada di Cina Jihyuk-ah.” dia tertunduk lesu. “Kau jangan lesu seperti itu! Lain kali, pinta appa untuk mengantarmu ke sekolah. Arraseo?” dia mengangguk senang.

Dalam waktu 15 menit akhirnya kami sampai di sekolah Jihyuk.

“Eomma, apakah kita sudah sampai?” Tanya Jihyuk saat aku memarkirkan mobil di depan sekolah barunya.

“Ne, ayo turun!” aku menuntunnya masuk ke dalam sekolah barunya.

“Annyeonghaseyo!” sapa seorang yeoja manis menyambut kedatanganku dan Jihyuk.

“Annyeong!” aku sedikit membungkuk. “Aku mengantarkan anakku. Dai baru masuk. Jihyuk-ah, perkenalkan dirimu!”

“Choneun Lee Jihyuk imnida!” ucap Jihyuk tidak lupa membungkuk memberikan salam.

“Annyeong Jihyuk-ah, aku adalah guru di sini. Bangapseumnida!” ucap guru manis itu. “Kau bisa memanggilku Min Hyo seongsaengnim.”

“Oh, Min Hyo seongsaengnim tolong bantuannya untuk mendidik Jihyuk.” Ucapku.

“Ne, anda tidak perlu khawatir.”

Aku berjongkok untuk mensejajarkan tinggiku dengan Jihyuk, “Jihyuk-ah, eomma harus pergi sekarang. Kau akan mendapatkan banyak teman disini.” Aku mencium pipinya sekilas.

“Ne, eomma hati-hati di jalan.” Pesannya.

“Annyeong!” aku melambaikan tanganku sebelum benar-benar meninggalkannya di sekolah. Aku langsung menancap gas mobilku menuju kantor.

Eunhyuk POV

Sudah 4 tahun sejak aku meninggalkan Korea. Dan kini aku bisa menginjakkan kakiku lagi di sini. Aku benar-benar mrindukan Korea. Dan aku berharap bisa bertemu dengan mereka. Orang yang yang sangat aku rindukan. Meskipun hanya untuk urusan bisnis. Awalnya dia tidak setuju karena takut aku akan menemui Seung Won dan Jihyuk, tapi aku berhasil meyakinkan Min Jee agar aku bisa ke Korea.

“Tuan, sekarang kita ke hotel dulu untuk istirahat.” Ucap Dohyun sekretaris pribadiku. Aku mengangguk mengerti.

Selama perjalanan menuju hotel dari bandara. Aku tidak henti-hentinya mengagumi keadaan Korea yang sedikit sudah berubah semenjak aku pergi. Banyak sekali yang berkembang di sini. Senyuman pun tidak pernah hilang dari wajahku.

“Tuan, sepertinya bahagia sekali. Semenjak kita sampai, anda selalu tersenyum.” Ucap Dohyun.

Aku terkekeh mendengarnya, “Tentu saja aku bahagia. 4 tahun aku meninggalkan Korea. Dan sekarang aku kembali. Rasanya seperti pulang dari perjalanan yang sangat jauh.”

“Ne, aku mengerti perasaanmu tuan.”

“Apa jadwalku hari ini?”

“Tidak ada tuan. Hari ini anda tidak ada jadwal sama sekali.”

“Kalau begitu, hari ini aku ingin jalan-jalan.”

“Perlu aku temani?”

“Tidak perlu, aku ingin mengenang Korea.”

“Baiklah.”

Setelah berganti baju dengan pakaian yang lebih santai aku keluar hotel untuk melaksanakan rencanaku.

“Dohyun, hari ini kau juga libur. Kau sepertinya harus jalan-jalan. Aku pergi dulu!” pamitku kemudian melangkahkan kaki di sepanjang jalan kota Seoul. Sampai akhirnya langkahku terhenti di taman kota. Tempat biasa aku merenung dulu setiap kali bertengkar dengan Seung Won. Aku duduk di bangku panjang yang disediakan taman. Kuhirup dalam-dalam udara Korea yang kurasakan tidak pernah berubah. Saat aku sedang bersantai, tiba-tiba sesuatu menyentuh kakiku. Aku membuka mataku untuk melihatnya. Sebuah bola berhenti tepat di kakiku. Aku mengambilnya.

“Mianhamnida ahjussi, itu adalah bolaku.” Seorang anak kecil menghampiriku. Aku tersenyum melihatnya, mengingatkanku Jihyuk. Munkin sekarang dia sudah sebesar anak ini.

“Ini bolamu?” tanyaku lembut. Dia mengangguk. “Kau boleh mengambil bola ini kembali, asalkan kau mau menemani ahjussi. Bagaimana?” tawarku.

“Baiklah, tapi sekarang aku tidak bisa. Aku sedang bersama teman-teman sekolahku.”

“Jam berapa kau akan selesai?”

“Aku akan selesai pada pukul 11 siang nanti. Sambil menunggu eomma menjemputku, aku akan menemani ahjussi.”

“Baiklah, ahjussi akan menunggumu disini.”

“Ahjussi, annyeong!”

“Annyeong!” jawabku. “Aigo . . . aku lupa menanyakan namanya. Nanti saja saat kami bertemu.” Sambil menunggu jam 11 nanti, kuputuskan untuk berkeliling sebentar mencari makanan dan minuman untukku dan anak kecil itu nanti.

Kini aku sudah duduk kembali di bangku yang tadi aku tempati. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan 10.55, itu artinya sebentar lagi anak itu akan datang. Aku harus bersiap-siap. Tunggu, kenapa aku harus bersiap-siap? Memangnya aku akan bertemu dengan siapa? Hanya anak kecil yang kebetulan mau menemaniku. Bahkan dia bukan anakku. Bicara soal anak, aku harus menyempatkan waktu menemui Jihyuk.

“Ahjussi . . .” kudengar suara teriakan yang aku yakini di tunjukkan padaku. Aku menoleh ke sumber suara. Kulihat seorang anak kecil berlari ke arahku sambil melambaikan tangannya ke atas. Akupun melambai ke arahnya. “Ah . . . juh . . .ssih . . .” anak itu masih berusaha mengatur napasnya akibat berlari tadi.

“Atur dulu napasmu, baru bicara.” Ucapku bijak.

“Mianhamnida ahjussi, sudah membuatmu menunggu.” Maafnya padaku. Dia anak yang sopan sekali. Orang tuanya pasti bangga.

“Gwaenchana, kau pasti haus. Ige!” aku menyerahkan sebotol minuman dingin padanya.

“Gomapseumnida!” ucapnya menerima pemberianku lalu duduk di sampingku.

“Kau bersekolah disana?” aku menunjuk sebuah sekolah TK yang tidak jauh dari taman. Dia mengangguk.

“Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah.” Jelasnya.

“Jeongmal. Lalu bagaimana sekolah?”

“Ternyata sekolah itu menyenangkan. Aku mendapat banyak teman. Sekarang aku percaya pada eomma.”

“Memangnya eomma bilang apa?”

“Eomma bilang, dengan sekolah aku bisa pintar lalu bekerja di perusahaan eomma dan bisa mendapatkan banyak teman.”

“Baguslah kalau begitu. Oh ya, jam berapa eomma akan menjemputmu?”

“Molla, eomma hanya bilang padaku akan menjemput pada saat makan siang. Ahjussi tahu itu jam berapa?”

“Jam makan siang ya? Itu berarti kita masih punya waktu 1 jam lagi. Bagaimana kalau kita bermain?”

“Bermain apa?”

“Bagaimana kalau bola? Kau membawa bola yang kau mainkan tadi pagi bukan?” dia mengangguk lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

“Bolamu bagus sekali.” Pujiku.

“Ne, appa yang membelikannya untukku. Appa bilang dia membelinya di Cina jadi aku harus menjaganya dengan baik.”

“Kau memang harus menjaganya dengan baik. Jangan seperti ahjussi yang mencampakkan istri dan anakku.” Ucapku dengan suara yang semakin pelan.

Akhirnya kami bermain bola. Ternyata dia sangat pintar bermain bola dan tendangannya pun cukup keras untuk anak seumurannya.

“Aku lelah!” teriakku lalu terduduk di lapang pasir.

“Ahjussi, kau sudah lelah?” tanyanya kecewa.

“Ne, kita minum sebentar. Bagaimana?” tawarku lalu dia mengangguk setuju. Kulihat jam tanganku sudah menunjukka pukul 11.45, “Sebentar lagi eommamu akan menjemput, bagaimana kalau kita tunggu di bangku itu saja.” Aku mengajaknya ke bangku yang tadi kami duduki. Kukeluarkan makanan dan minuman yang aku beli tadi dan memakannya sampai habis. Berolahraga membuatku cepat lapar dan haus. “Hampir saja aku lupa. Siapa namamu?”

“Namaku Jihyuk.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari roti yang aku belikan untuknya. Aku tertegun mendengarnya. Aku menatap puncak kepalanya dengan tidak percaya. Tapi seketika itu pula aku disadarkan pada satu hal. Yang mempunyai nama Jihyuk bukan hanya dia kan. Bisa saja dia bukan anakku. Aku tidak boleh langsung mengambil kesimpulan.

“Jihyuk-ah, bolehkah aku menanyakan sesuatu?”

“Ne.” jawabnya singkat.

“Siapa nama orang tuamu?” tanyaku ragu. Antara rasa takut dan penasaran. Aku taku bahwa apa yang aku pikirkan tidak sesuai dengan harapanku, tapi di sisi lain aku juga sangat penasaran.

“Nama orang tuaku . . .”

“Jihyuk-ah . . .!!” kata-kata Jihyuk terpotong karena sebuah teriakan. Jihyuk langsung menghentikan kegiatan makannya lalu berlari ke sumber suara.

“Eomma . . .” mataku mengikuti kemana arah Jihyuk berlari. Jihyuk memeluk sang eomma. Dari yang kulihat, dia masih muda. Mungkin umurnya sama denganku. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena kini wanita itu sedang menunduk mencium puncak kepala Jihyuk. Aku tidak mau di anggap sebagai orang yang tidak bertanggung jawab karena telah mengajak seorang anak kecil bermain yang tidak aku kenali. Aku beranjak dari dudukku lalu menghampiri mereka yang sedang bercanda gurau.

“Mianhamnida!” aku membungkuk memberikan salam. Kurasakan diapun melakukannya. Dan pada saat kami berdua sama-sama bangun. Aku tertegun melihat wanita yang kini ada di hadapanku. Sepertinya diapun sama denganku karena kami masih saling menatap karena terlalu shok dengan pertemuan yang mendadak ini. Tapi tiba-tiba dia mengatakan sesuatu yang membuat hatiku sakit sekali.

“Jihyuk-ah, ayo pulang!” wanita itu langsung menggendong Jihyuk ke dalam pangkuannya lalu berlari masuk ke mobilnya. Aku masih tidak bergeming dari tempatku berdiri sampai suara deru mobil menyadarkanku.

“Seung Won-ah!” teriakku berusaha mengejar mobilnya. Tapi percuma, dia langsung melesat jauh membawa mobilnya. Aku kembali ke bangku yang kududuki tadi. Aku menunduk menyesal karena tidak bisa melakukan apa-apa. Satu hal yang kusadari, ternyata Jihyuk adalah anakku. Kutatap tas kecil yang kini berada di tanganku. Tas milik Jihyuk. Setidaknya aku mempunyai alasan agar bisa bertemu dengan Jihyuk meskipun Seung Won tidak ingin bertemu denganku.

TBC . . .

5 thoughts on “Accident Part 9”

  1. Kasian banget si kunyuk, dicuekin sama seung won 😦

    tapi nanti jihyuk bakalan sebel gak sama kunyuk onn?
    Oh ya onnie, ini ff ampe part berapa? Penasaran? -__-v

  2. hyuk merana bgt sih, min jee y rese nih ngak mau ngelepasin, masa dia ngak sadar hati y hyuk bukan buat dia. . . .
    Hae kok ngak bilang sama hyuk kalo dia kenal istri anak y pa jgn2 hae ngambil kesempatan jg. . .
    Jihyuk ja dah ngira n manggil hae appa. . . . . .

  3. Min Jee jaahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaattttttt!!!!! TT_TT
    Betewe ya thor, itu critanya Hyukkie pas balik ke Korea udah nikah ma nappeun yeoja apa belum?
    *semoga nggak nikah! Hyukkie cuma mau sama Seung Won Dx
    DongHae trus ntar jadi patah hati doong?
    Hiksss T_T sini sana aku ajaaa :3 *tarik DongHae :pp
    #plaaak! di hajar istri2nya-_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s