Accident Part 10

“Dohyun, jelaskan kegiatanku hari ini!” pintaku ketika sedang sarapan di restoran hotel.

“Hari ini dari jam 9 pagi sampai 12 siang anda ada rapat dengan para pemegang saham. Lalu dilanjutkan kembali pada jam 1 siang anda harus menghadiri undangan peresmian hotel di daerah Busan. Kemudian pada jam 6 sore, anda mendapat undangan makan malam dari Mr. Choi.”

“Apakah tidak ada waktu kosong?”

“Waktu kosong anda hanya pada jam makan siang. Itupun hanya satu jam.”

“Baiklah kalau begitu. Kau segera siapkan mobil ketika rapat selesai. Jangan ada waktu kosong sedikitpun.”

“Ne.”

Setelah selesai rapat. Dohyun langsung mengerjakan apa yang aku perintahkan. Saat keluar dari pintu perusahaan, mobilku sudah terparkir menungguku untuk di naikinya.

“Berikan kunci mobilnya!” titahku pada sang supir.

“Tapi tuan?” bantahnya.

“Tuan, anda mau kemana? 1 jam lagi anda harus sudah dalam perjalanan menuju Busan.” Ucap Dohyun.

“Kalian semua tunggu di hotel. Kalau jam 1 aku belum kembali ke hotel, hubungi aku!” ucapku lalu menarik keluar supirku. Dohyun mencoba untuk menghalangiku, tapi tekadku untuk bertemu anakku Jihyuk telah mengalahkan segalanya. Kupacu gas mobilku melewati jalanan kota Seoul yang sedang padat karena sekarang adalah jam makan siang. Kulajukan mobilku ke sebuah alamat yang sudah sangat aku hapal. Sebuah komplek perumahan dimana dulu aku tinggal.

Kuhentikan mobilku di seberang jalan sebuah rumah bergaya minimalis dengan warna cat putih yang mendominasi dengan sebuah taman kecil yang sangat terrawat di depannya. Baru saja aku akan turun, tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan rumah itu. Seorang anak laki-laki kecil turun dari mobil itu disusul oleh seorang wanita cantik yang memakai blues biru. Dia tampak berwibawa dan tegas dengan pakaian seperti itu. Anak kecil itu adalah Jihyuk dan wanita itu adalah Seung Won. Jihyuk yang baru saja turun dari mobil dengan riangnya berlari masuk ke dalam rumah dan Seung Won mengikutinya dari belakang. Aku menatap nanar kebahagiaan mereka. Aku ingin sekali berada di antara mereka, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku terikat pada sesuatu yang tidak aku inginkan.

Kulihat Seung Won keluar dari rumah lalu masuk ke dalam mobilnya. Dalam beberapa detik, dia sudah melajukan kembali mobilnya. Mau kemana dia? Batinku. Ah aku lupa, dia pasti kembali ke kantor. Semenjak aku pergi, kuserahkan semua urusan kantor padanya. Tunggu, kalau dia pergi ke kantor. Lalu siapa yang menjaga Jihyuk di rumah? Tidak mungkin SEung Won meninggalkan Jihyuk sendirian di rumah. Dia bukan wanita yang seceroboh itu sampai meninggalkan anak kecil sendirian di rumah. Untuk memastikannya, kuputuskan untuk mengeceknya langsung.

Ting Tong . . .

Kutekan bel rumahnya. Dan tidak berapa lama kemudian seorang yeoja yang sepertinya lebih muda dariku muncul dari balik pintu.

“Mianhamnida, apakah benar ini rumah Jihyuk?” ucapku berusaha sopan.

“Anda siapa?”

“Saya hanya ingin mengembalikan tasnya yang kemarin tertinggal di taman.” Jelasku.

“Ahjussi!” sebuah teriakan nyaring bersumber dari dalam rumah mengalihkan pandanganku.

“Jihyuk-ah!” panggilku. Dia berlari ke arahku dan langsung memeluk kaki. Aku kemudian berjongkok agar akupun bisa memeluknya. Kupeluk Jihyuk dengan erat, meluapkan seluruh kerinduanku padanya.

“Ahjussi kenapa bisa ada disini? Ahjussi tahu darimana rumahku disini?” tanyanya polos tapi berhasil membuatku untuk memeras otak untuk memberikan alasan yang tepat.

“Mianhamnida, lebih baik mengobrol di dalam saja. Tidak baik mengobrol di pintu.” Ucap yeoja itu tiba-tiba. Akupun mengangguk setuju. Jihyuk menarik tanganku menuju ruang tengah tempat biasa aku, Seung Won dan Jihyuk kecil berkumpul dulu. Sepanjang perjalanan menuju ruang tengah, aku tidak berhenti kagum dengan dekorasi rumah ini. Tidak berubah sama sekali semenjak aku tinggalkan. Hanya saja, kemana foto-foto pernikahan kami dan foto ketika kami berekreasi bersama yang terpajang baik di dinding ataupun di meja. Tidak ada sama sekali. Digantikan dengan foto-foto kebersamaan Seung Won dan Jihyuk. Tidak ada fotoku sama sekali. Dikemanakan foto-foto itu. Aku yakin ada yang tidak beres.

“Jihyuk, aku mau mengembalikan tasmu yang tertinggal kemarin.” Kuberikan tasnya yang sejak tadi aku pegang.

“Kamsahamnida ahjussi! Kukira tas ini sudah hilang. Ini adalah tas kesayanganku.”

“Wae?”

“Ini adalah hadiah ulang tahun dari appa.”

Aku merasakan tersambar petir di siang hari. Hadiah ulang tahun dari appa? Apa maksudnya? Siapa yang dia maksud appa? Aku tidak pernah mengirimkan hadiah tas padanya. terakhir kali kubelikan dia hadiah ulang tahun adalah saat dia berumur 2 tahun. Setelah itu aku tidak pernah lagi mengirimi dia hadiah.

“Siapa nama appamu?” tanyaku ragu.

“Tuan, ini minumannya.” Ucap yeoja yang membukakan pintu untukku. Dia membawakan segelas jus jeruk untukku dan segelas susu strawberi untuk Jihyuk.

“Bukankah ini masih terlalu siang untuk minum susu?” tanyaku heran.

“Ini kebiasan Jihyuk. Setiap pagi, siang dan malam dia selalu minum susu strawberi.” Aku mengangguk mengerti. Tapi pada saat itu pula aku merasa mengenal seseorang yang mempunyai kebiasaan yang sama dengan Jihyuk. Tapi aku tidak ingat siapa orangnya.

“Ahjussi, bagaimana kalau sekarang kita bermain?”

“Baiklah. Kita main apa?”

“Kita main bola di taman depan saja.” Ajaknya sambil menarik tanganku.

“Jihyuk, ayo tending bolanya kemari!” teriakku yang sedang giliran menjaga gawang. “Kalau kau bisa memasukkannya, aku akan memberimu hadiah.”

“Jeongmal?”

“Ne.”

Kemudian dia menyimpan bolanya di tengah, sementara dia mundur mengambil ancang-ancang. Dia berlari ke arah bola lalu menendangnya dengan sekuat tenaga. Aku berpura-pura tidak bisa menangkapnya.

“Gooooollll . . .” Jihyuk berlari-lari bahagia karena telah memasukkan bola.

“Jihyuk-ah, ternyata kehebatanmu sudah sangat meningkat.” Pujiku. Dia berlari menghampiriku.

“Ahjussi, sering-seringlah kemari. Temani aku bermain bola. Appa tidak pernah punya waktu untuk menemaniku bermain. Dia hanya datang pada saat akhir pekan saja.” Manjanya. Aku semakin yakin ada yang tidak beres disini. Jihyuk selalu saja membicarakan appa. Padahal, jelas-jelas aku appanya. Dan selama 4 tahun ini aku tidak pernah pulang untuk menemuinya. Siapa yang Jihyuk anggap appa. Apakah Seung Won sudah menikah lagi? Tidak mungkin, aku bahkan belum menceraikannya. Atau apakah dia sudah menganggapku mati sehingga dia menikah lagi. Aku rasa, alasan yang kedua lebih masuk akal.

Bounce to you, Bounce to you nae gaseumeun neol
hyanghae japhil sudo eobseul mankeum ttwigo inneungeol.
Break it Down to you, Down to you nae gaseumi neo,
neol gatji motandamyeon meomchul georanda (nal barabwara)

“Chakkamanyo!” ucapku pada Jihyuk lalu mengangkat telpon. Aku berdiri sedikit menjauh dari Jihyuk. “Yeoboseyo!”

“Tuan, sudah jam 1. Sekarang sudah waktunya anda pergi ke Busan.” Ucap Dohyun dari seberang telpon.

“Kalian semua duluan saja. Aku akan menyusul.”

Klik. Tanpa menunggu tanggapan Dohyun, aku langsung menutup telponnya.

“Jihyuk-ah, sekarang ahjussi harus pergi. Ada urasan bisnis. Ahjussi berjanji akan bermain lagi ke sini.”

“Jeongmal?”

Aku mengangguk, “Tapi ada syaratnya.”

“Apa?”

“Kau tidak boleh bercerita pada eomma soal ahjussi. Dan selama bersama ahjussi, kau harus memanggilku appa. Yakseok?” dia sempat memandangku heran namun segera kualihkan pikirannya dengan memberikan jari kelingkingku padanya dan dia langsung menyambutnya.

“Ne, yakseok.”

“Baiklah kalau begitu. Ahjussi pergi dulu, jaga eommamu dengan baik. Karena kau adalah seorang namja. Arraseo?”

“Ne.” teriaknya. Aku langsung masuk ke dalam mobil dan melajukannya. Kulihat dari spion mobil dia melambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum senang melihatnya. Akhirnya aku bisa bertemu dengan Jihyuk. Aku sangat merindukannya. Aku sangat bahagia hari ini.

Seung Won POV

“Jihyuk-ah, sepertinya kau senang sekali?” tanyaku saat kami sedang makan malam. Sudah sejak pulang sore tadi aku ingin menanyakan ini padanya. Tapi belum ada kesempatan, dan sekaranglah kesempatanku.

“Aku selalu bahagia eomma.” Jawabnya tanpa memandangku. Aish . . . anak ini mulai main rahasia-rahasian denganku.

“Kau tidak mau menceritakan apa-apa pada eomma?” bujukku lagi.

“Ani.” Jawabnya singkat. Ya sudahlah, aku tidak akan memaksanya lagi. Mudah-mudahan memang tidak ada apa-apa yang terjadi. Selama dia bahagia dan baik-baik saja, itu sudah cukup membuatku tenang.

Hari ini adalah hari Sabtu. Itu artinya aku bebas dari segala pekerjaan kantor. Dan hari ini Donghae akan datang seperti biasanya untuk berlibur bersama kami. Kupersiapkan bekal untuk kami piknik, karena Donghae bilang kita akan pergi ke taman bermain.

“Eomma, hari ini kita akan kemana?” Tanya Jihyuk polos sambil menatapku yang sedang menyiapkan makanan.

“Ahjussi akan mengajak kita ke taman bermain.” Jelasku tanpa memandangnya.

“Aku tidak mau ikut.” Seketika itu pula kuhentikan kegiatanku dan menatapnya heran.

“Wae?”

“Aku ingin bermain bola saja di rumah bersama appa.” Aneh sekali, tidak biasanya dia menolak ajakan Donghae untuk berlibur. Bahkan tidak pernah. Dia sangat dekat dengan Donghae sampai dia memanggilnya appa.

“Jihyuk-ah . . .” sebuah suara mengalihkan pandangan kami. Donghae datang dengan berbagai bingkisan di tangannya. Dia tidak pernah datang dengan tangan kosong. Jihyuk lalu berlari ke arahnya dan memeluknya.

“Appa!” panggil Jihyuk riang.

“Kalian sudah siap?”

“Appa, aku ingin bermain bola denganmu di depan rumah.” Mintanya manja.

“Tapi Jihyuk-ah, appa tidak bisa bermain bola. Bagaimana kalau kita berenang saja?” tawar Donghae. Jihyuk menggeleng keras.

“Andwae! Aku ingin bermain bola.”

“Baiklah kita bermain bola. Tapi kau yang menendang, appa yang akan menjaga gawangnya.” Jihyuk mengangguk senang.

Akhir-akhir ini Jihyuk memang senang bermain bola. Dia sangat antusias sekali waktu bermain bola, sampai-sampai Donghae kewalahan. Aku hanya menonton mereka di kursi teras, sekali-kali aku tertawa melihat Donghae yang tidak bisa mengimbangi Jihyuk. Anak itu memang payah dalam bermain bola, tidak seperti Eunhyuk. Tunggu, apa yang kupikirkan barusan? Setelah 3 tahun aku berusaha melupakannya, kini aku kembali ingat padanya. Ada apa denganku?

Eunhyuk POV

Meskipun hari ini adalah hari Senin, tapi kebetulan aku tidak mempunyai jadwal hari ini. Aku berencana untuk bermain bersama Jihyuk. Seperti biasa aku akan datang ke rumah Seung Won yang berarti rumahku juga setelah jam makan siang. Karena setiap jam itu, Seung Won ada di rumah untuk makan siang bersama Jihyuk.

Ting Tong . . .

Kutekan bel rumahnya, dan tidak sampai 1 menit. Seorang anak kecil membukakan pintunya untukku. Dia menghambur ke dalam pelukanku.

“Appa!” teriaknya riang. Aku menyambutnya.

“Jihyuk-ah, bagaimana kabarmu hari ini?”

“Aku bahagia sekali karena hari ini appa datang.” Aku tersenyum mendengarnya.

“Jeongmal?” dia mengangguk yakin.

“Baiklah kalau begitu. Sekarang apa yang akan kita lakukan?” dia menatap langit-langit dan berpikir. “Kau tidak ingin bermain bola?” tanyaku. Dan dia menggeleng. “Lalu, kau mau kita main apa sekarang?”

“Hmm . . . bagaimana kalau kita main di kamarku saja appa?” Aku berpikir sebentar lalu mengangguk setuju padanya. Lalu membawanya naik ke lantai atas.

Saat aku masuk ke dalam kamarnya. Sudah banyak yang berubah. Tentu saja, seiring dengan bertumbuhnya umur Jihyuk. Dekorasi kamar ini pun akan terus berubah sampai akhirnya Jihyuk menikah dan mempunyai anak. Alangkah senangnya hatiku bila saat-saat itu tiba.

Banyak sekali yang kami lakukan berdua di kamar Jihyuk. Mulai dari bermain tembak-tembakan, kuda-kudaan, dan yang lainnya. Sampai akhirnya Jihyuk merasa lelah kemudian dia memintaku untuk membacakannya cerita. Jihyuk mulai berbaring di tempat tidurnya dan aku duduk di sampingnya sambil memegang buku cerita yang dia pilih. Hercules.

Kubuka mataku dan melihat keluar jendela. Langit sudah gelap lalu kulihat jam tanganku. Pantas saja, ini sudah pukul 7 malam. Kenapa aku harus ketiduran disini? Aku harus segera pulang sebelum Seung Won tahu keberadaanku disini. Baru saja aku  mau menuruni tangga, kudengar pintu depan terbuka dan suara langkah orang yang masuk ke dalam rumah. Kusembunyikan diriku di balik tembok. Karena aku tahu yang datang itu adalah Seung Won. Aku tidak mau dia tahu aku ada disini sekarang.

“Raemi, dimana Jihyuk?” Tanya Seung Won pada Raemi sang penjaga dan pengasuh Jihyuk.

“Jihyuk ada di atas. Sepertinya sudah tidur.” Jelasnya. Dan saat itu juga aku sadar, kalau aku harus sembunyi. Aku langsung masuk ke dalam kamar Jihyuk lalu bersembunyi di lemari pakaiannya yang cukup menampung sluruh badanku.

Cklek . . .

Kudengar pintu terbuka dan suara langkah orang masuk. Bisa kudengar bukan hanya seorang yang masuk tapi dua orang. Aku yakin itu adalah Seung Won dan Raemi yang masuk.

“Dia sudah tidur, sepertinya dia lelah sekali.” Kudengar suara Seung Won.

“Ye, lihatlah wajahnya. Dia sangat tenang dan bahagia sekali.” Aku terdiam ketika mendengar suara seorang laki-laki yang menanggapi ucapan Seung Won. Ternyata tebakanku salah, itu bukan Raemi. Sepertinya aku mengenal suara laki-laki itu, tapi siapa? Karena penasaran akhinya mengintip sedikit dari balik pintu lemari. Aku tertegun melihat laki-laki yang kini sedang memeluk Seung Won. Dengan jelas aku bisa melihat wajahnya karena kini wajahnya mengarah padaku. Lee Donghae, sahabatku.

“Donghae-ah, gomawoyo! Karena selama ini kau sudah membantuku dan Jihyuk.

“Seung Won-ah . . .” kulihat Donghae memegang tangan Seung Won. “Aku tahu, tidak seharusnya aku mengatakan ini padamu. Karena sebelumnya aku sudah memberitahumu agar kau tetap percaya dan selalu menunggu Eunhyuk. Tapi melihatmu dan Jihyuk sekarang, aku merubah pikiranku. Kumohon jangan tunggu Eunhyuk lagi, dia sudah pergi jauh dan tidak pernah member kabar padamu. Menikahlah denganku!” aku membelalakkan mataku mendengar pernyataan Donghae. Dia adalah sahabat yang paling aku percaya, tapi kenapa dia melakukan ini padaku? Kulihat Seung Won masih dia dan menatap Donghae. “Aku tahu ini mungkin akan sedikit sulit bagimu. Tapi tolong pikirkan Jihyuk, lagi pula dia sudah menganggapku sebagai appanya. Dia tidak akan pernah tahu kalau Eunhyuk adalah appa kandungnya. Kau mau menunggu Eunhyuk sampai kapan? Apakah dia akan benar-benar akan kembali. Dia sudah pergi selama 4 tahun tanpa kabar apapun. Apa kau yakin, di suatu tempat sana dia memikirkan kau dan Jihyuk?” aku tidak mengerti apa yang dikatakan Donghae. Apa maksudnya aku tidak pernah memikirkan Seung Won dan Jihyuk. Jelas-jelas aku bercerita padanya kalau aku merindukan mereka. Aku pergi untuk melindungi mereka dari Min Jee. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan Donghae dariku. Dan bagaimana mungkin Donghae dan Seung Won bisa dekat seperti sekarang. “Kau sudah mengenalku sejak kita SMA. Kau sudah tahu baik-burukku. Kau mau tunggu apa lagi?” tanpa kutanyakan langsung pada mereka, ternyata pertanyaanku terjawab sudah. Mereka berteman sejak SMA. Dan aku berteman dengan Donghae, ketika kami kuliah di Jepang.

“Tapi Donghae-ah . . .” kulihat keraguan di wajah Seung Won. Kumohon Tuhan, jangan sampai Seung Won menerima Donghae.

“Bukankah keluargamu dan keluarga Eunhyuk sudah setuju bila kau menikah lagi?”

Mwoya? Apa yang barusan dia katakan, keluargaku mengijinkan Seung Won untuk menikah lagi. Tidak bisa kubiarkan. Tapi baru saja aku akan keluar dari dalam lemari, sesuatu telah menghentikan langkahku. Kulihat Donghae tiba-tiba mencium Seung Won. Dan bisa kulihat dengan jelas pula, Seung Won berusaha melepaskan ciuman Donghae di bibirnya. Tapi dengan kekuatan Seung Won yang tidak sebanding dengan Donghae, akhirnya dia pasrah mendapat perlakuan dari Donghae. Dan pada akhirnya Donghae yang melepaskannya duluan.

“Kau tahu aku sudah mencintaimu sejak lama. Dan ciuman tadi sebagai tanda bukti bahwa aku sangat mencintaimu.” Lirih Donghae.

“Akan kupikirkan.” Terdengar suara Seung Won lemah. ANDWAE! Kenapa dia menerimanya? Aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Akhirnya aku keluar dari dalam lemari.

“Ya!” teriakku. Donghae dan Jihyuk menatap kaget melihatku yang kini berdiri di hadapan mereka dengan wajah geramku.

“EUNHYUK?!” ucap mereka kompak.

TBC . . .

 

5 thoughts on “Accident Part 10”

  1. omo, kenapa jadi gini? hmhmhm donghae jgn jd jahat dong. harus ngalah ma eunhyuk. gak boleh nggak. hmm…#jewer kuping donghae.

    makin seru aja deh. ayo ayo, ditunggu lanjutannya yaa. jgn lama2 ya? oke oke?;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s