Accident Part 11

Seung Won POV

Kini kami bertiga sudah berkumpul di ruang tamu. Aku, Eunhyuk dan Donghae. Kami duduk terpisah, Donghae duduk di sofa sebelah kiriku dan Eunhyuk di sebelah kananku. Semenjak kemunculan Eunhyuk yang tiba-tiba, kami masih saling diam dan tidak ada yang mengawali pembicaran.

“Donghae-ah, bisakah kau memberi waktu untuk kami berdua?” tiba-tiba saja Eunhyuk bersuara sambil menatap tajam Donghae. Tersirat raut kemarahan dan kekecewaan di matanya.

“Bagaimana kalau aku tidak mau?” tantang Donghae dengan tenangnya.

“Kau tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Kau hanya orang luar yang tidak tahu apa-apa.”

“Benarkah?”

“Donghae-ah, kumohon! Bisakah kau pulang saja dulu. Besok aku akan menghubungimu.” Ucapku akhirnya. Aku tidak mau melihat perkelahian antara Eunhyuk dan Donghae.

“Karena kau yang memintanya. Baiklah, aku akan pulang sekarang.”

Setelah mengantarkan Donghae ke depan rumah, aku kembali masuk ke dalam rumah. Tapi sebelumnya, kuhela napasku sejenak menenangkan hatiku bertemu dengan Eunhyuk hanya berdua saja. Aku duduk di sofa yang Donghae duduki tadi, sehingga kini aku dan Eunhyuk duduk berhadapan. Tidak ada yang mau mengawali pembicaran sampai 30 menit telah berlalu. Akhirnya kuputuskan, akulah yang akan mengawali pembicaraan.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku ketus dengan nada sedikit sombong.

“Kumohon, jangan menikah dengan Donghae!” dia menatapku dengan pandangan memohon.

“Wae? Kau sendiri kemana selama ini? Kau pergi begitu saja, dan meninggalkan perusahaan untukku. Aku sudah bukan istrimu lagi.”

“Kau masih sah istriku. Dan sampai kapanpun itu tidak akan berubah. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu lewat surat yang kuberikan padamu. Aku pergi untuk urusan yang sangat penting.”

“Sepenting apa sampai kau tinggalkan kami!” nada suaraku mulai meninggi karena aku sudah tidak tahan lagi padanya yang telah meninggalkan aku dan Jihyuk.

“Seung Won-ah, jebal percayalah padaku!”

“Aku baru akan percaya jika kau mengatakannya padaku.”

“Aku tidak bisa mengatakannya padamu karena . . .” kalimatnya menggantung.

“Karena apa?” tantangku.

“Kumohon jangan paksa aku!” matanya mulai basah karena menangis. Kenapa dia harus menangis, apakah masalah yang dia hadapi beanr-benar sulit? Aku tahu benar, Eunhyuk tidak akan mudahnya menangis kecuali sesuatu itu benar-benar menyakiti hatinya. Pasti ada sesuatu yang menekannya sehingga dia tidak bisa mengatakannya padaku. Tapi aku tidak bisa percaya begitu saja padanya. aku tetap harus waspada. “Secepatnya aku akan menyelesaikan masalahku, dan kita semua bisa berkumpul lagi.” Dia melangkah mendekatiku.  Dan tangannya menggenggam erat tanganku. Anehnya aku tidak melawan sama sekali. Dia menatap mataku dalam dan akupun membalasnya. Sentuhan ini masih sama seperti dulu dan pandangannya pun tidak berubah padaku. Aku bisa melihat ada ketulusan disana. “Jebal!” bisiknya tepat di telingaku.

Tiba-tiba kini wajahnya sudah ada di depan wajahku. Dan tanpa persetujuanku, dia mencium bibirku. Aku berusaha mendorong tubuhnya dengan tanganku, tapi Eunhyuk menahannya. Akupun tidak bisa berbuat apa-apa, kuakui ini adalah sesuatu yang aku rindukan selama ini. Otak dan hatiku mulai tidak bisa bekerja sama dengan baik. Karena kini kurasakan, tanganku sudah melingkar di leher Eunhyuk dan tangan Eunhyuk sudah melingkar di pinggangku. Semakin lama ciuman kami semakin dalam. Aku tidak mau moment ini berakhir, aku tidak mau malam ini berakhir. Aku tidak mau bangun dari mimpi ini. Tiba-tiba Eunhyuk menggendongku ala bridal style dan tanpa melepaskan ciumannya dariku. Dan membawaku masuk ke dalam kamar kami. Perlahan Eunhyuk membaringkan tubuhku di atas tempat tidur tanpa melepaskan ciumannya. “May I?” bisiknya. Aku hanya mengangguk dan dia mulai menciumiku lagi. Aku tidak mau munafik yang tidak menginginkan ini. Aku sangat menginginkannya. Aku sangat merindukannya. Merindukan setiap sentuhan lembutnya di setiap inchi tubuhku.

~~~

Kubuka mataku saat kurasakan sinar matahari masuk dengan bebasnya ke dalam kamarku dan menyilaukan mataku. Aku tersenyum bahagia mengingat mimpi tadi malam. Benar-benar membahagiakan. Aku dan Eunhyuk, bahkan aku tidak sanggup untuk mengatakannya. Aku tertawa kecil mengingat mimpi tadi malam. Namun tawaku terhenti saat kurasakan sesuatu melingkar di pinggangku. Kubalik tubuhku untuk melihat apa yang ada di belakang tubuhku. Aku tertegun saat melihat wajah orang yang sangat aku rindukan kini ada di hadapanku sedang tidur dengan nyenyaknya. Wajahnya yang terkena sinar matahari membuatnya bersinar dan semakin tampan di mataku. Kupegang pipinya berharap ini bukanlah mimpi. Hangat, jadi ini semua bukan mimpi? Dan tentang tadi malam juga bukan mimpi? Kutengok tubuhku di balik selimut. Aku menganga tidak percaya, bahwa kami benar-benar melakukannya semalam.

“Nega gaeo natdago(kau sudah bangun)?” lirihnya tepat di samping wajahku. Saat itu pula kurasakan wajahku memanas, lalu langsung kupalingkan wajahku agar dia tidak mengetahuinya.

“Hmm . . .” aku hanya menggumam kecil.

Kurasakan Eunhyuk semakin menguatkan pelukannya padaku dan semakin mendekatkan tubuhnya denganku.

“Gomawoyo! Aku berjanji akan segera menyelesaikan masalahku dan kita akan berkumpul lagi seperti dulu.” Bisiknya.

“Eommaaaa . . .” sontak aku langsung menutupi Eunhyuk dengan selimut ketika Jihyuk tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Dia berlari ke arahku.

“Jihyuk-ah, wae?”

“Eomma, sekarang sudah pukul 7 pagi. Aku harus berangkat ke sekolah.”

“Omo, aku lupa. Jihyuk-ah, kau tunggu di luar! Eomma akan mengantarmu sekarang.”

“Ne.” kemudian dia keluar dari kamarku. Setelah yakin dia keluar, aku segera bangkit dari tidurku lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Setelah selesai mandi, aku langsung menemui Jihyuk untuk mengantarnya ke sekolah. Aku tertegun saat Jihyuk sedang bermain-main di ruang tamu bersama Eunhyuk. Aku hampir lupa kalau memang sedang ada Eunhyuk disini. Tapi kenapa mereka bisa sedekat itu? Bukankah, mereka hanya bertemu satu kali ketika hari pertama Jihyuk sekolah. Aku kemudian mendekati mereka berdua.

“Eomma, kenapa lama sekali?” Tanya Jihyuk yang kini sedang berada di pangkuan Eunhyuk.

“Mian, eomma terlalu lelah tadi malam.” Aku melirik Eunhyuk. Dia hanya tersenyum simpul.

“Appa, kaja!” Jihyuk turun dari pangkuan Eunhyuk lalu menarik tangannya keluar. Aku masih tidak mengerti dengan situasi ini. Jihyuk memanggil Eunhyuk appa? Sejak kapan? Memangnya dia tahu kalau Eunhyuk adalah appanya? Dia selalu menganggap Donghae appanya, bukan Eunhyuk. “Eomma, kaja!” teriakan Jihyuk menyadarkan lamunanku. Aku segera menemui mereka. Dan bukan mobilku yang kami pakai, melainkan mobil Eunhyuk. Selama perjalan aku terus diam memikirkan yang sebenarnya terjadi saat ini. Berbeda sekali dengan Eunhyuk dan Jihyuk. Mereka terus berkicau sepanjang perjalanan tanpa mengajakku. Akhirnya kami sampai di sekolah Jihyuk. Aku dan Eunhyuk mengantarnya sampai depan sekolah.

“Appa, eomma! Nanti siang, aku ingin kalian berdua menjemputku!” pintanya. Aku terkejut mendengarnya.

“Kau tenang saja, appa dan eomma akan menjemputmu.” Jihyuk tersenyum senang mendengarnya.

“Sudah, ayo cepat masuk!” ucapku.

“Ne, eomma! Annyeong!” Jihyuk melambaikan tangannya padaku dan Eunhyuk lalu masuk ke dalam kelasnya.

Kini hanya ada aku dan Eunhyuk. Tiba-tiba aku merasa suasana di antara kami menjadi sangat canggung.

“Hari ini kau tidak ke kantor?” tanyanya.

“Ani, aku akan menyelesaikan pekerjaanku di rumah saja.”

“Hari ini aku juga tidak ada jadwal. Bolehkah aku ke rumahmu?”

“Bukankah itu rumahmu juga?” ucapku sedikit ketus.

“Gomawo.”

~~~

Kini aku dan Eunhyuk sedang berada di ruang tengah. Tepatnya aku sedang berada di depan laptopku untuk menyelesaikan pekerjaan kantor yang tertunda. Dan dia sedang menonton TV sambil berbaring di sofa ruang tengah. Aku sebenarnya sedikit kesal, dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tapi aku tidak bisa bersikap seperti itu. Aku ingin semuanya jelas, masalah apa yang sampai menghancurkan rumah tangga kami.

“Ya!” aku berteriak padanya. Dia hanya menoleh padaku dan kembali memandang TV. Aku mendengus kesal. Aku beranjak mendekatinya lalu mematikan TV-nya.

“Ya!” kini dia yang berteriak. Aku berkacak pinggang di depannya. “Mwoya?” tantangnya.

“Bisakah kau tidak bersikap seperti ini?”

“Apa maksudmu?”

“Kau bersikap seolah tidak ada yang terjadi antara kita.”

“Bukankah kita sudah membahasnya tadi malam?”

“Babo, bukan masalah itu.”

“Lalu?”

“Jelaskan padaku, kenapa Jihyuk bisa memanggilmu appa?”

“Wae? Memang sudah seharusnya begitu bukan? Aku adalah appa kandungnya, dan dia berhak memanggilku appa.”

“Lalu, kenapa kalian dekat sekali. Bukankah kalian hanya bertemu satu kali?”

“Satu kali? Siapa bilang?”

“Lalu?”

“Aku selalu kemari setiap jam makan siang untuk menemaninya bermain.”

“Aku selalu berada di rumah setiap jam makan siang.”

“Setelah kau pergi maksudku.”

“Mwoya? Jadi selama ini kau terus kemari dan menemani Jihyuk? Jadi artinya, tadi pagi bukan pertemuan kedua kalian?”

“Ne.”

“Lalu panggilan appa padamu itu?”

“Aku yang memintanya. Dan tanpa kau ketahui.” Jawabnya enteng. Aku merasa geram, tapi kutahan emosiku. Percuma aku marah-marah padanya, dia tidak akan perduli. Aku kembali ke depan laptopku dan menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda karena Eunhyuk. Dan dia kembali menonton TV. Kami sibuk dengan dunia kami sendiri sampai akhirnya aku merasa melupakan sesuatu.

Aku bangkit dari dudukku lalu berjalan menuju kamar. Aku memandang setiap sudut kamar berusaha mengingat sesuatu yang tidak bisa kuingat. Merasa tidak ada yang kulupakan di kamar ini, aku kembali turun ke bawah menuju dapur. Hal yang sama kulakukan lagi. Hasilnya tetap sama. Kemudian aku berjalan menuju ruang tamu kemudian kembali ke ruang tengah. Aku terus melakukan hal yang sama selama kurang lebih 30 menit.

“Ya! Kenapa dari tadi kau terus mondar mandir seperti itu? Membuatku pusing.” Teriak Eunhyuk.

“Aku seperti melupakan sesuatu, tapi aku tidak tahu itu apa.” Jawabku cemas. Jujur saja, saat ini perasaanku sungguh tidak enak. Aku merasa sesuatu yang buruk sedang terjadi.

“Sebenarnya, dari tadi juga aku merasakan hal yang sama.” Jawab Eunhyuk lemah. Pikiranku dan Eunhyuk ternyata sama. Dan bisa saja, hal yang kami lupakan itu juga adalah sama.

Teng . . . teng . . . teng . . .

Terdengar bunyi jam dinding menunjukkan tepat pukul 12 siang. Aku menatap Eunhyuk, begitupun dengannya yang kini menatapku.

“Jihyuk!” ucap kami bersamaan. Kami berlari keluar rumah, Eunhyuk segera mengambil kunci mobilnya.

Selama perjalanan menuju sekolah Jihyuk, dia terus menancap gas mobilnya dalam-dalam.

“Kau tidak bisa pelan-pelan?” tanyaku. Tapi hanya diam saja dan tetap fokus menyetir.

“Semenjak tadi perasaanku tidak enak.” Jawab Eunhyuk tanpa menatapku.

“Kau benar. Aku juga merasakan hal sama.” Sesalku.

Akhirnya kurang dari 15 menit, kami sudah sampai di sekolah Jihyuk. Kami langsung berlari masuk ke dalam sekolahnya dan bertemu dengan guru Jihyuk.

“Nyonya?” ucapnya heran.

“Seongsaengnim, apakah Jihyuk ada?” tanyaku langsung.

“Bukankah dia sudah pulang bersama appanya.”

“Mwoya?” teriak Eunhyuk. Aku langsung menatapnya dan segera menghubungi seseorang.

“Yeoboseyo?” ucapku saat panggilanku terhubung. “Donghae-ah, apakah kau yang menjemput Jihyu?” aku bernapas lega. “Syukurlah, gomawo!”

Klik.

“Dia bersama Donghae.” Ucapku sebelum Eunhyuk mengucapkan pertanyaannya.

“Dimana mereka sekarang?”

“Dia bilang dalam perjalanan pulang ke rumah.”

Tubuhku tersentak saat tiba-tiba Eunhyuk menarik tanganku. Bahkan aku belum berpamitan pada guru Jihyuk. Dia membuka pintu mobilnya dan memaksaku masuk ke dalamnya. Kemudian dia sendiri berputar lalu duduk di jok kemudi. Dia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan akupun tidak diberi kesempatan untuk memakai sabuk pengaman.

Dalam waktu kurang 15 menit, kami sudah sampai di rumah. Kulihat mobil Donghae sudah terparkir di depan rumah. Eunhyuk langsung berlari keluar mobil lalu masuk ke dalam. Aku berlari mengejarnya dari belakang. Perasaanku mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Hyuk!” aku memanggil Eunhyuk berharap dia tidak emosi. Dia membuka pintu dengan keras. Aku sempat terkejut dengan tindakannya. Sepertinya dia benar-benar marah.

“Appa!” kudengar teriak Jihyuk dari dalam. Aku segera berlari masuk untuk melihat keadaan di dalam. Kulihat Eunhyuk tersenyum pada Jihyuk kemudian menggendongnya. “Appa, kenapa lama sekali? Untung saja ada Donghae appa yang menjemputku. kalau tidak, aku akan sendirian di sekolah.” Jelas Jihyuk manja.

“Aigo, anak appa laki-laki bukan? Jangan bersikap manja seperti ini, kau harus berani dan kuat. Arraseo?” ucap Eunhyuk. Dan Jihyuk mengangguk setuju. Kulihat Donghae hanya memandang Eunhyuk dan Jihyuk dari ruang tengah. Tatapan marah dan kebencian. Aku bisa melihatnya dengan jelas. “Kenapa kau belum berganti baju? Sekarang kita ganti bajumu lalu kita bermain.”

“Yeah . . .” Eunhyuk membawa Jihyuk naik ke kamarnya yang berada di lantai 2. Sedangkan aku menemui Donghae.

“Donghae-ah, gwaenchana?”

“Ne, nan gwaenchana. Memangnya, ada apa denganku?”

“Ani. Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau akan menjemput Jihyuk? Kau tahu, aku sangat terkejut saat Jihyuk tidak ada di sekolah.”

“Mianhae! Tadi aku kebetulan lewat dan melihat Jihyuk duduk sendirian di depan sekolahnya. Dia bilang kau akan menjemputnya, jadi kupikir lebih baik aku saja yang mengantarnya pulang. Saat di perjalanan tadi aku berniat untuk menelponmu, tapi ponselku mati.” Jelasnya. Aku mengangguk mengerti. “Seung Won-ah, apakah kau dan Eunhyuk sudah . . .”

“Aku tidak tahu Donghae-ah.” aku langsung memotong ucapannya. “Meskipun dia tidak memberitahuku apa masalah yang sedang dia hadapi, tapi aku yakin dia memang sedang dalam masalah besar.”

“Dan kau akan tetap menunggunya?” aku diam tidak mejawab pertanyaannya.

“Aku tidak tahu Donghae-ah, aku bingung.” Kesalku karena Donghae terus memaksaku.

“Baiklah kalau begitu, aku mengerti. Tapi jangan salahkan aku kalau Eunhyuk meninggalkanmu lagi. Aku sudah memperingatkanmu.” Ucapnya lalu beranjak pergi dari hadapanku.

“Donghae-ah!” dia menghentikan langkahnya, “Kita masih berteman bukan?” dia tidak menjawabku dan terus pergi. Aku menghela napasku pasrah. Lalu aku naik ke lantai atas melihat Jihyuk dan Eunhyuk. Kulihat Eunhyuk masih membantu Jihyuk berganti baju. Kudekati mereka.

“Dia sudah pulang?” Tanya Eunhyuk datar. Aku hanya mengangguk. “Jihyuk-ah, kau sekarang mau main apa?”

“Aku ingin bermain bola.”

“Baiklah, kaja!” Eunhyuk menuntun Jihyuk keluar kamar. Lagi-lagi kuikuti mereka dari belakang.

Eunhyuk POV

Seharian ini kuhabiskan waktuku bersama Seung Won dan Jihyuk. Aku bahagia sekali, karena bisa berkumpul dengan mereka. Kini aku sudah berada di hotel, karena besok aku mempunyai jadwal yang sangat padat. Sepertinya besok aku tidak akan bisa bertemu dengan Jihyuk. Baru saja aku akan memejamkan mata, ada yang mengetuk pintu kamarku.

Tok tok tok

“Masuk!”

“Maaf mengganggu istirahat anda, tapi . . .” aku menatap Dohyun heran.

“Hallo darling!” aku tersentak kaget saat melihat Min Jee datang dari balik tubuh Dohyun. “You don’t miss me?” Min Jee melangkah mendekatiku. Sementara Dohyun sudah keluar dari kamarku. Min Jee langsung berbaring di sampingku. Dan memainkan kancing bajuku dengan jari-jari lentiknya.

“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau akan datang?” tanyaku datar.

“Tentu saja untuk memberikan kejutan untukmu.”

“Ya, kau berhasil membuatku terkejut. Kalau begitu, kau bisa keluar sekarang. Karena aku mau istirahat.”

“Baiklah, aku mengalah sekarang. tapi besok kau tidak bisa lari lagi dariku.” Ucapnya sedikit ketus lalu beranjak dari tempat tidur. Setelah dia keluar dari kamarku, kuteruskan tidurku yang sempat tertunda tadi.

Pagi ini aku ada jadwal rapat dengan perusahaan Cina. Sebelum berangkat untuk rapat, kuputuskan untuk sarapan di restoran hotel. Tiba-tiba aku kehilangan selera makanku saat melihat Min Jee berjalan ke arahku. Aku langsung menghentikan sarapan pagiku dan berniat untuk beranjak pergi. Tapi Min Jee mencegahnya.

“Aku baru saja datang, kenapa kau sudah mau pergi?” tanyanya dengan manja di tanganku. Dengan halus kulepaskan tangannya.

“Aku harus pergi sekarang. Aku tidak mau perwakilan dari perusahaan Cina itu menungguku. Kau tidak mau kan perusahaan rugi karena kehilangan rekan bisnis dengan alasan bahwa dia terlalu lama menunggu?” aku sedikit menyindirnya. Namun dia mau mengerti dan melepaskanku. Aku langsung pergi dan mengajak Dohyun bersamaku.

~~~

Aku baru saja menyelesaikan rapat pentingku bersama perwakilan dari perusahaan Cina saat iphone ku bergetar tanda pesan masuk.

From : Nae adeul (My Boy) *mian klo salah. Pake google translate

Appa, bogosipo!

Aku tersenyum membaca isi pesan dari Jihyuk.

To : Nae adeul (My Boy)

Ne, akan appa usahakan pada jam makan siang nanti appa akan datang ke rumah. Bersiap2lah!

“Dohyun, siapkan mobil! Aku akan makan siang di luar. Kau istirahatlah!” pesanku pada Dohyun. Dia langsung pergi menyiapkan mobil untukku.

Tepat pada jam makan siang aku sudah sampai di rumah. Jihyuk menyambutku dengan riang. Akupun menerima sambutannya dengan gembira.

“Aigo, anak appa sudah besar rupanya. Kau semakin berat Jihyuk-ah!”

“Jeongmal appa?” tanyanya antusias. “Ini karena aku sering minum susu strawberry yang diberikan eomma padaku.”

“Kau suka strawberry?” tanyaku tidak percaya. Dia mengangguk yakin. “Kau tahu? Appa juga sangat menyukai strawberry. Kau benar-benar anak appa.” Dia tersenyum senang. Aku membawanya menuju ruang tengah, ternyata Seung Won juga ada di sana. Dia sedang menonton TV.”

“Waseo?” ucapnya.

“Hmm.” Aku hanya bergumam menjwabnya. Aku kemudian duduk di sampingnya dengan Jihyuk berada di pangkuanku.

“Mian mengganggu jadwalmu. Jihyuk inginkau ada di sini saat makan siang.”

“Aniyo, aku sangat senang kalau Jihyuk menginginkanku ada di sini. Itu artinya dia sudah menyadari kalau aku adalah appa kandungnya.”

“Mungkin saja.”

“Nyonya, makanan sudah siap.” Tiba-tiba Raemin datang memberitahu kami bahwa makan siang sudah siap. Aku segera menggendong Jihyuk menuju meja makan, sedangkan Seung Won mengikuti dari belakang.

Ting tong . . .

Baru saja kami semua duduk, terdengar bunyi bel rumah kami berbunyi. Raemi segera berlari menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Sementara kami bersiap untuk makan siang.

“Appa!” teriakan Jihyuk berhasil mengalihkan perhatianku. Kutolehkan kepalaku pada Jihyuk lalu mengikuti arah pandangnya. Donghae. Kukira yang sedang berjalan di belakangnya adalah Raemi, ternyta tebakanku salah. Karena yang kini berjalan di belakangnya adalah Min Jee.

Min Jee menatapku dengan smirknya. Aku bisa merasakan aura kejahatan baik darinya dan Donghae. Tapi Donghae tidak memperlihatkannya. Aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Aku harus bersiap-siap untuk hal-hal yang tidak aku inginkan.

TBC . . .

 

Iklan

6 thoughts on “Accident Part 11”

  1. Omo..omo Minjee mau apa tuh dia?!
    jangan gangguin unyuk ma seungwon!
    *tendang minjee*

    seru thor,mian bru komen d part ini soalny aq juga baru buka ff ini,lngsng bca part 1-11,jadi aq lngsng komen d sni aja
    mian y thor
    lanjutannya d tnggu,fighting

  2. omo omo omo…
    Si minjae ngapain tu ikut2 k rumah eunhyuk? Hadeuh ternyata donghae jahat ya dimari. Pake acara skongkol ma minjae pula. Hmhmhm -,-.
    Tadinya qrain dia baek.*jewer kuping hae.

    Waaah kayanya bentar lagi kejahatan si minjae terbongkar ni.
    Ayo unyuk, kau pasti bisa. Jangan biarkan si minjae makin berjaya*looh?

    Ceritanya makin seru deh, ditunggu lanjutannya ya, jangan lama2 ya… ^^,

  3. kok hae jadi ikutan jahat sih? apa jangan-jangan akibat pertengkaran eunhae? yaah, entar gimana nasib sung won ama jihyuk? semoga mereka enggak kenapa-kenapa 🙂
    next part ya, onn 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s