Accident Part 12

“Min Jee?” ucap Seung Won menatap heran kedatangan Min Jee.

“Seung Won-ah, apa kabarmu?” Min Jee langsung mendekati Seung Won dan memeluknya.

“Aku baik, bagaimana dengan kabarmu sendiri? Kemana kau selama ini? Tiba-tiba menghilang dan sekarang kau juga tiba-tiba muncul bersama Donghae. Apakah kalian . . .?”

“Aniyo!” jawab mereka kompak. Seung Won tersenyum kecil melihatnya.

“Min Jee adalah sepupuku.” Jelas Donghae.

“Jeongmal? Aigo . . . ternyata dunia ini memang sempit.”

“Ne, aku juga tidak menyangka. Ternyata Donghae kenal dengan kalian berdua.” Ucap Min Jee dengan senyum manisnya. Tapi itu bukan senyum manis, lebih kepada senyum mengejek.

“Mau apa kalian datang kemari?” tanyaku ketus pada mereka. Seung Won menatapku dengan melotot.

“Kebetulan kami baru saja akan makan malam. Apakah kalian mau bergabung?” Tanya Seung Won. Aku menatapnya tidak percaya. Dia mengajak mereka untuk makan malam bersama? Yang benar saja.

“Bolehkan kami boleh bergabung?” Tanya Min Jee. Seung Won mengangguk yakin.

Akhirnya kami berlima duduk bersama. Jihyuk duduk di antara aku dan Seung Won. Sementara Donghae duduk di sampingku dan Min Jee duduk di samping Seung Won.

“Apakah dia Jihyuk?” Tanya Min Jee sambil menatap Jihyuk yang sedang asik dengan makanannya.

“Ne.”

“Aigo . . . dia sudah besar. Terkahir kali saat aku tinggal di sini. Dia masih berumur 1 tahun. Betul kan?” Seung Won mengangguk. “Sekarang umurnya pasti sudah 5 tahun?”

“Ne.”

“Annyeong Jihyuk-ah, apakah kau mengingatku?” Jihyuk hanya menatap Min jee dengan bingung. Kemudian menggeleng.

“Dulu aku tinggal di rumah sebelah. Aku dan ibumu berteman. Sekarang kau sudah besar. Apakah kau sudah sekolah?”

“Ne, aku sudah sekolah ahjumma.” Jawab Jihyuk polos.

Malam itu kami habiskan untuk makan malam bersama Donghae dan Min Jee. Meskipun sebenarnya aku sama sekali tidak menikmati makan malamku karena kehadiran mereka. Padahal aku sudah membayangkan, mala mini aku, Seung Won dan Jihyuk akan makan malam layaknya sebuah keluarga. Tapi sepertinya itu hanya harapanku saja.

~~~

Aku merasa aneh, karena hari ini Min Jee tidak menunjukkan batang hidungnya padaku sejak pagi. Kemana dia pergi? Tapi aku tidak perduli, baguslah kalau dia sadar aku tidak mau di ganggu olehnya.

“Dohyun, hari ini jadwal kita sampai jam berapa?”

“Sampai jam makan siang, setelah itu tidak ada kegiatan lagi. Besok atau lusa, kita harus sudah ada di Amerika lagi karena anda punya rapat pemegang saham.” Jelas Dohyun. Tidak terasa sudah 2 minggu aku berada di Korea. Ternyata waktu berjalan begitu cepat. Dan sepertinya untuk kali ini aku benar-benar harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa kembali lagi ke Amerika, aku punya Seung Won dan Jihyuk. Mereka adalah tanggung jawabku. Apalagi sekarang, mereka sudah mau menerima kehadiranku lagi. Terlebih Seung Won. Aku tidak mau mengecewakannya lagi, aku tidak mau Donghae merebutnya dariku.

“Baguslah kalau begitu. Jangan terima jadwal apapun, sepenting apapun itu. Aku mau melewati hari ini bersama keluargaku.”

“Ne.” jawabnya singkat.

“Kau juga boleh libur setelah jam makan siang nanti.”

Seung Won POV

Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, tapi rapat ini belum juga selesai. Itu artinya ada kemungkinan, aku akan makan siang bersama clien. Tapi di sisi lain, aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi Jihyuk. Aku tidak tahu apa. Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa menjemput Jihyuk di sekolahnya. Apa aku harus meminta Eunhyuk untuk menjemputnya? Tidak mungkin aku menyuruh Raemi yang menjemput Jihyuk, dia tidak bisa meninggalkan rumah dalam keadaan kosong. Apalagi Sohee, dia sekretarisku. Harus selalu berada di sampingku. Donghae? Kalau aku meminta tolong padanya, dia akan menganggap aku memberinya peluang untuk semakin dekat denganku. Sudahlah, aku minta tolong Eunhyuk saja. Toh dia juga appanya juga bukan. Dia harus bertanggung jawab atas anaknya. Setelah meminta ijin untuk meninggalakn rapat sebentar, akhirnya kuputuskan untuk menelpon Eunhyuk.

“Yeoboseyo?”

“Ini aku, Seung Won.”

“Waeyo?”

“Hari ini aku tidak bisa menjemput Jihyuk di sekolah, bisakah kau yang menjemputnya? Perasaanku tidak enak.”

“Ne, lagi pula aku sudah tidak ada jadwal apapun hari ini. Aku juga sudah berencana akan menghabiskan waktu hari ini bersama kalian. Karena besok atau lusa, aku harus kembali ke Amerika.”

“Baiklah, gomawo!”

Kututup flip telponku. Satu kalimat yang baru kusadari setelah mengakhiri obrolan singkatku dengan Eunhyuk. Dia akan kembali ke Amerika. Tiba-tiba dadaku sakit, aku tidak bisa menahan air mataku jatuh. Entahlah, ada perasaan tidak rela bila dia harus kembali pergi dan meninggalkan aku dan Jihyuk. Cukup lama aku menangis di toilet, setelah merasa tenang aku kembali ke ruang rapat.

Akhirnya rapat selesai pada pukul 2 siang. Sohee mengajakku ke café yang letaknya tidak jauh dari tempat kami sekarang.

“Ada apa denganmu?” Tanya Sohee langsung tanpa basa-basi.

“Apa maksudmu?” aku bertanya heran.

“Aku tahu kau menangis.” Sohee selalu tahu dan mengerti diriku.

“Eunhyuk akan kembali ke Amerika besok.” Jawabku singkat. Bisa kulihat ada keterkejutan di wajahnya.

“Apa maksudmu? Eunhyuk ada di Korea?”tanyanya memastikan. Aku mengangguk. “Kenapa kau tidak bilang padaku?”

“Mianhae, karena kupikir ini tidak perlu kuceritakan. Karena dia kesini bukan untukku dan Jihyuk, tapi untuk mengurus bisnisnya.”

“Tidak perlu kau ceritakan? Seung Won, dia adalah bosku. Aku berhak tahu keberadaannya. Selama 4 tahun dia menghilang, dan sekarang dia datang. Kau tidak memberitahuku? Ok, aku mengerti dengan masalah keluarga kalian. Tapi tolong Seung Won-ah, kau bisa cerita padaku sebagai sekretarisnya bukan?” ucap Sohee dengan suara sedikit tinggi karena kesal.

“Mianhae!”

“Sekarang dimana dia sekarang?”

“Mungkin sekarang dia ada di rumah, tadi siang aku memintanya untuk menjemput Jihyuk.”

“Apakah hubungan kalian sudah kembali?” aku menggeleng lemah. “Belum atau kau bingung?”

“Aku bingung, aku tidak tahu, dan aku tidak mengerti dengan semua yang dia sembunyikan dariku. Dia hanya memintaku untuk percaya padanya dan menunggunya.” Aku menangis lagi saat menjelaskannya pada Sohee.

“Aku akan membantumu untuk meminta penjelasan darinya. Kaja!” Sohee menarik tanganku pergi dari café lalu masuk ke dalam mobilku. Dia mengambil alih kemudi dan menjalankannya di jalanan kota Seoul. Dalam waktu 30 menit kami sudah sampai di rumahku.

Saat kami masuk, keadaan rumah sangat sepi. Mungkin Eunhyuk dan Jihyuk sedang bermain di kamar. “Raemi!” panggilku. Tidak lama kemudian Raemin menghampiriku. “Apakah Jihyuk ada di kamarnya?”

“Ani, Jihyuk belum pulang.”

“Mwo?” aku tersentak kaget. “Kemana Eunhyuk membawanya? Kalau dia mau mengajak Jihyuk bermain, harusnya bilang padaku.” Kuambil iphone putihku dari dalam tas. Aku mencoba menghubungi Eunhyuk. “Kemana orang ini? Kenapa dia tidak mengangkat telponku?”

“Ada apa?” Tanya Sohee yang melihat kecemasan di wajahku.

“Eunhyuk dan Jihyuk belum pulang. Aku sudah mencoba menghubungi Eunhyuk, tapi dia tidak mengangkatnya.”

“Mungkin iphonenya habis batere.”

“Ani.” Aku menggeleng lebih keras. Perasaanku semakin tidak tenang, apalagi mengingat perasaan tidak enakku pada Jihyuk tadi siang.

“Kalau begitu kita tunggu saja dulu sampai nanti sore. Kalau dia belum juga kembali, kita akan mencarinya.” Aku mengangguk setuju.

Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, tapi Eunhyuk dan Jihyuk belum juga pulang. Aku sudah berkali-kali menghubungi Eunhyuk, tapi dia tidak mengangkatnya.

“Sohee-ah, bagaimana ini? Mereka belum juga pulang, aku takut telah terjadi sesuatu pada mereka.” Ucapku cemas.

“Tenanglah, kau jangan berpikir yang macam-macam. Berdoalah, semoga tidak terjadi apa-apa pada suami dan anakmu.”

“Lebih baik kita pergi sekarang!” ucapku lalu menarik tangan Sohee. Baru saja aku akan masuk ke kursi kemudi, Sohee menahan tanganku. Aku menatapnya heran, “Waeyo?”

“Biar aku saja yang menyetir, keadaanmu sedang tidak baik.” Tawarnya. Aku mengangguk setuju.

Sepanjang jalan, aku terus melihat keluar jendela. Begitupun dengan Sohee. Kami sama-sama berkonsentrasi dengan arah pandangan kami. Tiba-tiba kami di sadarkan dengan getar iphone milikku.

Dddrrrttt . . .

Layarnya berkelap-kelip menunjukkan sebuah nama yang sangat ku kenal.

“Eunhyuk-ah!” ucapku. Sohee memarkirkan mobilnya di tepi jalan.

“Ini aku Donghae.” Ucap sebuah suara di seberang sana. Aku mengernyit heran, kenapa telpon eunhyuk bisa ada di tangan Donghae. Apakah mereka sedang bersama?

“Donghae, kenapa handphone Eunhyuk bisa ada di tanganmu?” tanyaku heran.

“Eunhyuk sedang tidak bisa bicara denganmu. Kami sekarang sedang berada di Mokpo. Tepatnya di rumahku yang ada di Mokpo. Jihyuk juga ada bersama kami. Mian baru memberitahumu. Sejak tadi kami bermain di laut dan tidak membawa handphone. Eunhyuk memintaku untuk menghubungimu karena dia lupa tidak memberitahumu.”

“Kalau begitu, aku akan menyusul kalian ke sana.”

“Ini sudah malam, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. Kau tenang saja, besok kami juga sudah pulang. Lagi pula, besok hari minggu bukan?”

“Kalau begitu, aku ingin bicara dengan Jihyuk atau Eunhyuk.”

“Eunhyuk sedang berada di kamar mandi, bagaimana kalau Jihyuk saja?”

“Ne, gwaenchana.”

Selama beberapa menit aku menunggu.

“Eomma!” sebuah suara nyaring terdengar dari seberang sana. Ada kelegaan dalam hatiku, tapi sepertinya masih ada yang mengganjal. Aku tidak tahu itu apa, yang penting sekarang aku tahu kalau Jihyuk baik-baik saja.

“Jihyuk-ah, gwaenchana?”

“Ne,eomma. Hari ini aku bermain bersama appa dan Min Jee ahjumma.” Jelasnya. Tunggu, kenapa hanya Eunhyuk dan Min Jee saja yang di ucapkan Jihyuk.

“Jihyuk-ah, appa mana?”

“Molla.” Aku semakin tidak mengerti.

“Siapa yang mengajakmu jalan-jalan? Donghae appa atau Eunhyuk appa?”

“Donghae appa.” Aku tertegun mendengar jawabannya. Lalu kemana Eunhyuk? Bukannya Donghae bilang mereka pergi bersama, lalu kenapa hanya Donghae dan Min Jee yang mengajak Jihyuk bermain? Aku rasa ada yang tidak beres, aku harus menyelidikinya.

“Jihyuk-ah, berikan handphonenya pada appa!”

“Yeoboseyo!” kudengar suara Donghae.

“Besok kalian pulang jam berapa?”

“Mungkin sedikit siang, tidak apa-apa kan?”

“Baiklah, aku akan menunggu kalian pulang.”

Klik.

Kuputuskan sambungan telponku dengan Donghae.

“Bagaimana?” Tanya Sohee.

“Mereka ada di Mokpo. Malam ini kita pulang saja. Oh ya, apa kau bisa menginap di rumahku saja?” Sohee mengangguk setuju. Kemudian dia memutar stir kembali kearah rumahku.

“Apa yang dikatakan Eunhyuk?” aku menggeleng, “Apa maksudmu?” Tanya Sohee tanpa mengalihkan pandangannya padaku karena dia sedang menyetir.

“Bukan Eunhyuk yang menelponku. Maksudku, memang nomor Eunhyuk yang menelponku. Tapi bukan dia yang barusan mengobrol denganku, tapi Donghae.”

“Kenapa bisa?”

“Donghae bilang, dia sedang mandi. Lalu meminta tolong pada Donghae untuk menelponku.”

“Kenapa Donghae dan Eunhyuk bisa bersama, bukankah mereka sedang bertengkar?” aku menatap Sohee. Benar juga, Eunhyuk bukan tipe orang yang mudah berdamai dengan orang yang sudah mengganggunya. Jadi tidak mungkin Eunhyuk dan Donghae pergi ke Mokpo bersama untuk liburan. Dan satu hal yang aku ingat, Jihyuk bilang. Dia tidak bersama dengan Eunhyuk. Lalu kemana Eunhyuk sebenarnya? “Seung Won, kau melamun?” Sohee menyadarkanku. Aku semakin yakin ada yang tidak beres.

“Sohee-ah, kita ke Mokpo sekarang!” teriakku. Sohee sempat kehilangan keseimbangannya. Ups! Sohee memandangku tajam. “Mian!” lirihku. Dia hanya menggeleng lalu menjalankan kembali mobilnya.

Perjalanan yang kami tempuh cukup panjang, 4 jam perjalanan. Beberapa kali kami bergantian menyetir karena lelah. Akhirnya kami sampa di Mokpo. Kuparkirkan mobilku di sebuah café yang berada di dekat laut.

“Sohee-ah, ireona!” Ucapku pelan membangunkannya. Dia sedikit terusik kemudian membuka matanya dan menatapku.

“Apakah kita sudah sampai?” ucapnya lirih. Mungkin karena baru bangun tidur, sehingga belum semua kesadarannya kembali. Dia mencoba memperbaiki posisi duduknya dan memutar lehernya karena pegal.

“Kita sudah sampai di Mokpo. Rumah Donghae masih beberapa kilometer lagi dari sini. Sekarang kita istirahat dulu di café itu.” Jelasku setelah yakin dia sudah bisa menyerap ucapanku. Lalu dia mengangguk mengerti dan mengikutiku keluar dari mobil.

Aku memilih kursi yang tepat berada di pinggir jendela. Aku memesan coffee latte dan Sohee Lemon Tea hangat. Dia memang tidak terlalu suka minum kopi. Sambil menunggu pesanan kami datang, aku dan Sohee mengobrol membicarakan rencana kami selanjutnya.

“Sebenarnya aku merasa sesuatu yang buruk telah terjadi pada Eunhyuk.” Ucapku mengawali pembicaraan.

“Dan aku merasa ada yang tidak beres dengan Donghae.” Timpal Sohee dengan nada serius. Aku menatapnya meminta penjelasan. “Sejak awal aku sudah mengungkapkannya padamu bukan? Aku merasa ada sesuatu pada Donghae. Kau harus hati-hati padanya.”

Ting . . .

Bunyi bel pintu masuk berbunyi, itu artinya ada pengunjung lain. Aku yang kebetulan duduk menghadap kearah pintu masuk, bisa dengan jelas melihat siapa yang datang. Dua orang laki-laki tinggi besar masuk ke dalam café. Wajah mereka tampak seram, kuputuskan untuk berhenti memperhatikan mereka dan kembali ke dalam topic pembicaraanku dengan Sohee. Mereka duduk tepat di depan mejaku. Kami hanya terhalang oleh kubikel.

“Hah, melelahkan sekali.” Ucap salah satu laki-laki yang memakai kaus warna merah. Bukannya aku ingin menguping, tapi ada sesuatu yang mendorongku untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Aku pindah posisi dudukku menjadi di sebelah Sohee.

“Ada apa denganmu?” tanyanya heran yang melihat kelakuan anehku. Kutempelkan jari telunjukku ke bibir agar dia diam.

“Benar, laki-laki itu ternyata kuat juga. Aku pikir, setelah mendapat 5 pukulan dari kita dia akan langsung jatuh. Ternyata tidak.” Jawab laki-laki yang memakai kaus hitam.

“Benar, sebenarnya siapa laki-laki itu?”

“Kalau tidak salah, dia laki-laki yang sudah disukai bos semenjak kulliah. Tapi laki-laki itu tidak menerima cintanya. Dan kau tahu? Sebenarnya laki-laki itu sudah menikah. Kau ingat anak kecil yang siang tadi berjalan-jalan bersama bos dan sepupunya? Dia adalah anak laki-laki itu.”

“Masalah percintaan memang selalu rumit.”

“Ya, kita hanya melakukan apa yang dikatakan bos. Kita tidak perlu ikut campu ke dalam urusan mereka. Yang penting kita mendapatkan uang hanya dengan menghajar laki-laki itu. Tidak sulit bukan?”

~~~

Setelah menghabiskan minuman kami, aku segera menarik Sohee masuk ke dalam mobil.

“Seung Won-ah, sebenarnya ada apa denganmu? Tadi kau seperti penguping.”

“Mian, aku tidak berverita padamu. Memang karena situasinya yang tidak memungkinkan.”

“Lalu?”

“Aku akan menjelaskannya sambil jalan.” Kustarter mobilku dan menjalankannya. “Kau tahu bukan, 2 orang laki-laki yang tadi duduk di depan kita?” Sohee mengangguk. “Entah kenapa, aku ingin sekali mengetahui apa yang mereka bicarakan. Aku merasa, mereka mempunyai hubungan dengan masalahku.”

“Apa maksudmu?”

“Aku juga tidak mengerti, yang jelas. Sekarang kita harus segera sampai di rumah Donghae.”

Dalam waktu kurang dari 15 menit, kami sudah sampai di depan rumah Donghae. Rumah yang cukup besar dan di dominasi dengan cat warna biru.

“Daebak!” gumam Sohee.

“Ayo kita turun!” saat aku akan keluar dari mobil, aku melihat dua orang laki-laki yang tadi datang ke café. “Tunggu sebentar!” ucapku pada Sohee. Dia menghentikan kegiatannya lalu menatapku.

“Waeyo?”

“Lihat!” aku menunjuk 2 laki-laki itu.

“Bukankah mereka . . .”

“Mereka adalah laki-laki yang duduk di depan meja kita tadi.” Aku segera memotong ucapan Sohee. “Apa yang sedang mereka lakukan disana?”

“Jangan-jangan . . .” ucapku dan Sohee bersamaan. Kami saling menatap berharap apa yang kami pikirkan adalah salah.

TBC . . .

 

Part selanjutnya bakal jadi yang terakhir.

8 thoughts on “Accident Part 12”

  1. astaga, donghae kok beneran jd jahat gt si. Gak suka ah ngliat donghae jahat. Hiiiiiii…#jewer kuping hae. Kok saya suka ngjewer kuping hae ya? Heeee mianhae hae.

    Kasian eunhyuk, dikeroyok ma preman kaya gt. Moga2 seungwon bs nyelamatkan eunhyuk. Tp gmana caranya ya? Pasti susah.
    Lapor polisi aja. Biar aman. Hwaiting seungwon!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s