Accident Part 13 END

Aku dan Sohee mengendap-endap mendekati rumah Donghae. Kami tahu, aka nada masalah besar jika kami menunjukkan diri kami pada mereka.

“Seung Won-ah, kau yakin akan melakukan ini? Lebih baik kita menelpon polisi.” Bisik Sohee saat kami sampai di semak-semak yang ada di tepi jalan.

“Kau tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa. Lagi pula, polisi tidak akan mudah percaya pada kita kalau tidak ada bukti.”

“Tapi aku tidak yakin dengan tindakan kita ini.”

“Kalau kau takut, kau tunggu saja di mobil. Jangan melakukan apapun tanpa perintahku.” Sohee mengangguk mengerti lalu kembali ke mobil.

Kini tinggal aku sendiri, Sohee tidak mungkin ikut bersamaku masuk ke dalam. Untung saja dulu aku sempat ikut latihan bela diri, setidaknya aku bisa memanjat dinding pagar rumah Donghae yang tinggi ini. Dinding pagar rumah Donghae terbuat dari tembok dengan dibentuk seperti undakan, sehingga memudahkan aku untuk menaikinya. Kulihat 2 laki-laki besar yang bertemu denganku di café baru saja masuk ke dalam rumah. Ternyata rumah ini mempunyai banyak penjaga, diantaranya di depan pagar, depan pintu masuk dan beberapa yang disebar di pekarangan rumah. Untung saja, tempat aku masuk ini tidak masuk dalam hitungan penjagaan. Mungkin karena gelap dan sangat rimbun tertutup oleh pohon dan tanaman. Aku mengendap menyusuri pinggiran dinding agar tidak terlihat oleh mereka. Aku masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang yang kebetulan tidak di jaga. Kuhela napasku karena telah berhasil lolos dari penjagaan dan bisa masuk ke dalam rumah dengan lancar.

“Bagaimana keadaannya?” aku mendengar sebuah suara menuju tempatku sekarang, dengan segera aku menyelinap di balik dinding untuk bersembunyi.

“Dia masih bertahan.”

“Beri dia pelajaran lagi. Buat dia menyerah dan mau menyerahkan istri tercintanya padaku.” Aku mengernyit. Aku sangat mengenal suara ini. Donghae. “Dan jangan sampai Min Jee tahu kalau dia dipukuli lagi oleh kalian. Dia tidak akan menerimanya. Min Jee terlalu mencintainya.”

“Baik tuan.”

Aku keluar dari tempat persembunyianku setelah yakin mereka telah pergi. Aku tidak menyangka ternyata Donghae ada di balik ini semua. Tapi satu hal yang aku tidak mengerti, kenapa Min Jee bisa ikut ke dalam persoalan ini. Aku mengendap masuk ke bagian dalam rumah. Tidak sengaja aku melewati ruang makan, aku bisa melihat Donghae, Min Jee dan Jihyuk? Aku menatap heran kearah mereka yang sedang makan malam bersama, kenapa Jihyuk bisa bersama mereka. Kenapa Donghae membiarkan Jihyuk bersamanya? Tapi benar juga, Donghae tidak mungkin menyakiti Jihyuk. Dia sudah terlalu sayang pada Jihyuk. Sejenak kuhentikan langkahku dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

“Jihyuk-ah, besok kau akan pulang bersama appa.” Ucap Donghae.

“Ne, lalu bagaimana dengan Hyuk appa?” Tanya Jihyuk polos.

“Hyuk appa besok akan pulang ke Amerika bersama Min Jee ahjumma.”

“Wae? Hyuk appa sudah berjanji padaku tidak akan pergi dan akan selalu menemaniku.”

“Jihyuk-ah, appamu mempunyai pekerjaan yang sangat penting di Amerika. Kau bersama Donghae appa saja, dia lebih menyayangimu dibandingkan Hyuk appa.” Sambung Min Jee. Aku semakin tidak mengerti dengan semua ini.

“Andwae, aku lebih sayang pada Hyuk appa. Donghae appa selalu mengingkari janjinya, sedangkan Hyuk appa selalu menepati janjinya.” Saat Jihyuk mengucapkannya, rasanya seluruh darahku mengalir dan membuat tubuhku terasa hangat. Tanpa kusadari seulas senyum tergambar di wajahku. Memang benar apa yang dikatakan Jihyuk, Eunhyuk tidak pernah mengingkari janjinya. Tapi dia selalu membuat orang menunggu untuk memenuhi janjinya itu.

“Jihyuk-ah, iya Hyuk appa akan ikut kita pulang besok ke Seoul. Otte?” ucap Donghae. Jihyuk mengangguk senang.

“Donghae, apa maksudmu berkata seperti itu?”

“Tenang saja, Jihyuk akan lupa. Karena aku akan membawanya pulang saat dia masih tertidur lelap. Kau bawa Eunhyuk kembali ke Amerika. Dan jangan biarkan dia kembali ke Seoul. Aku akan membuat Seung Won yakin, kalau Eunhyuk sudah tidak mencintainya lagi dan mencampakkannya untuk yang kedua kalinya. Aku sangat mengenal Seung Won, dia tidak akan mudah memberikan kesempatan kedua pada orang yang yang telah menyakitinya. Dengan begitu aku akan dengan mudah masuk ke dalam kehidupannya. Dan sebelum Seung Won tahu bahwa ini semua adalah rekayasa, aku dan dia sudah menikah. Dan pada saat Eunhyuk tahu bahwa Seung Won sudah menikah denganku, Eunhyuk akan jatuh ke dalam pelukanmu. Eunhyuk tipikal laki-laki yang mudah terbawa suasana, dan pada saat itu tiba. Kau masuklah ke dalam kehidupannya, yakinkan dia kalau Seung Won memang sudah tidak mencintainya lagi.” Jelas Donghae. Aku kaget dengan apa yang dikatakannya barusan. Aku tidak menyangka ternyata selama ini dia hanya memakai topeng untuk masuk ke dalam kehidupanku. Aku kira dia tulus ingin berteman denganku.

Kutinggalkan mereka dan memasuki bagian rumah lebih dalam lagi. Kini yang ada dalam pikiranku hanya Eunhyuk. Keadaan di dalam rumah cukup sepi dibandingkan dengan di luar tadi. Di sini penjagaan sangat kurang bahkan tidak ada. Aku melewati setiap lorong rumah itu. Sampai pada lorong terkahir kuhentikan langkahku karena mendengar suara langkah kaki menuju ke arahku. Segera aku sembunyi di balik guci besar yang ada di sampingku. Aku segera mendekati arah tempat orang-orang itu berasal. Ternyata duagaanku salah, disini ternyata banyak penjaga. Mereka menjaga sebuah ruangan. Aku tidak yakin, tapi sesuatu mengatakan padaku kalau Eunhyuk ada di dalamnya. Aku mencari jalan agar dapat masuk ke dalam ruangan itu. Tiba-tiba pintu ruangan di belakangku terbuka. Seolah mendapat jalan keluar, aku langsung masuk ke dalamnya. Tidak perduli apa yang ada di dalamnya. Setelah menutup pintu ruangan itu, aku menyalakan lampunya. Syukurlah, ternyata kamar ini kosong. Saat akan melangkah menuju jendela, sesuatu menghentikan langkahku. Satu foto besar yang terpajan di dinding kamar. Sangat menunjukkan sekali identitas kamar ini milik siapa. Lee Donghae. Aku tidak mempedulikannya, kuteruskan langkahku menuju jendela. Aku melihat keluar jendela dan cukup terkejuta saat melihat ke bawah. Kamar ini berada di lantai dua, tapi seakan-akan berada di lantai 3. Aku menengok ke kiri dan ke kanan, syukurlah kamar ini tidak menghadap ke halaman depan. Karena kalau begitu, aku akan dengan mudahnya ditemukan oleh pada bodyguard Donghae yang mempunyai tubuh besar-besar itu. Aku kembali menengok kea rah kiri. Kamar yang aku curigai sebagai tempat di sekapnya Eunhyuk hanya terhalang oleh satu kamar. Dengan seluruh keberanian yang kumiliki, aku menyusuri dinding tembok persis seperti spiderman yang menempel di dinding. Aku harus hati-hati karena tembok yang aku injak tidak lebih lebar dari telapak kakiku. Untung saja aku tidak memakai high heels. Akhirnya aku sampai di kamar yang aku curigai tempat disekapnya Eunhyuk. Aku mengintip sedikit dari balik jendela, keadaan kamar itu remang-remang karena hanya di terangi oleh lampu kuning kecil. Tapi cukup membuatku bisa melihat siapa orang yang tengah tegeletak tidak berdaya di tengah ruangan itu. EUNHYUK. Kubuka mataku lebar-lebar berharap apa yang aku liat ini adalah salah. Laki-laki itu bukan Eunhyuk. Tapi harapanku sepertinya tidak terkabul, laki-laki itu memang Eunhyuk. Wajahnya penuh luka karena lebam dan tubuhnya pun penuh dengan luka. Dia benar-benar tidak berdaya. Aku tidak tega melihatnya. Kusembunyikan diriku di balik tembok saat mendengar pintu terbuka. Kupasang telingaku agar bisa mendengar apa yang sedang terjadi di dalam.

“Bagaimana, apakah kau sudah menyerah?” itu suara Donghae.

“Kau pikir? Sampai mati pun aku tidak akan pernah menyerahkan Seung Won padamu.”

Bukk . . . Donghae menendang perut Eunhyuk sehingga membuat Eunhyuk merintih kesakitan.

“Besok Min Jee akan membawamu kembali ke Amerika. Bersiap-siaplah, malam ini kau akan kubiarkan tidur dengan nyenyak.” Ucap Donghae dengan sinis. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara pintu tertutup. Setelah merasa keadaan sudah aman, aku masuk ke dalam kamar melalui jendela. Eunhyuk sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena dia tidak bergerak sedikit pun. Kudekati tubuhnya yang tergeletak tidak berdaya secara perlahan.

“Eunhyuk-ah . . .” kupanggil namanya perlahan. Dia memalingkan wajahnya menatapku. Dia terkejut dengan kehadiranku.

“A . . . apa yang kau lakukan di sini? Di sini sangat berbahaya, cepat keluar dari sini!” perintahnya.

Aku menggeleng, “Ani, aku ke sini untuk menyelamatkanmu.”

“Tapi . . . bagaimana kalau Donghae tahu kau ada disini.”

“Dia tidak akan menyakitiku.”

“Min Jee?” aku hanya tersenyum meyakinkannya.

“Apakah kau masih kuat berjalan?”

“Molla, tapi aku akan mencoba.”

“Baiklah kalau begitu.” Aku membantu Eunhyuk untuk berdiri. “Kita akan keluar lewat jendela kemudian turun kebawah, kebetulan aku melihat tangga.”

“Aku akan berusaha.”

Aku memapah Eunhyuk membantunya berjalan. Karena kakinya terluka parah akibat pukulan-pukulan bodyguard Donghae. Aku turun duluan melalui tangga lipat yang kutemukan tadi, lalu Eunhyuk menyusulku dengan susah payah. Aku kembali membantunya berjalan mengelilingi rumah Donghae. Karena kebetulan, tempat kami turun tadi adalah taman belakang, jadi kami harus memutar menuju taman depan agar dapat keluar dari rumah ini. Aku merasa senang karena kami hampir sampai di halaman depan, namun langkah kami terhenti saat seseorang menghadang jalan kami.

“Hallo, kalian mau kemana? Kenapa terburu-buru sekali, lebih baik kita minum teh dulu sebentar.” Aku dan Eunhyuk tertegun melihat oran-orang yang kini ada di hadapan kami. Donghae dan para bodyguardnya. “Tangkap mereka!” Donghae langsung memerintahkan anak buahnya untuk menangkap kami. Aku berusaha keras melepaskan diri dari mereka, namun sayang tenagaku tidak lebih kuat dari mereka. Sedangkan Eunhyuk langsung pasrah, mungkin karena sudah tidak mempunyai tenaga lain untuk melawan. Kami di bawa masuk ke dalam rumah, tepatnya di ruang tamu. Para bodyguard itu menghempaskan tubuhku dan Eunhyuk ke lantai. Aku langsung mendekati Eunhyuk dan memeluknya.

“Pasangan yang sangat serasi bukan?” sebuah suara perempuan terdengar sangat arogan. Min Jee. Aku menatap benci padanya. “Donghae-ah, apa yang kau lakukan pada Eunhyuk?” Min Jee sangat terkejut saat melihat keadaan Eunhyuk. Dia langsung berlari menghampiri Eunhyuk lalu membelai wajahnya. Dia menatap tajam Donghae lalu tiba-tiba saja dia beranjak langsung menampar pipi Donghae.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” teriak Donghae tidak terima perlakuan Min Jee.

“Kau sudah berjanji tidak akan membuatnya terluka parah seperti ini, tapi kau malah membuatnya lebih parah dari yang kubayangkan.”

“Kalau tidak begitu, dia akan terus melawan. Dan itu akan membuatmu susah besok pagi saat kau membawanya ke Amerika. Dengan keadaannya yang seperti ini, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa.” Jelas Donghae dengan tenang. Min Jee tampak mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Donghae. Terlihat sebuah senyuman di wajah Min Jee.

“Ternyata tidak salah, kau memang sepupuku.” Seringai Min Jee pada Donghae. “Jadi, apa yang akan kita lakukan pada mereka?” Tanya Min Jee sambil menatap sinis kami.

“Masukkan mereka ke dalam ruangan yang berbeda.” Perintah Donghae. Kemudian anak buahnya memisahkan aku dan Eunhyuk.

“Lepaskan aku!” teriakku. “Donghae, aku tidak menyangka ternyata kau sejahat ini.” Kulihat Donghae hanya tersenyum penuh kemenangan. Dia berjalan mengikutiku di belakang, sedangkan Min Jee mengikuti Eunhyuk. Anak buah Donghae memasukkanku ke dalam sebuah ruangan.

“Kalian boleh keluar.” Ucap Donghae dingin. Aku menatap benci Donghae yang sedang menutup pintu.

“Apa yang kau mau sebenarnya?”

“Kau tahu apa yang aku mau Seung Won-ah.”

“Aku sudah bilang padamu, kau tidak akan pernah bisa masuk ke dalam hatiku.” Teriakku.

“Kau tahu aku sangat mencintaimu, aku bisa lebih baik dari Eunhyuk. Buktinya selama dia tidak ada, kau selalu berbahagia saat berada di sampingku.”

“Yang kau lihat adalah kebahagiaan wajahku, bukan hatiku.”

“Aku tidak mau tahu, setelah pulang dari sini kita akan menikah.” Ucap Donghae kemudian keluar dari kamar dan menguncinya dari luar.

“Mwo?”

Aku teringat sesuatu, Sohee masih ada di luar. Untung saja Donghae tidak menyadari kalau aku masih punya iphone yang  masih bisa digunakan. Aku segera menghubunginya.

“Yeoboseyo!” terdengar nada khawatir darinya.

“Tenanglah, aku baik-baik saja.” Ucapku sebelum Sohee bertanya duluan. “Aku tertangkap basah oleh Donghae. Dan sekarang aku di kurung oleh Donghae. Aku tidak bisa melakukan apapun, karena rumah ini dijaga ketat oleh penjagaan. Sekarang aku mau kau menelpon polisi. Ceritakan kejadian yang sebenarnya, sehingga mereka bisa menyusun strategi untuk membebaskan aku, Eunhyuk dan Jihyuk.”

“Ne, arraseo.” Jawabnya mengerti.

“Aku percaya padamu Sohee-ah. Aku tahu kau wanita cerdas. Gomawo!” ucapku mengakhiri pembicaraan.

“Ne, cheomaneyo! Lagi pula sudah bosan di pimpin olehmu, aku ingin bos tampanku kembali ke kantor.”

“Mwo?” aku dan dia terkekeh.

Klik.

Pembicaraan berakhir, sekarang aku tinggal menunggu kedatangan polisi menyelamatkan kami.

 

 

Eunhyuk POV

Baru saja aku menyelesaikan rapatku bersama perusahaan Taiwan, iphone ku bergetar. Nama Seung Won terlihat di layarnya. Ada apa, tumben sekali dia menelponku.

“Yeoboseyo?”

“Ini aku, Seung Won.” Ucapnya. Padahal, tanpa dia beritahu juga namanya sudah ada di memory iphone milikku.

“Waeyo?”

“Hari ini aku tidak bisa menjemput Jihyuk di sekolah, bisakah kau yang menjemputnya? Perasaanku tidak enak.”

“Ne, lagi pula aku sudah tidak ada jadwal apapun hari ini. Aku juga sudah berencana akan menghabiskan waktu hari ini bersama kalian. Karena besok atau lusa, aku harus kembali ke Amerika.”

“Baiklah, gomawo!”

Klik. Hubungan telpon kami terputus.

“Dohyun, berika kunci mobilku.” Perintahku. Kemudian Dohyun memberika kunci mobil padaku.

Kulajukan mobilku di jalanan kota Seoul. Jalanan kota Seoul hari ini tidak terlalu padat sehingga aku bisa menjalankan mobilku dengan lancar tanpa terhambat macet.

Ddddrrrttt . . .

Iphone ku kembali bergetar, kali ini terlpon dari Min Jee. Sebenarnya aku malas sekali harus mengangkat telpon darinya, tapi sesuatu menyuruhku untuk mengangkatnya.

“Yeoboseyo!”

“Anakmu ada padaku.” Ucapnya singkat. Aku langsung menyingkirkan mobilku.

“Ya! Apa yang kau lakukan padanya?”

“Nothing, jika kau ingin melihatnya. Datanglah ke Mokpo, tepatnya rumah Donghae. Kau tahu bukan?”

Klik.

Min Jee langsung memutuskan hubungan telponnya. Kubanting iphone ku ke jok belakang. Kuputar stir mobilku kea rah Mokpo.

~~~

“Akhirnya kau datang Lee Hyukjae.” Sambut Donghae dengan sinis saat aku datang.

“Mana Jihyuk?” tanyaku emosi.

“Kau tenang saja, dia baik-baik saja. Aku berjanji dia akan selamat bahkan tidak akan kubiarkan dia lecet sedikitpun.”

“Huh . . .” aku mendengus kesal. “Apa yang kau inginkan?”

“Kau tahu apa yang aku inginkan Lee Hyukjae. Park Seung Won istrimu.” Donghae memutar kepalanya lalu kembali menatapku. “Kali ini aku akan mencoba bicara baik-baik padamu. Aku ingin kau menyeraikan Seung Won, setelah itu masalah selesai. Kau bisa hidup bahagia bersama Min Jee.”

“Dengar, aku tidak akan menyerahkan Seung Won pada laki-laki sepertimu.” Ucapku penuh dengan nada ancaman.

“Aku sudah meminta baik-baik padamu, tapi ternyata kau tetap teguh. Baiklah kalau begitu. Bawa dia ke atas!” Donghae menyuruh para anak buahnya untuk membawaku ke suatu tempat. Aku terus meronta agar bisa lepas dari mereka. Tapi percuma, tubuh mereka besar. Kalah jauh di bandingkan dengan aku. Para anak buah Donghae menghempaskan tubuhku ke lantai. “Beri dia pelajaran, sampai dia minta ampun.” Ucap Donghae kepada anak buahnya kemudian pergi.

Aku menatap para anak buah Donghae. 2 orang, aku pikir aku akan bisa bertahan. Setidaknya, aku tidak akan langsung mati kalau dipukul mereka.

~~~

Aku sudah tidak kuat lagi, tapi aku tidak boleh menyerah. Setelah memukuliku, kedua orang itu keluar dari ruangan ini. Entahlah kemana mereka pergi, yang jelas sudah lama sekali. Setidaknya aku bisa mengistirahatkan tubuhku.

Cklek . . .

Kudengar suara pintu terbuka. Seseorang masuk ke dalam, tapi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena ruangan yang hanya di terangi lampu kuning itu. Aku hanya bisa melihat kaki mereka, 3 orang.

“Bagaimana, apakah kau sudah menyerah?” ternyata Donghae.

“Kau pikir? Sampai mati pun aku tidak akan pernah menyerahkan Seung Won padamu.” Kuangkat kepalaku untuk melihat wajahnya.

Bukk . . . Donghae menendang perut Eunhyuk sehingga membuat Eunhyuk merintih kesakitan.

“Besok Min Jee akan membawamu kembali ke Amerika. Bersiap-siaplah, malam ini kau akan kubiarkan tidur dengan nyenyak.” Ucap Donghae dengan sinis. Lalu keluar diikiti oleh para anak buahnya.

“Eunhyuk-ah . . .” aku mendengar suara Seung Won memanggilku. Tapi itu tidak mungkin, mungkin aku hanya berhalusinasi saja. Tapi aku mencoba untuk memalingkan pandanganku. Aku terkejut melihat Seung Won yang kini ada di hadapanku.

“A . . . apa yang kau lakukan di sini? Di sini sangat berbahaya, cepat keluar dari sini!” perintahku.

Dia menggeleng, “Ani, aku ke sini untuk menyelamatkanmu.”

“Tapi . . . bagaimana kalau Donghae tahu kau ada disini.”

“Dia tidak akan menyakitiku.”

“Min Jee?” aku bertanya lagi, tapi dia hanya tersenyum.

“Apakah kau masih kuat berjalan?”

“Molla, tapi aku akan mencoba.”

“Baiklah kalau begitu.” Dia membantuku berdiri. “Kita akan keluar lewat jendela kemudian turun kebawah, kebetulan aku melihat tangga.”

“Aku akan berusaha.”

Seung Won memapahku, karena kakiku terluka parah akibat pukulan-pukulan anak buah Donghae. Dia turun duluan melalui tangga lipat yang dia bicarakan tadi, lalu aku menyusulnya dengan susah payah. Karena kondisiku yang sudah sangat lemah, aku tidak bisa lagi memperhatikan sekelilingku. Yang kurasakan hanyalah tubuh dan tangan Seung Won yang kini menopang tubuhku. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Kucoba membuka mataku dan melihat apa yang telah membuat langkah kami terhambat.

“Hallo, kalian mau kemana? Kenapa terburu-buru sekali, lebih baik kita minum teh dulu sebentar.” Aku dan Seung Won tertegun melihat orang-orang yang kini ada di hadapan kami. Donghae dan para bodyguardnya. “Tangkap mereka!” Donghae langsung memerintahkan anak buahnya untuk menangkap kami. Seung Won berusaha keras melepaskan diri dari mereka, namun sayang tenaganya tidak lebih kuat dari mereka. Sedangkan aku langsung pasrah, aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi karena kondisiku yang sudah tidak mempunyai tenaga lagi untuk melawan. Kami di bawa masuk ke dalam rumah. Para bodyguard itu menghempaskan tubuhku ke lantai. Kurasakan Seung Won memelukku.

“Pasangan yang sangat serasi bukan?” sebuah suara perempuan terdengar sangat arogan. Meskipun aku tidak melihatnya karena mataku yang kini tertutup akibat terlalu lelah, tapi aku tahu kalau itu adalah Min Jee. “Donghae-ah, apa yang kau lakukan pada Eunhyuk?” terdengar nada terkejut dari suaranya. Kurasakan tangannya membelai wajahku.

Plaak . . .

Kudengar suara tamparan, tapi siapa menampar siapa? Apakah Min Jee pada Donghae?

“Ya! Apa yang kau lakukan?” kudengar suara teriakan Donghae. Sepertinya tebakanku benar.

“Kau sudah berjanji tidak akan membuatnya terluka parah seperti ini, tapi kau malah membuatnya lebih parah dari yang kubayangkan.”

“Kalau tidak begitu, dia akan terus melawan. Dan itu akan membuatmu susah besok pagi saat kau membawanya ke Amerika. Dengan keadaannya yang seperti ini, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa.” Kudengar suara Donghae menjelaskan dengan tenang.

“Ternyata tidak salah, kau memang sepupuku.” Terdengar tanggapan dari Min Jee. “Jadi, apa yang akan kita lakukan pada mereka?”

“Masukkan mereka ke dalam ruangan yang berbeda.” Perintah Donghae. Kemudian anak buahnya memisahkan aku dan Seung Won. Kurasakan genggaman erat tangan Seung Won di tanganku. Dia tidak mau melepaskanku.

“Lepaskan aku!” kudengar teriakan Seung Won. “Donghae, aku tidak menyangka ternyata kau sejahat ini.”

Kami terpisah, anak buah Donghae memisahkan kami atas perintah Donghae. ‘Seung Won-ah, mianhae! Aku tidak bisa melakukan apapun.’ Batinku menangis. Anak buah Donghae membawaku ke sabuah ruangan. Ruangan itu terang karena cahaya lampu. Kemudian kurasakan sesuatu yang empuk di punggungku. Ternyata mereka membaringkanku di tempat tidur.

“Kalian boleh keluar, dan tolong ambilkan air hangat.” Kudengar suara Min Jee.

“Eunhyuk-ah, gwaenchana?” kubuka mataku perlahan. Ada gurat kesedihan disana. Aku tahu dia pasti sedih melihat keadaanku yang sekarang. Walau bagaimanapun, dia pasti sangat menghawatirkanku. Karena aku tahu, dia sangat menyayangiku.

Kurasakan dinginnya di bagian wajahku. Sepertinya Min Jee sedang mengompres memar di wajahku.

“Hyuk-ah, mianhae! Kulakukan ini karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau kehilanganmu.” Kudengar suaranya, tapi tidak kupedulikan. Aku terlalu lelah untuk menanggapinya. Setidaknya, malam ini mereka membiarkanku untuk istirahat dengan tenang.

Kudengar suara ribut-ribut di luar kamar. Apa yang sedang terjadi. Dengan sekuat tenaga aku bangun dari tidurku dan mengintip dari balik pintu. Semua penjaga terlihat panik. Kulihat seseorang berlari ke arahku. Min Jee, dia berlari dan wajahnya terlihat panik. Dia membuka pintu dengan keras membuatku sedikit mundur ke belakang.

“Hyuk, ikut aku!” dia tiba-tiba menarik tanganku. Tapi segera kuhempaskan.

“Jelaskan padaku, apa yang sedang terjadi?”

“Polisi tiba-tiba mengepung rumah ini, aku tidak tahu siapa pelakunya. Yang jelas, sekarang kau harus ikut denganku. Besok kita harus kembali ke Amerika.” Jelas Min Jee sambil sambil berusaha menarik tanganku kembali. Tapi aku menghindar.

“Kali ini aku tidak bisa menuruti permintaanmu. Aku harus kembali kepada keluargaku.”

“Jangan bodoh, kau tahu aku bisa melakukan apapun.”

“Apapun yang akan kau lakukan, aku akan selalu menghalanginya.” Tegasku.

Tidak jauh dari arah belakang Min Jee, kulihat Donghae menarik tangan Seung Won dan Jihyuk yang menangis. Aku berlari mendekati mereka dan melewati tubuh Min Jee.

“Donghae, berhenti!” teriakku. Dia berhenti dan menatapku.

“Hyuk-ah!” kudengar gumaman Seung Won. Aku menatap sayu padanya.

“Appa . . .” ucap Jihyuk masih menangis.

Tiba-tiba Donghae mengambil pistol dari belakang tubuhnya. Aku terhenyak kaget melihatnya. Dia mengarahkan pistolnya pada Seung Won.

“Apa yang kau lakukan?” teriakku.

“Kau dan aku sangat mencintainya bukan? Diantara kita tidak ada yang mau mengalah, jadi lebih baik dia mati.” Ucap Donghae tenang.

“Kau gila.”

“Ya, aku memang gila Hyuk-ah. Aku gila karena istri tercintamu ini.” Donghae menelusuri wajah Donghae dengan pistol yang ada di tangannya.

“Bunuh saja wanita itu Donghae-ah, agar tidak ada lagi yang bisa menghalangi hubunganku dan Eunhyuk.” Ucap Min Jee. Aku menatapnya tajam. Mereka berdua sama-sama gila.

Kulirik anak buah Donghae yang berdiri di sampingku. Dia membawa pistol di balik bajunya, dengan cepat aku mengambilnya dan menyandera orang itu sebagai tawananku.

“Heh, percuma kau gunakan dia sebagai tawananmu. Aku tidak membutuhkannya.” Ucap Donghae meremehkanku. Kutarik pelatuk pistolku, orang yang menjadi tawananku kini sudah mengeluarkan keringat dinginnya.

Kuhempaskan tubuhnya ke lantai, aku langsung menunduk lalu menembak kaki Donghae. Donghae yang kesakitan langsung melepaskan Seung Won dan Jihyuk dari tangannya. Seung Won menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri dari Donghae. Namun sayang, aku yang saat jatuh tadi menunduk tidak memperhatikan langkahku. Aku jatuh tersungkur ke lantai dan Donghae mendapatkan kesempatan itu. Dia mengarahkan pistolnya ke arahku. Aku yakin sudah tidak ada kesempatan lagi untukku. Sepertinya ini akan jadi malam terkakhirku. Kututup mataku menunggu rasa sakit yang ditimbulkan tembakan Donghae.

Dorr . . .

Prang . . .

(Duh, ini suara gak banget deh, tapi peduli amat deh. Amat aja gak peduli.)

Aku mendengarnya, aku mendengar suara tembakan Donghae.

“Hyuk-ah . . .” kubuka mataku saat mendengar namaku di sebut. Aku terbelalak kaget saat melihat Min Jee terkapar di depanku.

“Min Jee-ah, apa yang kau lakukan?” aku langsung mengangkat kepalanya ke atas pangkuanku. Aku tak kuasa menahan air mataku keluar. Bagaimanapun, dia adalah sahabatku.Ternyata dia melindungiki dari tembakan Donghae. Kulihat Donghae pun tidak berdaya, dia pingsan. Seung Won memukul kepalanya dengan guci saat dia melepaskan tembakannya. Sementara para anak buahnya sudah ditangani oleh polisi.

“Saranghae, mungkin ini bisa membuktikan padamu. Kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu.” Suaranya semakin kecil, matanya pun semakin sayu.

“Min Jee-ah, bertahanlah!”

“Ani.” Min Jee menggeleng. “Bolehkah aku meminta sesuatu?” aku menganggukkan kepalaku. “Kumohon cium aku untuk pertama dan terkahir kalinya.” Kukabulkan permintaannya. Kukecup bibirnya lembut, dan pada saat itu pula. Pegangan tangannya padaku melemah. Aku menatapnya tidak percaya.

“Min Jee-ah, ireona!” teriakku. Seung Won menghampiriku dan berusaha menenangkanku.

“Hyuk-ah!” lirihnya. Kulepaskan Min Jee dan langsung memeluk Seung Won kedalam dekapanku.

~~~

Setelah kejadian itu, aku kembali berkumpul bersama keluargaku. Keluarga Seung Won dan keluargaku mengerti dengan keadaan yang aku hadapi. Aku kembali ke kantor dan kembali menjabat sebagai direktur di perusahaanku sendiri. Jihyuk sempat shok karena kejadian itu, tapi karena aku dan Sseung Won terus membantunya. Akhirnya dia kembali ceria seperti dulu lagi. Seung Won kembali menjalani perannya sebagai ibu rumah tangga. Dia ingin lebih berada dekat dengan Jihyuk. Cukup aku saja yang bekerja, lagi pula dia merasa tidak cocok bekerja di kantor. Membosankan katanya. Sementara Donghae harus menjalani hukumannya di penjara atas tuduhan penculikan dan perlakuan kekerasan. Semoga setelah keluar dari penjara, dia sadar dengan apa yang dilakukannya pada kami.

“Jihyuk-ah, kaja!” teriak Seung Won.

“Ya! Bisa tidak kau tidak teriak satu hari saja?” protesku sambil membenarkan dasiku. “Lebih baik kau bantu aku membetulkan ini!” perintahku lalu berdiri di hadapannya.

“Kau lupa, Jihyuk adalah pengiring pengantin. Dia tidak boleh terlambat.”

“Ne, arraseo!”

Setelah semuanya siap, kami langsung pergi menuju gereja untuk menghadiri pernikahan Dohyun dan Sohee. Ya, semenjak aku tidak bekerja lagi di perusahaan Min Jee. Aku kembali menjadi Big Boss, dan Dohyun memintaku untuk memberinya pekerjaan. Aku menjadikannya sebagai sekretarisku. Dan akhirnya aku mempunyai dua orang sekretaris. Satu hal yang tidak kuduga, ternyataDohyun dan Sohee saling menyukai. Setelah menjalani hubungan kilat, kalau tidak salah hanya 6 bulan mereka pacaran. Mereka langsung memutuskan untuk menikah. Benar-benar singkat.

“Apa aku bilang, macet kan?” gerutu Seung Won.

“Aish, kenapa tiba-tiba macet seperti ini?” kesalku.

Ddddrrrttt . . .

Iphone ku bergetar, nama Dohyun terpampang di layarnya. Aku langsung mengangkatnya.

“Hyung, eodi?” teriaknya.

“Ya! Kau tidak perlu berteriak seperti itu. Aku masih di jalan, terjebak macet. Mungkin 15 menit lagi aku baru sampai.”

“Mwo? Kau tahu tidak, acaranya 10 menit lagi di mulai.”

“Mwoya? Baiklah, kami akan sampai 10 menit lagi.” Aku berpikir keras, bagaimana caranya keluar dari kemacetan ini. Kuparkirkan mobilku ke pinggir.

“Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Seung Won heran.

“Kau bisa berlari bukan?”

“Huh?” dia menatapku heran.

Akhirnya pagi itu kami harus mandi lagi. Lebih tepatnya mandi keringat. Aku, Seung Won dan Jihyuk berlari menuju gereja tempat pernikahan Dohyun dan Sohee. Terkadang Jihyuk meminta aku untuk menggendongnya karena lelah. Akhirnya kami sampat di tempat tujuan dalam waktu 10 menit. Badan kami basah karena keringat, Dohyun dan Sohee menyambut kami di depan gereja dengan wajah gelisah.

“Ya! Darimana saja kalian?” ucap Sohee kesal.

“Mianhae, kami terjebak macet.” Jelas Seung Won.

“Sudahlah, acara akan segera dimulai. Dohyun, ayo cepat masuk. Biar aku yang mengurus disini.” Ucap appa Sohee yang saat itu ada disana.

“Jeongmal, mianhamnida ahjussi!” ucapku padanya.

“Ne, arraseo! Jihyuk-ah, ayo berdiri di depan ahjumma bersama Soo Ra.” Jihyuk mengangguk lalu menuruti perintahnya untuk berdiri di depan Soo Ra, keponakan Sohee. Mereka masuk ke dalam, sementara aku dan Seung Won masuk melalui pintu samping.

Akhirnya setelah mengucapkan janji sehidup semati, mereka sah menjadi suami istri. Acara dilanjutkan dengan resepsi pernikahan di kebun yang ada di samping gereja. Aku, Seung Won, Dohyun, dan Sohee berkumpul bersama sambil mengobrol. Ketika sedang mengobrol, tiba-tiba Sohee seperti ingin muntah.

“Sohee-ah, gwaenchana?” Tanya Dohyun khawatir. Tiba-tiba aku mendapatkan sebuah ide.

“Sohee-ah, apakah kalian sudah pernah melakukannya?” tanyaku. Dohyun dan Sohee menatapku aneh. “Jihyuk-ah, kau akan segera mempunyai adik.” Teriakku pada Jihyuk.

“Apakah pengantin wanitanya sudah hamil?” Tanya salah satu tamu.

“Mungkin saja?” aku terkikik karena berhasil mengerjai mereka. “Buktinya, Sohee-ssi sudah mual-mual. Sontak mata semua tamu tertuju pada Dohyun dan Sohee.

“Aniyo!” teriak mereka serempak. Wajah mereka tampak sangat panik.

“Ahjussi, ahjumma. Jeongmal? Benarkah apa yang di katakan appa barusana?” Tanya Jihyuk polos.

“Hyung!” teriak Dohyun padaku. Dia berniat memukulku, tapi aku berlari menghindarinya. Akhirnya kami seperti anak kecil yang bermain kejar-kejaran. Haha . . .

Semoga kehidupan kami akan selalu seperti ini smpai akhirnya kami semua diambil oleh yang maha kuasa.

END

Akhirnya ending juga. Makasih wat semua yang selalu nagih ff ini, karena kalian aku jadi semangat buat nyelesain ff ini. Kalo gak ada kalian, mungkin ff ini akan sedikit terabaikan. Maaf kalo ending gak sesuai dengan harapan kalian. Masih banyak ff ku yang udah nunggu wat di lanjutin. Jadi kalo ada yang minta sequel dari ff ini, wah aku mesti mikir2 lagi. Pokoknya makasih wat semua. Sampai ketemu di ff ku yang selanjutnya.

10 thoughts on “Accident Part 13 END”

  1. donghae ku jadi jahat. Hmm -,-
    untung cuma peran, jadinya tenang deh. Heee…*apaan sih?

    Akhirnya, happy ending deh. Seneng bisa liat mereka ngumpul lagi.

    Ditunggu next ffnya ya… ^^,

  2. fiuhh..#lapkeringat
    akhirnyaa,,,jarang2 donghae dapat peran sadis gitu,,biasanya dia kan jd orang yang teraniaya..
    happy end, johaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s