Don’t Force Your Self #1

“Don’t Force Yourself! #1”

Setelah baca tolong comment yaa ^^

Don’t plagiat!!!

 

Author : Sussan Doank

Main cast. Choi Minho, Go  Ahra aka Lee Kyora

Support cast. Lee Taemin, Lee Jinki, Kim Kibum aka Key, Lee Hyun ji aka Han Sora, SHINee

Genre. Romance, Friendship, Family

_______________________________________________

 

Lee Kyora POV

“Lee Kyora,, chamkkanman!!”, panggil seseorang yang yang membuat langkahku terhenti dan memutar tubuhku menghadap seseorang yang memanggilku tadi.

“Ne Park songsaenim, ada apa?”, tanya ku seraya membungkukkan badanku. Ternyata yang memanggilku barusan adalah Park songsaenim wali kelasku.

“Untung saja kau belum pulang, bisakah kau merapihkan laporan-laporan tugas kelasmu dan setelah selesai segera simpan di ruanganku?”, belum sempat aku menjawab permintaan Park songsaenim tapi Park songsaenim sudah memberikan tumpukan laporan-laporan yang dibawanya kepadaku. Aku hanya bisa melongo melihat tumpukan laporan tugas kelasku yang tidak bisa dibilang sedikit itu.

“Baiklah segera selesaikan, jangan menundanya”, titah Park songsaenim.

“Tap- tapi songsaenim aku harus-“, ucapku terhenti karena Park songsaenim sudah pergi meninggalkanku sebelum aku menolak perintahnya.

“Aiisshhh~ lagi-lagi seperti ini. Haah~”, gumamku kesal. Kenapa selalu aku yang disuruh ini-itu memangnya tidak ada siswa lain yang bisa membantunya. Terpaksa hari ini aku tidak bisa langsung pulang lagi. Aku berjalan dengan langkah gontai menuju perpustakaan untuk merapikan laoran-laporan ini.

Sebelumnya perkenalkan namaku Lee Kyora, aku siswa tingkat 2 di Gangnam Senior High School. Beginilah keseharian ku di sekolah, orang-orang selalu saja meminta tolong padaku tanpa mendengarkan dulu apa yang ingin aku katakan. Sebenarnya aku malas jika disuruh ini-itu, bukannya aku tidak mau menolong orang-orang tapi tiap kali mereka memintaku untuk menolong mereka selalu di waktu yang tidak tepat dan mereka tidak akan memberikanku kesempatan untuk menolaknya.

Mungkin sebenarnya yang salah bukanlah mereka tapi kesalahan itu terletak pada diriku sendiri yang sulit sekali untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hatiku. Terkadang aku selalu memarahi diriku sendiri karena  aku terlalu takut untuk mengungkapkan apa yang ada didalam diriku kepada orang-orang, aku takut mereka menjadi berpikiran negatif kepadaku.

Aku menjatuhkan tumpukan laporan-laporan itu di atas meja, untung saja hari sudah sore jadi di perpustakaan sudah tak ada siswa-siswa lain, yang mungkin bisa saja akan memarahiku karena suara  yang dihasilkan dari laporan-laporan yang aku jatuhkan tadi lumayan keras untuk tempat yang hening seperti ini. Aku segera merapikan laporan-laporan itu agar aku bisa segera pulang.

“Berantakan sekali laporan-laporan ini, sebenarnya bagaimana cara songsaenim menyimpannya semua laporan ini jadi bercampur. Sepertinya akan memakan waktu lama untuk  membereskannya”, umpatku kesal seraya memisahkan lapoaran-laporan itu. Jinki oppa pasti akan memarahiku lagi.

Choi Minho POV

Jadi ini sekolah yang akan menjadi sekolahku besok, hem.. lumayan tapi tetap saja tak sebesar sekolah ku di Amerika dulu. Oh iya perkenalkan namaku Choi Minho,  mulai besok aku akan bersekolah disini, kini aku duduk di tingkat 2. Setelah 7 tahun aku meninggalkan Korea dan  tinggal di Amerika bersama kedua orang tuaku kini aku kembali ke tanah kelahiranku. Ternyata korea sudah banyak berubah semejak kepergianku ke Amerika. Aku memutuskan kembali ke Korea karena jujur aku merasa tidak betah tinggal disana, dengan banyak pertimbangan dari kedua orang tuaku akhirnya mereka menyetujuinya dan disinilah aku berada sekarang. Orang tuaku masih tetap di Amerika karena mereka tidak mungkin meninggalkan perusahaan yang mereka kelola disana, jadi sekarang aku hanya tinggal seorang diri di Korea. Aku menyewa apartemen yang tidak terlalu besar yang tak terlalu jauh dari sekolah ku sekarang.

Aku melihat-melihat sekolahku terlebih dahulu sebelum aku masuk besok, sudah menjadi kebiasaanku sebelum aku masuk sekolah baru aku selalu berkeliling terlebih dahulu. Aku terus menapaki kakiku ke seluruh penjuru sekolah ini. Sekolah sudah sepi, aku hanya melihat beberapa orang guru yang sepertinya masih sibuk dengan pekerjaannya karena aku melihat mereka tengah serius membolak-balikkan buku yang aku tidak tahu buku apa itu. Lalu aku meneruskan perjalanan (?) ku untuk mengelilingi sekolah ini.

Langkahku terhenti di suatu ruangan yang bertuliskan PERPUSTAKAAN diatas pintunya. Aku memasuki ruangan itu yang masih terbuka, aku berjalan seraya melihat rak-rak yang berisikan deretan buku-buku tebal. Langkahku terhenti ketika melihat seorang yeoja yang sedang duduk di salah satu meja yang ada di perpustakaan itu tengah sibuk membereskan yang kuduga itu laporan tapi entah laporan apa. Aku memperhatikan yeoja itu yang tengah bergumam tak jelas sepertinya dia sedang kesal terlihat jelas dari raut wajahnya yang ditekuk itu. Aku tersenyum kecil melihat wajahnya yang lucu itu.

Aku melihat sepertinya dia sedang kesulitan. Apa sebaiknya aku membantunya ya, hitung-hitung berkenalan dengannya dan mengajaknya berteman. Aku pun mendekatinya.

“Apa kau butuh bantuan? Sepertinya kau sedang kesulitan”, kataku mengawali pembicaraan.

“Ani,, gomawo. Aku bisa membereskannya sendiri”, tolaknya halus tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan kertas-kertas itu. Untuk beberapa saat keheningan menghampiri kami. Aku bingung sekarang aku harus melakukan apa, aku ingin pergi tapi kakiku sama sekali tak bsa di gerakan. Dan hatiku seolah berkata, aku tak boleh meninggalkannya karena pasti dia membtuhkan bantuan.

“Kenapa kau berdiri terus disitu, apa kau tidak lelah? Disini disediakan banyak kursi sayang sekali kalau tidak digunakan”, ucapnya ketika melihatku masih saja berdiri di hadapannya dan dari kata-katanya itu aku menangkap kalau dia menyuruhku untuk duduk. Akhirnya aku pun duduk di bangku yang ada di depannya. Dia menghentikan sejenak pekerjaannya seraya menatapku tajam.

“Hem.. kau bukan siswa sini kan?’, tanya yeoja itu. Aku mengerutkan keningku tak mengerti dengan maksud ucapannya. Dia pun mengangkat jari telunjuknyake arahku. Aku mengikuti arah telunjuknya yang tertuju pada pakaian biasa yang sedang aku kenakan. Aku pun mengerti.

“Oohh.. perkenalkan choneun Choi Minho imnida, aku murid baru disini, dan sekarang aku sedang melihat-lihat dan tak sengaja melihatmu disini”, aku memperkenalkan diriku padanya. dan dia hanya menganggukkan kepalanya kemudian dia meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.

“Benar kau tidak butuh bantuanku?”, tawarku sekali lagi. Dan lagi-lagi ia hanya menolak. Yeoja yang aneh, aku tau dia sedang kesulitan tapi dia malah menolak bantuanku.

xxxxxxx

Lee Kyora POV

Huuuaammm… aku masih mengantuk, semalam Jinki oppa memarahiku hbis-habisan karena aku pulang jam 8 malam tanpa memberikan kabar padanya dan untungnya ada Taemin yang bisa menenangkan Jinki oppa, kalau tidak mungkin sampai pagi Jinki oppa memarahiku.

Oh iya, aku belum bercerita tentang keluargaku. Aku tinggal di sebuah apartemen yang tak jauh dari sekolahku, aku tinggal bersama dengan oppaku Lee Jinki, dia sekarang sedang kuliah semester 4 di Kyunghee University dan namdongsaengku Lee Taemin, dia berbeda 3 tahun dariku, sekarang dia duduk di tingkat 2 SMP di sekolah khusus namja. Sedangkan orangtua kami, mereka berada di Busan untuk menjaga harabeoji dan halmeoni yang sering sakit-sakitan. *Kembali ke cerita*

Aku menundukan kepalaku diatas mejaku berusaha untuk tidur sejenak, tapi keinginanku untuk tidur hancur sudah karena sahabatku Jung Sora tiba-tiba datang ke kelasku.

“Kenapa lagi kau, Kyo~ah? Apa semalam kau dimarahi oleh Jinki oppa lagi?”, tebak Sora. Aku hanya menganggukan kepalaku seraya menghela nafas ringan.

“Sudahlah sebaiknya kau bersemangat sekarang, karena aku dengar akan ada murid baru dan murid baru itu seorang namja. Aku harap di namja yang tampan”, ucap Sora berangan-angan.

“Lalu apa hubungannya denganku?”, kini aku menompangkan kepalaku di kedua tanganku seraya menatap Sora yang sepertinya dia sedang berada di alam mimpinya. Aku mengibaskan tanganku di depan muka Sora yang membuat Sora kembali ke dunianya.

“Tentu saja ada kalau dia benar namja yang tampan, cobalah kau dekati dia dan jadikan dia pacarmu”, aku melongo mendengarkan kalimat yang baru saja keluar dari mulut sahabatku ini.

“Kau lupa aku kan sudah punya dia”, aku menunjuk seorang nmja yang kini sedang melambaikan tangannya padaku lalu aku membalas lambaian tangannya seraya tersenyum. Setelah itu namja itu pun masuk ke kelasnya.

“Cih~ Kim Kibum. Kau masih saja menyukai playboy itu. Seharusnya kau memutuskannya tapi kenapa kau masih saja mempertahankannya”, Sora mendengus pelan diikuti jitakan pelan dariku.

“Dia tidak seperti yang kau bayangkan Sora~ah, jauhkan pikiran-pikiran negatif tentangnya”, aku menunjuk kening Sora dengan telunjukku. Lagi-lagi dia aya mendengus pelan. Aku tak tau kenapa Sora sangat tidak menyukai Kibum yang biasa dipanggil Key itu, bahkan Sora sempat menentangku ketika aku dan Key menjalin hubungan. Ini sudah bulan ke 6 hubunganku dengan Key tapi Sora masih saja tetap tidak menyukainya, karena dia berfikir Key itu seorang playboy, karena key selalu dekat dengan yeoja-yeoja lain, tapi aku hanya berfikir karena Key itu orang yang baik dan cepat beradaptasi jadi aku tak heran jika dia dekat dengan semua orang termasuk yeoja di sekolah.

“Gurae,, percuma juga aku mengatakan itu padamu, karena kau pasti tidak akan mempercayaiku dan terus memuja-muja Key si playboy itu”, Sora akhirnya menyerah, aku tahu dia tidak akan menang jika sudah berdebat denganku, aku pun tersenyum penuh kemenangan.

“Sebaiknya buka matamu lebar-lebar, Kyo`ah”, ucapnya sebelum ia pergi meninggalkan kelasku menuju kelasnya yang berada di sebelah kelasku.

“Apa maksud ucapannya tadi?”, gumamku pelan.

Bel masuk sudah berdering, itu menandakan kelas akan dimulai. Pak songsaenim pun masuk ke kelasku tetapi dia tak sendiri ada seorang namja dengan perawakan tinggi dan mata yang besar mengikuti Park songsaenim di belakangnya.

“Hari ini ada murid pindahan dari Amerika, silahkan perkenalkan dirimu tuan Choi”, ucap Park songsaenim. ‘Sepertinya aku pernah melihat namja itu tapi dimana ya’, batinku. Aku berusaha mengingat-ngingat namja itu, tapi sepertinya percuma ingatanku dalam mengingat orang-orang sangatlah buruk. Lupakanlah, toh nanti juga kenal dia kan teman sekelasku.

“Annyeong haseyo, Je ireumeun Choi Minho imnida, manaseo ban gawayo”, ucapku memperkenalkan diri seraya membungkukkan badanku.

Tunggu Choi Minho, nama itu seperti tak asing bagiku. Aku kembali mengingat-ngingatnya, dimana aku pernah bertemu dengannya? Apa dia teman SMP ku? Beberapa pertanyaan memutari otakku. Aku menggelengkan kepalaku karena tak kunjung mengingatnya. Sampai khirnya namja itu kini duduk di meja yang berada tepat di depanku. Sekilas dia tersenyum padaku lalu aku membalas senyumannya. Dia memutar sedikit badannya sehingga menghadapku.

“Apa kau masih ingat denganku?”, bisiknya padaku.

“Nuguseyo?”, tanyaku dengn wajah innocent. Terdengar dia menghela nafas. Setelah itu kami pun terhanyut dalam pelajaran yang dibawakan Park songsaenim.

“Apa kau benar-benar lupa padaku?”, tanya Minho setelah kelas selesai dan kini kami sedang istirahat.

“Ne, aku benar-benar tidak mengingatnya. Apa kau teman SMP ku dulu?”, tanyaku balik yang masih belum mengingatnya. Lagi-lagi aku mendengar dia menghela nafas.

“Gurae.. ‘Apa kau tidak butuh bantuanku?’ kata-kata itu apa kau ingat?”, aku kembali mengingat-ngingatnya, dan akhirnya aku ingat sekarang dia Choi Minho yang menawarkan bantuan padaku kemarin ketika aku sedang merapikan laporan-laporan yang diberikan Park songsaenim.

“Hooo… aku ingat sekarang kau yang kemarin di perpus itu kan”, kataku seraya menepuk telapak tanganku.

“Akhirnya kau ingat juga, hem….”. Dia menatapku bingung, tapi aku tahu apa yang ia bingungkan.

“Kyora,, Lee Kyora”, sambungku. Aku lupa memperkenalkan diriku padanya kemarin karena aku terlalu fokus merapikan laporan-laporan itu.

“Mian, aku sempat melupakanmu aku memang lemah dalam mengingat orang, hehe…” lanjutku seraya ersenyum padanya. Percakapan kami terhenti karena seorang namja memanggilku dari ambang pintu.

“Chagi, ayo kita makan aku sudah lapar”, teriak Key dari ambang pintu.

“Aku pergi dulu Minho~ssi”, pamitku pada Minho sebelum aku berlari kearah Key yang sedang menungguku.

“Siapa dia?”, tanya Key sesaat kami tengah berjalan menuju kantin.

“Choi Minho, dia murid baru hari ini”, jawabku dan Key hanya ber-OH ria.

“Jangan dekat-dekat dengannya”, kata Key tiba-tiba, sontak aku menatap kearah Key.

“Waeyo?”, tanyaku seraya mengerutkan keningku.

“Pokoknya jangan”, jawabnya singkat lalu mengacak rambutku. Haha… sepertinya dia cemburu pada minho, Batinku. aku tersenyum melihat Key yang cemburu seperti ini. baru kali ini aku melihat Key cemburu padaku.

“Kyora, kami minta tolong padamu. Tolong gantikan kami piket hari ini karena kami semua tiba-tiba ada urusan mendadak dan kami tidak bisa membatalkannya”, ucap Heera beserta teman-teman yang lain. Astaga alasan apa lagi yang mereka gunakan untuk membolos piket. Lagi-lagi mereka menyuruhku untuk melakukan semuanya sendiri.

“Tap- tapi hari ini aku juga ad-“, belum sempat aku meneruskan kata-kataku Heera sudah memotongnya duluan.

“Kami janji minggu depan tidak akan seperti ini lagi”, potong Heera seraya mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya dan teman-teman yang lain pun melakukan hal yang sama.

“Baiklah”, ucapku pasrah. Pabbo Kyora, kenapa kau malah mau saja, runtukku. Heera dan teman-teman yang lain pun tersenyum senang dan beranjak meninggalkan kelas yang kini sudah kosong.

“Jeongmal pabbo~ya Kyo!!”, ucapku pada diriku sendiri.

“Kenapa kau tidak bilang kalau kau juga tidak bisa”, aku tersentak kaget mendengar seseorang berkata padaku. Aku kira hanya tinggal aku sendiri saja yang masih berada di sekolah pada jam segini tapi ternyata tidak. Aku membalikkan badanku dan menemukan Minho yang tengah berdiri tak jauh dariku.

“Bagaimana kau bisa ada disini? Dan bagaimana kau tau kalau aku-“, untuk kedua kalinya hari ini perkataanku dipotong oleh orang lain.

“Ada barangku yang tertinggal dan aku tak sengaja mendengar percakapanmu dengan teman-teman yang lain. Mereka memintamu untuk menggantikan tugas piket mereka padamu dan kau mengiyakan permintaan mereka begitu saja. Apa kau selalu berbuat seperti ini?”, tidak aku sangka ternyata Minho orangnya banyak bicara, sangat tidak sesuai dengan penampilannya yang terkesan pendiam dan akan bicara kalau ada perlunya.

“Begitulah Lee Kyora, kalau tidak begitu bukan Kyora namanya”, tiba-tiba Sora datang dan menyalip percakapan kami –aku dan Minho-. Aku dan Minho pun sontak melihat kearah Sora.

“Kenapa kalian menatapku seperti itu? Dan ommo~ bukankah kau murid baru itu? Ternyata sesuai dugaanku kau tampan”, puji Sora yang membuat Minho senyum-senyum karena salah tingkah.

“Kenalkan Han Sora imnida, aku sahabat Kyora”. Sora memperkanalkan dirinya seraya menjulurkan tangannya kearah Minho. Minho pun dengan suka hati membalas uluran tangan Sora.

“Choi minho imnida”, ucapnya seraya tersenyum dan senyuman Minho cukup mampu membuat Sora terpesona olehnya.

“Sebaiknya aku membantumu supaya cepat selesai”, tawar Minho setelah acara perkenalannya dengan Sora selesai.

“Minho~ssi sebaiknya kau tidak perlu susah-susah menawarkan bantuan, Kyora pasti akan menolaknya. Dia memang selalu begitu sulit untuk menolak permintaan orang lain dan juga sulit untuk menerima batuan dari orang lain, dan jangan sekali-kali kau memaksa untuk membantunya karena Kyora pasti akan marah padamu. Kau tau kalau Kyora sudah marah setan pun kalah”, cerocos Sora pada Minho dan Minho hanya terkekeh pelan.

Pletak~

“Kau jangan mengatakan yang tidak-tidak tentangku  padanya”, ucapku pada Sora setelah menoyor kepalanya. Sora hanya menjulurkan lidahnya tanda tak peduli.

“Kemana namjachingumu, kenapa dia tidak menunggumu?”, tanya Minho seraya menarik kursi dan mendudukinya, Sora pun melakukan hal yang sama.

“Dia sedang sibuk kerja part-time jadi kami tak penah pulang bersama”, jawabku seraya menghapus papan tulis.

“Dia bukan sibuk kerja, tapi sibuk berkencan dengan yeoja-yeoja simpanannya”. Aku segera menatap tajam kearah Sora yang lagi-lagi berbicara sembarang.

“Akh,, arra arra.. aku tak akan berbicara sembarangan lagi. Cepatlah kau selesaikan piketmu dan kita kerumahmu aku sudah tidak sabar menemui Taeminku”.

“Cih~ Taeminmu!!”, ejekku yang membuat Sora cemberut. Ya, sahabatku ini sangat menyukai Taemin, tapi bukan dalam arti menyukai seperti seorang yeoja kepada namja melainkan seperti seorang kakak kepada adiknya, bisa dibilang sama sepertiku.

xxxxxxx

Lee Kyora POV

“Lagi-lagi kau memaksakan dirimu sekali-kali menolaklah bila seseorang meminta bantuanmu, aku tau terkadang kau merasa keberatan”, ucap Minho ketika memergokiku sedang membawakan tumpukan-tumpukan pamflet yang baru saja temanku meminta tolong kepadaku untuk membawa pamflet-pamflet itu ke ruang guru.

“Kau lagi bisa tidak kau tidak berkeliaran terus di sekitarku? Kau itu mengganggu tau. Dan jangan pernah ikut campur dalam urusanku, keberatan atau tidak itu masalahku tak ada hubungannya denganmu. Sudahlah sana pergi”, ucapku ketus seraya berjalan melewatinya, tapi Minho malah menghalangiku, aku mendongakkan kepalaku untuk menatapnya karena dia lebh tinggi 20 cm dariku. Mau apa lagi dia? Tidakkah dia merasa bosan terus mengekoriku bahkan selalu merecokki urusanku.

Minho mengambil sebagian pamflet-pamflet yang ada ditanganku untuk dibawanya. “Jangan protes karena aku membantumu seharusnya kau bersyukur karena ada yang bersedia membantumu bukannya menolak bantuan orang. Kau selalu bersedia membantu teman-temanmu tapi kau sendiri malah menolak bantuan orang lain. Dasar yeoja aneh!!”, ocehnya panjang lebar ketika aku hendak memprotesinya untuk tidak membantuku.

Kali ini aku tak bisa memprotesinya karena Minho telah beranjak menuju  ruang guru. Aku pun segera mengikutinya dari belakang. Sudah 2 minggu sejak kepindahan Minho ke sekolah ini, dan selama itu pula dia selalu mengekoriku dan mencampuri urusanku. Aku heran kenapa anak ini selalu mengekoriku, padahal dia sudah memiliki teman bahkan temannya lebih banyak ketimbang diriku yang sudah lama bersekolah disini. Bahkan Minho menjadi terkenal di kalangan yeoja-yeoja disekolahku karena tampangnya yang menurut Sora sngat tampan dibandingkan Key, namjachinguku. Tapi menurutku Key tetaplah yang paling tampan,, hehe…

“Kenapa kau malah melamun,, palli”, Teriak Minho yang melihatku berjalan sambil melamum. Aku baru sadar ternyata daritadi aku berjalan sambil melamun untung saja aku tidak tertabrak pintu atau semacamnya. Aku meliht ke arah Minho yang tengah menatapku kesal.

“Jangan teriak-teriak ini sekolah  bukan hutan!!”, kataku ketika aku sudah mensejajarkan langkahku dengannya.

“Kalau aku tidak teriak kau akan terus melamun. Palli, Sora sudah menunggu kita di gerbang”. Minho menunjuk kearah kaca yang langsung menghadap kearah gerbang, dan disana terlihat Sora yang tengah berdiri seraya melihat jam ditangannya. Terpancar dari wajah Sora yang ditekuk, sepertinya dia telah menunggu lama.

“Kalian lama sekali aku sudah menunggu kalian selama 20 menit. Apa saja yang kalian lakukan?”, sora berkaca pinggang, ketika kami brjalan kearahnya.

“Seperti biasa ini karena dia…”, jawab Minho seraya menunjukku. Aku mendengus kesal seraya melototinya.

“Aiissshhh~ sudahlah kalau kita terus membicarakan kebiasaan Kyora tak akan pernah ada habisnya. Kajja, kita pulang aku sudah lapar”. Kami pun bergegas meninggalkan sekolah. Ya, selama 2 minggu ini pula kami bertiga selalu pulang bersama, karena kami bertiga tinggal di apartemen yang sama hanya berbeda lantai. Sora sebelumnya tinggal bersama orangtuanya, tapi ketika orangtuanya harus ke Eropa karena urusan pekerjaan mereka akhirnya Sora memutuskan untuk tinggal di apartemen dan tak ku sangka dia akan menyewa apartemen di tempat yang sama denganku. Karena itulah kami bertiga selalu pergi dan pulang bersama-sama bahkan tak heran kini aku dan Sora menjadi bersahanat dengan Minho.

“Oh iya Minho tadi ada yeoja dari kelasku yang menitipkan ini padku”, Sora menyodorkan surat beramplop merah muda dengan stiker hati merah ditengahnya kepada Minho. Minho pun mnerimanya lalu membaca surat tersebut kemudian membuangnya.

“Dasar yeoja-yeoja centil!!”, gmam Minho seraya membuang surat itu ke tempat sampah.

Aku dan Sora hanya saling pandang seraya mengangkat bahu kami. Aku dan Sora tidak terkejut dengan sikap Minho yang seperti itu karena kami berdua sudah sering melihatnya seperti itu. Aku heran kenapa Minho selalu bersikap dingin kepada setiap yeoja disekolah terkecuali aku dan Sora. Aku dan Sora juga kan yeoja, tapi Minho bersikap biasa saja bila di hadapan kami bahkan Minho tak malu memperlihatkan sifat aslinya di depan kami.

“Bila yeoja-yeoja yang telah mengirimimu surat-surat itu tau kelakuanmu yang sebenarnya, pasti mereka akan berfikir 2 kali sebelum memberimu surat. Mereka semua telah tertipu oleh tampangmu itu”, oceh Sora yang dihadiahi jitakan di kepalanya oleh Minho, Sora pun meringis pelan.

“Kau seperti tak pernah tertipu oleh tampang Minho saja”, ucapku. Sora melototiku dan Minho hanya terkekeh.

“Tak ada yang bisa menghindari kharismaku ini”, Minho menepuk dadanya, membanggakan diri.

“Cih!! Kau sombong sekali”, cibir Sora yang membuat Minho kini mencekik leher Sora. Aku hanya bisa mengelengkan kepalaku saja melihat kelakuan kedua sahabatku ini. Beginilah aktivitas mereka berdua selama 2 minggu ini saling memaki dan bertengkar seperti anak kecil.

 

To Be Continued~

2 thoughts on “Don’t Force Your Self #1”

  1. haha, sora kasian banget.. kena hajar minho.. kyora, ayo lebih semangat, kasian ya..tapi jinki oppa cuma cash numpang lewat ya? hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s