THE DAY WHEN I DIE

Title       : THE DAY WHEN I DIE

Author  : SHINeerin – GLIMMER TOWN

PG          : 15 +

Genre   : Romance, angst , typo

Cast       : –Park Jiyeon

–Choi Minho

Quote   : “Ijinkan aku menghapus air matanya sebelum aku pergi”

Minho berdiri tercengang melihat tubuh jiyeon yang berkali-kali ditempa oleh alat pemacu jantung oleh dokter Lee. Bibirnya tak henti-hentinya bergeming menahan kata-kata yang ia ingin ucapkan. Pelunya terus menetes mengalir dari dahinya, bunga mawar yang ada digenggamannya kini sudah jatuh terbanting ke tanah. Beberapa kelopaknya terlepas, jiyeon berusaha memunguti dan menyatukan kelopak bunga itu. Tapi saying ia  bahkan tak bisa meraihnya, ia berulang kali meratapi tangannya yang terkesan transparan. Ia segera berdiri dari tempatnya, rambutnya yang terurai tersibak lembut oleh aliran angin yang berasal dari jendela dihadapannya. Matanya membulat, pupil matanya mengecil berusaha memfokuskan objek apa yang ia lihat. Ia tak mempercayai ia dapat melihat dirinya sendiri berbaring diranjang dengan banyak selang yang mengitari tubuhnya. sesekali ia melirik ke cermin yang ada dihadapannya memastikan seseorang yang berbaring diranjang adalah dirinya.

Kini ia memandangi minho yang tengah menahan air mata dipelupuk matanya agar tak terjatuh membasahi pipinya. Jiyeon heran mengapa minho terlihat semengerikan itu, ini adalah kali pertama jiyeon melihat minho menangis.

“mengerikan !” geming jiyeon dengan butiran air mata yang mulai menyembul keluar di ekor matanya.

“wae ? kenapa kau menangis ? hentikan ! aku tidak suka !” bentak jiyeon seraya mencoba mendorong kuat tubuh minho yang ada dihadapannya. Tapi jiyeon tak putus asa ia terus mencoba menggoncangkan tubuh minho. Alhasil ia yang malah jatuh terdorong pantulan energi yang ia lakukan sendiri. Ia jatuh dihadapan kelopak bunga mawar yang ia coba pungut tadi. Air matanya mengalir deras, membasahi sekujur wajahnya. Ia memukul mukul tanah dengan tangannya yang kuat mengepal.

“wae-yo ? kenapa mati seperti ini ? saat aku hidup aku tidak takut mati, kenapa saat mati aku merasa sedih. Kenapa meraih seseorang yang kucintai saja sangat susah. Apa yang harus aku lakukan ?” nada bicara jiyeon semakin berat karena merasa kesedihan yang begitu dalam karena telah menyadari kenyataan ia akan pergi meninggalkan minho untuk selamanya.

“ya ! minho ! kenapa kau harus menangis ! kematian adalah takdir ! semua orang pasti akan mati. Dan aku tahu pasti kau sudah mengetahui aku akan segera mati.” Teriak jiyeon yang sama sekali tak minho dengarkan.

“bahkan saat aku bertemu dirimu dikehidupan selanjutnya. Aku tak akan mau menyerahkan hidupku dengan lelaki cengeng sepertimu. Kumohon hentikan tangismu !” jiyeon tak kuat lagi menahan segala beban yang ada dihatinya, baginya melihat seorang yang amat ia sayangi adalah suatu yang sangat mengerikan. Ia lebih baik  menggoreskan pisau diseluruh tubuhnya dari pada harus melihat pemandangan ini.

Sinar putih menyala begitu terang dihadapannya, semuanya yang ada disekitar jiyeon kini hanyalah biasan cahaya yang menyebar membentuk suatu gradasi yang menyilaukan. Ia segera berdiri dari posisinya tadi, dan segera menyeka air matanya dengan kedua tangannya. Berkali-kali ia melihat kesekeliling tapi yang ia temukan adalah biasan cahaya putih.

“apa sekarang saatnya ?” tanyanya mencoba mendapat jawaban.

“baiklah. Aku akan pergi.” Ucap jiyeon, dengan langkah kaki tetap ia berjalan mendekati sumber cahaya itu. Berbanding terbalik dengan isi hatinya yang amat sangat ingin kembali keruang inapnya untuk memeluk minho.

“aku sudah dilahirkan untuk mati, Ayah ibuku, bahkan tak menginginkanku aku sangat membenci mereka, tapi sekarang aku sadar mereka membuangku karena tak ingin kehilanganku setelahnya. yang kudapat dari kehidupanku hanyalah rasa bahagia bisa mencintai seorang choi minho. Tapi jika Kau ijinkan aku untuk kembali sebentar kedunia, aku berjanji akan menghapuskan air matanya. Aku tidak ingin hidup sebagai kesedihan didalam hidup seseorang, cukup diriku saja yang menyedihkan.” Geming jiyeon yang mengiringi setiap jengkal langkah kakinya.

Sampai akhirnya ia berhenti di ujung sumber cahaya itu, ia menemukan sebuah pintu berwarna putih yang ia anggap sebagai pintu masuk kedunianya yang baru. Perlahan ia menempatkan telapak tangannya di handle pintu yang berbalut emas itu.

“walaupun jika Kau menawarkan kehidupan bahagia dikehidupanku selanjutnya. Aku lebih memilih mengulang kisah ini, asal Kau ijinkan aku kembali untuk sekedar menyeka air matanya.” perlahan jiyeon memejamkan matanya dan mengulir pasti handle pintu itu.

“06.30 pagi, jiyeon sudah meninggal. Tabahkan dirimu choi minho !” sahut dokter Lee sembari menepuk bahu minho yang telah membeku kaku.

Minho tak merespon apapun yang dikatakan oleh dokter Lee. Ia hanya terus-terusan menatap jiyeon yang sudah tidak bernyawa. Tanpa berani sedikitpun mendekati tubuh jiyeon. Suster Kim sudah mulai menaikan selimut berwarna putih untuk menutup wajah jiyeon, tetapi gerakan tangan suster Kim terhenti karena sebuah genggaman tangan. Tangan suster Kim bergetar hebat, pelunya berkali-kali menyembul keluar dari dahinya. Minho hanya bisa membulatkan matanya menatap suster Kim.

Jiyeon menurunkan kembali selimutnya yang telah sampai didahinya. Ia melirik ke orang-orang yang ada disekitarnya masih dalam keadaan menggenggam tangan suster Kim. Dokter Lee, minho, dan suster Kim hanya terpelongoh melihat jiyeon yang tiba-tiba kembali dengan guratan senyum penuh canda yang sering ia umbar kesetiap orang. spontan jiyeon langsung mengambil posisi duduk, karena tidak ada selang-selang lagi yang menghalangi gerakannya.

“mwo ? ya ! suster kim ? kenapa kau begitu ketakutan ? tadi itu aku hanya bercanda. Issh apa wajah cantikku ini sudah mirip seperti kuntilanak ?” sembari perlahan melepaskan genggamannya ditangan suster Kim.

“ya ! dokter Lee. Apa aku begitu cantik sehingga membuatmu tak kunjung melepaskan pandanganmu dariku ? tadi aku hanya menyamar sebagai musang yang pura-pura mati !” canda jiyeon.

“aissh ! dan yang seorang yang satu ini, sudah telat menjengukku. Masih saja menghancurkan bunga mawar pesananku ! cepat kembali ke toko bunga, dan belikan aku segudang mawar !” perintah jiyeon kepada minho yang masih saja diam ditempatnya.

Setelah berhasil meyakinkan dirinya, ini bukanlah khayalan fantasinya ataupun mimpinya. Minho segera berlari dan memeluk tubuh jiyeon dengan hangat. Ia mengeratkan pelukannya seakan tak akan pernah melepas pelukan itu untuk jangka waktu yang lama. Jiyeon membalasnya, ia meletakan kedua tangannya dipunggung minho kemudian menepuknya dengan lembut.

Melihat pemandangan ini dokter Lee dan suster Kim segera meninggalkan ruangan itu. Walaupun dalam pikiran mereka masih penuh dengan tanda tanya akan kejadian yang tadi ia alami. Mereka hanya menterjemahkannya sebagai ‘keajaiban’.

Minho membelai rambut jiyeon yang mulai kusut karena ia belum sempat menyisirnya.

“kau pergi kemana saja, hingga belum sempat menyisir rambutmu ?” bisik minho ditelinga jiyeon

“hissh ! menyebalkan !” jiyeon mendorong tubuh minho ringan dari pelukannya.

Jiyeon segera membuka laci meja yang ada disebelahnya dan mengambil sebuah sisir berwarna merah muda. Diganggangnya bertuliskan identitas “MJ”. Minho segera meraih sisir itu dan menyisir lembut rambut panjang jiyeon.

“au ! yaa ! pelan-pelan pabo !” pekik jiyeon karena rambutnya terjambak.

“nee~~ ya, kau masih memakai istilah pabo untuk menggantikan chagi ?” celetuk minho dengan wajah sumringah. Seakan wajah yang penuh dengan rasa cemas beberapa menit yang lalu kini berubah menjadi wajah seorang yang paling bahagia didunia ini.

“anggap saja begitu !” sembari megacak-acak rambut minho dengan kedua tangannya.

“ahh ya, kenapa kau telat menjengukku ?”

“itu karena umma tiriku kembali mengirimku ke acara perjodohan.” Balas minho

Jiyeon segera berbalik menatap minho, seakan jiyeon ingin memakan minho hidup-hidup. Ya, minho memang terlalu jujur dengan jiyeon. Yang terkadang membuat jiyeon menjadi tidak nyaman. Mata jiyeon menyipit seperti tatapan harimau yang akan menjerat mangsanya.

“wae ? kau cemburu ?” tanya minho seraya mencubit ringan hidung jiyeon.

“bukankah sudah ku bilang untuk memanggilnya umma ? tidak perlu embel-embel umma tiri ! arraseo ? lagipula yeoja yang bernama Krystal kemarin sudah cukup cantik kenapa ummamu mencarikannya lagi?”

“karena aku menolaknya.” Sembari meletakkan kembali sisir itu dilaci meja.

“wae ? dia adalah yeoja yang cantik dan baik. Apalagi yang kurang darinya ? ia bahkan menjengukku dengan membawa roti yang sangat enak.” Celetuk jiyeon pada minho yang tak henti-hentinya memandanginya.

“karena dia bukan dirimu.” Seusai mengatakannya minho langsung menempatkan bibirnya di bibir jiyeon dengan lembut. Jiyeon yang menyadari kejadian spontan itu segera menutup matanya.

-Skip-

08.30 pagi

Jiyeon dan minho duduk di sebuah kursi yang ada diseberang kolam ikan rumah sakit. Sesekali minho mengambil kerikil yang ada digenggaman jiyeon lalu dilemparkan kekolam sehingga menimbulkan bunyi-bunyi kecipung air. Pandangan mereka sesekali bertautan dan diakhiri dengan senyuman kecil.

“jika suster Shin mengetahuinya, ia akan memarahi kita.” Celetuk jiyeon yang masih mengenakan seragam pasien rumah sakit.

“biarkan saja, itu salah rumah sakit yang tidak menjual makanan ikan !” balas minho.

“shhh ! aku bosan, bagaimana jika kita berjalan-jalan keluar ?” usul jiyeon seraya mengerlingkan matanya untuk menggoda minho.

“mana boleh, kau adalah pasien.”

“isssh, saat di SMA bahkan ada sanksi yang melarang siswanya kabur dari jam sekolah. Dan kita melanggarnya, tapi kenapa sekarang disini yang tak ada sanksi apapun kau tidak berani ?” balas jiyeon seraya berdiri untuk meninggalkan minho.

Jiyeon melangkahkan kakinya mendekati tembok rumah sakit yang tidak begitu tinggi ditaman belakang, sementara minho dengan berat hati terus mengikuti jiyeon dari belakang. Sesampai dihadapan tembok itu jiyeon menyusun batu-batu untuk menunjang tubuhnya agar mampu melewati tembok itu.

“hyaa~~ kaki kerdil ! bagaimana bisa kau tidak bisa melampaui tembok sependek ini ?” ejek minho sembari tertawa kecil.

“shhh” jiyeon menyeringai menatap minho

Dengan paksaan dari jiyeon, akhirnya Minho bersedia merundukkan tubuhnya agar jiyeon bisa naik diatas pundaknya untuk melewati batas tembok itu. Sesekali ia meringis kesakitan dan jiyeon, hanya bisa tertawa kecil.

Kini jiyeon sudah berhasil keluar dari lingkungan rumah sakit, tapi minho masih berada didalam lingkungan rumah sakit. Mereka berdua terpisahkan oleh sebuah tembok berwarna putih, memang tidak terlalu tinggi. Tapi entah kenapa hal ini membuat hati jiyeon gelisah. Ia tidak bisa melihat sosok minho lagi dihadapannya, berulang kali ia memanggil-manggil nama minho tapi minho tak kunjung meresponnya. Ia berulang kali berusaha memanjat tembok dihadapannya itu tapi tidak berhasil, tembok itu lebih tinggi dari tinggi badannya. Ia terjatuh dihadapan tembok yang berusaha ia panjat tadi.

“au…” pekiknya kesakitan

“gwenchana ?” tanya minho panic melihat jiyeon yang terjatuh

“wae?” jiyeon mulai menangis seperti anak kecil yang sehabis terpeleset

“wae ? kenapa kau lama sekali ?” sembari memukul mukul bahu minho dan menggertakkan kakinya ketanah.

“au ! ya sakit, hentikan. Tadi aku ketahuan satpam, lalu ia menyuruhku lewat gerbang depan saja. Ya terpaksa aku harus jalan putar. Apakah kau sekawatir itu ?” guratan ekspresi minho seakan mengejek jiyeon yang tertangkap basah sangat menghawatirkannya.

“anio~~ sudahlah, sekarang lebih baik kau gendong aku ke mobilmu. Kakiku sakit setelah jatuh tadi.”

Jiyeon POV

Dengan gaya bridal style, minho mengangkatku mendekati mobilnya. Dari bawah sini, ia terlihat sangat tampan, bagaimana bisa gadis penyakitan yang tidak berayah beribu sepertiku memiliki kekasih sepertinya ? sungguh beruntung, tapi sayang kenapa keberuntunganku berjalan begitu singkat. Minho melirikku dan mengembangkan senyum karismatiknya.

JIYEON POV END

Minho menempatkan jiyeon duduk disamping kursi kemudi. Perlahan ia memegang pergelangan kaki jiyeon. Dan pelan-pelan memutarnya, yang jiyeon lakukan hanyalah meringis kesakitan sembari meremas rambut minho sebagai sarana persaluran rasa sakit. Dengan begini, mereka impas sama-sama meringis kesakitan.

“kita mau kemana ?” tanya minho sembari menggerakkan presneleng ke posisi satu karena berhenti dilampu lalu lintas.

“distro. Kita tidak mungkin jalan-jalan dengan seragam rumah sakit inikan ?” celetuk jiyeon

09.00

Mereka berhenti disebuah distro wanita langganan jiyeon. Para staff disini heran melihat jiyeon yang kembali datang setelah waktu yang lama ia dikabarkan koma dirumah sakit. Jiyeon hanya membalasnya dengan senyuman manisnya dan terus melangkahkan kakinya ke kawasan dress. Pemandangan yang berbeda dari biasannya, biasanya jiyeonlah yang sibuk memilih tapi kini malah minho yang sibuk memilihkan baju untuk jiyeon.

“bagaimana dengan ini?” seraya menunjukan dress berwarna merah maroon dengan motif bunga mawar dibawahnya.

Jiyeon menggelengkan kepalanya sebagai isyarat tidak.

“ini ?” kini minho memperlihatkan dress mini tanpa lengan dengan perut ketat.

“hya, apa kau sudah gila !” pekik jiyeon berancang-ancang melempar hanger yang ada digenggamannya.

“aku yakin kau pasti suka yang ini.” Minho menunjukan dress putih bermotif rangkaian bunga kecil dileher dan renda dibawah dress itu.

Jiyeon tersenyum puas setelah tiga puluh menit ia habiskan waktunya untuk menunggu minho yang memilih dress untuknya.

Jiyeon segera mengenakan dress itu dengan rambut panjangnya yang bagian depannya ia kucir sedikit dengan pita berwarna merah muda. Minho yang melihatnya hanya tersenyum sinis, menimbulkan kecurigaan dalam diri jiyeon.

“kenapa kau memandangku seperti itu ? jahat !” bentakku pada minho

“lalu apa yang harus aku lakukan ? bergangnam style dengan berteriak ‘woww pacarku cantik.”

“auuuu” pekik minho setelah jiyeon menendang kakinya.

10.30

Mereka tiba di sebuah pantai dengan pengunjung yang lumayan sepi. Mereka bergandengan tangan dan kemudian melangkahkannya kaki mereka kebibir pantai. Mereka berdiri ditengah hempasan ombak tanpa sedikitpun melepas genggaman tangan mereka. Seirama mereka memejamkan mata mereka menikmati hempasan angin yang bertubi-tubi mendatangi mereka dan gemercik ombak kecil yang terus terusan menyerbu kaki mereka.

“kumohon hentikan waktu saat ini juga, bersamanya seperti ini adalah hal terindah yang pernah aku alami didunia ini setelah kepergian ayah ibuku. Aku tak ingin kehilangan orang yang ku cintai lagi. Jiyeon, tetaplah bersamaku seperti ini selamanya…” gumam minho dalam hati sembari mengeratkan pegangannya di telapak tangan jiyeon.

“jika aku pergi nanti kuharap kau akan melupakan semua kesedihanmu dan menggantikannya dengan memori-memori yang kita buat hari ini.” Gumam jiyeon, seraya melirik minho yang masih saja memejamkan matanya.

“hya ! choi minho !” seraya mengguncangkan tubuh minho dan membuat minho membuka kedua mata bulatnya.

“ahh ? bagaimana bisa kita sampai disini ?” celetuk minho setelah menyadari dirinya dan jiyeon sampai disisi ujung pantai yang dekat dengan tebing.

“ombak yang membawa kita, hwa ternyata disini sepi sekali.” Sahut jiyeon.

“bagus” tatapan minho menyeringai nakal

Jiyeon segera menendang kaki jenjang minho dan membuat minho jatuh dalam deburan ombak kecil ditepi pantai. Jiyeon menertawai minho yang terkenal memiliki kuda-kuda yang buruk itu. Minho menatap jiyeon kesal. Ia segera bangkit dari posisi jatuhnya, celana jeansnya basah kuyup terendam air pantai.

“berbalik lah !” perintah minho pada jiyeon

“ww-wwae ?” tanya jiyeon seraya berusaha menghentikan tawanya dan segera menuruti perintah minho untuk berbalik.

“hyaaa… jiyeon !” minho menatap jiyeon dalam-dalam seakan ada sesuatu yang tidak beres. Jiyeon segera menghentikan tawanya dan berusaha menelisik isi pikiran minho. Minho mendekati jiyeon dan berbisik padanya.

“apa hari ini kau sedang PMS ?” tanya minho yang menjadikan jiyeon kelabakan ingin melihat dress sisi belakangnya.

“ahh ? mwo ? anio ~~ wae ?” sembari berusaha memutar badannya kebelakang agar bisa mengetahui apa yang telah terjadi. Sehingga minho dapat bertanya seperti itu.

“aishh ! baguslah kalau begitu…” dengan sigap minho segera menyiprati jiyeon dengan air pantai yang asin itu. Jiyeon hanya bisa berhenti berkutik ketika wajahnya bertubi tubi dihampiri air asin yang sesekali masuk kebibirnya.

06.30 malam

Minho dan jiyeon membaringkan tubuh mereka dihamparan pantai berpasir putih itu. Tangan kekar minho menjadi bantalan kepala jiyeon. Mereka menatap langit yang dibanjiri oleh gemerlap bintang-bintang malam.

“hwaaaa… indah sekali. Kenapa begitu banyak bintang mala mini ?” tanya jiyeon penasaran.

“entahlah, akan sesuatu yang mengembirakan pastinya.” Balas minho

Kepala mereka saling menghadap, mata mereka bertatap membentuk sebuah garis imaginer yang lurus. Ada banyak kalimat yang ingin mereka ucapkan, tapi mereka tida tahu harus memulai dari mana.

“bagaimana kalau kita mengulang waktu saja ?” usul jiyeon berusaha membuat memory yang indah untuk minho.

“ahh, kau ingat pertama kali kita bertemu ? kau seperti anak tikus, yang selalu menyendiri. Tidak berani berteman dengan siapapun, ahhh mengerikan ! kau sama sekali bukan tipeku. !” celetuk jiyeon

“kau juga bukan tipeku, perempuan yang selalu menggangguku diwaktu-waktu senggangku ! cerewet !” balas minho kepada jiyeon yang kini berusah menggengam tangan minho

“hya, aku tidak cerewet. Tapi bukankah pada akhirnya kau berteriak-teriak ditengah lapangan panti jika kau akan menikahiku saat dewasa nanti !”

“itu karena minho kecil sedang khilaf, kau juga yang kecentilan. Saat di SMP apa yang membuatmu menarik sehingga membuat myungsoo mencium pipimu ! menjijikan” gerutu minho

“tentu saja karena aku cantik ! dan kau, mengapa kau merubah image mu dari seorang penyendiri menjadi seorang berandalan yang berani memukul siwon hingga mulutnya berdarah ?”

“aku berandalan ? aishhh, aku dapat peringkat 1 selama aku bersekolah, sedangkan kau ?”

“yayayaa ! aku tahu sudah hentikan. Aku memang bodoh, tidak menarik, cerewet mungkin, tapi pada akhirnya kau juga terpesona padaku !” celetuk jiyeon seraya menjulurkan lidahnya

Keadaan menjadi hening, mereka saling menatap, lama sekali seakan objek yang mereka lihat adalah barang yang langka yang hanya bisa dilihat sekali seumur hidup.

Ya.. choi minho dan jiyeon tumbuh bersama dipanti asuhan tapi dengan latar belakang berbeda. Jiyeon lebih dulu menetap dipanti asuhan karena pada saat umur 2 tahun ia ditinggalkan di taman bermain oleh orang tuanya dan sejak kecil pula ia mengidap kelainan fungsi jantung. Sementara minho, ia berasal dari latar belakang orang kaya tapi hidupnya berubah setelah perusahaannya bangkrut, ayah dan ibunya meninggal karena bunuh diri. Dan semenjak umur 8 tahun, minho tinggal di panti asuhan. Minho menjadi seorang yang dingin dan meninggalkan kehidupan sosialnya tapi semua itu berubah saat jiyeon terus mencoba mendekati untuk bermain bersamanya. Dan semenjak itu teman yang minho miliki adalah jiyeon, minho over protektif dengan jiyeon yang memiliki jantung yang lemah. Ia tidak suka saat ada lelaki yang mendekati jiyeon. Saat kelulusan SD minho diadopsi oleh keluarga kaya, awalnya minho menolak habis-habisan tapi karena ancaman jiyeon akhirnya minho menyetujuinya dengan syarat jiyeon juga harus dimasukkan kesekolah yang sama dengan minho. Banyak lelaki yang mencoba mendekati jiyeon, tapi minho selalu mencegahnya. Entah kapan mereka mulai bernotaben sebagai sepasang kekasih. Tapi hubungan it uterus berjalan dari pertemuan awal sampai saat ini. Dan saat SMA kondisi jiyeon semakin melemah ia jarang masuk sekolah dan lebih sering menghabiskan waktunya dirumah sakit. Hal ini berakibat dengan minho yang menjadi sering membolos untuk menjenguk jiyeon setiap ketahuan oleh orang tua angkatnya ia akan segera dimari habis-habisan. Dan dimasa kuliah, minho lebih senang memanggil dosennya datang kerumah sakit untuk mengajarnya dari pada harus cemas meninggalkan jiyeon yang telah menjadi penghuni tetap rumah sakit diumurnya yang ke 21 tahun. Kini umur mereka sudah menginjak 25 tahun, dimana pasangan lain sudah menyiapkan pesta pernikahan mereka. Pasangan ini malah sibuk bergulir dengan intrik kehidupan mereka.

“jiyeon~ bolehkan aku bertanya sesuatu ?”

“hmmmm ?”

“kenapa kau tiba-tiba menjadi sesehat ini ? jujur saja ini pertanyaan yang dari tadi pagi ingin aku tanyakan padamu tapi aku takut menyinggung perasaanmu.”

“entahlah, aku juga tidak tahu.” Jiyeon menggendikan bahunya

“apakah kita akan melewati hari-hari esok kita seperti ini ? kau tidak akan terbaring lagikan dengan selang-selang yang rumit itu ?” tanya minho mulai cemas

Jiyeon hanya meresponnya dengan senyuman. Meninggalkan minho berkutik sendiri mencari jawaban.

“minho, bisakah kita kembali kerumah sakit ?” celetuk jiyeon sambari mengambil posisi duduk

“ada apa ? apa kau merasakan sakit lagi didadamu ?” minho segera bangkit dari posisi berbaringnya

“anio~~ aku hanya merindukan suster Kim dan dokter Lee.”

“hya ! kau sudah koma seminggu dan tidak bertemu denganku. Sekarang kenapa malah kau merindukan mereka ?”

10.00 malam

Jiyeon dan minho meluncur menuju rumah sakit, minho konsentrasi menyetir sementara jiyeon memejamkan matanya. sepertinya ia ketiduran karena lelah berjalan-jalan seharian. Dan akhirnya mereka sampai dirumah sakit. Minho melepaskan safety belt jiyeon dan mencium pipi jiyeon kilas. Biasanya dengan cara ini jiyeon akan segera bangun. Tetapi kenapa sekarang teknik ini tidak berhasil, minho menepuk nepuk bahu jiyeon agar jiyeon terbangun. Tapi hal itu sama sekali tak berhasil, minho meraih wajah jiyeon dengan kedua tangannya, dan menepuk nepuk pipinya tapi tidak ada respon dari jiyeon.

“hya jiyeon, apa kau bercanda seperti pagi tadi ? sudahlah hentikan ini tidak lucu !” celetuk minho

Jiyeon segera dilarikan keruang UGD dengan ranjang dorong, minho terus mengikutinya dan ia tak henti hentinya memanggil nama jiyeon. Kini tak sedikitpun air mata yang menetes dari matanya, karena ia terlalu takut jika ini adalah kenyataan. Ketika bersama jiyeon ia berharap moment tadi bukanlah mimpi semata. Tapi kini ia berharap ini hanyalah mimpi yang kemudian akan berakhir saat ia membuka matanya nanti.

Jiyeon POV

Aku berdiri disebuah bukit, padang rumput yang taka sing bagiku. Dari sini aku bisa memandang langit dengan lepas, tapi ada yang kurang dari kebebesan dan kebahagiaan ini. Yaitu minho, aku tidak melihatnya. Kemana dia ? apa dia sudah menunggu diatas ? aku segera berlari kepuncak bukit, dengan langkah tergopoh gopoh dan gaun putih panjang ini yang sedikit mengganggu langkahku. aku kerahkan semua tenagaku untuk mencarinya. Akhirnya aku sampai diatas bukit ini, bukit yang terdapat didekat panti asuhan tempat aku dan minho kecil biasa bermain-main dan menyendiri dari kemunafikan dunia luar. Tapi kenapa aku saja yang berada disini ? oooh, sekarang aku mengerti. Ini adalah waktu kematianku, tadi aku sudah meminta waktu dan kini waktu itu berakhir. Aku akan benar-benar mati sekarang. Tapi kemana minho ? aku tidak bisa melihatnya seperti tadi ? apa Tuhan sengaja menjauhkan pandanganku dari minho agar aku tidak memhon lagi untuk dikembalikan ke dunia ? yaa, mungkin itu yang terbaik. Aku berusaha mencari kesekeliling biasan cahaya putih yang berujung pintu kedunia baru. Tapi aku tidak melihatnya, lalu bagaimana aku bisa mati jika aku tidak menemukan pintu itu ? aku tidak ma uterus-terusan dibukit ini sendiri tanpa minho.

Jiyeon POV end

10.00 pagi

Sudah tiga hari seorang yang berbaring diranjang itu tak kunjung bangun, aroma mawar tak kunjung hilang dari ruangan itu karena setiap hari mawar yang ada di vas samping ranjang itu terus menerus diganti oleh suster Kim. Dokter Lee juga tak henti-hentinya mengecek detak jantung seorang bermata indah yang tengah terus-terusan berbaring itu.

Perlahan mata indah itu terbuka dan melirik kesekeliling, ia meremas tangannya untuk memastikan itu bukanlah mimpi. Suster Kim yang menyadarinya segera berlari memanggil dokter Lee.

Setelah memastikan semua berjalan dengan baik, dokter Lee melepaskan alat bantu pernafasan yang menutupi hidung dan bibir jiyeon. Dokter kim tersenyum lebar, memberikan applause atas keberhasilan jiyeon karena melewati masa kritisnya.

Jiyeon masih tak percaya akan kenyataan itu, ia kembali di dunia ini. Matanya berbinar menahan lelehan air mata kebahagiaanya. Dalam keadaan masih berbaring ia berusaha meraih handphone yang ada dimejanya. Ia memanggil emergency callnya yaitu minho. Ia sama sekali tak menghentikan senyumannya ketika menunggu minho mengangkat panggilannya. Tapi sayang sekali panggilannya itu tak diangkat oleh minho. Dokter Lee hanya menggeleng melihat jiyeon yang terlihat sangat bersemangat.

“wae ? apa ada berita menyedihkan ? minho menikahi krystal ? ah yaa benar, ini adalah hari sabtu. Itu pasti hari yang tepat untuk pernikahan mereka. Bolehkah aku mengunjungi pesta pernikahan mereka ?” tanya jiyeon bertubi-tubi. Senyuman tadi seakan hilang dengan rasa kecewa yang hebat dengan yang jiyeon alami.

Suster kim kemudian menyerahkan secarik surat yang lebih mirip dengan undangan. Jiyeon segera membukanya lebar-lebar dan kemudian membacanya. Mata jiyeon berair tapi ia terus mengusapnya agar tak mengganggunya dalam membaca surat itu.

“TO : PARK JIYEON

FROM : CHOI MINHO

Wedding Ceremony

Choi Minho

And

Park Jiyeon

Place     : In heaven

Time      : entahlah, aku juga tidak tahu disini tidak ada jam

Aku harap kau datang diacara pernikahan kita, minho kecil sudah berjanji akan menikahimu saat dewasa. Dan kini aku akan menepati janjiku.” Mata jiyeon yang tadinya hanya berair kini sudah banjir dengan serbuan air mata.

“jaga baik-baik jantungku ! awas jika kau merusaknya ! aku sudah terlalu lama memiliki jantung berkualitas tinggi itu, aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Lebih baik untukmu saja. Dan orangtua tiriku, maksutku orang tuaku itu juga untukmu saja ! aku tidak menyukai mereka yang penuh dengan aturan, kau bilang kau ingin mempunyai orang tua ? jadi untukmu juga. hei ! kenapa masih menangis? Apa hadiah itu kurang ? baiklah kau juga boleh menelepon myungsoo lagi ! hya ! kenapa tangisanmu semakin menjadi-jadi ? diam ! dasar cengeng ! bukankah kemarin kita sudah bersenang-senang.

aku benci terus terusan berpacu jantung melihat kondisimu, aku terlalu takut kau mati dan meninggalkanku. Jadi biarkan saja aku yang pergi. Aku akan terus menunggumu walaupun itu disurga yang penuh bidadari sexy, dan aku harap kita bisa bertemu lagi dikehidupan yang selanjutnya dan memiliki kisah yang berakhir bahagia. Aku mencintaimu nyonya choi jiyeon J”

jiyeon tak kuat lagi membendung tangisannya, semuanya beku. Mata indah itu seakan melebam karena tak sanggup lagi untuk mengeluarkan derasnya air matanya. jiyeon melepas semua selang yang tersangkut ditubuhnya dan menghempaskannya. Dokter Lee dan suster Kim sangat panic.

“dimana abunya disebar ?” tanya jiyeon gusar

JIYEON POV

Aku segera berlari ke puncak bukit yang kemarin baru saja aku kunjungi sendiri. Sesekali aku terhenti karena tak kuat menanggung beban yang membuncah di lubuk hatiku. Bernafaspun seakan susah, kakiku lemas tapi aku terus berusaha mencapai puncak bukit itu. Apa rasa seperti ini yang kau alami selama ini choi minho ?  gusar, kau merasa bersalah, dank au tak rela ? maafkan aku choi minho ! aku tak mengerti jika ini yang kau rasakan selama ini. Aku terlalu egois, enak-enakan tidur berbaring diranjang sementara kau berpacu jantung seperti ini. Jika kau pergi lalu aku bagaimana ?

JIyeon POV end

10.30 pagi

Akhirnya Jiyeon sampai diatas bukit ini, inilah tempat abu choi minho disebar. Jiyeon berharap minho masih menyisakan bayangannya disini. Iya berteriak teriak memanggil minho sekencang kencangnya di atas bukit ini.

“Choi minho !” teriak jiyeon dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki

“kau memanggilku.” Sosok imaginer minho seakan berdiri dihadapan jiyeon

Jiyeon menatap dalam-dalam mata seorang yang sangat ia cintai itu. Ia tak berani sedikitpun mendekat atau mencoba meraih seseorang yang ada dihadapannya. Karena ia takut saat ia lakukan itu sosok imaginer itu akan berubah menghilang menjadi butiran abu.

“kau bilang kematian adalah takdir ? lalu kenapa kau menangis.” Sahut minho dengan nada bicara khasnya

“aku memang berjanji akan menghapus air matamu, tapi bukan dengan cara harus membunuhmu choi minho !” nada bicara jiyeon tidak stabil karena terlalu takut sosok yang ada dihadapannya hilang

“kau tidak membunuhku, aku bahagia menunggumu disurga. Jadi kau segeralah menyelesaikan urusanmu didunia ini.” Kini bayangan itu hilang, sosok itu hilang diterpa angin. Jiyeon terus mencoba mencari-carinya tapi tidak berhasil.

Seoul, 8 Agustus 2088

06.30 malam

Seorang wanita cantik bermata indah yang berprofesi sebagai model itu berdiri disebuah bukit seraya merentangkan tangannya,  mencoba menikmati setiap inchi kebebasannya setelah jam kerjanya berakhir. Seseorang lelaki bermata bulat bertubuh atletis tak sengaja juga datang kebukit itu. Menyadari sudah ada seseorang yang datang ke bukit itu terlebih dahulu ia memutuskan untuk kembali. Tapi langkahnya terhenti akan panggilan seorang wanita itu

“kau, jika kau sudah berusaha naik kebukit bukankah seharusnya kau singgah dulu untuk melepas rasa lelahmu ?” teriak wanita itu

Lelaki itu berbalik dan mendatangi wanita itu, ia menyodorinya sebuah kopi hangat. Dan wanita itu segera meminumnya.

“kau membawa dua kopi ? apa kau sedang menunggu seseorang ?” tanya wanita itu

“entahlah. Seakan aku seperti sedang menunggu seseorang saat menaiki bukit ini.” Balas lelaki tampan tadi

“setiap pulang bekerja aku juga selalu datang kemari, seperti ada yang menungguku disini. Dan aku harus segera menemuinya. Aneh bukan ?”

Mereka tertawa bersama, seakan mereka sudah mengenal lama. Padahal ini adalah kali pertama mereka bertemu.

“siapa namamu ?” sembari menyodorkan tangannya

“Choi Jiyeon” seraya membalas jabatan tangan lelaki itu

“Park Minho. Senang berkenalan denganmu”

END

Gaje yaa ?

Mian yaa, kalau feelnya enggak ngena. Soalnya aku juga enggak pernah ngalamin dan enggak mau ngalamin kisah cinta kaya gitu. Ni FF terinspirasi dari film jepang, siapa yang tahu ? coba tebak deeh. Sama video-video klip korea. Ada yang tahu ? coba tebak !

COMMENT, LIKE, RATING, SHARE

#ngarep

Jangan jadi siders apalagi plagiators yaa dosa hloooo

Aku buat ni FF penuh perjuangan L sampai naik-naik genteng segala #apaan sih

http://www.shineerin.wordpress.com

4 thoughts on “THE DAY WHEN I DIE”

  1. ini bagus banget.
    fellnya dapet.
    bahasanya enak dimengerti.
    aku aja yang juga author gak bisa buat kaya gini.
    semangat yah untuk nulis ff lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s