[FF Freelance] A Photograph Goes To Love

Author  : Nalin_Lee

Tittle     : A photograph goes to love

Genre   : Romance

Tags       : Aiden Lee (Lee DongHae)

                  Nalin Lee (OC)

                  Marcus Cho (Cho Kyuhyun)

                  Vincent Lee (Lee SungMin)

Length  : Oneshoot

Rating   : All age

Note      : FF jelek yang berusaha untuk nyempil disini T.T.. mian typo hamper bertebaran dimanapun 😀

kunjungi juga blog kita di www.mitwins.wordpress.com *numpang promosi 😀

 

A PHOTOGRAPH GOES TO LOVE

 

page copy

Ckrekkk

 

Kamera DLSR produksi Jerman itupun dengan pasti mengabadikan objek danau didepannya. Seorang pria dengan bibir terulas senyum tipis itupun merasa puas dengan hasil bidikan kamera ditangannya. Ia kembali  mengedarkan pandangan matanya mengelilingi area disekitar danau yang bertebaran daun-daun pohon mapple yang sudah kecoklatan dihampir sepanjang area danau. Benar-benar khas musim gugur.

 

Kini ia kembali membidikan fokus lensa kameranya ke objek yang hanya berjarak beberapa meter dihadapannya.

 

Ckrekkk

 

Bunyi khas kamera miliknya seolah menandakan kamera itu sudah mengabadikan objek indah yang berada dihadapannya, pada sebuah bangku dipinggiran danau. Pria itu kembali menampakkan senyum manisnya. Seolah puas dengan hasil bidikan kamera kesayangannya itu. Matanya kembali menatap objek nyata dihadapannya, bukan danau itu yang membuat pria itu terpesona, ataupun pohon mapple yang tidak jauh dari tempat duduknya itu. Menurutnya danau dan pohon mapple itu hanya menjadi pelengkap keindahan yang ia perhatikan sedari tadi.

Yah, sebenarnya objek yang membuatnya terpesona adalah seorang gadis yang tengah duduk dibangku bermaterial kayu yang menghadap danau itulah yang membuat mata pria itu tidak bisa lepas dari objek dihadapannya.

 

Seorang gadis dengan mini dress peach simple dengan novel cinta picisan yang sekarang menjadi fokus pandangannya dengan kacamata berbingkai hitam yang bertengger menutupi mata indahnya. Dengan rambut hitam kecoklatan tergerai yang membuat kecantikannya tertutupi dari samping. Namun kecantikan gadis itu dapat tertangkap sempurna dalam sepasang mata pria yang sedari tadi menatapnya dengan pandangan berbinar-binar, mengagumi setiap inchi kecantikan gadis itu.

 

Pria dengan kemeja biru gelap bermotif kotak-kotak dengan rambut yang sedikit berantakan membuat pria dengan kamera DSLR yang sedari tadi dipegangnya itu membuat penampilannya terlihat sempurna, semua orang yang melihatnya tentu mengira pria itu seorang fotografer amatiran, namun jika diperhatikan lebih jauh, pria dengan tas punggung dan nametag didada sebelah kanan bertuliskan Aiden Lee dan almamater biru tua yang tersampir dibahu kirinya, menandakan ia hanyalah seorang mahasiswa disalah satu universitas terkenal di kota Ganeva ini, kota dipinggiran Swiss yang terkenal dengan sejuta keromantisan didalamnya.

 

Merasa ada yang memperhatikannya sedari tadi, gadis itupun mengalihkan pandangannya dari novel cinta berwarna pink ditangannya kearah seorang pria yang tidak jauh dari tempatnya duduk yang sedari tadi memperhatikannya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

 

Perlahan gadis itu melepas kacamata bacanya.

 

DEGGG..

 

Seolah gerakan slow motion saat gadis dihadapannya mencoba melepas kacamata yang menutupi sepasang mata coklat indahnya, membuat tubuh Aiden terasa kaku, jantungnya mulai berpacu lebih cepat dan membuatnya melupakan sejenak bagaimana caranya bernafas selama ini.

 

Bibir gadis itu sedikit tertarik, menampakkan senyum manis diwajah cantiknya, membuat Aiden kembali tersadar dari lamunannya akan gadis itu. Sedetik kemudian gadis itu kembali menyampirkan kacamatanya dan mulai tenggelam kenovel yang diabaikannya tadi.

 

Setidaknya hal itu membuat Aiden lega, senang, sekaligus kecewa. Lega karena jantungnya kini bisa berdetak normal kembali, senang karena gadis itu menyadari kehadirannya selama seminggu ini ia mengagumi sosok gadis itu. Namun tak dipungkiri ada sedikit rasa kecewa dihatinya, kecewa karena mata indah itu hanya sebentar saja menatapnya.

 

Yah, sudah seminggu ini Aiden tidak pernah absen untuk datang ke danau ini hanya untuk mengabadikan setiap gerak-gerik gadis yang telah berhasil mencuri semua perhatiannya. Sebenarnya seminggu yang lalu ia ke danau ini hanya untuk mengabadikan indahnya danau yang terletak dipinggiran kota Ganeva ini untuk tugas fotografi yang diberikan dosennya, namun niatnya itu seolah hanyalah pelengkap, karena niatnya sekarang hanyalah untuk mengabadikan setiap momen yang diciptakan gadis itu.

 

Aiden melangkah pelan menuju bangku didekat danau itu yang kini juga diduduki gadis itu. Dengan jantung yang terus berdebar tak karuan, Aiden mencoba meyakinkan hatinya untuk tetap melangkah, mencoba memperpendek jarak diantara mereka.

 

Dengan nafas lega, akhirnya Aiden kini telah berhasil menuju tempatnya kini mengistirahatkan diri, tepat disebelah gadis dengan mini dress peach itu, mencoba terlihat normal, Aiden kembali menarik nafas pelan.

 

Kamera yang sedari tadi berada ditangannya kini ia biarkan tergeletak disebelahnya duduk sekarang ini. Lebih tepatnya kamera itu sekarang terletak ditengah-tengah antara Aiden dan gadis yang masih sibuk berkutat dengan novelnya itu. Aiden mulai memijit-mijit lengannya yang pegal karena terus menerus membawa kamera DSLR miliknya yang kira-kira beratnya hampir 2 kg itu.

 

“Kau seorang fotografer?” suara merdu yang Aiden yakini berasal dari seseorang yang duduk tepat disebelahnya itu mencoba memecah keheningan diantara mereka.

 

Aiden mencoba menolehkan kepalanya perlahan, menatap gadis yang kini tengah menatap kamera disampingnya, berharap bahwa ia sedang tidak berhalusinasi ataupun salah dengar.

 

“B..Bukan” sahut Aiden gugup. Shit! Bisakah kau terlihat tenang Aiden.. ayolah kau membuatnya bisa berfikir kalau kau ini bodoh, gumam Aiden. Aiden kembali menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba mengatur detak jantungnya yang terasa ingin melompat keluar “Aku bukan fotografer, aku hanya ingin memenuhi tugas fotografiku diakhir semester ini” lanjut Aiden yang kini telah bisa mengatur system syaraf tubuhnya yang seakan mati total jika berdekatan dengan gadis itu.

 

Gadis disebelahnya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah mengerti dengan jawaban yang pria itu katakan “Aku selalu melihatmu memotret ditaman ini, apa yang menjadi objek indah yang selalu membuatmu untuk kembali ketempat ini?” Tanya gadis itu lagi sambil menutup novel yang sedari tadi ia baca dan melepas kacamatanya. Untuk kedua kalinya dunia Aiden serasa terhenti saat ini juga, saat menatap mata coklat gelap gadis yang kini tengah menatapnya penuh minat, seolah tertarik akan apa yang akan pria itu ceritakan.

 

“heii, kau baik-baik saja?” suara merdu itu kembali menyadarkannya dari imajinasi yang baru saja ia ciptakan. Aiden segera mengalihkan pandangan matanya dari gadis itu, dan mengusap-usap bagian tengkuknya, yang merupakan salah satu kebiasaan Aiden jika ia menjadi salah tingkah seperti sekarang ini. Gadis itu hanya terkekeh kecil melihat sikap malu-malu Aiden.

 

“Sebenarnya tugasku itu hanya perlu membekukan satu buah gambar yang bercerita didalamnya tanpa harus kita menceritakannya atau biasa disebut dengan foto tunggal. Aku ke taman ini untuk memikirkan apa yang akan menjadi objekku. Tapi entahlah, tak ada objek yang menarik minatku selama ini. Padahal besok lusa aku harus segera mengumpulkannya untuk pergelaran pameran fotografi dikampusku” Aiden tanpa sadar menceritakannya pada gadis disebelahnya yang terus menatapnya sedari tadi.

 

“Kau tenang saja. Di kota Geneva ini banyak sekali objek menarik yang bisa kau abadikan” seru gadis itu dengan nada ceria dan penuh semangatnya. Seolah memberikan solusi dan meenyuntikkan kembali semangat kepada pria yang terlihat putus asa disebelahnya itu.

 

Aiden kembali menampakkan wajah murungnya “Aku mahasiswa baru di negara ini, jadi aku tidak terlalu mengetahui kota ini”

 

Hening. Gadis itu diam, wajahnya terlihat sedang berfikir. Diam-diam Aiden memperhatikan gadis disebelahnya. Wajah mungilnya dengan mata coklatnya yang sendu, bibir mungilnya, hidung yang mancung, dan rahangnya yang tirus seolah meyakinkan dirinya sendiri kalau gadis itu teramat sangat sempurna dimatanya, apalagi dengan jarak sedekat ini.

 

“Bagaimana kalau besok aku menemanimu mengelilingi kota Geneva ini untuk mencari objek yang sesuai dengan keinginanmu. Bagaimana?” usulan gadis itu segera menyadarkan Aiden dari kekagumannya akan pesona gadis itu.

 

Dengan semangat yang seketika seolah terisi kembali Aiden menganggukkan kepalanya cepat “Baiklah, besok temui aku disini. Bagaimana?”

 

Dengan senyum yang kembali terulas  dibibirnya gadis itu segera menganggukan kepalanya “Baiklah, besok kita bertemu ditempat ini”. Ia mulai beranjak dari bangku yang sedari tadi didudukinya “sudah sore, aku mau pulang” pamit gadis itu dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya lalu melangkahkan kakinya menjauhi pria itu.

 

Entah perintah otak sebelah mana, Aiden ikut beranjak dan segera meraih pergelangan tangan gadis berbadan mungil itu, sontak langkah gadis itu terhenti dan segera membalikkan tubuhnya, kepalanya sedikit mendongak, menatap pria yang lebih tinggi beberapa centi dihadapannya.

 

Aiden mengulurkan tangan kanannya. Gemas melihatnya yang tak merespon. Aiden menarik pergelangan tangan kanan gadis dihadapannya untuk menjabat tangannya yang sedari tadi terulur. “My name is Aiden”. Gadis itu terkekeh kecil “My name is Nalin”

.

.

.

 

“Ini the Chillon Castle yang merupakan salah satu istana yang paling terkenal di Swiss”

 

Aiden hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Nalin. Matanya tengah sibuk dengan bangunan megah dihadapannya, bangunan yang memiliki tiga halaman dan empat ruangan besar yang menawarkan pemandangan indah kepada Aiden.

 

Kini kamera yang selalu ia bawa kemana-mana itu kini mulai sibuk mengabadikan berbagai macam kemegahan diberbagai sudut istana, Namun tak berapa lama kini menurutnya ia menemukan objek yang lebih indah daripada istana itu, sebuah objek yang ditimpa hangatnya sinar mentari pagi seolah membuat objek itu lebih bersinar ditengah segerombolan merpati putih. Sosok gadis bergaun selutut dengan warna biru lembutnya  dan rambut yang diikat tinggi memperlihatkan leher putih mulusnya yang jenjang itu kini tengah berjongkok dengan sesuatu ditelapak tangannya yang terbuka, membuat burung-burung berbulu putih itu mendekat kearahnya. Senyum dibibir gadis itu menambah kesan indah dimata Aiden.

Tak ingin kehilangan momen indahnya itu Aiden segera membidikkan fokus kameranya, dan..

 

 

CKREKK..

 

Aiden mengamati objek yang baru saja diabadikannya “kau memang selalu menjadi objek yang sempurna Nalin” gumam Aiden.

.

.

..

 

“Gunting, batu, kertas” Aiden terlihat mengepalkan tangannya dan Nalin membuka lebar tangannya.

 

“Yeayy. Aku menang” teriak Nalin diiringi lompatan-lompatan kecilnya. Aiden mencoba menahan tawanya melihat ekspresi kekanak-kanakkan dari Nalin. Walaupun baru tadi pagi ia lebih jauh mengenal Nalin, namun Aiden mengetahui dengan jelas kalau gadis yang menemaninya sedari tadi memanglah lebih muda empat tahun darinya. Itu berarti usia Nalin sekarang genap 22 tahun. Walaupun Nalin bukan seperti gadis kebanyakan yang memilih untuk selalu bersikap feminim dan anggun. Namun hal itulah yang membuat Aiden terpesona dengan apa yang gadis itu miliki.

 

“Baiklah, artinya aku akan menggendongmu. Cepat naik” ucap Aiden sambil merendahkan badannya agar mempermudah Nalin naik kepunggungnya. Nalin naik kepunggung Aiden, setelah merasa posisinya sudah benar, Aiden bangkit berdiri.

 

“Apa aku berat?” Tanya Nalin ragu.

 

“Tentu saja, badanmu mungil seperti itu kenapa terasa berat?” jawab Aiden disertai tawa khasnya.

 

Nalin mengerucutkan bibirnya kesal. Bukan kesal karena jawaban yang Aiden berikan, melainkan sikap Aiden yang tidak pernah bisa bersikap manis seperti kebanyakan pria yang dikenalnya. Nalin sadar, Aiden bukanlah tipe pria romantis seperti tokoh-tokoh didalam cerita novel yang selalu dibacanya. Aiden adalah Aiden, sosok yang baru saja dikenalnya itu selalu membuatnya nyaman jika berada didekatnya.

 

“kalau begitu anggap saja kau sedang berolahraga untuk otot lenganmu itu” sahut Nalin dengan senyum simpulnya seraya mengeratkan pelukannya dileher Aiden.

 

DEGG..

 

Jantung Aiden kini kembali berpacu dengan cepat. Senyum Nalin seolah membuat dunianya berputar. Kakinya serasa tak berpijak lagi dibumi. Senyum yang selalu menghiasi wajah cantiknya itu membuat Aiden selalu ingin melihat dan menjaga senyum gadisnya itu.

 

“kenapa berhenti?” suara Nalin dibelakangnya sontak menyadarkan Aiden. Jarak diantara mereka yang hanya beberapa centi itu membuat nafas Nalin begitu terasa menggelitik daun telinganya. “Daritadi kau hanya diam, apa kau bosan seharian ini bersama denganku?” lanjut Nalin.

 

“Tentu saja tidak. Aku hanya tidak tau kita akan pergi kemana” jawab Aiden cepat, ia tidak ingin membuat Nalin salah paham kepadanya.

 

“Kenapa kau tidak bilang dari tadi?” protes Nalin.

 

Aiden hanya terkekeh, ia mencoba menahan keinginanya untuk menatap Nalin, ia takut seluruh syarafnya kembali kehilangan fungsinya jika berhadapan dengan gadis itu.

 

“Baiklah, bagaimana kalau kita ke Geneva flower clock?” usul Nalin.

 

“Ba…..” sebelum Aiden menyelesaikan jawabannya Nalin kembai berceloteh dengan gaya khasnya “Geneva flower clock tidak jauh dari danau Geneva, kita hanya perlu berjalan beberapa meter”

 

“memangnya…” untuk kedua kalinya pertanyaan yang ingin dilontarkan Aiden lagi-lagi terputus saat Nalin kembali berceloteh panjang lebar dengan keceriaan yang dimilikinya “lokasinya tepat di Jordin Anglais, disana bernuansa taman dengan bunga beraneka warna, Geneva Flower Clock juga dijadikan symbol yang mengintegrasikan teknologi kota Geneva dalam pembuatan jam dengan teknik penataan taman dan lingkungan.”

 

Aiden hanya bisa tersenyum mendengar Nalin yang sedari tadi berceloteh dengan cerianya. Tidak akan ada lelahnya Aiden tersenyum hari ini. Aiden melangkahkan kakinya pelan, ingin terus merasakan momen seperti ini, ingin rasanya Aiden menghentikan waktu saat ini juga dengan membuat momen ini tidak akan pernah berakhir.

 

Ia terus melewati orang-orang yang sibuk berlalu lalang yang sedari tadi menatapnya dengan berbagai ekspresi yang ditunjukkan dari raut wajah mereka, namun Aiden tidak memperdulikan sedikitpun dari mereka, yang jelas ia tak ingin momen ini terganggu oleh siapapun.

 

“Geneva Flower Clock dibuat pada tahun 1955, pada hari-hari tertentu lokasi disekitar taman sering dijadikan sebagai tempat pertunjukan seni budaya” suara lembut Nalin terus menghiasi setiap langkah perjalanan mereka, awalnya Aiden ragu akan perasaannya terhaadap Nalin, tapi sekarang ia sedikit menyadari bahwa ia nyaman didekat Nalin, gadis itu berbeda dari gadis-gadis yang selalu mengejarnya.

 

“Heiii, kau tidak mendengarkanku? Ayo turunkan aku, kita sudah sampai, aku bisa jalan sendiri” pukulan-pukulan kecil dibahu Aiden sontak menyadarkan Aiden. Dengan sedikit rasa kecewa, Aiden segera membungkukkan badannya untuk mempermudah Nalin turun dari punggungnya. Aiden menghembuskan nafas beratnya, mengeluarkan segenap rasa kecewa yang menyelimutinya.

 

Dengan lompatan kecil Nalin turun dari punggung Aiden, ia segera berlari menghampiri taman bunga, memang tak banyak bunga yang bermekaran disana, mengingat  ini akhir penghujung musim gugur. Sebelum dirinya tiba dihamparan bunga-bunga lilac, Nalin menghentikan larinya kemudian berbalik menatap Aiden, ia tersenyum sekilas dan segera menempelkan kedua tangannya disisi bibirnya, berharap suaranya dapat didengar Aiden yang memang berada dengan jarak yang lumayan jauh dihadapannya “kau bebas memotret apapun disini”

 

Samar-samar Aiden mendengar suara Nalin yang hampir terdengar seperti bisikan oleh pendengarannya, Aiden hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Nalin, keceriaan gadis itu membuatnya ingin selalu menjaganya, mungkin inilah alasan terbesar Aiden menjatuhkan pilihannya pada gadis manis itu.

 

Aiden segera mengeluarkan kameranya dari tas selempang hitamnya.

 

CKREKK..

 

CKREKK..

 

CKREKK..

 

Ia kembali sibuk mengabadikan pemandangan yang ditawarkan Geneva Flower Clock senja hari, rona kejinggaan mentari menambah kesan yang mendalam dari setiap objek yang diterpa cahayanya. Merasa bosan dengan pemandangan Geneva flower clock, mata Aiden sibuk mengedarkan pandangannya mencari Nalin. Rasa bosannya seketika itu juga lenyap tak berbekas.

 

CKREKK..

 

Seorang gadis dengan bunga Lilac ungu ditangan kirinya, badannya sedikit condong kedepan untuk memetik bunga aster disebelah kanannya dengan latar belakang taman dan semburat kejinggaan mentari yang mulai beranjak dari peraduannya, membuat siluet gadis itu semakin indah.

 

“cantik” gumam Aiden dengan senyum yang kembali menghiasi wajahnya. Aiden memang tak akan pernah lupa mengabadikan setiap momen indahnya bersama Nalin.

.

.

.

 

Langit sudah tampak gelap, Aiden berjalan mendekati Nalin, menerobos orang-orang yang tak pernah sepi berlalu-lalang, sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. Tak jauh dari tempat Nalin berdiri saat ini, Aiden menyapa seorang wanita yang jika diperhatikan berumur sekitar 30 tahun dengan rambut pirang sebahunya dan seorang anak kecil yang kira-kira berumur 5 tahun yang berdiri tepat disamping wanita itu dengn lollipop berukuran besar ditangan mungilnya.

 

“Excuse me, can you take a picture for me? Aku ingin berfoto berdua dengan gadis itu” Tanya Aiden seraya menunjuk Nalin yang berdiri tak jauh dari tempat mereka.

 

Wanita itu mengikut arah telunjuk Aiden. Ia mengerutkan dahinya, bingung. “ba..baiklah” jawabnya ragu. Aiden segera menarik Nalin, mereka kini sibuk memikirkan gaya apa yang akan mereka tampilkan

 

“kau sudah siap?” Tanya wanita yang sedari tadi terlihat kesulitan dengan bobot kamera Aiden yang kini sudah berada ditangannya.

 

Aiden menggaruk tengkuknya gugup, mencoba mengatur detak jantungnya, dengan ragu Aiden menatap Nalin yang kini juga menatapnya, dengan gerakan cepat Aiden segera menarik bahu Nalin, tak membiarkan sedikitpun jarak menghalanginya.

 

Aiden memamerkan senyum lebarnya didepan kamera, dengan ekspresi malu-malu Nalin juga ikut tersenyum, dengan posisi tangan kanan Aiden yang tersampir dibahu Nalin dan sebelah tangannya dan tangan Nalin membentuk huruf “V”

 

“1…2…3…”

 

CKREKKKK..

 

Kilatan blitz dari kamera itu berhasil mengabadikan objek yang baru saja diterpanya. Sebuah foto dengan latar belakang hamparan bunga lily putih dengan objek utamanya pria dengan kemeja biru polosnya dan seorang gadis tepat disebelahnya dengan mini dress berwarna senada namun terlihat sedikit lebih cerah daripada kemeja yang dikenakan sang pria dengan ujung gaun berenda, terlihat sangat kontras bahwa pasangan dalam foto itu terlihat sedang jatuh cinta, dengan ekspresi mata berbinar-binar yang terpancar diwajah mereka.

 

“kakak, kalian berdua sangat serasi” celotehan polos gadis kecil itupun sukses membuat pipi Nalin memanas, gadis itu menunduk berusaha menyembunyikan semburat merah yang terlihat jelas dipipi putih pualamnya. Wanita yang terlihat seperti ibunya itu menatap anaknya dengan ekspersi bingung.

 

“sekali lagi, terima kasih” Aiden sedikit membungkukkan badanya, sebelum pergi meninggalkan wanita yang masih dengan ekspresi bingung diwajahnya.

 

Sayup-sayup Nalin mendengar gadis kecil itu berkata “ibu, nanti kalau aku sudah besar, aku ingin memiliki pacar seperti kakak tadi” Nalin tertawa mendengar ucapan polos gadis kecil itu, begitupun Aiden.

 

“Berarti aku tampan, bahkan dimata seorang anak kecil” ucap Aiden bangga.

 

“kau terlalu pede sekali” ucap nalin tertawa “loh, memang kenyataannya kan?” Tanya Aiden lagi dan Nalin hanya tersenyum menanggapinya.

.

.

.

“Wuahhhh” dengan mata berbinar dan eksperi kagumnya Aiden memandang air mancur dihadapannya. Air mancur setinggi 140 meter itu mampu membuat Aiden tercengang, ia baru sekali ini melihat air mancur setinggi itu, air mancur the Jet d’Eau fountain ini memenag merupakan air mancur tertinggi didunia.

 

Nalin menatap bingung akan ekspresi kagum yang tercetak jalas diwajah Aiden, Nalin mengetahui dengan pasti semua orang yang baru melihat air mancur itu pasti akn berekspresi sama seperti ekspresi yang ditunjukkan Aiden, tapi ada sesuatu yang mengganjal difikirannya saat ini “bukankah air mancur ini letaknya tidak jauh dari danau Geneva, jadi selama kau mengunjungi danau itu, kau tidak pernah melihat air mancur ini? bahkan seluruh penjuru kota pun bisa melihatnya, kau yang hanya bejarak 2 meter dengan air macur itu tidak pernah melihatya? Astaga Aiden, jadi selama ini apa yang kau lihat?” gerutu Nalin seraya menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.

 

Aiden mengalihkan pandangannya sekilas menatap Naliin, kemudian mengeluarkan cengiran khasnya.

 

“hehe, aku memang belum pernah melihat air mancur ini sebelumnya” jujur Aiden, sontak Nalin kembali membulatkan matanya tak percaya. “kau tunggu sebentar disini yah” ucap Aiden sebelum Nalin menghakiminya dengan gerutuannya lagi.

 

Nalin hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertannyaan Aiden yang berdiri dihadapannya. Pandangannya tetap fokus menatap air mancur. Aiden melangkahkan kakinya menuju penjual harum manis yang terletak tidak jauh dari empatnya berdiri tadi, sembari menunggu pesananya ia terus menatap gadis yang tengah duduk dibangku favoritenya dengan jari-jemari yang kini memegangkira-kira sebuah daun maple yang didapatnya dibawah bangku taman yang terlihat berserakan tertiup angin musim gugur, tidak ingin kehilangan pemandanagn indah dihadapannya Aiden segera merogh tasnya dan segera memfokuskan kameranya.

 

Ckrekk…

 

“Sempurna” gumam Aiden sembari meneliti sudut demi sudut hasil jepretannya beberapa detik yang lalu. Sebuah foto sempurna seorang gadis, dengan kedua sudut bibirnya yang tertarik, menampakkan senyum manisnya yang membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona akan keindahanya dengan latar belakang danau Geneva dan air mancur The Jet d’Eau Fountain dihadapannya juga pohon maple yang tengah duduk dikursi coklat tua dengan beberapa pasang orang yang tengah berlalu lalang disekitarnya, kemerlip lampu-lampu taman dengan aneka warna disekitarnya membuat kesan yang sulit dijelaskan Aiden.

 

“Ini” Nalin mendongakkan kepalanya dan segera memasukkan beberapa helai daun maple yang sudah kecoklatan itu kedalam tas kecil yang selalu tersampir dibahunya ketika sebuah harum manis berwarna pink lembut itu tepat berada beberapa centi dihadapannya.. ia segera meraih pegangan harum manis itu dari tangan pria yang berdiri dihadapannya.

 

“thanks” ucap Nalin dan segera menggeser duduknya sedikit, membiarkan pria itu menduduki tempat kosong disampingnya.

 

“dari sekian banyak foto yang aku abadikan hari ini, aku tidak tau foto apa yang harus aku kumpulkan untuk tugas fotografiku besok, semuanya terlihat indah” matanya kini sibuk denagn kamera dipangkuannya dan tangannya yang juga sibuk dengan tombol-tombol kecil pada kameranya.

 

Nalin tersenyum menanggapinya,  mencoba meyakinkan Aiden bahwa apapun pilhan yang ia pilih pasti merukan pilihan yang terbaik dalam hidupnya, sorot matanya menatap danau dengan mata coklat teduhnya “dalam mengabadikan sebuah foto yang terlhat sempurna itu tidak harus menguasai berbagai teknik fotografi seperti DoF, mix light, fill in, role of third, siluet, close up, freezing, maupun yang lainnya, tapi foto itu terlihat sempurna jika kita bisa memaknai setiap foto yang kita abadiakn, biarpun foto itu terlihat sederhana, namun jika memiliki makna yang berharga, aku yakin foto itu pasti akn sempurna” Nalin menekankan kata terakhir dalam kalimatnya, matanya kini beralih menatap sosok disebelahnya yang mentapnya dengan pandangan kagumnya, sedetik kemudian Nalin melemparkan senyumnya, senyum yang mampu menghangatkan siapa saja yang melihatnya.

 

“yah, kau benar” Aiden mengangguk menyetujuiya. Ia menarik nafasnya perlahan sebelum melanjutkan kata-katanya “tidak salah aku memilihmu menjadi objek foto favoriteku , kau juga telah menjadi objek terindah dihatiku” gumam Aiden yang hampir terdenga seprti bisikan, matanya terpejam, menikmati kedamaian, senyum manisnya entah kepada siapa ia tunjukkan.

.

.

.

Jalan kota Geneva siang ini terlihat sangat sibuk dengan berbagai aktifitas orang-orang yang sibuk berlalu lalang juga mobil-mobil yang memadati jalanan. Seorang gadis dengan gaun terusan peach lembutnya melangkahkan kakinya pelan sambil sesekali bersenandung pelan mengikuti irama lagu yang ia dengarkan dari earphone disepasang telinganya, rambut bergelombangnya ia biarkan tergerai dengan jepit rambut bermotif bunga yang berwarna senada dengan dress yang ia kenakan, ia membiarkan angin yang sedari tadi mempermainkan rambut panjangnya, sesekali ia merapikan poninya yang terlihat berantakan.

 

Suara riuh puluhan orang itupun mulai teras jelas ditelinganya, gadis itu mulai menambah sedikt kecepatan langkah kakinya dan berhenti tepat didepan sebuah gedung yang dipadati orang-orang yang sibuk memperhatikan berbagai macam foto yang dipamerkan didinding gedung berlantai dua itu.

 

Gadis itu menghembuskan nafas nya pelan sebelum melangkah masuk,dengan langkah yang teramat pelan dan pandangan yang  sibuk mengamati puluhan foto yang tertempel rapi didinding. Langkahnya terhenti didepan sebuah foto dengan matahari terbenam sebagai objek utamanya dengan kombinasi warna jingga dan kuning membuat foto itu terasa nyata.

 

Sepasang pria dan wanita yang siapapun melihatnya pasti sudah mengetahui kalau meraka pasangan suami isteri yang berdiri tak jauh dari tempat itu gadis yang sedari tadi memperhatikan foto yang diketahui diabadikan oleh seseorang bernama Marcus Cho yang tertera dipojokanan bawah foto itu, mereka mulai memberikan komentarnya akan foto yang baru saja mereka lihat “semua foto disini memang bagus, tapi aku sangat menyukai foto yang letaknya disebelah kiri tangga tadi, makna yang ingin disampaikan foto itu terasa sangat jelas” komentar wanita paruh baya itupun sembari mengelus perutnya yang sedikit membuncit. Pria disebelahnya hanya mengangguk setuju.

 

Nalin kembali melangkahkan kakinya menyusuri setiap sudut pameran, ia sedikit menyeret langkah kakinya yang mulai terasa berat. Terlihat dengan jelas raut wajahnya kalau ia sangat lelah setelah mengamati berbagai foto yang disajikan dipameran ini. Ia ingin segera pulang dan mengistirahatkan sejenak kakinya. Namun sudut matanya menangkap sekumpulan orang-orang yang tengah sibuk memberikan komentar mereka didepan sebuah foto, dengan rasa penasaran yang kuat ia melangkah pelan menerobos kerumunan, badannya yang hanya 157cm itu mempermudahnya berdiri tepat dihadapan foto yang sedari tadi merka perhatikan.

 

Sebuah foto dengan danau Geneva sebagai objek yang terlihat, namun jika ditelisik lebih dalam bukan danau itulah yang menjadi objek utamanya melainkan seorang gadis yang tengah duduk tak jauh dari danau itu, kemerlip warna-warni lampu disekelilingnya menambah kesan romantis didalamnya ditengah dedaunan berwarna coklat yang etrus berguguran bagaikan bulu.

 

Nalin merasa tak asing dengan sosok gadis dengan dress birunya dan kumpulan daun maple disepasang tangan mungil gadis itu yang menjadi objek sang fotografi, Nalin mengerjapkan matanya berkali-kali , berharap foto yang ia lihat bukanlah imajinasinya semata.

 

Hening.

 

Seolah dunianya berhenti saat itu juga. Riuh pengunjung yang sedari tadi memenuhi gedung itu hampir tak terdengar oleh pendengarannya. Jantungnya semakin berdetak cepat saat matanya tak sengaja melihat nama yang sengaja dicetak tebal dengan huruf capital yang tepat berada dibawah foto.

 

AIDEN LEE..

.

.

.

“Kau dimana?” suara cemas itu terus melontarkan pertanyaan yang sama sejak dua jam yang lalu. Langkahnya mulai melemah, lelah setelah berjam-jam mencari sosok seseorang yang ingin ia temui, dengan nafas yang memburu pria itu kini berjalan gontai menuju bangku taman untuk mengistirahatkan kakinya yang sudah terasa tak sanggup lagi berjalan setelah berjam-jam mengelilingi Geneva.

 

“kau Aiden Lee?” Aiden tersentak menyadari seseorang sudah berdiri disebelahnya sekarang, otak dan hatinya terlalu sibuk memikirkan Nalin. Merasa tak mendapat respon, gadis itu mencoba mengulang pertanyaannya “benar kau Aiden Lee?”

 

“benar, aku Aiden”

 

“apakah kau seorang fotografi di pameran Geneva National University itu?” Aiden hanya mengangguk menjawab pertanyaan gadis dihadapannya itu. Ia sudah terlalu lelah sekarang.

 

“Apa benar gadis yang ada di fotomu itu Nalin?” tanyanya lagi dengan sedikit penekanan dalam nada bicaranya.

 

“Kau mengenal Nalin? Kau siapa? Dimana Nalin sekarang, sudah satu bulan ini aku tak pernah melihatnya lagi” rentetan pertanyaan yang sedari tadi bergelayut difikirannya segera ia keluarkan.

 

“Ya, aku mengenal Nalin, aku sahabatnya. Namaku Shin Mirelle” gadis berambut sebahu tu mencoba menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba mengisi penuh paru-parunya dengan oksigen yang tersedia sebelum ia melanjutkan ceritanya “Nalin, ia koma sejak setahun yang lalu” kini pandangan Mirelle beralih menatap pemandangan danau dengan perahu-perahu kecil ditepiannya, matanya menerawang mengingat kejadiann yang menimpa sahabatnya setaun yang lalu.

 

“Ia memiliki penyakit jantung. Jantungnya lemah semenjak ia dilahirkan, dan sekarang jantungnya hanya berfungsi dengan bantuan alat-alat medis yang melilit ditubuhnya, jantungnya terlalu lemah, karena itulah ia belum sadar sampai saat ini” Mirelle kembali menghirup udara sebanyak yang ia perlukan. Dadanya terasa sesak mengingatnya, mencoba menahan air matanya. Baginya Nalin adalah sahabat terbaiknya.

 

“tapi, apa kau percaya keajaiban?” lanjut Mirelle, gadis berkebangsaan Swiss itu ini beralih menatap Aiden.

 

Aiden terdiam, ekspresi yang ditunjukkannya seolah ia berfikir, sebuah pertanyaan sederhana namun sangat sulit untuk dirinya menjawab dengan hanya sebuah jawaban ya atau tidak “Entahlah” Aiden mengangakat bahunya, ekspresi bingung masih tercetak diwajahnya.

 

Mirelle mencoba menahan tawanya melihat ekspresi Aiden, ia kemudian segera merogoh tas selempang yang tersampir dibahu kanannya “ini”

 

“apa ini?” Aiden mengerutkan dahinya melihat beberapa helai daun maple yang sudah kering dan kecoklatan ditangan Mirelle. “kau melupakan ini? Bukankah ini daun maple yang sempat terabadikan dalam karya fotomu?” tangan Mirelle terulur menyerahkan daun maple itu.

 

 

Dengan ragu Aiden menerimanya “bukankah ini daun maple yang ada pada Nalin saat terakhir kali aku bertemu dengannya?” Aiden bertanya entah ditunjukakn kepada Mirelle atau dirinya sendiri. Matanya kini sibuk mengamati satu-satunya bagian dari sisa musim gugur, namun ternyata daun itu berisikan tulisan dengan goresan pena yang menghiasinya.

 

“daun ini aku temukan dalam genggaman Nalin, saat ia masih terbaring ditempat tidurnya. Dan foto itu meyakinkanku bahwa Aiden yang membuat keajaiban pada hidup Nalin itu adalah kau” ucap Mirelle sebelum ia meninggalkan Aiden.

 

Aiden mencoba meresapi kata perkata yang tertulis disana, ia tidak mau melewatkan satu katapun yang tercetak disana, walaupun goresan pena itu sudah sedikit mengabur, namun Aiden tau jelas apa makna yang ingin Nalin sampaikan padanya.

 

Hari ini aku ingin melihat kota Geneva untuk terakhir kalinya dalam hidupku

 

Mungkin semua orang sudah menganggapkutidak ada lagi didunia ini

 

 Pertemuan dengan Aiden mungkin sebuah keajaiban yang Tuhan berikan padaku.

 

Kalau ini memang cinta, aku tak menyesali sudah mencintainya, namun aku juga tak akan menyesalinya juika akan berakhir seperti ini.

 

Aiden memejamkan matanya, membiarkan airmata yang sedari tadi ditahannya mengalir begitu aja. Dingnnya salju diawal musim dingin tak dihiraukannya lagi. Baginya kini hatinya lebih beku tanpa kehangatan gadis musin gugurnya.

 

Tangannya kni meraih daun terakhir, daun yang ukurannya sedikit lebih lebar daripada daun-daun lainnya.

 

Jika Tuhan mempertemukanku dengan Aiden dikehidupan mendatang, aku harap aku bisa hidup bersamanya.

.

.

.

Sepi, sunyi dan keheningan lah yang sedari tadi menyelimuti Aiden, ia terus berjalan dengan langkah pelannya, ia mencoba menguatkan hatinya berada ditempat ini. Tmpat yang dipenuhi oleh gundukan-gundukan tanah dan hijaunya rerumputan yang tertatat rapi, begitu damai dan tenang.

 

Aiden menghela nafasnya berat, mencoba menahan sesak yang sedari tadi terus ditahannya, berbagai fikiran terus berkecamuk didalam fikirannya. Sejak Mirelle memberi tahunya tentang keberadaan Nalin, sulit untuk Aiden mempercayai ini semua.

 

Aiden terus melangkahkan kakinya menuju sisi barat pemakaman ini, matanya mengitari seluruh sisi dari pemakaman, hanya ada beberapa orang yang nampak disana.

 

Langkah Aiden terhenti tepat disalah satu gundukan tanah dengan nisan marmer hitam diatasnya, seorang gadis berpakaian serba hitam yang entah sejak kapan berada disana meraba nisan dengan tulisan bercetak tebal itu dengan lembut.

 

Samantha Stefany

25 September 1985-1 Agustus 2012

 

Aiden menajamkan penglihatannya kearah nisan yang sedari tadi dipandangnya. Dengan ragu ia mencoba menyelarakan tinggi badannya dengan gadis berpakaian serba hitam itu yang sedari tadi berada disebelahnya.

 

Merasa ada orang disebelahnya, gadis itu menolehkan kepalanya, menghadap Aiden “kau sudah datang?”

 

Aiden segera menghapus tetesan air matanya. Matanya sedikit mengabur karena air mata yang menghalangi penglihatannya. Berkali-kali ia mengucek matanya “Nalin?”

.

.

.

Jika ada yang bertanya kepada Aiden apakah ia percaya akan adanya keajaiban? Dengan pasti ia akan menjawab Ya, keajaiban terbesar yang ia miliki adalah bertemu dengan Nalin. Pertemuan yang memang tak terduga. Mungkin sosok gadis yang  ditemuinya sebulan yang lalu memang tak nyata, namun cintanya lah yang merasakan kalau Nalin itu benar-benar nyata. Gadis yang ia temui sebulan yang lalu sebenarnya mengalami koma semenjak enam bulan yang lalu karena jantungnya lemah, dokterpun sudah tak bisa memberikan harapan hidup pada gadis itu. Namun disaat-saat terakhir hidupnya Nalin bertemu dengan Aiden, pria yang menjadi alasannya untuk terus bertahan hidup. Dan Tuhan memang terlalu baik, disaat terakhir hidupnya ada seorang pasien yang mengalami kecelakaan bersedia mendonorkan jantungnya. Dan sekarang disinilah Nalin. Kembali dengan segala keceriaan dan senyum manisnya. Kau memang tak akan percaya pada keajaiban sebelum kau merasakannya.

 

“bagaimana bisa saat itu kameramu mengabadikan sosok diriku yang tidak nampak? Bahkan orang-orang pun tak bisa melihatku” suara merdu itu menyadarkan Aiden dari lamunannya. Sedetik kemudian Aiden menghentikan langkahnya dan menatap Nalin yang berdiri tepat disebelahnya, senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya semakin mengembang melihat wajah yang benar-benar nyata sekarang dihadapannya.

 

“foto itu bukan hanya sekedar kita mengabadikan sembarang objek, tapi kita harus memilih objek yang benar-benar kita suka” Aiden kembali melangkahkan kakinya, dengan Nalin yang masih berada dibelakangnya mengikuti Aiden dengan langkah pelannya, yang mebuat Aiden kini berada dua langkah didepannya.

 

Nalin terus mencoba mencerna perkataan Aiden, ia merasa pelajaran sastra yang diajarkan dikampusnya lenyap beitu setiap saja. Dengan langkah pelan namun pasti, langkah mereka kini tertuju pada bangku tepat sebulan yang lalu ia bertemu dengan gadis  yang membuat dunianya berubah.

 

“mungkin karena cinta itulah yang membuatku kuat untuk terus bertahan hidup” gumam Nalin sepelan angin musim dingin yang berhembus.

 

“kalau begitu kau harus menepati janjimu” Aiden tiba-tiba berbalik dan mendekatkan wajahnya kewajah Nalin. Dengan cepat Nalin menjauhkan wajahnya dari wajah Aiden. Tatapan mata Aiden yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya membuatnya menjadi salah tingkah.

 

“ja..janji apa?” Tanya Nalin gugup

 

“kau ingat dengan ‘jika Tuhan mempertemukanku dengan Aiden dikehidupan mendatang, akau harap akua bisa hidup bersamanya’ ” ucap Aiden sambil tersenyum manis pada Nalin, seketika itu juga Nalin merasakan wajahnya memanas.

 

Detik berikutnya Aiden menggengam tangan Nalin “aku tau cinta itu bukan seperti kamera yang secara instan dapat mengabadikan objek yang ia suka, cinta lebih rumit jika diibaratkan dengan itu, namun hatiku sudah memilihmu untuk menjadi objek paling indajh dihatiku” ucap Aiden dengan sekali tarikan nafas.

 

Nalin memandang bola mata Aiden yang tepat berada dihadapannya, mencoba mencari kebohongan dari sorot mata Aiden, namun nihil. Nalin tidak menemukan setitikpun kebohongan yang terpancar didalamnya “apa kau sedang menyatakan cinta kepadaku?” Tanya Nalin dengan wajah polosnya.

 

Aiden terkekeh pelan dan mengacak poni Nalin dengan gemas, ia sudah tidak heran dengan segala tingkah Nalin yang tidak seperti gadis lainnya “ini” Aiden meraih tangan kanan Nalin dan meletkkan selembar kertas putih ditanganya.

 

Nalin mengerjapkan matanya berkali-kali, bingung akan maksud dari perkataan Aiden, Aiden kini tengah berjalan meninggalkannya menuju danau yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempat ia duduk saat ini.

 

Ekspresi bingungnya semakin bertambah saat menyadari itu bukanlah kertas biasa, kertas dengan ukuran 15×10 centi itu merupakan sebuah foto.

 

Foto dengan latar belakang danau Geneva ditengah putihnya salju, seorang pria bermantel coklat tosca dengan senyum manis menghiasi wajah tampannya berdiri ditengah kedua boneka  salju setinggi badannya. Kemerlip lampu-lampu beraneka warna turut menghiasi sekitarnya.

 

“ini kan foto Aiden” gumam Nalin, namun sedetik kemudian matanya membulat dan mulutnya sedikit menganga melihat tulisan dengan tinta biru laut pada banner yang berada didada Aiden dan kedua boneka saju itu.

 

JE t’AIME

 

ICH LIEBE DICH

 

TIAMO

 

Nalin tau dengan jelas ketiga bahasa berbeda itu memiliki makna yang sama. Swiss memang bukan kota kelahirannya, namun ia sudah menetap dinegara ini selama belasan tahun, dan itu membuatnya mengerti dengan jelas bahwa Negara Swiss mempunyai tiga bahasa resmi, Prancis, Jerman, dan Italia.

 

Nalin kini mengalihkan pandangannya pada Aiden yang tengah menatap deanau, dengan posisi Aiden yang membelakanginya, Nalin tidak mengetahui eksprsi seperti apa yang ditunjukkan Aiden sekarang.

 

Ia memejamkan matanya, mencoba menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Nalin membuka matanya dan menatap sekelilingnya. Banyak pasangan yang juga menghabiskan waktunya didanau itu.

 

Nalin kembali menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa kehilangan banyak oksigen “AIDEN… I LOVE YOU TOO” teriak Nalin, suaranya naik beberapa oktaf akibat teriakannya.

 

Sontak Aiden memutar badannya menghadap Nalin, orang-orang yang sibuk dengan berbagai aktifitas mereka pun terhenti dan mengalihkan pandangan mereka menatap Nalin.

 

Dengan langkah panjang-panjangnya Aiden berjalan menghampiri Nalin, dari semua yang ia fikirkan sedari tadi ia benar-benar tidak menyangka gadis itu berani meneriakkan kata-kata itu ditempat umum seperti ini.

 

Dengan pandangan orang-orang disekitarnya yang terus menatap mereka dengan berbagai ekspresi mereka maupun komentar-komentar yang samar-samar didengar Aiden membuat tangannya merasa ingin membekap mulut Nalin. Aiden menghentikan langkahnya tepat dihadapan Nalin yang masih pada posisi duduknya sedari tadi. Dalam hitungan detik tubuh mungil Nalin sudah berada dalam dekapan hangat Aiden.

 

Nalin memejamkan matanya, tangannya bergerak membalas pelukan hangat ynag diberikan Aiden, tangan Aiden mengelus lembut rambut panjang Nalin yang tergerai menutupi sebagian punggungnya, matanya terpejam mencoba meresapi aroma strawberry dari tubuh Nalin, menghiraukan tatapan orang-orang yang sedari tadi memperhatikan mereka, efek orang yang jatuh cinta memang membawa pengaruh besar.

 

CKREKKK..

 

Sebuah kilatan blitz membuat mereka segera melepaskan diri, Nalin menundukkan kepalanya dan Aiden segera menatap orang yang sudah menggangunya.

 

Marcus Cho. Pria dengan rambut coklat bergelombang dan kamera yang tersampir ditangannya itu menampakkan cengiran khasnya “mungkin dengan foto ini aku bisa mendapatkan nilai terbaik untuk ujian semester depan”

 

“ya.. marcus Cho teriak Aiden geram.

 

Dengan langkah seribunya Marcus, teman Aiden yang terkenal dengan kejahilannya seantero kampus segera melarikan diri sebelum mendapatkan pukulan maut dari Aiden karena sudah menggangu kebersamaanya..

 

Aiden kembali menatap Nalin, dan kembali menarik Nalin dalam rangkulannya. Bagi Aiden danau ini adalah danau terindah yang pernah ia temui, danau ini pulalah yang menjadi saksi kisah cinta mereka. Jika momen ini bisa diabadikan kehangatannya, Aiden ingin ia selalu berada dalam objek fotonya sendiri. Selelu berdua bersama gadisnya.

.

.

.

Ya, sebuah foto bukan hanya sekedar hasil sembarang objek yang bisa kita abadikan, namun foto memiliki artikulasi sendiri yang tertangkap oleh indra pengihatan kemudian diterjemahkan dalam bentuk objek bermakna dalam benak, foto memberikan banyak makna kepada kita lebih dari sekedar ungkapan kata-kata.

 

Belum selesai sampai disana kisah cinta mereka, masih panjang. Tapi setidaknya cerita ini adalah potret kecil dari perjalanan kisah cinta mereka yang lebih kmpleks.

 

END..

Iklan

One thought on “[FF Freelance] A Photograph Goes To Love”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s