[FF Freelance] Becouse of Ice Cream

Author  : Nalin Lee

Tittle     : Because Of Ice Cream

Genre   : Romance

Tags       : Lee SungMin, Cho Kyuhyun and Park Chan Mi (OC)

Length  : Chapter

Rating   : All age

Note      : FF jelek yang berusaha untuk nyempil disini T.T .. Lets be friend with me J jangan lupa kunjungin blog kita yah, kekkeee*numpang promosi www.mitwins.wordpress.com.

 

Because Of Ice Cream

because of ice cream1

“Aishhh,, es klim ini susah sekali sih diambil”

Lagi-lagi Aku terkikik geli melihat seeorang gadis kecil yang sedari tadi terus menggapai-gapai ice cream dikulkas pendingin itu. Bukannya aku tidak ingin membantunya, hanya saja aku lebih menyukai memperhatikan ekspresi kesal gadis kecil itu ketika berulang kali ice cream magnum almond yang ingin digapainya jatuh dari gengaman tangannya yang mungil.

Sudah hampir lima menit aku memperhatikan gadis kecil dengan pakaiannya yang serba kuning, yang terlihat kontras dipenglihatanku itu mencoba meraih ice cream yang sedari tadi menjadi incarannya, namun nihil. Ia tetap tak bisa menggapainya. Huhhh, kasihan sekali gadis manis itu. Sepertinya aku harus membantunya.

Klinggg… kling…

Bunyi bell yang terpajang diatas pintu masuk café ini berdentang, menandakan seseorang baru saja memasuki café ini. Aku mengurungkan niatku sementara untuk beranjak dari tempatku duduk sekarang. Memilih untuk mencoba memperhatikan laki-laki yang terlihat sedikit berbeda dari pengunjung lainnya.

Seorang namja dengan, topi, masker, dan kacamata serba hitamnya itulah yang membuatku sedikit merasa aneh dengan tampilannya. Bukankah ini musim panas, kenapa ia berpakaian seperti itu? Terlebih lagi ia mengenakan hoodie pink yang terlihat sangat kontras dengan aksesoris yang ia kenakan yang notabenenya berwarna hitam.

Ia berjalan dengan pasti kearah kulkas yang terletak tak jauh dari meja kasir, tempatku memperhatikannya sedari tadi. Dengan jarak sedekat ini aku bisa memperhatikannya dengan sedikit lebih leluasa.

Lama memperhatikannya, aku mulai menggaruk pelipisku pelan, salah satu kebiasaan yang ku lakukan saat terlihat sedang berfikir, mencoba memfungsikan kinerja otakku yang memang jarang ku gunakan. Tunggu, sepertinya aku tidak merasa asing dengan namja ini. Siapa yah?

“yhaaaa ahjussi. Itu es klim aku.. kembalikan”

Suara melengking nan cadel itu menyadarkan lamunanku. Aku kembali beralih menatap gadis kecil berpakaian serba kuning itu tengah meletakkan kedua tangannya dipinggang dengan ekspresi cemberutnya. Aigoooo.. kyeopta. Sepertinya ia sedang kesal dengan namja yang sedari tadi ku perhatikan.

“Mian gadis manis, es krim ini oppa duluan yang mendapatkannya. Kau lebih baik membeli ice cream yang lain saja, arraseo?” namja itu menunduk, mencoba mensejajari tinggi badannya dengan gadis kecil itu yang memang hanya setinggi pinggulnya.

“Shileoooo. Aku yang lebih dulu menginginkan es klim itu ahjussi. Kembalikannnnn” kembali teriakan cempreng anak ini berhasil membuat semua pengunjungku beralih menatap sumber keributan.

“aigooo.. sudahlah, aku sedang sibuk. Tak ada waktu untuk berdebat denganmu. Oppa pergi duluan yah. Annyeong” ucap namja itu dengan nada suara yang terkesan sok dilembut-lembutkan. Ia kembali menegakkan badannya dan mengacak-acak poni gadis kecil itu sebelum berjalan menghampiriku. Atau yang lebih tepatnya ia menghampiri meja kasir, tempat sedari tadi aku memperhatikannya.

“huaaaaa.. hikss.. hiksss.. ahujussi jahatttt” teriakannya kali ini lebih tinggi dari sebelumnya. Dapatku lihat gadis kecil itu tengah menghentak-hentakkan kakinya kesal dengan tangannya yang terus menyapu air matanya dengan kasar. Sontak namja dengan penampilan yang terlihat sedikit mencurigakan itu menghentikan langkahnya.

Sudah cukup. Aku menghentakkan tanganku ke meja kasir bercat eboni didepanku, menatap namja yang tak jauh dariku berdiri dengan tatapan kesal. ”Lebih baik sekarang aku menghampiri mereka dan menyelesaikan masalah perebutan ice cream tidak penting seperti ini, sebelum para pelangganku merasa terganggu dengan keributan gara-gara namja ini” aku berdecak geram.

Walau bagaimanapun reputasi ‘Pumpkin and Tomatoes’ café-ku ini lebih penting daripada hanya masalah seperti perebutan ice cream ini. Dengan susah payah aku merintis café ini, aku tidak ingin nasib café-ku berakhir tragis seperti café diujung jalan Apgeujong itu yang tidak memiliki pelanggan lagi, akibat perkelahian seminggu yang lalu. Well, terlalu berlebihan memang jika aku menyamakan kasus perkelahian antar dua orang remaja yang hanya memperebutkan  seorang gadis itu dengan kasusku sekarang ini. Terdengar tidak etis memang jika café-ku pun tidak memilki pelanggan lagi hanya karena kasus perkelahian seorang anak kecil dengan seorang ahjussi untuk memperebutkan sebuah ice cream. Bayangkan, hanya karena sebungkus ice cream. Ckckck..

Aku melangkah keluar dan menghampiri namja berhoodie pink mencolok itu yang tengah berusaha menghentikan tangisan tak rela gadis kecil itu, mungkin ia merasa bersalah akan sikapnya barusan.

“Joseonghamnida ahujussi, sepertinya ice cream magnum almond itu milik anak ini” ucapku mencoba terdengar seramah mungkin seraya menunjuk ice cream magnum almond di tangan kanannya.

Namja itu mengalihkan pandangannya, ikut melirik kearah sesuatu yang sedari tadi kuperhatikan, sedetik kemudian ia beralih menatap ice cream magnum gold yang juga bertengger manis ditangan kirinya dengan tatapan bingung ”kau membicarakan ini?” ia kembali mendongakkan kepalanya sedikit untuk menatapku. Aku memang terlihat lebih pendek darinya, jadi untuk apa ia mendongakkan kepalanya terlalu berlebihan.

“Ne ahujussi” aku  mengangguk dengan pasti “Kau bisa membeli ice cream yang lain jika memang kau mau, karena ini ice cream magnum almond itu hanya tersisa satu-satunya” lanjutku sopan dengan senyum ramah yang ku coba tunjukkan.

“M.. m.. mwooooo? Ahjussi? Kau juga memanggilkua ahjussi, yah.. aku tidak setua itu” teriaknya geram. Terlihat dengan jelas tatapan ketidak sukaan dari balik kacamataa namja itu saat dipanggil ahjussi.

Cihh, memangnya aku salah memanggilnya seperti itu? Tidak kan? Dia boleh marah kalau aku memanggilnya ahjumma. Dasar namja tidak sopan. Sepertinya aku harus ekstra bersabar untuk menghadapi tingkah namja ini. Namun aku juga sangat tidak terima dengan ocehan tidak penting itu. Bukankah aku sedari tadi bersikap sopan kepadanya, kenapa ia berteriak seperti itu. Dasar ahjussi menyebalkan “sekali lagi. Joseonghamnida. Ice cram itu memang milik gadis kecil itu, kau bisa membelinya besok kalau kau mau” sahutku lagi sembari terpaksa mengulas senyum ramah kepada pelangganku yang menyebalkan ini.

“Aisshh. Anak kecil memang menyebalkan. Sudahlah. Aku tak punya waktu lagi untuk berdebat dengan kalian” namja itu dengan cepat merogoh kantong hoodienya, mencoba mencari sesutu didalam sana. Tak butuh waktu lama ia menemukan apa yang ia cari “ini. Kau ambil saja kembaliannya” ia meletakkan lima lebar uang seribu won diatas meja kasir, dan dengan langkah panjangnya segera berjalan menuju pintu keluar.

Klinggg..

Bunyi bell kembali terdengar saat namja itu membuka pintu kaca transparan yang menghubungkan café milikku ini dengan jalanan utama Apgeujong. Dapat terlihat dengan jelas dari tempatku berdiri saat ini, namja yang baru saja menjadi pelangganku itu berjalan dengan langkah cerianya menyeberangi jalan didepan café ‘Pumpkin and Tomatoes’ milikku.

“hiksss. Eonni, aku ingin magnum almond-ku. Hikss, hikss” isakan itu kembali membuatku tersadar akan tingkah namja menyebalkan itu. Tangan mungilnya menarik-narik ujung dressku.

“kau tunggu disini sebentar yah, eonni akan memberikan ice cream yang lain untukkmu” Aku mencoba membujuknya. Tanganku meraih ice cream strawberry dari kulkas yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.

“aniyoo. Aku ingin es klim itu eonni. Aku sedali tadi beljuang mendapatkannya” sahutnya pelan. Seketika itu juga aku teringat perjuangan gadis itu untuk meraih es krim itu tidak gampang. Selintas aku merasa bersalah karena tidak membantunya.

Aku memutar badanku, kembali menatap gadis berbandana kuning itu dan mengelus puncak kepalanya pelan. Mencoba mempertimbangkan apa yang harus ku lakukan sekarang, walau ini murni bukan kesalahanku, tapi perasaan bersalah itu terus membuatku merasa menyesal. Aku menghembuskan nafasku berat, mencoba meyakinkan hal yang baru saja terlintas difikiranku itu adalah hal yang benar.

“baiklah, ayo kita kejar pencuri ice cream itu” ucapku kemudian sambil mengepalkan tangan kananku, mencoba memberikan semangat kepada gadis kecil itu kembali. Tidak tega rasanya membiarkan anak semanis ini terlihat sangat kecewa setelah bersusah payah ingin mendapatkan ice creamnya.

“kajaaa eonni” ia menarik tanganku untuk segera berlari mengikutinya. Sepertinya ia terlalu bersemangat hingga aku dengan sedikit bersusah payah menyeimbangkan larinya mengejar sang ahjussi perebut ice cream.

“ahjussiiiiiii”

Namja yang sedari tadi sibuk dengan kedua ice cream ditanggannya sontak menghentikan langkahnya mendengar teriakan khas anak kecil yang bisa mencapai beberapa oktaf tingginya itu. Aku yang terperangah mendengarnya membuat fikiran liarku membayangkan sepertinya gadis kecil itu kelak bisa menjadi penyanyi nantinya dengan kemampuan ia berteriak seperti ini. Hihihi

“ahjussi, berhentiiii” Aku ikut berteriak memanggil namja yang hanya berjarak beberapa langkah dihadapanku dengan nafas sedikit tersenggal akibat berlari. Mungkin inilah alasan kenapa aku tidak lolos mengikuti berbagai audisi yang ku ikuti diberbagai agensi yang hampir tersebar di korea selatan. Dan lebih malangnya lagi, tak ada satupun agensi yang bisa meloloskanku untuk menjadi trainee. Aku mengakui nafasku memang tidak bisa diajak berkompromi, namun aku sangat meyakini aku memiliki suara yang merdu. Kalian pasti akan meremehkanku dan tidak percaya kalau suaraku bagus. Tapi sungguh, aku tidak berbohong soal itu. Aku bisa menjamin kalian akan memujiku, bahkan mungkin mengidolakanku jika kalian pernah mendengar suara aku. Tapi kenyataannya, memang itulah sebabnya aku terus berkeinginan suatu saat nanti bisa debut sebagai penyanyi seperti namdongsaengku, Choi Min Ki. Kalian pasti mengenalnya bukan?

Merasa hanya dirinyalah yang berada ditempat itu, namja yang ku panggil Ahjussi itu seketika menghentikan tangannya diudara untuk membuka mobil van dihadapannya. Dengan malas ia mambalikkan tubuhnya menghadap sumber suara dan melepaskan kacamata hitamnya. Seketika itu ia membulatkan matanya setelah ia tak percaya menatapku dengan pandangan seolah-olah bertanya ‘Sebegitu berartinyakah ice cream ini?’ “A..a..ada apa lagi?” tanyanya datar. Walupun dapat kudengar dengan jelas nada gugup didalamnya. Seolah ia baru saja dijatuhi hukuman seumur hidupnya. Ahjussi ini sepertinya suka sekali mendramatisir keadaan. “untuk apa kalian mengejarku?” tanyanya lagi seraya memasangkan kembali kacamata hitamnya, memasang gaya angkuhnya dihadapanku. Menyebalkan.

Aku kembali mencoba mengatur nafasku sebelum menjawab pertannyaan mengintimidasi pria dihadapanku ini “joseonghamnida ahjussi. Bisakah kau mengembalikan ice cream itu? Aku akan membayarnya berapapun jika kau mau” sahutku mencoba bernegosiasi dengannya.

“Shirooooooo” lelaki berhoodie pink itu kembali membuka kacamata hitamnya yang sedari tadi bertengger manis dimatanya. Mencoba menatapku dengan sorot matanya yang tajam. Cih, kau mau mencoba menakut-nakutiku ahujussi? Itu tidak akan mempan untukku. Tapi, sepertinya aku pernah melihat sorot mata seperti itu, tapi dimana yah?

“Ayolahhh” kali ini aku mencoba memohon kepadanya, sepertinya tidak ada gunanya jika terus berdebat dengannya.

Seorang namja keluar dari mobil van yang ingin dimasuki namja menyebalkan itu tadi, membuat ajhussi yang berdebat dengan kami sedari tadi yang berdiri disebelah pintu mobil itu sedikit terdorong dan terhuyung saat namja yang juga berkaus pink itu keluar dari dalam mobil.

Aku mencoba menahan tawaku melihat ahjussi yang ingin jatuh tersungkur itu, nyaris saja. Kenapa ia tak jatuh saja sih. Hahaha.

Dengan cepat ia beralih menatapku tajam yang sedari tadi berusaha dengan sekuat tenaga menahan agar tawaku tak lepas untuk menertawakan kekonyolan yang baru saja ia lakukan “Yhaaa, jangan tertawa kau anak kecil” teriaknya geram. Omooo, sepertinya ahjussi ini hobi sekali berteriak. Aku menjulurkan lidahku, mengejeknya.

Aku mengalihkan pandanganku menatap namja yang baru saja keluar dari dalam mobilnya. Mataku melotot sempurna dengan mulut yang sedikit menganga. Jantungku berdetak lebih cepat dan dengan sekuat tenaga aku menahan lututku yang terasa lemas melihat sosok dihadapanku.

Tungguu. Dia kann..

Sung.. sung.. sungmin?

LEE SUNGMIN??

To be Continue~

One thought on “[FF Freelance] Becouse of Ice Cream”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s